Actions

Work Header

I See You

Summary:

Di tengah hidup Jack Doohan yang selalu penuh keraguan dan ekspetasi, nama Liam Lawson masuk dalam radarnya. Liam Lawson dengan mata hijau kecoklatannya yang selalu penuh arogansi dan bibir yang semerah kaleng Cola. Tanpa sadar mulai menumbuhkan sesuatu yang baru di dada Jack Doohan.

Tapi semua beban dan kegagalan, membuat Jack ragu tidak hanya pada dirinya sendiri, tapi juga pada perasaannya untuk Liam.

.

THE STORY IS NOT MINE.
Cerita ini adalah tulisan ulang versi NikaPero dari cerita asli milik @TalesbyKristine.
Semua kredit kreativitas adalah milik @TalesbyKristine.

Notes:

Cerita ini adalah tulisan ulang versi ku, dari fanfic LawHan milik @TalesbyKristine di Twitter.
Semua Kredit kreativitas adalah milik Kristine. Please also read the original story here ; https://medium.com/@talesbykristine/as-you-see-me-5406fb51e17d

Thank you so much Kristine karena sudah mengizinkan ceritanya aku plagiat untuk latihan ku menulis <3

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Ragu.

 

Satu kata yang selalu Jack Doohan gunakan untuk mendeskripsikan dirinya sendiri. Satu kata sejuta makna, yang sialnya, selalu ada konotasi negatif di dalamnya. Ragu-ragu dalam melangkah. Ragu-ragu dalam memilih. Ragu. Jack ragu dengan dirinya sendiri.

 

Ekspetasi.

 

Satu kata yang selalu Jack Doohan gunakan untuk mendeskripsikan kehidupannya sendiri. Satu kata yang penuh makna, jadi terasa semakin berat ketika Jack mengingat siapa ayahnya. Sang pria legendaris dengan lima gelar 500cc World Championship berturut-turut. Sang pahlawan bangsa yang namanya dielu-elukan satu negara pada masanya. Ekspetasi tumbuh bersama Jack Doohan. Seperti saudara kembar yang memakannya dari dalam. Beban.

 

Kart pertama yang Jack terima ketika dia berusia empat, presents from the lagend himself—Michael Schumacher, adalah kendaraan pertamanya yang beroda empat. Dan dari detik pertama kaki kecilnya menekan pedal gas, Jack kecil tahu kalau dia menginginkan jalan yang berbeda dari ayahnya. Sebuah opsi yang mungkin bisa membawanya lari dari ekspetasi. Lepas dari bayang-bayang besar lagecy. Perlahan tapi pasti, dengan ragu-ragu Jack mengambil langkahnya sendiri.

 

Keragu-raguannya perlahan menghilang ketika namanya mulai muncul di jajaran atas papan hasil. Kemenangan pertama yang terasa sangat membanggakan lama-kelamaan kehilangan kesan setelah kemenangan-kemenangan berikutnya. Dan kekalahan-kekalahan yang harusnya normal, semakin lama jadi terasa terlalu menyakitkan. Ambisi tumbuh bersama Jack Doohan dan ekspetasinya untuk diri sendiri. Perlahan mendorong ragu keluar dari tempatnya. Hampir terlupakan.

 

Kemenangan beruntun di Australian Kart Championship tidak lagi membuat Jack puas. Dan posisi tiga di CIK-FIA European Championship tidak lagi terasa cukup untuk dibanggakan. Jack Doohan muda mulai menyadari bahwa jalannya menuju mimpi bukan hanya tentang ekspetasi dan dirinya sendiri. Tapi juga tentang dunia yang ternyata lebih luas dari yang dia sadari. Semakin banyak teman dan rival yang Jack temui, semakin banyak bakat dan talenta yang baru dia ketahui. Semakin Jack merasakan betapa terjal dan menanjaknya jalan yang dia pilih. Ragu-ragu kembali datang seakan teman lama yang rindu pulang.

 

Di tengah pergulatan Jack dengan mimpi dan ekspetasi, satu nama masuk dalam radarnya. The rising star, Liam Lawson. Liam Lawson yang konon katanya, emosinya naik secepat catatan waktunya—Pretty fast. Liam Lawson yang katanya, arogansinya bertahan on and off track. Liam Lawson yang katanya, memiliki jumlah teman dan musuh yang sama banyaknya di semua kompetisi dirinya berada. Jack mencoba untuk menjaga impresinya tetap netral di tengah semua gosip yang beredar. The truth must lie somewhere in between. Dan selama jalan mereka belum bersinggungan, Jack masih memiliki waktu untuk menimbang gosip dan kebenaran.

 

Tak butuh waktu lama untuk nama Liam Lawson terlupakan dari otak Jack Doohan. Lepas dari radar. Tenggelam dalam rutinitasnya mengejar kecepatan. Tergantikan dengan nama-nama lain yang harus dia kalahkan. Terkubur di balik jajaran balapan-balapan penuh pembuktian. Sampai suatu hari nama Liam Lawson kembali terdengar.

 

Pertarungan Liam Lawson dan Yuki Tsunoda di Circuit de Spa-Francorchamps adalah kabar panas yang dibicarakan semua orang. Perebutan the holy seat Formula One. Langkah terakhir seorang driver sebelum menginjak mimpi, dijadikan ajang bunuh-membunuh on track khas Red Bull. Dan Jack ada di sana. Menonton semua ke-chaos-an balapan dari bangku penonton entah sebagai rival atau fans.

 

Jantung Jack ikut berdegup kencang ketika Liam Lawson mengambil P1 dari awal balapan. Adrenalin ikut mengalir dalam darahnya ketika melihat bagaimana Yuki Tsunoda mencoba untuk melawan di semua tikungan. Jack dalam hatinya, tidak ingin mendukung siapa-siapa. Liam Lawson dan Yuki Tsunoda adalah nama yang sama-sama harus dia kalahkan jika ingin bersinar. Tapi ketika dua roda mobil yang berbeda saling mengunci di tikungan Les Combes pada lap ke tiga, jantung Jack rasanya berhenti di rongga dada.

 

Mobil Liam Lawson dan Yuki Tsunoda berputar bersama keluar lintasan dan baru berhenti ketika keduanya menabrak barrier. DNF. Sebuah anticlimactic ending untuk balapan yang digadang-gadang adalah penentuan. Jack tanpa tahu kenapa, bisa merasakan beratnya kekecewaan juga terasa dalam dirinya.

 

Melihat Liam Lawson secara langsung mengakui kesalahannya di depan media adalah sebuah ketidaksengajaan. Jack berdiri di sudut ruangan di belakang semua kamera dan wartawan, tapi jarak tidak bisa menghilangkan kekecewaan di wajah Liam Lawson. Jack tahu rasanya membuat kesalahan dan gagal. Jack juga tahu seberapa beratnya ekspetasi dan mimpi. Dan mungkin itulah yang membuatnya tanpa sadar mengikuti langkah Liam Lawson meninggalkan area media. Dengan menjaga jarak Jack melangkah diam-diam di belakang Liam Lawson. Empati membuat Jack tidak menyadari tingkah lakunya yang lebih mirip seorang stalker.

 

Langkah Liam Lawson berhenti di sebuah sudut yang sepi. Di belakang garasi yang jauh dari mata dan lensa kamera, Liam Lawson terduduk kalah sendirian di atas tanah. Dan Jack mengerti. Mengerti semua kekecewaan yang Liam Lawson tidak ungkapkan dengan kata-kata.

 

Jack meninggalkan Liam Lawson sendirian hanya untuk mengambil dua kaleng Cola dingin dari vending mechine. Dan ketika Jack melihat Liam Lawson masih ada di tempatnya duduk ketika dia kembali, semua tidakan impulsifnya berakhir. Rasa sungkan dan malu mulai datang. Jack berdiri di kejauhan lagi-lagi penuh dengan keraguan. Ragu apakah tindakannya benar atau lancang. Ragu apakah Liam Lawson sekarang butuh seorang teman.

