Work Text:
dhika mengajak angkasa untuk berpacaran lagi hari ini.
ya, kamu tidak salah dengar. ini bukan pertama kalinya bagi dhika untuk menawarkan diri menjadi pasangannya angkasa setelah dhika secara tidak sengaja mengetahui bahwa angkasa kembali dilanda hari buruk sedari kemarin.
tidak, jika kamu berpikir bahwa dhika adalah tipikal remaja yang kerap bergonta-ganti pasangan, maka jawabannya adalah tidak. hubungan dhika dan angkasa hanyalah sebatas teman sebangku, teman dekat — tentu. hanya saja, akan ada waktu di mana aturan yang dhika ciptakan untuk mereka berdua kembali berlaku di waktu maupun tempat yang tidak terduga, yaitu aturan untuk menjadi pasangan platonik untuk sejenak.
walau begitu, yang namanya peraturan pastinya memiliki batasannya juga; pertama, hanya dhika yang berhak memberlakukan hubungan apa yang akan mereka jalani di waktu maupun tempat yang tidak terduga — antara menjadi teman atau pasangan. kedua, angkasa tidak berhak memberontak setiap kali hubungan mereka berubah sesuai dengan kehendak yang dhika tentukan. ketiga, setiap kali mereka berada di hubungan menjadi pasangan bernotabene platonik, mereka tidak berhak untuk memiliki perasaan lebih dari sebatas teman.
cukup aneh untuk kedua remaja labil, benar begitu? meskipun begitu, nyatanya hubungan mereka yang rumit ini tidak pantas untuk dianggap sebagai ‘cinta monyet’ karena mereka tidak pernah benar-benar menjadi pasangan.
“angkasa, bisa tolong ambilkan kuas milikku di tas? sepertinya terselip di antara kotak pensil dan case kacamata.”
lagipula, angkasa sadar bahwa dhika hanya menawarkan tawaran itu untuk mengembalikan senyuman di bibirnya.
“angkasa…”
yang lebih bodohnya lagi, angkasa tidak pernah menolak tawarannya.
“hei! angkasa!”
“ah!” angkasa terbelalak dari lamunannya, “i…ya? ada apa, dhika?”
dhika menghela napasnya, dia tidak mungkin membentak angkasa dalam keadaan seperti ini, “bisa tolong ambilkan kuas milikku di tas?”
angkasa mengerlingkan matanya sebelum mengulik isi tas dhika yang mendistraksikan pikirannya.
bagaimana bisa dhika sanggup membawa tas seberat ini setiap harinya? sekiranya begitu batin angkasa ketika mengulik isi tas dhika yang berisikan; satu buku ensiklopedia yang diasumsikannya sebagai hadiah ulang tahun dari ibunya tahun lalu, dua buku tipis bersampul triceratops dan brontosaurus, sobekan kertas berisi sketsa kasar sistem tata surya di bima sakti, sekotak susu rasa stroberi yang sengaja disisakan hari ini — kalau angkasa mengambilnya secara diam-diam, mungkin dhika tidak akan menyadarinya, selain itu juga ada… pembalut wanita?
angkasa mengerlingkan matanya sekali lagi sebelum meraih kuas berwarna biru yang tertimbun bersama rautan mekanik.
tanpa mengatakan sepatah kata apapun, angkasa menyodorkan kuas itu kepada dhika. aksi itu cukup membuat dhika terkejut karena dhika tidak sadar sudah berapa lama angkasa berdiri di belakangnya ketika dhika tenggelam ke dalam kanvasnya.
“tas milikmu isinya ramai sekali, dhika.”
dhika menyadari bahwa angkasa kembali memanggilnya dengan sebutan ‘kamu’ dan bukannya ‘lu’. ini menjadi pertanda bahwa angkasa merasa membaik ketika berada di sisinya.
dhika menerima kuasnya seraya terkekeh, “kamu mengatakan hal itu seperti kamu tidak pernah melihatku kewalahan saat menaiki tangga saja.”
“bukan itu yang kupermasalahkan,” angkasa mendekatkan bibirnya ke telinga dhika sebelum mengatakan kalimat selanjutnya yang terkesan canggung sekali, “aku melihat ada pembalut di tasmu. sepertinya kamu sengaja membawanya untuk berjaga-jaga jika hal yang tidak diinginkan terjadi kepada klara dan alana, ‘kan?”
