Actions

Work Header

Hubungan Kita Sehat Kok, Iyakan?

Summary:

Serena mencintai Jidan, tapi tidak pernah benar-benar yakin dirinya cukup untuk dicintai kembali.

Di antara rumor, pikiran berisik, dan rasa takut yang tidak pernah ia ucapkan, cinta diuji bukan oleh kurangnya rasa — melainkan oleh kurangnya percaya pada diri sendiri.

Notes:

this fic is for anyone who loves deeply but doubts themselves quietly. please be gentle with Serena — dia lagi berusaha sebaik mungkin 🤍

Work Text:

Pernyataan atau ungkapan jawaban dari banyaknya kebingungan di lingkungan pertemanan hingga angkatan mungkin, sebenarnya tidak menjadi permasalahan serius bagi salah satu pihak. Karena menurutnya, yang ia yakini, dan ia percaya bahwa Serena sangat mencintainya. Bahkan ia tahu betul tambatan hatinya itu tidak mudah memperlakukan orang yang tidak terlalu dekat untuk beramah-tamah dengan dirinya.

Jidan. yang disebut-sebut sudah dimabuk kecintaan tingkat maksimal oleh pesona Serena tentu saja akan menolak rumor tidak mendasar tersebut. Kapan hari ketika pertama kali mendengar hal tersebut dari circle nya, kalau saja Jidan bisa menemukan siapa yang sudah menyebarkan hoax itu. Besar keinginan ia akan menyampaikan di depan wajah orang tersebut secara langsung sambil memeluk Serena atau mungkin mencium pipinya.

Tidak, tidak. gila saja. Bisa-bisa Jidan akan terkena pukulan maut dari tangan lentik kekasihnya.

Seolah tak berpengaruh sama sekali terhadap dirinya, Jidan justru adalah seorang yang kebingungan mendengar berita tidak jelas itu. Sudah seromantis ini — menurutnya — masih ada saja yang mengatakan ia hanya menyayangi Serena sepihak?

“Buta ya dia? Atau iri karena gue bisa dapetin Serena? Hehe.” Itulah yang diucapkannya pertama kali dengan cengiran lebar setelah memasang wajah menganga konyol — tak percaya.

Bahkan, ia juga tidak menceritakan pada Serena karena menurutnya hal tersebut sangatlah tidak penting untuk dipikirkan. Terlebih itu atas pengaruh eksternal, pantang sekali untuk kepribadian Jidan yang teguh.

Hari-hari berlalu seolah tidak terjadi apa-apa — bahkan bukan apa-apa dan memang tidak kenapa-kenapa — Jidan tetap menjadi Jidan yang sehari-hari mengantar-jemput Serena kuliah, kelas bersama, mengerjakan tugas bersama, makan pagi, siang, sore atau malam juga kadang-kadang bersama. Bahkan bisa diistilahkan untuk segala aspek kehidupan perkuliahannya, selalu ada eksistensi Serena.

Bosan? Hantam saja Jidan kalau ia sempat berpikir demikian, Aksa siap kapanpun tenaganya diperlukan.

Tampaknya bila hal tersebut sampai di telinga Jidan, tidak akan ia permasalahkan karena ia yang paling tahu tentang hubungannya.

Lalu sekarang, bagaimana jika Serena yang mendengar? Apakah tanggapannya sama dengan Jidan?

Jawabannya tidak. Justru berbanding terbalik.

Serena, bukan tipe yang serta-merta menunjukkan perhatiannya di khalayak umum bahwa ia juga setara cintanya dengan Jidan. Menurut dirinya, kemesraan mereka berdua bukan untuk menjadi tontonan atau menjadi bahan membuat orang-orang iri. Serena akan menunjukkan semua cinta dan kasih sayangnya saat mereka quality time, Jidan tahu dan paham betul hal tersebut. Lagi-lagi, Jidan sama sekali tidak mempermasalahkan Serena yang seperti itu.
Walaupun Serena mengetahui juga Jidan menerimanya dengan baik — bahkan sangat baik. Tetapi hanya dengan kalimat —“Kasihan nggak sih sama Jidan? Orang sekeren, secakep, dan segacor itu bisa secinta mati itu sama Serena. Padahal keliatan banget mereka itu kayak berat sebelah. Paham kan siapa?” — seperti itu cukup membuat pertahanan dirinya sedikit terguncang.

Pasalnya, Aksa dengan mulut seperti ember bocor itu tiba-tiba menceritakan gosip di hadapannya yang kala itu sedang dalam kondisi dengan mood tidak begitu baik. Belum lagi, Aksa sepertinya menyampaikan seluruh omongan orang-orang yang didengarnya tanpa difilter sama sekali. Hari itu, pikiran dan perasaan Serena campur aduk. Ia belum menemukan solusi karena tidak bisa berpikir jernih, jadi ia memutuskan untuk melupakannya sementara sampai dirinya stabil dan waras untuk kembali memikirkannya.

Namun rencana memang tidak selamanya sesuai dengan ekspektasi. Nyatanya, hari demi hari Serena semakin memikirkan apa yang Aksa bilang. Pikiran-pikiran buruk mulai menghampiri secara bersamaan, hingga sedikit memengaruhi performanya saat kerja kelompok saat itu. Bahkan hari itu, Serena belum membalas pesan Jidan dari tadi pagi. Berhubung jadwal Serena yang Jidan tahu setiap hari senin selalu padat, Serena harap Jidan mengerti alasannya — walaupun tidak sepenuhnya berbohong. Serena sedang menjaga jarak sekarang untuk dirinya sendiri.

Akan tetapi bukan Jidan namanya kalau tidak menyadari sekecil apapun perubahan yang dirasakan beberapa hari terakhir. Maka, ia memutuskan untuk mengajak serena berbicara.

[Jidan | Serena] Vol.1 — Hubungan Kita Sehat Kok, Iyakan?

Hari ini kelas Jidan selesai satu jam lebih cepat, sedangkan cantiknya itu sedang mengajar kelas praktikum. Lalu ia memutuskan untuk menunggu di gazebo depan taman jurusan, sekaligus ada yang perlu ia bicarakan dengan anak-anak panitia penerimaan mahasiswa baru, yang hanya dalam hitungan dua bulan lagi akan dilaksanakan.

Benar. Jidan merupakan ketua pelaksana acara besar itu, tahun ini.

Larut dengan obrolan serius, Jidan sampai tidak sadar Serena sudah berdiri di belakangnya. Serena tidak mengganggu sama sekali, bahkan adik-adik tingkat yang mengetahui keberadaannya ia suruh untuk diam-diam saja dengan gestur.

