Actions

Work Header

Out of Sync in Time

Summary:

Yushi appears and disappears without explanation, carrying a light that doesn’t belong to the human world. Time begins to falter, and Daeyoung slowly realizes some meetings are never meant to last.

Yushi datang dan pergi tanpa pernah memberi penjelasan, membawa cahaya yang seharusnya tidak ada di dunia manusia. Waktu mulai berjalan tidak semestinya, dan Daeyoung perlahan menyadari bahwa tidak semua pertemuan ditakdirkan untuk bertahan lama.

Notes:

Haii, kali ini aku kembali dengan pairing yang berbeda.. karena Daengyut lagi lucu lucunyaa alhasil kepikiran buat bikin pairing ini. First time nulis genre fantasi, aku harap kalian akan paham dengan alurnya!

Every hits, kudos, and comment are apreciated <3

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Cafe and Window

Chapter Text

Daeyoung tidak pernah benar-benar ingat kapan pertama kali Yushi mulai sering muncul dalam hidupnya. 

Rasanya seperti hal yang terjadi perlahan, tanpa pengumuman. Awalnya sekali dua kali, lalu jadi kebiasaan, sampai akhirnya kehadiran Yushi mulai terasa seperti sewajarnya layaknya suara mesin kopi di sebuah kafe. 

Yushi selalu datang tanpa terburu-buru. Kadang sore, kadang malam ketika kafe akan segera tutup, atau kadang saat senja sedang cantik-cantiknya. Kadang Yushi datang tanpa membawa apa-apa atau kadang hanya membawa tas kecil yang entah isinya apa. Ia duduk di kursi yang sama, dekat jendela, dan membawa senyuman seolah tempat itu memang sedang menunggunya.

Daeyoung pernah berpikir, kalau manusia bisa punya “ritme”, maka Yushi akan berjalan di ritme yang berbeda. 

“Lama amat ngeliatin menunya.”

Daeyoung baru sadar Yushi sudah berdiri dengan fokus menatap menu di samping mejanya. 

“Aku lagi mikir tahu.” jawabnya. 

“Padahal menunya itu-itu aja.”

“Itu justru masalahnya hehe.” Yushi terkekeh, lalu duduk tanpa izin. Seperti biasa. 

“Kamu pesan yang sama?” tanya Daeyoung sambil meraih dompetnya.

Yushi mengangguk cepat. “Dan kalau bisa, gula dikurangin dikit.”

“Kamu selalu pesen gitu.”

“Biar kelihatan effort” ucap Yushi sambil memamerkan gigi rapinya itu. 

Daeyoung mendengus kecil sambil berdiri. “Orang lain effort buat hidup, kamu effort buat minum kopi.”

“Itu juga bagian dari hidup.” jawab Yushi santai.

Daeyoung kembali dengan dua gelas. Yushi sudah melipat serbet kecil menjadi bentuk yang aneh, tidak jelas burung atau perahu atau mungkin yang lain.

“Kamu ngapain?”

“Nyoba bikin angsa,” kata Yushi serius.

“Itu kelihatan kayak ayam jatuh.”

Yushi menatap hasilnya, lalu mengangguk. “Ini ayam yang lagi capek tahu, ayam juga bisa capek kan?” 

Daeyoung tertawa tanpa sadar. Ia tidak ingat kapan terakhir kali tertawa karena hal sekecil itu. 

Mereka duduk tanpa banyak bicara. Tidak canggung, tidak juga intens. Hanya dua orang yang kebetulan berbagi ruang dan waktu. 

“Kamu nggak kerja?” tanya Daeyoung akhirnya. 

“Kerja,” jawab Yushi. “Tapi hari ini aku libur dari mikir berat.”

“Enak banget hidup kamu.”

Yushi meliriknya. “Kelihatannya aja.”

Daeyoung ingin bertanya lebih jauh, tapi Sion muncul dari belakang bar. 

“Balik lagi,” kata Sion ke Yushi. “Gue kira lo udah pindah domisili ke sini.”

Yushi tersenyum lebar. “Kalau pindah, boleh dong kasih diskon.”

“Ngimpi.”

“Dih, kok gitu” 

Sion menggeleng sambil pergi lagi untuk kembali mengurus kafe. 

Waktu berjalan pelan. Senja turun tanpa suara. Lampu kafe mulai menyala satu per satu. 

Yushi berdiri lebih dulu.

“Udah?” tanya Daeyoung. 

“Udah cukup.” 

“Kata favorit itu lagi.”

Yushi tersenyum, sedikit malu. “Soalnya aku nggak suka kebanyakan.”

Daeyoung mengangguk, meski tidak sepenuhnya paham. 

Sebelum pergi, Yushi menoleh sebentar. “Kamu besok di sini lagi?”

