Actions

Work Header

who knows

Summary:

“Everyone deserves a chance, Emilian. We’re not an exception.”

Atau, perihal bimbang dalam bincang Max dan George sebelum mereka menikah.

Notes:

halo!

percakapan di tulisan ini campur indo-inggris yeahh

semoga sukak!!

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Emilian

Chapter Text

Max bisa bayangkan dirinya terjebak selama empat musim di dalam sebuah rumah bersama George.

 

Menemukan damai di antara sunyi penghujung musim panas ketika embus lembut mendorong jendela kamar mereka terbuka. Selagi mempersilahkan angin masuk menyapa langit-langit dan tubuhnya yang berkeringat di atas kasur, Max bisa melihat George yang bertelanjang dada—sangat stereotipikal—di ruang tengah. Merebahkan punggungnya di atas lantai rumah mereka, menikmati sejuk.

 

Max mampu menghirup manis tipis diantara musim gugur. Membayangkan George dengan baju tiga lapis serta sarung tangannya yang berwarna biru norak. Membayangkan sosoknya menyapu halaman rumah yang dipenuhi daun maple yang meranggas. Max, bersama usilnya, akan menghamburkan kembali dedaunan itu. Mungkin juga bergulung-gulung di atasnya, mengajak serta George bersamanya. George akan menggelitik tubuhnya kemudian, tidak akan berhenti sampai Max menurunkan ego dan meminta ampun. 

 

Imaji Max pun mampu melukis rumah di musim dingin dengan perapian tua menyala redup. Membayangkan dirinya bergelung di balik selimut bersama George. Ujung kaki yang terlapis kaus kaki menggesek satu sama lain, menciptakan friksi dan hangat. Bertukar bincang selagi meniup permukaan gelas berisi susu coklat. Menceritakan kisah masa kecil yang mungkin pernah mereka bagi berdua.

 

Hangatnya sinar matahari ditengah musim semi pun bisa Max rasakan— bersama dengan senyum George, tentunya. Mereka akan melihat himpunan bunga matahari, krisan, kamelia, dan mawar-mawar merekah di balik pagar rumah. Berdebat soal tanaman apa yang baiknya mereka tanam di musim semi tahun depan. Sesekali bertukar suapan buah melon yang mereka beli di supermarket petang sebelumnya.

 

Malam ini, Max dan George akhirnya kembali bertemu setelah cukup lama berpisah. Dipaksa memenuhi tanggung jawab mereka sebagai pemilik profesi paling tidak masuk akal, supir mobil balap

 

Tidak ada hal lain yang mampu Max pikirkan setelah kedua kakinya meninggalkan badan mobil selain merengkuh tubuh George. Menyadari betapa ia merindukan aroma shampoo dan vetiver yang menguar dari ceruk lehernya. Mengingatkan Max akan perjalanan menelusuri pantai yang penuh dengan aroma segar pada cuaca cerah nan hangat.

 

Padahal baru tiga hari, tapi rasa rindunya tidak lagi terbendung.

 

Welcome back, Mr. Soon-To-Be-Husband!” suara hangat George menyapa.

 

Missed me?

 

I would entertain you by saying yes, but saying no might entertain me more ‘cause I love you silly-annoyed face even more.

 

Max ingin sekali merebahkan dirinya di atas kasur, menyerbu wajah cantik George dengan sejuta kecup gemas. Namun, George berhasil menghentikannya sebelum mereka bahkan sampai masuk ke dalam kamar.

 

“Hush, mandi dulu! Jangan kebiasaan langsung naik kasur habis dari luar, jorok!” omel George sebelum akhirnya mendorong punggung tunangannya itu memasuki bilik shower.

 

Max mengenakan piyama dengan tergesa setelah keluar dari kamar mandi dan mendesah lirih saat merasakan kain lembut itu bertemu dengan kulitnya yang bersih dan wangi. Ia jatuhkan tubuhnya kemudian di atas George yang tengkurap, tengah membalas pesan entah dari siapa. Mungkin dari Alex karena George tidak punya teman lain.