“haha! jawabanmu hampir tepat!” dhika mengejutkan angkasa dengan jentikan jari di depan wajahnya, “sebenarnya kamu tidak perlu ragu membicarakan hal itu seolah hormon perempuan adalah hal yang tabu. lagipula, tidak ada siapapun di atas sini kecuali kita berdua. aku sengaja membawanya untuk bermitigasi sebelum aku menjemput adikku dari sekolah. namun, idemu sepertinya juga berguna. aku akan menerapkan hal yang sama mulai besok!”
kedua mata angkasa yang sedikit membulat seolah mengungkapkan kekagumannya kepada dhika secara tidak langsung, “kamu benar-benar peduli kepada orang lain, ya, dhika.”
dhika tersenyum, “sebagai manusia, kita memang harus peduli terhadap sesama, angkasa.”
angkasa menatap lekat dhika sebelum meraih kedua tangannya kepada miliknya secara perlahan; sejajar dengan dadanya, jemari bertaut erat kepadanya.
“sekarang kamu membuatku berpikir, jika kamu terus menerus memedulikan orang lain, siapa yang nantinya akan menaruh kepedulian yang sama kepadamu, dhika?”
kedua mata mereka bertemu di sana; hijaunya padang rumput bersama birunya langit beradu kasih, menciptakan panorama indah pula elok.
dhika tertegun, sedangkan angkasa tak henti menatapnya begitu lekat. mulut dhika masih mengatup kala rona merah kian menjalar dari pipi sampai ke ujung telinganya. walaupun tidak ada cermin di sekitarnya, dhika yakin bahwa rona merah di wajahnya sudah terlambat untuk dihentikan. yang lebih buruknya lagi, angkasa sepertinya terlalu menikmati kecanggungan yang sengaja dipertahankannya.
dhika melepas perlahan genggaman tangan itu sebelum membawa kedua tangannya sendiri ke belakang tubuhnya. setelah itu, dhika meneguk ludahnya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain — di mana saja asalkan tidak berkontak mata bersama angkasa.
walaupun dhika bukanlah seseorang yang dibesarkan di keluarga religius, setiap kali hatinya mencoba meyakinkan bahwa perasaannya kepada angkasa adalah nyata, dhika selalu merasakan kejanggalan yang menghantuinya setengah mati sampai membuatnya merasa bersalah — entah kepada siapa, lebih tepatnya. hingga pada akhirnya, dhika mencoba mengusik jauh pikiran itu walaupun hatinya berkata lain.
di sisi lain, angkasa justru dibesarkan di keluarga yang kental dengan ajaran agama kristen. saking kentalnya, keluarganya — terutama kedua orangtuanya — seolah terobsesi dengan hitam putihnya dunia; hitam yang melambangkan keburukan di dunia, sedangkan putih yang melambangkan kebaikan di dunia.
di dalam hitam putihnya dunia, angkasa berusaha keras untuk menutupi kelamnya warna hitam di hidupnya dengan warna putih.
angkasa sadar bahwa dirinya adalah seorang pendosa karena laki-laki tidak seharusnya mencintai laki-laki.
mengingat keluarganya yang begitu rumit, teringat ada suatu waktu di mana setiap kali angkasa melakukan kesalahan, ibunya pasti tidak akan segan untuk berkata bahwa apa yang dilakukannya adalah perbuatan yang tercela. selain itu, tidak jarang juga keluarganya menakut-nakutinya dengan kehadiran ‘neraka’ dan bukannya membimbingnya lebih baik atas kesalahannya yang telah diperbuat.
sedari kecil, angkasa dituntut keras untuk takut kepada tuhan. namun, setelah bertemu dengan dhika, sepertinya ketakutan terbesarnya selama ini adalah kehilangan dhika.
angkasa merasa berdosa sekali.
jauh di lubuk hatinya yang terdalam, angkasa sebenarnya merasakan rasa sakit yang mendalam setiap kali mengingat bahwa tuhan maupun dunia tidak akan pernah menerimanya. begitu juga dengan dhika, sesaat setelah dhika melepaskan genggaman tangannya dan menyadari bahwa angkasa merelakannya begitu saja, dhika merasa semakin bersalah karena dhika seolah tidak mengakui perasaan yang juga sama berdosanya seperti angkasa.
angkasa paham bahwa dhika hanya berpura-pura tidak tahu mengenai rumor yang telah beredar ke sepenjuru dirgantara. angkasa juga paham bahwa selama ini dhika memiliki juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya: perasaan yang membuatnya hidup seperti manusia, pula berbalut dengan dosa yang begitu berat.
pada akhirnya, semuanya seharusnya dapat berjalan baik-baik saja jika mereka tidak dihantui oleh rasa ketakutan.
“aku… ingin melanjutkan lukisan ini.”
semuanya seharusnya dapat berjalan baik-baik saja jika mereka tidak dihantui rasa takut, takut, dan takut.
“mungkin kamu bisa kembali beristirahat, angkasa.”
dhika sangat takut.
“aku ingin membantumu menyelesaikan lukisannya.”
begitu juga dengan angkasa.
“eh? tidak perlu!” dhika membalikkan badannya dari kanvas untuk berhadapan dengan angkasa, “kamu masih merasa kelelahan, ‘kan? aku akan menyelesaikan lukisan ini untukmu agar kamu tidak perlu repot mengumpulkannya besok.”
