Chapter Text
"Jika panah Cupid ada di bawah kendaliku, aku akan menembakannya lurus ke jantungmu."
Hazalzath kepada Saturna
HeeHoon
Phase 1
Hazalzath—dewa magang yang tampan tapi sering bermalas-malasan itu—tengah mengamati kunang-kunang di taman surga saat seseorang meneriakinya, "Hazalzath! Kau diminta turun ke bumi untuk menggantikan Cupid!"
Sialan.
Pasti ada dewa yang kepergok korupsi lagi.
Hazalzath terpaksa berdiri, menepuk ujung jubah putih keemasannya yang tersapu tanah, mendekat dengan wajah ogah-ogahan.
"Kali ini dewa mana lagi yang korup sampai si Cupid mogok kerja?" tanyanya kesal.
Dewa magang super birokratis bertampang manis itu bernama Salvalen.
Dia selalu jengkel setengah mati pada Hazalzath, karena menurutnya, kakak kelasnya itu cuma bisa rebahan dan main kunang-kunang.
"Dewa Hujan ketahuan bikin kesepakatan ilegal dengan manusia," ujar Salvalen judes. "Gerimis ditunda tujuh hari tujuh malam karena ada manusia kaya raya yang membuat pesta. Akhirnya, terjadi kebakaran hutan yang merambat ke mana-mana. Cupid sangat marah karena KKN di langit sudah kepalang parah."
"Ck. Sampah... sampah."
Hazalzath menghina seenaknya.
"Lagian bisa-bisanya para dewa berani jualan janji pada manusia. Mau minta ganti jodohlah! Perpanjang umurlah! Lama-lama, kalau Tuhan murka, seantero langit bakal dibubarin semua!"
"Yaaa... itu bukan urusanmu, sih. Lakukan saja tugasmu kalau kau memang paham soal integritas! Nih!"
Di dada bidang Hazalzath, Salvalen menepukkan perkamen berisi nama manusia yang jantungnya harus ditembak dengan panah cinta milik Cupid.
"Ingat, jangan sampai salah sasaran. Dahulukan yang paling atas," Salvalen meniup poni hitamnya yang sudah terlalu panjang.
"Nama pertama yang jantungnya harus kau panah di situ sangat penting. Kalau dia tidak jadi menikah dengan Raja Jeremiah III, akan terjadi perang besar yang tak bisa dikendalikan. Jadi, pastikan panahmu nembus ya, Hazalzath. Bukan nyenggol doang!"
Dewa tampan itu bersungut-sungut.
"Sialan! Yang korupsi siapa, yang susah siapa." Hazalzath menggaruk kepala, "Ya sudah, aku pergi sekarang. Bilang pada Raja Khayangan, daripada keluarin gaji buat dewa korupsi, mending pikirkan kesejahteraan anak magang!"
"Bacot," Salvalen mendorong Hazalzath agar segera menyingkir dari pandangan. "Sana lakukan tugasmu! Awas kalau gagal!"
"Saturna akan jatuh cinta pada Raja Jeremiah III, kemudian akan mengandung anaknya dan ditinggal mati suaminya saat usia kehamilannya sembilan bulan... AH, SIALAN! DASAR SALVALEN BEDEBAH KHAYANGAN! APA KERJAANNYA SETIAP HARI MEMANG CUMA MENULIS TAKDIR CINTA TRAGIS PENUH PENDERITAAN SEPERTI INI!!?"
Dari tengah hiruk pikuk pasar, Hazalzath memandang targetnya yang sedang termenung di ambang jendela menara—seorang manusia yang kecantikannya sangat membutakan mata, tapi tidak sampai membuatnya buta huruf karena Hazalzath masih bisa membaca tulisan selanjutnya:
"Saturna akan patah hati hingga sakit-sakitan, sementara bayi yang baru ia lahirkan akan diasuh oleh orang lain karena ratu mereka dianggap gila setelah kematian sang raja..."