 

Tapi seperti sebuah kebiasaan, kakinya tetap melangkah maju walau ragu. Perlahan mendekat dan tanpa suara duduk di sebelah Liam Lawson yang masih menundukkan kepala. Ada jarak setengah meter di antara mereka. Jarak kosong yang Jack isi dengan meletakan sebuah kaleng Cola dingin di atas tanah kering.

 

“Drink?” Tawar Jack dengan ragu.

 

Liam Lawson tidak terlihat kaget dengan kehadirannya yang tiba-tiba. Sang pemuda blonde hanya perlahan mengangkat kepalanya dan menatap kaleng Cola di sebelahnya. Seemed unimpressed. Jack Doohan mulai memaki dirinya sendiri dalam hati.

 

Shit! Stupid stupid me!!

 

Tatapan Liam Lawson berpindah dari kaleng Cola ke wajah setengah panik Jack. Iris mata dengan warna yang menurut Jack ambigu menatapnya dengan tajam. Jack harusnya terbiasa dengan tekanan, tapi mata Liam Lawson yang memandanginya penuh intimidasi cukup untuk membuatnya panik sendiri.

 

“I—I’m so sorry, mate. I’m not trying to be creepy or anything. I mean, I know it probably looks weird—like, a stranger randomly offering you a drink—and you don’t even know me at all, but, uhh… I’m Jack—”

 

Sebuah dengusan kecil memotong racauan Jack. “I know you.” Kata Liam Lawson singkat. Mata yang barusan berkelit dingin seketika melembut. Hangat. Friendly. Senyum tipis terbit di wajah putih berpipi merah.

 

Jack Doohan merasa paniknya naik ke level dua. Level satunya adalah racauan. Dan level duanya adalah terdiam. “Huh?..”

 

Liam Lawson chuckled. Mendengus sekali lagi sebelum tangannya meraih kaleng Cola di tengah mereka. “I know you. Doohan right? I heard a lot about you. Pretty good for newcomer.”

 

Jack yang masih di tengah-tengah paniknya level dua, hanya bisa memandangi Liam Lawson dengan mulut yang sedikit terbuka tapi tanpa suara.

 

“They said you’re shy and quiet.” Lanjut Liam Lawson sambil membuka kaleng Colanya. Melirik sedikit ke arah Jack dari balik poni blonde panjang yang jatuh di depan matanya. “But I guess you’re not that shy and quiet.” Cengiran meledek muncul di bibir merah sebelum tertutup dengan kaleng Cola yang sama merahnya. “Thanks for the drink. You’re not trying to butter me up so you can get a word in with Helmut, are you?”

 

Rasa panik Jack kembali ke level satu. Dengan panik menggelengkan kepalanya dan kembali meracau, “I’m not! If I ever get his support, it’ll be on my own merit. I just wanna—uh… wanna…”

 

Wanna cheer you up.

 

“Wanna help?” Liam Lawson melanjutkan kalimatnya.

 

Yeah, that’s works too.

 

“Yeah… I just… Wanna help.” Suara Jack melemah di ujung kalimatnya.

 

Liam Lawson chuckled again. “Well.. Thank you again for the drink Zack.” Liam Lawson kembali meminum Cola di tangannya.

 

“Eh?”

 

Alis Liam Lawson terangkat. “What?”

 

“It’s Jack actually. Not Zack.” Jack membuang mukanya dari Liam Lawson. Mengalihkan pandangannya pada kaleng Colanya sendiri yang masih tersegel rapi di tangannya.

 

“Damn! My bad.” Suara tawa ringan terdengar di kuping Jack. Liam Lawson bangun dari duduknya dan berhenti di depan Jack yang masih duduk.

 

Bayang-bayang Liam Lawson jatuh ke atas badannya. Jack ragu apakah dirinya harus ikut bangun dan menatap lagi si mata berwarna ambigu, atau tetap duduk dan menatap sepasang sepatu putih yang terlihat baru.

 

Keragu-raguannya hilang ketika sebuah uluran tangan jatuh di tepat di depan mukanya. Jack mengangkat kepalanya. Liam Lawson menatapnya dengan mata yang bersinar lebut sambil tersenyum. Jack menyambut uluran tangan Liam Lawson entah kenapa tanpa ragu. Ikut bangun dari duduknya.

 

Pegangan tangan mereka terlepas ketika Jack sudah berdiri dengan dua kakinya sendiri. Dan Jack kembali ragu apa yang harus dia lakukan berikutnya. Berdiri awkward di depan Liam Lawson yang merogoh sesuatu dari kantong celananya.

 

“Here.” Tangan kanan Liam Lawson kembali tersodor di depannya. Telapak tangan terbuka dengan dua bungkus permen pink di atasnya. “Might not be as good as your cola, I’ll get you something better next time we meet.”

 

Next time…

 

"Thank you…” Dua buah permen pink berpindah tangan.

 

Liam Lawson hanya menyeringai singkat lalu berjalan pergi meninggalkan Jack yang masih berdiri mematung ragu harus berbuat apa. Jarak di antara mereka kembali melebar.

 

“Bye, Jack.” Kata Liam Lawson tanpa menengok. Sebuah ciuman kecil dan ringan terlemparkan ke udara.

 

Jack masih terdiam berdiri sendirian. Tapi kali ini bukan karena panik level dua. Tapi karena Dua permen pink di telapak tangannya, entah kenapa membuat jantungnya berdegup lebih cepat dari seharusnya.

 


 

Setelah pertemuan singkatnya dengan Liam Lawson, hidup Jack Doohan kembali berjalan seperti normal. Masih dalam rutinitasnya mengejar kecepatan. Tumbuh di tengah tekanan. Berjuang sebisanya untuk tidak tenggelam dalam ekspetasi dan beban. Hidupnya dan Liam Lawson tidak lagi bersinggungan. Berkompetisi di jenjang yang berbeda seakan meledek Jack Doohan. Mereka hidup di dunia yang sama tapi di level yang berbeda. Hal yang entah kenapa, jadi terasa memalukan.

 

Tapi kemudian Covid datang dan hidup banyak orang mulai berantakan. Termasuk hidup Jack Doohan.

 

Jack yang terbiasa hidup dalam rutinitas, sempat kehilangan esensi kehidupannya ketika harus berdiam di kamarnya selama lebih dari 24 jam sendirian. Jack terbiasa dengan kecepatan. Dengan angin dan matahari yang di atas track, Jack anggap sebagai teman. Lock down menjauhkannya dari sesuatu yang selama ini Jack anggap adalah hidupnya.

 

Sampai suatu sore tiba-tiba nama Liam Lawson kembali masuk dalam radarnya. Kali ini dalam bentuk sebuah siaran streaming. Berbeda dengan Jack yang seakan hampir gila di kamarnya, Liam Lawson terlihat tahu cara menikmati hari-hari lock down-nya. Bersenang-senang dengan bermain game dan bercanda asal dengan Yuki Tsunoda.

 

Jack mendengar kabar tentang Yuki Tsunoda yang memenangkan kursi F1 mengalahkan Liam Lawson. Jack pikir akan ada kekecewaan yang mendalam di mata hijau kecoklatan itu, tapi dalam streamnya, Liam Lawson terlihat bahagia. Mata hijau kecoklatan bersinar dengan kepercayaan dirinya yang biasa. Tapi Jack tetap ingin memastikan Liam Lawson benar-benar baik-baik saja. Jadi dia kembali menonton lagi dan lagi semua stream pemuda blonde yang mungkin sekarang bisa dia sebut sebagai temannya.