Serena sedikit menahan senyum geli melihat tubuh Jidan tetap tegap dari belakang seperti ini, walaupun bahunya itu sedang menahan beban empat kilo hanya dari laptop dan chargerannya saja. Belum lagi pembicaraan yang tampaknya masih akan berlanjut sampai — “Seya …” Jidan menoleh sedikit dan meraih kelingking Serena hingga empunya terkejut sendiri. Padahal kan tadi ceritanya ia sedang bersembunyi.

“Ih, kaget!” Namun Serena tidak menolak, ia hanya tersipu malu karena adik tingkat di hadapannya jadi ikutan senyum-senyum.

Jidan yang melihat itu hanya menahan gemas dengan tersenyum geli. “Aku masih mau ngobrol sedikit lagi. Makan duluan aja ya? Di burjo anindita mau? Nanti aku nyusul.”

Serena tampak sedikit ragu menjawab, karena tidak enak juga dengan adik tingkat yang menunggu obrolan mereka selesai. Pada akhirnya Serena mengangguk pelan. “Aku pesenin buat kamu.” dan langsung disetujui Jidan.

“Yang kayak biasa kan?”

“Iya, sayang.”

“Mau minum apa??”

“Teh tarik dingin.”

“Eh mending teh tarik bakar aja nanti, aku pengen greenteanya deh.”

Begitu mendengar minuman kesukaan sepanjang masanya, Jidan langsung semangat. “Oh iya itu aja! Minat.”

“Okeeey, ya udah lanjut sana.” Serena mendorong sedikit tubuh Jidan dan menyapa adik-adik di dalam lingkaran kecil ini untuk berpamitan. Sejurus itu langsung kabur begitu saja.

Menghela napas berat, ia melambatkan langkahnya karena jarak burjo hanya beberapa meter dari gerbang belakang kampus. Di sela-sela jalan, tanpa sadar Serena memajukan sedikit bibirnya — sebenarnya representasi karena sudah kehabisan energi, kelaparan, kecapekan, dan semua-semuanya.

Namun seolah dunia belum memberikannya sedikit waktu untuk rehat, suara klakson motor secara brutal mengusik indera pendengarannya dari belakang. “Minggir, minggir oyy! HAHAHA.” Serena yang sudah hafal suara itu, tetap tidak mau menyingkirkan tubuhnya, sampai orang yang masih memiliki energi di sore hari ini menghentikan motor tepat di samping tubuhnya. Bahkan terlalu dekat seperti ingin menyerempet.

Aksa memang kurang ajar.

“Dih? Manyun-manyun kenapa lu? Sariawan kah? Mane pacar lu?” Lihat, dalam satu kali ngomong saja sudah banyak sekali pertanyaannya.

Serena mendecak sebal. “Berisik.”

Aksa sontak mendelik. “Sewot banget, gua cuma nanya.” ia memutar kepalanya, tidak berbohong untuk rentetan pertanyaan yang baru saja dilontarkan. Dirinya memang sedang mencari keberadaan Jidan.

“Serius Ren, mana si Jidan??”

Menghela napas pelan, Serena menunjukkan asal ke ujung yang tidak tepat ntah ke mana jarinya menunjuk. “Ada di sana itu lagi ngobrol sama anak-anak panitia sebentar.” Tidak terlalu berminat menunjuk ke titik spesifik.

Mengernyit heran, Aksa menyipitkan matanya sedikit. Baru saja mau protes karena belum menemukan sosok Jidan, seolah alam memberikan jawaban, dengan tawa khas Jidan yang terdengar cukup menggema hingga tempat mereka berpijak. Baiklah, Aksa tidak akan bertanya lagi karena yang memiliki suara tawa seperti itu di dunia ini hanya Jidan seorang. “Buset dah, Mas ketuplak sibuk amat tuh. Kayak enggak ada agenda aja nanti jam tujuh.” Aksa mencibir.

Serena menoleh cepat, ia tidak tahu-menahu tentang itu? “Mau rapat lagi?” ia melihat Jidan sekilas dari kejauhan.

“Bukan rapat lagi Ren, tapi rapat mulu dia mah. Ya lu kan tau sendiri semua kepanitiaan penerimaan maba dari tingkat universitas, fakultas, sampai prodi juga dicari-cari banget orang keren itu.” Kalau untuk hal itu Serena tentu saja mengetahuinya dengan baik, bahkan ia sudah sangat berekspektasi bahwa Jidan akan super-duper-mega sibuk nantinya melihat jabatan yang ia emban di setiap kepanitiaan sangat krusial.

Awalnya Serena bergeming, ia mengembalikan atensinya pada Aksa. “Kok tau Jidan ada rapat nanti?”

“Ya tau lah, kan dia rapatnya nanti sama divisi gua.” Serena langsung mengangkat pergelangan tangannya, melihat arloji.

“Loh? Sekarang udah jam setengah enam?!”

Aksa kembali menyalakan mesin motornya. “Nah, karena itu. Balik dulu Ren~ baik-baik ya sama Jidan. Gua duluan!”

Serena yang sudah lebih dahulu panik hanya mengangguk. “Hati-hati!” dan bergegas ke Warmindo Anindita.

Untungnya warmindo sederhana ini tidak begitu ramai, hanya ada beberapa orang dan ketika Serena memesan makanan juga bapak dan ibu pemilik sedang bercengkerama — itu berarti pembuatan pesanannya tidak akan memakan waktu lama.

Selama menunggu Jidan, Serena kembali menghela napas berat, dirinya merasa bersalah atas pikirannya sendiri akhir-akhir ini. Ia hanya menunduk dan menyapu layar sosial media favoritnya, tanpa minat sedikitpun. Padahal AU yang ditunggu-tunggu baru saja update banyak. Pikirannya saat ini kembali melalang buana hingga dirinya tak sadar ketika aroma sandalwood Jidan yang sedikit samar — karena sudah seharian di kampus — terasa begitu dekat dengan indera penciumannya.

Jidan memeluk leher Serena dari belakang, bahkan memberikan kecupan singkat di pucuk kepala sayangnya. “Nunggu lama?” Serena yang tidak terlalu terkejut hanya menggeleng, ia berusaha menyingkirkan Jidan segera karena di sekat sebelah, si bapak sedang masak — juga tubuh Jidan itu berat kalau dia sadar diri — jadi nanti bisa dituduh yang tidak-tidak kalau Jidan begini?!

Ikut menggeleng, Jidan menyandarkan kepalanya pelan dengan kepala Serena. “Nggak mauu… mau gini aja, sebentar. Kangen banget sama pacar aku, seharian ke mana aja sih cantik sampe chat aku nggak dibales-bales??” Jidan bersungut seperti anak kecil yang ngambek karena merasa tidak diberikan perhatian penuh.