“Kalau nggak ada halangan.”

“Berarti aku harus tahu harus ke mana.”

Daeyoung mengangkat alis. “Kamu nganggep aku jadwal?”

Yushi tertawa. “Enggak. Penanda.”

Pintu tertutup pelan. Daeyoung kembali duduk menatap kursi kosong di depannya. Tidak ada yang berubah. Tapi entah kenapa, sore itu terasa sedikit lebih ringan dari biasanya. 

⊹ ࣪ ˖🌳🦋 ⊹ ࣪ ˖

Sore itu, Yushi tidak langsung pergi. Ia berdiri di dekat pintu, menatap rak kecil berisi gula dan sedotan seolah ada sesuatu yang tertinggal. Lalu berbalik lagi ke meja Daeyoung. 

“Kamu tahu nggak,” katanya tiba-tiba, “aku selalu duduk di kursi itu.”

Daeyoung melirik ke arah kursi dekat jendela. “Kelihatan.”

“Bukan itu maksudku.” kini pandangannya beralih ke Daeyoung. “Dari pertama kali aku kesini, aku selalu duduk disitu.”

“Dan?”

Yushi mengangkat bahu. “Nggak kenapa-kenapa sih. Cuma.. nyaman juga ya ternyata,”

Daeyoung tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan bagaimana Yushi mengatakan nyaman seperti itu sesuatu yang jarang didapat. 

“Eh,” Yushi mendekat sedikit. “Kamu orangnya gampang bosen nggak?”

“Kenapa?”

“Takut aja.” Yushi tersenyum, setengah bercanda. “Kalau nanti aku dateng terus, kamu enek lihat aku.”

“Kamu datang nggak pernah maksa.”

“Ya itu kan, teknik bertahan hidup.” Yushi terkekeh. “Datang pas pengen. Pergi pas cukup.”

Kata itu lagi. Daeyoung menatap Yushi lebih lama dari seharusnya. Ia tidak tahu sejak kapan mulai menyadari pola itu, bahwa setiap kali Yushi berkata cukup, sore memang selalu berakhir di sana. Tidak lebih, tidak kurang. Seolah Yushi tahu batas yang bahkan Daeyoung sendiri sering langgar.

“Kamu aneh.” Kata Daeyoung akhirnya.

Yushi tertawa lebar. “Sering dibilang gitu.”

“Bukan aneh jelek.”

“Syukurlah.” Yushi menepuk dadanya berlebihan. “Aku sensitif tauk”

Daeyoung nyaris tersenyum, tapi urung.

Dari balik bar, Sion memperhatikan mereka sambil mengelap gelas.

“Serius nanya,” kata Sion begitu Yushi kembali ke arah pintu.”Lo nggak kerja apa tiap nongol ke sini?”

Yushi berpikir sebentar. Lama untuk ukuran pertanyaan sesederhana itu. 

“Kerja kok,” jawabnya akhirnya. “Cuma.. bukan yang kayak kalian.”

Sion mengendus. “Apaan tuh.”

“Kerjaan yang nggak bisa ditunggu lama-lama,” kata Yushi ringan, lalu melambaikan tangan. “Sampai besok ya.”

“Besok?” Daeyoung refleks bertanya.

Yushi menoleh, matanya berbinar. “Kalau kamu ada.”

Daeyoung mengangguk pelan.

“Berarti aman.” Yushi tersenyum puas, lalu pergi. 

Pintu tertutup. Kafe kembali sunyi dengan caranya sendiri. 

Sion berjalan mendekat, menyender di meja Daeyoung. “Lo sadar nggak,” katanya, “dia tuh datangnya selalu pas lo lagi kerja disini.”

“Perasaan lo aja.”

Sion mengangkat bahu. “Mungkin.”

Daeyoung menatap jam dinding. Waktunya normal. Bergerak seperti biasa. Tapi ada perasaan menjanggal, seperti baru saja melewatkan sesuatu yang seharusnya dicatat. 

“Dia orang yang aneh,” lanjut Sion. “Tapi asik.”

“Iya,” jawab Daeyoung lirih.

Aneh, pikir Daeyoung. Setiap Yushi datang, dunia terasa melambat. dan setiap Yushi pergi, semuanya kembali berjalan seperti semula. Seolah kehadiran Yushi adalah jeda kecil yang tidak pernah diminta, namun selalu ditunggu. 

Daeyoung kembali fokus dengan pekerjaannya, namun pandangannya beralih ke kursi yang biasa diduduki oleh Yushi itu. Kursi itu kosong. Tapi hangatnya belum benar-benar hilang. Dan entah sejak kapan, Daeyoung mulai takut pada satu hal sederhana

Bagaimana jika suatu hari, Yushi tidak kembali dan dunia tetap berjalan seperti biasa, tanpa jeda lagi.