Work Text:
Tiga kali ketukan tanpa sahutan di pintu kamar Kaizo membuat Kira'na berpikir pemuda itu benar-benar sudah pergi. Kaizo mampir kemarin, dan Kira'na terlalu sibuk dengan berbagai agenda rapat dan pertemuan sehingga tak punya waktu untuk mengobrol dengannya. Kira'na berjanji akan menemui Kaizo untuk sarapan pagi ini, tapi Kaizo tidak ada di ruang makan saat Kira'na tiba di sana.
Kira'na mengetuk sekali lagi sebelum mendorong pintu perlahan dan mengintip ke dalam. Napasnya terhela lega saat melihat rambut ungu yang mencuat dari gundukan selimut di atas ranjang.
Senyumnya terulas selagi Kira'na mengendap-endap menghampiri dan melompat ke sisi kasurnya.
“Bangun, Putri Tidur!"
Kaizo mengerang, dan senyum Kira'na sedikit surut. Kira'na menarik selimut Kaizo dan mendapat wajah yang kusut dan pucat.
"Ya ampun.” Tangan Kira'na menyentuh pipi Kaizo, panas sekali. "Kamu sakit?”
"Nggak.” Suara Kaizo serak, nyaris tak terdengar. Ia menarik kembali selimut menutupi kepalanya dan terbatuk-batuk keras.
“Nggak apanya?" Kira'na menyingkap paksa selimut Kaizo sebelum mencondongkan wajah dan menempelkan kening mereka untuk memeriksa sekali lagi. Ia langsung menarik diri sambil berdecak. "Aku panggil dokter dulu.”
Tangannya ditahan sebelum sempat beranjak. Bahkan Kira'na bisa merasakan suhu tubuh Kaizo yang tinggi lewat tangannya yang terbungkus selimut.
"Jangan,” Kaizo masih bersikeras. "Aku nggak apa-apa.”
"Nggak apa-apa gimana?” Kira'na berkacak pinggang dan menatapnya galak. "Kamu udah kayak oven dikasih nyawa gini. Mau beneran jadi oven nggak bernyawa sekalian?”
"Kamu doain aku mati?”
"Kalau kayak gini sih nggak aku doain juga kamu bakal cepat mati.”
Kaizo memutar mata sebelum kembali terbatuk-batuk dan mengerang keras.
"Aku panggil dokter,” tukas Kira'na. "Jangan mati dulu sebelum aku balik! Awas aja!”
Kaizo tidak menyahut, dan Kira'na bergegas keluar. Ia meminta pelayan untuk segera memanggil dokter dan memeriksa Kaizo, kemudian Kira'na menemui asisten pribadinya untuk membatalkan semua kegiatannya hari ini. Kira'na yang paling tahu bagaimana menyusahkannya Kaizo jika sedang sakit, jadi hanya ia seorang yang bisa merawatnya.
.
.
.
“Buka mulut," perintah Kira'na, tangannya mengacungkan sesendok obat sirup penurun panas rasa jeruk. "Ini nggak pahit, Kai! Cuma asem dikit kayak jeruk!”
Kaizo mendengkus. "Kamu pikir aku bisa dibohongin dengan trik kayak gitu? Aku bukan anak kecil.”
Tangan Kira'na gatal sekali ingin menempeleng wajah Kaizo.
"Kalau bukan anak-anak harusnya kamu nggak perlu dipaksa minum obat segala!” Kira'na menggeram. "Umur kamu berapa sih, 7? Apa susahnya minum obat doang? Kamu mau sakit terus kayak gini?”
"Nggak perlu minum obat juga aku bisa sembuh!” Kaizo tetap ngotot, meski dengan ingus yang tidak berhenti mengalir dan batuk yang sesekali muncul seolah merobek paru-parunya. "Aku nggak selemah itu!”
Kaizo batuk lagi, dan napasnya terdengar seperti hewan yang tengah meregang nyawa.
Kira'na tidak tahan lagi mendengarnya. Ia merobek setumpuk bungkusan pil obat di meja yang diberikan dokter dan menyuap semuanya ke dalam mulutnya sendiri. Kaizo membelalak, tapi sebelum pemuda itu sempat bereaksi, Kira'na menarik tengkuknya dan mempertemukan bibir mereka.
Semua obat yang ditenggak Kira'na berpindah ke mulut Kaizo, dan Kira'na tidak membiarkan Kaizo menarik diri sampai semua obatnya tertelan.
