Chapter Text
Sore hari yang lembab di tengah kota, Sion menginjakkan kaki ke tempat yang sebenarnya sudah enggan ia pijaki. Setiap langkah yang Sion tempuh menjadi semakin berat, seiring pijakan tersebut menuntunnya ke depan sebuah halte bus.
Halte bus yang masih berdiri kokoh di tempat yang sama, meski kini tampil lebih modern. Biasanya Sion tidak memilih untuk menaiki bus saat akan ke tempat kerja, namun karena mobil kesayangannya yang didapatkan setelah bekerja selama lima tahun secara ugal-ugalan mengalami masalah, pagi ini ia tidak punya banyak pilihan. Ada sesuatu dari halte itu yang terasa terlalu akrab, meski Sion tahu ia sudah lama tidak berdiri di sana.
Kondisi halte bus tidak terlalu ramai, hanya berisi beberapa anak sekolah yang siap memulai pagi, seorang ibu dengan tas belanja yang masih kosong, dan Sion yang mengenakan outer usang yang terlihat sering dipakai. Begitu sampai, ia memilih untuk langsung duduk dan mengatur napas setelah berjalan sekitar sepuluh menit dari kediamannya.
Tidak lama setelahnya bus datang dan Sion naik. Untungnya hari masih cukup baik kepadanya, memberinya bus yang sepi sehingga ia bisa duduk dengan tenang sepanjang perjalanan menuju kantor tempat ia bekerja sambil mengarahkan pandangan ke luar jendela. Selama perjalanan, Sion merasa bahwa terkadang kota berubah lebih cepat dibanding manusia, bangunan diperbaiki, jalanan diperbesar, taman dipercantik, sementara manusia sering tertinggal pada kenangan yang sama. Setidaknya, itu yang terjadi padanya.
– 🌷🐿️ –
Sion tiba di kantor kurang dari dua puluh menit sebelum jam kerja dimulai. Setibanya di sana, ia meletakkan tas di kursi kerjanya dan langsung menuju pantry untuk membuat kopi, rutinitas yang selalu ia lakukan setiap pagi sebelum mulai bekerja.
Ketika kembali dengan segelas americano di tangannya, kantor yang tadinya sepi mulai terisi satu per satu. Daeyoung, arsitek junior yang usianya tiga tahun lebih muda dari Sion dan kini menjadi rekan kerja terdekatnya, sudah duduk di tempatnya sambil menyantap sarapan dari rumah.
“Pagi Kak Sion, tumben datang pagi. Biasanya pas jam kantor mulai baru sampai” sapa Daeyoung yang sudah duduk di kursi nya sambil menyantap sarapan yang dibawa.
“Mobil gue bermasalah” balas Sion yang kini sudah duduk di kursi kerja nya.
“Loh, bukannya kakak baru beli setahun lalu?”
“nah iya kan, gue juga heran, Daeng” Sion menundukkan kepala ke meja sebentar, lalu mengangkatnya lagi. “Eh iyaa, katanya bakal ada project baru gak sih Daeng? yang sama wali kota itu” ingat Sion yang seketika merubah pandangannya ke arah Daeyoung yang masih menikmati sarapan.
“iya, kak–aduh bentar nelen dulu” balas Daeyoung yang sedikit tersedak setelah mendengar perkataan Sion. Daeyoung bukan tidak mengetahui project tersebut, hanya saja senior nya yang semula lemas ketika membicarakan mobil langsung berubah seketika.
“eh iya sorry, sorry, telen aja dulu makanannya” ungkap Sion yang menyadari bahwa junior nya tersebut masih menikmati sarapan. “Jadi gimana Daeng?” lanjutnya ketika melihat Daeyoung telah menyelesaikan sisa sarapannya dengan 2 kali lahap.
“Jadi gini kak, katanya Kak Wonbin project kali ini bakal lumayan besar” Ia membuka folder di laptop, menampilkan peta kawasan. “Kawasan lama yang ada di kota rencananya bakal dihidupkan lagi mengikuti minat masyarakat sekarang, tapi gak boleh kehilangan karakternya”
“Dan.. itu bakal jadi hal yang paling ribet dan susah sih daeng” gumam Sion.