 

Diam-diam Jack mulai mengirimkan donasi. “Just for fun”, Jack mengatakan pada dirinya sendiri. Dengan nama samaran colongan dari internet—DooghnutInteract, donasi yang awalnya hanya sesekali berubah menjadi sering kali. Ada kepuasan tersendiri di dada Jack ketika Liam Lawson menyebut namanya dengan lantang dan membaca pesan-pesannya dengan senyuman lebar. Ketika mata hijau kecoklatan berkeling senang sebelum Liam Lawson berputar-putar di kursinya dengan ekspresi berlebihan. Mengabaikan ledekan Yuki Tsunoda yang kelihatan sadar dengan tingkah Liam Lawson yang tidak wajar.

 

Jack yang hanya bisa memandangi tingkah lucu Liam Lawson dari balik layar komputernya, mendadak ingin menjadi Yuki Tsunoda. Ada di sana. Bersenang-senang dan tertawa bersama. Merasakan first hand experience menikmati euphoria kebahagiaan seorang Liam Lawson.

 

Donasi-donasi berikutnya tetap Jack berikan tanpa gagal. Berharap pemberian kecilnya bisa tetap menjaga senyum Liam Lawson untuk tetap ada di sana. Di bibir yang semerah kaleng Cola.

 


 

2025 datang setelah banyaknya huru-hara dalam hidup Jack Doohan.

 

First racenya di Abu Dhabi 2024 memang tidak bisa dibanggakan, tapi 2025 adalah debut Jack yang sebenarnya. Bukan lagi sebagai pengganti, kali ini dirinya berhasil mendapatkan kursinya sendiri. Nama dan nomornya sendiri. Ekspetasi kembali tumbuh tapi Jack berusaha memantapkan langkahnya yang sebenarnya ragu. Either he does it now, or never. Lima balapan mungkin terlalu singkat untuk dia bisa membuktikan dirinya, tapi Jack tidak dididik untuk menyerah sebelum mencoba.

 

Jack untuk pertama kalinya, berdiri sejajar bersama semua Rookie dengan bangga. Tapi kebahagiaan terbesar, ternyata berasal dari kenyataan bahwa akhirnya, dia berada di tempat yang sama dengan sang pemuda yang dengan sengaja dia jaga untuk tetap ada di dalam radarnya. Di grid yang sama dengan seorang pemuda blonde yang tanpa sadar jadi bagian hidupnya. Sesuatu yang untuk waktu yang cukup lama, hanya bisa Jack bayangkan dan mimpikan. To fight wheel to wheel with Liam Lawson.

 

First race selalu punya bebannya tersendiri. Dan untuk Jack Doohan, bebannya semakin bertambah dengan statusnya sebagai warga negara Australia. Home race. Tanah di mana ayahnya adalah seorang legenda, dan fansnya menaruh ekspetasi yang sama di pundaknya. Keraguan datang tanpa perlu diundang. Jack bersumpah kepada dirinya sendiri dia akan melakukan yang terbaik. Tapi ekspetasi yang belebihan selalu dipatahkan oleh kenyataan. His first race, ended with DNF in first lap. Ironic.

 

Jack menambal kepercayaan dirinya yang sempat retak dengan ambisi. Bertekad untuk melakukan lebih di China GP. Lebih baik. Lebih berani. Lebih berambisi. Jack mendorong dirinya sendiri untuk menjadi agresif, bermanuver menyalip Gabi di tikungan 14 saat sprint race. Tapi roda mobilnya yang terkunci menghancurkan semua mimpi dan ambisi. DNF kembali jadi ironi, dan kali ini membawa teman bernama poin penalti.

 

Kali ini Jack tidak memiliki banyak waktu untuk menghakimi diri sendiri. Yang dia bisa lakukan hanyalah kembali berjanji pada diri sendiri. Mencoba lebih keras lagi dan lagi. Usahanya hanya berbuah P13. Lagi-lagi gagal mencetak poin untuk timnya. Lagi-lagi finish di belakang Liam Lawson yang juga tidak terlihat puas dengan pencapaiannya.

 

Kesepatannya hanya tertinggal tiga balapan. Dan Jack Doohan mulai kehilangan kepercayaan.

 

Di sebuah sudut sepi di balik tumpukan ban, Jack duduk meratapi nasibnya sediri. Dadanya seakan diremas pelan tapi konstan. Pengingat bahwa karirnya yang selain masih lebih muda dari jagung, tapi juga belum lepas digantung.

 

Ekspetasi yang mungkin sedari awal memang terlalu tinggi, ternyata memang adalah beban yang terlalu berat untuk dijalani. Keraguan membesar dalam dadanya, terus tumbuh tanpa Jack bisa antisipasi. Darahnya mendidih karena marah pada diri sendiri. Kepalanya panas karena otaknya terlalu sering memaki.

 

Sampai tiba-tiba sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Kepalanya mendongak secepat kilat karena refleksnya yang terlatih sejak dini. Kaleng merah adalah hal pertama Jack lihat, bibir merah jadi hal kedua yang masuk ke pengelihatan mata birunya yang berkaca-kaca.

 

Liam Lawson tiba-tiba ada di sebelahnya. Membungkukan badannya hingga mata hijau kecoklatan sejajar dengan mata Jack yang membelalak kaget. Kaleng cola dingin masih menyentuh pipinya, ditahan oleh jari-jari putih Liam Lawson. Sebuah senyuman di bibir merah Liam Lawson jadi hal terakhir yang Jack sadari.

 

“Drink?”

 

Satu kata keluar dari bibir merah Liam Lawson dengan nada yang biasa. Santai. Tanpa beban. Seakan dunia mereka berdua tidak sedang di ambang keruntuhan.

 

Napas Jack tertahan di dadanya. Tanpa suara Jack menerima kaleng Cola yang menempel di pipinya. Menggenggamnya erat karena Jack butuh sesuatu untuk menjadi pegangan. Grounding himself from whatever the heck happening right now.

 

Liam Lawson duduk di sebelahnya tanpa izin. Dekat. Terlalu dekat. Jack bisa merasakan tubuhnya mendadak tegang ketika pundak mereka bersentuhan. Untuk beberapa lama Jack ragu harus apa dan bagaimana. Kehadiran Liam Lawson di tengah sesi ratapan pribadinya adalah hal yang tidak pernah Jack duga.

 

Suara helaan napas berat terdengar dari sebelahnya, Jack melirik diam-diam, memperhatikan tangan Liam Lawson yang bergerak dan mengambil kembali kaleng Cola dari tangannya. Bunyi kaleng dibuka terdengar tapi Jack belum berani untuk menengok dan beradu tatapan mata dengan mata hijau kecoklatan yang selalu terlihat percaya diri.

 

“Drink! You’re bout to faint.” Kaleng colanya kembali datang bersamaan dengan sebuah perintah.

 

Jack tidak punya alasan untuk tidak menuruti suara dan kebaikan Liam Lawson. Satu tegukan formalitas Jack lakukan. “Thanks…” Suaranya lebih cocok disebut sebuah cicitan.

 

“It’s all just one big pile of shit, isn’t it?” Kata Lawson masih dengan nada santai sambil membuka kaleng Colanya sendiri.

 

“Huh?”

 

“This sport,” Liam Lawson menyesap Colanya singkat. “This sport just one big pile of shit, right? We bend over backward to get a seat, sign the contract, and somehow none of that even guarantees you’ll survive a single race—let alone a whole season.” Sebuah tawa sarkastik keluar dari bibir merah yang sekarang basah. “Every now and then, I try to remember who convinced me this was worth it.”

 

“Isn’t that yourself?” Jawaban keluar tanpa Jack pikir panjang. “I mean... it’s not as if someone held you at gunpoint and forced you to drive, right? We choose this, again and again.”

