Actions

Work Header

mari kita beromansa di tengah panggung orasi dan di depan para begundal partai!

Summary:

"Walaupun di akhir nanti kita gak akan bisa bersama, setidaknya sebelum takdir itu datang, aku sudah menghabiskan masa-masa terbaik dalam hidupku membuat memori bersama orang yang kucinta."

Di tengah situasi politik kampus yang sedang panas, Ezra menemukan dirinya justru terseret oleh rasa cinta yang semakin membara.
Ia merasa bahwa hubungan 'pertemanannya' dengan Dion yang penuh perasaan itu perlahan mulai berubah menjadi lebih mesra, memunculkan kebingungan dan penyangkalan di hati Ezra tentang apakah sebenarnya sosok yang diam-diam ia dambakan itu juga memiliki hasrat yang sama. Dalam hitungan hari, segala percakapan dan interaksi yang mereka lakukan—entah dari yang terkecil sampai yang terang-terangan—membuat Ezra tak dapat lagi mengelak akan keinginannya untuk saling berbagi afeksi dengan orang yang ia cintai.

Biarkanlah kader partai jadi saksi dan biarkanlah gelora api kontestasi politik yang akan memeriahkan kisah kasih diantara mereka berdua!

Notes:

this is so funny for me to write bcs i started this as a JOKE, send the first draft of the first chapter to my friend then we just laugh our ass off.....UNTIL NOW

inspired by political campaigns event on my campus a few months ago, i dramatized it and added some irrelevant shit just for the sake of the plot. i make this into a queer agenda by making a mlm characters bcs i found out one of my friend turns out to be homophobic? so this is for him and his stupid ass

and sorry for the cringy unrealistic names, i made it back in 2021 and just too lazy to make a new one, take it or leave it

Chapter 1: gazing at the stars in your eyes

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Lidah Ezra Putra Adrian seketika kaku, pikirannya tiba-tiba kosong dan fokusnya pudar ketika di tengah-tengah pidatonya yang begitu menggebu, tatapannya tidak sengaja bertautan dengan kedua manik lembayung Bardion Abiathar Atmaja. Di sepersekian detik itu ia merasa dunia seakan berhenti, hanya dirinya dan Dion yang tenggelam dalam arus perasaan yang ia sendiri tidak bisa jelaskan. Namun ketika ia mengedipkan matanya, dunia kembali berputar cepat, bahkan terasa terlalu cepat ketika sorakan para penonton berhasil menembus tembok lamunannya. Ia mengalihkan pandangannya kembali pada lautan manusia di depannya; di sisi kanan ada para ekstrimis yang meneriaki hinaan padanya, sedangkan di sisi kiri ada kawan-kawan fraksinya yang menatapnya dengan tatapan antara khawatir dan menghakimi. Diantara orang-orang dengan jaket hitam-merah tersebut, Ezra menyadari tatapan sengit Anadra Pralingga yang terpaku padanya. Di Partai M, ketua komisariat mereka; Pandega Devabrata dikenal dengan nama 'Don Besar'. Ia memiliki sembilan orang bawahan yang memiliki jabatan tertinggi dan posisi terpenting dalam organ, para ‘El Comandante’. Namun, hanya ada satu orang dari sembilan itu yang berhasil menjadi tangan kanan kesayangan Dega; si penggerak, pemikir konsep, intel, tukang olah dan tukang pukul, atau lebih tepatnya sang eksekutor itu sendiri, ialah Anadra Pralingga atau yang kerap dipanggil Adra. Kebetulannya, atau mungkin juga sialnya, Adra lah yang menata dan mengatur semua proses kampanye serta debat terbuka bagi para calon dewan dari fraksinya, dan lebih parahnya lagi, dia juga yang menjadi ketua di tim sukses nya Ezra. Jadi tentunya, kesalahan sekecil apapun yang Ezra perbuat di detik ini akan dianggap begitu fatal dimata Adra. Setelah tatapan intens yang berhasil membuat nyali Ezra langsung ciut, ia akhirnya berusaha mengembalikan harga diri dan geloranya, mencari kata-kata yang sempat ia lupakan untuk melanjutkan pidatonya. Setelah tiga menit yang membuat jantungnya seakan ingin loncat keluar dari dadanya itu, akhirnya sesi pertamanya untuk memaparkan visi misi telah berakhir. Ia kembali duduk di tempatnya dan memberikan microphone yang ia genggam terlalu erat itu kepada calon lain di samping kirinya. Ia menghela napas kasar dan mengutuki dirinya sendiri, bisa-bisanya ia menyabotase semua rencana yang dirinya dan tim nya sudah susun sesempurna mungkin. Ia merasa telah menggagalkan mimpinya di tengah-tengah panggung dambaannya itu. Ia menunduk, bukan hanya karena tidak berani menatap kedepan dan menyaksikan ekspresi kecewa dari para kawan-kawannya, namun juga karena kepalanya terasa berat oleh penyesalan. Bahkan, pikirannya terlalu kalut sehingga segala perkataan yang diucapkan oleh calon lain tidak ada yang ia dengar, seakan semua yang disekitarnya itu tinggal kekosongan belaka, terserap hilang oleh benaknya yang terjun ke jurang kericuhan. Kecuali, saat semua kalimat seruan berapi-api yang diteriakkan oleh para calon-calon setelahnya itu seketika berganti dengan nada halus namun tak kalah tegas dari sosok yang suara lembutnya begitu familiar di telinga Ezra; Dion. Selalu seperti itu, di saat Ezra merasa bahwa dunianya terlalu kacau, Dion datang sebagai ketenangan. Ia merasakan damai setiap kali ia menatap wajah putih bersih dengan senyum tipis itu, seakan Ezra ini adalah api yang berkobar dan Dion adalah air dingin yang mengalir berlalai-lalai, mendinginkan tubuh dan batinnya yang terlalu membara, memadamkannya sebelum ia hangus oleh nafsu yang membutakan. Kepala Ezra reflek mendongak ke arah kirinya dimana Dion berada, dan bagaikan benang merah yang saling bertaut, bola mata itu kembali menyambut manik coklat tua Ezra. Dion melemparkan senyumnya, senyum pertama yang ia tunjukkan selama ia berada di panggung ini, selama ia daritadi memasang raut yang begitu dingin kepada penonton dan calon lain. Tapi entah kenapa, di beberapa detik itu ia memilih untuk melemparkan senyum hangatnya itu pada Ezra. 