Saat Kira'na akhirnya menarik diri, Kaizo terlihat seperti separuh jiwanya sudah ditarik pergi. Kira'na menyuap sesendok obat sirup ke mulutnya yang masih setengah terbuka dan mengulurkan segelas air.
"Nah, beres, ‘kan?”
Kira'na tersenyum puas dan berlama-lama menikmati ekspresi Kaizo.
"Heran banget kelakuan kamu masih nggak berubah dari jaman bocil dulu,” komentar Kira'na. "Kalau sakit itu minum obat biar cepat sembuh. Apa susahnya, sih?”
"Obatnya pahit.” Kaizo menemukan kembali suaranya, bagus. Setidaknya dia masih hidup, dan tentu saja itu berkat Kira'na. "Susah ditelan, tau!”
"Itu tadi gampang,” balas Kira'na enteng. "Lagian ngapain takut minum obat pahit? Lebih pahit juga hidup kamu."
Kaizo memberengut masam dan Kira'na tergelak.
“Nah, kamu udah nggak kayak mayat hidup lagi. Makasih dong ke aku. Obat ditambah ciuman maut dari aku, dijamin kamu bakal sehat terus sampai seratus tahun ke depan!"
Kaizo menenggak air putih sambil menggerutu, dan Kira'na tersenyum muram.
“Aku serius. Kamu harus sehat terus, jangan sampai sakit. Kamu nggak boleh mati sebelum aku, ngerti?"
Kaizo meletakkan gelasnya di samping ranjang dan menatap Kira'na.
“Tenang aja. Aku nggak berniat mati muda."
Kira'na mengangguk. Tangannya terulur untuk menyentuh pipi Kaizo yang masih terasa panas. Kaizo memejamkan mata dan membiarkan Kira'na membelai lembut sisi wajahnya.
Kira'na senang bisa melihat Kaizo lagi, hidup, bernapas, dan terasa hangat —sedikit terlalu hangat— di bawah sentuhannya. Mereka semakin jarang bertemu akhir-akhir ini.
Pemburu sfera kuasa sudah kembali marak setelah sebelumnya sempat mereda saat kehancuran Kelompok Tengkotak. TAPOPS tentu saja kalang kabut mengirimkan anggota mereka untuk menjalani misi menyelamatkan para sfera kuasa. Kaizo tidak terkecuali.
Kira'na mendengar dari Fang, Kaizo menjalani misi sulit berturut-turut tanpa henti, pasti juga tanpa istirahat yang cukup. Lihat saja kondisinya sekarang. Satu alasan kuat lain bagi Kira'na agar tidak memadamkan agendanya untuk membubarkan TAPOPS.
“Kamu nggak mau berhenti aja dari TAPOPS?" cetus Kira'na setelah keheningan yang hanya diisi suara gerimis hujan yang mengetuk jendela.
"Jangan mulai,” Kaizo memutar mata.
"Aku serius, Kai,” ucap Kira'na. "Kamu harus berhenti. Kamu bakal cepat mati kalau diperalat terus kayak gini sama mereka.”
"Aku cuma ngejalanin tugas. Aku nggak bakal mati cuma karena beberapa misi kecil.”
"Kamu bakal mati karena terlalu sibuk ngurusin misi sampai nggak punya waktu ngurus diri sendiri.” Jari Kira'na turun ke dagu Kaizo dan mengusap rahang yang kasar oleh jenggut yang tak sempat dicukur. "Kapan terakhir kali kamu makan teratur? Atau, kapan terakhir kali kamu makan sebelum datang kemari?”
Kaizo tidak menyahut, dan Kira'na menghela napas.
“Ayo, bangun," kata Kira'na. “Aku cukurin jenggot kamu sebelum kamu brewokan dan kita nggak bisa ciuman lagi."
“Kamu bukannya suka yang brewokan?"
“Suka buat diliat, tapi kalau ciuman bikin geli, tau!" Kira'na beranjak dan mengulurkan tangannya untuk membantu Kaizo berdiri. “Nanti kamu pakai brewok yang bisa lepas pasang aja biar tetap enak diliat tapi nggak susah dicium."
Kaizo mencibir. Ia berjalan terseok-seok ke kamar mandi dengan bertumpu sepenuhnya pada Kira'na.
"Mau sekalian aku mandiin?” tawar Kira'na.
"Nggak!” tolak Kaizo. "Nanti yang ada kamu grepe-grepe.”