 

Liam Lawson chuckled. “Damn! I guess you’re right.”

 

Ada jeda keheningan di antara mereka setelah tawa kecil Liam Lawson selesai. Keheningan yang entah kenapa, tidak terasa menyesakkan untuk Jack Doohan. Tapi di balik ketenangan yang perlahan datang, ada sebuah pertanyaan yang menggantung di rongga dadanya.

 

“What are you doing here?”

 

Liam Lawson tidak langsung menjawab. Jeda keheningan singkat membuat Jack penasaran untuk menengok dan melihat ekspersi pemuda blonde di sebelahnya. Liam Lawson menatapnya balik dengan ekspresi yang masih sama santainya.

 

“I just happened to see you walk in and thought you might need a drink. So, what are you doing here?” Tanya Liam Lawson sambil menyeringai tipis.

 

Pertanyaan retoris. Jack tahu Liam Lawson tahu kenapa dirinya duduk sendirian di atas lantai dan di balik tumpukan ban setelah hasil buruk balapan.

 

“I…” Tapi lagi-lagi Jack tidak punya alasan untuk tidak menjawab pertanyaan Liam Lawson. “I’m here to sort through my doubts.” Jawab Jack dengan suara yang pelan.

 

Liam Lawson masih menatapnya dalam-dalam. Tanpa tanggapan seakan memberi ruang untuk Jack melanjutkan. So he did. Jack menghela napas berat dan menutup matanya.

 

“I don’t know if you’ve heard about my dad… but he’s a legend. A hometown hero. And with a legacy like that, I… I know everyone expects me to be as good as him. Maybe even better. And I just… living in his shadow, it makes me doubt myself.”

 

Jack membuka matanya dan menatap nanar ke lantai di depan kakinya. “And the worst part is… I had everything I needed to be better than him. All the privileges, the support, the connections, the power. And I still failed. It’s so damn embarrassing. I feel like a failure.” Suara Jack bergetar pelan di ujung kalimatnya. Matanya kembali berkaca-kaca.

 

Liam Lawson masih belum bersuara di sebelahnya. Cukup lama untuk Jack berpikir mungkin Liam Lawson sedang memilih kata-kata penghakiman terbaik untuk dirinya. Mungkin Liam Lawson sedang memilih ledekan yang sesuai untuk rengekan childish-nya. Tapi kata-kata menyakitkan yang Jack tunggu tidak pernah datang. Yang terdengar hanyalah suara sesapan Cola pelan.

 

“Well… my parents did everything they could to support me. Fuck—they even sold our house. Karting is just so damn expensive.” Liam Lawson tertawa kecil karena kata-katanya sendiri. “I also did everything I could. I pushed myself to win everything, because that’s what my sponsors and investors kept saying if I wanted to survive. 2019 was the worst. I thought my career was over.”

 

Jack menelan ludahnya sendiri. Dia tau cerita Liam Lawson bukan lah sebuah ledekan. Tapi ketersinggungan adalah sesuatu yang diterima dan bukan diberikan. Dan hati Jack menganggapnya sebagai sindiran.

 

Karena ketika Jack Doohan menjalani hidupnya untuk dirinya sendiri, ternyata Liam Lawson bukan hanya berjuang untuk hidupnya, tapi juga keluarganya. Membalas pengorbanan orang tua dan keluarga adalah hal yang tidak pernah Jack harus pikirkan dan pertimbangkan. Mereka adalah dua manusia yang tumbuh di lingkungan yang berbeda. Kata-kata penyemangat yang keluar dari mulutnya hanya akan jadi kebohongan karena Jack tidak pernah tahu rasanya. Rasanya tidak punya jaring pengaman. To die if you slipped and fell.

 

Jadi Jack hanya bisa diam. Melanjutkan keheningan berisi keragu-raguan yang sekarang kelihatan tumbuh di rongga dada mereka berdua. Jack tau situasi kontraknya dan Liam Lawson sama rumit dan rapuhnya.

 

“We’ve met before, you know.” Kata Liam Lawson tiba-tiba. “Back then when I was still in F4—I don’t remember where, but we did Red Bull test together.” Liam Lawson menyesap lagi Colanya. “You’re wearing Red Bull junior suit. Back then, I would’ve killed to wear that. Because if I didn’t get that RB sponsorship, I’d be dead.”

 

Mata Jack melebar tanpa sadar. Alisnya naik karena kaget mendapati fakta bahwa mereka pernah bertemu jauh sebelum kejadian di Spa. Pernah sedekat itu tanpa Jack sadari. Rasa bersalah dan penasaran menggerogoti hatinya.

 

Liam Lawson tertawa lagi, sedikit lebih keras kali ini. Senyum lebar di bibir merah ditujukan untuk Jack yang masih berusaha mengingat kapan sebenarnya pertemuan pertama mereka.

 

“Oh, Jack, you’re such an open book. One look, and I know exactly what you’re thinking. Don’t feel guilty for not remembering. Back then, all your focus was on the race. Everyone knows how heavy Red Bull’s pressure is. You perform, or you’re gone.” Tatapan Liam Lawon melembut ke arahnya. “I saw you… and I understood how you felt.”

 

Ada kehangatan yang asing di dada Jack mendengar kata-kata Liam Lawson. Tapi dia berusaha hiraukan. Not the time and place for new feelings. Mata mereka bertatapan untuk waktu yang singkat tapi terasa seperti selamanya untuk Jack. Mata Liam Lawson terlihat cantik di bawah sinar matahari. Jack lagi-lagi ragu apa yang harus dia lakukan di bawah tatapan mata hijau kecoklatan.

 

Tapi senyum lembut Liam Lawson hilang secepat dia datang. Liam Lawson membuang muka. “I’m demoted, you know.” Suara yang dari tadi normal berubah lirih. “I’ll be back in VCARB next race, switching with Yuki.”

 

What the f—

 

“How could they— How— Why? They can’t just—” otak Jack gagal merangkai kata. Semua orang membicarakan desas-desus demosi Red Bull, tapi dia tidak pernah menyangka akan secepat ini. After only two damn races.

 

Liam Lawson tersenyum lirih. “Yeah, I know. What a shitty move. They can’t even wait for the summer break. I thought I’ll have more chances to prove myself. But I guess no…”

 

Jack semakin kehilangan kata-kata. Mereka berada di posisi yang sama, sama-sama kekurangan kesempatan untuk membuktikan kemampuan. Sama-sama korban politik dan uang. Sama-sama gagal tapi masih belum mau berhenti berjuang.

 

“I’m so sorry to hear that, Lawson.” Hanya itu yang bisa Jack katakan. Ucapan belasungkawa untuk mimpi mereka berdua yang seakan sama-sama ditekan untuk mati.

 

“Lawson?” Nada Liam Lawson berubah aneh. “Seriously? Fucking Lawson!??”

 

Jack menoleh bingung. Menerka-nerka di mana kesalahannya sampai-sampai Liam Lawson mengeluarkan nada marahnya. “… what?”

 

Liam Lawson mendengus, “Okay, not your fault for not noticing me during that test years ago, but seriously? After these Colas and our trauma bonding, I’m just a Lawson to you??” Nada bicaranya naik satu oktaf lagi.

 

Panik muncul di hati dan muka Jack. “No! I—I mean… You ARE a Lawson. And you’re my senior and you also older than me. I—I can’t just call you Liam and—”

“Who the fuck care about ages!?” Potong Liam setengah berteriak. “We are friends okay! Call me Liam!”

 

Sebuah perintah kembali terdegar dari bibir merah Liam Lawson. Perintah yang entah kenapa tidak bisa untuk Jack lawan.

 

“O—Okay… L… Liam?” Ucap Jack penuh keraguan.

