Actions

Work Header

Kapten Voli dan Kapten Bola

Summary:

Yushi adalah kapten klub bola di sekolah, tapi ia mendaftar sebagai asisten klub voli hanya karena di sana ada Maeda Riku, cowok yang ia taksir dari kelas 10

Work Text:

Riku itu tipe cowok yang kalau jalan di koridor, orang-orang otomatis minggir. Bukan karena sok jago atau galak, tapi karena auranya kapten tim voli SMA Garuda bener-bener kebentuk.

Dia memiliki tubuh yang tinggi, bahu lebar, suara tegas, dan selalu keliatan fokus. Anak-anak klub voli sangat menghormatinya, guru olahraga percaya, dan lawan sekolah lain—sedikit takut.

Dengan visual yang semenarik itu, tentu saja Riku memiliki ratusan penggemar di sekolah tersebut. Bahkan siswi atau bahkan siswa mendamba ingin menjadi kekasihnya.

Termasuk Yushi.

Dia adalah kapten klub sepak bola yang sudah mendapatkan banyak medali kejuaraan sejak kelas 10.

Yushi adalah siswa yang satu tingkat di bawah Riku dan pemuda manis itu sudah menyukai sang kapten voli sejak awal ia masuk SMA Garuda ini.

Sayangnya, Riku hidupnya lurus-lurus saja. Setiap hari ia akan Datang tepat waktu, latihan serius, pulang langsung. Fokusnya cuma satu: menang dalam setiap pertandingan.

Makanya waktu pertama kali dia sadar ada cowok yang terlalu sering mondar-mandir di sekitar lapangan voli, reaksinya cuma satu:

“Siapa sih itu?” Tanya Riku sambil mengedikkan dagunya ke arah jendela lapangan indoor voli.

Sohee ikut melihat ke arah yang dituju sang kapten, lalu tersenyum. “Oh. Itu Yushi. Kelas 11, kapten klub bola.”

Riku mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedikit bingung karena kapten klub bola ada di sini? Memang tidak ada latihan?

Ya, Benar. Cowok itu Yushi.

Kapten sepak bola. Satu sekolah. Beda angkatan. Riku sekarang kelas 12, sementara Yushi masih kelas 11.

Yushi udah lama naksir Riku. Jika ditanya kenapa bisa naksir kapten voli itu. Yushi menggeleng dan menjawab; entahlah.

Tapi pemuda manis itu sangat suka cara Riku lompat buat smash, rahang tegasnya, hingga ekspresi dinginnya yang bikin pengen digangguin. Dan Yushi tipe orang yang kalau suka, ya dikejar.

Jadi tiap sore, Yushi selalu punya alasan buat lewat lapangan voli.

“Eh, latihan ya?” Yushi langsung berhenti di luar lapangan voli indoor itu dan berjinjit untuk mengintipnya dari jendela “Wah, rame.”

Biasanya, Yushi memang hanya mengintip saja dari sana. Tapi entah mengapa, sore itu, dirinya pergi ke kantin belakang yang masih buka dan membeli lima botol air mineral.

Seperti tidak tahu malu, ia masuk ke dalam dan membuat anggota klub voli yang sedang beristirahat, menoleh semua ke arah Yushi.

Badan kecilnya sedikit kesulitan ketika membawa kantong plastik yang berisi air mineral –bahkan ketika berhenti tepat di depan Riku, tubuhnya hampir oleng.

“Halo, Riku.” Kurang sopan sebenarnya. Tapi Yushi memang paling malas jika harus menggunakan kata kak untuk memanggil kakak kelas.

“Ya?” Riku menjawab sembari mengelap keringatnya yang bercucuran.

Melihat itu, Yushi terdiam sejenak. Ia tidak bisa berkedip karena melihat Riku yang terlihat sangat seksi dengan kulit tan yang mengkilat karena keringat.

“Halo? Malah ngalamun.”

“ –eh?” Yushi nyengir kaku. Ia berdeham, untuk menetralkan detak jantungnya yang menggila dan berkata, “Minumnya cukup nggak? Nih, aku beliin minum untuk lo –dan lainnya juga.”

Riku hanya ngangguk dingin. Dalam hati: ni anak bola kenapa cerewet amat sih.

...dan karena sikap dingin Riku, setelahnya, Yushi pergi meninggalkan lapangan dengan senyum terpaksa. Meski begitu, ia tetap menganggumi Riku yang begitu tampan ketika melakukan service atau smash saat latihan.

“Tampan begitu, mah, harusnya jadi pacar gue aja.” Gumam Yushi setengah galau. Tapi dirinya tidak menyerah dan tetap berusaha untuk bisa dekat dengan kapten klub voli itu.

Sampai suatu hari, papan pengumuman klub voli dipasang.

DIBUTUHKAN ASISTEN KLUB VOLI

Yushi baca sekali, dua kali, terus senyum lebar. “Oke, ini masuk.” Ia bergumam dengan hati berbunga-bunga.

Besoknya dia daftar tanpa ragu. Datang ke ruang klub voli dengan senyum paling manis, bawa formulir lengkap sesuai dengan persyaratan yang tercantum di papan pengumuman.