"Apa salahnya grepe-grepe pacar sendiri?” Kira'na mendudukkan Kaizo di depan wastafel dan mengambil alat dan krim pencukurnya. "Pas banget kamu lagi lemah gini dan nggak bisa melawan.”
"Awas nanti aku laporin dengan tuduhan pelecehan seksual.”
"Aku pemimpin di sini, Kai sayang.” Kira'na menyentil hidung Kaizo sebelum mengoleskan krim pencukur di bagian bawah wajahnya. “Hukum nggak berlaku buat aku di sini."
Kira'na kemudian duduk di pangkuan Kaizo dan dengan hati-hati mulai mencukur. Ia sudah beberapa kali melakukan ini, jadi sudah tahu bagian mana saja yang harus dibersihkan. Kaizo tidak lagi berjengit seperti saat Kira'na pertama kali membantunya bercukur. Ia hanya duduk dengan mata tak lepas menatap Kira'na lekat.
"Kira.”
"Hm?”
Kira'na masih fokus membersihkan bagian bawah rahang Kaizo. Ini sudut yang sulit, sedikit gerakan salah bisa membuat kulit halus Si Pemberontak Legenda ini tersayat dan terluka. Masih ada bekas luka samar yang tersisa saat Kira'na tak sengaja menggoresnya di kali pertama.
"Gimana kalau kita nikah?”
Tangan Kira'na tergelincir, dan Kaizo mengerang saat darah mengalir dari luka sayatan baru di bawah dagunya.
Kira'na buru-buru menyambar segenggam tisu dari atas wastafel dan menggunakannya untuk menghentikan pendarahan.
"Kai, kamu ngomong apa barusan?”
"Kalau aku ngomong lagi, kamu bakal motong leher aku beneran?”
"Aku serius, Kai!” Kira'na berdecak tak sabar. “Tadi kamu ngomong apa?"
"Aku ngajakin kamu nikah,” cetus Kaizo, mengambil alih tisu dari tangan Kira'na dan mengusap sisa darah yang turun ke lehernya. "Kamu bener, aku nggak bisa ngurus diri sendiri. Dan aku butuh kamu buat ngurus aku.”
"Kamu mau jadiin aku pengasuh pribadi kamu?!”
"Bukan itu maksud aku,” Kaizo berdecak. Ia terbatuk-batuk lagi dan menarik napas dengan kesusahan. “Sialan. Momennya nggak tepat banget."
“Lagian kamu nggak jelas banget!" gerutu Kira'na. Ia beranjak dari pangkuan Kaizo dan membersihkan sisa darah dan krim pencukur dari wajahnya. “Bikin lamaran yang romantis sedikit kenapa? Ini malah di kamar mandi pas lagi ingusan dan muka kucel kayak gini."
“Ya udah aku tarik lagi lamarannya," Kaizo balas menggerutu. “Nanti aku siapin yang romantis. Sana keluar, aku mau bersih-bersih biar nggak ingusan dan kucel lagi."
“Kamu nggak bakal bisa sendiri," tukas Kira'na. “Biar aku aja."
“Kira—"
Kira'na membungkam protes Kaizo dengan mencium bibirnya.
“Aku mau nikah sama kamu," ucap Kira'na, menempelkan keningnya pada Kaizo. “Aku mau kerepotan nyukur jenggot kamu tiap hari kalau kamu nggak sempat. Aku mau ngurusin kamu kalau lagi sakit walau kamu jadi super nyebelin dan bikin ribet kayak anak kecil. Aku mau ladenin kamu berantem cuma buat nyuapin obat karena kamu nggak suka yang pahit-pahit, atau maksa kamu tidur dan nggak terus-terusan begadang. Aku mau direpotin dan disusahin seumur hidup, asal kamu juga nggak keberatan aku repotin dan susahin seumur hidup.”
"Aku nggak akan pernah keberatan.” Kaizo meraih pinggang Kira'na dan mendudukkannya kembali di pangkuan tanpa melepaskan tautan di kening mereka. “Kamu nggak akan pernah nyusahin atau ngerepotin aku. Walau pasti capek harus ngeladenin sikap absurd kamu tiap hari, seumur hidup bakal terasa sebentar banget asal kamu ada di samping aku."
Kira'na tak bisa mencegah tawa lolos dari bibirnya.
“Kamu habis nonton telenovela?"
“Bisa nggak jangan ngerusak momen serius kayak gini?" decak Kaizo jengkel. “Aku sampai sesak napas ngomong sepanjang itu dan kamu malah—”
Kaizo terbatuk keras dan mengerang, dan Kira'na tertawa geli.
