Work Text:
Menuju perjalanan pulang dari gereja menuju rumah, Anton yang duduk di kursi belakang mobil bagian kiri mengadah menghadap langit dan merenungkan firman yang dibagikan pagi hari tadi. Tiap kalimat dan tiap kata ia ulang-ulang di dalam pikirannya. Rasa-rasanya otak Anton itu penuh sekali. Penuh akan Sohee.
Oh, have we already reached the part where Anton introduce who Sohee is? Bagi dirinya, Sohee itu satu-satunya malaikat yang ada di bumi. Bagi dirinya, Sohee itu seperti cat putih yang menghiasi tiap-tiap lukisan. Bagi dirinya, Sohee itu manisan yang mahal sekali harganya. Bagi dirinya, Sohee itu seperti lampu terang di tengah gelapnya hutan. Bagi Anton, Sohee itu penyelamat. Penyelamat, ya...? Kata itu sangat familiar bagi Anton. Dirinya sering membaca kata itu di dalam buku tebal yang biasanya berwarna hitam dengan tali penanda berwarna merah dan biru.
Terkadang, Anton harus mencubit lengannya sendiri sampai menjadi ungu untuk mengingatkan bahwa dirinya itu hidup dan ada. Karena mungkin saja, Tuhan akan berbaik hati untuk menghanguskan dia saat itu juga. Menurutnya, lebih baik seperti itu.
Mobilnya sudah terparkir rapih di depan halaman rumahnya. Tanpa menunggu lebih lama, dia keluar dari mobil dan membantu membawakan jajanan yang baru saja dibeli keluarganya selama perjalanan pulang dan langsung masuk ke kamarnya.
Hari-hari seperti ini udah biasa untuk Anton. That's just how his day went, you know. Terkadang Anton berusaha untuk mengubah harinya menjadi luar biasa. Mungkin untuk itulah Sohee diciptakan di tahun yang berdekatan dengan dirinya.
Jadi dia membuka HPnya dan langsung menidurkan dirinya di atas kasur. Hal pertama yang dilihatnya adalah aplikasi berwarna hijau muda, so he opened it.
Bang Sohi
+5 unread messages
lu lama banget dah balas chat gw
mentang-mentang minggu jadi bangun lama
Eh sorry bang, gua habis
pulang dari gereja
EH MAAF TON
SUMPSAAH
Wkwkwk aman kok
Jadi gimana ngedate sama Jiwoo?
He's not that forgetful.
Because Sohee always talks
about everything, including about today.
Or he just wants to talk to Sohee, that's all.
GIMANA YA GWWW JELASINNYAA
sumpah dia tuh imutbangetttt anjir
kayak........
You
*Delete for everyone*
hah
lu ngirim apa ton?
Eh enggaak, salah kirim bang
ohh kirain apa
tadi gw habis liat galeri lagi hehehdhehehshe
*Send a photo*
ini gw tadi fotoin dia ala instagram cantik
*Send a photo*
KAPANLG COBA GW SELCA BERDUA SM MY CANTIK JIWOO GW :33
*Send a video*
kami jg bikin trend im not cute anymore ton >__<
SUMPAH IMUTBGT JIRRRKECIL GT DIA
apa gw hap aja ya next date......
Anton didn't know what was going on, but he was supposed to be happy too, right? This is his bestfriend we're talking about. Sohee. Going on a date. With HIS CRUSH. But why, out of all the photos Sohee sent, did he immediately zoom in on Sohee's face? As a real man, shouldn't he also say that Jiwoo is beautiful too...?
But that would be lying to himself. Because Sohee is the prettiest thing on earth.
But hey, next date?
Anjir udah next date next date aja lu bang
Emangnya ceweklu gimana
*Reply to a photo*
Btw imut dah
YAKKKNNNNNN emang jiwoo terimut
ehLU JGN DEKETIN JIWOO YA TON
plsplspsl gwtau lu ganteng tapi..
NANTIGW CARIIN DEH SIAPATAU jiwoo punya temen cewek yg tipe lu bgt
Anton never mentioned names.
