Work Text:
26 Desember 2023, 1:10 AM.
Yeonjun berjalan dengan gontai menuju pintu masuk otomatis di rubanah apartemennya. Ia hendak memasukkan kode sandi pada mesin layar sentuh yang terpajang di samping pintu, sampai sebuah suara memanggil namanya.
Terlalu lelah untuk takut, Yeonjun langsung menoleh ke sumber suara. Ia menemukan Beomgyu sedang berlari kecil menghampirinya. Yang lebih muda memakai jaket padded hitam dan syal abu-abu yang melingkari lehernya dengan rapi.
"Yeonjun-ssi– eh? Yeonjun Sunbae– eh? Yeon–"
Sang pemilik nama terkekeh geli. "Santai aja. Napas dulu coba,"
Beomgyu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil cengengesan. Malu.
"Yeonjun Hyung baru pulang juga ya?" tanya Beomgyu setelah mengatur napasnya. Suaranya terdengar ceria, meskipun wajahnya menunjukkan yang sebaliknya.
Yeonjun mengangguk. "Acara festival musik. Kayak biasa,"
Beomgyu balas mengangguk paham dan keduanya hening. Mereka hanya saling bertukar pandang sampai mereka sadar kalau melamun sambil menghadap ke wajah satu sama lain.
Yeonjun mengusap wajahnya sambil terkekeh. "Mau jalan-jalan bentar gak di taman apartemen? Mumpung hari ini gak terlalu dingin dan udah banyak salju di luar," ajak Yeonjun. Malam setelah hari natal rasanya sayang untuk dilewatkan begitu saja tanpa dinikmati di luar pekerjaan.
Sebenarnya Yeonjun tidak berharap banyak. Sekarang sudah lewat tengah malam, Beomgyu pasti lelah. Namun, secara tidak terduga Beomgyu menerima ajakan tersebut.
Di sinilah mereka, di taman apartemen yang diselimuti salju, membuat manusia salju. Mereka memulainya secara iseng, tapi lambat laun terjadi kompetisi di antara mereka.
Dari sini Yeonjun jadi tahu bahwa Beomgyu mahir dalam menggunakan tangannya untuk berkreasi. Manusia salju buatan Beomgyu terlihat sangat rapi dan cantik. Melihatnya membuat jiwa kompetitif Yeonjun muncul, melupakan rasa letih yang sebelumnya menggerogoti tubuhnya.
"Oke, ayo kita foto terus bikin polling di insta," ucap Yeonjun sambil mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Di hadapan mereka ada dua manusia salju dengan tampilan yang sangat berbeda.
Milik Yeonjun berukuran besar dan bulatannya memiliki banyak gelombang. Dihias dengan unik, terutama wajahnya yang menampilkan ekspresi jenaka seperti kucing yang sedang menyeringai.
Di sebelahnya ada milik Beomgyu yang berukuran lebih kecil, tapi bulatannya sangat halus seperti dibentuk oleh sebuah cetakan. Wajah manusia salju Beomgyu terlihat manis dan ia memiliki banyak aksesoris di bagian kepala dan badannya.
Yeonjun mengunggahnya di instastory miliknya. "Tinggal tunggu seharian deh." kata Yeonjun pada Beomgyu yang sedang berfoto bersama manusia saljunya.
Setelah berpamitan pada manusia-manusia salju mereka, keduanya sepakat untuk berjalan keliling sedikit lebih lama di taman.
Taman itu sangat sepi. Hampir tidak ada suara apapun kecuali suara langkah kaki mereka saat menginjak salju dan napas mereka. Mereka terus berjalan dengan keheningan menyelimuti keduanya.
Anehnya, Yeonjun tidak merasa canggung dengan tidak adanya percakapan di antara mereka.
"Tadi manusia salju kamu bagus banget," Yeonjun mulai bersuara saat ia dapat melihat kembali gedung mereka.
"Oh, makasih, hyung!" Beomgyu menjawabnya dengan cepat. "Walaupun aku gampang kedinginan, aku suka banget sama salju. Makanya setiap ada banyak salju, aku pasti main-main dan bikin-bikin bentuk dari salju. Jadi kayaknya aku udah terlatih?"
Dua selebriti itu terkekeh. Ucapan Beomgyu yang sangat percaya diri terdengar masuk akal.
Yang lebih tua menepuk pundak Beomgyu dengan ringan. "Kalo gitu kita harus cepet-cepet balik biar kamu gak kedinginan," katanya. Beomgyu mengangguk setuju dan tanpa disadari mereka memulai kompetisi yang lain, yaitu jalan cepat.