 

Alis Liam Lawson menukik tanda tidak puas. “Again!”

 

Jack menarik napasnya dalam-dalam. “L—Liam.”

 

“Again, Jack Doohan!”

 

“I will only call you by Liam from now on, Liam!”

 

Keragu-raguan Jack hilang bersama dengan senyum Liam yang mekar. Rasanya seperti ada sesuatu yang besar terangkat dari hatinya yang berat.

 

“There you go,” Telapak tangan Liam mendarat di atas kepalanya. Liam mengusap kepalanya lembut dan pelan. “Good boy.”

 

Jack Doohan, benar-benar tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan. Otaknya seakan meleleh di bawah sentuhan telapak tangan Liam. Wajahnya tiba-tiba terasa panas. Dadanya kembali terasa berat tapi kali ini bukan karena kekecewaan. Perasaan yang Jack tahu itu apa. Perasaan yang namanya belum berani Jack sebut dengan mulutnya.

 

Jack harus dengan sadar mengendalikan dirinya sendiri saat tangan Liam pergi dari kepalanya. Hatinya ingin untuk sentuhan Liam tetap ada di kepalanya. Tapi akal sehat mengalahkan semua pikiran impulsifnya.

 

“It’s not over yet you know!” Kata Liam dengan bersemangat. Senyum secerah matahari bertahan di bibir merah. “Let’s Prove that we’re not a mistake! That we’re worth it. Prove them wrong! I’m going to fight my way back to that second Red Bull seat. And you—” Jari telunjuk Liam berhenti di depan batang hidungnya. “You’re going to secure that full-season contract!”

 

Jack mengangguk tanpa sadar dan ikut tersenyum. “Okay, Liam!”

 

Mata hijau kecoklatan berkelit senang. Dan sebelum Jack bisa mengatakan apa-apa lagi, tiba-tiba bibir merah Liam bergerak mendekat. Berhenti setelah mendarat dengan lembut di pipinya yang berkeringat.

 

Untuk sepersekian detik, Jack Doohan lupa caranya bernapas. His brain short circuited. Baru ketika bibir lembut lepas dari pipinya, Jack ingat paru-parunya rindu udara.

 

Liam langsung bangun dari duduknya dan berjalan pergi dengan cepat. Meninggalkan Jack dan otaknya yang belum kembali berfungsi sempurna.

 

“See you on top, Champ!” Liam setengah berteriak ke udara tanpa menengok lagi ke arahnya.

 

Jack melihat punggung Liam berjalan jauh sambil memegang pipi kanannya yang panas. Masih bertanya-tanya apa maksudnya. Maksud dari bibir merah dan lembut Liam yang tadi mendarat di sana.

 

“See you too… Liam….” Kata Jack pelan. Lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Liam.

 

Hati Jack berdegup kencang. Masih membayangkan bibir Liam yang semerah Cola.

 


 

Rasa bahagia di dada Jack tidak bertahan lama. Dimatikan dengan paksa oleh realita.

 

Suzuka, Bahrain, Jeddah, Miami silih berganti tanpa jeda dan dengan hasil yang sama. Not a single point. Konsekuensi datang lebih cepat daripada catatan waktunya. He failed. He couldn’t prove himself. No matter how hard he tried, nothing ever went right. Jack dengan hati dan kepercayaan dirinya yang patah, melepas kursinya untuk Franco Colapinto.

 

Ekspetasi yang bukan cuma gagal, tapi dihancurkan oleh kenyataan. Rasa ragu tumbuh tak tergendali dalam dirinya. Dan untuk sementara, Jack membiarkan dirinya tenggelam dalam misery. Meratapi dirinya yang kehilangan cahaya matahari dan kembali hidup dalam bayang-bayang sepi.

 

Berdamai dengan situasi tidak pernah jadi hal yang mudah bagi semua orang. Termasuk Jack. Kembali menjadi reserve driver. Kembali menjadi side character. Duduk di simulator dan menatap balapan dari balik layar. Dan yang menurutnya paling meyakitkan, adalah kembali hanya bisa melihat Liam dari kejauhan.

 

But Jack did get his shit together.

 

Perlahan tapi pasti Jack mulai menerima posisi barunya. Memberikan kontribusi terbaiknya untuk tim. Membantu data dan setup walau hanya dari balik layar. Jack dalam hati kecilnya, berharap usahanya terlihat. Berharap kesempatan kedua akan datang. Berharap namanya masih ada dalam pertimbangan.

 

Sesuatu yang tidak pernah Jack duga datang di Monaco. Sebuah paper bag kecil berwarna pink, berisi beberapa permen dan sebatang coklat. Sebuah kaleng merah Cola, dan secarik note kecil berisi tulisan tangan “Have a good day, mate!”. Staff yang memberikan ini padanya bilang pengirimnya adalah anonim. Tapi Jack Doohan bisa memastikan dari mana semua ini berasal.

 

Liam Lawson.

 

Liam.

 

Perbedaan schedule dan kesibukan Liam sebagai full time driver tidak memberikan Jack kesempatan untuk mereka bertemu langsung. Jadi Jack mengikuti cara yang diajarkan Liam. Dengan sebuah paper bag dan menaruh beberapa snack dan sebuah kaleng Cola di dalamnya. Dan juga tulisan tangannya di secarik kertas kecil. “Good day to you too, Liam :)”

 

Sebuah kantong kecil kembali datang di Spanyol. Jack mengirimkan balasannya di hari yang sama. Dan entah bagaimana dan kenapa, ini menjadi seperti sebuah tradisi untuk mereka. Bertukar permen, snack dan sekaleng Cola. Secarik kertas bertuliskan tangan yang awalnya berisi kata-kata sederhana, berubah menjadi percakapan dan candaan. Menjadi sebuah distraksi membahagiakan kecil bagi Jack di tengah hari-harinya yang penuh kekecewaan sebagai reserve driver.

 

“Why don’t you just text him?” Tanya seorang staff yang kelihatan lelah dengan tingkahnya dan Liam.

 

Why indeed.

 

Mereka bisa bertukar pesan dari mana saja melalui Whats App. And maybe they can even talk over the phone. Tapi sebelum Liam memulainya duluan, Jack merasa apa yang mereka punya sekarang cukup untuk dirinya. Secuil kehadiran dan kebaikan Liam di rutinitasnya yang perlahan terasa membosankan.

 

Dan yang terutama, Jack belum ingin kehilangan tulisan-tulisan tangan dari Liam. Hal kecil yang membuatnya merasa special.

 

.

 

Tapi lagi-lagi realita datang menghancurkan semua kebahagiaan kecil yang tersisa bagi Jack Doohan.

 

Sebuah pengumuman yang menjadi kabar baik bagi banyak orang, tapi menjadi hukuman mati bagi karirnya sendiri. Franco Colapinto mendapatkan kontrak multi year-nya dengan Alpine. Sesuatu yang sampai sekarang masih hanyalah sebuah mimpi bagi Jack. And it crushed him.

 

Semua keragu-raguan berubah jadi keputusasaan. Semua ekspetasi terpatahkan dengan memalukan. Jack Doohan harus benar-benar menerima kekalahan. Kenyataan bahwa tidak ada lagi pertimbangan. Tidak ada lagi kesempatan. Karirnya di Formula 1 yang dimulai dengan banyak harapan, berakhir dengan terlalu banyak kegagalan tanpa satu pun kemenangan.

 

Dan Jack Doohan tidak lagi memiliki cukup harga diri untuk bertemu dengan Liam. Dirinya adalah seorang pecundang besar yang tidak pantas untuk bertatap mata dengan iris hijau kecoklatan yang selalu memancarkan arogansi. Jack berhenti membalas pemberian Liam. Melakukan semua yang dia bisa untuk berada sejauh mungkin dari sang pemuda yang bibirnya semerah kaleng Cola.  