Serena mendengus geli. “Aku kan full-time setiap senin, Mayoo.” Ia menepuk pelan pergelangan tangan Jidan yang masih setia melingkar. “Udah ah, duduk sana.” Kali ini Serena serius dengan sekuat sisa tenaganya menyingkirkan Jidan agar segera duduk. Pada akhirnya Jidan mengalah, ia kembali mendaratkan kecupan singkat di kepala Serena sebelum benar-benar duduk. Serena sontak melotot, seolah mengancam, Jidan dengan tatapan “awas aja” — tapi justru itu yang membuat Jidan terkekeh pelan.

Tidak lama setelah itu, ibu mengantarkan minuman ke meja. Serena mengucapkan terima kasih — santai menarik gelas berisi beng-beng hangat. Ia melihat Jidan yang kebingungan, hanya tertawa singkat. “Bukannya kamu ada rapat nanti?”

Masih dengan kerutan halus di dahinya, Jidan mendekatkan gelas tersebut dan tetap saja menyeruputnya. “Iya.. terus hubungannya apa sama kamu jadi pesenin teh tarik?” Ia kembali meneguk dan mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan.

Serena mendengus pelan. “Bisa telat kamu kalau kita harus beli TTB dulu.” Ia meniup sedikit dan meminumnya perlahan.

Tetap setia dengan kerutan dahi, Jidan menggeleng tidak setuju. “Nunggu TTB juga engga sampe satu jam Seya, telat gimana coba?”

“Emang kamu rapat di mana?” Menikmati drink beng-beng hangat di sore hari ini, Serena masih sibuk menurunkan sedikit suhu permukaan dengan meniupnya lagi.

Namun atensi keduanya sedikit terpecah ketika ponsel Jidan bergetar di atas meja, nama seseorang yang tidak Serena kenali. Namun Jidan menyimpan nomor itu disertai dengan singkatan prodi mereka — sudah pasti temannya.

Jidan hanya melihat sekilas dan kembali menatap Serena. “Di Santai Kawan, Sawan Cafe deket kost kamu doang. Kepeleset dikit juga langsung nyampe, sayang.”

Obrolan keduanya kembali terhenti ketika ponsel Jidan berdering untuk kedua kalinya, seolah orang di seberang sana benar-benar membutuhkan Jidan segera. “Aku angkat dulu ya?” Tentu saja Serena tidak menahannya.

Selagi Jidan masih berbicara dengan temannya, magelangan Jidan dan mie nyemek Serena sudah datang. Namun, melihat si ganteng itu masih sibuk. Serena juga tidak memulai makannya. Walaupun sudah lima menit yang lalu Jidan mengisyaratkan untuk makan duluan, Serena tetap menggeleng keras kepala.

“Udah dulu San, mau makan bentar. Bicarain nanti lagi aja pas rapat.” Mendengar itu Serena menarik senyum kemenangan setelah Jidan benar-benar meletakkan ponselnya di atas meja.

“Mayo sibuk banget siih, mau makan aja masih dicari-cari.” Serena jadi ketawa karena Jidan tidak jadi mengangkat sendok.

Jidan mendengus kasar. “Jujur capek, tapi aku suka berorganisasi. Emang minusnya stres dikit aja.”

Serena mengerjap, “Sedikit?” seolah gestur itu sedikit menuntut Jidan untuk berkata jujur.

Ia sempat terdiam sejenak. “Nggak sedikit, sih.”

“Banyak kan?”

“Bener. Stres banyak sebenernya.” Keduanya sama-sama tertawa.

Setelah mereda, Serena meraih tangan Jidan yang menganggur dan ia bawa untuk digenggam kedua tangannya. “Kamu boleh sibuk banget begitu, kita juga udah bicarain ini sebelumnya. Aku cuma pengen kamu inget aja pesan-pesan aku kemarin.”

Kalau kata Jidan, mau seberat apapun hari yang dia jalani. Memang cuma Serena tempat pulangnya yang paling nyaman. Jidan tersenyum lembut. “Iya sayaang, nggak lupa kok. Beneran deh.” Ia berpose dua jari dengan tangan satu lagi.

“Coba sebutin kalau nggak lupa?”

Tiba-tiba Jidan sedikit gugup, langsung saja menggenggam dua tangan Serena yang jauh lebih kecil itu dengan kedua tangannya juga. “Hm.. iya yang kemarin kan banyak itu. Aku inget semua kok! Suer!!”

Mata kucing Serena sudah siap melaser Jidan hidup-hidup kalau saja pacarnya melupakan itu semua. “Apa yang hm, hm? Apa yang banyak itu??”

“Yaa… hm.. jangan lupa luangkan waktu buat makan, terus jangan begadang banget.. walaupun aku nggak bisa janji, terus.. yaa… itu. Hehehe, iyakan Seya sayang Mayo??” sebenarnya Jidan bukan melupakan semua pesan — lebih bentuk janji dirinya dengan Serena ketika memutuskan untuk mengikuti banyak sekali kepanitian — yang disampaikan, masalahnya semua kepanitiaan ini baru mulai bekerja tapi Jidan sudah beberapa kali lupa makan, beberapa hari yang lalu begadang dua hari berturut-turut, dan pesan Serena lainnya yang sudah sedikit ia langgar.

Padahal ketika mendiskusikan dengan Jidan, Serena sudah banyak melonggarkan janji agar bisa disesuaikan dengan Jidan yang merengek karena merasa agak sulit — aslinya sangat sulit — kalau kesepakatannya seperti yang sudah disebutkan itu.

Ketimbang mengomel panjang lebar, Serena hanya kembali menghela napas ntah untuk ke-berapa kalinya hari ini. Ia menarik pelan tangannya dari kepungan Jidan dan ingin segera menghabiskan makanan. Sebab sudah tidak sanggup lagi menghadapi dunia, mau tidur secepat mungkin.

Jidan memang sudah menyadari, membuatnya kembali berpikir untuk menanyakan apa yang terjadi dengan Serena akhir-akhir ini. Namun melihat reaksi Serena barusan tidak seperti biasanya, ditambah lagi waktu untuk membicarakan itu terlalu mepet. Karena sebentar lagi Jidan harus rapat juga. Hah … ada terlalu banyak hal yang ingin ia ketahui. Bahkan bertanya kenapa Serena memesan mie daripada nasi juga belum jadi ia layangkan.

Akhirnya setelah selesai makan dan membayar, selama perjalanan pulang Jidan menunda rencananya dulu. “Mau beli cemilan nggak sebelum pulang?” Motor matic-nya santai membelah jalanan yang bisa dibilang cukup padat itu, Jidan memperhatikan Serena dari tadi melalui spion motor.

Serena yang dari tadi melamun sedikit tersontak dan mencondongkan tubuhnya mendekat Jidan. “Hm? Apa??”

“Cantiknya Mayo mau beli camilan dulu kah sebelum pulang? Coklat, ciki, atau eskrim mungkin? Mau??” Serena tampak berpikir sejenak, namun karena jarak Circle K sudah sangat dekat ia langsung mengangguk.

