Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 4 of How to make KaiKira kiss
Stats:
Published:
2026-01-31
Words:
703
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
3
Hits:
12

kiss your cold away

Summary:

Kira'na selalu meledek Kaizo yang mudah sekali kedinginan, tapi Kira'na selalu tahu cara paling ampuh untuk mengusir rasa dinginnya.

Work Text:

Malam itu dingin.

Kaizo terus-terusan mengeluh kedinginan selagi Kira'na menyeretnya berkeliling kota. Ini malam musim dingin yang indah, lampu warna-warni dirangkai di antara ranting-ranting pohon yang kering, anak-anak berlarian di atas trotoar yang licin, dan ada festival di alun-alun yang akan menjadi tujuan utama mereka. Sudah lama Kira'na ingin ke sana, tapi tak pernah punya kesempatan sampai hari ini saat mereka diam-diam menyelinap keluar dari rumah.

Salju mulai turun selagi mereka menunggu lampu penyeberangan berubah menjadi hijau, dan keluhan Kaizo semakin bertambah saja.

“Kamu berisik banget, sih," Kira'na berdecak. “Bukannya Gogobugi lebih dingin dari ini? Di sini cuma turun salju beberapa tahun sekali, tau! Orang-orang pada ngerayain kamu malah ngeluh mulu." 

“Aku nggak tahan dingin," gerutu Kaizo.

“Kamu juga nggak tahan panas! Apa aja dikeluhin, bukannya dinikmati aja." 

Kaizo memberengut dan Kira'na tidak tahan untuk memberi kecupan gemas di bibirnya yang manyun.

“Sini aku benerin syalnya biar nggak kedinginan lagi," kata Kira'na. Ia harus sedikit berjinjit untuk meraih syal yang melilit di leher Kaizo. 

Menyebalkan sekali. Sejak kapan perbedaan tinggi mereka jadi berbanding terbalik begini? Kira'na ingat dulu selalu meledek Kaizo yang lebih pendek darinya, tapi hanya dalam beberapa tahun pemuda itu sudah mengejar tingginya dan kini bahkan melampaui Kira'na.

"Kamu pakai syalnya gimana, sih?” Kira'na mengurai syal Kaizo yang melilit erat lehernya. "Mau sekalian bunuh diri? Emang nggak kecekik pakai kayak gini?”

"Ya ‘kan biar nggak dingin.”

"Baru segini doang juga,” Kira'na mencibir. Ia membalut kembali leher Kaizo dengan syal merah yang diberikannya untuk ulang tahun pemuda itu bulan November lalu. 

Kaizo berdiri bergeming selagi Kira'na dengan teliti mengikat simpul pita di bagian depan syal. Senyum Kira'na merekah puas melihat hasil karyanya, lalu mendongak menatap Kaizo.

“Masih dingin, nggak?" 

“Masih. Banget." 

“Dasar. Makanya jangan cuma minum minuman manis sama ngemil donat terus, pertahanan tubuh kamu jadi lemah gini, ‘kan." 

“Aku ‘kan sering makan sayur juga." 

“Cuma wortel! Kamu harus makan yang lain juga kalau mau sehat!" 

"Ngomong sama diri sendiri juga, tuh. Kayak pola makan kamu lebih sehat aja dari aku,” cibir Kaizo.

"Setidaknya aku nggak gampang sakit tiap cuaca berubah dan nggak dikit-dikit ngeluh kedinginan atau kepanasan kayak kamu!”

"Apa salahnya ngeluh kalau aku ngerasa nggak nyaman?”

Lampu penyeberangan sudah bolak-balik berganti merah dan hijau, dan perdebatan mereka tidak kunjung usai. 

Salju turun semakin lebat, dan Kaizo menggigil kedinginan. Kira'na menyatukan kedua pasang tangan mereka dan menggosoknya untuk saling menghangatkan.

“Mau pulang aja?" tawar Kira'na. “Daripada besok kamu sakit, aku juga yang repot ngurusin." 

“Tapi kamu pengen liat festival." 

“Masih ada lain kali," kata Kira'na. “Kita pergi waktu nggak turun salju. Nanti sekalian ajak Pang juga. Aku nggak enak udah bohongin dia dan kabur diam-diam gini." 

"Dia juga lagi sibuk sama game barunya, jadi biar aja,” kata Kaizo. "Kita liat festival dulu, terus pulang.”

"Beneran nggak apa-apa?”

"Nggak. Palingan nanti kamu harus nyeret aku yang udah beku jadi es batu buat pulang.”

"Lebay banget, sih,” Kira'na tertawa. "Ah, syalnya miring. Jangan ditarik-tarik, dong!”

"Simpulnya kegedean!” protes Kaizo.

"Biar aja. Lucu, tau!” Kira'na membetulkan kembali simpul pita pada syal Kaizo. Ia menatap mata pemuda itu, dan tak bisa menahan diri untuk berjinjit dan mencium bibirnya.

Dingin. Masih ada bekas lipgloss Kira'na di bibir Kaizo, dan rasanya seperti mengemut es lolipop perisa stroberi mint, tapi Kira'na tidak menarik diri dan Kaizo merengkuh pinggangnya untuk memperdalam ciuman mereka. 

Festival bisa menunggu, dan butiran salju yang mendarat di antara helai rambut tak lagi terasa mengganggu. Tak ada yang lebih mendesak untuk dilakukan selain ciuman manis yang menghangatkan badan. 

Kira'na tak ingin menyudahinya, tapi saat membuka mata, Kaizo tak ada lagi di sana.

Kira'na berbaring sendirian di ranjang pasien, tidak ada Kaizo, tidak ada salju atau suara festival. Hanya ada sisa jeritan ketakutan orang-orang yang dilukainya.

Kira'na beranjak duduk, lengan kanannya masih terbalut gips dan tidak bisa bergerak. Tangan pernah yang dipakainya untuk menyimpul pita di syal Kaizo dan menyentuh wajahnya yang membeku adalah tangan yang sama yang sudah mengacungkan pedang pada pemuda itu dan nyaris membunuhnya. 

Masa lalu kini hanya kepingan memori yang perlahan terkikis waktu. Kira'na tahu itu. Namun, meski hanya untuk sesaat, ia ingin tetap bergantung pada kenangan lama itu. Satu-satunya hal yang membuatnya bisa tetap bertahan. Bahwa di tengah musim dingin yang membeku, masih ada secercah kehangatan yang bisa diraih dalam jangkauannya.

Series this work belongs to: