Work Text:
Di antara kepulan asap yang masih membumbung, Jeonghan meniup pelan sendoknya, tergesa menyicip kuah yang masih terlampau panas menyentak lidah. Pria di sebelahnya akan mendesis, mengomelinya soal makan makanan panas yang kurang baik, lidah yang melepuh menyebabkan mati rasa, sambil mendorong mangkuk ke depan kipas. Segelas air es dijulurkan tepat depan bibir, membuatnya mau tidak mau meneguk pelan, membiaskan rasa panas yang mengejutkan lidahnya.
“Laper, Gyu,” kekehnya yang dibalas dengkusan. Mangkuknya digeser sedikit ke arah pria berbalut hoodie dongker di sebelahnya yang mengaduk mi di depan angin sepoi-sepoi dari kipas mini warna pink hadiah ulang tahun dari Seungkwan.
“Telornya jangan sampe pecah,” pesan Jeonghan yang menyandarkan kepala di bahu yang lebih muda, meski pipinya harus puas kadang bergerak-gerak atau tersenggol biseps kekasihnya yang bergoyang karena tangan yang mengaduk mi, dia senang.
Ketika dirasa sudah cukup hangat untuk ditelan, yang dipanggil Mingyu menggulung sejumput mi, tetap meniupnya pelan sebelum menyuapi ke arah Jeonghan. “Udah adem?” Pria yang rambutnya sudah mulai panjang lagi mengangguk dengan pipi menggembung, mulut mengunyah senang. Mangkuknya digeser lagi ke hadapannya, sementara Mingyu mulai mengaduk mi goreng miliknya yang sudah dingin dengan sendirinya. Sedikit berusaha mencampurnya dengan bumbu.
Ini semua karena hujan yang tiba-tiba hadir di Minggu pagi. Agenda lari pagi yang sudah dirancang oleh Mingyu sejak jauh hari terpaksa batal, Jeonghan bersyukur dalam hati. Hujan di pagi hari libur tandanya lebih banyak waktu dengan Mingyu di rumah. Mereka bisa bergelung di kasur saling mendekap hingga pukul tujuh, atau delapan jika tidur terlampau larut. Tidak lagi harus sarapan nasi uduk atau bubur ayam yang dimakan hampir setiap hari.
Hari libur tandanya Mingyu akan memasak, entah telur dadar dan sayur capcay yang jadi favorit Jeonghan atau sup tahu telur dan ayam kecap masakan andalan Mingyu sehabis beasiswa bulanannya turun. Semuanya Jeonghan suka. Meski bunyi token listrik yang terus terdengar karena harus diisi tiap Minggu, meski tiba-tiba air galon habis dan isi ulangnya belum buka hingga mereka harus menahan haus hingga pukul sembilan, meski gas yang suka mendadak mati menyisakan semua masakan dikukus dan direbus dalam penanak nasi, Jeonghan suka.
Dan hari ini, dengan suara rintik yang sayup-sayup didengarnya sejak pukul dua, yang membuat matanya membuka sebentar untuk melihat jarum jam dan menajamkan suara tetesan hujan jatuh ke atap rumah. Pipi yang sudah menempel di dada polos Mingyu makin menelusup ke perpotongan leher, menggesekkan rambut halusnya ke dagu Mingyu yang pulas hingga bergumam acak. Jeonghan tersenyum sebelum kembali memejamkan mata, mencoba menyusun lagi buai mimpi yang sebelumnya terputus.
Kantuk hilang setelah dia merasakan percikan air di wajahnya, tubuhnya terlonjak kaget. “Mingyu, bocor!” Serunya sebelum mendengar tawa renyah Mingyu. Pria itu baru selesai mandi, masih ada bulir air yang menetes mengikuti garis lehernya, di siku, dan di antara ratusan helai rambutnya yang acak-acakan. Rambut yang sengaja dikibas pelan di depan wajahnya, menciprat air untuk membangunkannya. Jeonghan langsung bangkit dan mengejar Mingyu yang masih setengah bugil, hanya mengenakan celana pendek berlari mengitari rumah tiga petak yang mereka sewa. Bersyukur kesalnya membuahkan hasil semangkuk mi kari lengkap dengan telur rebus setengah matang. Persediaan mi mereka memang hanya tersisa dua bungkus, Mingyu yang kali ini mengalah memasak mi goreng dan membiarkan sebiji telur ikut direbus sebagai toping milik Jeonghan.
