Work Text:
I. Meeting Me
Lee Seonghyeon namanya. Akrab dipanggil Sean. Remaja empat belas tahun dengan sorot mata penuh cahaya. Langkahnya ringan dan penuh irama, seolah dunia adalah panggung bermainnya. Ia tumbuh dalam lingkungan musik dan seni, berteman akrab dengan lirik, nada, dan kebebasan berekspresi. The son of R.E.M Studio owner prides himself in his natural gift in music producing, just like his father.
Hatinya meledak riang saat papanya mendaftarkannya ke sebuah summer camp. Bukan sembarang camp, melainkan music camp—dimana remaja seumurnya diajak untuk menyelam lebih dalam di dunia produksi musik.
Namun, ada satu hal yang Sean tak suka.
Keonho namanya. Akrab dipanggil Kenan. Anak yang supel namun tenang. Penampilannya rapi, dengan sikap sopan dan dewasa untuk anak seusia mereka. Bagi Sean, Kenan lebih pantas duduk di klub debat atau lomba pidato daripada summer camp ini.
Sejak awal, Sean menobatkan Kenan sebagai saingan terberatnya. Selain keduanya yang seringkali dimiripkan baik dalam wajah maupun bakat, cara Kenan dalam menulis lirik, menyusun komposisi, hingga mixing lagu terasa begitu familier—seolah bercermin. Membuatnya terusik entah kenapa.
Bagi mentor mereka, Sean dan Kenan saling melengkapi. Melodi yang Sean ciptakan selalu disempurnakan Kenan dengan harmoni yang tepat, lirik yang Kenan tulis seolah lanjutan dari apa yang lebih dulu hadir di kepala Sean.
“Kalian tuh mirip, dan chemistry kalian kuat banget.” ucap salah satu mentor mereka suatu hari. “If I didn’t know any better, I’d say kalian memang anak kembar.”
Sean dan Kenan memutar bola mata di saat yang bersamaan.
“Lo ngikutin composing style gue, kan? Ngaku aja!” tuduh Sean suatu hari.
Kenan—yang saat itu duduk di seberangnya dengan jemari menari di atas keyboard dengan santai—mendongak dengan alis yang berkerut. “Gue? Nggak salah, ya? Lo tuh yang bikin chord selalu mirip sama punya gue! Jangan asal nuduh.”
Sejak itu, minggu-minggu pertama mereka diisi dengan pertengkaran dan kejahilan kecil—Kenan yang mengutak-atik tuning peg gitar Sean agar suaranya sumbang, Sean yang menyembunyikan music sheet Kenan tepat sebelum kelas dimulai, dan masih banyak lagi.
Hingga akhirnya mentor utama mereka—Pak Taeyong—terpaksa menghukum mereka. Secara sengaja, ia memasangkan dua anak itu untuk tugas akhir mereka dalam menciptakan sebuah lagu. Menempatkan keduanya untuk tinggal di satu kabin yang sama.
“Aneh! Muka mirip tapi berantem terus,” gerutu Taeyong, berjalan pergi dari kabin dengan tangan yang berkacak pinggang.
Sean mendengus kesal, membanting tasnya di kabin. “Lo, sih. Rese.”
“Lo duluan,” Kenan membalas, mendelik dari kasurnya.
Hening menyapa beberapa saat sebelum Kenan bangkit, berjalan menuju keyboard di ujung ruangan. Tangannya memainkan lantunan melodi pelan—buat Sean mematung.
“...I know that melody,” bisiknya. Ia meraih gitarnya, melangkah mendekati Kenan. Perlahan, ia memainkan nada yang sama dengan Kenan—diawali petikan lembut, perlahan naik dan mendayu.
Kenan menatap Sean dengan horror. Jemarinya di tuts keyboard sempurna berhenti. “...how…?”
