Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-12-24
Words:
1,912
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
3
Hits:
33

Travel Through Snow Together We Go

Summary:

Ini sudah hari kesekian Patrick sibuk dengan pekerjaannya. Pete ingin menghiburnya, mengajak bersenang-senang di dunia luar penuh salju.

Notes:

All i want for christmas is peterick standing in my front door with present on their hands. Blessed them.
MERRY CHRISTMAS SEMOGA HARI KALIAN MENYENANGKAN dan semoga ini bisa membantu menghangatkan tubuh hh.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"I will tell you I love you
But the muffs on your ears will cater your fears."


"Trick," Mula nya lembut. "engkau... mau buat malaikat salju dengan ku tidak?" Tanya Pete yang berada di belakang, meraba-raba pundak Patrick yang sibuk dengan laptop nya, menunggu jawaban kemudian. 

Patrick berpaling pandangan nya dari layar, lalu menghembuskan napas panjang. "Apa? Dingin begitu. Tidak ah. Aku sedang lagi banyak kerajaan."

"Dari tadi malam pun kau hanya bisa mengerjakan tiga puluh detik rekaman musik, dan itu pun kau hapus lagi pada akhirnya." Pete mengacak rambut hitamnya ke belakang, "Bukan nya aku ingin mengejek, tapi kasihan padamu. Ayo keluar rumah, bersihkan otakmu sekali saja."

Patrick hening, menaikan bahu kemudian. "Aku bisa membersihkan otak ku dengan menonton film, tidak perlu repot-repot." 

"Sayang, tolong-"

"Pete, kau tak ingat terakhir kali kita bermain ski di belakang rumah dan aku malah berakhir menabrak pohon?"

Suaminya merengek, bergumam sendiri. "Kau tidak tahu cara bermainnya, buat malaikat salju kan lebih aman, ya? Ku jamin tak ada hal serupa bodoh seperti tadi terjadi lagi."

"Gak."

Pete menghela nafas, kemudian duduk di sofa, samping Patrick. Hendak mengganggu nya lebih lagi. 

Patrick hanya melirik Pete dari sudut matanya, kemudian kembali pada laptop nya. Tapi entah mengapa, Patrick terlihat lebih rileks di saat ini dibanding sebelumnya.

"Pete, jangan mulai lagi," gumam Patrick, masih menatap layar laptopnya yang kosong. Pria itupun tak geser juga dari samping suaminya- melainkan merasa hangat ada disebelahnya.

Pete hanya menyeringai, lalu menarik sweater nya perlahan. "Aku cuma ingin lihat kamu senyum. Besok kita dibebani acara Natal, aku ingin berduaan dengan mu. Tahu sendiri sejak tadi malam kau seperti anak kecil yang terus merengek soal pekerjaan nya." Pete geleng kepala. "...Pekerjaan mu tak akan berjalan dengan baik kalau kau terus berkerja tanpa henti seperti ini." 

Begitu ucapnya, kemudian meninggalkan kecupan di pipi Patrick. Yang dikecup hanya diam. 

Pete menatap raga yang ada di hadapnya, mencoba merayu lebih lagi.

"Pat? Ayo, salju sudah menumpuk di luar."

Patrick menghela nafas pelan, mulai mematikan laptop nya dan menoleh pada Pete. Ia tahu jelas lelaki brengsek itu tak akan diam, apapun alasannya.

"Kau kayak zombie hari ke hari. Aku tidak diberi perhatian, seperti orang asing saja." Adu Pete sekarang, suaranya rendah. 

Yang diajak bicara mendelik tajam, lalu ujung bibirnya naik sedikit. "Kau ini kenapa, sih? Aku masih seorang manusia, Peter."

"Hah, ya." Pete tertawa pelan,memutar kedua matanya main-main. "Itu kan menurut mu saja. Kau tetaplah mayat hidup yang lebih suka berkerja soal musik daripada tidur."

Patrick kehabisan kesabaran nya. Akhirnya menutup laptop dengan decakan di lidah, kesal. "Gara-gara kamu, aku hilang semangat buat kerja."  

"Liar." balas Pete ceplos.  

"Brengsek!"

Dan sekarang tubuh Patrick berada di pelukannya, agak sedikit keras. Cukup sakit, namun tertawa pelan juga akhirnya.

