Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-01-12
Words:
1,063
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
19
Hits:
133

The Taste of You (and me)

Summary:

Liam dalam hidupnya, ga pernah berpikir Jack akan ninggalin dia.

Jack yang tanpa malu dan terang-terangan, mendeklarasikan cintanya untuk Liam.

 

or

 

My first LawHan angst. I AM SORRY.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Liam dalam hidupnya, ga pernah berpikir Jack akan ninggalin dia.

 

Jack yang tanpa malu dan terang-terangan, mendeklarasikan cintanya untuk Liam.

 

Jack yang udah jadi buntutnya dari jaman mereka masih TK. Terus ngintilin dia kemana-mana meskipun Liam suka pura-pura Jack ga ada. Liam masih inget Jack suka diem-diem pindah ke sebelahnya pas jam tidur siang. Jack dengan badan besar dan otaknya yang belum berkembang sempurna mikir kalo dia ngelakuin itu semua tanpa ketahuan guru dan ngebanguin Liam. Setengahnya adalah karena Liam emang selalu pura-pura tetep tidur pas tangan Jack narik selimutnya dan mainin jari-jarinya sampe dia sendiri ketiduran.

 

Jack yang untuk waktu yang lama, stay sebagai sahabatnya. Masuk ke SD yang sama, kelas yang sama, ekskul yang sama. Dan rengekan Jack setahun penuh ke Liam berbuah dengan mereka masuk lagi ke SMP yang sama. Beda kelas ga menghalangi Jack untuk tetep jadi teman terbaik Liam. Minjemin topinya pas upacara karena punya Liam ilang ga tau kemana. Nemenin Liam dan ekskul musiknya latihan sampe sekolah isinya cuma mereka. Ga peduli sesibuk apapun Jack sama ekskul dan teman-teman barunya sendiri, Liam tetap jadi prioritasnya. Privilage yang sering kali Liam abused untuk kepentingannya pribadinya.

 

Jack yang untuk waktu yang lebih lama lagi, setia jadi pacarnya. Pacar terbaik untuk semua mimpi cinta anak muda. Menurut Liam, ga banyak perbedaan antara temenan dan pacaran sama Jack. Jack tetap sama. Tetap perhatian, pengertian, tetep selalu ngeliatin Liam kaya Liam adalah manusia paling mempesona di dunia. Yang beda cuma Jack yang setiap hari selalu ngebuka hari Liam dengan chat “Good morning, Sayang. I love you so much.” Chat yang tetap datang meskipun Jack pernah marah besar karena prank childish Liam yang nyium pipi cowo lain di depannya. Chat yang selalu Liam terima tanpa gagal untuk bertahun-tahun lamanya.

 

Until one morning, there was no message waiting for Liam.

 

Tergantikan dengan sebuah telfon dari nomer yang Liam kenal, ngebawa kabar yang terlalu asing.

 

Liam ga terbiasa.

 

Biasanya Jack yang ngurus semuanya. Jack yang selalu tenang dan punya rencana untuk segalanya. Jack yang tetep senyum walaupun dunia seakan runtuh di sekitar mereka. Jack yang selalu ngingetin Liam kalo semuanya akan baik-baik aja. Jack yang selalu gitu-gitu aja, mencintai Liam tanpa pernah berubah ga peduli Liam kaya apa.

 

Liam terbiasa punya Jack yang ada di sisinya.

 

Liam terbiasa Jack berdiri di sebelahnya dan megang tangannya lembut, ngelus punggung tangan Liam pake jari jempolnya dengan gerakan konstan. Liam terbiasa Jack ada di sebelahnya, ngebisikin gosip-gosip ga penting atau jokes-jokes garing ke kupingnya. Liam terbiasa ngerasain pelukan beruang Jack yang sedikit terlalu kuat sampai paru-parunya kehabisan udara.

 

Liam terbiasa. Terbiasa nempelin badan telanjangnya ke punggung Jack yang lebar setiap malam. Terbiasa nikmatin ciuman panjang Jack yang berantakan. Terbiasa nyium oroma badan Jack yang keringetan. Liam terbiasa di tatap sepasang mata biru Jack yang terang.

 

Liam ga terbiasa ngeliat Jack ada di depannya.

 

Dua meter di depan kakinya, dan dua meter di bawah tanah.

 

Liam ga terbiasa.

 

Ga terbiasa ditinggal.

 

Ga terbiasa sendirian.

 

Liam ga terbiasa berduka.

 

Jadi jangan salahkan Liam kalo sekarang dia ga tau harus apa.