But know it was never the girl.
btwww iyaaaa
jiwoo said she would think about it
do u think she will
like
u know
;)
Of course
I think you're a good partner, bang
I mean
Think you guys are perfect for eachother
Dan gua rasa juga lu imut
HAH
EH
BAMG
Maksud gua, kalian berdua imut kalo bareng
Gitu
oooooh
KAGET GWLHO TON
WKWKWKWK maaf bang
gapapaaa
makasih ya ton udah dengerin
besok ketemu yok
pgn cerita lgsng deh gw
Boleeh bang
Di kafe yang pernah bareng anak-anak aja ya bang
Nanti gua jemput
ANJAY
bolehtuh
your gf must be lucky pacarnya dh persiapan gini cuk
Bisa aja bang
See you :)
Read
And so, Anton turned off his phone and took some time to sit quietly facing the wall of his room. Bingung dengan apa yang akan dilakukannya setelah ini. Lalu suara itu terdengar. Suara yang sudah bertahun-tahun lahir di dalam rumahnya ini.
"MAKANYA KALO ADA APA-APA TUH BILANG. KOMUNIKASIIN. KALO BEGINI KAN JADI SUSAH?!"
"Tadi udah dibilangin lewat WA pah,"
"MAKANYA TELFON, SEMUA JADI SALAHKU KALO UDAH BEGINI. DENGERIN GAK SIH FIRMAN YANG DISAMPAIKAN TADI? SAMA ORANGTUA TUH JANGAN NGELAWAN. MASIH JADI ANAK AJA BANYAK TINGKAH,"
Rasa-rasanya Anton ingin tertawa paling kencang saat itu juga kalau tidak ingat bahwa hal itu malah akan memperburuk keadaan yang ada. Dia menghirup nafas dan menghembusnya dengan panjang. Lelah dengan semua perkara ini. Lebih baik dia membersihkan badan dan tiduran saja sambil menunggu hari esok. Dalam hatinya, dia berdoa agar besok menjadi hari yang well, setidaknya melegakan untuk sehari saja. Karena dia akan bertemu dengan penyelamatnya. Pertanyaannya adalah; apakah Sohee bersedia untuk menyelamatkannya?
. . . . . .
Hari esok sudah berada di depan matanya. Sekarang Anton sedang menyiapkan pakaian terbaik yang dia miliki–yang dia harap akan membuat Sohee terpukau–dan mengenakannya dengan tergesa-tesa. Bukan karena terlambat. Jauh dari itu malah. Jam di dinding menunjukkan bahwa dia lebih cepat satu setengah jam dari waktu yang sudah ditentukan sebelum dia menjemput Sohee. Aduh. Apa ini ya yang dirasakan Sohee saat dia akan menjemput... siapa lagi namanya? Ah Anton mana peduli. Senyuman lebar terpaut di wajahnya saat ini sambil membuat gambaran bagaimana dirinya jika bisa mengajak Sohee untuk ngedate. Literal. Date. Mungkin Anton akan mengecup tangan cantik itu terlebih dahulu lalu membukakan pintu mobil untuk Sohee. Atau mungkin Anton akan langsung bersimpuh dihadapan Sohee ya? Dirapalkannya banyak doa tanpa penerima itu, biarlah ini menjadi bisik-bisik harapan antara Anton dan angin yang membawanya pergi.
Setelah bersiap-siap, Anton keluar dari kamarnya untuk makan. Hal pertama yang dilihatnya adalah meja makan yang kosong. Bukan isi mejanya, tetapi kursi-kursi yang tidak diduduki siapapun. Ia mendengus dan menarik satu kursi untuk didudukinya. Anton membuka tudung saji berwarna merah itu dan meletakannya di sebelah kanan meja. Ia mengambil piring dan sendok lalu menyendok nasi ke atas piringnya. Nggak banyak-banyak, kan nanti masih mau makan sama Sohee.
"Waduh, cakep banget ini anak mama, mau kemana Ton?" suara dari belakang sedikit mengagetinya karena suasana yang terlalu sepi. Dia melihat ke arah mamanya dan tersenyum kecil, "Mau main sama Sohee aja ma," katanya sambil mengambil lauk dan mulai melipat tangan untuk berdoa sebelum makan.
"Ganteng banget sih anak mama ini kalo lagi berdoa gitu," ucap mamanya saat Anton telah selesai mengucap doa di dalam hatinya. Anton hanya tersenyum kecil, kecut. Do they know that it's not just a prayer before eating? Anton hope they don't. "Emangnya kamu mau main kemana sama Sohee?" lanjut mamanya. "Yaa, nggak kemana-mana sih ma, cuma ke kafe aja soalnya bang Sohee mau ceritain sesuatu," jawabnya pelan-pelan.