Namun, ketika ia menyerahkan formulir pendafatarannya, reaksi anggota dari klub tersebut berbanding terbalik dengan ekspektasinya.

“Lo serius?” salah satu anggota voli ngelirik heran.

“Iya,” jawab Yushi santai.

“Lo kan kapten sepak bola.” Seru anggota yang lain dan memandang aneh pada Yushi.

“Terus?” Pemuda dengan bulu mata lentik itu bertanya dengan wajah polosnya yang membuat anggota voli di sana tidak tega untuk mengusirnya. “Emang kapten klub sepak bola gak bisa jadi asisten klub voli?”

Anak-anak voli langsung ribut.

“Nggak bisa, lah.” Ucapnya kompak

“Kapten bola ngapain jadi asisten voli?” Tukas salah satunya.

Yushi masih senyum, tapi jelas hatinya sangat kecewa karena secara tidak langsung, dirinya ditolak. Dan sebelum dia sempat buka mulut lagi, satu suara masuk.

“Kenapa ribut?”

Semua langsung beralih ke pintu lapangan indoor, di mana di situ ada kapten klub voli yang baru saja selesai mengikuti kelas tambahan.

Begitu Riku berdiri di ambang pintu, tempat tersebut langsung sunyi. Namun detik berikutnya, ada anggota yang berseru.

“Dia mau daftar jadi asisten,” jawab salah satu anak.

“...dan dia kapten bola,” tambah yang lain.

Riku berjalan mendekat dan menatap ke arah Yushi. Baru kali ini dia bener-bener merhatiin.

Semenjak kejadian air mineral, Riku sudah tidak asing dengan Yushi. Sering kali, bocah itu memang datang menontonnya latihan.

Terkadang, sengaja juga lewat di depan kelasnya ketika jam istrirahat.

Setelah Riku perhatikan, ternyata Yushi manis juga –ah, bukan.

Maksud Riku –

Lihat! Dia memang seorang kapten dari klub sepak bola? Tapi potongannya tidak seperti kapten!

Jika kapten terdahulu, Riku masih ingat yang badannya besar, kulit gelap, dan memiliki fitur wajah sangar.

Tapi, Yushi...

Dia memiliki kulit yang begitu bersih –cenderung putih. Rambut hitam legam dan halus, fitur wajah begitu lembut –begitu pun cara bicaranya.

Ah, tapi Riku dengar, skill Yushi dalam bermain sepak bola memang begitu baik. Ia juga dengar jika pemuda manis di depannya itu, pernah melakukan summer camp sepak bola di Italia.

Tapi...kenapa dia berminat jadi asisten klub voli?

“Kenapa?” tanya Riku. “Apa alasan lo daftar jadi asisten klub ini?”

Yushi ketemu tatapan itu dan… jantungnya langsung berdetak tidak karuan. Tapi ia mencoba bersikap biasa dan menjawab pertanyaan dari kapten voli itu.

“Karena… gue pengen bantu,” jawabnya, lalu nambah pelan, “dan pengen tahu tentang voli.”

Riku mengangkat sebelah alisnya. “Lo tau ini capek?” Ia melipat kedua tangannya di depan dada, “dan lo juga harus bagi waktu jadi kapten di klub bola, emang sanggup?”

“Sanggup!” Jawabnya tanpa ragu. Tapi setelahnya, ada pemuda tinggi yang masuk dan menyeret Yushi untuk keluar.

“Eh, Anton! Ngapain? Lepas!”

Pemuda yang bernama Anton itu tidak mengindahkan ucapan Yushi. Ia masih menyeret temannya itu dan terseyum kaku di hadapan anggota voli.

“Maaf, ya, bang. Yushi emang suka ngawur. Dia gak bakal daftar jadi asisten. Jadi, lupain aja ucapan dia.” Ucap Anton sambil berjalan mundur dengan tangan yang masih sibuk menarik Yushi.

“Apaan, sih?!” Setelah keluar dari lapangan voli, Yushi memandang Anton dengan tajam, “ganggu, tahu!”

“Ganggu pala lo, tuh!” Anton berkacak pinggang, tidak percaya dengan tindakan temannya itu. “Lo tuh kapten bola, napa malah daftar jadi asisten voli?”

“Ya...pengin!”

“Halah. Bilang aja pengin pedekate sama Riku.”

“Lah, itu tahu!” Ucap Yushi sewot. “Udah lah, orang hopeless romantic kayak lo mana paham.”

Setelahnya, Yushi meninggalkan temannya itu yang menganga tak percaya dengan ucapan sahabatnya.

 

Yushi akhirnya beneran nggak jadi asisten ekskul voli.

Nggak ada drama besar. Cuma penolakan yang halus tapi tetap nyelekit. Setelah diskusi internal, keputusan tetap: kapten klub lain tidak bisa rangkap jabatan, walau cuma asisten.

Ya sudah, lah –begitu batin Yushi pasrah.