Sean menatap Kenan lamat-lamat. The gears in his head slowly shift. Ia menoleh pada cermin di depan mereka—mendapati kesamaan yang selama ini ia coba abaikan. Alis tebal dengan hidung yang lurus, bibir tipis, hingga rahang mereka. Sean seolah melihat dirinya—dan duplikatnya di sampingnya.
“Kenan, maaf banget gue nanya ini. Gue selama ini cuma tahu lo punya ayah.” ucap Sean lirih. “...Lo punya ibu, nggak?”
“Papi,” koreksi Kenan. “Tapi gue nggak pernah ketemu lagi, dari gue masih kecil banget. Gue udah gak inget apa-apa soal papi gue. Sekarang sama Papa aja.”
“Gue juga punya dua papa. Gue juga nggak pernah ketemu dari kecil. Gue nggak inget apa-apa soal papa lain gue.”
Kenan balas menatapnya, tercenung. Seolah mulai memahami apa yang terjadi. Ia buru-buru mengacak kopernya, tergesa menggoyangkan secarik foto yang robek pada Sean.
“My papi. His name is Donghyuck, and we live in South Korea.”
Dengan gemetar, Sean meraih foto di kantung celananya. Membukanya, kemudian memasangkannya dengan foto milik Sean—tersambung sempurna layaknya sebuah puzzle.
“Shit, shit, shit,” Sean rasakan matanya memanas memandang kedua foto orangtua mereka. “My papa. His name… is Mark Lee. and… we used to live in South Korea, too.”
Kenan menarik napas panjang. “God, everyone in the summer camp was right. We really are twins.”
Ide untuk bertukar tempat itu datang dari Kenan.
Dan atas dasar rindu dan ingin tahu, Sean tidak ragu untuk menyetujuinya.
Sean akan pulang ke Seoul, Korea, sebagai Kenan—kepada Donghyuck.
Dan Kenan, sebagai Sean, ke Mark di Vancouver, Kanada.
II. Exchanged
Hal pertama yang Sean sadari tentang Donghyuck adalah wajah manisnya.
Rambut ikal yang disisir rapi dengan coat coklat tua yang membalut tubuhnya, wajahnya tenang dengan tas selempang di bahunya. Ia berada di lorong mansion dengan langit-langit tinggi, tersenyum indah pada Sean.
Dada Sean menghangat, pipinya memerah tanpa ia sadari. Jauh berbeda dengan sang Papa yang penuh energi, Papinya terasa begitu lembut dan tenang.
“Papi,” ia dengan ragu memanggil. Berdebar saat bibir Donghyuck merekah, membawanya dalam pelukan.
Hangat.
Lembut.
“Kenan, kamu kurusan ya?” Donghyuck merengut, tangannya menyentuh pipi Sean dengan hati-hati. Begitu dekat hingga Sean lupa cara bernapas.
Sean menggeleng kaku. “A-aku makan kok...”
Donghyuck pursed his lip, clearly unhappy with his answer. “Hm. Kita perbaikan gizi mulai sekarang.”
Sean berkenalan dengan Kakeknya—ayah Donghyuck—dan asisten rumah tangga mereka. Hari-harinya diisi dengan menemani Donghyuck ke butik, bekerja dengan cekatan, buat Sean menatap kagum. Tuturnya lembut dan lugas pada kliennya, tangannya lembut menari di antara kain berbagai warna.
His papa married a wonderful man.
Suatu malam, Sean akhirnya memutuskan untuk bertanya. “Pi, Papa itu orangnya gimana?”
Donghyuck terhenyak. Ia menoleh pada Sean yang duduk di sampingnya. “Kenapa Kenan tiba-tiba tanya soal Papa, sayang?”
Sean tersenyum kikuk, mencengkeram selimutnya. “Kan Kenan sudah besar. Mau tahu soal Papa.”