Kalau kata Serena, misalnya ada nominasi siapa paling peka. Bila putri malu masuk nominasi dan menjadi juara dua, pasti juara satunya adalah Jidan. Jujur saja bagian relung hatinya sedikit melunak setelah ego yang ia sudah tumpuk dengan energi negatif itu. Bahkan tidak banyak bertanya Jidan sudah khatam snack kesukaannya. Serena hanya mengekorinya dan memberikan anggukan kepala ketika Jidan mengambil bungkus makanan sambil melirik Serena meminta persetujuan.

Sejauh Jidan memasukkan makanan-makanan tadi ke keranjang belanja, belum ada satupun yang ditolak Serena — sampai akhirnya Jidan bersuara. “Aku beliin semua isi CK aja kali ya.”

Serena terkekeh pelan. “Apasih!”

“Mau nggak?” Jidan ikut tersenyum geli.

“Yang bener aja Mayoo.”

“Lah beneran Seya, biar jadi passive income.”

“Pikirin dulu organisasi sama rapat kamu.”

Setelah proses transaksi selesai dan keluar dari CK, Jidan tidak langsung bersiap-siap untuk menghidupkan motor. Ia justru kembali memperhatikan Serena yang sedang sibuk mencari sesuatu di kantong plastik belanjaan. “Mayo, eskrimnya mana sih?” Karena ukuran eskrim mochi yang terlalu kecil itu harus bertarung dengan banyaknya snack dengan berbagai varian ukuran, Serena sampai mengernyit halus karena masih belum berhasil menemukannya.

Mungkin Serena sedikit kesal sekarang, namun di mata Jidan justru sangat lucu… menggemaskan.. oh god Jid. “Cari yang bener coba.. ada kok pasti. Masa tiba-tiba hilang?” Benar, ia hanya menyuruh tanpa berniat membantu — supaya bisa lebih lama menyaksikan pemandangan imut — sambil mengacak pelan rambut Serena.

Setelahnya Jidan siap menaiki motor dan memakai helm, ia kembali mengalihkan atensinya. “Udah?” ia terkekeh pelan karena ternyata Serena sudah membuka bungkusan eskrim mochinya dengan wajah cemberut.

“Udah, ternyata dari tadi aku pegang di tangan kiri. Apasih ngeselin banget ya hari ini tuh.” Jidan menurunkan pijakan kaki motor sebelum Serena naik, ia menoleh sepenuhnya.

“Ya udah, abisin dulu eskrimnya. Aku tungguin.”

Serena menggeleng badmood. “Sambil jalan aja, aku udah capek..”

Jidan memenuhi permintaan itu dengan segera tentu saja. Selama perjalanan yang tidak terlalu jauh lagi, Serena menyandarkan kepalanya di punggung Jidan. Diikuti dengan kedua tangannya melingkari pinggang yang berbalut baju motif kotak-kotak perpaduan hitam dan abu-abu khas anak teknik itu. Jidan menunduk sebentar, melihat eskrim di tangan Serena masih utuh — bahkan sepertinya sebagian sudah meleleh. Tidak lama setelah itu ia merasa pelukan Serena semakin erat dan punggungnya sedikit bergetar.

Sesampainya di depan pagar kost, Serena justru semakin mengeratkan lagi pelukannya. Jidan memberikan waktu dengan mengelus punggung tangan Serena, perlahan mengambil alih eskrim yang sudah semakin mencair.

“Turun dulu ya?” Tiga menit Jidan menunggu Serena mengindahkan permintaannya, sampai pelukan itu melonggar dan Serena dengan hidung yang sudah memerah akhirnya turun dari motor.

Jidan membenarkan posisi parkir motornya kemudian merangkul Serena masuk. Ia juga tau di mana Serena menyimpan kunci kamarnya — di saku tas paling depan — jadi tanpa babibu, ia memutar pelan tubuh kecil itu seraya melepas sandangnya dari bahu. Serena yang sudah pasrah, tidak melayangkan protes. Dirinya mengikuti apa saja yang akan dilakukan Jidan.

“Eskrimnya masih mau dimakan? Udah meleleh banget ini.” Serena menggeleng, bahkan tidak melirik eskrim yang padahal ia idamkan tadi. Baiklah, langsung saja Jidan masukkan semua ke mulutnya.

Keduanya masuk ke kamar Serena yang selalu rapi dan wangi kata Jidan, ia menutup perlahan dan menguncinya satu kali.

Hening sempat menyelimuti keduanya, Serena dan Jidan sama-sama bergeming. Ini bukan pertama kalinya Jidan masuk, ia cukup sering datang ntah itu mengerjakan tugas bersama atau sekadar rindu atau iseng dan banyak alasan lain untuk Jidan datang.

Setelah meletakkan tas Serena dan tasnya sendiri di samping kasur, Jidan menyamakan tinggi dengan si cantik untuk melihat lebih dekat kondisi matanya sembab dan napas yang masih belum stabil itu. Benar, Serena masih sesegukan kecil. “Sayangnya Mayo kenapa? Capek banget ya hari ini??”

Serena menunduk, memutuskan kontak mata sepihak karena air matanya kembali membendung.

Kini tangan yang hangat menurut Serena itu mendarat di pipi yang juga ikut merasakan kesedihan empunya — memerah. Jidan berusaha agar Serena mau menatapnya. “Seya…”
Jidan itu konsisten. Sejak mereka pacaran dan memutuskan menggunakan panggilan kesayangan untuk satu sama lain, mau dalam kondisi apapun—senang, sedih, badmood, bahkan ketika mereka bertengkar kecil. Jidan selalu memangil Serena dengan tone rendah dan lembut, seolah nama itu akan retak atau bisa pecah ketika sedikit saja ia meninggikan suaranya.

“Sayang? Liat aku.” Serena tidak langsung menuruti lagi, ia semakin menunduk agar manik mereka tidak bertemu.

Sampai perlahan Jidan menarik Serena ke dalam pelukannya — erat, hangat, dan tanpa bertanya apapun — barulah tangis yang sejak tadi ditahan itu pecah sepenuhnya. Serena menggenggam kuat baju Jidan di punggungnya, tubuhnya bergetar, dan isakan yang selama ini ia pendam akhirnya keluar tanpa bisa dikontrol lagi.

Dan Jidan tetap di sana. Diam. Hanya satu tangan yang terus mengelus lembut punggung Serena, dan tangan satunya menjaga belakang kepalanya seolah dunia akan runtuh kalau ia sampai melepaskannya.

Nafas Jidan ikut berat, bukan karena lelah — tapi karena hatinya ikut sesak melihat Serena seperti ini, sedangkan sisi lain di pikirannya juga sama berkecamuknya seperti gumpalan pertanyaan yang masih bergemuruh riuh.