Mamanya yang mendengar itu menjadi semakin kepo dan ikut duduk di sebelah Anton yang masih melanjutkan makannya. "Emang Sohee lagi ada apa Ton?" tanya mamanya dengan kursi yang ditarikkan lebih dekat ke arah Anton. Dirinya yang melihat itu menelan makanan yang dimulutnya dan menjawab, "Mau ceritain tentang ceweknya sih ma katanya, kemarin mereka habis ngedate soalnya," mata mama Anton yang mendengar itu seolah berbinar-binar. She knows Sohee, a lot. He was her son's best friend, how could she forget him?
Sohee bukanlah sekedar teman biasa bagi Anton, hey, mereka sudah berteman sejak kecil. Orangtua Anton mengenali orangtua Sohee dengan baik, begitupula sebaliknya. "Tuh, Sohee aja udah bisa dapet cewek loh, kamu kapan Ton?" tanya mamanya dengan nada bercanda. But not with Anton... or he's just too sensitive?
Dadanya serasa sesak sekali, dan dia tau bahwa yang mengenali rasa sakit ini cuma dirinya seorang. Atau ada orang lain diluar sana yang membawa beban dengan berat yang setakar dengannya? Anton ingin tahu sekali, karena dia lahir dengan rasa keingintahuan yang besar.
Anton tersenyum dengan tenang dan berkata dengan lembut, "Haha gatau sih ma, doain ya siapa tau habis bang Sohee, Anton bisa dapet juga," setelah itu tangan terangkat keatas kepalanya dan mengusap rambutnya dengan lembut. Lembut sekali sampai rasanya dia ingin menangis.
"Amen, Ton. Semoga kamu bertemu dengan perempuan yang mencintai kamu apa adanya dan bisa hidup lebih baik dari kami," that's a prayer right there. Anton knows it. Anton ingin menangis karena Anton tau, he won't be able to grant it. Apa ya yang dirangkai salah dari dirinya saat dia akan dilahirkan di dunia ini? Sungguh, setiap hari sebelum dia memasuki alam mimpi, dia selalu bertanya kepada atap langit, apa Tuhan menciptakannya dengan tanah yang berbeda? Kalau iya, dicampur oleh apa tanah itu? Kenapa Anton hanya satu-satunya yang berbeda di dalam keluarganya, di dalam lingkungannya. Apakah Anton masih bisa kembali menjadi debu saat dia mati nanti? Atau dia akan dijadikan uap yang tidak memiliki tempat untuk tinggal dan melayang-layang di udara?
Anton melihat ke arah jam dinding dan tersentak, hampir saja dia lupa untuk menjemput Sohee karena pikirannya yang sedang beranak-pinak. Anton pelan-pelan memundurkan kursi dan berjalan ke arah tempat cuci piring untuk mencuci bekas piring yang dipakainya. "Ma, Anton pergi dulu ya buat jemput bang Sohee. Takut nanti malah macet di jalan," such a liar. Dia tau di jam segini adalah waktu dimana orang-orang enggan untuk keluar. "Oh iya, hati-hati ya kamu bawa Soheenya nanti Ton. God bless you," he hopes that too.
Anton berjalan menuju pintu untuk keluar dan membuka mobil lalu menghidupkan mobilnya sebentar dan menyambungkan handphone ke radio mobilnya.
I don't believe in God,
but I believe that you're my savior.
My mom says that she's worried,
but I'm covered in His favor.
Anton cuma berharap semoga hari ini bukanlah hari kematiannya karena Anton masih ingin melihat wajah Sohee setiap harinya. Setiap detik hidupnya.
Lalu Anton melaju menuju rumah Sohee yang jalannya sudah dihafal luar kepala. Tin-tin! Anton mengklakson mobilnya agar Sohee tau bahwa dia sudah tiba. Dilihatnya pintu rumah di depannya terbuka dengan Sohee yang memakai outfit kesukaannya. Kecil sekali... Anton mana sanggup kalau harus berduaan seperti ini.
