Work Text:
Apa yang akan terjadi kala seorang yang esensi hidupnya adalah racun… membiarkan penawar racun melingkupi raga dan jiwanya?
Pertama kali Melly melihat wanita itu masuk ke rumah kaca, Joshua memperkenalkannya sebagai seorang jurnalis dari kota. Ia tidak diperkenankan untuk menyambut sang jurnalis; beban kerjanya hanyalah menulis, melabeli, dan mengawetkan spesimen-spesimen yang berada di dalam gelas kaca yang terjejer rapih di pondok kecil pada penghujung rumah kaca—dan bila ia sudah melakukan itu semua, ia diperkenankan untuk membaca buku yang ada pada rak.
Koleksinya yang akan selalu bertambah tiap kali Joshua pergi mengikuti seminar di luar kota. Bukunya selalu berbobot—segala sesuatu yang berkaitan dengan entomologi, dan bila ia menginginkan variasi, botani. Joshua selalu memiliki pendekatan khusus pada tanaman-tanaman di dalam rumah kaca tempat Melly bersemayam; katanya, ia sedang mencoba kultivasi serangga yang hidup dalam habitat abnormal.
Seluruh tanaman di dalam rumah kaca ini beracun, dan ia sudah berdiam di sini selama sepuluh tahun lebih. Ia berhenti peduli pada waktu sebagai konsep setelah ibunya tidak mengirimi surat lagi usai ia direlokasi ke dalam rumah kaca ini, terisolasi hingga pekerjaannya rampung.
Dahulu, Joshua tidak seperti ini. Sayangnya, minat tuannya pada serangga-serangga eksotis perlahan berubah menjadi suatu hal yang berbahaya, dan hari demi hari, Melly dapat merasakan dirinya pun, berubah menjadi sesuatu hal yang bukan dirinya. Sepuluh tahun sudah dirinya dibuat muak pada kehidupan seperti ini—kupu-kupu yang terbang di atas bunga-bunga beracun tahu rasa kebebasan, walau mereka dipaksa berbaur dengan maut.
Empedu pada tenggorokannya berhenti membakar mulutnya dengan asam.
Ia muak dengan hidupnya yang seperti ini. Ia mengenali nama beban kerja yang ia miliki—kala ia diisolasi untuk bekerja, dan hasil kerjanya dirampas dan diklaim sebagai milik orang lain tanpa persetujuannya.
Ia selalu tahu lebih banyak dibanding Joshua, kali ini, ia pun tahu kesalahannya: terlahir sebagai perempuan dari keluarga pekerja yang tak memiliki prestise, prestasi, ataupun reputasi.
Kala Joshua melingkari jemarinya pada leher Melly, ia memberontak. Cakar yang menyayat, kaki yang menyepak sembarang, dan taring yang menyengat—insting segala hal yang hidup adalah untuk mempertahankan hidupnya, dan tubuhnya yang jauh lebih kecil melawan dengan satu-satunya hal yang ia ketahui.
Entah berapa lama pria itu mencekik lehernya seraya bersumpah-serapah, Melly berhenti berhitung pada tiap detik yang berlalu akibat oksigen yang raib daripadanya. Tidak ada gunanya melawan; ia tidak pernah memiliki kendali atas apapun; terkait kehidupannya, apalagi pada hidupnya.
Tiba-tiba, pegangannya pada leher Melly menjadi lemas. Ia memanfaatkan momentum itu untuk menendangnya ke samping, dan merangkak mundur menjauhinya, tak ingin lagi terjebak dalam posisi demikian. Napasnya terengah, berburu. Mulutnya terasa kering. Jauh dari jangkauannya, Joshua terkulai, tak bergerak, tak berdaya. Dari mulutnya, buih putih keluar, kedua tangannya liar bergerak, berusaha mencakar lehernya sendiri.
Begitu saja, ia mati. Racun. Melly mengamati kedua tangannya—dan menemukan logika untuk menyalahi dan membanggakan kematian Joshua sebagai perbuatan yang dirinya sendiri perbuat; ia telah tinggal sepuluh tahun lebih dalam rumah kaca penuh dengan tanaman beracun, seluruh tubuhnya kini sudah menjadi satu dengan lingkungannya dan menjadi racun yang mematikan.