Namun ia tidak menyuruh Serena tenang. Tidak meminta penjelasan apalagi untuk menanyakan alasan. “It’s fine, sayang…” bisiknya nyaris tak terdengar, sampai hanya untuk telinga Serena. Suaranya seperti sedang menahan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar simpati — ada ketulusan, cinta, dan kekhawatiran yang tidak bisa diucapkan.

Beberapa menit berlalu, tangis Serena perlahan mereda, meski sesekali masih tersendat. Ia tak langsung melepaskan pelukan itu, seperti tak sanggup berdiri sendiri jika Jidan menjauh sedetik saja. Sementara Jidan, masih sabar, bahkan membenamkan wajahnya di atas kepala Serena, memejamkan mata sejenak untuk menahan emosi yang diam-diam juga mengacaukannya.

“Sayang?” Jidan memanggil pelan, jemarinya bergerak untuk menyeka air mata di pipi Serena yang hangat dan merah. “Liat aku sebentar aja, boleh?”

Serena hanya menggeleng kecil, masih menunduk. “Engga bisa… aku malu.” suaranya parau, nyaris habis dan justru semakin menenggelamkan dirinya pada Jidan.

Jidan tersenyum kecil, tidak lagi meminta. Namun sedikit menunduk melihat Serena yang hanya menyisakan sedikit sisi wajahnya yang lembab — karena yang basah adalah baju Jidan — dengan menyelipkan anak rambut yang ikutan menangis juga barusan ke belakang telinga si cantik. Lagi-lagi Jidan dibuat tersenyum, kali ini sedikit lebih geli. Sampai-sampai ia terkekeh.

Serena yang kebingungan, langsung mendongak. “Kamu ngetawain aku?”

Tanpa Jidan duga, Serena malah terpancing karena ia tertawa. Padahal tadi Jidan gemas melihat telinga Serena yang sangat merah bahkan Jidan bisa merasakan permukaan kulitnya juga panas. Tawa itu memudar, berganti dengan senyum lembut yang mengulas hingga melukis lesung pipi Jidan. Ibu jarinya kembali mengusap pelan sisa air mata di sudut matanya.

“Nggak Seya..” jika ada suatu hal yang bisa menunjukkan rasa sayang, cinta, takut kehilangan, dan segala macam perasaan itu lebih dari yang Jidan lakukan selama ini untuk Serena. Akan ia berikan mau sebesar atau seberat apapun itu.

Begitulah yang dirasakan Serena, bahkan dari tatapan lembut dipersembahkan selalu untuknya dari seseorang yang sudah mengisi dan menjaga relungnya dengan penuh — berhasil total membuat Serena kembali jatuh, akan selalu jatuh, dan selamanya akan menjatuhkan hatinya untuk Jidan. Bahkan Serena tidak menemukan celah sedikitpun, dirinya juga tidak akan membiarkan celah itu tumbuh.

Serena justru semakin bertanya-tanya, dengan besarnya selalu hal yang ia dapatkan dari Jidan. Seketika memunculkan pertanyaan yang kalau saja Jidan tau, Serena tidak dapat menebak —bahkan takut menerka — seperti apa reaksi yang akan diberikan. Apakah Jidan merasakan bahwa dirinya juga mendapatkan cinta yang setara terlepas dari semua yang sudah ia berikan?

Pertanyaan itu kian mengakar liar sembarangan sampai Serena sadar dari lamunannya karena ponsel Jidan bergetar, kali ini dengan nada dering alarm.

Jidan mendengus, ia mematikan alarmnya dengan sebelah tangan dan kembali melihat Serena. Alarm barusan adalah pengingat dirinya yang harus menghadiri rapat 15 menit lagi.

“Oh iya.. kamu kan mau rapat.” Serena langsung melepaskan dekapannya. “Aku malah nahan kamu.” Jidan kembali mendekat, menangkup wajah Serena.

“Nanti aku mau nginep ya? Aku belum bisa mastiin selesai rapatnya jam berapa, jadi jangan nunggu aku pulang, okey?” Serena hanya mengangguk, karena ia tidak bisa berbohong bahwa dirinya membutuhkan Jidan dengan durasi lebih lama.

Menarik senyum, Jidan kembali menahan gemasnya. Melihat Serena dengan kondisi seperti ini memang cukup membuyarkan isi kepalanya, gejolak dari terkaan-terkaan yang paling buruk kembali menggerogotinya, hingga membuat Jidan kembali merengkuh Serena dan memeluknya. Kali ini seraya menciumi pucuk kepala Serena, kemudian dahinya, lalu kedua matanya sedikit lebih lama, hidungnya, lanjut kedua pipinya — seluruh wajah cantik itu berhasil diabsen Jidan, dan Serena membiarkan semuanya terjadi.

Kali ini perlahan Jidan melonggarkan pelukan. “Nanti langsung tidur aja, ya? Aku bawa kuncinya.” Serena lagi-lagi hanya mengangguk, ia mengernyit melihat jam dan menoleh cepat. “Iyaa, iyaaa, ih udah lima menit lagi Jidan, astaga. Hurry up.”

Jidan melambaikan tangannya singkat sebelum benar-benar pergi dan mengunci dari luar. Serena yang hanya mengintip dari jendela menyaksikan punggung Jidan menghilang dibalik pintu.

Helaan napasnya lega setengah setelah menangis barusan. Walaupun belum sempat menjelaskan yang sebenarnya, Serena merasa dirinya sudah sedikit tidak seberat tadi.

Bagaimana bisa ia mencoba menjaga jarak dengan alasan untuk menjernihkan pikiran, sedang fisiknya menolak demikian? Eksistensi Jidan benar-benar memengaruhi dirinya dengan hebat.

Bagaimana bisa ia tetap berpikir bahwa Jidan mungkin merasakan hubungan ini hanya dibawa sepihak, sedangkan tatapannya berkata sebaliknya?

Bagaimana bisa Serena menyimpulkan dan terpengaruh oleh ucapan seseorang yang bahkan tidak memiliki kontribusi apapun dalam hubungannya dengan Jidan?

Serena, kamu merasa tidak cukup ya untuk Jidan?

Sial. Pikiran buruk tersebut kembali berlalu di pikirannya. Serena menggeleng kuat, berusaha menyingkirkan pemikiran gila itu.

Berlalunya waktu, hingga sekarang waktu menunjukkan tepat pukul tengah malam. Tanda-tanda Jidan akan segera tiba masih nihil sejak ia meninggalkan kost Serena, dan Serena sendiri perlahan mulai dijemput mimpi, — sedikit berusaha terjaga — dirinya sudah dalam posisi siap untuk tidur saat itu juga. Namun resah di hatinya masih tersisa, padahal sudah mendengarkan slow jazz penghantar tidur. Ya… ia harap sebentar lagi dirinya akan tertidur.

