Chapter Text
Renzi menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap sorot lampu kendaraan yang ia pesan segera tampak dari ujung jalan yang gelap. Ini sudah hampir tengah malam, namun taksi yang ia tunggu sedari satu jam yang lalu belum juga terlihat. Ia memilih untuk melanjutkan menunggu sambil duduk di bangku halte bis yang berjarak hanya beberapa langkah dari tempat ia berdiri. Renzi merapatkan jaketnya, berusaha menghalau udara dingin malam bulan Maret. Jalanan semakin sepi, hanya para pengendara motor yang terkadang berlalu-lalang. Renzi mengecek jam di handphone-nya, sudah lewat tengah malam.
"Sial, berapa lama lagi aku harus menunggu disini."
Gerutunya, apalagi saat ia sadar bahwa rokoknya telah habis. Sebenarnya, cerita bagaimana Renzi bisa terjebak dalam situasi tersebut adalah karena motor yang biasa ia gunakan sedang dibawa sang kakak ke luar kota, anggapannya nanti pulangnya ia bisa naik taksi. Memang tidak salah, soalnya dia kini sedang menunggu taksi yang dimaksud, namun harus memakan waktu yang begitu lama hanya untuk menunggu kedatangannya.
“Tulisannya sudah di jalan tapi sudah satu jam belum datang, aku beri bintang satu.”
Renzi mengingatkan dirinya sendiri untuk menulis ulasan tersebut sesampainya ia di rumah. Di tengah-tengah pikirannya yang hanya dipenuhi kata-kata keluhan, ia teringat salah satu topik obrolannya dengan teman-temannya tadi.
"Eh, aku ada cerita nih."
Ucap Renno bersamaan dengan asap rokok yang keluar dari mulutnya ketika ia berbicara. Teman-temannya serempak menoleh, "apa?" Sahut Irham sembari menyalakan pemantik, ikut menyulut rokoknya.
"Kemarin pas aku ke rumah saudara, sepupuku yang masih kecil tiba-tiba cerita. Katanya di pinggiran kota ini, kalau pesan taksi di sekitaran tengah malam, yang datang bukan taksi biasa."
"Terus apa yang datang? Gajah?" Celetuk Tama seraya terkikik pelan, Irham juga kemudian ikut tertawa bersama temannya tersebut.
"Pokok katanya taksi itu gak akan mengantar kamu ke tempat yang diminta, tapi ke tempat yang kamu butuh."
"Berarti yang butuh pacar otomatis langsung diantar ke rumah orangnya dong?" Ucap Radika yang kemudian disahut dengan “iya ya” dan tawa oleh teman-temannya bersamaan.
Renzi tersenyum kecil mengingat percakapan tersebut. Kalau taksi semacam itu memang benar ada dan mengantarnya ke tempat yang ia butuh, tidak perlu berpikir panjang dimana tempat itu, ia sudah tahu. Hanya satu kata yang terpikirkan olehnya, lebih tepatnya satu nama.
Farrel.
Sosok yang menjadi sumber kegalauannya sejak beberapa bulan yang lalu, ketika saat itu ia menyadari perasaannya yang sebenarnya bukanlah rasa cemburu pada Farrel karena dekat dengan perempuan yang ia yakin ia sukai. Melainkan perasaan fatal yang tetap kembali sekuat apa pun ia berusaha menepis. Ini nyata kan? Pertanyaan itu seakan secara otomatis terulang di benaknya, lagi dan lagi dan lagi seperti halnya ia mencari keyakinan di dalam keraguannya. Bahkan sampai saat ini pun, pertanyaan tersebut masih terdengar jelas dimanapun dan kapanpun ketika ia sendiri, meninggalkan jejak permanen di otaknya.
Sebuah sorot lampu yang tiba-tiba muncul dari ujung jalan membuyarkan lamunannya. Cahaya tersebut berasal dari lampu depan sebuah mobil hitam yang cukup menyilaukan jika di tengah-tengah kegelapan seperti ini. Mobil tersebut memelankan lajunya ketika mendekati halte tempat Renzi menunggu dan berhenti tepat di depannya. Renzi segera mengecek handphone-nya, apakah itu benar mobil yang ia pesan?
“Akhirnya Ya Tuhan,” gumamnya ketika akhirnya ia mengetahui bahwa tidak lama lagi ia akan berbaring terlelap di kasurnya yang empuk. Tanpa menunggu lagi, ia segera masuk ke kursi penumpang, menutup pintu mobil lalu mencari posisi duduk senyaman mungkin.