Hanya pada Ezra.

Dion bahkan seakan menunggu momen yang tepat itu, memastikan kalau Ezra sendiri sudah menatap ke arahnya sebelum ia menampilkan keindahan rupanya. Setelah itu, seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya, Dion kembali mengalihkan pandangannya ke arah penonton dan memasang raut serius itu di wajahnya. Ezra, yang masih terpaku ke arah Dion dan akhirnya menyadari situasi yang baru saja terjadi, mulai merasakan kehangatan yang menjalar di wajahnya, bahkan ia yakin sekarang kedua pipinya merona merah. 
"Kok gitu banget ekspresimu? Takut Zra?" 
Calon dewan lain di sebelahnya, Dika, menyenggol lengan Ezra dan tersenyum jahil padanya. Walaupun beda fraksi dan mereka saling berebut kursi yang sama, Ezra tahu kalau itu hanyalah candaan belaka. Ezra hanya tersenyum sebagai tanggapan, di keadaan seperti ini ia merasa bukan saatnya untuk meladeni distraksi apapun itu. Tiga menit sesi Dion akhirnya berakhir juga, dan ketika ia berjalan kembali ke tempat duduknya, entah kenapa ia memilih untuk memutar lewat arah kiri dimana jaraknya jadi lebih jauh dari bangkunya berada, walaupun itu berarti jadi melewati bangku Ezra. Saat Dion berjalan lewat belakangnya, Ezra merasakan ada goresan lembut dan tepukan ringan di bahu dan punggungnya. Itu jelas Dion yang pastinya bermaksud menyemangati teman satu fraksinya itu. Walau kemudian dugaan itu terbantah dan Ezra dibuat heran ketika ia mengikuti pergerakan Dion yang ternyata tidak melakukan hal yang sama pada teman satu fraksi mereka yang lain; Septa Asnizar, padahal sama-sama lewat belakang bangkunya. Tidak ingin menebak-nebak hal yang tidak seharusnya ia pikirkan di saat seperti ini, Ezra menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya dengan perlahan lalu mengembalikan fokusnya kepada kertas-kertas coretan yang ia telah siapkan, sedikit berlatih untuk sesi kritisasi dewan selanjutnya.


