Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-01-09
Words:
2,252
Chapters:
1/1
Comments:
5
Kudos:
38
Bookmarks:
6
Hits:
463

Ditolak Surga

Summary:

"Gue mending dihantam pohon tumbang terus hilang ingatan sekalian dari pada sisa hidup gue dipake buat keinget sama lo sampe mati. Apalagi sekarang gue tau, di surga pun gue gak bisa tetep sama lo."

———

Premise adapted from "SORE: Istri Dari Masa Depan" movie.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

SETELAH melewati semester 7 yang cukup mematikan mentalnya, Ge memutuskan untuk mengikuti jejak Haikal yang magang di Jakarta dan tinggal di apartemen yang berdekatan dengan rumah Haikal yang ada di Cilandak. Hanya belasan menit menuju pusat perbelanjaan, dikelilingi kafe untuk WFC, dan lingkungan yang masih tentram.

Jadi, begini lah, lima-enam tahun bertahan di Jakarta dengan pekerjaan yang sudah cukup untuk membuatnya tetap hidup, beserta beban yang ditampung pundak kanan-kirinya. Oh, tapi Haikal lagi gak bisa bantu ringanin pundak itu. Udah dari setengah tahun yang lalu laki-laki itu bersemayam di bawah sana. Di arah pandang Ge sekarang tertuju.

Kacamata hitam yang menutupi mata Ge diturunkan sedikit. Di sana, rumput yang ada di sekitar Haikal sudah tumbuh rapi. Tapi ada beberapa tanaman liar yang entah kenapa bisa ada di situ. Ge berdecak. Segera membuka ponselnya untuk mengirim pesan ke amang-amang yang emang dia percaya untuk nitipin Haikal di sini.

Perlahan, langkahnya maju mendekat, kemudian bersimpuh di tanah yang kering. Ge menatap datar nisan yang tertidur rata menyamai tanah. Dadanya naik turun. Enam bulan. Enam bulan yang lalu Haikal masih muncul dengan konyol di hadapannya dengan segala kejutan yang selalu dibuat laki-laki itu. Sialan rokok. Perasaan yang punya riwayat paru-paru itu Ge, kenapa yang nyerah malah badan Haikal? Ge juga ngerokok tapi kenapa Haikal duluan yang diserang?

Kurang lebih, pertanyaan-pertanyaan itu yang sering berputar di otaknya belakangan ini. Gak disertai isakan sih. Orang-orang emang gak pernah liat Ge murung lagi sejak hari itu. Satu-satunya momen Ge murung (tanpa orang tau, tentunya) adalah setiap kali ia sampai di mobilnya dan yang menyambut hanya bau menyengat dari parfum mobil. Parfum mobil sialan yang dibeli Haikal setengah tahun lalu. Sengatan bau itu sudah tidak separah dulu, sekarang sudah hampir luruh. Hampir gak kecium, tapi akan selalu kecium sama Ge kalo masuk mobil di tengah cuaca yang panas.

Kini di mobil, Ge menyandarkan kepalanya ke setir. Cuaca akhir-akhir ini buruk. Banyak petir menyambar dan banjir di mana-mana. Ramalan cuaca hari ini juga gak baik. Jadi, Ge memutuskan untuk menahan sesi sedihnya dan segera bergegas pulang sebelum ia harus melewati banjir.

Cuaca kesukaan lo nih, Kal.

Basah kuyup dah lo di sana.

Ge sebenernya gak terlalu suka lagu, dia cuma dengerin kalo emang keinget lagunya aja atau emang momentual. Jadi selama ini yang ngide untuk dengerin lagu tiap di jalan cuma Haikal, tapi karena sekarang bocahnya udah gak ada, Ge gak pernah lagi dengerin lagu di mana pun. Di mana pun, meskipun kesunyian harus menyerangnya sebagai konsekuensi.