Matanya berkedap-kedip. Nafasnya berat. Jelas ingin seuatu. "...Ayo buat malaikat salju, ku mohon? Mengambil istirahat sebentar dari kerjaan mu itu tak akan jadi masalah, percaya padaku."

Patrick mengerang pelan, memikirkan di dalam kepalanya, mahluk itu lagi. Sebuah manusia salju dengan tangan-tangan ranting, hidung panjang wortel, mata yang dengan pandangan kosong dan senyum yang mengerikan. 

Patrick menghela nafas kemudian. "Apa untungnya kalau aku buat malaikat salju bersamamu?"

"Kau bisa lebih bersemangat mengerjakan pekerjaan mu itu."

Patrick memijat kepala nya perlahan. Ia tahu Pete hanya ingin membantunya melepaskan masalah kreatif tapi, umh, ia hanya terlalu keras kepala untuk mengakuinya. 

Patrick menggelengkan kepala. "Tidak, Pete. Malaikat salju tak akan meningkatkan kreativitasku."

"Kumohon?" Rayu nya sekali lagi. 

Sial. 

Pria berambut pirang mengigit bibir bawah, menatap keluar jendela yang penuh dengan pemandangan tumpukan salju di tanah. "...Oke. Hanya setengah jam di luar." dia semena-mena mengibarkan bendera putih itu di atas dengan malas-malasan. 

Dan sebelum Patrick menjelaskan lebih lagi- Pete lebih dahulu memeluk nya cepat, senyum di wajahnya. Pelukan itu lepas, Pete menatap nya lagi kegirangan. 

"Tapi kalau aku masuk angin dan mati? Tangan ku beku dan tak bisa bermain piano selama seminggu atau bahkan lebih? Salahmu, ya."

Pete mengerjap. Dia menyeringai dan berdiri dari sofa kemudian. "Aku kan akan melindungimu, kau tak akan sakit." Tangannya menarik pergelangan Patrick untuk berdiri bersama nya. "Jadi jangan khawatir, Trick."

...

Patrick menggelengkan kepalanya, tapi tak bisa menahan tawa pelan saat ia mengambil jaketnya.

Pete sudah didepan pintu terlebih dahulu. pakaian musim dinginnya di pakai, dari jaket bulu dan sarung tangan tebalnya hingga kupluk bodoh berwana neon dengan mata kodok itu pun berada di atas kepala. 

"Tunggu sebentar." ucap Patrick, badan nya berputar perlahan untuk mencari sesuatu. Jemari Pete sudah ada di gagang pintu, namun menoleh kembali untuk melihat lagi apa yang dilakukan oleh Patrick. 

Lihat itu, mahluk manis itu hanya terus sibuk mencari ponsel nya dimana-mana. Ia tahu jelas ia menaruhnya di atas meja, tapi... Dimana-mana tidak ketemu.

"Aku harus membawa ponselku. Aku ingin merekam momen konyolmu saat membuat manusia salju." Ucapnya.

"Apa kau melihat nya, Pete?" Tanya Patrick lagi. Pete Menaikan satu alisnya. 

"Itu." Jawabnya singkat dan padat, tangannya yang diselimuti sarung tangan menunjuk keatas meja.

Patrick menoleh ke arah yang ditunjuk, astaga pipinya merona. Malu bukan main. "Oh... Oh, iya. Bodoh, terima kasih, Pete."

Pete menaikan bahunya, ia membuka pintu segera. "Ku tunggu di luar jika kau sudah siap!" Teriaknya. 

Di bawa dirinya ke dunia penuh putih. Dingin di sana, namun Pete tak masalah dengan itu. Malah menikmatinya, ia menarik nafas dalam dan menghembuskan nafas yang beruap keluar. Ia menginjak satu sepatunya ke tanah, lalu tertawa. Ini menyenangkan. 

Salju turun cukup lebat, butiran putih lembut melayang-layang turun dari langit kelabu, kesana kemari terbawa angin. Jumlah salju tahun ini luar biasa, Pete mengingat berita yang disiarkan tadi pagi; hampir menyentuh angka 18 inci hanya dalam seminggu terakhir, dan salju yang turun masih akan terus berlanjut.

Dia berbaring di jalan, matanya tertuju ke langit kelabu di atas. 

Patrick menyusulnya, langkah kakinya cepat. Dirinya berlari. "Pete! Kau melupakan syal mu!" Teriaknya dari dalam teras rumah, belari kearahnya. Dalam perjalanan menuju keluar, kakinya tersandung. 

