Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of Wajar, Namanya Juga Masih Remaja
Stats:
Published:
2026-01-19
Words:
1,076
Chapters:
1/1
Comments:
8
Kudos:
219
Bookmarks:
13
Hits:
2,602

Lemon Nipis Taguling-guling

Summary:

Emang harus pacaran dulu kalau mau pegang-pegang?

Work Text:

Keonho sukanya pegang-pegang Seonghyeon. Suka raba-raba. Seonghyeon lagi diam saja tangan Keonho sudah gerak kesana kesini. Tepuk-tepuk punggung, raba-raba dada, jari diam-diam bergerak cute—cubit tete.

Padahal sebenarnya Seonghyeon tidak suka disentuh. Kalau dipegang orang bawaannya merinding. Tapi waktu baru pertamakali berteman sama Keonho, hari itu mereka ikut yang namanya LDPK-- kalau kalian nggak tahu itu Latihan Dasar Kepemimpinan, biasanya diadakan di awal tahun. Seonghyeon belum punya teman, baru kecantol sama Juhoon tapi dia pendiam dan sudah punya teman lain—si bule yang intimidating, jadinya Seonghyeon tidak terlalu menempel pada Juhoon.

Waktu bagian ice breaking, kalau kalian tahu permainan kata kunci. Awalnya kalian disuruh untuk membentuk kelompok 3 orang, lalu pemandu membacakan cerita, dan tiap ada kata kunci diucapkan kalian harus ganti kelompok atau partner, nah yang itu, yang lampu merah 3 orang, bunga mekar 5 orang, pohon 2 orang, dan seterusnya. awalnya Seonghyeon terjebak diantara Juhoon dan martin, lalu ketika kata kunci berganti, ia berpasangan dengan Keonho. Kata kuncinya adalah pohon, gerakannya itu mengharuskan Keonho dan Seonghyeon berdiri berhadapan, saling berpegangan tangan diatas kepala, membentuk semacam atap.

Saat itu Keonho sibuk bercanda dengan kawan dibelakang bahunya, jadi Seonghyeon tidak berharap banyak. Seonghyeon harap sih ia bisa setidaknya mendapat seseorang untuk ditempeli sampai akhir LDPK supaya dia tidak sendirian amat. Tetapi Seonghyeon pesimis karena sepertinya semua orang sudah punya teman.

Ketika kata kunci selanjutnya diucapkan, bunga mekar, begitu, Seonghyeon sudah bersiap untuk melepas tautan tangannya dengan Keonho dan berlari mencari partner lain. Tapi Keonho keburu menarik lengannya dan dan menyeret lengan orang dibelakangnya untuk membentuk 5 orang.

“gausah pisah, kan disuruhnya berlima jadi kita tinggal cari tambahan 3,” Keonho berujar pelan persis ditelinga Seonghyeon.

Pada dasarnya Seonghyeon adalah orang pasrahan, jadi ia menyerahkan seluruh nasibnya di permainan ini pada Keonho. Meskipun mereka belum kenal amat, tapi Seonghyeon percaya padanya.

Maka begitulah yang terjadi selama permainan yang tidak seberapa lama durasinya itu. Seonghyeon seringkali lebih dulu menyadari kata kunci yang terucap, menyadarkan Keonho, dan Keonho reflek menyeret tangannya, atau menarik lengan orang dibelakangnya paksa untuk bergabung dengan mereka.

Ketika sesi ice breaking selesai, mereka terjebak bersama, duduk bersebelahan. Begitu terus sampai sesi LDPKM 3 hari 2 malam itu selesai. Seonghyeon keluar wisma dengan oleh-oleh ketempelan Keonho, yang awalnya ia harap bisa menemaninya selama LDPKM, jadi menemaninya sepanjang hidup.

 

Sejak saat itu, Seonghyeon selalu terbiasa dengan Keonho disisinya. Habisnya, tangan Keonho tidak bisa diam, selalu bergerak mencari Seonghyeon. Seolah tidak tenang kalau tidak memegang Seonghyeon. Mereka duduk bersebelahan pun lengan Keonho harus melingkar dileher Seonghyeon.

Pegang-pegang berubah menjadi peluk-peluk dan berakhir dengan cium-cium.

Selain raba-raba dada, Keonho juga suka melempar ciuman. Entah itu ciuman angin kiss-bye, atau cium-cium Seonghyeon sampai menempel. Orang orang disekitar menganggap Keonho sukanya jahilin Seonghyeon. Lah, orang mana jahilin temannya dengan cium-cium?

 

“Keonho kamu kok seneng banget sih raba-raba dadaku?”

Keonho, dengan tangan sibuk menggerayangi dada dan perut Seonghyeon mengerling padanya, “pentil kamu enak buat dimainin,”

 tangan Keonho dengan cepat bergerak mencubit kedua pentil Seonghyeon. Dicubit-cubitlah, dikutil-kutil lah seperti jerawat matang saja pentil Seonghyeon digarukin, diusap-usap lah. Seonghyeon merintih, meremas celananya,

“sakit ken … geli,”

Keonho menaikkan kedua alisnya, tangannya masih sibuk mengusap dada Seonghyeon, bergerak kebawah menuju perutnya, “tapi enak kan?”