“aku berubah pikiran,” awalnya angkasa berniat untuk meraih kuas yang dhika genggam. namun, bukannya merebut kuasnya dengan cekatan, tangan kanannya justru menggenggam tangan kanan dhika secara tidak sengaja, “kamu terlalu sering membantuku untuk mengerjakan tugas individu. kalau pak yoo tahu, kamu bisa dihukum untuk mengelilingi lapangan lagi. aku merasa bersalah akan hal itu. aku juga tidak ingin dituduh sebagai ‘teman palsu’ oleh karis lagi.”
“memangnya kita adalah teman?”
mata dhika kembali bertemu dengan angkasa.
“kupikir, dengan caraku membuat aturan untuk kita menjalin hubungan layaknya seorang pasangan sementara dengan notabene platonik sudah cukup menunjukkan bahwa aku tidak keberatan untuk menjadi pasanganmu, angkasa.”
tatapan angkasa melemah di detik itu juga.
“cintamu sudah cukup besar untuk kurasakan walaupun kamu tidak mengungkapkannya secara langsung, dhika.”
takut, takut, takut.
“aku juga mencintaimu, dhika,” kali ini angkasa memberanikan diri untuk meraih tangan kiri dhika seraya berharap bahwa dhika tidak menolak genggamannya lagi setelah ini, “akan tetapi, mungkin akan lebih baik jika aku mencintaimu di tempat yang tuhan sediakan untuk kita berdua di surga,” angkasa mendekatkan bibirnya ke telinga dhika, berbisik pelan sekali seperti pada sore itu, “itu pun kalau tuhan berkenan untuk menerima kita.”
kilas balik memori kembali berputar layaknya video rekaman tua: sore-sore sekali, angkasa menemani dhika pulang sekolah setelah angkasa menyadari bahwa ban sepeda dhika sengaja dilepas penutupnya sampai ban sepedanya kosong melompong.
angkasa sebenarnya sudah tahu siapa dalang di balik keisengan berlebihan ini, tetapi dhika sudah lebih dulu menenangkannya.
lagipula, tidak ada siapapun yang cukup bertenaga untuk mengurus keributan di jam pulang seperti ini.
“menurutmu, apakah tuhan akan menyediakan tempat untuk kita berdua di surga?” pertanyaan yang terlontar sontak membuat dhika terhenti mendorong sepedanya, “itu pun kalau tuhan berkenan untuk menerima kita.”
momentum itu menjadi waktu di mana dhika mendengar ungkapan perasaan angkasa secara langsung kepadanya untuk pertama kalinya.
birunya langit masih menjadi saksi bisu atas keheningan mereka di lantai atas dirgantara. di sana, dhika masih tertegun setelah mendengar ucapan yang membuat hatinya kembali berdentum seperti pada petang kala itu.
rona merahnya masih berada di sana, senyuman dan ucapan dhika meredakan keheningan, “ayo kita selesaikan lukisan ini bersama, angkasa.”
untuk pertama kalinya setelah sekian lamanya, bibir angkasa akhirnya mengurva perlahan menjadi senyuman.
kali ini kuasnya berada di tangan angkasa, sedangkan dhika memegang palet warnanya.
“menurutmu, langitnya sebaiknya diwarnai dengan warna apa, dhika?”
masih dengan senyuman yang sama, dhika menjawab, “secerah mungkin.”
dhika memegang tangan kanan angkasa yang masih menggenggam kuasnya, kemudian menuntunnya kuas untuk menorehkan warna biru di palet warnanya, “seindah mungkin.”
warna biru ditorehkan bersama ke kanvas, menciptakan warna yang membuat dhika merasa hidup sebagai manusia sepenuhnya, “secantik mata birumu.”
secara tiba-tiba, langit yang awalnya biru sebiru warna yang mereka torehkan ke kanvas, sontak meredup tanpa menyisakan birunya.
tidak ada lagi langit yang biru.
hujannya merintik; membasahi lantai atas dirgantara, pula merusak momentum di mana kedua lelaki pendusta menoreh dosanya bersama.
“maaf, maaf… maafkan aku, dhika.”
“aku selalu memaafkanmu, angkasa.”
langit sontak membiru kembali setelah dhika mengusap lembut air mata yang menjejaki pipinya angkasa.
tidak ada hujan di dirgantara, hanya ada mata angkasa yang masih biru sebiru langit.
“maafkan aku karena aku membuatmu terjerat di dosa yang sama denganku.”
“aku selalu memaafkanmu, angkasa.”
langit yang biru selalu mensyukuri kehadiran padang rumput yang hijau: yang selalu hadir untuknya.
“kamu sepertinya kelelahan setelah mencurahkan hatimu sampai menangis. mau duduk dulu?”
“…mau sekali.”
