Actions

Work Header

A Kiss for Luck

Summary:

Oikawa percaya—karena sebuah mimpi konyol—bahwa berciuman dengan Iwaizumi akan memberinya keberuntungan dan nilai uas yang bagus. Dan benar saja! Siapa sangka berciuman dengan sahabatnya itu akan membawa keberuntungan, apa dengan ini akan tumbuh perasaan antara keduanya? Atau hanya memperumit pertemanan antara sahabat sejak kecilnya itu!?

Notes:

Uuhhh, ternyata jeda fic pertama dan kedua gue gajauh ya...

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Ramalan Mimpi dan Taruhan Konyol

Chapter Text

Iwaizumi perlahan terbangun dari tidur lelapnya ketika cahaya layar ponsel terus menyala di tengah gelapnya kamar. Tirai jendela masih menutup rapat, hanya lampu jalan di luar yang merembes samar, menciptakan bayangan tipis di dinding. Jam segini seharusnya dunia berhenti bergerak—bahkan pikirannya sendiri masih tertinggal di antara mimpi dan kesadaran.

"Ugh…"

Gerutunya pelan, suara berat khas orang yang dipaksa bangun terlalu cepat. Tangannya terulur ke samping, meraba-raba kasur dengan gerakan malas sampai akhirnya menemukan ponselnya. Ia sama sekali tidak berniat bangkit; tubuhnya masih nyaman tenggelam di hangat selimut, matanya pun masih setengah tertutu.

02.00 AM.

Angka itu langsung menyentak sedikit kesadarannya. Terlalu dini untuk apa pun yang masuk akal, walaupun begitu, layar ponselnya dipenuhi notifikasi yang bertumpuk tanpa jeda.

iwa..
iwAaaChaaNnn
gue mau sampein hal penting!
hhaaajiiimeeeee
IWACHAN!! BANGUN INI PENTING!

Iwaizumi menghembuskan napas panjang lewat hidung.

Nggak penting, batinnya.Dia sudah terlalu kenal pola ini—dan pengirim pesan itu.

Ia menggeser ponsel, hendak membisukannya tanpa rasa bersalah—

KRINGG.
KRINGG.

Nada dering itu memantul di kamar yang sunyi, terlalu nyaring untuk diabaikan. Iwaizumi tahu betul ini pasti bukan urusan genting. Namun, seperti kebiasaan buruk yang sudah mendarah daging, tangannya bergerak lebih cepat dari logikanya dan menekan tombol angkat. "Apa?" ucapnya singkat. Suaranya serak, berat, jelas belum sepenuhnya sadar.

"Iwa… tadi… gue mimpi!"

Suara di seberang sana terdengar jauh lebih hidup daripada seharusnya untuk jam dua pagi. Terlalu antusias, terlalu cerah—seolah pemilik suara itu baru saja bangun dari tidur delapan jam, bukan membangunkan orang lain dengan brutal.

Iwaizumi tetap tergeletak di tempat tidurnya. Kaos longgar yang ia pakai terlipat sedikit di perut, boxernya kusut dengan satu kaki mencapit guling dan ponsel menempel di telinga, sementara pandangannya kosong menatap dinding. Ia membiarkan Oikawa bicara, suaranya mengalir tanpa hambatan.

Alien.
Bima Sakti.
Dibawa keliling galaksi.
Cahaya aneh.
Suara kosmik.

Iwaizumi mendengarkan setengah sadar, otaknya hanya menangkap potongan-potongan cerita tanpa benar-benar memprosesnya. Sesekali ia mengeluarkan dengusan pelan.

"Hm"
"Hooh"

Sekadar penanda bahwa ia masih di sana.

"…terus pas gue dibalikin ke bumi," suara Oikawa semakin semangat, "aliennya ngasih gue ramalan."

"—kalau kita ciuman nanti nilai UAS kita seratus, Iwa! Kata aliennya gitu!!"

"Hum," jawab Iwaizumi asal. Kata-kata itu lewat begitu saja, tidak tersaring oleh kesadarannya yang masih berkabut.

"Iwa… kita harus ciuman besok!"

"HAH?"