Sesi demi sesi berganti dan menit demi menit terlewati, seluruh rangkaian kritisasi dewan sampai debat terbuka telah selesai. Ke dua belas calon dewan berdiri, mengangkat tinggi tangan kiri mereka yang terkepal sebagai tanda terimakasih untuk para penonton, lalu berbalik pergi memasuki pintu kaca ganda yang mengarah ke dalam gedung C. Setelah pintu itu ditutup dan sorakan para penonton akhirnya redam, Ezra menghela napas yang tanpa sadar telah lama ia tahan. Butiran keringat dingin mengalir dari pelipis dan lehernya, hampir tiga jam penuh mereka saling bersitegang dan adrenalin yang akhirnya tandas membuat Ezra menyadari kalau tubuhnya ternyata gemetar dan kakinya terasa lemas. Para calon lain pasti merasakan hal yang sama karena semua langsung berpencar untuk duduk di sofa yang ada di sepanjang sisi pinggir ruangan. Ezra pun ikut-ikutan, ia berjalan lunglai lalu duduk di sebelah Septa yang terengah-engah seakan baru saja mengikuti maraton, ia pasti juga sama tegangnya. Tidak ada dari mereka semua yang mengucapkan sepatah kata pun, semua terdiam bagai patung. Bahkan Damar, calon yang tadi dijadikan ‘karung tinju’ selama perdebatan yang panas, justru memilih untuk menyelonjorkan tubuhnya di lantai yang dingin, terlalu pasrah untuk mengangkat tubuhnya duduk di sofa atas. Suara pembawa acara terdengar samar-samar dari arah luar, mengatakan kalau akan ada jeda lima menit sebelum acara kembali dimulai dengan pasangan calon presiden dan wakil presiden yang berganti melakukan kritisasi dan debat. Ezra melirik ke arah pintu kaca ganda tersebut, berusaha melihat bagaimana keadaan diluar, atau lebih tepatnya memastikan siapa saja para petinggi dari fraksinya yang akan menyusul mereka ke dalam gedung lalu mengkritik habis-habisan kesalahan yang mereka lakukan di panggung tadi.
“Kira-kira nanti bang Adra bakal bilang apa ya Zra?”
Tanya Septa disebelahnya yang seakan dapat membaca suasana hati Ezra yang resah. Ezra hanya menghela napas sebagai balasan, “entahlah Ta, tapi kita tadi gak buruk-buruk amat kok, jadi paling cuman di tegur biasa.”
Tepat setelah kalimat yang sama sekali tidak menenangkan itu, suara pintu samping gedung terdengar dibuka dengan keras, membuat semua orang yang ada di ruangan itu reflek menegakkan tubuh mereka dan menengok ke asal suara. Sosok berkacamata hitam dengan rambut ikal yang dibiarkan memanjang, berkemeja gelap dan jaket dengan corak merah yang ia sampirkan di bahunya itu berjalan langsung menuju ke arah Ezra dan Septa berada. Sosok tersebut, yang semua sudah menduga adalah Adra, tanpa basa basi mengisyaratkan kepada mereka berdua untuk mengikutinya, lalu langsung berbalik dan berjalan meninggalkan kedua adik tingkatnya itu yang masih saling tukar pandangan dengan bingung sebelum akhirnya beranjak dan menyusul langkah tegap Adra yang semakin menjauh. Adra lalu lanjut berjalan menuju arah tangga, kemungkinan membawa mereka ke bagian atas gedung yang sepi dan tentunya sejauh mungkin agar yang lain tidak dapat mendengar entah apapun itu yang akan ia lontarkan pada Ezra dan Septa, pastinya juga menyinggung tentang partai. Di tengah-tengah langkah mereka menaiki anak tangga untuk menuju ke lantai tiga, Septa menyenggol lengan Ezra, lalu menunjuk ke arah jemari kanan Adra yang menggenggam sepuntung rokok. Melihat itu, Ezra meringis. Mereka semua tahu kalau merokok di dalam gedung dilarang, dan Adra yang bersifat keras pada hukum itu tak pernah sekalipun melanggar aturan yang ada. Namun, pemandangan di depan mereka itu membuktikan sebaliknya, bisa diartikan bahwa dia marah besar sampai tidak peduli dengan kondisi yang lain. Ezra mulai menyusun kata-kata yang semoga saja bisa ia buat untuk beralasan, namun mengetahui sifat Adra, sepertinya itu percuma.