"Atas nama Renzi?" Tanya si sopir, melirik Renzi lewat kaca tengah dengan tangan kirinya memegang handphone yang memperlihatkan profil Renzi yang terpampang di layarnya. Di dalam mobil gelap, namun cahaya handphone yang cukup terang membuat wajah si sopir terlihat samar-samar; beraut tegas dan berkacamata, tampak seperti sosok yang lebih pantas bekerja kantoran atau di bidang yang lebih serius. Renzi menyahut mengiyakan, lalu si sopir membacakan alamatnya dengan nada suara yang tegas. Renzi kembali mengangguk, dan akhirnya si sopir mulai menjalankan mobilnya.
Sepanjang perjalanan, suasana hening dan sedikit canggung, tidak ada yang membuka suara. Si sopir tampak seperti sosok yang tidak banyak bicara, apalagi membuka basa-basi. Begitupun dengan Renzi yang tenggelam dalam pikirannya sendiri, melamun memperhatikan pinggir jalan yang sepi dan gelap, hanya dihiasi oleh lampu jalan yang temaram. Sampai akhirnya, keheningan tersebut dipecahkan oleh ucapan si sopir, "sudah sampai."
Renzi tersentak pelan mendengarnya. Dengan segera ia merogoh saku untuk mengambil dompetnya, mengeluarkan sejumlah uang sesuai dengan yang tertera. Ia mengacungkan uang tersebut kepada si sopir yang anehnya hanya dibalas pandangan datar olehnya.
"Tidak perlu," ucapnya seraya kembali memandang ke depan, "lagipula, mungkin kita akan bertemu lagi."
Kalimat tersebut membuat Renzi sedikit merinding, apa maksudnya orang ini?
"Oh, baik. Terimakasih pak." Hanya kata tersebut yang bisa ia ucapkan sebelum akhirnya sesegera mungkin keluar dari mobil tersebut.
Setelah ia menutup pintu, mobil tersebut pun mulai bergerak menjauh. Renzi memilih untuk memperhatikan mobil tersebut sampai akhirnya hilang di kegelapan malam, tidak lagi terlihat cahaya lampunya. Dengan masih memikirkan arti ucapan si sopir barusan, ia memilih untuk berbalik dan masuk rumah…kecuali ternyata ini bukan daerah rumahnya, dan rumah di depannya sekarang adalah rumah Farrel. Apakah tadi ia salah menginput alamat? Tapi tadi saat dibacakan si sopir, sudah terdengar benar alamatnya. Atau apakah mungkin si sopir memang salah membacakan alamat namun dia terlalu mengantuk untuk mendengarkan dengan benar? Tapi bagaimana bisa ia keliru menulis alamatnya dengan alamat Farrel? Ratusan pertanyaan muncul bersamaan di kepalanya, belum lagi mengingat bahwa jarak rumah mereka terpisah jauh. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin? Ditengah-tengah pikirannya yang berkecamuk, ia teringat kembali omongan Renno tentang cerita taksi yang membawamu ke tempat yang kamu butuh, bukan yang kamu tuju. Senyum tipis tampak di kedua sudut bibirnya. Oh jadi begini akhirnya, dan cerita tersebut memang benar nyata adanya. Diiringi tawa kecil yang sedikit dipaksakan, ia melangkahkan kakinya menuju depan pintu rumah berwarna putih tulang tersebut, kemudian mengetuk pintu mahoni merah di depannya.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Oh jelas tidak ada yang bangun di jam sekian. Renzi menepuk dahinya pelan saat teringat kalau sekarang jam satu pagi. Saat ia berbalik badan dan memilih untuk memesan taksi lain, ia mendengar suara derit pintu yang terbuka di belakangnya.
"Renzi?"
Sebuah suara yang amat familiar terdengar tepat di belakangnya, "kenapa kesini jam segini?"
Tanya suara yang sama. Renzi lalu menengok kebelakang, dan disitulah ia melihat sosok yang sangat ia benci. Benci karena sosok tersebutlah yang membuat hidupnya berantakan, menyita perhatiannya dan mengacak-acak perasaannya. Di situasi seperti ini, haruskah ia berhadapan dengannya?
"Ada apa? Masuk saja yuk."
Ucap Farrel memecah situasi canggung diantara mereka. Renzi mau tak mau mengikuti langkah Farrel menuju ruang tamu rumahnya. Setelah menutup pintu, ia berbalik dan mendapati Farrel berdiri di depannya dengan raut wajah penuh tanda tanya.