"Oke, waktunya balik ke kamar.”
"Kamu bener-bener nggak bisa baca situasi,” keluh Kaizo.
"Bukannya kamu? Ngambil momen penting lagi setengah sekarat gini.” Kira'na menggeleng-geleng seraya beranjak. "Otak kamu emang lagi eror karena demam. Pasti nanti kamu bakal lupa udah ngomong yang tadi.”
"Aku nggak bakal lupa.”
"Bagus. Nanti jangan lupa diulang sekalian bawa cincin sama bunga,” cetus Kira'na. "Aku nggak terima selain berlian 24 karat ukiran tangan.”
"Aku harus balik kerja di TAPOPS dulu buat ngumpulin duit kalau gitu,” gerutu Kaizo.
"Kayak dibayar aja di sana,” cibir Kira'na. "Mending jadi suami full-time aku di sini daripada diperbudak terus di sana.”
"Bayarannya apa kalau di sini?”
"Aku.” Kira'na tersenyum angkuh. "Udah, jangan banyak omong lagi. Bangun, buruan, biar aku mandiin sekalian. Kamu bau budak TAPOPS."
“Jangan diapa-apain! Aku masih nggak punya tenaga, tau."
“Kamu cuma perlu duduk manis aja, biar aku yang kerjain sisanya." Kira'na mencium kening Kaizo, lalu hidung, sebelum melumat bibirnya. “Ayo."
Kira'na membantu Kaizo melepas pakaian dan membawanya untuk berendam. Ia mengisi kolam mandi dengan air hangat dan sabun, dan selagi Kaizo berendam, Kira'na mengeramas rambutnya dengan sampo.
"Rambut kamu udah lebih panjang kayaknya,” komentar Kira'na. "Mau dipotong?”
"Nggak usah dulu, deh,” kata Kaizo. "Biar gini aja.”
"Bagus. Kalau udah panjang nanti bisa aku macem-macemin,” kata Kira'na. "Kayaknya kamu cocok pakai gaya kuncir dua, deh. Sekalian pita merah jambu yang ada kerincingnya.”
Kaizo memutar mata dan Kira'na tertawa. Ia mengumpulkan helaian rambut Kaizo ke kedua sisi kepalanya dan membentuk kuncir di atas telinganya.
"Liat.” Kira'na menatap mata Kaizo lewat cermin yang ada di depan kolam mandi dan menyeringai geli. “Cocok ‘kan dikuncir dua gini. Jadi makin gemesin deh kamu."
Kaizo terlalu malas untuk memprotes. Kira'na terkekeh dan memuaskan diri bermain-main dengan rambut Kaizo sampai busa samponya habis.
"Kamu serius soal ajakan nikah tadi, ‘kan?” tanya Kira'na, kembali menatap Kaizo lewat cermin.
"Ya,” sahut Kaizo. "Tapi kalau kamu belum siap—"
“Aku siap," tukas Kira'na. “Aku udah siap dari lama, cuma nunggu kamu ngomong duluan aja."
“Kalau aku nggak ngomong duluan, gimana?"
“Ya terpaksa harus aku yang ngelamar," Kira'na berdecak. “Tapi masa’ kamu tega sih nunggu sampai aku yang ngelamar duluan?"
Kaizo tertawa. “Nggak. Makanya aku ngomong sekarang."
“Bagus, deh." Kira'na membilas rambut Kaizo dan berhati-hati agar air sabun tidak masuk ke matanya. “Aku senang dengarnya."
“Maaf udah bikin kamu nunggu lama," kata Kaizo.
“Nggak juga. Sebenarnya sebelum ini aku juga masih ragu,” gumam Kira'na. "Bukannya aku ragu mau nikah sama kamu,” Kira'na menambahkan saat melihat ekspresi Kaizo. "Tapi aku udah merasa cukup sama kita yang sekarang, dan kupikir kalau nikah nanti bisa aja ada yang berubah dari hubungan kita, dan aku jadi agak takut.”
"Takut kenapa?”
“Takut kita bakal sama-sama bosan," tutur Kira'na. “Takut kamu bakal merasa nggak bebas lagi karena harus terus terikat di sini, takut kamu akhirnya nyesal dan minta pisah, terus pergi tanpa ada niat balik lagi.”