Anton keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah pintu mobil sebelah kiri. Sohee yang melihat itu menaikkan alisnya saat dia berada di depan Anton. "Lu kira gue cowok apaan Ton," katanya dengan nada bercanda. "Thank you, bro! Yuk cepetan, gue udah gak sabar hehe," ucap Sohee sambil meraih gagang pintu dan menutup pintunya. Anton hanya tersenyum kecil karena belum sempat menjawab ucapan Sohee dan kembali ke tempat duduknya lalu mulai mengemudi.
Sohee melirik ke arah Anton, "Ton, lu kok rapih banget anjir? Bandingin sama gue coba," ucapnya dengan tangannya yang bergerak dari atas sampai bawah, memperlihatkan apa yang sedang dikenakannya. "Haha, namanya juga mau keluar bareng lu bang. Masa iya gua awur-awuran? Lagian lu cakep juga kok bang pakai outfit gitu, cocok," balas Anton dengan nada halus. "Emang ya lu se-boyfriendable itu anjir. Untung Jiwoo ketemunya sama gue duluan bukan lu. Eh– tapi lu mau gak kalo gue kenalin nanti? Siapa tau dapet yang cocok ya kan? Jadinya double date deh ntar," ucap Sohee, tanpa tau senyuman Anton yang perlahan luntur dari wajahnya.
He wished it were you, Sohee. No one else but you. Screw that double dates or whatever they are. Anton will give up heaven just for you, Sohee.
Perlahan, tangan Anton mencengkram kemudi mobil. Menajiskan semua hal yang tertimpa padanya. Mengutuk semua perasaannya yang tidak akan didengar oleh dunia. Menuding langit biru yang indah itu dengan segala keburukan yang didapatnya selama masih berpijak di tanah ini. "Eh, udah deket Ton, itu nanti di bagian kiri ya masuknya," kata Sohee memecah segala isi pikiran Anton.
Anton menyalakan sein kiri dan memperlambat laju mobilnya lalu memutar setir ke arah kiri dan perlahan memakirkan mobilnya. Anton mematikan mesin mobilnya, "Dah nyampe bang, yuk," ucapnya ke Sohee. "Yukk," sahut Sohee sambil keluar dari mobil. Mereka berdua memasuki kafe dan mengambil tempat duduk yang dekat dengan jendela. Their favorite spot. Biasanya mereka akan mengada-ngada cerita tentang orang asing yang lewat di depan kaca kafe itu.
Anton memesankan minuman yang sering dipesan Sohee di kafe ini untuk dirinya dan Sohee. "Makasih ya Ton, lu udah mau gue ajak nongkrong gini. Padahal lu tau cerita gue gak sepenting itu hehe," ucap Sohee pertama kali. "Lah gapapa bang, gua juga lagi free kok hari ini. Jadi gimana?" tanya Anton, pretending he doesn't know what Sohee is going to say. "Yaa gitu sih kayak yang gue ceritain di chat aja. Tapi gue bingung, takut gue gak cukup buat Jiwoo deh...menurut lu gimana?"
Menurut Anton, harusnya dirinya tidak lahir menjadi laki-laki.
"Tapi Jiwoonya juga udah punya pikiran bakal ada date selanjutnya kan bang? Seharusnya dia gak mikir lu gak cukup lah. Cewek mah langsung cut kalo emang dianya merasa bukan lu orangnya," jawab Anton demi meneguhkan perasaan Sohee. He's the sweetest, how could he think of himself that way? "Yaa iya sih ya... tapi kayak, gue harap gue bisa jadi yang terbaik buat dia. Soalnya, Jiwoo kayaknya juga masih agak takut-takut buka hati deh gue denger dari temennya. Semoga gue bisa jaga dia baik-baik, Amen," Amen, Sohee.