Senyum Donghyuck mengembang perlahan, membawa Sean dalam pelukan. Ia menutup mata, membayangkan. “Hm… Papa kamu itu orang yang hebat. Dia mandiri, kreatif, dan selalu punya ide yang hebat. Nyebelin, sedikit. And he’s handsome, too—”
Ia buru-buru membuka mata, pipinya bersemu merah. “—ngomong apa sih aku… ya intinya gitu. Udah Kenan gak usah tanya-tanya soal Papa, deh.”
Sean tertawa pelan. Donghyuck kemudian menatapnya lamat-lamat. “...Kamu dilihat-lihat juga mirip banget ya sama Papa… makin mirip…?”
Dan Sean tahu, tatap sendu itu isyaratkan rindu. Ia hanya membalas dengan senyum, bersandar lebih dekat pada sang Papi.
Di Vancouver, Kenan juga tak kalah terkejut saat bertemu papanya untuk pertama kali. Ia disambut oleh lelaki dengan hoodie dan baggy jeans, membawa dirinya dengan santai. Berbeda dengan sang Papinya—for Donghyuck, everywhere is his runway.
“Hoi, bocah,” sapanya, terkekeh. “Kangen Papa, gak, Sean?”
Kenan mengangguk, menelan ludah. “Kangen, Pa.”
Mark menatapnya heran. “Tumben amat kamu ngaku kangen ke Papa. Gengsinya ketinggalan di camp, ya?”
Senyum Kenan perlahan muncul.
Hari-hari Kenan dilalui dengan belajar musik dengan sang Papa. Beberapa kali, Mark akan melirik bingung saat Kenan lebih sering memilih untuk menggunakan keyboard daripada gitarnya, namun ia tak berkata banyak.
“Papi orangnya gimana, Pa?” tanya Kenan. “Kayaknya, Papa gak pernah bahas. Sean mau tahu.”
Wajah Mark bersemu merah, tersedak. “Papa kamu… baik. Manis. Lembut, perhatian. The most amazing, wonderful, loving man I have ever met in my life.”
Kenan memerhatikan tatapan Mark—staring far, far away, longing clearly shown in his eyes. Kenan smiles secretly.
“Markie!”
Suatu sore, seorang wanita datang menghampiri dari kejauhan. Ia melambaikan tangan, mendekat—dengan pakaian super minim. Cantik, sangat amat muda. Rapi, dan Kenan bisa bersumpah bahwa wajahnya mengingatkan dirinya kepada sang Papi di Seoul.
Kenan berkedip pelan. Dunia seolah melambat—memberi Kenan waktu untuk melihat keadaan sang Papa yang tengah menghampiri perempuan itu.
Saat melihat perempuan itu merangkul dan mencium pipi Mark, Kenan knows it’s a sign for danger.
“Sean, kenalin, um… ini Mandy. Teman… Papa.” ucap Mark kikuk.
“Hai! Aku Mandy, salam kenal ya, kamu imut banget!” ucap Mandy—nadanya terlalu tinggi, senyumnya seolah plastik. Kenan membalas dengan senyum manis yang sama, tajam dan palsu. Membalas jabat tangan Mandy dengan erat.
Saat Mark pergi, senyum palsu Mandy masih terpatri, menantang Kenan di depannya. Kenan menatap datar. “Kamu teman Papa? Cocok sih,”
Mandy menaikkan alisnya. “Oh? Serius? I didn’t think you’ll accept our… relationship well.”
“Cocok jadi Kakak aku! Bajunya ganti ya Kakak, sebagai calon adik adik aku gak nyaman lihat kamu. Emang gak dingin, ya?” Kenan tersenyum, berjalan pergi.
Senyum palsu itu lentur, digantikan wajah jengkel yang bagi Kenan lebih mirip seorang nenek sihir. “Like it or not, I will marry your father!” bentak Mandy dari kejauhan.
Kenan tak mengindahkan, melenggang santai memasuki rumah. Ia menemui Lilly, maid Sean sejak kecil—mengintip dari jendela dengan tidak suka. “Sok cantik.” decihnya.
“Dia gak baik?” tanya Kenan.
Lilly meringis. “Dia itu publicist, masih muda banget. Gayanya mau bantu promosiin perusahaan Papa kamu, tapi lebih banyak promosiin dirinya sendiri. Sama semua staff di rumah juga galak, dan udah kelihatan banget ngincer harta.”
Malam itu juga, Kenan menelepon Sean.
“Sean, this is urgent. Kayaknya Papa punya pacar baru. We need to meet here in Vancouver. We must stop this madness.”
“...Understood.”
Another mission, it is.
III. Reuniting
Donghyuck mulai merasakan ada yang ganjil saat Kenan lebih banyak diam. Tatapnya penuh ragu, seolah menahan diri dari menyampaikan sesuatu padanya.
Akhirnya, Donghyuck mendekat, mengelus rambutnya perlahan. “Kamu kenapa diem banget?”
Sean berjengit. “Papi,” katanya lirih.
Donghyuck tersenyum dengan sabar. “Hm?”
Sean menarik napas panjang, berharap amarah Donghyuck akan pergi secepat buangan napasnya setelah ini. “Kalau aku bilang… aku bukan Kenan, papi bakal marah nggak sama aku?”
Donghyuck terdiam, terpaku atas kalimat itu. Ia bangkit dari posisi tidurnya, air wajahnya serius menatap anak di depannya. Ia terdiam tiga, lima, sepuluh detik.
Until realization hits him right in the face—making his eyes widen in shock. “...Astaga… Sean, kamu Sean, Nak…?”
Mata Sean mulai berkaca-kaca, mengangguk pelan dengan tangan yang mencengkeram selimutnya erat. Di balik semuanya, hatinya menghangat saat mendengar Donghyuck mengucapkan namanya. Nada yang tak disadari telah lama ia rindukan.
“Ini Sean, Papi,” bisiknya. “Aku dan Kenan ketemu di camp. Dan kita decide untuk tukeran. Karena… we missed you two… and we want to know how it feels to be you and Papa Mark’s child.”
Donghyuck tertegun. Akhirnya, semua hal janggal itu menemukan jawabnya. Cara Kenan—bukan, Sean—tersenyum, bersikap, berbicara. Terlalu mirip dengan Mark. Santai, bebas, dan percaya diri. Ia meraih tangan Sean perlahan. Menatap anak di depannya—kembaran Kenan, namun hidup dengan dibesarkan oleh lelaki yang diam-diam Donghyuck rindukan.
“Papi juga kangen kamu…” air matanya mulai jatuh. Sean menatapnya dengan tercekat. “Anak Papi tercinta. You’ve grown so much. So handsome. My little love…”
Tangis Donghyuck sempurna pecah tanpa suara. Ia menarik Sean dalam pelukan dengan erat, suarakan rindu melalui sentuhan. Sean mengubur wajahnya pada dada Donghyuck dalam-dalam. Akhirnya merasakan dicintai oleh Donghyuck sebagai Sean sepenuhnya.
“Kita jemput Kenan, ya?” lirih Donghyuck. Wajahnya memerah saat menyadari sesuatu. “Ah… tapi nanti harus ketemu Mark, ya…”
Sean buru-buru memotong. “Papa can’t wait to meet you too!”
Donghyuck mematung—menoleh pada Sean dengan sorot wajah penuh harap. “K-kamu serius gak…?”
Sean mengangguk mantap. Biarkan gerak tubuhnya melangkah maju sebelum logikanya menarik mundur. “Serius! Papa lagi quality time nginep sama Kenan di Vancouver. Kita bisa ketemu.”
“Gitu ya,” bisik Donghyuck pelan. Ia membuang muka, berusaha menutupi ekspresi malu-malu. Sean mungkin masih remaja, namun perangai itu sudah mampu ia pahami.
Bahwa sang Papi juga masih mengharapkan suatu reuni.
Dan ia tak akan biarkan seorang perempuan—entah dari mana—merebut Papanya dari menemukan cinta sejati.
