Work Text:
Sebagai pemilik kedai kopi, biasanya Cyno datang menjelang siang. Bukan karena ia telah melimpahkan semua pekerjaan di kafe pada karyawannya. Bukan. Melainkan karena ada beberapa hal penting yang harus ia lakukan di rumah, sebelum si jejaka berangkat bekerja. Menghadiri pertemuan daring dengan beberapa supplier kopi untuk kedai, contohnya.
Sebelas sampai sebelas tiga puluh, adalah waktu di mana Cyno biasanya datang di kedai kopi yang tak jauh dari rumahnya tersebut. Sebenarnya memang tak terlalu siang juga. Akan tetapi kebiasaannya menyelesaikan pekerjaan sebelum pergi, memang mengharuskannya tinggal di rumah untuk beberapa waktu.
Akan tetapi, kebiasaannya ini kini telah terganti dengan Cyno yang selalu datang pagi. Setiap hari. Tujuh tiga puluh sudah sampai, dan bersiap untuk membantu para karyawan di kedai dalam menyajikan minuman kopi yang telah diracik oleh Cyno sendiri. Kebiasaan si Tuan menghabiskan paginya di rumah, dengan kopi o di tangan juga sandwich sebagai pelengkap, kini seratus delapan puluh derajat berubah.
Tak ada lagi morning coffee, pertemuan daring dengan para supplier ia adakan di kafe. Cyno selalu datang pagi. Semua kebiasaannya berubah tepat ketika satu toko bunga, baru saja buka di seberang kedainya. Bukan pula karena Cyno suka sekali tumbuhan harum cantik jelita ini, sampai ia rela mengubah rutinitas hariannya.
Namun hadir dari sang pemilik toko bunga yang tak kalah cantiknya dengan kembang-kembang yang terpajang indah di etalase, yang menarik perhatiannya, membuat si Tuan tak keberatan untuk mengganti agendanya.
Lelaki, yang sepertinya, sepantarannya. Berambut hijau tua bermodel bob sedagu, dengan helai-helai hijau muda di poni, dan sisi depan rambutnya. Warnanya seakan selaras dengan tangkai-tangkai bunga yang ia jual. Selain itu juga, mata indah yang sewarna zamrud terlihat amat memesona.
Apalagi jika maniknya terkena pancaran hangat cahaya mentari pagi; membuat wajah si Tuan benar-benar berseri. Dan hal ini lah yang membuat Cyno selalu datang pagi.
Lelaki yang kemudian Cyno ketahui bernama Tighnari. Setelah tiga minggu toko bunga tersebut buka di seberang kedainya, akhirnya Cyno mencoba memperkenalkan diri dengan membawa segelas kopi kala ia bertandang sambil memperkenalkan diri.
“Hai gue Cyno, btw. Gue kerja di situ, tuh,” sapa si Tuan berambut perak panjang sembari menunjuk kedai kopinya menggunakan gerakan kepala. "Nih, anggap aja welcome drink. Hehe.” Sambungnya sembari menyodorkan segelas kopi.
Tetapi, sapaan hangat yang Cyno beri, yang tak mendapatkan ramah sebagai balasan dari lawan bicaranya yang memandangi si Tuan dengan tatapan sarat akan rasa heran. "Mengapa lelaki asing ini repot-repot berada di sini?” Begitu pikir Tighnari
"Tighnari. Thanks, ya” jawab si empunya toko bunga. Singkat. Ia ambil gelas kopi pemberian tamunya, kemudian ia letakkan di meja kecil tak jauh dari tempat mereka berdiri. "Now, if you let me…." Lanjut Tighnari lagi. Mengisyaratkan bahwa dirinya ingin melanjutkan tugasnya membereskan toko.
“Oh silakan, silakan,” Cyno seakan mengerti kalimat Tighnari. “I'll be a good boy, kok. Gak akan ganggu. Hehehe.” Lanjut si Tuan lagi.
Hijau mata Tighnari menggelap melihat Cyno yang tak bergerak dari tempatnya, walaupun dirinya sudah memberikan gesture halus agar tamunya ini beranjak pergi. Bimbang sorot matanya tertuju pada Cyno yang tersenyum pada si empunya toko bunga, yang melanjutkan kesibukannya berkemas.
Tak masalah sebenarnya, toh Tighnari pun masih mempersiapkan kelengkapan toko. Menata bunga amarilis di pot atas, menaruh tulip di sebelahnya, kemudian meletakkan vas-vas kosong di bagian bawah rak yang atasnya penuh diisi kembang. Masih banyak yang harus ia kerjakan sampai semuanya siap.