 

“Astaga. Minggir sedikit, dasar raksasa,” keluh Max. 

 

Mendengar itu, George pun  melenguh sebal. “Aku ini tunangan kamu loh, Max?! Dan kamu panggil aku raksasa?”

 

Well, your tall body filling 80% of our bed occupancy is an undeniable fact, sweetheart,” balas Max tanpa sedikitpun rasa bersalah. Nampaknya George sedang malas berdebat panjang, bisa dilihat dari bagaimana tubuhnya bergeser sedikit membagi posisi rebahannya dengan Max. “We need to buy a bigger bed soon.”

 

Yeah,” George mengangguk setuju setelah menyelesaikan urusan bertukar pesan, meletakan ponselnya pada nakas di samping kiri ranjang. Dengan susah payah George menyingkirkan lelaki di atasnya untuk mencari posisi berbaring yang nyaman untuk mereka berdua. “I’m wasted.

 

Same, media duties getting harder these days. I might lose a few years of my brain usage capability just to respond back to their weird questions.

 

Huh,” George mendengus selagi tersenyum tipis. “Never know you can actually use your brain properly.

 

Very funny, thanks for the low blow, Mr. Mercedes.

 

George tertawa kecil melihat wajah masam Max yang masih tenggelam menggerutu. Membiarkan iris samudranya yang tenang memandang Max begitu dalam. Penuh rasa, seakan tengah menyembah dalam diamnya. 

 

What is it?” tanya Max yang penasaran dengan tatap George yang cukup intens.

 

I realized just now, you have wrinkles on your forehead,” balas George cepat.

 

Max mengernyit tipis. “Are you saying I look old?

 

No, dummie. I mean, yes, you’re old—” George menggeliat bergerak menghindari jemari Max. “—I mean you’re hot! Okayokayokay, sorry! Now stop tickling me!

 

George berusaha menenangkan kembali nafasnya yang sempat berantakan setelah tertawa begitu lepas. Menggerakkan jemarinya kemudian untuk menyisir surai gelap milik Max, merasakan helainya yang kering itu menyelinap di antara jemari. George tahu Max belum keramas, tapi rambut itu dirasa bersih meski butuh perawatan dan sedikit vitamin.

 

The wrinkles said you have something to tell me,” tutur George lembut. Tiada sirat nada menekan karena George tahu Max tidak suka dipaksa. Hanya secara terus terang menyatakan bahwa dirinya tahu Max tengah sibuk sendiri dengan benaknya.

 

Seberapa besar pun cinta mereka untuk satu sama lain, pernikahan berarti lebih dari percakapan tentang cinta dan kasih sayang. Max dan George akan membicarakan masalah tagihan tiada ujung, kewajiban mereka terhadap orang tua masing-masing, dan bagaimana mereka menghadapi keluarga besar. Mereka akan berdiskusi tentang karir, pendidikan, dan anak, dan impian-impian dalam hidup yang ingin dicapai. 

 

Max tidak naif untuk tahu bahwa banyak pernikahan tetap hidup meskipun dua orang di dalamnya seolah tidak mengenali satu sama lain sebab hanya bertemu di waktu-waktu sarapan dan makan malam. 

 

Max pernah melihat pernikahan yang sunyi, dengan dua orang yang tinggal bersama dalam satu atap demi memenuhi ekspektasi sosial.

 

Max pernah melihat pernikahan yang ramai. Ramai dengan pertengkaran, perdebatan yang tersulut karena ego yang besar, karena anak, karena kehadiran cinta lain yang tidak seharusnya hadir di antaranya.

 

Max juga pernah melihat pernikahan yang ramai sesekali dan sunyi sesekali. Dia melihat berbagai macam dan bentuk pernikahan seperti itu dan Max merasa tidak berdaya sebab dia takut berakhir menjadi salah satu diantaranya.