Mereka akhirnya sampai di lantai tiga, berjalan menuju ujung lorong yang terdapat pemandangan jendela yang menunjukan awan hitam yang bergelung. Adra menghisap rokoknya yang tinggal secuil itu dalam-dalam, lalu membuang dan menginjaknya di lantai seraya menghembuskan asapnya dengan kasar.
“Kalian tahu gak kira-kira kesalahan kalian tadi tu apa?”
Dari intonasinya, Ezra dan Septa paham kalau Adra sedang menahan amarah yang luar biasa dan itu membuat mereka seketika membatu. Bahkan, mereka sebisa mungkin menghindari tatapan mata Adra yang walau terhalang oleh kacamata hitamnya, tajamnya tetap bisa menembus sampai rusuk.
“Tahu bang.”
Septa lah yang akhirnya memberanikan diri menjawab, suaranya lirih.
“Apa?”
Adra bertanya balik, kini berganti menatap Ezra, “apa coba kesalahanmu tadi?”
“Tadi lupa teks.”
“Kamu lupa teks karena memang lupa apa terdistraksi?”
Ezra terdiam, bukan karena ia tidak tahu jawabannya, namun justru karena sebaliknya. Ia jelas tahu apa yang membuat ia tiba-tiba hilang ingatan sesaat di detik itu, namun rasanya terlalu tabu untuk menerima fakta tersebut apalagi mengucapkannya keras-keras di depan orang-orang yang ia kenal. Fakta dimana ia terpana oleh paras Dion akan sebisa mungkin ia kubur dalam ingatan dan semoga saja lambat laun akan terlupakan.
“Kan udah kubilang kalau pas ngomong tu yaudah fokus aja ke apa yang kamu ucapin, gak usah perhatiin yang lain apalagi tolah-toleh gak jelas!”
Teguran dari Adra menyeret kembali benak Ezra yang berkelana, ia hanya bisa mengangguk diam.
“Dan kamu bisa-bisanya blunder di tengah-tengah debat! Padahal semua tahu kalau pertanyaan si Rendy tadi jelas-jelas cuman jebakan, tapi kamu tanggepin serius lagi! Nyadar gak kalau tadi semua penonton ngetawain jawabanmu?”
Adra beralih kepada Septa yang hanya bisa menunduk.
“Mungkin kalian terlalu percaya diri buat menyadari kalau lawan kita tahun ini tuh orang-orang yang pada punya nama, apalagi sekarang Partai T lebih gencar lagi ngirim delegasi mereka, ditambah si Arya yang walau majunya independent tapi track record-nya bagus, sudah jelas yang netral bakal milih dia semua. Sekalinya gak hati-hati seperti ini, jelas kita bakal kalah! Kalian tuh dianggap sebagai gladiator terkuat Partai M yang di gelanggang, kalian maju bawa nama fraksi, jadi jangan seenaknya!”
Hanya kata maaf yang dapat terucap dari mulut Ezra dan Septa, mereka memilih untuk tidak mencari alasan agar amarah Adra tidak semakin menjadi dan dia bisa segera pergi.
“Kursi dewan ada sepuluh dan yang mencalonkan ada dua belas, berarti akan ada dua yang terlempar. Kalau sudah begini, satu-satunya cara agar kalian tidak jadi dua orang yang gak beruntung itu adalah mencari suara sebanyak-banyaknya, dan dengan reputasi kalian yang hancur ini aku yakin yang bisa bikin kalian menang hanyalah dukungan partai. Jangan lupa kalau tanpa kami, kalian gak mungkin berada di sini. Di lain kesempatan cam kan itu, jangan buat Dega dan fraksi malu!”
Bentak Adra terakhir kalinya sebelum ia berjalan pergi, meninggalkan Ezra dan Septa yang termenung sesaat, menatap hamparan langit kelabu yang sekarang mulai bergemuruh.
“Yuk balik, habis ini pasti pada kumpul diluar buat ndukung Gio yang maju wapres.”
Ajak Ezra pada Septa yang raut sedih di wajahnya terpampang jelas. Mereka akhirnya berjalan menuju arah tangga, turun dengan loyo kembali ke lantai satu dimana beberapa calon dewan lain sudah mulai beranjak pergi menuju luar untuk menonton dan menyoraki pasangan calon dari fraksi mereka. Mereka berdua sempat berhenti di depan pintu kaca ganda, bimbang apakah sebaiknya langsung ikut berkumpul bersama kawan-kawan fraksinya setelah salah satu petinggi baru saja memaki mereka habis-habisan. Sebenarnya Ezra dan Septa tahu kalau amarah Adra hanyalah atas nama kader partai, bukan secara personal, namun rasa bersalah dan kekesalan tetap menggumpal di dada mereka. Saat berada di tengah-tengah ambang keraguan, Ezra merasakan tangan hangat seseorang di pundaknya, membuatnya reflek menoleh dan mendapati Dion yang menatapnya khawatir.
“Kenapa kalian tadi? Dimarahin bang Adra ya?”
Ezra terdiam, ia merasa malu untuk menanggapi pertanyaan Dion. Septa lah yang lalu mengangguk mengiyakan.
“Tadi aku habis ke kamar mandi, terus denger samar-samar di luar kalau bang Adra ngajak kalian ke atas dan kelihatannya marah besar. Dibilangi apa aja tadi?”
Ezra tahu kalau Dion menanyakan itu hanya karena ia cemas dengan keadaan temannya, namun menurut Ezra, mengungkit suatu masalah yang baru saja terjadi langsung kepada orangnya adalah hal yang menyebalkan. Jadi alih-alih menjawab dengan baik, Ezra menepis tangan Dion yang masih bertengger di bahunya itu lalu segera berjalan keluar gedung, meninggalkan Septa dan Dion yang menatap kepergian Ezra dengan raut penuh tanda tanya.