Akan tetapi untuk seseorang yang kerap bekerja seorang diri– bahkan Tighnari pun merangkai tiap permintaan karangan bunga yang datang olehnya sendiri –hadir lelaki yang mengaku bekerja di kedai kopi seberang, sungguh mengusik fokusnya.
Walau ketika bertandang memang Cyno banyak diam di pojokan, namun gurauan yang sesekali ia lontarkan kerap membuat Tighnari ingin melemparkan vas bunga pada tamunya; jika saja ia tak sayang dengan tanaman cantik yang berada di dalamnya.
Seperti pagi itu. Cyno datang seperti biasa menyapa Tighnari, sembari membawa minuman kopi dengan racikan baru, untuk menu yang akan di-launching bulan depan, begitu kata si Tuan. Di lain sisi Tighnari biasa saja sebenarnya, karena ia pun menyukai minuman kreasi kopi yang kerap Cyno bawa untuknya.
“Gue punya tebakan!" Kata Cyno, tiba-tiba.
“Oh not again." Ada penekanan di kata terakhirnya yang Tighnari sebutkan, seolah dia telah bosan mendengar tebak-tebakan yang dilayangkan Cyno.
Tapi dirinya tak menolak. Tighnari yang tengah merapikan daun-daun yang menguning, memotong dahan kecilnya agar bunga miliknya tetap sedap dipandang mata, membiarkan Cyno mengeluarkan stok teka-teki garing miliknya.
“Coba tebak kenapa air mata warnanya bening?" Sambil bertanya, Cyno menyengir lebar.
Tighnari baru saja akan menjelaskan dengan runut ketika ia dapatkan pertanyaan normal tersebut. Namun kemudian dia ingat dengan siapa dirinya berbincang, maka kemudian si manik zamrud ini langsung mengurungkan niatnya, dan membiarkan Cyno bermain dengan permainannya sendiri.
"Nyeraaah?” Tanya Cyno dengan senyum penuh kemenangan terlukis di wajahnya. "Nyerah, gak?”
"Iya, iya.”
"Karena kalau ijo, namanya air matcha! Hahahaha!" Tawa Cyno menggema di toko bunga milik Tighnari yang masih sepi.
Tawa yang membuat si empu tempatnya ingin segera mengusir sang tamu beserta tebak-tebakan yang tak lucu itu. Jujur Tighnari sudah malas mendengarnya, bosan ia. Tapi kala dilihatnya Cyno yang terbahak-bahak oleh leluconnya sendiri, tak pelak Tighnari tersenyum juga. "Bisa-bisanya dia tertawa dengan jokes garingnya itu,” pikir si manik zamrud.
“Lucu kan? Lucu kaaaan?!"
“Garing banget. Males."
“Tapi gue liat lo senyum loh tadiiii!"
“Ya bukan karena lucu." Bantah Tighnari.
“Udah ngaku ajaaa," Cyno memaksa. "Gue yakin deep down lo suka sama jokes gue?”
"Dih, siapa bilang?”
"Buktinya,” Cyno melanjutkan. Kali ini menatap Tighnari dengan mata ambernya yang hangat. "Selama tiga bulan ini gak ada tuh lo ngusir gue.”
"Kasian aja sama lo. Udah ah sana gue masih mau merangkai bunga, ada orderan. Lo juga harus kerja, kan?”
"Padahal tinggal ngaku aja gue lucu. Hahaha. Oke oke gue balik kerja dulu, ya!”
Kemudian Cyno kembali ke kedai kopi di seberang toko bunga Tighnari. Meninggalkan si Tuan sendiri dengan pikiran yang melanglang buana pada fakta yang baru saja diberikan Cyno ke depan matanya.
Karena benar kata si pemilik kedai kopi, selama tiga bulan ini tak pernah sekalipun Tighnari protes pada hadirnya. Pada gurauan-gurauan si jejaka yang terdengar tak lucu, dan tak masuk akal. Tighnari selalu meladeni. Bahkan ketika candaan Cyno sudah tak tertolong lagi garingnya, Tighnari tetap membukakan pintu toko bunganya bagi si Tuan.
Dirinya ingat, beberapa waktu ketika bunga-bunga segar baru datang untuk mengisi stok di tokonya yang sedang kosong. Saat itu Tighnari tengah sendiri karena Collei– karyawan tunggal yang membantunya –tak masuk kerja, karena sedang tak nyaman badan.
Seperti biasa, di jam sepuluh pagi Cyno mendatanginya seolah si jejaka tak memiliki sesuatu yang harus dikerjakan di kedainya. Tighnari yang kala itu sedang kepayahan menata banyaknya bingkisan bunga, seketika saja berkata, “aku lagi sibuk ya, jangan diganggu dulu sama jokes kamu itu."