 

Max pun pernah menyaksikan pernikahan yang membawa aroma kue-kue kering dan kopi hitam pekat yang dibuat oleh tangan-tangan yang sabar dan penuh kasih sayang. 

 

Terakhir, Max pernah melihat pernikahan yang sangat hidup, menyala-nyala, dan membara seperti api yang menghangatkan tupai-tupai kecil dan kucing liar yang bertamu ke rumahnya saat musim dingin, meskipun pernikahan itu telah berumur dua kali lipat usianya. 

 

Max ingin melihat pernikahannya ramai. 

 

Ramai dengan lagu lawas favoritnya yang diputar oleh stasiun radio, ramai oleh tawa dari orang-orang terdekatnya  yang menari di atas karpet ruan, suara tawa saudaranya yang sejumlah tim sepak bola, keponakan, hingga tawa anjing serta kucing kalau ada. 

 

Kini, sosok Max yang hidupnya berputar di dunia balap tengah merasa tidak berdaya harus berhadapan dengan sesuatu yang asing. Takut sebab tidak menahu pernikahannya lusa nanti dengan George akan berakhir seperti apa.

 

Untuk sekarang, percakapan apapun yang berisik di dalam kepala keduanya harus berhasil keluar dan didengar oleh telinga masing-masing sebelum mereka mencium bibir satu sama lain di atas altar.

 

“George,” panggil Max  selagi melukis lingkaran kecil-kecil di atas pundak kekasihnya yang lebih jangkung. “Is this … right?

 

Max bertanya seolah ini adalah ujian dalam salah satu mata pelajaran eksakta yang punya batasan benar dan salah secara jelas. Seolah George masih berusia lima belas dan terobsesi dengan sains dan The Big Bang Theory. Menganggap George murid yang mampu menjawab pertanyaan guru semudah ia membius semua orang dengan kecerdasannya.

 

If I said yes, would you believe me?” Tantang George dengan pertanyaan lain.

 

Tidak. Max tidak boleh percaya sebab George pun tidak tahu. George itu bukan peramal—bahkan peramal terkadang masih memiliki kemungkinan terpeleset prediksinya sendiri. 

 

Pertanyaan Max terlalu berbahaya, terlalu mengerikan untuk ditanyakan kepada seseorang yang tidak memiliki kuasa apapun atas takdir dan masa depan.

 

Max mengusap punggung George dengan tidak teratur. Naik, turun, turun, naik, berhenti, mengusap kembali tidak beraturan. Selaras dengan pikirannya yang berantakan. Gelisah.

 

Your Dad,” bisik Max kian lirih. “He told me something before.

 

“Kalau aku akan ragu sama kamu menjelang hari pernikahan kita?”

 

Max menggeleng pelan. “Bahwa salah satu di antara kita akan ada yang ragu, dan orang itu adalah aku. Dan ayah kamu—”

 

It’s too nice to put it that way, pikir Max. Meskipun pikirannya tidak membaik usai mengetahui dirinya begitu mudah dibaca dan diprediksi. Bahkan oleh Ayah George yang satu malam lagi akan menjadi Ayahnya. Itu pun  jika Max benar-benar akan datang ke gereja tempat janji suci mereka akan diucap

 

I’m so sorry, Schat.”

 

For what?

 

For being … this. For putting you under such an abnormal situation like this.”

 

George mencium Max. Kedua kelopak matanya, alisnya, ujung hidungnya, dan tanda kecil di atas bibirnya. 

 

George mengusir pergi gelisah dan khawatir milik Max. Berharap bibirnya yang sehangat udara musim panas bisa mengusir dingin dalam dada lelaki yang sangat dicintainya. 

 

“Ayahku bilang begitu bukan karena dia ingin kamu tidak meragukan hubungan kita, Emilian.” Max akan selalu suka ketika George memanggilnya demikian. “ Tapi karena diantara kita berdua, kamu yang lebih rasional. Meskipun, ya, gak pernah ada yang rasional soal cinta.” 