 

Selain suka raba-raba, Keonho suka nempel-nempel pada Seonghyeon. Ketika Seonghyeon lagi sibuk melihat hapenya, Keonho melirik melirik, mengalungkan lengannya dan menempelkan pipinya pada bahu Seonghyeon, ikut menonton tiktok di handphone Seonghyeon.

Kadang juga ketika Seonghyeon mampir ke kamar Keonho, merebahkan dirinya dikasur Keonho yang penuh jemuran yang belum dilipat, disusul Keonho yang langsung menempatkan dirinya dibawah ketek Seonghyeon menyamankan dirinya diantara ketek Keonho. Merebahkan kepalanya di bahu Seonghyeon, kadang turun sampai ke dada. Ikut menonton tiktok di hape Seonghyeon.

“tontonlah tiktok itu di hapemu sendiri, ken. Kayak gak punya hape aja,”

Kaki dan tangan Keonho bergerak memeluk Seonghyeon, menyamankan diri kelonan pada Seonghyeon. Wajah Keonho dibenamkan diantara ketek Seonghyeon,

“gamau ah ketek kamu wangi,”

…. Oke?

 

Kalau lagi diluar juga Keonho suka reflek peluk-peluk Seonghyeon. Padahal Seonghyeon lagi berdiri dan langsung disergap oleh Keonho yang berlari kencang kearahnya. Dipeluk erat sampai Seonghyeon susah bernafas. Setelah dipeluk pun tangan Keonho langsung melingkar dipinggang Seonghyeon, bukannya dilepas. Kadang sambil meraba perut Seonghyeon, atau cium-cium bahu Seonghyeon.

Dari dilemparkan tatapan canggung oleh teman temannya, sampai sudah tidak ada kata heran dari teman temannya. Kalau ada Seonghyeon ada Keonho, begitupula sebaliknya.

 

Keonho juga suka tidur di paha Seonghyeon sambil main em el. Meskipun paha Seonghyeon tidak empuk empuk amat—lebih empuk perutnya, tapi nyaman kata Keonho. Keonho sih sebenarnya lebih suka tidur diatas perut Seonghyeon, sambil mendengarkan bunyi perutnya yang gak bisa diam. Tapi Seonghyeon suka marah kalau Keonho tiduran di perutnya, katanya kepala Keonho berat, kalau ketiduran Seonghyeon jadi sakit perut dan tidak bisa bernafas. Yasudah, daripada kehilangan Seonghyeon selama lamanya karena kehabisan nafas karena ditidurin Keonho, Keonho bersedia untuk tidur di paha Seonghyeon.

Apalagi, kalau Keonho tidur di paha Seonghyeon, rambutnya suka dimainin sama si Seonghyeon, dan Seonghyeon ini rupanya pintar mijat orang, jadi kepala Keonho sering dipijat pijat sama Seonghyeon. Makin nyaman lah Keonho tidur di paha Seonghyeon.

 

Keonho sukanya kelon, dikelonin, soalnya Keonho sukanya tidur sambil cium-cium. Biasanya sih dia tidur sambil cium ketek Seonghyeon saja sudah cukup, tapi makin kesini mereka kelonan sambil Keonho cium leher Seonghyeon. Mana dilepas susah, padahal tangan Seonghyeon sudah kebas keberatan ditidurin Keonho.

Kadang kadang waktu mereka sudah tidur lelap, Seonghyeon suka merasa pipinya dicium-cium Keonho. Berasa, soalnya bibir Keonho selalu basah, dan pipinya sering ketempelan yang basah basah gitu ditengah malam. Nanti dari pipi, turun ke leher dan tulang selangkanya. Lalu tangan Keonho suka raba-raba masuk kedalam kaosnya, jadi langsung sentuhan dengan kulit gitu.

Tangan Keonho hangat dan berat cukup bikin Seonghyeon nyaman, apalagi kalau tangan Keonho diam di perut Seonghyeon. Ya, karena Seonghyeon sudah terbiasa ada yang berat disekitarnya, jadi kalau Keonho tidak ada disekitarnya—yang sangat amat jarang, Seonghyeon jadi merasa aneh.

 

Seonghyeon paling suka ketika Keonho duduk dibelakangnya dan menarik badannya untuk bersandar di dada Keonho. Tangan Keonho melingkar di pinggangnya, kaki saling bertaut, dagu Keonho bersandar di bahu Seonghyeon. Nafas hangat Keonho yang secara konstan menyapu leher. Seonghyeon suka, karena beratnya merata. Seluruh badannya seperti dipeluk, dan badannya hangat. Kadang tangan Keonho suka mengunyel unyel pipinya, jadi wajahnya tidak kedinginan. Seonghyeon suka merebahkan dirinya di dada Keonho dan menyandarkan kepalanya diatas kepala Keonho yang bersandar di bahunya.

 

Sesekali Juhoon lewat dengan teman bulenya yang tinggi itu dan dengan teman bulenya yang satu lagi, menaikkan alis.

“kalian pacaran?”

Keonho dan Seonghyeon akan refleks menjawab, “enggak tuh,”

 

Memangnya harus pacaran supaya bisa pegang-pegang teman sendiri?

Series this work belongs to: