Work Text:
Malam mulai turun perlahan, menggantikan sisa cahaya jingga di langit kota. Lampu-lampu jalan telah menyala, memantulkan warna kekuningan di sepanjang trotoar yang mulai sepi. Hanya ada beberapa mobil yang melintas, dan suara langkah kaki mereka menjadi satu-satunya ritme yang terdengar di antara hembusan angin malam.
Dua pria berjalan berdampingan di sisi trotoar. Ratio, dengan langkah teratur, berjalan di sisi dalam, sementara Aventurine mengambil sisi luar, tampak lebih santai. Jemari tangan kanannya memainkan sebuah koin gelap berpolakan emas di udara, melempar dan menangkapnya berulang kali dengan kelincahan yang sudah menjadi kebiasaan lama. Cahaya lampu jalan memantul di permukaan koin itu setiap kali berputar, menciptakan kilau kecil di antara gerakan tangannya.
Mereka terus berjalan beberapa meter sebelum berbelok ke sebuah gang kecil yang agak tersembunyi dari jalan utama. Lampunya lebih redup, tapi suasananya tenang dan bersih. Dari ujung gang itu, terbentang jalan setapak yang cukup lebar dengan bangunan-bangunan bergaya klasik di sisi kiri dan kanan. Tempat itu terasa seperti dunia kecil yang terpisah dari keramaian luar. Tenang, mahal, dan tampak terjaga.
Ketika mereka keluar dari gang dan masuk ke jalan setapak, aroma samar rempah dan anggur melayang di udara, menandai bahwa mereka sudah dekat dengan tujuan. Di ujung jalan, berdiri sebuah restoran dengan dinding kaca besar dan cahaya hangat yang memancar lembut dari dalam. Nama tempatnya terukir elegan di papan logam di atas pintu, memantulkan cahaya redup lampu di sekitarnya. Dari luar saja, sudah terlihat jelas: ini bukan restoran biasa.
Aventurine bermain dengan koinnya di sela-sela jarinya dan melempar koinnya sekali lagi ke udara sebelum menangkapnya dengan tepat, bibirnya melengkung kecil. "Akhirnya sampai juga," katanya ringan, Ratio mengangguk tipis.
Ketika restoran telah ada di depan mata, Ratio yang semula berjalan bersama Aventurine melangkah lebih lebar, membuat Aventurine sendiri bingung saat pria itu mendahuluinya. Dan si pirang langsung menghela napas geli yang hampir terkekeh ketika Ratio mendorong pintu masuk kaca restoran.
"Ah, Ratio, aku bukanlah seorang wanita yang harus kau bukakan pintu seperti itu."
Kening Ratio mengerut halus mendengar suara Aventurine yang beberapa oktaf terdengar menggoda. "Cepat, atau kau mau kugendong ke dalam dan membiarkan orang-orang melihat salah satu petinggi IPC digendong oleh seorang jenius dari—"
Kata-kata Ratio harus berhenti di ujung lidahnya ketika Aventurine mendaratkan ciuman ringan di bibirnya.
"Oke oke, Jeniusku sayang, aku sangat tersanjung." Dan dengan santai memasuki restoran melalui pintu yang dibukakan oleh Ratio.
Ratio yang masih terkejut dengan serangan kecil itu langsung menemukan dirinya kembali, menyusul masuk ke restoran setelah menutup pintu dan mengejar Aventurine dengan langkahnya yang lebar.
Dan di meja di sudut ruangan yang besar, sudah ada Topaz bersama Numby, mereka terlihat bercakap-cakap (secara harfiah, hanya Topaz yang bicara), sebelum mereka mengalihkan perhatian mereka ke arah 2 orang pria yang mendekati meja.
"Hah! Aku mengira-ngira kenapa dua orang ini terlambat?" Topaz langsung menyembur mereka.
Aventurine terkekeh pelan, "Ah, maafkan kami, Topaz sayang, ada sedikit masalah saat kami dalam perjalanan ke sini."
Topaz menyipit tak yakin.
Ratio melangkah maju, dia mengambil bantal yang ada di kursi di seberang Topaz, dan menyandarkannya di tempat kosong di sebelah wanita itu.
Topaz mengangkat kedua alisnya.
Setelah puas dengan posisi bantal itu, Ratio mengulurkan tangannya pada Aventurine, yang masih berdiri sambil memandang semua pergerakan Ratio. Dia menatap telapak tangan yang terulur sopan padanya, lalu ke sepasang mata yang selalu mengingatkannya pada matahari terbit itu.
Mulutnya hendak terbuka untuk melontarkan kalimat penolakan, sebagai bentuk bahwa sikap Ratio sedikit berlebihan, namun urung ketika mata pria itu menajam dengan alisnya menukik memperingati, membuat Aventurine meringis tanpa suara dan menerima uluran tangan pria itu.
Topaz hanya menganga melihat pemandangan di depannya. Ratio mendudukkan Aventurine dengan hati-hati, Aventurine sendiri hanya mengikuti kemauan Ratio meskipun semburat merah tipis menghiasi wajahnya. Ratio duduk di bangkunya hanya ketika dia telah memastikan posisi bantal pas di punggung bawah Aventurine, dan Topaz memeluk Numby sambil tetap menganga.
Aventurine menghela napas pendek dengan senyum kecil, lalu dia terkekeh sambil menoleh pada Topaz. "Oke, kita mulai dari mana?"
Topaz berkedip, dan mengernyit. Dia meraih minumannya di atas meja, "Mungkin kita bisa memulai dari tingkah aneh Dr. Ratio. Ya?"
