Work Text:
Ini masih lanjutan yang sebelumnya ya, kalau mau baca ada disini: https://archiveofourown.org/works/78046571
Tapi kalau mau dibaca satu-satu bisa kok <3
Keonho baru selesai lari sore begitu dapati Seonghyeon berjalan kaki lewat depan ruamahnya. Temannya keliahatan lesu bahkan sepertinya tak menyadari kehadiran Keonho di gerbang rumahnya. Alis Keonho terangkat heran sebab yang dia ingat hari ini Seonghyeon bawa mobil sendiri. Lagi-lagi jam kelas mereka tak sama, pun keduanya bukan berasal dari prodi yang sama pula.
Rasanya janggal, Keonho pilih bergegas masuk kerumahnya sendiri untuk mandi sebab keringatnya banyak sekali dan tak perlu basa-basi ia pergi ke rumah Seonghyeon dengan pasti.
Pembantu di rumah Seonghyeon yang bukakan pintu, persilahkan Keonho masuk sebab terlalu kenal siapa yang suka datang tak tau waktu. Pertanyaan Keonho ajukan, dapati Papa dan Papi Seonghyeon masih belum pulang kerja dan Keonho bergegas pergi ke kamar temannya saat tau Seonghyeon ada di sana.
"Hei..." Keonho ketuk pintu. "Gue masuk ya." Tak diberi ijin si lelaki Aquarius sudah masuk terlebih dahulu. Dapati Seonghyeon duduk di pinggir ranjangnya dengan wajah lesu luar biasa. Tas yang tadi ia bawa tergeletak di kaki ranjang dan Keonho pilih untuk bantu bereskan tanpa ucap apa-apa.
Harum tubuh Keonho penuhi indra penciuman Seonghyeon, dalam sekali lihat Seonghyeon jelas tau kalau temannya baru saja mandi. Perhatikan gerak-gerik Keonho yang bereskan barangnya pun sedikitnya bingung dapati Keonho mengambil skincarenya yang tertata rapi di atas meja.
"Dibersihin dulu wajahnya. Tar lu rewel kalau jerawatan."
Seonghyeon bahkan tak kuasa untuk beri balasan, energinya sudah tak ada dan dia biarkan Keonho membantunya bersihkan wajah dengan micellar water. Harum tubuh Keonho makin terasa begitu temannya sudah duduk di sebelahnya. "Madep sini dulu."
Mereka duduk berhadapan di atas ranjang. Keonho pun mulai bersihkan wajah temannya pelan-pelan gunakan kapas. Sambil bersihkan wajah temannya ada Keonho yang tekuni wajah temannya lamat-lamat. Biarkan diri tenggelam dalam pesona wajah Seonghyeon yang jujur aja bikin gila. Untung Seonghyeon tutup mata, untung Seonghyeon tak tau jika Keonho gigit bibirnya begitu jemarinya mulai bersihkan bibir temannya.
Kolam renang sore itu membekas diingatannya. Jangan tanya apa yang sudah keduanya bicarakan sebab tak ada penjelasan yang keluar dari bilah bibir mereka. Tak ada tanya tentang apa yang diperbuat walaupun teman tak harusnya berbagi kecupan.
Keonho gelagapan bak pencuri ketahuan. Jemarinya yang sedari tadi bertahan di bibir temannya langsung turun dapati Seonghyeon buka kelopak matanya. "Udah selesai kok." Keonho buru-buru bangun untuk buang kapas yang sudah terpakai, kembalikan botol micellar water pada tempatnya dan taruh atensi lagi pada temannya.
"Kok masih memble?"
Seonghyeon mendongak lantaran Keonho berdiri di pinggir ranjang. Bibirnya makin maju ditanya demikian. Tatapnya melas seperti kucing kehilangan rumah. Mana tahan Keonho ditatap demikian. Tangannya terulur untuk usak rambut Seonghyeon, pun jangan ditanya keberanian dari mana sebab begitu Keonho duduk lagi, lengannya otomatis bawa Seonghyeon dalam pangkuan.
Memang perbuatannya begitu implusif. Namun Keonho tetap ajukan tanya begitu Seonghyeon mapan dalam pangkuannya.
"Gini gapapa?" Anggukan Seonghyeon beri. Tangannya pun dia bawa untuk peluk leher temannya. "Nggak berat?"
"Mana ada. Lu kan kecil." Jangan salahkan Seonghyeon jika satu cubitan akhirnya mampir di lengan temannya. Cubitan itu jelas hanya dianggap candaan sebab Keonho tertawa dibuatnya. Lengannya peluk pinggang Seonghyeon sebelum akhirnya bergerak mengusap punggung Seonghyeon, buai Seonghyeon dalam nyaman sampai akhirnya yang ada dalam pangkuan sandarkan kepalanya di bahu sang teman.
"Hari ini nyebelin. Gue udah sampai kampus tapi tugas ketinggalan jadinya balik lagi kerumah. Kelas kedua jamnya dimajuin gara-gara dosennya ada acara. Padahal niat mau sarapan dulu. Jeda lima menit jadi gue langsung aja ke kelas lanjutan. Begitu selesai ke kantin tuh gue, makan. Tapi apes lagi gue ketumpahan jus gara-gara ada yang jalannya nggak hati-hati."
Keonho dengarkan apa yang diceritakan sang teman. "Bawa ganti kan?"