Vancouver menyapa Donghyuck dan Sean sepuluh jam setelahnya. Sean dengan santai duduk tanpa perhatikan jalan, sudah hafal dengan tata letak kota tempat tinggalnya. Donghyuck adalah kontras yang sempurna—pakaiannya begitu manis dengan rambut yang ditata rapi. Bagi Sean, Donghyuck terlihat begitu indah.
“Papi!!”
Turun dari taksi, Donghyuck tersenyum lebar melihat Kenan yang berlari ke arahnya dari lorong hotel. Ia membungkuk, menyambutnya dalam pelukan hangat.
“Hei, anak nakal. Kamu nih ya, nipu Papi. Kalian berdua.”
Sean dan Kenan terkekeh. Donghyuck menatap keduanya lamat-lamat. Dua buah hatinya, kedua anak kembarnya—that he wouldn’t even dream in a million years that they would cross path and come to this crazy idea to switch.
Namun, sejatinya, ia bersyukur. Donghyuck tak menyangka hari dimana ia bisa melihat kedua anak kembarnya bersama-sama setelah dipisahkan untuk sekian lama.
“Oh iya, um, Mark sudah tahu kalian tukeran gini?”
Sean dan Kenan melirik satu sama lain dengan kikuk.
Sebelum Donghyuck sempat bertanya, ekspresinya runtuh seketika saat melihat sosok di lift yang pintunya sedang menutup.
Mark berdiri di sana, jauh lebih dewasa. Parasnya masih sama, menawan. Yang berbeda adalah perempuan yang melekat mesra di sisinya. Menilai dari raut wajah Mark, ia pun sama terkejutnya melihat Donghyuck.
Donghyuck tidak bernapas hingga pintu lift tertutup. Berjalan cepat ke lift lain menuju kamarnya tanpa menoleh, bahkan tak memedulikan dua anak kembar yang dengan takut-takut mengekorinya.
Di kamar, Sean dan Kenan berdiri berhadapan dengan Donghyuck seperti dua terdakwa, tangan terlipat di belakang dengan wajah tertunduk.
“Kalian bohong,” kata Donghyuck, menahan amarahnya sembari duduk di sofa dan memijat pelipisnya. “Kalian berdua.”
Sean menelan ludah. “Jadi gini, Papi—”
“Papa kalian nggak tahu Papi di sini,” lanjut Donghyuck. “Dan dia punya pacar!”
Sean buru-buru maju selangkah. “Nggak, Papi, itu nggak serius! Dia itu cuma perempuan gold digger, Pi! Dia cuma mengincar hartanya Papa!”
Donghyuck memutar bola matanya dengan lelah.
“Please, Papi,” Kenan memohon, mengepalkan kedua tangannya. “Sean tahu, Papa itu masih kangen sama Papi. Selama Kenan sama Papa, Papa diam-diam suka pandangin foto nikah kalian yang masih disimpan di laci kerjanya! Dan, dompet Papa juga masih ada foto Papi!”
Sean buru-buru mengangguk. “Bener, Pi! I can verify that! I swear!”
“Papa bilang, papi baik dan lembut. Papa bilang Papi itu the most amazing, wonderful, loving man he had ever his in my life.” bujuk Kenan. Saat Donghyuck menatapnya sinis, ia melanjutkan, “I swear, Papi, it’s the truth!”
Hening.
Donghyuck rasanya sudah tidak tahu apa yang harus ia percayai. Akhirnya, ia menghela napas kasar dan bangkit dari duduknya. “Nanti kita bicara lagi. Papi jet lag dan terlalu pusing sama semua ini.”
Saat pintu tertutup, Kenan dan Sean menatap satu sama lain.
IV. One, Again
Mark Lee berjalan tergesa keluar dari kamar hotelnya, langkahnya buru-buru dan tidak sabar. Di lorong, ia bertemu dengan Sean. “Sean?”