Sore itu dia pulang lebih telat dari biasanya. Lapangan sudah sepi, langit mulai oranye keabu-abuan. Yushi jalan ke parkiran sambil nendang-nendang kerikil kecil, otaknya masih muter di satu nama.

Riku.

Dia masih memikirkan kesempatan yang tadi hilang begitu saja. Padahal, jika diterima, dia bisa dekat dengan mas crushnya.

Tanpa sadar, Yushi sudah sampai di motornya. Namun, ketika sedang menyalakan mesin motor, ia sadar ada yang kurang beres.

“Lah.”

Ban belakangnya kempes.

Yushi jongkok, nekan bannya sekali, dua kali. Fix bocor. Dia ngelirik ke luar gerbang sekolah. Bengkel langganan di seberang jalan udah nutup rolling door-nya setengah.

“Apes banget,” gumamnya.

“Kenapa?”

Suara itu bikin Yushi menoleh secara refleks. Riku berdiri beberapa meter di belakangnya, tas selempang masih nyangkut di bahu. Kayaknya baru selesai beres-beres alat latihan.

“Motor gue bocor,” jawab Yushi jujur.

Riku mendekat, ikut jongkok sebentar buat ngecek. “Bengkel sekitar sini udah tutup semua.”

“Iya,” Yushi nyengir tipis. “Kayaknya emang bukan hari gue.”

Riku berdiri lagi. “Titip satpam aja.”

Akhirnya motor Yushi dituntun ke pos satpam. Satpam malam yang jaga cuma angguk santai. “Aman, Mas. Besok diambil juga nggak apa-apa.”

Yushi bilang makasih, lalu berdiri kikuk di samping Riku.
Sunyi sebentar.

“Rumah lo jauh?” tanya Riku.

“Lumayan. Dua puluh menit naik motor,” jawab Yushi. Habis itu refleks nambah, “Tapi kalo jalan kaki… ya wassalam.”

Riku mikir sebentar. Terus bilang santai, “Gue anter.”

Yushi langsung bengong. “Hah?”

“Rumah gue searah. Naik motor gue aja.” Sebelum terjadi kecurigaan, Riku kembali berkata, “tadi gue baca CV lo, dan rumah kita sejalan.”

“Rik—nggak ngerepotin?”

“Enggak. Lagian udah mau malem.”

Yushi ngerasa dadanya menghangat. Tiba-tiba ia merasa berterima kasih atas penolakannya menjadi asisten voli bila gantinya mendapat tumpangan dari orang yang ia taksir. “Ya… makasih.”

Mereka naik satu motor. Yushi duduk di belakang, jaraknya sopan—setidaknya sampai motor mulai jalan. Jalanan agak rusak, dan tanpa sadar, Yushi megang jaket Riku.

“Oh—sorry,” katanya refleks.

“Pegangan aja,” jawab Riku tenang. “Daripada jatoh.”

Yushi nurut. Tangannya nyenggol pinggang Riku dikit. Jantungnya langsung ribut sendiri.

Di lampu merah, Riku ngomong lagi. “Lo kecewa?”

“Hm?”

“Soal klub voli.”

Yushi diem sebentar. Terus jujur. “Iya. Dikiiit.”

“Kenapa pengen banget sih?” tanya Riku, nada suaranya rendah.

Yushi ketawa kecil. “Karena… ada lo.”

Motor masih jalan pelan. Riku nggak nengok, tapi kupingnya jelas merah.

“Oh,” katanya singkat.

OH? Cuma jawab sesingkat itu? Entah mengapa, Yushi sangat kesal dan harapannya untuk disukai balik semakin turun.

“Rumah gue yang tembok keliling biru itu.” Ucap Yushi dengan masih bernada kesal.

Motor yang Riku kendarai berhenti, Yushi pun turun. Dengan wajah kesalnya, ia berkata.

“Makasih Riku, udah nganterin gue.”

“Hm.”

Tapi Riku masih juga belum pergi.

“Ada apa?” Yushi penasaran karena kakak kelasnya masih juga diam di sana.

“Lo kalau emang suka sama gue, bilang aja langsung, Yush. Gak usah daftar jadi asisten.”

“Ha –HAH?”

Riku terkekeh, “ya udah, daripada nunggu lo ngaku...” Siswa kelas 12 itu menaikkan satu tangannya dan ia letakkan di kepala Yushi yang sudah melepaskan helmnya, “lo mau jadi pacar gue? Permintaan khusus, nih. Gue belum pernah ungkapin kayak gini ke siapapun.”

“HAH?!”

“Hah..hoh..mulu.” Riku pun gemas hingga mencubit pipi gembil Yushi, lalu membelainya. “Besok gue jemput lo jam setengah 7. Dandan yang manis, ya?”

Setelah itu, Riku menyalakan mesin motornya. Sebelum pergi, dengan usil, ia menjawil hidung bangir Yushi dan pamit pergi.

“HAH?!” Lagi-lagi Yushi hanya berkata seperti itu. Ia masih tidak sadar meski Riku sudah pergi. Namun, detik berikutnya dia tersadar,

“....gue ditembak Riku? RIKU?!”

Dan Yushi menjerit heboh di depan gerbang rumahnya.

 

End