 

George mengelus rambut sosok yang kini bersembunyi di balik di ceruk lehernya. Max berusaha mencari tenang, dan George siap memberikan seutuhnya.

 

“Ketika aku … cinta sama orang lain,” Max tarik nafasnya dalam, siap mengakui dosa yang lama ia tahan. “Aku selalu berpikir kalau mencintai saja sudah cukup. Bahwa aku akan terus mencintai seperti ini tanpa mikirin kamu, gimana perasaan kamu, khawatir kamu. Semua itu bodoh dan naif— dan aku ngerasa beruntung karena dalam hubungan ini cuma aku yang kayak gini.”

 

Max mengangkat wajahnya ketika ia putuskan mereka harus bicara perihal ini dari mata ke mata. Max butuh melihat wajah tunangannya sebab di sanalah ia kerap menemukan rasa aman, pengertian, dan cinta, kedua bola mata George adalah cinta apabila cinta itu dilambangkan dengan iris sewarna samudera.

 

Why are you so scared?” tanya George lirih.

 

I’m not.

 

You are. I can see it in your eyes.

 

Keduanya adalah cermin untuk sama lain, tapi kali ini Max terlalu malu untuk menatap pantulan dirinya sendiri lewat kedua manik George. Terlalu takut untuk mengakui bahwa dirinya memang ketakutan, di pelukan George, tempat dimana ia tidak seharusnya ketakutan.

 

Want to talk about it?” 

 

Max menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh George.

 

Yes, but not now.”

 

Angin malam menerbangkan kelambu-kelambu putih dan mendentingkan untaian kerang laut di atas jendela kamar. Sementara sepasang pria di dalamnya berbagi kehangatan seolah keduanya berada di musim dingin. 

 

George selalu menyukai segala jenis permainan, kecuali permainan menebak pikiran. Oleh karena itu, George tidak pernah (dan memang tidak ingin) menerka apa yang ada dalam benak Max. Selama pria itu belum mengubahnya menjadi bahasa yang dimengerti keduanya, George tidak akan berusaha ikut campur. 

 

Sebab manusia seringkali menyelam terlalu jauh dalam benak dan lupa caranya kembali ke permukaan. George tidak ingin tenggelam, ia ingin disini. Bersama Max dan dunia fisik mereka.

 

Let’s sleep then. We’ll talk about this tomorrow.

 

Max menarik selimut besar dan bergelung hangat di dalamnya bersama dengan George.Tidak ada yang lebih ia butuhkan untuk saat ini daripada tidur. Bersama George dan janjinya untuk berbicara esok hari.

 

 


 

 

Bayi matahari berwarna kuning muda dan George berhasil menyeret Max keluar dari balik selimut dan masuk ke dalam mobil, berkendara entah kemana. Udara hangat musim panas menyelinap ke dalam kaos tipis keduanya. Max tidak tahu ia akan dibawa ke mana, tapi ia berharap tempat ini punya kasur empuk dan pendingin ruangan.

 

Usai memarkirkan mobil di pinggir jalan, keduanya turun dan berjalan ringkas. Max hampir tersandung kakinya sendiri. George, tiga langkah di depannya, mendengus geli.

 

“Aku harap tempat ini seratus kali lipat lebih nyaman dibanding kasur kita, Schat.”

 

Mereka berjalan menelusuri jalan setapak kecil. Familiar. Max merasa terjebak dalam situasi yang tidak asing. 

 

George berjalan di depannya. Surai lembutnya bergerak-gerak pelan terhembus angin musim gugur. Max masih dapat merasakan kelembutannya membelai jari-jemarinya. Mereka melalui pohon dedalu tua di pinggir jalan dengan ayunan sederhana, papan kayu dengan poster promosional acara balap, toko roti tua yang Max ketahui selalu menjual baguette setengah harga di hari Sabtu sore. 

 

Max tahu kemana George akan membawanya.

 

“Serius, George? Lapangan karting?”