"Hyung, pernah percaya santa claus gak?" tanya Beomgyu di tengah-tengah jalan cepatnya. "Aku pernah,"
"Sama dong, aku juga pernah. Sekarang juga masih malah,"
"Oh ya? Kok bisa? Aku udah gak percaya lagi karena aku pernah lihat santa lepasin baju dan pernak-perniknya di belakang panggung– hyung, bentar, aku nyerah," Beomgyu menahan lengan Yeonjun sambil terengah-engah. Yeonjun menyejajarkan kecepatan langkah kakinya dengan Beomgyu sambil tersenyum penuh kemenangan.
Yeonjun memiringkan sedikit kepalanya sambil menatap Beomgyu yang jauh lebih pendek darinya. "Di belakang panggung mana?" pancingnya agar Beomgyu melanjutkan ceritanya.
"Sampe mana tadi– oh! Di belakang panggung di mall gitu, aku ngelihat orang yang jadi santanya copot baju santanya pas aku masih kecil. Sejak saat itu aku nyadar kalo yang jadi santa claus selama ini tuh cuma orang biasa," Beomgyu mengerucutkan bibirnya di akhir kalimat.
Senyum lembut Yeonjun merekah dengan sendirinya hingga Beomgyu menatap balik dirinya untuk bertanya kenapa ia masih percaya pada santa.
"Karena kalo menurut aku siapapun bisa jadi santa. Ngasih hadiah, ngabulin permintaan orang lain, ngelakuin sesuatu buat orang lain. Orang biasa juga bisa kayak gitu 'kan? Sama kayak santa claus walaupun mereka bukan paman santa claus asli,"
Layaknya baru saja mendapatkan pengetahuan mindblowing, Beomgyu ber-oh ria sambil mengangguk-angguk.
Tidak seperti tadi di parkiran bawah tanah, keduanya masuk lewat pintu utama.
Yeonjun memencet tombol lift untuk mereka dan merogoh kantong jaketnya. Tangan kanannya menemukan sebuah permen yang Yeonjun ingat adalah sebuah permen jahe.
"Nih, permen jahe. Katanya bisa buat ngangetin tubuh," Yeonjun menyodorkan permen tersebut pada Beomgyu yang terus menggosok-gosokkan tangannya.
Berada di tempat yang hangat setelah menghirup udara segar dan dingin membuat Yeonjun merasakan kantuk yang berat sekarang. Ia ingin cepat-cepat mandi dan melemparkan dirinya di kasur.
Nyatanya tubuh dan mulut Yeonjun seperti bergerak dengan sendirinya.
Sesampainya mereka di apartemen, Yeonjun menawarkan Beomgyu yang baru saja bersin untuk meminum secangkir cokelat panas. Melihat sang aktor mengiyakan tawarannya dengan semangat karena katanya ia sangat suka cokelat panas membuat hati Yeonjun menghangat.
Bagaimana bisa ia bilang "tidak" pada sepasang mata yang berbinar dan senyum yang indah itu?
Setelah mandi dan beres-beres, Yeonjun berusaha membuat cokelat panas yang sempurna. Sudah lama ia tidak membuat cokelat panas.
Beomgyu bergabung di meja makan tepat setelah Yeonjun selesai menuang sisa cokelat ke cangkirnya.
Keduanya menikmati cokelat panas tersebut sambil tenggelam dalam pikiran masing-masing. Beomgyu memuji kelezatan cokelat tersebut, lalu kembali hening.
Sekarang sudah hampir jam dua malam dan Yeonjun sudah sangat lelah dari jadwal pembawa acara dan pertujukan kemarin. Namun, Yeonjun merasa nyaman dengan kehadiran Beomgyu di dekatnya dan enggan untuk beranjak pergi cepat-cepat.
"Oh ya, nanti kalo udah habis atau selesai, taruh di wastafel aja nanti aku yang cuci sekalian sama panci tadi," ucap Yeonjun tiba-tiba, menunjuk wastafel di sisi kanan mereka dengan dagunya.
Beomgyu mengangguk paham dan lagi-lagi tidak ada yang bersuara. Minuman cokelat yang baru matang ini terlalu panas untuk diminum banyak sekaligus, membuat Yeonjun hanya menyeruput sedikit sebelum menunggu lebih dingin sedikit.
"Hyung kayak santa," gumam Beomgyu tiba-tiba yang masih terdengar oleh Yeonjun yang duduk di hadapannya.
"Hah? Maksudnya?"
