Work Text:
Kelopak mawar kembali bertaburan di halaman belakang rumah dan Ica tidak tahu kapan rutinitas mingguan ini akan berakhir.
Selama pagi kian menyambut, Ica tidak pernah lelah menabur bunga di pemakaman istrinya sebagaimana dia tidak pernah lelah mencintainya. Kadangkala, ada suatu waktu di mana Ica kembali merenungi ketiadaan istrinya yang membuatnya pergi ke pinggir pantai untuk mengutuk lautan beserta ombak yang pernah mendebur kapal istrinya sampai hanyut tak tersisa. Aksi bodoh itu tidak jarang disalahartikan oleh Daniel—anak buahnya yang begitu paranoid—sebagai perencanaan bunuh diri karena Ica kewalahan membendung sedihnya.
Daniel kala itu sempat menggenggam lengannya Ica seraya memohon agar Ica tidak mengakhiri hidupnya lebih dulu, siapa tahu Ica melompat ke lautan yang ombaknya sedang mendebur kencang. Namun, Ica dengan segera menyingkirkan lengannya dari Daniel seraya berkata, “Hei, apakah kamu lupa bahwa aku tidak bisa mati?” Setelah itu, Daniel terkekeh canggung dan meninggalkan Ica bersama kesedihannya yang berlabuh.
Ada-ada saja ketakutan yang Daniel hadapi selama ini. Lagipula, harus berapa kali lagi Ica menjelaskan bahwa dia adalah makhluk yang abadi? Kalau seandainya Ica tidak abadi, Ica juga tak akan segan untuk mengakhiri hidupnya setelah istrinya meninggalkannya.
Kembali di hari di mana Ica mengutuk dirinya sendiri di hadapan pemakaman istrinya, tepat setelah kedua tangannya mengepal erat karena duka yang tak kunjung mereda, suara langkah kaki yang menyapu bersih dedaunan kering sontak mendistraksikan atensinya.
Ica sebenarnya benci mengakui hal ini, karena Ica tahu siapa pemilik suara langkah kaki itu. Yang lebih buruknya lagi, Ica merasa kehilangan kewarasannya setiap menyadari suara langkah kaki yang nantinya akan membawanya ke neraka duniawi.
Ica menghela napasnya sebelum membalikkan tubuhnya. Netra kuning yang tak secerah dahulu mendapati seorang tamu yang tidak diundang.
“Kali ini apa alasan di balik kedatanganmu, Nillo?”
Dalam hening, Nillo menahan amarah yang bisa meledak kapan saja. Pertanyaan yang Ica lontarkan menyela sapaan tulusnya dan Nillo tidak menyukainya. Bahkan untuk seseorang yang sehat mental sekalipun, sepertinya sapaan yang disela dengan pertanyaan menyebalkan itu akan membuat tamu manapun geram karena merasa tidak disambut.
Walau pada kenyataannya, Nillo sebenarnya bukan tamu yang diundang sedari awal, sih.
“Ah,” Kedua tangannya masih mengepal erat di balik pinggangnya, tetapi Nillo secara mulusnya menutupi amarahnya dengan senyuman kecilnya, “Tuan Presiden! Sudah lama tidak berjumpa!”
Setiap kali Nillo menunjukkan sisi karismatik palsunya, Ica selalu mengerutkan dahinya dengan perasaan jijik yang kian meluap.
“Aku bukan Presiden dan aku tidak memiliki ketertarikan lagi untuk menjabat menjadi Presiden,” Ica melontarkan kalimat itu setegar mungkin, “Di mana Daniel? Aku juga tidak ingat pernah membuka pintu rumah tanpa pengawasan sedikit pun.”
“Sepertinya kepergian istrimu benar-benar membuatmu menjadi pelupa, ya, Tuan Presiden?” Senyuman Nillo masih tertanggal di sana, “Pintu rumahmu tidak terkunci sama sekali. Sepertinya kamu juga lupa bahwa Daniel masih menikmati jatah cutinya hari ini.”
Ica meneguk ludahnya sebelum tertegun. Kepergian Aver membuatnya menjadi pelupa? Ah! Nillo pasti masih hidup di dalam dunianya sendiri dan tidak pernah lelah untuk menebar tipu muslihatnya. Lagipula, melupakan hal yang sepele adalah hal yang manusiawi, benar begitu?
