Actions

Work Header

Sesal

Summary:

Seiichi Samura tak lagi sama sejak kembali dari medan perang.

Work Text:

Kali pertama Samura tumpahkan darah seseorang, sanubarinya diliputi sesal tak terbilang.

Perasaan itu menjalar perlahan di sepanjang bilah di genggaman sebagai awal dari pertanggungjawaban. Setiap tetes darah yang luruh membawa serta bibit-bibit cela, menyesap masuk ke dalam celah-celah hati yang konon dua kali lebih peka dari manusia kebanyakan. Mengonsumsi diri sedikit demi sedikit hingga nyaris tak ada ruang tersisa untuk perkara selain penyesalan.

Meski demikian, ia tetap melangkah ke pusaran pertempuran, mengemban tugas mulia sebagai pembawa pedang yang digadang-gadang sebagai simbol harapan. Darah yang tertumpah ruah disebut-sebut sebagai harga yang sepadan demi menjaga kelangsungan masa yang akan datang. Sebuah bentuk pengorbanan yang harus dijalankan, meski nurani terus menolak untuk sepenuhnya membenarkan.

Namun dalih apa pun yang digunakan sebagai pembenaran, Samura takkan mampu menghapus citra tubuh-tubuh yang terkulai dalam ingatan. Potongan daging yang tercerai-berai menghantui setiap sudut pikiran hingga akhirnya ia memilih menanggalkan penglihatan. Meski kini pandangannya diselimuti kegelapan, pemandangan keji terlanjur terpatri di benak sebagai jelmaan hukuman tak berkesudahan.

Begitu konflik usai, dunia menuntutnya kembali menjalani hidup seperti sediakala dengan tenang. Seolah ia hanya perlu menggantung pedang, membersihkan diri dari sisa-sisa perang, lalu berjalan pulang. Sayangnya, rumah yang ia tuju pun tak lagi terasa sebagai tempat pulang. Barangkali raganya memang pulang, namun jiwanya tertinggal di medan perang. Terkubur di antara hamparan jasad yang ditumpas atas nama negara demi masa depan yang (katanya) gemilang.

Seiichi Samura bukan lagi orang yang sama sekembalinya dari pertempuran yang merenggut lebih dari sekadar nyawa dan meninggalkan bayang-bayang kelam yang tak pernah hilang.

Pada Inori, ia kembali pada sang istri sebagai sosok asing yang terbelenggu dosa abadi, lalu pergi sebagai pria yang memilih untuk memikul bebannya sendiri. Pada Iori, ia bahkan tak kuasa merengkuh putri kecilnya yang begitu suci dengan tangan berlumuran noda darah tak kasatmata yang takkan hilang berapa kali pun ia coba untuk cuci. Akal sehatnya menghakimi diri sendiri bahwa ia tak lagi layak menerima kasih, lalu memilih menjauh sebelum jejak dosanya menodai orang-orang yang ia sayangi.

Bagi Seiichi, sudah sepantasnya ia berakhir di neraka seorang diri.

Maka tak ada yang lebih memuakkan baginya selain mendengar namanya dielu-elukan sebagai pahlawan bangsa. Apanya yang pahlawan, bila mencegah pembantaian yang merenggut ratusan ribu nyawa saja ia tak sanggup? Pahlawan mana yang membungkam realita bahwa ia, beserta rekan-rekannya yang menanggung dosa serupa, ikut andil dalam menutupi kenyataan? Toh, nyatanya kedamaian yang mereka peroleh berdiri di atas bangkai kebenaran yang dikubur rapat-rapat oleh para pejabat.

Betapa ironis, fakta bahwa publik dibuat menutup mata pada apa yang tersembunyi di balik narasi murni. Mereka bersorak atas kemenangan yang dirayakan tanpa pernah mempertanyakan harga yang dibayar dengan tragedi. Mereka memuja nama-nama yang diangkat sebagai pahlawan negeri tanpa tahu kebiadaban yang disamarkan rapi. Mereka menyanjung figur agung tanpa menyadari darah siapa yang dikorbankan demi ilusi stabilitas negeri. Sejarah pun dipoles, diajarkan turun-temurun, dan diwarisi sebagai dogma yang tak boleh diganggu gugat lagi. Generasi demi generasi tumbuh dalam kebutaan kolektif, dan selama kebohongan itu terus diwarisi, ia tahu satu hal dengan pasti bahwa dosanya tak pernah benar-benar mati.

Selama ia masih bernapas, rasa bersalah akan terus menggerogoti sisa-sisa moral. Selama jantungnya masih berdetak, maka selama itu pula sesal akan setia tinggal. Bagi Seiichi Samura, mengabdikan sisa hidup untuk mempertanggungjawabkan dosa masa lampau adalah satu-satunya jalan hingga kelak ia menemui akhir yang layak di neraka yang kekal.