Jidan baru menginjakkan kaki kembali tepat pukul satu dini hari. Ia memutar kuncinya dan mengetuk pelan pintu itu dua kali sebelum benar-benar membukanya, takut mengganggu Serena yang mungkin sudah terlelap.

Dirinya mendapati Serena memunggungi dengan boneka berbentuk aneh — kepala boneka itu seperti buah peach dan wajahnya tergambar sangat oon — dalam dekapannya. Boneka yang lebih anehnya lagi sangat Serena sukai itu pemberian adiknya Jidan saat Serena ulang tahun kemarin. Sudut bibirnya melawan gravitasi, melihat Serena tampak nyenyak di sana.

Ia berusaha membentuk suara seminim mungkin, takut akan menganggu. Jidan melangkah perlahan dan duduk di kursi meja belajar, netranya mendapati sticky notes bewarna ungu muda tertepel di atas gelas.

Mayooo aku ngantuk… kamu pasti capek kan? Aku bikinin air madu, jangan lupa diminum. Terus mandi pake air anget yaa, bajunya udah aku siapin di lemari paling atas sebelah kanan, okey? ^-^

Lagi-lagi Jidan dibuat salah tingkah, ia jadi membayangkan ketika Serena menulis ini sambil ngantuk. Baiklah, Jidan akan melakukan semual hal yang tertulis singkat itu. Sampai akhirnya bisa menghela napas benar-benar lega, benar-benar nyaman, merebahkan tubuh dan punggunya yang sudah sangat pegal — kasur itu sangat cukup untuk keduanya mengistirahatkan diri.

Sepertinya Jidan terlalu kuat menghempaskan badannya, hingga Serena jadi terbangun. Jidan sontak menoleh, ia meringis pelan. Memilih untuk memeluk Serena — memutar tubuh kecil itu agar menghadapnya. “Aduh, maaf sayang... kebangun, ya?” Jemarinya bergerak mengelus pelan pucuk kepala Serena.

Serena membuka matanya sedikit, tangannya meraba-raba wajah Jidan dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul. Namun sedetik itu juga kembali terlelap lagi. Habit-nya Serena. Jidan tersenyum geli sebelum ikut bersama Serena memimpikan hal-hal indah.

Jidan, pastikan besok sama Serena ya.

Itulah satu hal yang menjadi penghantar tidurnya.

[Jidan | Serena] Vol.1 — Hubungan Kita Sehat Kok, Iyakan?

Keesokan harinya, Serena bangun lebih dulu. Jam menunjukkan pukul 8 pagi, dirinya sedikit terkejut namun untung cepat disadarkan oleh hari yang sudah berganti menjadi sabtu. Ia menghela napas lega dan memejam mata sesaat, kepalanya jadi sedikit berdenyut.

Perlahan sudah kembali tenang, Serena menolehkan kepala. Mendapati Jidan yang masih tenang dengan dengkuran halus. Ia menggeser selimut lebih banyak ke Jidan hingga hanya menyisakan kepalanya yang nenyembul — baru sadar sepertinya selama tidur Serena mengeksploitasi, sebab posisi tidur Jidan yang sudah meringkuk dan merasakan lengan juga punggungnya dingin.

Ia menahan kekehan, kala Jidan bergerak terus seperti mencari kenyamanan — mendekat hingga membenamkan kepalanya di sisi tubuh Serena.

Kalau begini, gimana Serena bisa bikin sarapan ya?

Pada akhirnya Serena tetap dalam posisinya sekitar setengah jam sambil melihat Jidan dalam diam — mengelus rambutnya, memberikan puk-puk di punggungnya, dan hal-hal yang mengundang kenyamanan bagi Jidan. Barulah setelah itu Serena menggantikan posisinya dengan guling dan bersiap untuk masak.

Karena Serena tahu, Jidan pasti belum akan bangun dalam waktu dekat, — sekurang-kurangnya jam 11 atau 12 baru bangun — jadi ia memilih menu masakan yang bisa dimakan pada jam berapapun.

Dengan berbekal bahan masakan sisa akhir bulannya, Serena membuat chicken katsu kari dan sop buah.

Jadi sebenarnya Serena sudah beberapa kali keluar-masuk kamar karena lupa mengambil pisau atau sendok, tapi memang Jidan yang pada dasarnya kalau tidur seperti mati suri.
Rencananya setelah semuanya siap, Serena ingin membangunkan Jidan dan makan di meja makan kost saja atau di balkonnya. Tapi ternyata selama memasak, tiba-tiba kost kedatangan sekitar tiga orang bergantian membawa banyak barang dan ntah kenapa juga jadi semakin banyak orang. Bahkan beberapa ada yang tiba-tiba menghampiri Serena untuk basa-basi.

Di kamar lah akhirnya Serena menata makanan tadi, lagi pula sepertinya ia dan Jidan akan menggunakan weekend kali ini untuk quality time. Serena sedang tidak berminat untuk ke mana-mana, yang ia ketahui juga hari ini Jidan sedang tidak ada rapat katanya beberapa hari lalu, tumben sekali.

Setelah menata cantik-cantik, Serena tersenyum puas. Ia harus mengabadikan ini, saat akan menoleh meraih ponselnya yang sedang di cas, ternyata Jidan sudah bangun. Sudah senyum-senyum padahal matanya masih 5 watt, dan tiba-tiba merentangkan tangan lebar-lebar.

Morning, sayang.” Bahkan suaranya belum keluar dengan sempurna. “Rise and shine.. sini dulu sayaang, udah bareng kamu aja.. aku bangun malah cuddling sama guling.” Jidan sedikit merengut — di akhir kalimat — “… tega banget kamu.”

Membuat Serena mengernyit heran lalu tertawa pelan, ia mengambil tempat di sisi ranjang. Langsung saja Jidan berpindah bantal — ke paha princess sekarang, tangannya langsung melingkar di pinggang ramping itu. “Kalau aku bisa liat kamu setiap bangun tidur, kayanya aku bakal tambah muda terus deh setiap hari.” Ujarnya sambil dusel-dusel di perut Serena.

“Mayo — hahaha geli!!” Serena tak kuasa menahan gelinya, jujur saja dia orangnya penggeli. Makanya ia menahan pergerakan Jidan dengan menangkup pipinya sampai itu bibir monyong. “Stop.. Mayo, geli… aku seri — JIDAN! HAHAHA.”

Jidan menghentikan aksinya sesaat, sekilas melihat makanan di atas meja kecil. “Sayang, bikin apa? Kenapa nggak bangunin aku?? Banyak banget lagi itu kayaknya.”
Masih dengan sedikit sisa ketawa dan air matanya, Serena terbatuk sekali. “Kamu minta dibangunin? Aku dari tadi bulak-balik kamar dari jam 9, buktinya kamu baru bangun kan sekaraang?? Gayaan banget, sih.” Ia terkekeh geli kala Jidan kembali memeluknya manja.