“Jangan pernah memanggilku dengan nama panggilan itu lagi,” Ica menukikkan kedua alisnya seraya mempertahankan ketegaran nada bicaranya, “Dan jangan pernah mengungkit kepergian istriku kembali.”
Dedaunan kering perlahan berguguran di halaman belakang rumah, diiringi juga bersama Nillo yang melangkahkan kakinya secara pasti sebelum berakhir berdiri di hadapan Ica.
Tepat setelah Nillo berdiri di hadapannya, secercah cahaya menyilaukan kaki prostetik yang menggantikan peran kaki kirinya Nillo. Kilauan cahayanya mendistraksikan atensi Ica kepada kaki prostetik itu: kaki prostetik yang sekilas mengingatkannya dengan kaki prostetik istrinya, Aver.
Ica menggeleng kepalanya kala tubuhnya menggidik ngeri, berharap menyingkirkan pikiran itu untuk menjauh dari kepalanya.
“Tidak apa-apa, melupakan banyak hal setelah ditinggalkan oleh seseorang yang berarti adalah hal yang manusiawi,” Nillo melontarkan kalimat itu tanpa jeda sekali pun, seolah membaca pikiran sekaligus menjawab pertanyaan Ica sebelumnya, “Aku paham bagaimana rasanya menjadi pelupa setelah ditinggalkan oleh—”
“Nameless tidak pernah meninggalkanmu,” Ica menaruh jari telunjuknya ke arah dada kiri Nillo, seolah menunjuk hati yang tidak pernah memanusiakan manusia sebelumnya, “Nameless Author, Ibumu, dia tidak pernah meninggalkanmu karena kamu yang merenggut nyawanya. Kamu yang membuatnya meninggalkanmu, Nillo.”
Berulang kali jari telunjuk itu mengetuk dada kirinya Nillo: ini adalah hati yang tidak pernah memanusiakan manusia karena dia bukanlah manusia. Berulang kali juga Nillo meratapi dirinya sendiri dalam lamunannya: tentang apa yang salah pada dirinya sampai membuat Ibunya menelantarkannya begitu saja. Tidak jauh lebih buruk dari kenyataan itu, Nillo bahkan hidup selamanya dengan pemberian Ibunya yang pernah menghancurkan hidupnya, mulai dari; sayap hitamnya, bagian hitam wajahnya, kemampuan teleportasinya, tidak lupa juga dengan eksistensi Ibunya yang hina dan menjijikan—sama seperti dirinya.
“Jangankan merenggut nyawa Ibumu sendiri, pengalaman terburuk yang pernah kamu alami bersama Keiira juga tidak kalah menghantui hidupmu, ‘kan, Nillo Author?”
Nillo menampar wajah Ica sampai menyisakan lebam merah. Entah karena Ica menyebut nama lengkap Nillo beserta marga yang diturunkan oleh Ibunya kepadanya, atau justru karena Ica mengungkit nama seseorang yang pernah Nillo cintai setengah mati, Nillo juga tidak tahu mengapa kewarasannya seolah musnah dalam tamparannya.
Dalam hening yang mencekam, Nillo sempat berpikir bahwa dirinya tidak jauh berbeda seperti Ibunya: keduanya setara hinanya dan menjijikannya. Bahkan, saking hinanya dan menjijikannya, Nillo enggan untuk meminta maaf. Yang dilakukannya justru adalah meraih kedua tangan Ica tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Kedua jemari mereka bertautan, sedangkan tamparan yang menyisakan lebam merah dihiraukannya begitu saja—seolah bukanlah hal yang berarti.
“Bagaimana jika kita memperbaiki hubungan ini dengan menghabiskan waktu untuk minum di rumah baruku?” Ada sedikit paksaan di sela jemari yang bertautan, “Aku yakin kamu akan menyukai rumah itu, Ica. Rumah itu seperti rumah yang pernah istrimu janjikan kepadamu.”