Beomgyu tersenyum. "Yeonjun Hyung santanya aku!"
Yeonjun mengerutkan dahinya lalu terkekeh. "Katanya kamu udah gak percaya santa lagi?" tanyanya sambil menyenderkan punggungnya ke senderan kursi.
"Iya, tapi karena tadi hyung bilang siapa aja bisa jadi santa dan hyung langsung kasih bukti-buktinya, aku jadi percaya lagi sekarang,"
Yang disebut sebagai santanya Beomgyu semakin bingung. Ia tidak merasa ia telah melakuka apa-apa, jadi apa yang dimasud dengan bukti di sini?
Yeonjun tidak menghiraukannya untuk sekarang dan hanya terkekeh. "Bagus kalo gitu. Kamu bisa jadi santa juga abis ini,"
"Oh ya, mau lihat hasil polling sementara gak?" Yeonjun tiba-tiba teringat akan jajak pendapat manusia salju mereka tadi.
Ia mengambil ponselnya di kamar setelah Beomgyu mengiyakan dan kembali dengan tangan menutupi mulutnya yang terbuka dramatis. Yeonjun juga menambahkan suara-suara terkesiap dengan lebay.
"H-hyung? Ada apa?" Beomgyu menghampiri Yeonjun dengan takut-takut. Kedua tangannya terkepal di depan dada dan alisnya berkerut.
Yeonjun menunjukkan layar ponselnya pada Beomgyu. Di dalam layar persegi panjang itu terdapat sebuah hasil sementara jajak suara dari manusia salju mana yang lebih enak dilihat dan cocok untuk dipamerkan yang Yeonjun unggah tadi.
Menyadari apa yang sebenarnya terjadi, Beomgyu ikut terkesiap.
"Kok bisa jaraknya sejauh itu?!" tanya Beomgyu heboh dari balik kepalan tangan di depan mulutnya.
Yang ditanya hanya menggeleng sambil tertawa tidak percaya. "Kayaknya tujuh puluh persen fans aku lebih suka yang cantik dan rapi ...," ucapnya sok dramatis. Keduanya tertawa setelah melihat hasil jajak suara itu sekali lagi seakan-akan dapat berubah drastis dalam waktu pendek.
"Ya udah karena udah ketahuan siapa yang menang, kamu mau hadiah apa?" Yeonjun menyisir rambutnya ke belakang. Ia mulai bersiap untuk mencuci peralatan masak yang ia gunakan tadi.
Beomgyu merapatkan kedua bibirnya dan bergumam.
"Secangkir cokelat panas kayak tadi abis pulang kerja besok– eh, hari ini maksudnya, boleh gak, hyung?" tanya Beomgyu malu-malu setelah berpikir keras.
Satu alis Yeonjun terangkat mendengar jawaban yang cukup menarik baginya. "Sesuka itu ya ternyata?" Ia lalu terkekeh. "Boleh dong!"
***
"Silakan cokelat panasnya, Tuan Tujuh Puluh Persen," ucap Yeonjun pura-pura menjadi pelayan yang menyajikan secangkir cokelat panas di meja makan pada Beomgyu yang baru pulang. Untung saja Yeonjun pulang sedikit lebih cepat hari ini, jadi ia dapat membuatkan cokelat panas tersebut walau harus masih dengan pakaian latihannya tadi.
"Astaga, makasih, Yeonjun Hyung!" Beomgyu menjawab dengan ceria seperti biasa meski waktu sudah larut malam. "Uh, hyung gak bikin juga buat hyung?" tanyanya setelah menyadari hanya ada satu cangkir di meja.
Yeonjun yang sedang mencuci spatula menoleh. "Kenapa aku bikin buat aku sendiri juga...? 'Kan ini hadiah buat yang menang?" tanyanya bingung.
Keduanya bertukar pandang untuk beberapa detik lalu Beomgyu tertawa canggung.
"Bener juga hehehe. Makasih, hyung– oh, Santa Hyung!" ucapnya terburu-buru lalu mengambil cangkir tersebut dan membawanya ke kamarnya sambil setengah berlari, meninggalkan Yeonjun yang masih bingung.
"Pelan-pelan! Nanti bisa tumpah. Itu masih panas soalnya!" seru Yeonjun pada Beomgyu yang sudah berada dalam kamarnya. Entah yang lebih muda dapat mendengarnya atau tidak.
Yeonjun kembali fokus pada agenda mencucinya dan tersenyum simpul.
"Lucunya," gumamnya tanpa sadar.
***