“LAKSANA CITA!!”
“SATU VISI, SATU AKSI!!”
Sorakan jargon terdengar lantang diteriakkan oleh para penonton yang mendukung pasangan calon nomor tiga, didominasi oleh kawan dari fraksi mereka; koalisi antara Partai M dan Partai H. Pasangan calon presiden dan wakil presiden BEM tersebut, Balangga Januar dan Giovan Yuswindhra, tampak bungah seakan dengan hingarnya soraian yang ditujukan pada mereka itu sudah pasti akan membuat mereka menang. Di saung yang terletak di belakang huru-hara kerumunan, Adra sedang duduk termenung mengamati keramaian di depannya itu. Di sebelahnya adalah Dega, orang nomor satu di fraksi selama dua tahun berturut-turut, yang juga sama-sama diam menatap kumpulan orang yang sekarang bertepuk tangan pada Angga dan Gio yang pamit undur diri dari panggung. Kritisasi dan debat terbuka untuk pasangan calon presiden dan wakil presiden selesai sudah, mengakhiri rangkaian acara yang panas ini secara keseluruhan. Langit sudah gelap dan lampu-lampu sudah mulai dinyalakan, bukan lagi karena hujan yang baru saja reda, namun juga karena menandakan waktu yang semakin petang. Kerumunan orang di depan mereka itu mulai membubarkan diri, sebagian berkumpul pada fraksinya masing-masing dan sebagian langsung pulang, namun itu tidak membuat Adra dan Dega ikut beranjak. 
“Jadi kita harus gimana ini bang?”
Tanya Adra lirih di sela-sela hembusan rokoknya, menunggu jawaban dari Dega yang terdiam sesaat.
“Ya seperti yang kamu bilang tadi, cari suara sebanyak-banyaknya, cuman nanti dibagi saja per angkatan. Dua angkatan yang mahasiswanya paling banyak, mereka bisa diarahkan untuk memberi suara mereka pada Ezra dan Septa.”
“Untuk Gio gimana?”
Masih dengan intonasi cemasnya, Adra kembali bertanya.
“Itu mah aman, kan kita ada koalisi sama Partai H, mereka juga pasti bantu atur, lagian aku juga yakin kalau dia bakal menang. Fokus kita ke dewan-dewan kita sendiri aja dulu.”
Adra hanya mengangguk mengiyakan, walaupun dalam hatinya ia bertanya-tanya entah bagaimana caranya ketua komisariat mereka ini dapat bersikap begitu santai. Lusa sudah saatnya untuk pemilihan suara, dan besok adalah hari tenang dimana semua diberi waktu untuk benar-benar memikirkan pilihan mereka, namun setenang apapun hari itu tentunya fraksinya akan tetap ricuh. Adra yang diberi kepercayaan untuk mengatur ini semua, merasa kalau ialah yang salah jika ada kegagalan pada partai yang sudah ia anggap rumah sendiri ini, sekecil atau sesepele apapun kegagalan itu. Ia tak akan membiarkan kesalahan yang Ezra dan Septa perbuat tadi membuat mereka kalah, apapun yang terjadi mereka harus menang telak.
“Tapi aku tadi sepertinya terlalu keras pada Ezra dan Septa, sampai sekarang mereka masih belum mau dekat-dekat sama aku.”
Kalimat yang Adra tahan erat-erat di ujung lidahnya akhirnya terlontarkan juga, sebenarnya ia sendiri sudah memikirkan hal tersebut dalam benaknya beberapa waktu ini. Pandangannya daritadi sesekali mengarah ke beberapa langkah di sisi kirinya, dimana para calon dewan dari fraksi mereka dan beberapa kader lain sedang berkumpul dan mengobrol, termasuk Ezra dan Septa. Namun saat tatapan mereka bertabrakan, raut kedua adik tingkatnya itu berubah masam dan langsung membuang muka. Memahami apa yang dimaksud Adra, Dega hanya tertawa kecil dan menepuk pelan punggung orang kepercayaannya tersebut, “gak usah terlalu dipikir, mereka juga pasti paham kalau marahmu bukan secara personal. Biarin aja dulu, besok juga bakal baikan lagi.”
Setelah mengucapkan itu, Dega beranjak berdiri, “duluan ya, aku mau menemui Gio dulu, kamu ikut nimbrung sama yang lain sana.”