Gemuruh terus bergerak menyuarakan batuknya lirih. Ge yang denger agak merinding. Dia kadang takut kalau harus dengerin suara hujan atau petir dari dalam mobil; mobilnya cukup kedap suara, makanya Ge takut, kayak jadi gak tau keadaan dunia luar. Efeknya ke dalam mobil emang cuma kayak geter-geter, tapi dia tau itu petir gede.

Ge melambatkan laju mobilnya. Matanya melotot. Angin kencang ini melewati jalan dan mulai menerbangkan apapun di sana. Mobil depan-belakang-kanan-kirinya ikut melambat. Melaju perlahan dan sangat, sangat lambat.

Kal, Kal, takut gue.

Temenin dong.

Percikan air mulai menghalau mobilnya. Bukan suara yang lembut, lebih seperti ada kerikil yang terlempar. Wiper mobil bekerja keras. Ge sendiri memajukan posisi badannya untuk memastikan pandangan yang agak kabur. Beberapa orang berteriak. Payung-payung orang jualan berterbangan. Suara keras menghantam bagian belakang mobil Ge. Refleks, kepalanya menoleh ke belakang dan mendapati pohon rubuh menjatuhi mobil di belakangnya. Beberapa rantingnya mengenai mobil Ge.

Kal.

Biasanya lo yang banyak ide kalo lagi di posisi panik gini.

Ini gimana ya, Kal?

Degupan jantungnya mengencang. Ge gak tau gimana parah situasi di belakang. Dia gak berani gerak. Mobil di depannya pun masih belum maju. Matanya mulai mengedar, di sekeliling jalan ini banyak pohon.

Kal?

“Kal?”

Satu hal yang baru Ge sadari adalah bagaimana sedetik yang lalu ia masih berada di mobil dan sekarang ia malah tiduran di kasur apartemen lamanya. Harum apartemen ini mengusik indra penciuman, membuat memori Ge langsung menggali reka ulang momen-momen yang paling Ge kenang selama di sini.

Satu momen itu.

Momen sebelum Ge berangkat ke bandara.

Momen di mana cahaya matahari menciumi wajah Haikal ketika laki-laki itu tertidur.

“Udah bangun?”

Oh, Ge inget adegan ini. Dia lagi sakit. Ini abis Sempro. Ge entah kenapa tiba-tiba demam dan gak bisa ngapa-ngapain selain tiduran di kasur. Haikal samperin dia ke apartemen.

Kemudian mata Ge menangkap figur Haikal berdiri di pintu kamarnya.

Masih bugar, sehat — gak ada Haikal yang kurus.

Atau, Haikal yang pucat.

Ah, seluruh badan Ge kayak diremas. Lemes ngebayangin detik demi detik waktu Haikal pergi. Ge sesak mengingatnya. Dan, untuk kembali melihat figur Haikal versi sehat itu secara langsung dan nyata — Ge sangat bersyukur, entah ini mimpi atau tidak.

Haikal yang ini adalah versi Haikal yang paling ia rindukan.

Air mata Ge secara tidak sadar turun melewati rahang atasnya.

“Gue beliin miso soup,” Haikal mendekat.

Mimpinya lama banget ya.

Apa Ge udah mati gara-gara kejatohan pohon tadi?

“WOI, jangan bengong pe’a, panas ini mangkoknya.”

Ge terjengit kaget. Ini … kerasa asli banget. Apa dia sleep paralysis lagi ya? Separah itu stress-nya sampe sleep paralysis-nya kali ini tentang Haikal?

“Kal,” Ge mencoba untuk memanggil nama itu lagi. Setelah enam bulan. Suaranya belum pernah terdengar untuk menyebut nama itu lagi. “Ekal.”

“Apa?” Haikal duduk di pinggir kasur. Tangannya menggapai lampu tidur untuk dihidupkan. “Kok nangis sih? Kenapa?”

Ge langsung bangkit dari tidurnya dan menubruk Haikal dengan pelukan. Lamat-lamat, ia menghirup wangi badan Haikal yang biasa ia rasakan setiap laki-laki itu habis mandi. Wangi ini, Ge hampir lupa sama wangi ini. Kenapa mimpinya kali ini sampe bikin Ge inget lagi sama wangi Haikal?

“Eh, gue abis ngerokok, bau.”

Ge meregangkan pelukannya. Ia menarik badannya dan menatap Haikal. Matanya mengedip-ngedip, menghalau buliran air mata. “Lo ngapain masih ngerokok?”

“Hah?”

“Lo gak boleh ngerokok, Kal … anjing. Gue harus ngomong berapa kali, sih! Berenti ngerokok bangsat! Gue gak mau lo mati, gue gak mau lo ninggalin gue, Kal!” Ge mendorong kedua bahu Haikal.

“WOI, what’s wrong? Lo abis mimpi buruk apa gimana sih – WHAT THE HELL WHY ARE YOU BLEEDING, GEVANO! GEVANO, WAKE UP!”

Hitam.

Legam.

Setelah merasa ditelan oleh sesuatu, Ge membuka matanya. Ini, masih di kamar apartemennya. Dia mimpi lagi? Mimpi dalam mimpi? Kamar gelap. Pintu sedikit terbuka. Harum apartemen lamanya.

“Udah bangun?”

Haikal muncul lagi dari tempat yang sama, berdiri di ambang pintu. Masih dengan semangkuk miso soup di kedua tangannya. Wajahnya tenang. Tapi, Ge gak tenang.

“Kal? Kal, ini gue mimpi atau di surga atau gimana sih, Kal?”

Haikal mengernyit. Perlahan mendekati Ge dan menaruh mangkuk tersebut di nakas. “Lo ngomong apa dah?” Haikal menaruh telapak tangannya di dahi Ge. “Beneran stress gara-gara Sempro kayaknya lo.”

“Jangan bercanda, Kal,” Ge menarik tangan Haikal. “Gue … kangen.”

Haikal tersenyum tipis. “Bentar, gue cuci tangan dulu, abis ngerokok tadi.”

Ge melotot. “Kal. Lo literally mati gara-gara – ”

“Ge! GEVANO!”

Sesuatu menelannya lagi.

Badannya menegang.

Apa tadi?

Ini apa?

Kenapa dia selalu ditelan gelap saat mengucap kosakata rokok?

Konyol.

Hitam.

Hitam legam lagi.

Kemudian, Ge paksa matanya untuk dibuka. Degupan jantungnya terasa nyata. Hampir terasa getarnya hingga ke telinga. Buliran air mata luruh. Ge menangis. Ia menaruh lengannya di atas mata.

“Udah bangun?”

Ge tebak, dari tempat Haikal berdiri, dia belum bisa melihat kalau Ge sedang menangis. Jadi, ketika Haikal berucap, “gue beliin miso soup,” dan mendekat, Haikal langsung duduk di pinggir kasur setelah menaruh mangkuk di nakas, karena baru menyadari isakan tangis Ge. Tangannya menggapai lampu tidur untuk dihidupkan. “Kok nangis sih? Kenapa?”

Kalimat yang sama.

Ekspresi yang sama.

Ge mulai menyambungkan seluruh pola yang ada.

Mata Ge mencari ponsel. Ponsel … ponsel. Di nakas. Ponsel keluaran lama. Ini ponselnya yang lama. Ia segera menekan tombol powerdan melihat tanggal yang tertera. Enam tahun lalu. Sehari setelah Ge sidang proposal.

Sampai saat ini, Ge belum bangun dari tidurnya. Dan gak ada adegan ricuh tiba-tiba yang biasa mengisi mimpi di sleep paralysis-nya. Ini persis seperti enam tahun yang lalu. Saat Ge sakit dan Haikal datang ke apartemennya.

Kalau dugaan Ge benar, setelah ini Haikal akan memaksanya makan karena Ge memilih untuk tidur kembali. Jadi, Ge mengikuti gerakannya enam tahun lalu.

“Geeeeeee, ayo makan. Lo belum makan dari pagi.”

Selama lima menit penuh, Ge membelakangi Haikal. Ge hanya menangis. Mendengar rengekan Haikal. Sentuhan Haikal. Suara Haikal. Kehadiran Haikal. Kalau ini benar mimpi, Ge sebisa mungkin tidak akan mengingat kalau ini mimpi supaya ini tetap terus berjalan. Tapi, kalau ini surga, Ge benar-benar berharap dia mati.

Karena Haikal ada di sini.

Mereka di sini.

“Ayo, Ge. Makan. Gue suapin deh – eh?”

Ge menabrakan badannya ke arah Haikal. Menenggelamkan wajahnya di pundak lebar laki-laki itu. Menghirup dalam-dalam. Gak peduli sama keluhan Haikal.

“Eh, Ge, gue belum siap.”

Masih konyol. Orang ini masih konyol.

“Dengerin gue,” Ge menangkup wajah Haikal setelah puas gelendotan. “Gue gak tau kita sekarang udah mati atau – ”

“WHAT THE HELL WHY ARE YOU BLEEDING, GEVANO! GEVANO, WAKE UP!”

Bangsat, belum selesai ngomong.

Tapi — lagi, Ge ditelan waktu.

Ge masih diam.

Belum berusaha untuk membuka mata.

Karena sekali Ge berusaha melakukan itu, dia akan merasakan kembali badannya ada di kasur empuk kamar apartemen lamanya. Sekali saja ia kembali membuka mata, laki-laki sialan itu akan kembali berdiri di sana dengan cengiran tengilnya.

Ge lelah. Tapi dia masih rindu.

Coba lagi kali ya?

Tapi, Ge takut.

Ge gak tau dia di mana.

Di dimensi waktu mana.

Di bagian ujung dunia yang mana.

Di halaman nyata Tuhan ke berapa.

Terakhir Ge ibadah, do’anya emang cuma pengen disatuin lagi sama Haikal. Apa tadi bener surga ya? Apa di surga itu emang banyak aturannya? Gak boleh nyebut kosakata mati atau penyebab matinya. Seketat itu aturannya?

“Mas, bangun, mas.”

Samar telinganya menangkap suara yang sama nyata dengan suara Haikal tadi. Ada suara hujan, guntur, dan keramaian. Kemudian, suara-suara itu padam lagi.

Ge berusaha membuka matanya. Gak bisa. Gak lihat apa-apa. Gak tau matanya udah kebuka atau belum. Tapi, sejauh mata memandang, yang ia lihat cuma hitam legam.

Kal.

Kal.

Gue takut.

Gue masuk neraka ya?

Lo di neraka atau di surga?

Kalo kita pisah berarti gue sendiri lagi?

Ini emang konsepnya kita gak akan bisa bareng atau gimana ya, Kal?

Lo tau sendiri gue gak bisa tanpa lo, Kal.

Gue mending dihantam pohon tumbang terus hilang ingatan sekalian dari pada sisa hidup gue dipake buat keinget sama lo sampe mati. Apalagi sekarang gue tau, di surga pun gue gak bisa tetep sama lo.

“Ge?”

Harum familiar yang menempel di ingatan terbawa oleh semilir angin. Ge lagi duduk di kursi putih milik rumah sakit. Menunggu giliran dipanggil. Mami lagi ke toilet. Jadi, Ge sendiri.

“Gevano?”

Pandangan Ge mengarah pada layar televisi yang menampilkan denah rumah sakit. Matanya tertuju pada tulisan Paviliun Mawar Putih, rawat inap VVIP yang ada di sini. Dirasa-rasa kayaknya Ge pernah ke situ. Tapi kapan ya. Dia bukan yang sering sakit kok.

Kaki Ge bergerak-gerak. Ada beberapa bagian di kakinya yang terbalut. Ruam-ruam membiru di sekitar tulang kering. Kayaknya dalam waktu dekat Ge gak akan mau pergi pake mobil deh.

“Gue gak tau lo bakal denger atau enggak.”

Angin melewati rambut Ge. Pantulan cahaya yang datang dari luar menyentuh hidungnya yang bangir. Matanya menyipit. Lagi-lagi wangi familiar itu. Tapi samar, samar banget.

“Maaf, ya, gue ninggalin lo duluan. Emang penyakit sialan. Gue makin sedih liat lo gak pernah nangis lagi. Gue ngilu liatnya, lo sesek; lo udah terisak-isak – tapi lo gak nangis.

“Nangis aja, Ge. That would be better for you. For me too. Eh, gue juga gak bisa mastiin lo makan enak lagi. Jadi, tolong tetep makan ya. Gak apa-apa kalau makan sei sapi terus.

“Sebenernya gue nitipin tabungan gue ke Janu. Gue … nabung, buat kita kabur. Ke mana tuh … tempat om lo nikah sama suaminya? Norway ya?

“Gue selalu pengen bawa lo ke sana juga sih, di luar niat gue buat bareng sama lo. Norway bagus banget. Udaranya gak jelek kayak Jakarta.

“… oh, tabungan. Pake tabungan gue buat lo makan, ya, plis? Atau, buat apapun. Beinsport lo, buat lo beli Youtube premium kek. Top upRoblox. Terserah. Gue emang nabung buat lo – bayangin, gue susah banget nabung, tapi semenjak lo ke Jakarta buat kerja, gue nabung supaya lo tetep ngerasa cukup. Walaupun gue tau dompet lo kayaknya lebih tebel dari gue sih.

“Nangis ya. Jangan ditahan, Ge.

“Tiap lo nahan nangis, gue di depan lo. Ngeliatin lo. Nunggu lo nangis. Lo udah nutup muka, tapi ternyata gak nangis juga.

“Gue maksa mulu ya? Maaf ya. Kayaknya lo juga emang pengen nangis supaya lega tapi gak bisa-bisa.”

“Duh, kamar mandinya cuma duaaaaa! Mami nungguin ibu-ibu lama bangetttt, males deh.”

Ge menoleh, masih kurang bisa beradaptasi dengan keadaan bahwa dia mengenal Mami tapi tidak bisa mengingat apapun. Ingatannya berhenti di kelas 12 SMA.

“Udah mau pergi, ya, Ge?

“Cepet sembuh ya. Gue bersyukur lo gak inget apapun tentang tempat tinggal gue yang baru — walaupun agak sedih juga itu artinya lo gak pernah tau gue ada — soalnya gue gak tega lo harus nempuh berjam-jam cuma buat bengongin nisan. Gue gak akan tiba-tiba bangun cuma dengan lo bengongin, pe'a.

“Oh iya, amang-amang itu kayaknya nyariin lo. Tapi, dia masih rapiin rumah gue kok. Nyokap gue juga lusa kemarin mampir. Ngasitau keadaan lo.”

“Ananda Gevano Aquaristha?”

“Cepet sembuh ya. Semoga amnesia lo yang kayak di sinetron ini gak bertahan lama.

“Nanti kita kumpul lagi kok. Gue pastiin lo gak akan kepisah dari gue once kita kekal.”

“Mi, beliin aku sabun di Watsons dong. Kayaknya tadi ada mas-mas lewat. Wangi banget, kayaknya sabun Watsons.”

Mami Ge ngangguk-ngangguk. Kemudian, bantu Ge untuk berdiri perlahan. Mereka berjalan berdampingan.

“Kita kekal kok, Ge. Gue temenin lo terus. Jangan takut.

“Sabun Watsons gue ‘kan masih ada di kamar mandi apartemen lo. Pake itu aja. Jangan beli lagi.”

Notes:

#StopMerokok | Just in case anyone wondering, Ge dan Haikal is available on Twitter. You can search "the string we painted red" to read more of them (this one-shot is only a what-if situation lol Haikal gladly still healthy and alive!).