Kata itu seperti tamparan dingin. Mata Iwaizumi yang tadinya berat langsung terbuka, jantungnya tersentak. Ia bangkit setengah duduk, napasnya terhenti sesaat. "Hah…?" ulangnya, lebih pelan, memastikan apa yang barusan ia dengar bukan sisa mimpi.

"Iya, Iwa! Kan tadi udah gue ceritain?!"

Hening beberapa detik. Iwaizumi mengusap wajahnya dengan satu tangan, untuk tidak abis pikir dengan semua yang dikatakan sahabatnya itu.. di jam dua pagi, ngespam, lalu ditelepon hanya untuk… ini?

"Lo aja bilang zodiak itu bullshit, ’Kawa," katanya akhirnya. Ia bangkit dari kasur, berjalan ke arah saklar dan menyalakan lampu kamar. Cahaya kuning langsung memenuhi ruangan. "Terus sekarang lo percaya mimpi alien lo itu?"

"Yaa itu beda, Iwaaaa," rengek Oikawa tanpa ragu.

Oikawa kembali menjabarkan teorinya—tentang pesan kosmik, tanda-tanda semesta, alien sebagai perantara takdir, dan bagaimana mimpi itu jelas-jelas bukan mimpi biasa. Iwaizumi hanya duduk di kursi belajarnya, menopang dagu dengan tangan, melirik jam dinding di sela-sela ocehan panjang itu.

03.30.

"…sinting," gumamnya pelan.

Tanpa peringatan, ia menutup panggilan dan kembali merebahkan diri ke kasur. Lampu dimatikan. Gelap kembali menyelimuti kamar. Ia mencoba memejamkan mata, memaksa pikirannya kembali tenang.

Tapi suara itu—kita harus ciuman, Iwa!—terus berputar di kepalanya, terlalu jelas untuk diabaikan.

Di kamar gelap itu, Iwaizumi membuka mata, "sialan"

 


 

Memori paling awal yang ia ingat tentang cinta pertamanya datang tanpa aba-aba: sebuah sore di perumahannya, ketika bundanya berpapasan dengan seorang wanita yang baru pindah. Iwaizumi kecil menggenggam tangan bundanya erat-erat, matanya penasaran menatap seorang anak kecil yang bersembunyi di balik tubuh wanita itu.

Ia ingat bagaimana ia menarik-narik tangan ibunya, tak sabar.
“Bun, itu siapa?” tanyanya, polos.

"Oh astaga!" ucap wanita itu sembari tersenyum "Toru, ayo kenalin diri kamu sayang" ucapnya sambil mendorong kecil anak itu dari tempat pengumpatannya. Anak kecil itu melangkah maju, keluar dari bayangan ibunya dengan ragu.

Iwaizumi masih ingat jelas ketika dirinya melihat anak kecil tercantik yang pernah ia lihat-- mata anak itu bulat besar dengan bola mata yang indah dan bulumata yang terlihat panjang, pipi tembem merah merona seperti bakpao favoritnya yang suka dia beli di toko dekat SDnya. 

 

“Ya ampun! Kamu cantik banget!” seru bundanya spontan sambil mencubit pipi anak itu.

“Hahaha, anakku cowok, Bu,” balas ibu Oikawa sambil tertawa santai.

Iwaizumi kecil tidak mengerti kenapa dadanya terasa aneh. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Tangannya berkeringat.

“A-aku Hajime,” katanya gugup sambil mengulurkan tangan. “Mau… mau nangkep capung bareng?”

Dan Oikawa Toru—dengan senyum lebar dan mata berbinar—mengangguk tanpa ragu.

 


 

“Iwa-chan.”

Suara itu sudah terdengar bahkan sebelum mereka benar-benar masuk ke area loker sepatu. Oikawa berjalan di samping Iwaizumi, langkahnya ringan tapi mulutnya tak berhenti bergerak, sementara Iwaizumi sibuk membuka loker dan menaruh sepatunya dengan gerakan yang efisien—seolah itu satu-satunya cara untuk tidak terjebak dalam ocehan sejak pagi buta.

“Iwa-channn, please. Ini gue serius!” rengeknya lagi, entah sudah keberapa kalinya pagi ini. Nadanya dibuat dramatis, seakan dunia benar-benar bergantung pada jawaban Iwaizumi. Dan mereka bahkan belum masuk kelas.