Hazalzath membuang gulungan kertas terkutuk itu dan menggerusnya dengan sepatu.
"Tega sekali, masa secantik itu jadi janda!?"
Ia mendumal.
Dengan wujudnya yang masih tak terlihat oleh manusia, Hazalzath naik ke salah satu meja penjual cat kuku; membuat aura rezeki tertutupi sampai penjualnya bingung sendiri.
"Lho, kok pembeliku kabur semua, ya?"
"Dasar serakah, harta dunia itu bukan segalanya!" omel Hazalzath sambil sibuk memilah-milah panah yang akan ia gunakan untuk membidik jantung Saturna.
"Manusia dan dewa sama saja... uang terus yang dipikirkan. Makanya korupsi di mana-mana."
Dan ia baru berhenti mengoceh saat anak panah itu sudah ia temukan.
Ada gantungan gelang yang membelit di ujung atasnya, dengan butir-butir mutiara putih bertuliskan satu nama: S-A-T-U-R-N-A.
Di badan anak panah, terukir nama Jeremiah III dengan tinta darah.
Hazalzath iseng menggosok nama itu dengan kukunya, ingin tahu bisa hilang atau tidak.
"Saturna tidak pantas punya suami lemah dan gampang mati... Ganti jodoh bisa tidak, ya?"
Mata lebar Hazalzath naik lagi ke menara.
Saat ini, si cantik Saturna yang keindahan wajahnya nyaris seperti bukan manusia, sedang berbicara dengan burung kecil yang datang ke jendelanya.
Hazalzath menggeleng-geleng karena iba.
"Kasihan... pasti dia kesepian sampai iseng main burung."
Berjongkok di atas meja jualan, tangannya yang nakal mengambil salah satu botol dagangan bertuliskan 'Cairan Pembersih Cat Kuku'.
Hazalzath menuangnya begitu saja di atas nama Jeremiah III yang tergores di badan anak panah.
Dewa magang itu menggosok-gosoknya dengan ujung jubah, terkekeh kesenangan saat nama itu memudar perlahan-lahan.
Ternyata tinta dewa murahan, diberi penghapus cat kuku saja langsung luntur... Pasti bujet beli tintanya dikorupsi.
Keisengannya belum berhenti.
Hazalzath mengambil cat kuku berwarna merah dan menggoreskan namanya sendiri di atas anak panah untuk membidik Saturna.
"Ya mana mungkin manjur, sih... Kan ini cuma lucu-lucuan."
Ia melompat ke tengah pasar, mengangkat busur dan anak panahnya lurus ke menara tempat Saturna masih tak sadar dirinya ditarget.
Panah cinta Cupid yang dimanipulasi Hazalzath, meluncur persis di jantung Saturna, membuatnya tersentak karena tiba-tiba teringat pada seseorang yang sama sekali belum pernah ia temui.
"Astaga, kenapa jantungku berdegup sangat kencang?"
Saturna memegang dada, matanya beredar ke segala penjuru, termasuk ke arah pasar tempat Hazalzath masih tak berkedip memandangnya.
Cantik sekali. Pasti dia tidak bisa melihatku...
Namun, bukan hanya Saturna, Hazalzath pun terkejut saat mereka tiba-tiba berkontak mata.
"Seorang ksatria pengembara?"
Saturna berbisik dan terpana.
"Tampannya. Dia... siapa?"
NO SWORD DEADLIER THAN ROSE
"Makan malas. Nuang air tumpah. Alat pintal cuma diputar tapi tidak dipasangi benang... Kau ini hamil ya, Saturna?"
Raja Jupiter I adalah kakak, sekaligus orang tua Saturna, sejak ayah dan ibu mereka meninggal karena wabah penyakit.
"Kakak," Saturna memandang kakaknya, "Ada seorang pengembara datang ke pasar pagi tadi. Bolehkah Kakak buat sayembara untuk menemukannya?"