“Aku nanti siang mau keluar,” Mingyu berucap sambil menggeser piring yang isinya sudah tandas. Jeonghan menaruh garpunya turun, mata melirik pria di sampingnya mengabaikan tayangan di depan. “Ke mana?”
Mingyu mengusap rambutnya yang memang mulai memanjang, “Temennya Dongmin minta tolong buat jadi model bajunya lagi. Inget ga distro yang deket kampusku itu?”
Jeonghan mengangguk, tangannya sudah tidak lagi berminat menyuap. Nafsunya untuk makan menguap, dia kira hari ini bisa bermalas-malasan setelah satu Minggu keduanya hanya bisa bertemu saat malam. Alisnya turun, “pulangnya jam berapa?”
Mingyu tertawa, menangkup wajahnya gemas. “Belum berangkat udah ditanyain pulang,” katanya. Kecupan berulang tidak terelakkan, Jeonghan senang, hampir mengalungkan tangan ke leher Mingyu sebelum tubuhnya didorong untuk segera menghabiskan isi mangkuk yang sisa sedikit. “Kenyang ah,” elaknya. Sambil kembali mencondongkan wajah ingin dicium.
“Abisin dulu makannya. Kalo abis nanti boleh ikut.” Matanya menatap Mingyu berbinar, dengan semangat kembali menyuap makanannya cepat membuat prianya kembali tertawa gemas, menjulurkan tangan mengusap pipinya. Jeonghan suka melihat Mingyu menatapnya seperti tidak ada hal lain yang indah selain dirinya.
Tapi manusia memang hanya bisa mengatur rencana, cerah yang ditunggu tidak kunjung datang. Hujan terus mengguyur hingga lewat tengah hari. Agenda pemotretan ditunda, mungkin nanti saat Mingyu punya waktu luang. Menjadi mahasiswa tingkat akhir memang tidak lagi ada kelas, tapi tetap harus berjibaku dengan skripsi yang disusun setengah mati. Jeonghan sih senang, itu artinya dia masih bisa bersandar di dada Mingyu sambil menonton daftar film yang ditundanya dari kemarin. Tandanya, mereka masih bisa tetap bergoler manja tanpa perlu memikirkan cucian kotor yang bersemayam di pojok lemari. Menumpuk tinggi-tinggi melewati batas kantung cuci. Durasi film terus terputar, jemari Mingyu yang bermain-main di surainya semakin mendekatkan kantuk. Siang itu mereka tidur sekali lagi, Mingyu menumpu dagu di pucuk kepalanya, sementara dia menyamankan posisi menuai mimpi.
Suara hujan tidak lagi terdengar, suara perut Mingyu yang menggeru membangunkan Jeonghan. Prianya itu sedang asyik menatap ponsel, sesekali tertawa hingga tubuhnya bergetar. Jeonghan mengerang, mencoba memberi sinyal dirinya terusik dari tidur. “Masih ngantuk?” Mingyu mengangkat tangannya yang sengaja dijadikan bantal oleh Jeonghan, mungkin kram. Jeonghan tidak menjawab, tapi mendekatkan wajah ke celah leher Mingyu, menatap sayu ponsel yang kini menampilkan potongan video pendek.
“Mau makan apa kamu?” Mingyu bertanya, sesekali tertawa melihat tayangan yang mereka tonton bersama.
“Belum laper,” Jeonghan menjawab, “kamu makan duluan aja.”
“Udah berenti ujannya. Seungkwan ngajakin main futsal, mau?”
Meski masih ingin rebahan, Jeonghan tidak siap jika harus terjaga semalaman sendirian. Besok sudah hari Senin, Jeonghan tidak mau setengah kepalanya pusing karena terlalu banyak tidur. “Ayo deh,” jawabnya. Jeonghan yang mandi walaupun nanti akan berkeringat lagi, Mingyu yang mengisi dua botol minum ukuran 600 ml milik masing-masing.
Semenjak pernah harus menahan haus karena sisa uang di saku tas hanya tersisa tujuh ribu, hanya sanggup dibelikan satu botol air mineral di pinggir lapangan. Tapi Jeonghan sedari awal sudah menelan ludah melihat orang minum es jeruk selepas berlarian. Jadi, satu gelas es jeruklah yang mereka bagi berdua, menahan haus yang masih tersisa di tenggorokan sebelum pulang ke rumah. Beruntung air galon masih sisa setengah, dan dua hari lagi hari gajian Jeonghan. Dua hari selanjutnya mereka harus berpuas diri dengan memasak stok yang ada dalam kulkas mini berwarna kuning di samping dispenser.