 

Bingkisan dan surat dari Liam tetap datang tanpa gagal. Hanya sekarang Jack terlalu malu bahkan untuk sekedar membuka sang lipatan kertas bertuliskan tangan. Semua snack dan Cola Jack selalu habiskan di sudut paling sepi garasi. Dan semua kertas surat terselip rapi di buku catatannya tanpa pernah dia baca apa isinya. Perasaannya untuk Liam yang baru mulai tumbuh terkubur rasa malu. Jack Doohan malu. Malu pada dirinya sendiri dan seluruh dunia, tapi terutama, malu pada Liam Lawson.

 


 

Uang dan koneksi memberikannya kesempatan berikutnya. Super Formula.

 

Jack yang belum sepenuhnya pulih setelah semua kegagalan, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini adalah kesempatan terbaiknya. Kesempatannya untuk kembali berdiri di bawah matahari. Untuk kembali menata karirnya yang sempat berantakan.

 

Testing di Suzuka adalah langkah baru pertamanya. Tim yang baru. Bahasa yang Jack tidak mengerti apa artinya. Track yang membawa kenangan buruk. Mobil yang asing. Di grid yang lagi-lagi berbeda dengan Liam Lawson. Semua bumbu untuk hati kecilnya menjerit diam-diam.

 

Tapi Jack mencoba profesional. He need this. He need to do this right. Ini adalah kesempatan yang hanya bisa di dapat segelintir orang. And he can’t afford to fail once again.

 

But fate grinds him down and then grinds him some more.

 

Entah ambisi atau keragu-raguan diri membuat mobilnya berakhir di antara barrier. Pertama kali adalah sebuah kesalahan. Kedua kali adalah kebodohan. Ketiga kali adalah kegagalan. Despite everything Jack said to himself, kenyataannya adalah, Jack lagi-lagi mempermalukan dirinya sendiri di kanca internasional.

 

Kritik dan cemooh datang dari segala arah. Dari tatapan sinis tim barunya. Dari ledekan-ledekan driver lain berbahasa Jepang yang Jack tidak perlu tahu apa artinya untuk bisa mengerti apa maksudnya. Dari kata-kata tanpa filter di internet yang datang entah dari mana. Dan untuk Jack di titik terendah hidupnya, shut in is his better choice. Merubah foto profile sosial medianya menjadi hitam untuk mengingatkan orang-orang bahwa dirinya masih manusia. Masih seseorang dengan hati dan rasa yang juga menyesali semua kegagalannya.

 

Sudut sepi lagi-lagi jadi tempatnya untuk lari. Kali ini di balik tembok besar bangunan yang terlihat seperti gudang. Jack Doohan lagi-lagi terduduk kalah dan sendirian. Ragu jadi teman terbaiknya karena tidak ada lagi ekspetasi yang tersisa dalam dirinya.

 

Di tengah-tengah semua ratapan, nama Liam Lawson muncul dalam hatinya tanpa bisa Jack cegah. Matanya yang basah melirik tanah kosong di sebelahnya. Seakan berharap tiba-tiba akan muncul sebuah kaleng Cola merah di sana. Bersama dengan seorang pemuda dengan bibir yang sama merahnya.

 

Tapi harapannya sama kosongnya di semua hal. Karir dan cinta. He failed at everything. And Jack had no one to blame but himself.

 

Stupid. Useless. Idiot me!

 


 

Udara Tokyo terasa terlalu berat untuk paru-parunya, tapi setelah 24 jam mengurung diri dalam kegelapan kamar hotelnya, Jack merindukan matahari. Jadi dia mengenakan hoodienya dan melangkah keluar kamar.

 

Ada sesuatu yang menarik perhatiannya di detik pertama pintu lift terbuka di depan lobby hotel. Seorang pemuda bersurai blonde yang sedang fokus dengan handphonenya. Jack mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini semua hanya halusinasi. Because there’s no way in hell Liam Lawson would be here. Tapi kakinya tetap melangkah mendekati si pemuda mencurigakan yang duduk santai di atas sofa.

 

Jarak lima meter di antara mereka cukup untuk Jack menerima kenyataan bahwa pria yang dia lihat sekarang, benar-benar adalah Liam Lawson. Surai blonde, bibir merah. Jaket dan back pack hitam dengan logo Red Bull cukup untuk membuktikan asumsinya.

 

Jack Doohan berhenti melangkah. Membalik badannya dengan satu gerakan dan memakai hoodienya dengan cepat. Mengambil jalan memutari lobby dan setengah berlari ke pintu keluar. Dirinya dengan sadar, berusaha lari dari Liam Lawson.

 

Pintu kaca hanya tinggal satu meter di depannya. Tangan kanan Jack sudah terangkat untuk meraih gagang pintu, tapi sebuah cengkraman kuat mendarat di pundaknya lebih dulu.

 

“What. The. Fuck. Are. You. Doing... Jack Doohan?”

 

Sebuah kalimat dengan penekanan di semua kata-katanya terdengar. Suara Liam Lawson tajam dan berat membuat Jack membatu di tempat. Tangan kanannya masih tergantung di udara. Jack ragu dia harus membalik badannya, atau berlari kabur dan menabrakkan dirinya ke taxi yang lalu-lalang di depan sana.

 

Death sounds nice.

 

Jadi Jack melanjutkan langkahnya. Telapak tangannya mendarat di gagang pintu kaca.

 

“Open that door and I’ll tackle you to the ground right here and now.” Liam Lawson mendesis di belakangnya.

 

Jack dengan ragu, perlahan membalik badannya. Lagi-lagi berdiri dengan ragu di harapan mata Liam Lawson yang berkeling tajam. “Law—I mean, Liam! Fancy to seeing you here. What are you doing here? Haha…” Suara tawanya bahkan terlalu canggung untuk dirinya sendiri.

 

Mata hijau kecoklatan Liam semakin memincing. Tanpa berkedip menatap mata Jack yang bergerak-gerak panik.

 

Jack dalam hidupnya, tidak pernah seberharap sekarang untuk tiba-tiba di telan bumi. Instingnya menyuruhnya untuk lari. Otaknya berteriak bahwa dia belum siap. Belum siap menemui Liam Lawson dengan bangga. Belum siap melihat lagi dari dekat bibir yang semerah Cola. Tapi hatinya menyuruhnya untuk tetap diam di hadapan Liam. Takhluk di bawah mata hijau kecoklatan yang bagi Jack Doohan, memiliki terlalu banyak kuasa.

 

“I… I’m sorry, Liam…” Kata Jack akhirnya dengan pelan. Mengakui kekalahannya.

 

Mata Liam melembut meskipun bibir merahnya masih merajuk. Jack hanya bisa memberikan senyum lirihnya.

 

Liam menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya pelan. “You’re a fucking idiot!” Katanya singkat sebelum menarik pergelangan tangan Jack untuk pergi dari lobby hotel.

 

Mereka berdua menyusuri trotoar dalam diam. Jack masih membiarkan tangannya ditarik Liam tanpa pertahanan. Dadanya kembali sesak tapi kali ini bukan karena udara Tokyo yang terlalu berat, tapi karena perasaan yang coba untuk Jack kubur dalam-dalam berusaha menerobos untuk keluar.

 

“Where are we going, Liam?” Tanya Jack setelah beberapa block mereka lalui.

 

Mereka berdua berdiri di persimpangan jalan. Liam terlihat sibuk dengan Google Maps di handphonenya.

 

“Ramen stall.” Jawab Liam Lawson tanpa menengok. “I’m starving. I spend hours waiting for you to come down. Why the fuck you turn off you phone, Jack!?”