Adra hanya mengangguk dan menjabat tangan petingginya itu sebelum dia berjalan menjauh. Masih enggan beranjak dari posisinya, ia memilih untuk kembali mengamati sekitar, pandangannya menyapu orang-orang yang berlalu-lalang, mencari hal yang menarik untuk mendistraksi pikirannya dari rasa bersalah dan kekhawatiran yang melekat erat. Sampai akhirnya ia melihat Dion yang berjalan sendirian…ke arahnya.
“Halo bang.”
Senyum tipis dan sapaan pelan itu Dion lontarkan ketika ia menjabat tangan Adra.
“Halo juga Yon, kamu gak ikut kumpul sama yang lain?”
Pertanyaan basa basi dari Adra itu dibalas langsung oleh Dion, “bang Adra sendiri kenapa gak ikut?”
Hanya tawa kecil yang bisa Adra lontarkan, ia tidak ingin membicarakan keresahannya dan berharap semoga Dion paham kalau pertanyaannya tidak akan terjawab. Dion lalu duduk di samping Adra, di tempat Dega sebelumnya berada, meminta satu batang rokok milik Adra dan mereka berdua kembali terbawa arus keheningan, yang berisik hanyalah hembusan rokok mereka yang tak henti-hentinya mengudara.
“Ezra sama Septa tadi kenapa bang?”
Adra sedikit tercekat mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu dari sosok di sampingnya, walaupun setelah itu Dion melanjutkan dengan kata, “kalau boleh tahu aja sih.”
“Emang kenapa Ezra ma Septa?”
Alih-alih menjawab, Adra memilih untuk pura-pura tak tahu apa yang dipermasalahkan.
“Gak papa sih, cuman tadi Ezra jadi badmood pas aku samperin. Kata yang lain tadi kalian sempet ngobrol ya? Ingin tahu aja sih apa yang kalian omongin.”
Ucap Dion dengan ekspresi santai, tapi dari intonasinya Adra tahu kalau Dion aslinya sudah mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan ia berucap seperti itu hanya untuk sekedar menyindir dirinya, atau lebih tepatnya mengkritik caranya dalam ‘menegur’ kedua kawannya.
“Oh, cuman ngomongin soal kesalahan mereka tadi pas kritisasi.”
Adra merasa percuma saja jika ia berbohong atau mengalihkan topik, jadi ia jawab sesuai fakta. Ia tahu jelas sifat asli Dion yang tegas, tidak segan-segan mengatakan langsung kepada orang yang dirasanya bersalah. Dega sempat bilang kepada Adra kalau dia dan Dion sebenarnya memiliki sifat yang sama, sama-sama kerasnya jika membela dan melindungi orang-orang yang disayang, cuman bagaimana cara mereka dalam memperlihatkan rasa sayang mereka itulah yang berbeda.
“Tapi memangnya harus banget ya diungkit? Toh sudah terlanjur terjadi kan? Ya memang ada satu dua hal yang salah tapi itu cuman hal kecil dibandingkan dengan keseluruhan. Menurutku mereka sudah bagus kok, lagian apa salahnya ngasih sedikit apresiasi sebagai petinggi kepada kadernya?”
Pertanyaan yang juga adalah protes dari Dion yang bertubi-tubi itu justru membuat Adra tersenyum, ia paham Dion tidak terima atas apa yang ia lakukan pada temannya dan ia tidak merasa kesal akan hal itu.
“Aku gak bilang kalau mereka tadi jelek, cuman sedikit evaluasi aja untuk kedepannya kalau ada kesempatan yang sama seperti ini, bisa lebih dimaksimalkan lagi. Aku juga negur mereka atas nama partai, secara pribadi aku gak ada masalah kok sama mereka.”
Adra membalas dengan tenang, berusaha meluruskan persoalan ini dan mencegah kesalahpahaman. Dion terdiam, namun tatapannya tetap sama sinisnya sedari awal saat melirik pada Adra. Tidak lama setelahnya, ia memadamkan api yang ada di ujung rokoknya lalu beranjak berdiri dan tanpa menjabat tangan atasannya itu, ia berjalan pergi begitu saja, “lain kali jangan over ya kalau negur, Ezra jadinya ikutan marah sama aku. Bayangin aja kalau itu El yang dimarahi seperti itu, emangnya kamu tega?”
Adra sedikit heran ketika memikirkan makna sebenarnya dari apa yang dikatakan Dion, tapi kemudian sebuah kesadaran membuatnya terpaksa tertawa kecil, “ohh jadi gitu,” gumamnya sebelum akhirnya menyusul Dion beranjak.