Di hari-hari biasanya, Ica tidak jarang menegur Nillo untuk berjaga jarak dengannya, terutama dalam hal sentuhan fisik. Namun, entah mengapa, Ica kali ini hanya menghiraukan jemarinya yang bertautan bersama jemarinya Nillo. Jiwanya mungkin berkata tidak, berkata bahwa sentuhan ini memang seharusnya ditolak karena Ica sudah menikah bersama Aver. Hanya saja, tubuhnya justru berkata lain. Tubuhnya mengkhianatinya dan Ica membenci dirinya sendiri.
Ica kebingungan bukan main. Bagaimana bisa Nillo mengetahui rumah impian yang pernah dijanjikan istrinya sebelum istrinya berlabuh untuk terakhir kalinya? Ica tidak ingat pernah membicarakan mimpinya untuk singgah di rumah impiannya kecuali bersama istrinya. Jadi, bagaimana bisa Nillo mengetahuinya?
Tatapan Ica kembali tertuju kepada Nillo sebelum menarik jemarinya kembali. Sayang seribu sayang, usahanya tidak berjalan lancar karena jemari pembunuh haus darah itu sudah terlanjur bertaut erat dengan miliknya.
“Bisakah kamu meninggalkanku, Nillo?” Nada bicaranya tak lagi tegar di sana, “Aku hanya ingin menabur bunga di pemakaman istriku dan aku tidak tertarik untuk minum bersamamu.”
“Kamu hanya ingin menabur bunga di pemakaman istrimu?” Nillo tersenyum kembali, “Oh, Ica. Kuharap kamu sadar bahwa kamu tidak sedang berada di halaman belakang rumahmu.”
Ica masih menatap Nillo dengan tatapan penuh seribu pertanyaan. Apa yang sebenarnya sedang dia bicarakan? Kemudian, tepat sebelum Ica membuka mulutnya kembali untuk membentaknya, dedaunan kering yang berguguran di halaman belakang rumahnya perlahan digantikan dengan kelopak mawar yang berjatuhan.
Satu kelopak mawar, dua kelopak mawar, puluhan kelopak mawar, bahkan ratusan kelopak mawar berjatuhan dari langit yang perlahan demi perlahan diselimuti oleh kelamnya malam yang mencekam.
Tidak ada lagi dedaunan kering yang berguguran, hanya ada kelopak mawar yang berjatuhan.
Ica benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya di bawah kelamnya malam yang turut menjadi saksi bisu atas tautan jemarinya bersama Nillo. Hingga pada akhirnya, kemerlap bintang perlahan menyadarkannya bahwa apa yang disaksikannya adalah nyata: Ica tidak sedang berada di halaman belakang rumahnya, tetapi dia sedang berada di halaman belakang rumah yang hampir menyetarai kriteria rumah impiannya bersama istrinya terdahulu.
Tidak ada lagi halaman belakang rumah yang disinari mentari, hanya ada halaman belakang rumah yang diselimuti kelamnya malam.
“Sepertinya kamu sudah sadar, ya, Ica?”
Ica kebingungan setengah mati; pertama, Ica tidak ingat sejak kapan dia pernah menerima tawaran untuk berkunjung ke rumah yang diasumsikannya sebagai rumah yang Nillo katakan tidak jauh berbeda seperti rumah impiannya bersama istrinya. Kedua, langit yang awalnya terang benderang kini diselimuti gelap gulita, begitu juga dengan dedaunan kering yang entah mengapa berubah menjadi kelopak mawar yang berjatuhan—sama seperti kelopak mawar yang pernah ditaburkan di pemakaman istrinya pagi tadi. Ketiga, pesta kecil-kecilan macam apa ini? Botol kosong bertebaran di mana-mana, Ica juga tidak ingat sejak kapan dia pernah memijakkam kakinya di atas karpet merah untuk melakukan tango dance bersama seseorang yang dibencinya setengah mati.
Kepalanya terasa pusing saat kakunya dansa yang Nillo tunjukan mengingatkannya dengan cara dansa istrinya terdahulu, Aver. Tidak hanya itu, ketukan besi dari kaki prostetiknya juga tidak membantunya sama sekali. Ica semakin pusing lagi ketika berputar melakukan improvisasi tango dance bersama pasangan dansa yang tidak pernah dipilihnya sedari awal.