Memalukan. 

Siapa yang menaruh alat pembersih taman di teras rumah, sih? 

Pete bangun dengan spontan, jalan perlahan mendekatinya. "...Trick? Kamu baik-baik saja?"

Patrick mendesah kesakitan. "Ya, cuman-" Ia meringis lagi. Tubuhnya duduk di lantai. Dan dengan hati-hati menarik satu sepatunya, melepas kaus kaki untuk memeriksa luka. "Jari kakiku hanya terbentur. Aku akan baik-baik saja."

Dirinya tidak akan baik-baik saja, Pete. Jari kakinya sudah memar merah. Mungkin kalau untuk berjalan dirinya akan pincang. 

"Serius?"

Patrick hanya menganggukkan kepala, memberi senyum kepadanya. 

"Lalu, ayo. Aku tidak sabar!" Ajak si rambut raven, ia terkekeh. Masih menunggu di halaman rumah penuh salju. 

"...baik, tunggu sebentar." Patrick buru-buru meraih kaus kakinya yang terlepas. Akan jadi masalah jika suaminya itu tahu dia tersandung, Pete mungkin akan menyuruh nya rehat dan tinggal di rumah. Lagi, dengan laptop mengesalkan itu. 

Terlambat.

Pete mendekati nya perlahan. 

"Apa yang terjadi?" tanyanya lembut, sambil berlutut sejajar di depan Patrick. 

"Hm, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," katanya sambil mengenakan kaus kaki bercorak kue jahe itu. "Ayo pergi."

"Patrick."

Dia menghela napas. "Pete."

Pete menggeleng, "Kita tidak harus melakukan ini, kau terluka. Aku minta maaf. Kita bisa saja tinggal di rumah, menonton film kesukaan mu-"

"Kau bilang, engkau akan melindungi ku apapun yang terjadi, Pete. Aku akan baik-baik saja. Ayo, kita akan terus menggigil jika terus berdiam diri." Patrick sekarang mengenakan sepatunya dan mematikan lampu rumah, mengunci dengan perlahan. 

Tangan nya digandeng oleh Pete, masih cemas soal kejadian barusan. "Kaki mu gak apa?"

"Sedikit sakit, tapi tidak parah kok." Jelas nya. "Oh, ini." Ia mengeluarkan syal merah dari saku jaketnya. "Kau melupakan ini."

Dan Pete memakainya, ia berterimakasih. "Kamera mu sudah?"

Patrick mengangguk, "Ada dalam jaket ku, jangan khawatir."

Pete menghela nafas, kemudian menuntun Patrick perlahan ke luar. 

Patrick tersenyum, membuka mulutnya dengan harapan bisa menangkap salah satu salju yang turun dengan lidahnya. Genggaman nya lepas dari Pete, sekarang Patrick berputar-putar di jalan. Ia tertawa manis. 

Sungguh, Pete bahkan tidak ingat terakhir kalinya Ia mendengar Patrick tertawa puas seperti itu. Rasanya hangat. 

"Kau seperti bocah lima tahun yang baru kenal salju," Pete terkekeh. Patrick, yang terlalu asyik bersenang-senang.

"Ayo bertarung. Kita lihat siapa yang lebih baik membuat malaikat salju."

"Siapa takut?" Dengan begitu Pete membuat mailakat salju dengan salju yang ada di kakinya. Ia mendengus pelan.

"Kau cuman iri karena aku dapat yang membuat yang terbaik," kata Patrick mengejek dengan sedikit nada menantang dalam suaranya. Ia duduk dan mulai membuat mahluk yang sama.

"Oh, permainan dimulai rupanya?" Mata pria coklat itu berbinar penuh kenakalan, Pete berhenti membuat malaikat saljunya dan sekarang bersembunyi tepat di sebelah Patrick.

Dengan dua ranting pohon yang ada di sekitarnya, Patrick selesai lebih dulu dengan memasang kedua tangam ranting itu, berhati-hati agar tidak merusak bulatan salju saat ia berdiri. Ia membersihkan serbuk salju dari tangannya dengan seringai bangga. "Lihatlah maha karyaku, Pete!"

Mata gelap Pete membara, sebelum dia mengulurkan tangan nya dan merusak tubuh malaikat salju ciptaan Patrick. "Ups. Maaf."