“Apa salahnya.. aku kan mau membantu cintanya aku, cantiknya aku, jiwanya aku, separuh naf — ”

Serena langsung memotong. “Mayo. Jangan mulai lagi.”

Kali ini Jidan yang tertawa geli. “Pasti enak, aku udah laper banget sampe kebawa mimpi tadi. Makasih ya, sayaaang.” Ia mengangkat sedikit tubuhnya untuk mencium pipi Serena, lalu kembali dengan posisi ternyaman.

Pipi itu bersemu, Serena mengangguk senang dibuatnya. “Iyaa sayang, sama-sama.”

“Eh tapi Sey, ini bukannya akhir bulan ya? Abis dong stock makanan kamu?”

“Kebetulan iya sih, itu last stock banget.” ujarnya enteng.

Tidak dengan Jidan yang terkejut dramatis. “Loh terus besok-besok kamu makan apaa???”

“Apasih, Mayoo?? GrabFood ada, GoFood ada, ShopeeFood ada, lauk dari mami juga masih ada kok.” Serena gemas sendiri, ia sampai mencubit pipi Jidan. “Lagian aku masak itu semua pake bumbu instan, tau? Semoga enak ya. Itu nggak trial error kok serius, aku udah sering bikin selama ini, hehe. Walaupun waktu itu nyoba karena iseng, aku bisa jamin enak.”

Jidan yang sedari tadi memperhatikan, tersenyum lembut. Ada satu hal baru yang menjadi alasan ia akan terus menyayangi Serena — mendengarkan apapun ceritanya sambil memandang dengan jarak sedekat ini, dengan perasaan aman dan nyaman seperti ini, serta dengan hatinya yang penuh akan kebahagiaan seperti ini. Ah… Jidan benar-benar mencintai dunianya.

“Mayoo, kamu dengerin aku ngomong nggak sih?”

Ia menautkan jemari keduanya, lalu mencium punggung tangan Serena pelan. “Denger, sayang…”

Begitulah keduanya menikmati waktu. Sekarang Jidan sudah berdiri di hadapan Serena dengan wajah jauh lebih segar. Senyumnya merekah ketika aroma kari ayam semakin kuat kala Serena membuka tutup wadah mangkoknya.

Mereka berdua sepakat untuk makan sambil nonton film, Jidan merapikan posisi bean bag agar berdekatan. Sedangkan meja kecil di depannya sudah tersaji dua piring dan dua gelas.

Serena menuangkan kari ke piringnya, lalu ke piring Jidan. “Masih panas, hati-hati,” katanya sambil meletakkan sendok di sebelah piringnya.

Jidan duduk, bahunya bersinggungan tipis dengan bahu Serena. “Wangi banget… kamu masukin cinta berapa banyak?” godanya.

Serena tertawa kecil. “Banyak bangeet, sampe lebih-lebih.” Lalu mereka malah jadi sama-sama salah tingkah.

Lampu ruangan meredup, hanya cahaya dari tv yang memantul di wajah mereka. Film sudah berjalan setengah jam. Lalu muncul satu kalimat dari tokoh utamanya — ntah kenapa sepotong adegan itu seolah mengingatkannya kembali dengan isi hati yang sempat ia lupakan sejenak. Serena menatap layar lebih lama kali ini, tapi tatapannya kosong. Seperti ada sesuatu yang menyentuh titik rapuhnya.

Ia tidak bicara, hanya melanjutkan makan. Tapi sendoknya bergerak pelan, dan nasi di piringnya baru berkurang seperempat.

Jidan masih fokus ke film, sesekali melirik Serena. Hingga akhirnya ia sadar piring Serena masih nyaris penuh. “Kenyang?” tanyanya pelan.

Serena tersenyum singkat. “Iya, kayaknya kenyang.”

“Nggak ah, nggak boleh nyisa segini,” Jidan mengambil alih piringnya. “Sini, aku suapin.”
Serena menahan tawa, awalnya ia menahan agar piring tidak berpindah tangan. Namun Jidan langsung mengambil sendok dan menyendok sedikit nasi. “Ayo, buka mulut.”

Ia akhirnya pasrah, membuka mulutnya kecil-kecil sambil menahan senyum lagi. Serena menyandarkan kepala di bahu Jidan, lalu satu tangannya melingkar di lengan, memeluknya ringan.

Alih-alih kembali fokus dengan film, Serena justru tersadar akan sesuatu setelah adegan beberapa menit lalu. Hal itu membuat dirinya memiliki sedikit keberanian untuk membicarakannya dengan Jidan, sudut matanya diam-diam memperhatikan Jidan yang ternyata masih fokus dengan film di depan — sedangkan tangan kanannya menunggu aba-aba Serena untuk suapan selanjutnya.

Serena menghela napas tipis, jemarinya meremas lengan Jidan sedikit lebih erat. “Mayo…” panggilnya pelan, nyaris tenggelam oleh suara film.

“Hm?” Jidan melirik singkat.

“Kamu… pernah nggak sih, ngerasa orang itu ngeliat kamu cuma dari satu sisi aja?” suaranya pelan, matanya kembali ke layar, tapi jelas bukan lagi memperhatikan adegannya.

Memiringkan kepalanya, Jidan mencoba membaca ekspresi Serena. Film di depan mereka terus berjalan, tapi suasana di antara mereka mulai berubah. “Maksudnya, gimana?”

Serena mengangkat bahu pelan. “Kayak… cuma ngeliat yang mereka mau liat. Nggak peduli kamu sebenernya gimana.” Ia memainkan ujung selimut yang menutupi kakinya, suaranya terdengar santai, tapi tatapannya kosong.

Beberapa detik Jidan diam. akhirnya Serena bilang. Lalu ia menurunkan sendoknya ke piring. Film terus memutar, tapi matanya hanya menatap Serena. “Ada yang bilang gitu ke kamu?”
Serena tersenyum tipis. “Aksa yang cerita, dan ‘mereka’ bukan cuma bilang. Lebih kayak… semua orang udah punya gambarnya masing-masing tentang aku. Dan… ya udah, aku cuma ‘harus’ sesuai aja sama gambarnya.”

Bergeser sedikit, Jidan membiarkan jarak mereka makin rapat. Tangannya yang bebas terangkat, membelai ujung rambut Serena. “Sayang… aku nggak pernah sama sekali merasa sendirian di hubungan ini.” Ia meyakinkan Serena.

Namun Serena menunduk, bibirnya hampir tak bergerak saat berkata, “Tapi mereka pikir aku nggak sesayang itu sama kamu… mereka juga bilang hubungan kita nggak sehat.” napasnya sedikit tercekat.

“Sayang...”