 

Jack ingin menjawab dengan jujur dan mengatakan pada Liam kalau semua comment dan pesan yang masuk ke handphonenya terlalu menyakitkan untuk dibaca. Tapi harga diri menghalanginya. “I’m sorry, Liam…” Lagi-lagi hanya permintaan maaf yang bisa keluar dari mulutnya.

 

Liam tidak mengatakan apa-apa lagi dan melanjutkan langkahnya berbelok ke kanan. Tangan kirinya masih menggenggam pergelangan tangan Jack dengan kuat. Jack lagi-lagi tidak memiliki pilihan lain selain pasrah mengikuti Liam dari belakang.

 

Mereka berdua akhirnya berhenti di depan sebuah kedai ramen kecil. Di sudut gang sepi yang sejujurnya, terlihat mencurigakan. Tapi Liam menarik tangannya untuk masuk ke dalam kedai tanpa ragu.

 

“Do you often eat here, Liam?” Tanya Jack mencoba basa-basi.

 

“It’s my first time. Yuki recommended this place. Liam membolak-balik kertas menu yang cuma satu lembar. “What do you want to eat, Jack?”

 

“Anything is fine, Liam. You choose.”

 

Everything is fine every time you’re here…

 

Liam menunjuk dua gambar ramen yang berbeda di depan waiters. Bibir yang semerah Cola tersenyum ramah ketika mengucapkan “Arigatou gozaimasu.”

 

Menunggu makanan mereka datang memberikan jeda untuk Jack Doohan berpikir. “Why are you here, Liam?”

 

Mata Liam lepas dari handphone di tangannya. “To meet you, stupid! What else.” Jawabnya dengan santai. Seakan satu kalimat sederhananya tidak membuat jantung Jack berhenti di tengah dadanya.

 

Jack bisa merasakan wajahnya memanas di depan seringai bibir merah Liam . Jack akhirnya membuang muka dan kekehan kecil Liam terdengar di telinganya.

 

Mereka berdua makan tanpa berbicara. Jack berusaha mendistraksi perasaannya sendiri dengan mencoba memecahkan rekor waktu tercepatnya memakan semangkuk ramen. Sepenuhnya mengabaikan Liam yang makan dengan santai sambil melihat lucu ke arahnya. Ramen di lidahnya terasa hambar. Mungkin karena setiap bersama dengan Liam, yang Jack bisa rasakan hanyalah manisnya permen dan segarnya Cola.

 

Kata-kata Liam berikutnya baru keluar setelah mereka selesai makan.

 

“I got this.” Kata Liam saat Jack mengeluarkan dompetnya.

 

“It’s fine, Liam. I’ll pay.”

 

Liam mendorong badannya ke arah Jack untuk minggir dari depan meja kasir. “Let the one with a real paycheck pay.” katanya sambil menyeringai iseng ke arahnya sebelum tertawa kecil.

 

Jack tidak tahu harus ikut tertawa atau meringis. Dirinya masih ragu bagaimana harus bertingkah di depan Liam Lawson yang selalu apa adanya. Jack akhirnya hanya tersenyum dan membiarkan Liam membayar makanan mereka.

 

“Thanks. I’ll treat you something after I get my real paycheck.” Kata Jack setelah mereka melangkah keluar dari pintu kedai.

 

Liam tertawa lagi. “Okay. Treat me something expensive in Monaco.”

 

Jack ikut tersenyum. Lebih tulus kali ini. “Deal.”

 


 

Mereka berdua berjalan bersebelahan. Mengambil langkah santai entah mengarah ke mana. Punggung tangan mereka berdua sesekali tanpa sengaja bersentuhan. Tokyo sedang berada di awal musim dinginnya tapi rasa panas terasa di seluruh tubuh Jack Doohan.

 

Langkah mereka berdua berakhir di sebuah taman kecil yang sepi. Rasanya sedikit aneh bagi Jack untuk melihat rumah pohon, perosotan dan ayunan bercat warna-warni kosong tanpa anak-anak kecil di atasnya. Tapi Liam langsung duduk di salah satu ayunan tanpa ragu.

 

“Come here!” Liam menepuk ayunan kosong di sebelahnya.

 

Jack menuruti perintah Liam, mendudukan dirinya dengan hati-hati karena tidak yakin apakah badan besarnya bisa ditopang rantai ayunan yang terlihat rapuh. Tapi ternyata dua rantai yang bercat kuning ini bisa menopang badannya dengan mantap. Jack mulai menggerakan kakinya untuk berayun kecil.

 

Liam di sebelahnya, berayun dengan sekuat tenaga. Besi ayunan berdecit karena tinggi dan cepatnya Liam mengayun tubuhnya. Suara tawa kecil Liam mulai terdengar. Suara yang tanpa sadar ikut membuat Jack juga tersenyum diam-diam.

 

“Wow this thing is so much fun than I remembered.” Kata Liam setelah kelihatan puas dengan sesi nostalgia masa kecilnya.

 

“You do look like you’re having fun, Liam.” Kata Jack sambil masih mengayun badannya pelan.

 

Liam menengok ke arahnya. Mata hijau kecoklatan bersinar di bawah matahari cerah. “And you, do you also having fun?”

 

Jack tersenyum tipis. “Yeah… I do, Liam.”

 

“Good.” Liam memberikan jeda. “So tell me—if you’re having fun with me now, why was I invisible before?” Tanya Liam dengan nada yang datar tapi mata yang menuntut jawaban.

 

Jantungnya berhenti berdetak dan Jack membuang mukanya. Kabur dari tatapan tajam Liam. “I’m sorry…”

 

“I want to know why, Jack. Stop apologizing and answer my question!” Nada datar berubah menjadi sebuah perintah.

 

“I—” Jack memotong kata-katanya sendiri. Ayunan badannya sekarang sepenuhnya berhenti. Otaknya sibuk menimbang keraguan untuk mengatakan perasaannya yang sebenarnya kepada Liam.

 

“Go on, Jack Doohan!”

 

Liam Lawson dan perintahnya yang tidak pernah bisa Jack Doohan tolak.

 

“I was embarrassed, Liam! I can’t face you.” kata Jack, sedikit terlalu lantang. “I was—I am a failure! I failed, okay? I lost my seat. I promised I’d see you on top, and look at me now! I’m nothing but a big, giant loser!”

 

Mata Jack mulai berkaca-kaca.

 

“I was ashamed, Liam. I feel like I never good enough for you. You keep fighting and winning, and I can’t even finish my testing here without smashing my stupid self into the barrier. I—”

 

“Me winning? WHAT THE FUCK ARE TALKING ABOUT, JACK DOOHAN!?” Liam memotong ocehannya dengan suara yang jauh lebih lantang. “I got demoted! Isack basically demolished me this season. I’m struggling too but I don’t treat you like shit just because I feel bad about myself!”

 

Jack jauh dalam lubuk hatinya, tahu tentang itu semua. Jack tahu karirnya dan Liam sama-sama belum bisa dibanggakan tahun ini. Tapi bagi Jack Doohan, fakta tentang dirinya yang tidak bisa jadi lebih baik dari Liam, adalah hal yang memalukan. Bukan karena Liam harusnya mudah dikalahkan, tapi karena Jack punya semua hal yang harusnya membuatnya menang. Semua privileges dan kesempatan. Safety net dan uang. Jack punya semuanya yang orang seperti Liam mungkin hanya bisa mimpikan.

 

“What? Are you just gonna staring at me like it’s my fault you’re a loser?”

 

“No, Liam! No it’s not your fault. But you got it wrong.” Jack membuang mukanya dari Liam.  Menundukkan kepalanya dalam-dalam karena air mata yang mulai mengancam keluar. “People expected me to be better… I expect myself to be better than this. I—” Suaranya mulai pecah. “How am I supposed to face you when I can’t even look at my pathetic self in the mirror?”