Bulan purnama telah menampakkan dirinya sepenuhnya dan angin semilir yang dingin berhasil menembus kain tipis yang dikenakan para mahasiswa yang masih bercengkrama di depan gedung fakultas, memaksa mereka untuk akhirnya menetapkan bahwa sudah waktunya untuk beranjak pergi. Septa sudah terlebih dulu pamit setengah jam yang lalu, sekarang tinggal Ezra dan tiga orang lainnya yang kemudian sepakat untuk menyusul kawan mereka itu pulang.
“Kamu masih mau disini Zra?”
Salah satu kawannya bertanya, sedikit heran ketika melihat Ezra yang tidak ikut berdiri seperti yang lain.
“Iya, masih males balik.”
Balas Ezra sebelum akhirnya kawan-kawannya itu meninggalkannya sendirian di saung yang temaram. Beberapa menit Ezra terdiam di tempat duduknya, bengong menatap jalanan yang lengang dan tarian dedaunan di kanan kirinya, masih memikirkan kesalahannya tadi sore. Ucapan Adra terngiang di kepalanya, dan walaupun ia benci untuk mengakui, tapi apa yang dikatakannya memang ada benarnya. Ezra akhirnya menghela napas setelah ia sadar kalau sekeras apapun ia memikirkan dan menyesali momen tersebut, itu tidak akan pernah mengubah fakta yang sudah terlanjur terjadi. Ia lalu beranjak berdiri dan mulai merogoh celananya untuk memastikan kunci mobilnya masih ada di saku, namun kemudian ia teringat kalau justru tas nya yang masih ketinggalan di dalam gedung C, tepatnya berada di salah satu ruang kelas yang tadi digunakan untuk tempat singgah para calon dewan. 
Sialan. Mana mungkin jam segini pintunya masih dibuka.
Dengan sedikit terburu, Ezra berjalan menuju pintu samping gedung yang untungnya masih belum dikunci. Langsung saja tanpa melihat sekitarnya Ezra segera menghampiri ruang kelas C-2. Dengan penuh harapan ia menggerakan gagang pintu tersebut, berdoa semoga saja ada kemungkinan kalau ruangan tersebut masih dapat dibuka. Namun percuma, tidak dapat terbukanya pintu itu yang jadi jawabannya. Ezra memijat dahinya, memikirkan amalan buruk apa yang telah ia perbuat sebelumnya untuk mendapatkan kesialan beruntun di hari ini.
“Nyari apa Zra?”
Sedikit terkejut dengan suara yang tiba-tiba muncul dari belakangnya itu, Ezra reflek menoleh kepada sosok yang berdiri beberapa langkah di baliknya, memperlihatkan senyuman termanisnya kepadanya.
“Dion? Kirain kamu udah pulang?”
Tanya Ezra heran, lalu dengan perlahan mulai berjalan mendekati Dion.
“Kata siapa? Aku daritadi duduk di sofa situ, nungguin kamu.”
Jawaban dari Dion justru membuat kerutan di dahi Ezra semakin jelas, untuk apa ia menunggunya selesai bercengkrama sampai jam segini? 
Kebingungan Ezra akhirnya terjawab saat Dion menunjuk ke arah sofa yang sebelumnya ia duduki, “tuh tas kamu, udah aku ambilin tadi sebelum di kunci.”
“Lah, kenapa gak bilang daritadi sih. Aku udah terlanjur panik.”
Dion hanya tertawa kecil melihat wajah Ezra yang langsung berubah lega, mengikutinya ketika ia mengambil tas nya sampai kemudian mereka berdua berjalan beriringan keluar gedung. Beberapa saat mereka melangkah dalam diam, sampai akhirnya Dion memecah keheningan yang menyeruak.
“Maaf ya Zra untuk yang tadi, aku cuma khawatir aja sebenarnya.”
Ucap Dion lirih, tidak berharap kalau Ezra langsung memaafkannya.
“Iya gak papa, aku juga minta maaf kalau tadi masih kebawa emosi.”
Dion tersenyum mendengar itu, ada rasa ringan di dadanya setelah mengetahui Ezra sudah tidak lagi marah dengannya.
“Tapi aman kan ya? Maksudnya sama bang Adra udah gak di apa-apain lagi kan?”
Ezra tertawa mendengar pertanyaan itu terlontar dari mulut Dion, ia merasa ada efek hiperbola dalam kalimat tersebut, “nggak kok, aman.”
Dion mengangguk ria, seakan sudah puas dengan konfirmasi yang Ezra beri.