Sean tersenyum santai. “Hai, Papa! Buru-buru mau kemana?”
Mark masih tidak fokus, merapikan kemejanya. Matanya melihat kesana-kemari. “Sean, Papa rapi nggak? Aneh nggak?”
Sean mengedip pelan. Tersenyum jahilnya mulai terpatri. Dengan kemampuan akting tingkat tingginya, ia menangguk mantap. “Rapi, Pa. Ganteng!”
Mark menghela napas lega. “Ya udah, kamu sama Mandy dulu ya, Papa ada urusan!” ia buru-buru berlari ke lift.
Begitu pintu lift tertutup, Sean mencibir. “Sama Mandy? Ogah banget gue!”
Turun dari lift, Mark kembali bertemu dengan Sean—ia mengernyit. Bukankah Sean tadi masih di lantai atas?
“Sean?”
Sean—yang sebenarnya adalah Kenan—menoleh riang. “Oh, hai Pa! Ganteng amat!”
Mark bersemu merah. Berdeham pelan. Kecurigaannya terhadap anaknya yang bisa berada di dua tempat sekaligus langsung menghilang. “Um, kamu main sama Mandy dulu, ya, Papa mau ketemu, uh. Orang…”
Lee Donghyuck. Sang mantan suami yang dalam lubuk hati terdalam masih menjadi cinta sejati. Hadirnya di lobby tadi, begitu manis dengan rambut ikal dan baju rapi, membuat hati Mark yang lama kaku berdebar kembali.
Mark should find him. No, he must find him.
Dan disana dia berada—duduk di bar dekat kolam renang, terlihat begitu indah dan manis di bawah sinar matahari sore. Ada segelas tequila di tangan kanannya. Pandangannya kosong, tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Jantung Mark berdentum keras, mencoba menghampiri Donghyuck. Fokusnya hanya pada Donghyuck—seolah seluruh indera penglihatan, pendengaran, dan perasaannya tak lagi berfungsi selain untuk pada Donghyucknya.
Hingga akhirnya ia menabrak seorang waiter.
“Waduh, Maaf—saya—” gelas beradu, minuman tumpah, dan suara kaget memenuhi area. Ia bahkan bisa melihat Sean—dan kembarannya? Di seberang, terkekeh bersama Lilly.
Mark buru-buru membantu sang waiter. Tanpa disadari, Donghyuck berdiri, ikut membantu.
Mata mereka bertemu.
“Oh,” ucap Donghyuck. Tuhan, suaranya masih selembut dulu.
“Oh,” balas Mark.
Tahun yang berlalu tanpa ada kontak di antara mereka begitu terasa—menghujam Mark dengan rasa rindu sekaligus terpesona. Keduanya berdiri, menatap satu sama lain. Mark tanpa malu menyapu pandangannya pada Donghyuck dari ujung kepala hingga kaki.
“Mark,” sapa Donghyuck. “Um… you look… good.”
Mark tersenyum kaku, pipinya bersemu. Rasanya seperti kembali ke masa dimana ia tak bisa bicara di depan Donghyuck, sibuk memutar otak mengenai bagaimana cara memenangkan hatinya.
“Kamu juga. You look beautiful.”
Donghyuck berdeham. “Thank you.”
“Kamu, um, lagi liburan kesini?” tanya Mark, berusaha membuka obrolan.
Donghyuck menghela napas kasar. “Aku mau jemput Kenan. Kenan itu yang selama setelah camp bareng sama kamu. They swapped places and we’ve both been fooled! How crazy is that?!”
Mark terbelalak, terkejut dengan tindak impulsif kedua anak mereka. Ia terkekeh, menggelengkan kepala. “Loh, Kenan disini juga? Yang sama aku itu malah Kenan? Astaga, nakal-nakal banget. Anak siapa sih itu?”
Donghyuck mendelik. “Anak kamu.”
Menggemaskan.
Mark tidak pernah merasa sebahagia ini hanya karena seseorang mendelik padanya. Ia tertawa. “Kamu gak pernah berubah, ya.”