Aventurine terlihat enggan, namun sebelum dia bisa membuka mulutnya, suara berat dari Ratio mendahuluinya.
"Dia terjatuh di toilet."
Topaz tersedak, dia terbatuk-batuk dan dengan susah payah menelan jus yang baru saja disesapnya. "Sialan, Aventurine??"
"I-itu tidak sengaja, sungguh! Lagipula, Dokter, aku hanya terpeleset, oke?? Tidak perlu dibesar-besarkan," Aventurine merengut menatap Ratio.
Ratio menghela napas. "Kau tidak hanya terpeleset, jantungku hampir berhenti ketika seseorang dengan sengaja menabrakmu hingga terjatuh dan berlari pergi."
Topaz menarik napas tajam mendengar itu dan dengan cepat menoleh pada pria di sebelahnya. "Aventurine!"
"Ack! Iya, iya, itu benar! Tapi aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir! Ada seorang dokter yang selalu siap siaga di sampingku."
"Aku bukan doktermu."
Aventurine mendengus geli, "Baiklah baik, suami~"
Aventurine melambai pada salah satu pelayan restoran, melewatkan bagaimana wajah Ratio memerah padam mendengar panggilan itu untuknya, sementara Topaz terkekeh.
Setelah pelayan restoran pergi untuk mengambil pesanan mereka, Topaz kembali buka suara. "Tapi sebaiknya kau harus lebih berhati-hati, Aventurine, kau tidak tahu ada di mana orang-orang yang ingin mencelakaimu. Dan aku seorang Beta, ingat? Aku tidak bisa mencium bau emosimu, jadi aku tidak akan tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu."
Aventurine mengangguk pelan, "Baik, baik, aku mengerti. Bagaimana kalau kita membahas apa yang kau ingin katakan padaku?"
Malam berlalu begitu saja, sudah terhitung 3 jam sistem dan ketiga orang ini masih ada di meja mereka. Restoran tempat mereka menghabiskan waktu ini terbilang bebas, luasnya restoran membuat para pengunjung bebas untuk tinggal berapa lama pun yang mereka mau. Asal tidak terlalu lama sebab tidak diperkenankan menginap di sana.
Sekarang, setelah membicarakan hal-hal mengenai pekerjaan bersama Topaz, Aventurine terlibat permainan catur bersama Ratio. Aventurine bukanlah penggemar catur, namun bukan berarti dia tidak bisa bermain. Ada saat di mana dia dan Ratio akan memainkan permainan rumit itu di waktu senggang mereka berdua, dan belakangan ini, Aventurine sedang suka pada permainan itu, jadi Ratio memilih untuk membawa papan catur di dalam tasnya kemana pun.
"Hei, Ratio, kenapa kau menjadi begitu baik di permainan ini? Kau unggul sangat jauh!"
Ratio hanya menggeleng pelan sambil menghela napas lembut mendengar protesan orang di seberangnya, dia menggerakkan budak caturnya sebelum menjawab dengan tenang seperti biasa. "Poin menangmu adalah karena aku mengalah."
"Hah? Hei!"
Dan, skak! Ratio kembali mengambil poin kemenangan, dan Aventurine bersandar di kursinya sambil menatap Ratio jengkel. Namun tak bertahan lama, Aventurine kembali menyeringai dan mengangkat kedua alisnya, "Yah, tidak ada yang bisa menyaingi Anda, Dokter Ratio Veritas~ Aku merasa terhormat bisa bermain bersamamu."
Alis kiri Ratio naik mendengar nada ambigu itu, dan intuisinya benar karena merasakan sesuatu di depan selangkangannya.
Kaki Aventurine.
Aventurine terkekeh melihat perubahan yang samar di ekspresi wajah Ratio, dia menata ulang posisi bidak-bidak catur mereka dan kembali bersandar dengan nyaman. "Mari kita mulai lagi? Kali ini, aku tidak akan kalah lagi."
Ratio kembali ke ekspresi tenangnya, tangan kanannya tetap di atas meja, sementara tangan kirinya ada di bawah meja. Topaz sendiri hanya diam sambil menikmati jusnya, menjadi juri sekaligus saksi permainan kedua pria di depannya.
Awalnya tak menaruh curiga, dagu Topaz bertumpu di kepalan tangan kirinya dan tangan kanannya memegang gelasnya, sambil menatap bergantian ekspresi Ratio dan Aventurine.
Aventurine, seperti biasa, selalu dengan ekspresi percaya dirinya, tangannya dengan lihai mengangkat budak caturnya dan menggerakkannya di atas papan catur. Sementara Ratio sendiri dengan wajah tenangnya meladeni permainan Aventurine.
Mata Topaz menyipit, ketika dia melihat tingkah aneh keduanya. Itu samar, namun mustahil untuk disadari.
Dan yang benar saja, ketika dia melihat Numby melayang di belakang Ratio sambil memekik-mekik girang, serta kaki kanan Aventurine (yang baru dia sadari) terangkat ke depan, dan tangan kiri Ratio yang ada di bawah meja, membuat Topaz meletakkan gelasnya sambil menghela napas lelah.
Ratio menyeringai samar, dia menggerakkan pionnya dan membiarkan Aventurine menikmati permainannya sendiri. Dengan lembut Ratio memastikan celana Aventurine tergulung hingga lututnya setelah melepas sepatu pria itu dan meletakkannya di bawah meja, dan Ratio memijat kaki jenjang itu perlahan. Sementara Aventurine tampak puas dan bersenandung gembira di tengah-tengah permainan catur mereka.
Topaz memutar mata malas, ingin marah tapi dia sudah terlampau biasa dengan sikap keduanya.