Kaizo tidak mengatakan apa-apa, dan Kira'na menghindari tatapannya sebelum meneruskan,
"Kalau kita nikah, kamu bakal punya tanggung jawab juga di sini sebagai suami aku. Aku tau kamu masih mau berkontribusi di TAPOPS, jalanin misi macem-macem, dan pergi ke banyak tempat tanpa harus merasa terikat. Setelah kita nikah, kamu mungkin nggak bakal bisa sebebas itu lagi. Kamu juga harus bertanggung jawab sama Gur'latan sebagai pendamping aku. Kalau kamu belum siap—"
“Aku siap, Kira," Kaizo memotong monolog Kira'na. “Aku nggak bakal ngajak kamu nikah kalau belum mikirin semua itu."
“Beneran?"
“Iya." Kaizo mendongak dan meraih dagu Kira'na. “Setelah kita nikah, aku bakal berhenti dari TAPOPS dan mendedikasikan hidup aku buat Gur'latan, buat kamu."
“Kamu nggak keberatan harus menetap terus di sini?"
“Kenapa harus keberatan? Ada kamu di sini, itu udah lebih dari cukup alasan buat aku menetap."
Kira'na mendesah dan menangkup wajah Kaizo untuk mempertemukan kening mereka.
"Aku senang banget kamu ngomong gitu. Makasih, ya.”
"Aku yang harusnya makasih,” Kaizo mengecup hidung Kira'na lembut. "Makasih udah bersabar nungguin aku.”
"Penantiannya sepadan, sih,” Kira'na tersenyum. "Aku udah nggak sabar menghabiskan sisa hidup aku sama kamu.”
"Aku udah nggak sabar mau nyusahin kamu seumur hidup tiap kali aku sakit.”
Kira'na tertawa. "Aku nggak sabar mau grepe-grepe kamu waktu kamu lagi nggak punya tenaga buat ngelawan gini.”
Kaizo berdecak saat tangan Kira'na menyusup ke dalam air dan meremas dadanya.
"Airnya udah dingin. Udah cukup mandinya.”
"Mau aku hangatin kamu aja?” Kira'na mengedipkan sebelah mata. "Pakai teknik spesial dari aku?”
"Kira, jangan macem-macem.”
Kira'na tergelak. Ia beranjak untuk mengambilkan handuk selagi Kaizo membilas tubuhnya dari air sabun.
"Kamu mau makan siang apa nanti?” tanya Kira'na selagi membantu Kaizo mengeringkan diri. "Sup wortel? Aku bakal minta koki di dapur bikinin yang spesial buat kamu.”
"Boleh," Kaizo mengangguk letih. “Tapi aku lagi nggak selera makan, jadi nggak usah kebanyakan bikinnya."
“Nanti aku suapin biar kamu selera makannya," kata Kira'na. “Yang penting kamu harus cepat sembuh, oke? Terus kita nikah."
Kaizo tertawa. “Emang bisa secepat itu? Banyak yang harus disiapin."
“Kita bisa mulai persiapannya dari sekarang. Aku bakal bikin pengumuman nanti malam."
“Oke." Kaizo menyandarkan diri pada Kira'na yang merangkul pinggangnya. “Aku ikut aja gimana mau kamu."
“Bagus. Kamu cukup duduk manis aja sekalian siapin cincin lamarannya, urusan persiapan pernikahan biar aku yang urus."
“Iya, iya," Kaizo mendesah. “Sesuai titah Anda, Yang Mulia."
Kira'na dengan gemas menjawil hidung Kaizo. Ia hendak mencium bibirnya, tapi langsung menarik diri saat Kaizo bersin dengan keras.
“Oke, saatnya kamu rebahan lagi. Ayo."
Kira'na menyeret Kaizo kembali ke ranjang dan membantunya berbaring. Ia memeriksa suhu tubuh Kaizo dan cukup puas melihat angkanya yang mulai turun.
“Sekarang tidur aja, jangan mikirin apa-apa." Kira'na mengusap rambut Kaizo.
Kaizo mengangguk. “Maaf udah ngerepotin."
“Ssshh." Kira'na membungkam bibir Kaizo dengan satu ciuman. “Aku bakal balas dua kali lipat nanti kalau sampai tertular demam kamu, jadi simpan aja maafnya."
Kaizo tertawa kecil. “Oke. Aku bakal balas juga perlakuan kamu dua kali lipat nanti.”
"Aku udah nggak sabar,” Kira'na tersenyum. "Tidur yang nyenyak, Kai.”
Kira'na mencium lembut kening Kaizo dan menungguinya sampai benar-benar terlelap.