“Maksudnya?”
“Masih sama lucunya. Manisnya.” ucap Mark. Lembut dan penuh sungguh. Buat Donghyuck di sampingnya tersipu malu.
Sadly, their little bubble of romance was quick to burst—as Donghyuck’s face immediately fell when he saw the earlier girl on the lift approaching, clearly in search of Mark.
“Aku rasa nggak etis ya memuji segitunya kalau kondisi kamu sudah punya pacar.” ucap Donghyuck tajam. Perangainya berubah dingin.
“Markieee! There you are!”
Mark mendesah kesal atas gangguan itu. Hanya bisa menatap nanar saat Donghyuck memutar badan dan bergegas pergi, seolah satu menit lebih lama bisa membuatnya muntah.
Sayang sekali. Mark masih terlalu rindu untuk melepaskan.
Untungnya, anak-anak Mark mengerti itu.
Malam kembali menemui Mark—kali ini dengan kejutan dalam wujud Lee Donghyuck yang menatapnya bingung di kursinya. Meja di private room restoran hotel itu dihias begitu romantis, namun bagi Mark, wajah bingung Donghyuck masih jauh lebih indah.
Mark berdeham, angkat bicara sebelum pikirnya kembali berkelana. “Did those pranksters set us up?”
“Iya… kayaknya,” ucap Donghyuck canggung.
Melihat Donghyuck yang tidak langsung bangkit dan pergi dari meja, Mark buru-buru ikut serta duduk di depannya. Menatap Donghyuck yang memerah pipinya.
“Sorry, Mark, kayaknya kita nggak seharusnya gini—”
Ucapan Donghyuck terpotong saat beberapa pelayan datang, menyajikan berbagai macam hidangan dengan wangi menggoda di depan mereka. Donghyuck menelan ludah.
Mark menahan senyum. Kenan dan Sean benar-benar tahu tabiat Papinya—akan buru-buru pergi, namun terpaksa menahan diri karena ada makanan lezat yang menghampiri.
“Better not let the food go to waste,” ucap Mark.
Donghyuck merengut, menghela napas. Akhirnya mengangguk pasrah.
Percakapan mereka akhirnya mengalir perlahan, membawa Mark dan Donghyuck pada obrolan santai. Pekerjaan, kesibukan, Sean dan Kenan. Mark menghembuskan napas lega melihat bahu Donghyuck mulai rileks.
Ternyata, menatap Donghyuck untuk pertama kali setelah sekian lama buatnya menyadari bahwa hatinya masih ada hanya pada Donghyuck, dan Donghyuck seorang.
Hatinya masih—dan akan selalu ada di Donghyuck.
Ia mencengkeram garpunya kuat-kuat.
“Aku kangen,” ucap Mark tiba-tiba.
Donghyuck menatapnya penuh makna. Mark dapat melihat bibirnya gemetar, seolah tidak berani memercayai bahwa ucapan Mark benar adanya.
“Serius,” lirih Mark kembali. “Aku kangen. Aku minta maaf… because we ended things too fast. But maybe the distance works wonders for us, karena… aku jadi ngerti kalau hatiku memang cuma buat kamu.”
Donghyuck mengusap air matanya pelan. Ia mengucap lirih, “You don’t know how much I dreamed of those words coming from you.”
Tanpa banyak bicara, Mark dengan tergesa bangkit dan merengkuh Donghyuck dalam peluknya. Cintanya yang dulu ia temui begitu cepat dan berakhir begitu cepat, kini mengizinkan keduanya untuk bertemu kembali.
Saat mereka berpisah dari pelukan itu, Mark membelai lembut pipi Donghyuck. Mengusap pelan, merasakan hatinya berdesir saat lihat Donghyuck balas menatapnya dengan penuh harap—penuh cinta, sorot mata yang tak pernah Mark lupakan bentuknya.