 

Puluhan pasang mata penuh air mata di sekelilingnya. Liam dalam hatinya, tau kalo dia juga harus nangis. Tapi air mata yang harusnya keluar dengan natural, entah kenapa menolak untuk jatoh dari kelopak matanya. Yang bisa Liam lakuin cuma berdiri dengan awkward. Dua tangan di dalam kantong celana. Ngeliatin gimana kotak kayu coklat berpernis, perlahan berubah jadi segundukan tanah berbunga.

 

Ngeliatin gimana setengah jiwanya, terkubur sendirian di dalam tanah.

 

Ninggalin Liam dan setengah jiwanya, hidup sendiran di atas tanah.

 

Ninggalin Liam dan dirinya, yang masih ga tau dia harus apa.

 

Satu per satu tangan ngeremes pundaknya pelan sebelum pergi. Banyak pelukan yang ga Liam balas. Banyak kata-kata yang Liam ga bisa denger apa. Puluhan muka silih berganti tanpa Liam bisa sadar mereka siapa. Perlahan, puluhan orang berubah jadi belasan. Dan perlahan berubah lagi jadi beberapa orang. Sampai akhirnya tinggal Liam sendirian. Masih dengan awkward berdiri di depan gundukan tanah yang katanya adalah rumah.

 

Liam masih ga tau harus apa.

 

Air mata masih menolak keluar dari matanya meskipun sekarang ga ada siapa-siapa selain dirinya. Kakinya masih menolak untuk pergi meskipun Liam ga tau udah berapa lama dia berdiri di sana. Tangannya masih mengepal di kantong celana. Masih ngeliatin rumah baru Jack seakan berharap penghuninya akan keluar kalo Liam berdiri cukup lama di depan pintunya.

 

Tapi Jack ga keluar dari rumah barunya selama apapun Liam berdiri di sana.

 

Liam dalam hatinya, tau kalo Jack ga akan pernah bangun lagi untuk selamanya.

 

Jack is dead.

 

Will always be dead for the rest of Liam’s life.

 

Liam tau kalo badan Jack yang ada di bawah sana, kaku, dingin dan sendirian. Liam tau kalo sepasang mata biru yang terpejam di bawah sana, ga akan pernah lagi ngeliatin dia dengan tatapan yang sama. Liam tau kalo jantung yang selama ini Jack selalu bilang isinya cuma Liam, ga lagi berdetak untuk selamanya. Liam tau, kalo Jacknya meninggal.

 

Liam tau kalo peti kayu di bawah sana akan lapuk setelah beberapa bulan. Liam tau kalo badan Jack akan membusuk perlahan. Liam tau kalo semua otot yang Jack latih bertahun-tahun, pada akhirnya akan cuma jadi makanan untuk sebuah ekosistem di bawah sana. Cacing, serangga, bakteri. Semua makhluk yang ga peduli kalo badan Jack yang mereka makan adalah sebagian dari jiwa Liam.

 

Liam dalam hatinya bertanya-tanya, apakah akan ada rasa Liam di badan Jack yang mereka makan.

 

Apakah tangan Jack akan terasa kaya tangan Liam. Apakah masih ada gambaran Liam di mata biru Jack yang mereka makan. Apakah otak Jack akan terasa manis karena ingatannya tentang Liam. Apakah akan ada rasa cinta Jack untuk Liam di jantung Jack yang mereka makan.

 

Apakah ada sisa-sisa diri Liam yang dibawa Jack terkubur di bawah sana. Just so Jack will never be alone.

 

Liam tau Jacknya akan perlahan hancur di bawah tanah. Ninggalin tulang belulang yang suatu saat nanti akan terlupakan.

 

Ninggalin Liam untuk hidup sendirian.

 

Ninggalin Liam dengan sisa-sisa cinta Jack yang akan Liam simpan dalam hatinya.

 

Sisa-sisa cinta Jack yang akan Liam jaga baik-baik untuk waktu yang lama. Berharap sisa-sisa cinta Jack di hatinya akan cukup untuk menggantikan kehadiran Jack di sisinya. Berharap sisa-sia cinta Jack di hatinya cukup untuk ngebuat Liam terbiasa hidup sendirian.

 

Sampai suatu hari tiba waktunya untuk Liam tidur sendiran di bawah tanah. Dan gilirannya datang untuk jadi makanan sebuah ekosistem di bawah sana. Liam berharap kalo semua makhluk yang akan jantungnya, bisa ngerasain sisa-sisa cinta Jack di dalamnya.

Notes:

Gue ke diri sendiri : Gue tuh ga bisa nulis angst LawHann!! Ga tega!!! Pengennya LawHan hepi-hepi aja ngews brutal tiap hari.

Gue : *nulis Jack mokad*

Maaf.