"Hei apa-apaan!" Patrick memberontak, kembalik duduk untuk memperbaiki malaikat salju. "Itu curang."

"Bukankah begitu permainannya?" bantah Pete sambil tekekeh.

Tatapan Patrick sinis, memukul bagian kepala malaikat salju Pete. Biar saja, rasakan itu.

"TRICK, KOK MILIKKU IKUT DIHANCURKAN?"

Patrick terkikik puas sambil jatuh terlentang. "Sekarang kita berdua kalah! Rasakan itu, brengsek."

Pete mengendus kesal. tubuhnya membungkuk untuk mengambil sesuatu dari tanah. 

Sebuah gumpalan putih di tanganya.

Lalu ada salju di wajah Patrick.

Dia terbatuk-batuk, lalu berguling. Hidung nya merah, tersumbat salju. Pete sekarang melemparkan lebih banyak salju ke punggungnya, terus-merus.

"Pete, hentikan!"

"Coba hentikan aku, Trickster!"

Lalu Patrick mengambil segenggam salju dan melemparkannya ke arah suaminya.

Pete tersenyum lebar. "Kamu meleset." katanya.

Patrick berdecak, namun tetawa lagi kemudian.

"Tak akan ku biarkan kau lolos begitu saja!" teriak Patrick sambil berdiri, berpura-pura mengepalkan tinju ke arah Pete. Pria berambut hitam berpura-pura teriak ketakutan, kembali ketawa, lalu berlari ke jalan.

Patrick mengumpulkan segenggam salju di tanganya, berlari mengejar Pete dari belakang, mengabaikan jari kakinya yang terasa perih.

Dan saat itu juga ada segumpal salju melayang ke arah Patrick dan dia gagal menghindar, yeah, setidaknya hanya mengenai pundak nya.

Kemampuan membidik Pete terlalu bagus.

Patrick tak mau kalah, ia melemparkan gumpalan salju itu kembali. Terdengar bunyi gedebuk, dan sedikit pekikan dari mulut Patrick. Ia berhasil mengenai tubuh Pete.

"Ha!" teriaknya. "Rasakan itu-"

Bola salju berikutnya mengenai tepat di perutnya, membuatnya mengeluarkan suara 'oof'.

Patrick ingin membalas namun kemudian tangan nya beku, dan nyeri di jari kakinya itu kembali sakit.

Pete menghampirinya terengah-engah. Masih tertawa. "Kau lelah?"

Patrick tidak menjawab, ia membungkuk, kedua tangannya bertumpu pada lutut.

"Boleh ku pinjam posel mu itu?" Tanyanya, ikut bersandar pada rumah plastik main anak-anak di tengah taman.

Pete mengulurkan tangan meraih tangan Patrick untuk menghangatkan. Pipinya merah, rambut nya keluar dari kupluk, terlapisi salju.

"Aku mencintaimu. Kau tahu itu, kan?" ucap Pete.

Patrick terawa geli. "Tentu saja. Aku lebih mencintaimu."

Dan sebelum keduanya lanjut bercumbu, segerombolan anak kecil datang mendekati mereka. Wajah nya masam.

"Om, kalau mau pacaran di rumah saja, kami mau bermain. Jangan memakai fasilitas publik untuk berduaan." Ucap salah satu anak laki-laki dari kelompok itu. Patrick malu, pipinya semakin merah. Ia langsung berdiri.

"Maaf! Kami akan segera pulang setelah ini."

Dan Pete ikut berdiri, menatap anak itu sinis. "Memangnya kenapa kalau hanya melepas lelah saja? Masalah untukmu?" tanya nya tajam.

"Pete-" Patrick mengode, kemudian menarik suaminya jauh dari anak-anak itu. Dibawa pergi ke jalan.

"Kau ini kenapa, sih?"

"Mereka anak-anak, astaga! biarkan mereka bermain tanpa harus melihat gelinya cinta kita."

Pete terkekeh lagi, ia mengangguk. "Oke... Aku minta maaf. Kau imut sekali kalau sedang marah."

Patrick memutar matanya, lalu mengambil ponsel dari jaketnya. "Kita harus pulang. Sudah satu jam lebih kita diluar dan aku gagal merekam kekonyolan mu tadi-"

"Kita bisa lakukan itu lain kali. Yang penting sekarang pikiran mu sudah encer kembali."

 

Notes:

inspired by the song Oh Ms Believer