 

Lebih tepatnya, area karting tempatnya bertarung dengan George beberapa tahun silam. George membawa keduanya kembali ke salah satu tempat dimana Max untuk pertama kalinya bertemu sosoknya ketika masih punya sinus dan gampang ingusan— dan Max masih menyimpan memoar itu dengan apik.



“Kenapa berdiri di situ sendirian?”

 

“Aku—”

 

“Mau main bola sama yang lain di lapangan? Hari ini Alex bawa bola.”

 

“Boleh, kamu suka tim bola apa?”

 

“Real Madrid, kamu?”

 

“Yah, kalo gitu kita gak bisa temenan. Aku sukanya Barcelona.”

 

“Kamu suka keripik kentang, gak? Kalau kamu suka, kita tetap bisa temenan karena aku juga suka keripik kentang!”

 

Max dan George kecil pun saling bertukar nama dan menghabiskan sebungkus keripik kentang berdua sebelum ikut bergabung dengan anak-anak lain bermain sepak bola.



Arena karting ini cukup banyak berubah sejak terakhir kali Max melihatnya. Masih tampak garang dengan nuansa merah dan abu, hanya saja anatomi area gedungnya telah direnovasi total. Walau demikian, area bermain panjat dan ayunan di dekat pintu masuk masih terpasang. Tampak tua, tapi masih layak.

 

George berdiri di samping ayunan. Menunggu Max yang berjalan lebih lambat karena rasa kantuk.

 

“Duduk sini,” paksa George

 

“Aku gak yakin ayunannya kuat.”

 

“Pasti kuat, ”George menarik jemari Max dengan tidak sabar dan mendudukkan tunangannya di atas ayunan, “Yang raksasa kan aku, bukan kamu. Jadi harusnya ayunan ini gak rusak kalau kamu yang naikin.”

 

Ayunan itu kemudian George dorong pelan. Max masih tidak mengerti mengapa mereka harus berbicara di tempat ini ketika keduanya bisa memeluk satu sama lain di atas kasur atau duduk berdua melanjutkan pembicaraan semalam dengan secangkir teh dan roti panggang.

 

Honestly I’m quite afraid of the things you’re gonna say to me,” tutur George pelan, masih mengayun pelan ayunan yang dinaiki oleh Max.

 

Me too,” Max merasakan hangat matahari pagi mulai merambati punggung tangannya yang memegang ayunan. “Aku takut banget. Gimana kalau hari ini menghancurkan semua yang udah kita usahakan?”

 

Well, we never know unless we find out by ourselves.”

 

Pemberani. George selalu menjadi pihak yang paling berani menghadapi konfrontasi. Ia tidak suka menunda untuk mengetahui sesuatu. Jika itu rasa sakit, maka dia berani merasakannya. Jika itu kekecewaan, ia berani menelannya. Jika itu penolakan, ia berani menerimanya. 

 

“Sebenarnya, ini bukan semacam pengakuan dosa atau semacamnya. It's more like … questions.

 

Go on.”

 

Okay, question one. What if I messed up, George?

 

George mendorong ayunan dengan kedua tangannya dengan sedikit lebih kuat. Masih memikirkan jawaban yang diinginkannya, bukan jawaban yang diinginkan Max. Sebab Max akan selalu mempunyai cara untuk menyukai jawaban George dan menantangnya apabila ia ingin rasionalisasi. 

 

Max dan George sama beraninya untuk berdebat— satu dunia ini pun sudah tahu. Tidak untuk mencari tahu siapa yang menang dan kalah dalam argumentasi. Terkadang, keduanya berdebat hanya karena ingin dan tidak ada yang bisa menghentikan keduanya. Lando adalah saksi hidup yang berkesempatan melihat keduanya berdebat, yang berakhir dengan mencium senyum satu sama lain. “Aku belum pernah melihat pasangan se-masokis ini,” menjadi komentar yang paling sering diucapkan sepanjang tahun.