"Gimana ya ini bilangnya…" Renzi bingung, "aku tadi minum-minum sebentar di bar sama yang lain, terus pulangnya pesan taksi tapi ternyata aku salah milih alamat. Ternyata aku turun di daerah rumahmu, jadi aku memutuskan untuk mampir, siapa tahu kamu belum tidur," ucapnya berusaha menjelaskan dengan senormal mungkin.
"Oh…" balas Farrel sambil menggosok matanya yang terlihat merah, sepertinya ia terlalu mengantuk untuk mempedulikan alasan Renzi yang sedikit tidak masuk akal.
"Sebenarnya aku tadi dengar ketukanmu karena aku ketiduran di ruang tamu, tapi gak papa kalau kamu mau menginap disini. Di sofa situ saja ya." Tambah Farrel sambil menunjuk ke arah sofa abu-abu di depan TV. Renzi mengangguk, ia juga tidak berharap lebih kalau Farrel akan menawarkan kamarnya.
Percakapan ringan diantara mereka berlanjut tidak lama setelah itu, kemudian Farrel meninggalkan Renzi untuk memberinya waktu istirahat. Renzi memperhatikan sosok berkaos putih polos tersebut berjalan di lorong di depannya sampai ia masuk ke kamarnya yang di ujung dekat tangga. Renzi lalu menghela napas, melepas jaket yang dikenakannya lalu menata posisi tidurnya. Sofa tersebut lumayan nyaman, apalagi tadi Farrel memberinya selimut yang cukup hangat untuk semalaman. Beberapa menit berikutnya ia habiskan untuk melamun menatap langit-langit, mempertanyakan dirinya sendiri atas situasi yang menjebaknya, yaitu sekarang. Ia bahkan tidak tahu selanjutnya akan bertambah baik atau malah sebaliknya. Apakah besok adalah waktu yang tepat untuk membicarakan perasaannya?
Tidak. Jangan.
Dua kata tersebut lah yang pertama kali muncul sebagai jawaban dari pertanyaannya. Ia percaya kalau jika ia benar-benar nekat untuk berkata demikian, maka ia tidak hanya kehilangan sosok teman, namun kepercayaan Farrel padanya pun pasti juga ikut lenyap. Dan jika memang begitu akhirnya…maka baiklah.
Kelopak matanya terasa berat, mungkin sebaiknya besok saja ia lanjut memikirkan ini. Akhirnya, ia mendapati dirinya jatuh terlelap dibalut rasa dilema yang ada di hatinya.
Mentari pagi menembus tirai jendela rumah di pinggiran kota, cahaya hangatnya menyapa Renzi saat ia membuka mata. Tidak langsung beranjak, ia perlahan mengamati sekitarnya; sofa abu-abu, karpet hitam, TV 43 inci…ini beneran nyata? Renzi menertawakan dirinya sendiri dalam hati. Sepertinya ia terlalu berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi walau sudah jelas kejadian semalam terasa begitu nyata untuknya. Sebenarnya ia berharap begitu karena takut terhadap sesuatu. Tapi sesuatu tersebut bukan tentang situasi mereka sekarang ini, bukan juga karena dalam pertemanan mereka salah satunya ternyata memendam sesuatu yang lebih besar dari itu serta apa akibatnya jika sekiranya cepat atau lambat segalanya akan terbongkar dan semua orang akan tahu.
Tidak.
Sesuatu itu adalah dirinya sendiri. Dirinya sendirilah yang ia takuti. Ironis bukan?
Renzi yang selama ini dikenal sebagai sosok menawan yang diincar dan mengincar banyak perempuan ternyata tidak pernah ada. Yang sesungguhnya ada hanyalah sosok laki-laki yang sedang dilanda dilema, keraguan dan ketakutan terhadap apa yang telah ia lakukan. Mempermainkan perempuan hanyalah cara yang selama ini ia gunakan untuk melupakan fakta bahwa ia telah melanggar sebuah norma agama.
Ketakutan atas sebuah harga diri, atas sebuah ekspektasi, dan atas sebuah dosa.