Tak ada jawaban, Cyno hanya tertawa mendapati peringatan Tighnari yang langsung ke inti. "Oke oke, apanih yang bisa gue bantu?” Tanya si tamu seraya mendekati Tighnari yang sedang membuka bungkusan besar bunga gerbera.
“Thanks but it's okay, gue aja. Udah biasa, kok kerja sendiri."
“Hmmm, oke. Takut juga gue bunganya rusak."
“Nah itu tau."
“Yeee. Hahaha. Eh, btw," Cyno terus saja mengoceh, bahkan ketika dilihatnya Tighnari masih sibuk membereskan kertas-kertas yang sebelumnya dipergunakan untuk membungkus bunga. “Gue liat-liat gak pernah ada bunga teratai deh, mau di toko bunga mana pun.”
"Ya menurut lo aja, Cynoooo,” nada suara Tighnari meninggi. Geram ia dengan pemikiran teman mengobrolnya yang, menurutnya, ada-ada saja. “Gak cocok lah. Biasanya teratai tuh paling dipake untuk tanaman hias, bukan buat karangan bunga gini."
“Ya kan siapa tau mau beda dari yang lain, gitu." Cyno tertawa melihat ekspresi Tighnari yang malas, ketika mendengar jawaban dirinya yang asal saja. “Menurut lo, apa bunga paling bagus buat dijadiin bouquet?"
“Tergantung kebutuhan, sebenernya. Karena tiap customer, order-nya beda-beda. Tapi biasanya kalau mereka mau yang tahan lama, gue akan recommend carnations. Yang itu, tuh,” jelas Tighnari sambil menunjuk rak ujung, tempat vas berisi carnation merah berada.
"Oooh–” Cyno mengangguk-angguk pada tiap penjelasan yang diberikan sang florist.
“Tapi yang paling banyak di-request tuh tulip, mawar, sama peony. Yang terakhir ini susah, sih. Ini aja gak dateng dari supplier gue yang biasa karena barangnya lagi gak ada." Tighnari lanjut menjabarkan tentang kembang-kembang yang biasanya ada di tokonya pada Cyno, sembari membereskan tangkai-tangkai yang ujungnya ia potong sesenti.
"Paling kalau besok Collei masuk, gue bakal cari ke tempat lain.” Sambung Tighnari lagi.
"Eh gue ikut dooong! Penasaran nih gue jadinya sama proses perbungaan ini!”
“Gak," jawab Tighnari tegas.
“Pleaseee?”
“Gak, ya, No. Lagian emang lo gak kerja apa besok?"
Cyno merengut mendengar penolakan Tighnari yang tanpa basa-basi. Walau jika boleh dikata, ada benarnya juga semua yang diucapkan si manik zamrud. Tetapi bukan Cyno namanya jika ia tak memiliki ide yang nyeleneh.
“Oke kalau gitu,” tiba-tiba Cyno berkata. "Gue request pohon venus flytrap, deh."
Permintaan yang sebenarnya sederhana, tapi sukses membuat Tighnari mengomel lantaran apa yang dipesan Cyno bukanlah sesuatu yang akan ada di tempat yang si manik zamrud tuju.
“No, gue florist, bukan botanist? Dapet di mana gue itu tumbuhan karnivora?”
"Ya udah, gue ikut kalau gitu sekalian nyari.”
"Gak. Ya udah, iya, gue cariin!” Tighnari akhirnya mengalah pada permintaan Cyno.
***
Hari berganti. Toko bunga milik Tighnari tak buka seharian. Hanya ada lampu jalan yang belum dimatikan. Akan tetapi, di toko kopi seberang, Cyno bolak-balik menatap seberang dengan perasaan gulana; menunggu kepulangan lelaki yang beberapa waktu ini mengisi harinya.
Jika boleh jujur, Cyno tak berencana untuk menyusahkan si manik zamrud dengan meminta carikan venus flytrap. Tetapi ketika dilihatnya bagaimana Tighnari begitu bersemangat dalam menjelaskan hal-hal yang ia suka, hati kecilnya ingin memberikan sedikit tantangan pada si Tuan.
Maka ketika keesokan harinya dilihatnya toko bunga milik Tighnari sudah kembali beroperasi, tanpa berpikir panjang Cyno langsung bergegas menuju ke seberang demi menagih permintaannya. “Ada, gak? Ada, dooong!" Datang-datang, si jejaka berkulit gelap ini langsung menodong.
"Ada, tapi susah nyarinya karena gue jarang beli ginian. Nih!” Tighnari langsung memberikan tumbuhan pemangsa ini pada Cyno.