Sebentar.
Jupiter menarik kursi, duduk di depan adiknya, meremas pundaknya.
"Pria mana yang berani menghamilimu, Saturna? Bilang pada Kakak, biar Kakak cari berandal kurang ajar yang berani menyentuh calon ratu Jeremiah III."
Saturna menggoyangkan pundaknya pelan, selalu risih saat kakaknya posesif.
"Kak, aku tidak tahu dia siapa. Tapi aku ingin Kakak menemukannya untukku. Ya?"
"Ya?" Jupiter mengulangi, lalu terdiam. Dan berkata lagi, "TIDAK—HAH?! Jangan sembarangan kau, Saturna! Tidak mungkin Kakak mencarikan orang lain untukmu! Kau ini tunangan Jeremiah III!"
Saturna menghela napas.
Memutar lagi alat pintalnya hingga benda tanpa mesin itu bersuara keras tanpa ada guna.
Memang susah bicara pada kakaknya.
Setiap detik isi omongannya hanya "Jeremiah III", "Jeremiah III"...
Tidakkah kakaknya lebih baik menikah saja dengan Jeremiah kalau memang sudah sebegitu cintanya?
"Tidurlah, Saturna. Besok kita harus pergi ke negeri tetangga untuk membahas tentang pertunangan kalian..."
"Kak," Saturna memutar badan, memandang kakaknya, ingin minta belas kasihan. "Bisakah kita batalkan perjalanan besok? Aku sedang tidak enak badan."
"Jangan bohong," sang kakak mencolek dagunya. "Tidurlah. Kau tahu Kakak tidak suka kalau kau bangun terlambat."
Saturna diam, pura-pura tidak membangkang.
Baru setelah kakaknya menutup pintu kamar, ia melesat ke perpustakaan yang menyambung langsung dengan kamar tidurnya, mencari buku keramat yang seumur hidup belum pernah dipegangnya.
"Ini dia!" Saturna mengepalkan tangan saking senangnya. "Buku 'Ciri-ciri dan Panduan Kehamilan'."
Sepanjang malam, ia membaca buku itu di atas ranjang, mengingat semua hal yang tertulis di sana seolah akan maju ujian kelulusan esok pagi.
Saturna bukan seseorang yang mudah menyerah.
Ia pasti bisa meyakinkan kakaknya, sekaligus mendapatkan jalan keluar untuk lolos dari pertunangan dengan Jeremiah III.
Pagi itu, Saturna berjalan dengan sedikit terseret.
Wajahnya kusut dan lelah.
Bukan karena betulan lelah, tapi karena semalam ia sengaja begadang lantaran ingin menerapkan ilmu yang ia baca dari buku.
Yang membuatnya sedikit kesal, meski judulnya 'Ciri-Ciri dan Panduan Kehamilan', lebih dari tiga perempat isi buku itu malah membahas tentang cara membuat keturunan—tidak.
Saturna benar-benar ingin berteriak karena pustakawan di istananya menyembunyikan buku porno seperti itu.
Seharusnya dia baca sejak dulu!
"Saturna."
"Kakak?!" jantungnya hampir melompat dari dada. "Kenapa tidak menunggu di depan, Kak? Apa kita tidak jadi berangkat ke negeri tetangga"—kalau tidak, baguslah—"Apa kita tidak jadi bertemu dengan Jeremiah?"
"Jeremiah akan tiba sebentar lagi. Bersiap-siaplah untuk bertemu dengan calon suamimu."
Saturna ingin mati saja rasanya.
"Aaah... ternyata dia datang"—semoga dia tidak pernah sampai. Semoga dia disasarkan oleh setan keder yang membuatnya harus berputar-putar kebingungan dan kembali lagi ke kerajaannya dalam keadaan linglung—"Aku senang karena Jeremiah datang. Dia orang baik."