"Iya kan tau sendiri kalau pergi pasti bawa ganti di mobil. Jam satu gue lanjut kelas lagi, baliknya kan mau nyelesain tugas kelompok, udah janjian yang dateng cuma tiga. Bete banget yang penting bagian gue udah terus gue cabut habis ngomel di grup kelompok. Kayaknya belum cukup sial pas balik mobil gue mogok. Pas telfon bengkel orangnya dateng dan di cek katanya harus nginep di bengkel. Yaudah lah gue udah nggak kepengen tau kenapa jadi gue serahin aja ke orang bengkel. Lanjutnya gue gojek balik, emang niat berhenti di minimarket depan komplek kita. Mau beli japota, taunya japota honey butter habis stocknya. Kayaknya sialnya gue borong hari ini."
Keonho usap rambut temannya untuk tenangkan rasa lelahnya. Walaupun Keonho tau ini tak berarti apa-apa tapi dia tetap melakukannya. Pelukan di pinggang Seonghyeon mengerat saat Keonho rasakan basah di bahunya. Ya tak apa, Keonho biarkan Seonghyeon menangis sepuasnya.
Kamar Seonghyeon hanya diisi suara tangisnya sendiri. Rasanya masih kesal tapi menangis cukup tenangkan isi hati. Seonghyeon mengusakan wajahnya di bahu Keonho sebelum pilih tatap wajah temannya. Tak ada penghakiman di wajahnya, hanya ada sorot mata mengasihi yang buat pipi Seonghyeon jadi merah tanpa permisi.
"Udah lega?"
"Hmm."
Air mata di pipi temannya Keonho bersihkan dengan jari. Rambut Seonghyeon pun dirapihkan dan entah kenapa begitu selipkan rambut temannya ke belakang telinga si Aquarius tak bisa tahan senyum sendiri. Perutnya geli, Keonho menyadari temannya yang baru selesai menangis bisa cantik kaya gini. Hidungnya kemerahan, pipinya mirip delima dan bulu matanya yang masih basah tambah pesona temannya.
"You did well oke. Nggak apa-apa kalau hari ini nyebelin, besok-besok hal yang nyebelin kaya gini bakalan diganti sama hal yang lebih nyenengin."
"Makasih."
"Bilang Keonho ganteng sejagat raya dulu."
"Najis." Seonghyeon berseru kencang. Tawanya penuhi kamar sebab permintaan Keonho yang penuh percaya diri. Tawanya buat Keonho mengerti, harusnya ia ikut tertawa sebab temannya bergembira. Harusnya Keonho ketawa bukannya malah jatuh cinta.
Eh.
"Huh?" Seonghyeon miringkan kepala sebab Keonho tiba-tiba menangkup pipinya. "Kenapa?"
"Cantik."
"Dih?"
"Lu cantik kalau lagi ketawa."
Telinga Seonghyeon merah dibuatnya, "Ah diem." Malu sekali salah tingkah begini. Senyum Keonho pun malah buat perut Seonghyeon geli. Aneh sekali.
Jemari Seonghyeon meremat kaos yang dipakai temannya saat wajah mereka makin dekat saja. Hidung bangirnya bersentuhan dengan milik temannya dan Seonghyeon rasanya jadi gila saat satu kecup ringan mampir di hidungnya. Matanya membulat kaget dan Keonho berani sumpah tak ada yang lebih cantik dari presensi temannya dengan wajah kaget tergambar jelas depan mata.
Keonho dekatkan lagi wajahnya pada temannya, tatap intens Seonghyeon yang sudah pejamkan mata. Semesta tak memihak mereka hari ini sebab saat bibir keduanya hampir bersentuhan ada ketuk pintu yang buat keduanya gelagapan sendiri.
"Dek Seonghyeon ini ada gojek makanan."
Oh gitu.
"Lu yang pesen?" Seonghyeon ajukan tanya.
"Iya, acai bowl sama bebek goreng. Maem dulu ya."
"Bareng."
"Hmm?"
"Maem bareng?"
"Iya, maem bareng kok." Ah Keonho gemas sendiri.
"Iya Bi, bentar ya. Ini mau jalan buka pintu." Seonghyeon lantas bangun dari pangkuan sang teman. Turun dari atas ranjang dengan pelan-pelan. Keonho dibuat heran sebab Seonghyeon tak kunjung jalan. Pun kejadiannya begitu cepat, Keonho tak mengira temannya seberani ini. Bagaimana Keonho tak gila saat satu kecup mampir di bibir tanpa permisi. Seonghyeon sendiri sudah berjalan pergi, telinga temannya yang memerah tandai semalu apa perbuatannya sendiri. Kalau Keonho tak bisa tahan senyum sendiri, tolong maklumi.
Mereka makan dengan tenang, Seonghyeon bergegas mandi tuk bersihkan diri begitu selesai makan. Keonho pun tak bergegas pulang lantaran Seonghyeon mengajaknya nonton film sama-sama. Sisa hari itu tak buruk seperti yang Seonghyeon kira sebab ia tertidur di pelukan temannya. Nyaman peluk Keonho saat film sudah mulai ternyata bawa Seonghyeon dalam kantuk.
Lalu esok hari ia dapati tiga bungkus besar japota honey butter di atas meja nakasnya. Dengan notes singkat ia tau siapa pelakunya.
'Ini japotanya. Semoga hari ini banyak senengnya ya biar semesta tau secantik apa mahluknya kalau lagi ketawa.'
Seonghyeon gigit bibir tuk tahan senyum sendiri, yang begini susahkan hati. Emang nggak apa-apa ya baper sama temen sendiri?