“Nanti mainnya hati-hati, jangan ngotot.” Mingyu mengingatkan ketika mereka sudah melaju dengan motor hitam miliknya. Jeonghan yang duduk di belakang berdeham, tidak sepenuhnya menyetujui ucapan Mingyu. Bukan salah Jeonghan kalau marah karena lawan mainnya menarik kausnya hingga dia tersungkur, bukan salahnya juga kalau dia balas dengan menekel si penyerang. Namanya juga main futsal, dia saja masih menahan omelan karena kausnya jadi sedikit melar.
Mingyu mungkin takut Jeonghan dipukul. Belum pernah, sih, baru hampir. Itu juga karena Jeonghan tidak sengaja salah sasaran menendang bola terlampau keras ke arah gawang tapi malah membentur tiang, memantul kena penonton di sebelahnya. Lagipula, siapa suruh dia duduk di samping gawang? Sudah tahu ini lapangan futsal, bola terbang bisa jatuh di mana saja.
Jeonghan masih ingat raut Mingyu yang meminta maaf pada orang yang kena bola tendangannya. Habis itu, alih-alih dimarahi, Mingyu hanya menasehatinya lembut dan mengecup seluruh wajahnya. Jeonghan mana takut, yang ada dia akan tendang asal-asalan seluruh bola di hadapannya agar bisa dicium Mingyu seharian.
Kali ini, mereka sampai di lapangan berumput. Jeonghan langsung turun begitu motor mereka berhenti di spot parkir. “Masa futsal di lapangan tanah gitu? Main bola kali ini mah.”
“Gatau si Seungkwan yang bilang. Kalo kamu gamau main, gapapa duduk aja di pinggir.” Mingyu mendapat sikutan keras di perut, Jeonghan menggerutu kencang-kencang, “maksud kamu apa ngomong gitu? Dikiranya gabisa aku main bola. Aku jago, ya!”
“Engga ada yang bilang gabisa, aku bilang kalo kamu gamau.”
“Sama aja. Kamu liat ya, aku menang hari ini.”
Dengan begitu, mereka berjalan ke lapangan dengan jarak hampir satu meter, karena kalau Mingyu bergerak sedikit lebih jauh Jeonghan akan berhenti melangkah dan meneriakinya untuk segera mendekat. Seungkwan yang menyambut mereka lebih dulu, meralat secara verbal ajakan bermain futsal menjadi sepak bola. “Akhir bulan, Bos. Mending cari yang gratis,” katanya.
Sesuai dengan pernyataan Jeonghan sebelumnya, hari itu mereka pisah tim. Biasanya Jeonghan dan Mingyu akan terus dalam satu tim, koordinasi mereka terlampau bagus, Jeonghan bisa mengerti taktik yang Mingyu maksud bahkan tanpa dibriefing, begitu pun sebaliknya. Mingyu yang jago bergerak sebagai gelandang di sayap kiri dan Jeonghan sebagai penyerang dengan tendangan jarak jauhnya yang jarang meleset, tim mereka selalu ditakuti. Tapi kali ini berbeda, beberapa mengernyit heran, sebagian memandang keduanya tidak percaya, dan yang cukup berani seperti Soonyoung berteriak keras bertanya, “kalian lagi berantem ya?” Wonwoo tidak cukup cepat membekap prianya. Jeonghan dan Mingyu hanya diam sambil menaikkan sudut bibir. Menatap satu sama lain sengit, meski begitu Jeonghan masih bisa melihat binar cinta Mingyu di matanya.
Lapangan yang rumputnya masih basah itu membuat kaki mereka kotor karena tanah. Bekas hujan yang menyisakan lembab dan noda di mana-mana. Jeonghan sempat berdecak malas karena mengenakan kaus kaki warna putih. Lagipula awalnya mereka ingin bermain futsal, bukan sepak bola di lapangan becek yang berlumpur seperti sekarang. Jeonghan berlari, memberi kode pada Seungkwan yang dihadang oleh Mingyu, bola dialihkan padanya. Dengan cepat kakinya menggiring bola ke depan, melewati Hansol yang gagal menjegalnya. Tendangan diarahkan lurus, Seokmin sebagai kiper terlihat terbang mencoba menangkap bola yang melewati ujung jemarinya masuk ke dalam gawang. Teriakan sukacita digemuruhkan penonton di pinggir lapangan. Jeonghan dikerubungi beberapa rekan tim untuk didekap sebelum pertandingan dimulai lagi. Dia lihat Mingyu yang tersenyum mengejek, Jeonghan tahu prianya akan serius sekarang.