“Makanya kak, nantinya kita gak kerja sendiri. Tim perencana kota yang bakal turun langsung buat project kali ini dari awal”
Sion mengangguk, lalu bertanya, “udah ada kabar kah Daeng, siapa yang bakal jadi ketua tim perencana kota nanti?”
Daeyoung menggeleng “Sayangnya tim project management juga masih belum dapat jawaban pasti kak”
Belum sempat pembicaraan berlanjut, Wonbin muncul dengan langkah santai.
“Woi, duh udah kusut aja dah berdua, napa sih?” tanya Wonbin sambil menyandarkan tangannya di meja kedua rekannya.
“Baru juga diomongin udah dateng aja lu” sahut Sion.
“Gue tau, kalian pasti udah kangen banget ya sama gue” balas Wonbin santai yang langsung dibalas tatapan jijik dari dua arsitek di depannya. “dihh, biasa aja dong mukanya” sahutnya kesal.
“tadinya mau aku sambut juga sih kak, tapi ga jadi” balas Daeyoung. “Oh ya kak karena kakak baru aja sampai, tadi aku sama Kak Sion abis bahas tentang project sama wali kota itu” sahutnya langsung sebelum Wonbin membalas.
“ahh iya itu, gue belum ada lanjutan lagi sih sama tim bicaranya wali kota, tapi–”
“siapa ketua tim perencana kota nya?” putus Sion di tengah penjelasan Wonbin yang singkat itu.
“sabar dikit yon” ucap Wonbin. “belum ada nama sih sejauh ini, tapi sedenger gue nih, katanya ketua timnya gak jauh umurnya sama kita tapi portofolio nya udah keren abis. Katanya sih, biar kerjasamanya ke kita enak”
“hmm menarik” balas Sion sambil menyatukan kedua tangannya di dada.
“terus kita bakal meeting sama tim perencana kota kapan kak?” kali ini Daeyoung balas bertanya
“nahh itu alasan kenapa gue kesini sebenernya, dua minggu lagi, hari Kamis, kita bakal meeting full team sama tim perencana kota. Kalian siapin dulu draft ide dari file yang kemarin gue kirim ke Daeyoung.” balas Wonbin sambil memantau ekspresi kedua rekannya, yang diluar prediksi Wonbin, keduanya terlihat aman dengan target 2 minggu tersebut.
“Oke” jawab Sion cepat. “Daeng, kirim file nya ke gue sekarang ya, abis ini kita kumpul team arsitek jaga jaga kita juga ajak tim teknikal” sahut Sion sambil merapikan beberapa barangnya untuk ke ruang rapat
“Oke kak, aku hubungi tim teknikal dulu ya, nanti aku nyusul” balas Daeyoung yang juga melakukan hal yang sama dengan Sion.
– 🌷🐿️ –
Selama dua minggu, Sion dan tim disibukkan oleh rapat yang tidak ada habisnya dan malam-malam begadang, mengejar tenggat waktu sebelum pertemuan dengan wali kota dan tim perencana kota.
Awalnya, Sion mengira proyek ini tidak berbeda dari pekerjaan lain yang biasa ia tangani, bahkan dengan waktu yang lebih sempit dari biasanya. Namun, setelah dua minggu berjalan tanpa jeda, kegelisahan itu justru semakin mengendap.
Ia tidak tahu pasti kegelisahan seperti apa yang ia rasakan. Semua bercampur menjadi satu: kekhawatiran akan keberhasilan proyek, tekanan dari tenggat waktu, dan perasaan ganjil tentang sosok yang belum ia temui.
Nama itu belum pernah disebutkan, wajahnya pun belum muncul dalam satu pun surel resmi. Namun, entah kenapa, Sion mulai merasa seolah-olah ia sedang menunggu seseorang, bukan sekadar rekan kerja, melainkan bagian dari masa lalu yang belum selesai.
Dan kota, dengan caranya sendiri, terasa semakin sunyi menjelang hari pertemuan itu.