Ica memutar otaknya sebisa mungkin. Ketika Nillo lengah, Ica mengepal erat tangan kanannya sebelum mendaratkannya pukulannya ke arah wajah si brengsek yang memberkatinya neraka duniawi: Nillo. Sayangnya, pukulan itu ditahan lebih dulu oleh Nillo tanpa usaha yang seberapa.
Lagi dan lagi, Ica kalah telak untuk melakukan perlawanan.
“Selain menjadi pelupa, ternyata kamu juga menjadi temperamental setelah ditinggalkan oleh istrimu.”
Sepatu mereka menderap beriringan di atas karpet merah.
“Sebenarnya apa yang telah terjadi selama aku mabuk sampai kehilangan kesadaranku, Nillo?”
Tap, tap, tap. Improvisasi tango dance tiada hentinya.
“Tidak banyak,” Nillo menjeda kalimatnya di sela dansanya, “Kamu menangis di depan makam, aku berkunjung ke rumahmu karena aku tahu hari ini kamu sedang melakukan rutinitas tidak berguna itu, kamu menyambutku dengan pelukan, lalu kamu menerima tawaranku untuk berkunjung ke sini.”
Tap, tap, tap. Improvisasi tango dance tanpa kenal hari esok.
“Kamu meracuni minumanku, ya?”
“Tidak sama sekali,” Nillo terkekeh di sela dansanya, “Kamu hanya terlalu lemah untuk melawanku, kamu juga terlalu lemah untuk membendung kesedihanmu sendirian.”
Tanpa aba-aba, Nillo melempar tubuh Ica ke depan sebagai bentuk dari improvisasi dansanya. Punggung Ica mengurva ke belakang dengan lenturnya, sedangkan Nillo menopang punggungnya dengan tangan kirinya agar Ica tidak kehilangan keseimbangannya. Tidak lucu jika Ica terjatuh ke karpet karena belum sadar sepenuhnya. Di sisi lain, Ica sempat terkejut sebelum memposisikan tubuhnya untuk tegap kembali dengan perasaan terintimidasi.
“Kamu sadar terlalu cepat. Aku kecewa karena aku tidak sempat mengecup bibirmu sebagai balasan atas kecupanmu kepadaku terdahulu,” Nillo tersenyum di sela dansanya, “Padahal, jika kita berciuman kembali, tampaknya ciuman itu akan memperbaiki hubungan kita, benar begitu?”
Kelopak mawar masih berjatuhan di tengah lantunan musik yang mengiringi improvisasi dansa mereka, menghiasi halaman belakang rumah dengan merah; semerah karpet yang menjuntang lebar, semerah rona merah di pipinya Nillo.
Ica tidak dapat berpikir jernih ketika tubuhnya dituntut untuk terus bergerak, bergerak, dan bergerak tiada hentinya. Namun, Ica sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah salah. Ica sadar bahwa Aver akan membencinya jika Ica terus berdansa, berdansa, dan berdansa dengan seseorang yang tidak pernah diharapkannya untuk terus hidup.
Ica kembali mengepal tangan kanannya dengan penuh seluruh. Beruntungnya, pukulannya kali ini berhasil dilontarkan kala Nillo benar-benar lengah di tengah dansanya. Tubuh Nillo mendarat ke karpet, merahnya darah merekah dari hidung dan mulutnya; menetes ke karpet yang sama merahnya seperti darahnya, pula sama merahnya seperti rona merah di pipinya.
Ica sebenarnya tidak percaya dengan apa yang telah dilakukannya. Rahangnya mer erat, matanya terbuka lebar: Ica berpikir bahwa perlawanannya tidak akan berjalan lancar seperti sebelumnya. Namun, ketika menyadari bahwa perlawanannya membuat Nillo terbaring setengah berdaya, Ica pun segera berlari meninggalkan Nillo menuju pintu keluar.
Di sisi lain, Nillo hanya dapat melihat siluetnya Ica yang perlahan menghilang dari pandangan periferalnya sebelum kedua matanya terpejam dalam lelahnya.
Dalam pejaman matanya, Nillo berharap bahwa suatu saat nanti—Ica dapat kembali ke dekapan tubuhnya.