"Kakak tahu, Saturna. Kakak tahu, hahaha," Jupiter memiliki suara tawa yang menyenangkan. Di mata adiknya, sang kakak seperti bapak-bapak duda yang tidak punya hiburan selain menjodohkan anak perawan. "Kau dan Jeremiah akan menjadi keluarga bahagia."
Saturna tersenyum manipulatif.
Mungkin, ini saatnya ia harus mempraktekkan apa yang dibacanya semalam!
"Hoek!"
"Eh, kenapa!?"
"Kak... aduh, sebentar ya. Sepertinya aku harus... hoek!"
"Saturna!"
Adiknya berlari. Sangat kencang sampai beberapa pelayan yang membawa nampan berputar-putar sampai roti dan buah di atasnya berterbangan.
Saturna kabur sangat jauh, berniat kabur ke hutan untuk mencari kayu atau main dengan serigala yang sepertinya lebih manis dari Jeremiah, tapi langkah kakinya terhenti saat sepasang tangan menahannya lembut.
"Saturna, kau mau ke mana?"
"Siapkan laporan! Pengecekan kinerja akan dimulai dalam 1 detik lagi!"
Seorang dewa botak berteriak di depan para dewa senior dan anak magang, termasuk Hazalzath yang sedang murung karena satu kunang-kunangnya mati nabrak tiang.
"Salvalen, kau duluan!"
"Baik, DPL!"
"APA ITU DPL!?"
"Dewa Pembimbing Lapangan!"
"Baik, lanjutkan!"
"Siap," Salvalen maju.
Sengaja menubruk pundak Hazalzath supaya tidak mengantuk (padahal dia sedang meratapi kunang-kunang).
"Berikut daftar pekerjaan saya seminggu ini," Salvalen membacakan seluruh skenario takdir manusia yang ia tulis seperti seorang author spesialis drama-tragedi.
"Terakhir, saya ingin membacakan takdir manusia bernama Saturna yang akan hamil dan ditinggal mati suaminya saat usia kandungan sembilan bulan—"
"Interupsi, DPL! Laporannya tidak sinkron!"
Seorang anak magang bernama Nikolai yang berkacamata tebal dan kesayangan guru di akademi para dewa, mengangkat tangan.
Salvalen yakin anak muda ini cuma cari muka.
"Maaf, DPL, tapi di buku nasib saya yang sudah import range otomatis melalui spreadsheet malaikat peniup roh, manusia yang bernama Saturna tidak seharusnya mengandung saat suaminya mati. Suaminya tidak mati, DPL. Aku bisa jamin karena suaminya nanti dipastikan bukan berasal dari kalangan manusia."
"Oh, jadi dia menikahi iblis?"
"Bukan iblis," Nikolai menggeleng. "Suaminya akan datang dari kalangan dewa, tapi bukan dewa tingkat tinggi."
"Kenapa bukan?" Salvalen menoleh heran. "Kenapa harus dewa ecek-ecek?"
"Karena dewa yang berkuasa suka korupsi—ADUH! SAKIT!"
"Diam makanya, Hazalzath!"
Hazalzath mengunci mulut karena Salvalen menginjak kakinya.
Mereka kembali mendengarkan laporan Nikolai yang dibacakan dengan penuh percaya diri. "Di laporan saya, Saturna tidak akan menikah dengan Jeremiah. Dia sudah jatuh cinta dengan orang lain..."
"Hazalzath," Salvalen langsung curiga. "Bukankah kau yang seharusnya membuat Saturna jatuh cinta pada Jeremiah? Kenapa bisa salah sasaran?"
Hazalzath langsung terkesiap.
Mendadak ingat dengan anak panah bergores cat kuku yang ia coret-coret dengan namanya sendiri.
"Iya memang," tenggorokannya serasa tercekik. "Tapi kan... ITU CUMA LUCU-LUCUAN!?"
Bersambung