 

Then I’ll let you know,” George mendorong dengan kuat. “You know I never hide any single thing from you. Aku pun gak akan menjadi berbeda setelah kita menikah, Emilian. Aku tetap akan marah kalau kau bertingkah menyebalkan dan keras kepala. Aku akan marah kalau sekali lagi dipanggil dickhead di depan media. Aku pun gak keberatan untuk marah setiap hari kalau kamu nyebelin setiap hari. Aku akan tetap marah ketika kamu pantas mendapatkanya, dan aku gak segan untuk minta maaf ketika kamu pantas dimarahin. 

 

“Status pernikahan kita tidak akan mengubahku sedikitpun. Aku masih George yang akan memberitahumu apapun, selama kamu pantas mengetahuinya.”

 

Max tersenyum mendengarnya. Sebesar apapun keinginannya untuk berbalik dan mencium George saat itu juga, di bawah matahari pagi dan nyanyian burung gereja di atap-atap gedung dan tiang listrik, percakapan ini masih harus diselesaikan.

 

Loud and clear, now question two?

 

“Hm. Banyak juga, ya?”

 

What if I burned our kitchen down? Like, I don’t know, accidentally?

 

Are you being serious right now?

 

Think about the possibilities, George.

 

George tidak mengerti mengapa pertanyaan ini berarti besar bagi Max. Namun, sosoknya tetap memikirkan kemungkinan kejadian ini di masa depan, yang akan sangat mungkin terjadi. Apalagi kalau George terlalu lama meninggalkan rumah dan Max terlalu lama dibiarkan kebosanan. 

 

Max boleh dikenal sebagai sosok paling buas di arena balap. Namun, sosoknya akan berubah kikuk ketika berhadapan dengan kompor dan alat-alat memasak. Tetapi tingkahnya yang selalu ingin memberikan kejutan yang spesial untuk George adalah permasalahan yang mengkhawatirkan. Pertama kali Max bereksperimen membuat cupcake untuknya menjadi kali terakhirnya memasuki area dapur.

 

Well, I hope you don’t mind if we didn’t share the same bedroom for ten months.

 

That’s cruel.

 

Exactly. So don’t even try.

 

Ayunan itu tidak bergerak sebagaimana seharusnya— mungkin bautnya ada yang rusak. George tidak lagi mendorong dan Max lebih menyukai ini.

 

“Aku jadi kepikiran. Mungkin kita perlu mempertimbangkan untuk memisahkan dapur dengan rumah utama.” George bergumam begitu serius.  “You know, just in case.

 

“Dan membuat aku melewatkan ritual memandang punggung kamu saat membuat kopi tiap pagi? Absolutely no.”

 

You mean, losing the chance to fuck me on top of the kitchen table?” 

 

Ah, George dan mulut manisnya.

 

“Jorok banget, schat. Toto pasti marah dengar kamu ngomong gitu.”

 

George tertawa mendengarnya. Max mengerang sebab fantasi itu muncul begitu saja, mengejek pertahanan dirinya yang begitu lemah terhadap George. Dan mulut manis George tidak membantu sama sekali, justru memperburuk apa yang telah ia lakukan pada area selatannya sejak semalam. 

 

Max terangsang sejak kakinya keluar dari bilik shower sementara George menciumnya dengan lembut dan penuh hasrat, di atas tempat tidur, sangat cantik dan menghipnotis.

 

We can’t do this here, dummie,” George mencubit lengan atas kepunyaan Max.

 

I know. I don’t wanna do anything here, either. Not sex, especially sex. So stop seducing me!” Max menutup mulutnya setelah menyadari bahwa suaranya terlalu keras. Tidak seharusnya ada dua pria dewasa membicarakan seks di halaman taman kanak-kanak pada pagi hari.

 

Can we—can we stop talking about this please.

 

Alright, sorry.

 

Keduanya terdiam beberapa saat. Menikmati presensi masing-masing dan suasana area karting yang masih sepi. “Are we done?” George membuyarkan lamun pada rona wajah Max.