Pesanan mereka sudah datang dan mereka mulai berganti ke topik-topik baru sambil mengingat-ngingat masa lalu. Hal yang paling Anton benci, kecuali kalau ada Sohee di dalamnya. Sampai pada akhirnya, "Tapi lucu juga ya Ton kalau diingat-ingat? Kita temenan dari jaman kapan anjir, dari dulu kita suka pinjem-pinjeman baju sampe sekarang... ya gue masih suka pinjem baju lu sih hehe," ucap Sohee sambil cengengesan. "Tapi bedanya lu makin kecil bang, jadi disini siapa ya yang lebih muda?" iseng Anton. "HUSH NGAWUR DEH, mentang-mentang gue gak tumbuh sebesar lu bukan berarti lu bisa ngomong gitu ya!" ujar Sohee kesal sambil memanyunkan bibirnya. "HAHAHA gemes banget lu bang kayak anak kecil," ucap Anton dengan tangan yang reflek mengacak-acak rambut Sohee. Gemas sekali. Si Jiwoo Jiwoo itu mana bis–
"Loh, kak Sohee?" terdengar suara seorang perempuan dari belakang Anton. Ketika dilihatnya ke arah belakang, perempuan itu menunjuk Sohee dengan wajah kaget. "LOH JIWOO?" seru Sohee tak kalah kaget. Anton melihat mereka berdua bergantian and felt himself slowly fading away amid it all. As if the black hole dragging him back by force, no matter how hard he willed himself to stay.
"Oh! Halo juga kak Anton!" sapa Jiwoo dengan senyuman lembut di wajahnya. "Hai, Jiwoo," balas Anton. "Jiwoo, kamu lagi ngapain disini?" tanya Sohee kepo. "Aku lagi nyobain photobooth baru disini kak. Kata temenku, framenya bagus-bagus dan mereka juga punya props yang lucu!" jawab Jiwoo dengan antusias.
Oh...
"Loh, aku baru disini ada photobooth? Padahal aku sama Anton udah lama suka kesini. Dimana sih emang Ji?" tanya Sohee. "Ada di bagian agak belakang kak. Kalau mau, nanti aku tunjukkin," jawab Jiwoo sambil merapihkan poni depannya. "Eh– kamu lagi nggak kemana-mana kan ya Ji?" tanya Sohee sambil berdiri dan berjalan pelan ke arah Jiwoo. "Enggak kok, kak Sohee. Kebetulan lagi gaada apa-apa setelah ini," jawabnya. "Gimana kalo kamu nyobain photoboothnya bareng aku aja? Aku ini photogenic lho," ucap Sohee dengan wajah percaya dirinya.
Oh.
"Sok pede mulu nih, kak Sohee! Padahal kakak yang beruntung karena bisa foto bareng aku," ucap Jiwoo tak mau kalah. "Such an honor to take a photo with you, princess Jiwoo," ucap Sohee sambil mengulurkan tangannya, seolah-olah dia adalah seorang pangeran. "Oke, aku terima tawarannya, prince Sohee," ucap Jiwoo yang menerima tangan Sohee dengan senyuman di wajahnya.
Sohee yang melihat hal itu langsung merasa kegirangan dan mendekatkan dirinya kepada Anton dan berbisik, "Pulang duluan aja ya Ton, kayaknya habis ini mau–" belum selesai memberitahu bahwa sepertinya sehabis photobooth, dia dan Jiwoo akan melancarkan their second date, tiba-tiba tangan Sohee ditarik oleh Jiwoo. Sohee agak tercampak ke depan tapi langsung mensejajarkan langkahnya dengan Jiwoo. Lalu dia menengok ke arah belakang lagi, ke arah Anton, dan mengedip-ngedipkan matanya, seolah Anton paham apa yang sedang dikodekannya. Tentu Anton paham.
Dilihatnya Sohee dan Jiwoo yang menghilang dari pandangannya dengan dirinya yang kembali melihat ke arah mejanya. Anton sudah membayar semua pesanan mereka sebelumnya, jadi setelah kejadian itu, dia langsung berdiri, keluar, dan menghidupkan mobilnya.
Tuhan itu adil kepada siapa, sih?
Anton tidak langsung pulang ke rumahnya. Memangnya dimana itu? Bertahun-tahun dia berjalan tanpa rumah, bertahun-tahun dia habiskan untuk tetap hidup dengan tenggorokan yang dililiti kawat, bertahun-tahun dia berikan dirinya untuk hidup berdasarkan firman Tuhan but it never get him anywhere. Where do even God plans work for him?