“Thank you udah repot-repot nyariin."
Di hadapan Cyno, Tighnari hanya berdiam diri, tak menjawab sama sekali. Tetapi terlukis jelas di wajahnya ekspresi yang kira-kira berbunyi, "nah itu tau gue repot.”
Ekspresi yang tak pelak membuat Cyno tertawa. Sebab menggemaskan menurutnya bagaimana Tighnari menggerutu, namun dirinya tetap mencarikan permintaan Cyno yang asal.
“Nih," kata si manik amber sembari menyorongkan tumbuhan venus flytrap, kembali pada Tighnari. “Buat lo. Ngingetin sama lo, soalnya. Hehehe."
“Ha? Gimana maksudnya?” Sang florist kebingungan dengan apa yang dikatakan Cyno barusan. “Maksud lo, gue mirip venus flytrap ini?! Gue?" Tighnari mengulang kalimat Cyno dengan nada yang tinggi.
Sedikit tak terima ia disamakan dengan tanaman karnivora pemakan serangga yang berasal dari pantai timur Amerika Serikat ini.
"Yeah, because your presence traps my whole attention,” jawab Cyno. Singkat, padat.
Jawaban yang membuat emosi Tighnari yang hampir meroket, seketika saja teredam oleh kalimat gombal murahan yang dilayangkan Cyno padanya. Kalimat yang sepertinya si jejaka keluarkan, tanpa proses berpikir terlebih dahulu
Kalimat gombal, yang entah bagaimana membuat kulit pipi Tighnari memanas. Merah wajahnya, bahkan sampai ke telinga, tatkala mendengar kalimat Cyno barusan. Dirinya yang biasanya selalu punya penangkal bagian kalimat Cyno yang asal, kini terbungkam; tak mampu menjawab sama sekali.
Di lain sisi, Cyno tersenyum kala melihat reaksi Tighnari yang di luar perkiraannya. Tadinya ia sangka bahwa dirinya akan mendapatkan ceramah dari Tighnari untuk berhenti mengada-ada.
Akan tetapi kala dilihatnya si perangkai bunga tak bisa lagi berkata-kata, Cyno merasa mendapatkan lampu hijau untuk mendekati Tighnari; yang sampai sekarang masih terdiam, dan memandangi venus flytrap yang Cyno beri.
“Gue harus balik ke kafe, udah kelamaan ninggalin anak-anak. Mereka pasti mau istirahat,” akhirnya setelah beberapa waktu berlalu dengan keheningan yang syahdu, Cyno kembali membuka suara. “Kapan-kapan mampir dong ke kedai, lo belum pernah sama sekali loh ke sana.”
“Oke," jawab Tighnari singkat. Dirinya masih mencoba memproses perkataan Cyno. "Nanti gue mampir.”
"Oke.” Kemudian Cyno berlalu, meninggalkan Tighnari yang termenung sendiri.
Dalam keterkejutannya si manik zamrud masih mencoba menerjemahkan maksud kalimat, juga venus flytrap, yang Cyno berikan padanya. Tak terasa pipinya mengembang sempurna kala Tighnari ingat, bagaimana terlihat seriusnya Cyno dengan pernyataannya yang ambigu. Ya, mungkin ia memang sesekali harus mampir. Berbincang sembari meminum segelas kopi dengan ditemani hadir sang pemilik kedai.
***
"Halo, aku mau pesan Eden coffee ya,” pesan Tighnari di kasir kedai kopi milik Cyno.
Namun sepertinya si empunya kafe sedang tak berada di tempat, lantaran presensinya tak tampak sama sekali di manik Tighnari; yang dari tadi diam-diam mencari hadir Cyno di sana.
"Halo, maaf kak tapi untuk pesanan yang kakak sebutkan, gak ada di menu, kak,” jawab salah satu pegawai yang bertugas mencatat pesanan yang masuk.
Keduanya kebingungan, namun tak lama karena Tighnari langsung memesan signature menu kedai kopi milik Cyno tersebut. “So is it a set up? Now, who's trapping who.” batin Tighnari.
Setelah memesan, dirinya memilih untuk duduk di salah satu bangku single yang menghadap ke jalan. Pikirannya melanglang buana pada kemungkinan, selama ini bukan dirinya yang menjebak Cyno; atau seperti itulah yang si manik amber katakan padanya beberapa hari lalu.
Akan tetapi Cyno lah yang mendekat, lalu kemudian memerangkap Tighnari yang lengah. Ya, mungkin saja begitu. Yang Tighnari tahu, dirinya tak keberatan dengan hadir Cyno di hidupnya yang begitu-begitu saja.