 

Masih tidak terdengar tanggapan dari Liam di sebelahnya. Jack menahan air matanya sekuat tenaga. Tapi ke heningan di antara mereka membuat kekhawatirannya memuncak. Jack menyesali rengekan menyedihkannya barusan. Why was he, a grown man, falling apart like this in front of his longtime crush?

 

Bunyi rantai bergoyang di sebelahnya terdengar. Liam Lawson bangun dari duduknya. Jack mempersiapkan dirinya untuk ditinggalkan sendirian. Maybe Liam finally had enough. Enough of his crying, his whining. Maybe Liam regretted coming all the way to Japan just to see him. Maybe Liam, finally realized he didn’t want to be friends with a pathetic loser like him.

 

Tapi sepatu hitam berhenti di depan kakinya. Liam berjongkok dan menatap Jack yang masih menunduk dari bawah. Mata hijau kecoklatan dan bibir merah terlihat buram karena air mata.

 

“Hey, Jack…” Panggil Liam dengan suara pelan sambil tersenyum. Liam meletakan tangannya di pipi Jack yang basah, mengusap air mata yang turun di pipi yang berbulu tipis. “I see you. I’ve always seen you.”

 

What do you see in me, Liam?

 

What else could you possibly see in me other than a pathetic, miserable loser?

 

“I see everything.” Jawab Liam seakan bisa membaca isi pikiran Jack. “Your struggle with lagecy. Your crashes but also your wins. I see how you never give up. All the effort and sacrifices other people don’t see—I see them.”

 

Jack mencoba mencari kebohongan di mata Liam, tapi yang dirinya temukan hanyalah kejujuran. Liam yang selalu apa adanya. Unapologetically honest.

 

“B—But why? I don’t deserves you, Liam.”

 

Senyuman Liam semakin lebar. “Because I love you, you idiot!”

 

Dan ketika Jack masih terlalu kaget untuk mengeluarkan responnya, Liam bergerak maju. Bibir yang semerah kaleng Cola mendarat dengan lembut di bibirnya. Iris hijau kecoklatan Liam hilang di balik kelopak mata. Jack hanya bisa melihat bulu mata lentik Liam yang jatuh di atas pipi merahnya.

 

Jack Doohan, masih dalam panik bodohnya level dua. Membatu di bawah bibir dan sentuhan tangan Liam. Menahan napasnya di dada seakan itu akan membuat cuman Liam bertahan lebih lama. Tapi Liam mundur sebelum Jack bisa membalas ciumannya.

 

“One day, people will see everything I see in you, Jack.” Jari-jari Liam masih mengelus pipi Jack pelan.

 

“But I already failed too much, Liam.”

 

“You failed so much because you tried so much. And for me, I think that’s sexy.” Senyuman Liam berubah jadi seringai nakal. “Your frustrated face after crushed, is pathetically sexy.”

 

Sex—WHA????…

 

Liam tertawa kencang tiba-tiba. Tangan lembut terlepas dari pipi Jack. “Your face is too damn funny, Jack. I can practically see you screaming through your eyes.”

 

Liam seperti biasa, menebak dengan benar. Karena Jack benar-benar sedang berteriak dalam hati. Mendengar Liam Lawson memanggilnya dengan sebutan sexy lebih cocok disebut sebuah mimpi.

 

Dan bagi Jack, semua yang terjadi hari ini memang lebih cocok disebut dengan mimpi. Liam Lawson yang terbang ke Jepang hanya untuk bertemu dirinya. Hanya untuk mengobrol, bercanda dan mencium bibirnya. Jack mulai benar-benar berpikir kalau ini semuanya hanyalah sebuah mimpi. Mulai bersiap untuk bangun sebentar lagi.

 

“It’s not a dream, Jacky!” Kata Liam masih sambil menyengir.

 

“Liam! YouWhy? Do you really can read my mind??” Semua rasa sedih Jack tergantikan dengan banyak rasa baru dalam dadanya.

 

Liam tertawa lagi. “I told you right? You’re an open book, Jack. And I can see everything in you other people can’t.”

 

Jack mengapus bekas air matanya sendiri dan ikut tertawa bersama Liam. Hatinya mendadak terasa ringan. Jack entah mengapa, merasa dia tidak lagi sendirian.

 

“You want more proof I know everything about you?” Tanya Liam dengan nada meledek.

 

Jack mengangguk tanpa ragu. Tidak bisa menurutupi rasa senangnya tentang Liam yang ternyata tau banyak hal tentang dia.

 

“I know about ‘DooghnutInteract’.” Jawab Liam singkat.

 

Mata Jack melotot kaget. Liam DO, know so much about him. Too much. Rasa panas semakin menjalar di pipinya.

 

“I’m sorry.” Jack meminta maaf tidak tahu untuk apa.

 

Liam tertawa lagi dan bangun dari posisi jongkoknya. Kembali duduk di ayunan besi tempatnya tadi. “You’re such an idiot!”

 

Dan seakan Liam tidak baru saja menjungkirbalikkan hidup Jack Doohan, Liam kembali mengayun badannya kuat-kuat ke udara. Mengayun lebih bersemangat dari sebelumnya seakan dirinya benar-benar ingin mencoba terbang.

 

Jack hanya bisa memandangi Liam dengan senyuman. Memperhatikan bagaimana rambut blonde Liam terbang terbawa angin. Bagaimana bibir yang semerah kaleng Cola tertawa bahagia. Jack sekarang lupa semua kesedihannya yang tadi untuk apa.

 

Sampai tiba-tiba sepatu kanan Liam terlempar ke udara karena tersangkut tanah ketika Liam mendorong tubuhnya lebih kuat. Sepatu hitam mendarat di kotak pasir di tengah taman. Jack tertawa lepas untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Dengan sigap Jack bangun dari duduknya dan menjemput sepatu Liam yang terasa kecil di tanganya.

 

Liam berhenti mengayun ketika Jack kembali dengan sepatunya. Mengangkat kaki kanannya yang hanya berbalut kaos kaki putih di udara. “Put it on me, Jackie!” Perintah Liam dengan seringai nakalnya.

 

Jack seperti biasa, tidak memiliki alasan untuk menolak perintah Liam Lawson. Berlutut di hadapan pemuda blonde dan memakaikan sang sepatu hitam di kaki yang empunyanya.

 

“Good boy…” Liam menepuk-nepuk kecil pucuk kepalanya sebelum tertawa lagi.

 

Jack tidak bisa melepaskan pandangannya dari bibir yang semerah kaleng Cola.

 

“You can kiss me. I won’t get mad.”

 

Jack tanpa ragu memajukan badannya. Menempelkan bibirnya di atas bibir Liam. Dan untuk pertama kalinya, tanpa ragu menggerakkan bibirnya di atas bibir yang semerah kaleng Cola. Liam membalas ciumannya. Ciuman yang menurut Jack Doohan, jauh lebih manis dari semua permen yang pernah Liam berikan.

 

Hati Jack yang lelah setelah berhari-hari bergemuruh, akhirnya mulai tenang. Kehadiran Liam seakan memberikannya semangat baru untuk tetap melangkah maju. Dan mungkin kali ini, Jack bisa melakukannya tanpa ragu. Karena tidak peduli setinggi apa pun orang lain menaruh ekspetasi kepadanya, sekarang Jack tahu akan selalu ada Liam Lawson yang melihat dirinya. Melihat semua kebenaran yang tersembunyi dalam diri Jack Doohan.

Notes:

Thank you so much once again for Kristine karena sudah mengizinkan ceritanya aku plagiat :v
Wkwkwkwk, aku lagi belajar untuk nulis dengan gaya yang berbeda dari biasanya.

Thank you for reading. What do you think about this writing style from me?
Semua tips dan kritik silahkan tulis di kolom komentar yaa ~