“Omongan mereka jahat banget, Mayo. Aku bener-bener sedih pas denger semua yang Aksa bilang. Aku pikir, mungkin aku lagi sensitif aja waktu itu. Ya… aku tau kamu nggak bakal pernah ngomong gitu. Tapi kalau kamu bukan sama aku, kamu pasti punya pacar yang… nggak bikin orang-orang mikir jelek tentang kamu.”

Jidan menghela napas pelan. “Seya..” Dia mau nyela, tapi Seya buru-buru lanjut, “Iya kan? Aku tau aku —”

“Seya, hei… dengerin aku.” Serena refleks mengangkat pandangannya. Jidan menatapnya lama, memastikan tiap kata yang keluar nanti bener-bener sampai.

Ada jeda sesaat.

Jidan masih diam sebentar, seperti memilih kata dengan hati-hati. Lalu ia mencondongkan badan sedikit, hingga suara dan tatapannya terasa hanya untuk Serena. “Seya… orang di luar sana cuma lihat dari jarak yang mereka mau. Mereka nggak pernah duduk di sebelah kamu kayak gini. Nggak pernah ngerasain cara kamu diem, tapi nyimpen semua hal kecil yang aku suka. Nggak pernah tau kalau kamu rela repot cuma buat bikin aku nyaman.”

Perlahan, Serena kembali menjatuhkan netranya — yang sudah berair tipis — pada Jidan.

“Kalau mereka pikir kamu nggak sesayang itu.. berarti mereka nggak tau apa-apa soal kita. Dan aku nggak akan pernah ukur rasa kamu dari cara mereka lihat. Aku ukur dari cara kamu ngelihat aku.” Jidan menyentuh jemari Serena yang melingkar di lengannya, menekannya lembut. “Dan dari situ… aku tau, kamu lebih dari sekadar sayang sama aku. Jadi jangan pernah raguin itu lagi, ya?”

Ia menyandarkan pelan kepalanya dengan Serena. “Mereka nggak punya hak buat nilai hubungan kita kayak apa, apalagi buat nebak perasaan kamu. Karena cuma aku yang ngerasain setiap harinya… dan aku tau, kamu, nggak ada satupun dari itu yang kurang.”

Jidan menarik napas perlahan, suaranya sedikit lebih rendah. “Jadi jangan pernah overthinking lagi, okey? Aku nggak mau liat kamu kepikiran hal kayak gitu lagi. Kalau ada yang bikin kamu nggak tenang, bilang sama aku. Kita berdua yang jagain ini, jalanin ini, bukan orang lain.”

Serena menelan ludah, lalu menghela napas panjang seakan beban di dadanya berkurang. Ia hanya mengangguk kecil, dan kali ini membiarkan senyum tipisnya bertahan lebih lama.

“Udah enakan?” Tanya Jidan setelah membiarkan Serena tenang lebih dulu cukup lama. Suaranya semakin lembut dan penuh perhatian.

Serena mengangguk kecil, meski matanya belum sepenuhnya lepas dari sisa keraguan.
Lalu Jidan meraih jemari lentik itu, menggenggamnya hangat. “Aku nggak bakal capek yakinin kamu. Biar kamu inget terus… aku milih kamu bukan cuma karena sayang, tapi karena aku nggak mau ada orang lain di sisiku selain kamu.”

Serena tersenyum tipis, merasa dadanya semakin lebih lapang lagi.

Jidan melanjutkan, matanya lurus menatap Serena, “Jadi, jangan pernah takut atau ragu lagi. Kalau dunia mau bilang cinta kita nggak seimbang, biarin aja mereka. Yang penting, aku tahu — dan kamu tahu — kalau kita setara.”

Mendengar itu, dadanya terasa sedikit sesak tapi hangat di saat yang sama. Pandangan Jidan terlalu dalam, terlalu jujur untuk dibantah. Bibirnya terbuka, tapi tak ada kata keluar.

Perlahan, Jidan mengangkat tangannya, membelai sisi wajah Serena dengan lembut. Jemarinya lalu menyelipkan helaian rambut yang jatuh di pipi Serena ke belakang telinga. Sentuhan itu sederhana, tapi cukup untuk membuat napas Serena sedikit bergetar. “Aku nggak butuh orang lain setuju, Seya. Aku cuma butuh kamu di sini, tetep sama aku.” Ujarnya penuh keyakinan, seolah kalimat itu dipahat untuk tinggal di kepala Serena selamanya.

Titik air hangat menggenang di mata Serena, bukan karena sedih, tapi karena lega. Ia menghela napas kecil, “Aku nggak bakal pergi.” gumamnya pelan, nyaris seperti janji.

Jidan tersenyum kecil, jemarinya memberi tekanan hangat di punggung tangan Serena. “Aku juga nggak bakal kemana-mana.”

Di antara senyap yang nyaman itu, Serena tersenyum kecil, lalu perlahan menyandarkan lagi kepalanya di bahu Jidan, membiarkan pelukan ringan di lengannya terasa lebih erat. “Hubungan kita sehat kok… iyakan?” suaranya pelan, seperti takut mengusik kehangatan yang sedang mereka rasakan.

Kepalanya menoleh, Jidan mendekat dan menyatukan kening mereka, membiarkan hening sesaat seolah ingin memastikan semua resahnya benar-benar larut. “Bukan cuma sehat, Seya…” bisiknya lembut, “ini hubungan yang bakal selalu kita jaga — bareng-bareng.” Ia memejamkan matanya. Tenang.

Kembali menghela napas perlahan, Serena membiarkan pundaknya melemas dan matanya perlahan ikut terpejam. Di antara riuh dunia yang kadang tak mengerti, mereka tetap berdiri di sisi yang sama. Tidak ada suara selain detak hati yang terasa berirama di telinganya. Dan sejak saat itu, ia berhenti mencari pembuktian dari siapa pun, karena jawabannya sudah jelas… ada di sebelahnya.

[Jidan | Serena] Vol.1 — Hubungan Kita Sehat Kok, Iyakan?

Serena tahu, untuk pertama kalinya sejak awal hubungan mereka, ia tak lagi menyimpan tanya di sudut pikirannya. Semua keraguan yang seperti duri kecil di hatinya, kini terasa mencair, hilang bersama setiap tatapan, perkataan, serta sentuhan Jidan. Ia menyadari, yang membuat hubungan mereka kuat bukanlah bagaimana orang lain melihat, tapi bagaimana mereka memandang satu sama lain.

Jidan pun diam-diam membuat janji di dalam hati, setiap hari, ia akan mencari cara untuk membuat Serena merasa cukup, merasa setara, dan merasa dicintai tanpa syarat. Dunia boleh berisik, orang lain boleh menilai sesuka hati, tapi selama Serena ada di sisinya, ia tahu bahwa rumahnya selalu ada di sana — di pelukan yang sama, di hati yang sama.