Chapter Text
°⊹₊˚‧︵‿₊୨♱ᰔ♱୧₊‿︵‧˚₊⊹°
“Bintang tuh.. cantik banget ya?...”
“Yeah, that’s why I chase you,”
“Kenapa begitu?”
“Because, you’re my Star.” ──.✦
. ݁₊ ⊹ . ݁ ⟡ ݁ . ⊹ ₊ ݁.⏔⏔⏔ ꒰ ᧔ෆ᧓ ꒱ ⏔⏔⏔. ݁₊ ⊹ . ݁ ⟡ ݁ . ⊹ ₊ .
15 November, 20XX.
07.55, di dalam ruang kelas 8.
Beberapa menit setelah Chrollo masuk ke dalam kelas dan duduk di bangkunya, ia tiba-tiba dihampiri oleh teman dekatnya, Pakunoda.
“Selamat ulang tahun, Chrollo!” Ucap Pakunoda sambil tersenyum tipis. ‘Ulang tahun ya..’ Terlintas sekilas di benak Chrollo, ulang tahun. Tidak ada yang spesial sebenarnya, ulang tahun hanyalah hari ketika seseorang bertambah satu tahun. Biasanya dirayakan entah oleh siapa saja.
“Makasih Paku.. padahal sebenarnya mah biasa aja,” Balas Chrollo, membalas senyum milik Pakunoda.
“Yah enggak lah! Ini kan hari kelahiran elu! Udah makin tua aja,” Balas Paku sambil terkekeh kecil.
Nobunaga dan Machi yang tak sengaja mendengar kalimat Paku pun menoleh. Nobu pun langsung menghampiri bangku milik Chrollo, disusul dengan Machi di belakangnya.
Nobu tanpa basa basi pun langsung melontarkan kalimat ucapannya. “Weh iya! Hari ini ada birthday boy ya? Selamat ulang tahun Chro! Wish you all the best ya!” Ucap Nobu sambil tersenyum lebar, merangkul pundak Chrollo.
Belum sempat membalas, tiba-tiba Machi menyeletuk, “Eh btw, kebetulan hari ini katanya ada murid baru juga di kelas kita loh?” Celetuk Machi.
“Hah? Kata siapa?” tanya Nobu, “Ya mana gue tau deh ya? Lagian udah nyebar topiknya dikelas ini.” Jawab Machi.
Belum sempat Chrollo bertanya, bel masuk sudah berbunyi nyaring. Buru-buru mereka pun langsung duduk di bangku mereka masing-masing. Terlihat juga Phinks dan Feitan yang hampir saja sedikit lagi telat memasuki ruangan kelas mereka. Machi sebagai ketua kelas hanya bisa menghela napas lelah melihat tingkah laku dua teman kelasnya itu. Sudah biasa Chrollo melihat pemandangan seperti ini di kehidupan sekolahnya.
Namun ia masih bertanya-tanya, ‘tiba-tiba sekali ada murid baru? Apakah karena itukah ada bangku kosong di sebelah bangkunya?’ Sekilas, itulah yang dipikirkan oleh si penyuka puisi itu. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menunggu. Menunggu wajah asing yang entah mengapa membuat dadanya sedikit lebih hidup, entah perasaan aneh apa yang membuatnya sedikit merasa antusias menemui seseorang yang ‘mungkin’ bisa menjadi teman barunya.
Beberapa saat setelahnya, guru pun masuk dan mulai berbicara. Salam, sapa dan menanyakan kabar kepada para murid kelas itu, layaknya guru pada umumnya. Namun, yang pasti entah mengapa pagi itu terasa berbeda.
“Baik, sebelum saya lanjutkan dengan pembelajaran hari ini, sebelumnya kita hari ini kedatangan teman baru! Mungkin kalian sudah dengar mengenainya, dan saya harap kalian bisa berkenalan bahkan berteman akrab dengannya.” Ucap guru tersebut. Dan, baru kali ini Chrollo ‘sedikit’ terlalu antusias dan bersemangat mengenal orang baru.
Lalu, seorang pemuda dengan helaian pirang kusam dan netra hijau cerah itu muncul, dan entah mengapa, dada Chrollo terasa sedikit lebih penuh dari biasanya. Langkah sepatu terdengar memenuhi kelas, dan tepat di depan papan tulis pemuda tersebut berhenti.
Gugup mendominasi raut di wajahnya, namun pemuda itu memaksakan sebuah senyuman yang menurut Chrollo manis. Netra hijau itu bergerak ke sana kemari, dan berhenti tepat di manik gelap milik Chrollo, namun dengan cepat kembali fokus dan mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.
“Silakan perkenalkan dirimu?” Minta guru pelajaran tersebut.
“Ah, baik. Selamat pagi semuanya, perkenalkan namaku Shalnark Ryusei. Aku murid baru di sini.. uhm.. salam kenal, dan semoga kita bisa berteman baik..” Ucap Shalnark.
Shalnark Ryusei.
Shalnark.
Ryusei.
Nama itu langsung tertanam di benak Chrollo, entah mengapa ia merasa terpesona melihat kehadiran Shalnark.
Tidak, tidak mungkin ini yang disebut jatuh cinta. Ini tidak seharusnya terjadi. Laki-laki menyukai laki-laki adalah hal yang sangat tidak bisa ditoleransi.
Itulah yang dipikirkan oleh Chrollo, sebagai anak yang tumbuh besar di keluarga religius. Itulah yang diyakini Chrollo. Setidaknya, itulah yang selalu diajarkan kepadanya.
“Baik, selamat bergabung di kelas ini, Shalnark. Dan.. kamu duduk di bangku kosong sebelah Chrollo ya. Chrollo, tolong angkat tanganmu.” Minta sang guru. Chrollo pun mengangkat tangannya, dan setelah Chrollo menurunkan tangannya, pemuda baru itu pun tanpa banyak tanya langsung menuju ke bangku yang ditunjukkan, mengambil duduk.
Pemuda itu melirik ke arah Chrollo, “Terima kasih ya..” Ucapnya. Sambil tersenyum tipis. Chrollo sebenarnya sedikit terkejut, dan spontan mengangguk sedikit, maniknya bertemu dengan manik pemuda itu.
Oh tuhan, tolong bawa aku kabur dari sini.
Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Chrollo. Senyum itu membuatnya merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Ia merasakan jantungnya berdetak kencang.
Sejak kapan satu senyum sederhana bisa membuatnya kehilangan pijakan seperti ini?
Netra gelap milik Chrollo kembali fokus ke depan, mengikuti dan memahami pembelajaran yang diberikan oleh gurunya itu. Setidaknya ia terlihat sedang belajar seperti murid biasanya yang bersekolah. Walaupun, pikiran nya sangat kacau. Sungguh Pikirannya berantakan, tanpa satu pun doa yang bisa ia rapalkan dengan benar.
Apa yang harus ia lakukan agar bisa lebih dekat dengan Shalnark..?