Putaran kedua lebih alot, Mingyu bolak-balik menghadang lawan. Sempat menjegal beberapa kali, membiarkan kausnya sama warna dengan tanah. Jeonghan tidak marah, toh yang akan mencuci baju prianya yang sedang bersemangat mengejek Hansol lalu membawa bola maju. Melupakan Jeonghan yang dengan gesit bisa mengambil bola dari gocekan kaki, dia pastikan Mingyu bisa mendengar seruan maafnya yang melengking karena Jeonghan bisa lihat raut kecewa dan erangan kesal.
Pertandingan penuh lumpur itu diakhiri dengan skor 3-1, kemenangan telak bagi tim Jeonghan. Dia menghampiri Mingyu yang banjir keringat, setengah kausnya sudah bergradasi warna, bahkan di pelipisnya ada percikan noda. Diusapnya tanah yang hampir mengering itu, “aku menang,” Jeonghan meledek. Mingyu hanya berdecih, tapi rangkulan tangan di pinggang tidak terlepas.
“Aku buktiin lain kali kalo aku lebih jago.” Mingyu membawa Jeonghan duduk di tepi lapangan. Memberikan botol minum.
“Atur aja tanggal mainnya,” Jeonghan berucap sebelum menenggak air. Dahaga sudah terlepas, dirinya bersandar. Sengal napas masih terdengar di antara keduanya. Kaki-kaki berselonjor membentang, kalau tanah tidak selembab sekarang, Jeonghan pastikan seluruh orang berjejer rebah di pinggir lapangan. “Mau makan apa?” Tanya Mingyu sambil mengusap pelan ujung bahunya. Jeonghan masih nyaman bersandar, meski keringat Mingyu menempel langsung pada rambutnya yang juga lepek karena peluh.
“Gatau, nasi goreng?”
“Beli atau masak?”
Jeonghan mengalihkan muka menatap Mingyu yang turut mengunci pandangan. Kalau beli, hanya akan ada satu bungkus nasi goreng. Jeonghan tahu jumlah sisa uang di kantung celana Mingyu. “Kalo masak sendiri, kamu capek engga?”
“Tenang, nasi goreng doang mah sebentar.” Jeonghan tersenyum, “mi lagi aja deh,” sahutnya yang disambut dengkusan Mingyu.
“Tadi pagi udah makan mi, Sayang,” omelnya gemas.
Bukannya takut, Jeonghan terkekeh, “aku mau yang kuah-kuah.”
“Yaudah masak sayur sop aja daripada mi.”
Jeonghan merengut, mencubit main-main pinggang Mingyu yang membuat tubuh pria itu menggeliat geli. Mingyu membalas ikut mencubitnya di pipi, Jeonghan mengaduh berlebihan. Teman-temannya menuduh Mingyu melakukan kekerasan yang dibantah mati-matian, sementara pembuat kegaduhan menjulurkan lidahnya mengejek. Ujungnya, Mingyu harus rela dicubit kecil-kecil sambil membekap mulut Jeonghan yang tidak bisa diam.
Makan siang yang sengaja dilewati nyatanya cukup berdampak, Jeonghan mulai diserang kantuk saat perjalanan pulang. Langit masih terlihat mendung, jalanan masih becek sehabis hujan, motor berjalan cukup kencang hingga angin menyapu wajahnya sepoi-sepoi. Tangannya dengan erat melingkar di perut Mingyu, pipinya dengan nyaman ditumpu di bahu Mingyu meski langsung berjumpa kaus kotor yang kembali dikenakan, biar tidak masuk angin, katanya.
Jeonghan hampir terlelap, dengan lagu sembarang yang disenandungkan Mingyu, tapi motornya berhenti mendadak. Jeonghan yang tidak siap terbentur punggung, decakan kesal terdengar. “Mau ngapain?” Sungutnya. Mingyu menghentikan motornya tepat di depan warung kelontong, “katanya mau mi?” lalu turun, berjalan masuk ke dalam warung.
Jeonghan terlalu malu untuk tersenyum, meski urat-urat di pucuk pipinya ingin segera mengembang menarik simpul senyum. Alisnya masih dipertahankan mengkerut, dahi pun ditekuk, bibirnya jadi mencucut. “Uangnya cukup?” Jeonghan bertanya, Mingyu yang sudah menenteng plastik hitam mengangguk.