Sedari kecil, dia sudah melayani Tuhan, mengikuti semua pelayanan yang bisa dia jalani untuk (yang dia pikir) bisa lebih dekat dengan Tuhan. Untuk membisikkan banyak keluh kesah tentang hidupnya yang membuatnya selalu terjebak di masa lalu. Tentang dirinya, tentang orangtuanya yang memaksa dirinya untuk mengikuti pelayanan di gereja. Seharusnya Tuhan mau berikan sedikit waktuNya untuk mendengarkan Anton, kan? Setidaknya, untuk 5 menit saja. Anton bukan orang yang gagap jika ada seseorang yang menyuruhnya cerita. Dia bisa jelaskan semua yang ingin dia jelaskan saat itu juga.
Harusnya, Tuhan bisa berikan waktuNya, kan? Kan? Tapi kenapa, tiap-tiap doa yang selalu diterbangkan Anton seakan lenyap disaat itu juga? Kenapa rasanya setiap dia meminta pertolongan yang kuat, masalah baru langsung melanda hidupnya? Disaat seumur hidupnya hanya mengandalkan Tuhan, kenapa dia seakan tidak pernah ada di dalam list orang-orang teratas? Bertahun-tahun dia cari pertolongan, tapi lagi-lagi roh jahat seakan menariknya ke lubang hitam. Atau mungkin, dia lah roh jahat itu.
Hidupnya hanya dipenuhi perselingkuhan, kekerasan, guilt-trip, harapan yang terlalu besar yang nggak bisa dia tanggung sendirian. Anton nggak pernah tau warna cinta itu kayak apa, tapi dia tau pasti bahwa Sohee adalah warna dari cinta itu sendiri. Yah, Sohee ya... Selain melemparkan doa-doanya kepada Tuhan, Anton selalu bisa menyandarkan dirinya kepada Sohee disaat rumahnya berantakan dimana-mana, di kamar tidur, di dapur, di kamar tamu, di halaman depan dan belakang, serta di dalam hati satu persatu anggota keluarganya.
Anton nggak pernah bisa paham kenapa berpisah bukanlah jalan keluar yang paling terang bagi mereka. Kata mereka, saat Anton menguping pembicaraan, kasihan anak-anak, lagian kan kalau dalam agama kita itu apa yang sudah dipersatukan Tuhan, tidak boleh dipisahkan oleh manusia. Percaya diri sekali mereka sudah seyakin itu bahwa Tuhan yang mempersatukan mereka. Yang Anton tau, Tuhan nggak mungkin memaksakan dua manusia yang pada akhirnya saling serang untuk bersatu.
Entah apa lagi yang harus Anton rapalkan dalam doanya. Rasa-rasanya dia udah nggak mampu lagi untuk berharap sambil menutup mata dan melipat tangannya. Perlahan-lahan, dia ingat kembali kejadian bahagia di masa lalu yang nggak sebanyak kelihatannya. Di tiap-tiap kepingan itu, Sohee selalu hadir. Lalu dimana Tuhan? Kenapa, dari banyaknya doa-doanya, malah Sohee yang lebih banyak menuntunnya pelan-pelan?
I want to believe
Instead I look at the sky and I feel nothing
You know I hate to be alone
I want to be wrong
Tuhan, boleh Anton rapalkan doa terakhir kali, yang lebih berbeda dari sebelum-sebelumnya? Maaf kalau Anton banyak mau dan bukan hamba yang setia. Tapi, Anton berharap dengan penuh, dari banyaknya planet yang sudah Engkau ciptakan, tolong letakkan Sohee dan Anton di dalam kehidupan yang sama. Anton nggak peduli kalau keluarganya adalah keluarga yang sama seperti buruknya yang sekarang. Anton nggak peduli.
Yang berbeda adalah, tolong, tolong, tolong, Tuhan. Tolong jadikan Anton menjadi perempuan dan pertemukan dengan Sohee yang masih menjadi dirinya seperti sekarang. Itu saja doa Anton yang diulangnya berkali-kali di dalam hati sambil menggenggam erat setir mobil. Hilang arah sudah.
Anton nggak mau dengan istilah 'in another life', please make it in another universe. Let it be him (*her, soon) and Sohee. Anton berharap Sohee masih tetap mau untuk menjadi penyelamatnya di dunia itu. Anton terlalu bersemangat sampai-sampai dirinya melampaui batas kecepatan yang seharusnya.
Semoga Tuhan dan malaikat-malaikatNya masih mau menyambutnya di dunia yang katanya sudah dirancangkan untuk Anton, because He won't send His servants to hell twice, right?