 

One last question.

 

“Mhm.”

 

Do I—“ Max tarik nafasnya dalam, “do I deserve this?

 

Max tidak pernah merasa bahwa kekurangannya adalah sesuatu yang George permasalahkan. 

 

Insekuritas ini bukan semata karena Max merasa George terlalu sempurna untuknya. George bukan dewa dan Max tidak harus berkorban selayaknya persembahan agar bisa mendapatkan kasih sayangnya. 

 

George bukan dewa. Namun, ia membawa cinta yang begitu megah dalam dirinya. 

 

Ketika Max mengira bahwa ketertarikan dengan rival besarnya di arena balap sebagai cinta, George mendengarkan dan membantunya mencari buket bunga yang cantik untuk kencan pertama mereka di Monako. 

 

Ketika Max mengecap patah hatinya yang kesekian kali setelah mendapat perkataan kasar dari sang Ayah, George masih disana. Memeluknya hingga tertidur, melindunginya dari dunia. 

 

Ketika Max melakukan banyak kesalahan, tersesat, menjadi bodoh dan impulsif, George selalu hadir di sana dan menemaninya melewati hari-hari yang buruk.

 

Dan bagaimana jika George lelah? 

 

Meskipun George tidak pernah menunjukkannya selama ini, bukan berarti ia tidak pernah merasakannya. 

 

Akan lebih mudah bagi Max untuk menerima jika George lelah ketika mereka masih berpacaran. Mereka bisa mundur dengan banyak langkah jika merasa terlalu cepat. Sedangkan dalam pernikahan, adakah langkah mundur tanpa harus menyakiti keduanya? 

 

Bagaimana jika George lelah dan Max tidak tahu cara meyakinkan sang pasangan untuk istirahat dan bukannya berhenti? Sebab tidak mustahil, bahkan mungkin sangat bisa dimaklumi apabila ia terlalu lelah dengan Max dan segala macam tingkahnya di tengah-tengah perjalanan rumah tangga mereka.

 

How many times do I have to tell you that you need to stop wandering inside your head? It’s dangerous,” George berpindah untuk berjongkok tepat di hadapan Max kemudian. Tidak akan ada yang mengira bahwa dua pria dewasa yang tengah berbincang di arena bermain anak kecil itu adalah calon pengantin.

 

I just … I don’t want to hurt you, George."

 

Me too. Aku gak mau kita berakhir menyakiti satu sama lain. But you deserve this as much as I deserve this too.

 

George tidak beranjak dari hadapan Max. Tidak peduli debu-debu di atas rerumputan akan menempel di celananya. Ia pun duduk bersila di hadapan Max seperti tengah menenangkan anak kecil.

 

I’m afraid and I know you too.” Tutur George terasa begitu jujur. “Mungkin ini pertama kalinya aku ngerasa takut walaupun melakukan hal yang benar. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, gak ada yang lebih pantas untuk mendapatkan ini semua selain kita berdua, ‘kan?”

 

Max menatap mata itu dan selalu, selalu, menemukan kehangatan di sana.

 

Everyone deserves a chance, Emilian. We’re not an exception.”

 

Max tersenyum secerah matahari pagi ini. Ia menangkup wajah George lalu mencium keningnya, kedua kelopak matanya, hidungnya, pipinya yang tirus, dan bibirnya yang tipis. Ringan dan sedikit ragu-ragu seperti ciuman pertama mereka. 

 

Max menggesekkan kedua ujung hidung mereka, sebuah gestur inosen khas anak-anak. Senyumnya merekah tanpa bisa ia tahan. Begitu pula George. Kedua tangannya meraih kaos Max dan menariknya untuk sebuah ciuman yang panjang dan hangat di musim panas.

 

Mereka akan benar-benar menikah esok hari. Takut diantara mereka masih ada. Namun, setidaknya takut itu bisa mereka hadapi berdua.