“Kenapa engga jadi masak sayur?” Bisiknya di antara bunyi knalpot yang menderu. Mingyu sedikit menoleh, bersiap menyebrang sebelum menjawab Jeonghan. “Aku baru inget gasnya abis tadi pagi,” katanya.
Hening, Jeonghan tidak lagi mampu mengutarakan suara. Tidak tahu juga harus menyalahkan siapa, pada gas yang tiba-tiba habis tadi pagi, atau harga sayur dan beras yang tidak bisa dibeli, atau mungkin gajinya yang belum cukup untuk satu bulan, atau uang beasiswa bulanan Mingyu yang tidak mampu menutupi biaya mereka berdua. Jeonghan menghela napasnya, kira-kira sampai kapan dia harus bertahan mengunyah mi hasil olahan penanak nasi? Sampai kapan harus memilih makan enak satu hari demi kelaparan dua puluh hari?
“Maaf ya,” lirih Mingyu begitu motornya berhenti lagi. Kali ini di teras kontrakan mereka yang sempit. Yang temboknya dicoret-coret penghuni sebelumnya, yang airnya suka mati mendadak, yang lampunya bisa padam karena tetangga mencolok mesin cuci berbarengan dengan setrika.
“Kenapa?” Jeonghan menghalau pandangan pada wajah Mingyu yang kuyu. “Cuma bisa kaya gini,” lirih prianya.
Jeonghan membuka kunci pintu, masuk ke dalam setelah meletakkan sembarang sepatu penuh tanah merah. “Kaya gini juga aku seneng, yang penting ‘kan sama kamu.” Suaranya menggema di tiap sudut tiga petak kontrakan, gelap ruang karena terang yang belum dihidupkan mendorong suasana semakin sendu. “Kamu juga masih kuliah, masih panjang perjalanan kita.”
Jeonghan bergegas menyalakan lampu satu per satu, dengan cekatan mengambil handuk di balik pintu kamar, “aku mandi duluan ya,” serunya. Tidak ada cara lain mengusir hawa kepiluan selain pergi, dalam hidup akan selalu ada sedih.
Mingyu yang ikut masuk langsung memeluknya, membenamkan diri dalam cela leher Jeonghan, menghirup aroma bercampur keringat. “Please always stay with me, I’ll do my best to make you happy.”
Jeonghan membalik badannya, tidak membiarkan pelukan Mingyu berurai, dia kalungkan tangannya, mendekatkan wajah yang berjarak sejengkal. “You always do,” Jeonghan berbisik, dan kecup diraih. Kuluman bilah bibirnya menghambat oksigen yang dihirup. Jeonghan meremas rambut Mingyu ketika lidah mereka bertemu.
“Aku sayang kamu,” Mingyu mengentikan lumatannya, mengusap pelan wajah Jeonghan yang sedikit merona. Matanya yang berair, napas yang tersengal, betapa indahnya kekasih dalam genggamannya.
Satu kecupan kembali dicuri, “aku juga,” Jeonghan menjawab cepat. Buru-buru melepaskan diri takut disesap lagi. “Aku mau mandi duluan, gerah,” protesnya ketika jemari masih tersangkut.
“Yaudah aku masak minya dulu.”
Jeonghan berlari ke bilik berpintu biru, sementara Mingyu menapaki dapur di sebelahnya. Membuka penanak nasi yang sudah gambarnya sudah pudar. Mingyu sadar hidupnya nelangsa, tapi apa mau dikata? Kemewahan kadang tidak lahir bersama cinta yang mumpuni.
Malam ini, mereka akan makan mi kari lagi, mungkin besok juga, atau lusa, atau hingga triwulan kedua. Mingyu tidak masalah asal ada Jeonghan.
Mungkin gas mereka belum bisa diisi besok, mungkin masih menunggu upah Jeonghan turun di akhir bulan, atau harus kasbon dulu ke warung depan, tapi Mingyu tidak masalah asal ada Jeonghan.
Dan Mungkin kantuk mereka masih akan diganggu denyut token listrik yang meraung, atau dahaga yang tidak bisa segera ditumpas karena galon yang habis akan mereka rasakan lagi, tapi Mingyu tidak masalah asal ada Jeonghan.
Bulan depan, masa magangnya akan tiba. Seokmin bilang akan ada upah bulanan. Mingyu berharap upahnya bisa cukup untuk mereka, agar Jeonghan tidak lagi makan mi kari yang dimasak dalam penanak nasi.