Ia mengacak rambutnya frustasi, bisa gila dia lama-lama. Setelah berdiam diri untuk beberapa saat, ia beranjak berdiri dan memutuskan untuk mengetuk kamar Farrel. Rumah terasa sunyi, padahal matahari sudah bersinar terang, cukup janggal jika belum ada satupun anggota keluarga yang bangun. Tapi mengesampingkan hal itu, Renzi sendiri harus mempersiapkan diri untuk bertemu orang tua Farrel, antisipasi jika Farrel belum memberitahu orang tuanya bahwa temannya yang terlantar sampai dini hari menginap semalaman di rumahnya setelah berkali-kali menggedor-gedor pintu di pagi buta. Mungkin tidak sampai segitunya, tapi entah kenapa Renzi berpikir itu adalah penjelasan yang Farrel akan berikan ke orang tuanya.
Renzi berjalan perlahan menyusuri lorong yang remang, kemudian mengetuk pintu kamar Farrel yang berada tepat di kanan bawah tangga.
"Rel, ini temenmu masih disini, kamu jangan seenaknya bangun siang!" Panggil Renzi setengah bergurau.
Tidak ada jawaban.
"Rel? Aku malu kalau berisik...orang tuamu kemana?"
Tetap hening. Aneh sekali. Kemana perginya semua penghuni rumah ini?
Kening Renzi berkerut, memikirkan segala kemungkinan atas apa yang sebenarnya terjadi di malam sebelumnya. Tapi sekeras apapun ia berusaha mengingat dan menghubungkan segala peristiwa yang terjadi, tetap saja nihil. Tidak ada yang janggal pada malam itu, semuanya normal. Kecuali kejadian dengan taksi itu, tapi sebelum dan setelahnya wajar-wajar saja, tidak ada yang aneh.
Sampai tiba-tiba, bayangan itu muncul di benaknya. Potongan-potongan yang datang dan pergi dengan sekilas, bagaikan memori tentang mimpi. Tapi yang ini terlalu jelas, terlalu nyata. Seakan ia sendiri yang melakukannya, seakan ialah yang membunuh mereka dengan tangannya sendiri. Tangan yang pada malam itu terlumuri darah teman-temannya.
Ternyata seperti itu akhirnya?
Setelah sekian lama terjebak dalam perasaan negatif yang bagai tidak ada ujungnya, baru kali inilah ia merasa lega. Potongan memori itu semakin jelas, dan semakin ingat pula dia akan siapa diantara teman-temannya yang ia hantam kepalanya dengan botol alkohol pertama kali. Siapa yang berusaha menahannya saat itu, dan siapa yang ia tusuk dengan potongan kaca dari pecahan botol yang ia gunakan sebagai senjata.
Motif? Sulit mengingatnya, kecuali fakta bahwa ia satu-satunya yang terlalu banyak minum waktu itu. Mungkin karena perkara biasa, soal teman-temannya yang menentang perasaannya kepada Farrel. Tapi semakin diingat rasanya semakin fatal dan ia semakin sadar bahwa semuanya hanyalah kesalahpahaman, tapi dirinya waktu itu tidak dapat mencerna dengan baik pendapat yang teman-temannya lontarkan. Ah sayang sekali, sedikit menyesal rasanya.
Ia berbalik menuju ruang tamu. Matahari sudah mulai meninggi, cahayanya sudah sepenuhnya menyinari ruangan dalam rumah, lorong yang remang-remang pun sekarang sudah terlihat cukup terang. Karena hal itu juga Renzi mendadak berhenti ketika ia menangkap sesuatu yang tampak menonjol dari bawah sofa yang ia tiduri, seakan sesuatu tersebut gagal disembunyikan dengan benar. Perlahan ia mendekati onggokan sesuatu tersebut, lalu ketika sudah cukup jelas untuk mengetahui apa itu, Renzi menepuk dahinya pelan, "Ya Tuhan bodohnya aku, padahal baru saja aku cari-cari. Aku kira hilang, ternyata aku sendiri yang lupa."
Ia lalu tertawa, "maaf ya Rel, kakimu pasti kedinginan. Aku semalam terlalu capek, jadi aku tata tubuhmu seadanya."
Ia berjongkok di bawah sofa, mendorong sepasang kaki pucat dan kaku itu kembali ke bawah kolong.
"Oh iya, aku tidur di rumahmu untuk beberapa hari lagi ya. Masih bingung alibi apa yang akan aku beri soal kasus semalam. Dan juga, obat suntiknya aku taruh dimana ya?"
Jadi kuberitahu lagi kalian, Renzi yang selama ini dikenal sebagai sosok menawan yang diincar dan mengincar banyak wanita, pada dasarnya tidak pernah ada.
