Work Text:
"Kak Ran? Mau kemana?", tanya seorang anak saat melihat seorang cewek berpakaian rapi sambil membawa sebuah tote bag di bahunya. Cewek yang dipanggil 'kak Ran' tersebut menolehkan kepalanya ke arah bawah untuk melihat seorang anak kecil yang bertanya.
"Belanja sebentar", balas cewek tersebut senyum lebar lalu melanjutkan, "Kalau begitu, aku pergi dulu", sambil menutup pintu, meninggalkan anak tersebut di tempat tersebut.
"Hati-hati~!", balas anak tersebut lalu duduk di sofa sambil memainkan hpnya. Dia melihat tanggal yang tertera, dan baru ingat sesuatu.
Oh iya, besok hari Valentine, huh. Apa jangan-jangan dia belanja mempersiapkan untuk besok? Apa dia ingin mengirimkan lagi untuknya? Apa yang ingin dia kirim kali ini? Dia menjadi tidak sabar menantikannya.
Sekitar setengah atau satu jam-an kemudian, dia pun pulang dengan membawa dua kantong plastik besar dan pergi ke lantai 3 untuk meletakkannya di atas meja.
Selagi cewek tersebut mengambil bahan-bahan yang diperlukan, anak kecil tersebut mengintip apa yang sebenarnya ingin cewek tersebut lakukan. Dari kantong yang belum dibongkar tersebut, matanya melihat segenggam tauge, paprika merah, sekotak teh, ayam, saus tiram, gula palem, sekantong tepung terigu, sekantong kecil mentega dan... sekantong cokelat chip? Dia bisa tahu bahwa sayur-mayur, ayam, dan saus tiram tersebut untuk makan malam mereka, tetapi sisanya? Apakah dia ingin membuat bolu chip atau semacamnya?
Melihat ke arah cewek tersebut yang mondar-mandir meletakkan barang-barang ke atas meja, ia bisa melihat ada beberapa butir telur, vanili ekstrak, baking soda, dan garam.
"Kak Ran, mau buat apa itu?", karena masih bingung akan mau dibuat apa barang-barang tersebut, anak tersebut bertanya.
Cewek tersebut hanya tersenyum dan menjawab, "Ada deh~ Conan juga mau ikut buat?", mengajak apakah anak tersebut, yang dipanggilnya Conan tersebut, mau ikutan atau tidak. Anak tersebut mengangguk senang, dan cewek tersebut meminta anak tersebut mengambil mangkuk besar dan whisk. Setelah diambilkan, anak tersebut melihat cewek tersebut mulai mengocok mentega, gula putih dan palem. Setelah beberapa saat, cewek tersebut menyerahkan mangkok tersebut dan memintanya untuk mengocok telur dan vanili ekstrak, sementara ia mengocok bahan lainnya di mangkok lain. Walaupun masih menerka-nerka apa yang mereka ingin buat saat ini, untuk sementara dia menuruti dulu apa yang dimintanya.
Setelah adonan tercampur rata, ia melihat cewek tersebut membuka dan memasukkan cokelat chip. Melihat cewek tersebut membentuk adonannya menjadi bulat seadanya, akhirnya terpikir di benaknya, apakah ia ingin membuat cookies?
Satu bulatan, dua bulatan, beberapa bulatanlah yang semakin meyakinkannya. Jadi, dengan berbekalkan informasi yang telah didapatnya, ia pun menanyakan kembali pada wanita tersebut, "Ini untuk siapa?"
Dengan nada riang, cewek tersebut menjawab, "Yah, untuk dia", lalu cepat memperbaiki kalimatnya dengan menambahkan, "Ah, tidak— Ibu dan Ayah juga, oke?", dengan gelagat sedikit gugup. Bagi cewek tersebut, ia merasa sedikit malu karena tahun ini ia ingin mengirimkannya juga ke cowok tersebut. Sementara anak tersebut tertegun mendengarnya. Bahkan tahun ini dia tidak lupa membuatkan untuknya.
Lalu tiba-tiba, ia melihat raut mukanya yang seperti sedih, membuatnya refleks menghiburnya, "Ah, kak Ran... Ti-tidak apa kak. Dia pasti senang menerimanya kok", dan perkataannya terakhirnya tersebut tulus dari hatinya. Ia senang menerima hadiah darinya, apalagi handmade, menunjukkan bukti bahwa ia masih mengingatnya, walaupun saat ini status mereka LDR tanpa ada kejelasan jelas darinya sendiri. Seandainya dia bisa bilang...
Cewek itu sendiri hanya tersenyum dan bilang tidak apa-apa sambil mulai memanaskan wajan berlapis mentega dan memasukkan adonan yang tadi dibentuk dengan memberikan jarak, tetapi itu tidak sepenuhnya bisa mengelabuinya karena senyumnya tersebut terlihat betul seperti dipaksa, membuatnya merasa pahit sendiri melihatnya padahal mereka sedang membuat makanan manis.
"Si Shinichi, menurutmu, apakah dia akan menyukainya?", dengan tatapan mata nanar menuju arah wajan, ia bertanya. Jujur, dia tidak tahu kenapa menanyakan hal tersebut ke anak kecil, walaupun anak tersebut sering bersama mereka. Mungkin... ia ingin jawaban yang bisa menenangkan hatinya. Setelah ia meletakkan batch pertama cookies yang telah masak ke atas piring, cewek tersebut melihat anggukan dan senyuman tulus dari anak tersebut dan bilang bahwa ia pasti menyukainya, dan yang terpintas di pikirannya melihat sosok anak tersebut ialah Shinichi, pacarnya tersebut.
"... Shinichi?", tanyanya pelan, namun langsung menggelengkan kepalanya.
Tidak, mana mungkin. Mana mungkin anak sekecil itu ialah dia, batinnya sambil memasukkan adonan baru ke wajan. Setidaknya ia ingin percaya bahwa dia benar-benar sedang menyelidiki kasus sulit. Mungkin habis ini dia akan berisitirahat sejenak sebelum masak makan malam mereka.
Sedangkan yang mendengar lirihan tersebut hanya bisa membatin, Maaf ya, Ran... Aku janji akan menemukan bukti-bukti yang menyudutkan mereka, pura-pura tidak mendengar, mengabaikan dengan polos seperti biasanya, dengan hati yang sejujurnya teriris halus seperti gula merah tadi.