Dirinya dampat membunuh siapapun yang bersentuhan dengannya. Maka, kendati tahu tidak ada lagi yang akan mengunjungi dirinya di dalam rumah kaca ini, ia mengenakan sarung tangan.
Ia menjadi Maut, dan ia tentram dalamnya.
Hingga suatu hari, ia berhenti mengharapkan dirinya jadi pembawa petaka.
Sang jurnalis kembali, sepuluh hari setelah pemakaman Joshua, dan menemukan dirinya merawat tanaman yang ada di taman. Ini adalah rutinitasnya, kepergian Joshua tidak akan serta-merta menghancurkan kehidupan soliter yang telah ia jalankan.
Jurnalis itu melihat apa yang ia lakukan, dan segera menghardik, “Nona! Ke mana sarung tanganmu?! Tanaman itu beracun!” katanya, dan ketika ia mendekat, Melly buru-buru mengenakan sarung tangannya. Ia tersenyum. “Tuan Plinius bilang, tanaman itu beracun. Jangan sembarang pegang—”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
“Aku tidak peduli.” ia bilang, terus terang. “Racun tidak akan membunuhku, Nona. Aku sudah tinggal terlalu lama di tempat ini. Tubuh ini sudah beradaptasi dengan rumah kaca ini.”
Melly memandang tangan kosongnya, lalu pada sang jurnalis yang menautkan alis di sisinya.
“Aku adalah racun, dan Joshua—Tuan Plinius—mati karenaku.”
Alam merupakan entitas penuh welas asih; ia akan selalu memberi apa yang telah diberikan untuknya. Balas budi merupakan hukum yang nyata di segala penjuru muka bumi. Bila Melly mengartikan kondisinya seperti itu, mungkin kutukan ini adalah berkat dari alam rumah kaca yang ia jaga, agar tidak ada yang dapat menyentuhnya lagi.
Namun alam tidak mengerti akan dilema manusia.
Tiap kali Alice datang menemuinya, Melly selalu berharap bahwa ia bisa mendapatkan lebih dari percakapan. Keabsenan intimasi terbukti menumpulkan hasratnya untuk hidup dan berperkara—ia menginginkan kontak kulit, bagaimana kulitnya merona akibat radiasi kehangatan dari ujung jemari wanita itu pada pipinya, bagaimana bulu romanya terstimulasi dalam sentuhan yang menguas tiap senti kulitnya. Melly merindukan—
“Coba ini.”
Suatu hari, wanita itu memberikannya botol kaca berisi cairan bening. Melly mengamatinya.
“Penawar racun.” ia tersenyum, senyumannya menyakitkan. Jemarinya yang mengenakan sarung tangan kulit menyilangi jari Melly yang telanjang, penuh debu dan dinodai tanah. “Mungkin, bila kau berhenti beracun, kita bisa keluar dari rumah kaca ini.”
Botol kaca itu berisi cairan yang penampilannya nyaris sama seperti air biasa. Melly ingin meminumnya. Ia ingin percaya.
“Nona Alice,” mulainya, “Apa Anda tahu apa yang akan terjadi pada racun yang menjadi tawar?”
Ia akan menghilang, hatinya berbisik. Sang jurnalis menghela napas, gemetar. Alisnya bertaut, sirat akan kepedihan yang sukar menemukan remedi.
“Orphy mati kemarin.”
“...saudara laki-lakimu—?”
“Nona Melly, tolong.”
Tangannya menggenggam Melly.
“Tolong.”
Ia terisak—wanita bermata tajam yang selalu tegar dalam menghadapi segala realita pahit yang terjadi di sekelilingnya, kini runtuh di hadapannya—dan Melly tahu, pilunya tidak akan setara dengan nestapa yang ia lalui saat ini. Ia tahu akan rasa kehilangan. Ia tidak tahu rasanya mencintai. Pelan-pelan, Melly menarik tangannya dari Alice. Pelan-pelan, ia membuka botol kaca itu, lalu memperkenalkan isinya pada fungsi tubuhnya.
“Nona Alice.”
Tangan telanjangnya menyentuh pipi wanita itu, kelingkingnya merasakan nadinya berdebar kacau.
Bersama-sama, mereka menarik napas, lalu menjadi satu; menyingkirkan segala bias mereka dengan satu ciuman.