Iwaizumi menghela napas pelan. Kadang—sering kali—dia lupa bahwa anak kecil yang dulu bersembunyi di balik rok ibunya itu sekarang sudah tumbuh jadi seperti ini. Cinta pertamanya, yang dulu cantik, pendiam, dan mudah tersenyum, kini menjadi sosok yang terlalu konstan dalam hidupnya, selalu ada dan selalu di sampingnya. Jengkelnya, Iwaizumi belum juga bisa benar-benar melepaskan perasaan itu.

Walaupun, Oikawa sekarang sudah lebih tinggi darinya, suaranya berat, tawanya lebih lantang. Dia tidak lagi cengeng seperti dulu. Justru sebaliknya—kepercayaan dirinya tinggi, egonya tampak besar, dan di mata orang lain, dia terlihat nyaris sempurna. Meski perubahan yang ada seiring mereka tumbuh bersama, Iwaizumi seperti jatuh cinta berulang kali pada versi Oikawa yang baru—lagi dan lagi.

“Iwa-chan, ini tuh demi lo, Iwa! Bukan buat gue,” kata Oikawa sambil—tanpa izin—langsung menempati kursi di sebelah Iwaizumi. Kursi yang jelas bukan miliknya, tapi seolah memang sudah jadi kebiasaan mereka sejak lama.

Iwaizumi meletakkan buku catatan UAS-nya di meja, lalu akhirnya menoleh. Tatapannya datar, jelas mengandung pertanyaan maksud lo apaan sih?

Oikawa membersihkan tenggorokannya, sengaja dibuat formal.

“Ehem.”

“Iwa, kalau gue sih, UAS udah nggak perlu dipikirin lagi,” katanya dengan percaya diri yang nyaris menyebalkan. “Nilai gue pasti bagus. Tapi kalau elo? Nah, itu beda cerita, Iwa.”

“Oh ya?” balas Iwaizumi santai. Tangannya terangkat tanpa sadar, menyingkirkan debu kecil yang menempel di rambut Oikawa—gerakan refleks yang sudah terlalu sering dia lakukan. “Siapa tahu kali ini nilai gue di atas lo.”

Oikawa menepuk dadanya dramatis. “Wow! Iwa-chan! Sedih sekali gue dengar andaian lo yang kita semua tahu nggak akan terjadi.”

Belum sempat Iwaizumi membalas, sebuah kursi berdecit keras. Matsuun tiba-tiba memutar kursinya dan bergabung, wajahnya penuh ekspresi licik khas orang yang mencium peluang kekacauan.

“Gimana kalau taruhan aja?” katanya santai.

Iwaizumi dan Oikawa menoleh bersamaan.

“Yang nilainya lebih rendah kalah,” lanjut Matsun sambil menyeringai, “terus harus ngelakuin apa pun yang pemenangnya minta.”

Udara di antara mereka sejenak terasa berubah. Oikawa menatap Iwaizumi dengan mata berbinar—entah karena ide taruhan itu, atau karena ada sesuatu yang berbahaya tapi menarik di dalamnya. Iwaizumi sendiri hanya menghela napas pelan; firasatnya bilang ini jelas bukan ide bagus.

Dan tetap saja, ia tidak langsung menolak. Saat Iwaizumi masih mempertimbangkan, perhatiannya teralihkan oleh Oikawa yang sedikit mencondongkan badan ke arahnya. Bibirnya melengkung tipis—bukan senyum penuh percaya diri seperti biasanya, melainkan sesuatu yang lebih hati-hati, lebih jujur.

“Iwa…” bisiknya pelan, suaranya rendah dan nyaris ragu, seolah takut kata-kata itu terdengar terlalu jelas.
“Kalau aku menang,” lanjutnya, jeda sepersekian detik menggantung di antara mereka, “kita harus ciuman, ya.”

Udara di sekitar mereka terasa berhenti bergerak.

Notes:

mantap, tanggal 7 gue ada uas dan gue gamat belajar jadi gue nulis ini! ditungguuu chap selanjutnya!!

rencananya gue mau bikin ada 10 chap, tapi karena gue sendiri belum yakin jadi engga gue taro dulu hwehwe (tapi ini gasakan panjang koookkk ceritanya!)