“Tadi aku juga udah bilang langsung ke orangnya kok, lain kali kalau negur orang jangan keterlaluan.”
Tercengang, Ezra reflek berhenti dan menoleh ke arah Dion yang tampak heran ketika melihat reaksi orang di sampingnya itu, “kamu bilang langsung ke orangnya?”
“Iya, kenapa memang?”
Masih dengan raut polos dan nada tenang yang sama, jawaban Dion itu membuat Ezra menghela napas dengan kasar, “gimana kalau ternyata itu justru memperkeruh situasi?”
“Gak lah, itu kelewat konyol. Bang Adra memang keras, tapi dia gak bodoh.”
Tawa kecil dari Dion membuat Ezra menggeleng tidak percaya dengan bagaimana cara temannya itu menyikapi situasi seperti ini, namun karena ia sendiri tidak ingin kembali berlarut dalam hal yang sudah berlalu, Ezra memilih untuk tidak meneruskan lebih lanjut topik tersebut. Namun sepertinya, Dion tidak berpikiran yang sama.
“Tapi serius lho, aku tahu kamu kesal sehabis ditegur itu bukan karena kamu gak ngerasa salah, tapi justru sebaliknya kan? Padahal menurutku kamu udah lebih dari sekedar bagus, lagian grogi sebentar saat di keadaan seperti itu kan wajar. Makanya aku tadi nyamperin langsung ke bang Adra, bilang ke dia kalau jangan over, karena aku gak terima kalau kamu diperlakukan gitu, aku gak mau lagi lihat kamu jadi merasa bersalah.”
Ezra seakan langsung bisu, ia tidak tahu harus berkata apa atau bahkan bereaksi bagaimana sebagai jawaban atas ucapan yang sangat tidak ia duga itu. 
“Udah ya Zra, gak usah dipikirin lagi.”
Seakan paham dengan apa yang daritadi ia resahkan, Dion mengucapkan itu sembari mengusap pelan punggung Ezra, usapan lembut penuh afeksi yang berhasil membuat jantung Ezra berdetak lebih kencang. Dion kemudian melingkarkan tangannya di bahunya, merangkulnya, mengirimkan sinyal kehangatan pada sekujur tubuh Ezra yang dibalut udara dingin bulan November. Ezra hanya bisa mengangguk, terlanjur menyerah memikirkan kalimat balasan dan tentunya terlalu grogi untuk sekadar bersuara. Mereka melanjutkan melangkah dalam diam, saling meresapi keberadaan satu sama lain sampai akhirnya mereka tiba di trotoar depan, dimana kalau jalan ke kiri maka akan menuju parkiran mobil dan ke kanan untuk menuju parkiran motor.
“Kamu hari ini bawa mobil?”
Ezra mengangguk mengiyakan pertanyaan Dion, dan ia sendiri tak perlu bertanya balik padanya karena ia sudah melihat kunci motor yang daritadi Dion genggam pada tangan kirinya. Mereka lalu saling bersalaman sebelum akhirnya berpisah menuju arah yang berbeda, “yaudah, hati-hati ya di jalan. Besok ketemu lagi.”
Lambaian tangan dan senyuman khas dari Dion itu seakan mempertahankan rasa hangat di dadanya, namun beberapa saat kemudian ia merasakan kehangatan itu ikut pudar dan menghilang seiring menjauhnya langkah mereka berdua. Saat masuk ke mobilnya, ia merasa hampa, merasa sepi. Setiap kali ia jauh dari Dion, ia menyadari betapa penting sosoknya dalam mengisi kekosongan batin dalam dirinya itu. Ezra mengumpat pelan, kenapa akhir-akhir ini ia merasakan pusaran emosi yang justru membuatnya bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Dion? Apakah ada benang merah yang saling mengikat mereka, namun ia terlalu buta untuk melihatnya?
Ezra menyalakan mesin mobilnya, lalu memilih lagu yang sekiranya cocok menemaninya menyusuri jalanan padat kota. Apapun itu yang mengganjal di pikirannya, bisa ia tunda untuk kembali direnungi esok hari.

Sesial-sialnya hari ini, setidaknya ia dan Dion memiliki sepenggal cerita yang akan ia dekap dalam sunyi.

Notes:

you can tell that i wrote this as a joke by how corny this 1st chapter is...like theres no fucking way an actual responsible adult acting like an angry highschooler then beefing with each other over some trivial shit lololol