Bibir mereka pun bertemu pelan. Lembut dan kenyal bibir Donghyuck masih sama, selalu ia rindukan. Mark mencumbunya seolah lega karena telah kembali menemukan pulang. Donghyuck mencengkeram bahunya erat, mengikuti irama cumbuan Mark pelan.
“Stay in my room,” bisik Mark saat mereka melepas ciuman. “Aku pegang kunci kamarku. I’m pretty sure our kids had already locked you out of yours.”
Donghyuck menatap khawatir. “T-tapi pacar kamu—”
“Not officially my girlfriend,” ucap Mark singkat. “Aku bener-bener gak bisa jalin hubungan setelah cerai sama kamu, tahu gak?”
Tatap Mark menggelap saat lihat Donghyuck yang memalingkan wajah dengan malu, menyembunyikan wajahnya di pelukan Mark. Mark mencium keningnya pelan—sebelum perlahan membawanya keluar dari area restoran.
Pintu kamar belum benar-benar tertutup saat bibir Mark sudah kembali menemui Donghyuck di kamarnya—ciuman dalam yang dipenuhi tahun kerinduan dan akhirnya menemukan jalan pulang.
“Mmh… Mark,” lirih Donghyuck, membiarkan Mark menjelajahi telinga hingga lehernya—a long-awaited dance they never forgot.
Hingga kemeja Mark mulai tanggal perlahan, disusul oleh blus Donghyuck.
“I missed you,” lirih Mark.
“And me, to you,” balas Donghyuck,
Hingga malam itu tersisa mereka berdua seutuhnya, tenggelam dalam hangat dan napas yang seirama, dan cinta yang kembali hadir.
V. Mission Success
Pagi itu, restoran hotel sudah ramai dengan pengunjung. Mark felt like he had never been so refreshed in his whole life. A cup of coffee in hand, pancakes, warm shower, and his Donghyuck is right beside him.
Donghyuck makan dengan tenang, walau pincang yang sedikit terlihat sangat isyaratkan malam yang panjang. Mark menatapnya, tersenyum bangga.
“Markie!” suara itu menusuk; berdiri tepat di depan meja mereka. Donghyuck melirik Mark—she’s all yours to handle.
“Hai Papa, Papi!” Sebelum Mark sempat bicara, Sean dan Kenan berjalan santai ke arah mereka, menarik kursi dan duduk di antara Mark dan Donghyuck.
Mandy menatap mereka semua dengan shock. “There are two of you heathens?!”
Mark menghela napas tertahan. “Sean, Kenan, kalian ngapain…”
“Tiba-tiba mereka bilang aku gak ada akses ke kamar kita! Dan mereka gangguin aku semalaman, I thought there’s only one of them, turns out you’re both messing with me!” ia memekik tak terima.
Donghyuck melirik pada Sean dan Kenan yang hanya terkekeh, tak ada dosa yang tampak di wajahnya.
“Dasar jahat! Brengsek!” Mandy memutar badannya, melangkah pergi.
Mark akhirnya bangkit—hendak mengejar Mandy. Ia menoleh pada Donghyuck. “Tunggu di kamar, ya.”
Donghyuck hanya membuang muka—tak menyukai Mark yang justru tidak membiarkannya pergi.
—
“Kenan, kita pulang ke Seoul sekarang.” Donghyuck mengucap dengan gemetar, membereskan baju mereka di kamar hotel. “Beresin barang-barangnya, ya.”
“Papi,” Sean mencoba menahan. “Jangan, Pi.”
Kenan berdiri ragu di antara mereka.
“Nggak bisa, sayang. Kenan sama Papi nggak seharusnya disini.” Donghyuck tersenyum lembut pada Kenan. “Nanti kita ketemu lagi, ya?”
“Siapa yang bilang kamu gak seharusnya disini?” Mark berdiri di ambang pintu dengan napas yang memburu. “Aku bilang tunggu aku di kamar, bukan buat pergi, Hyuck.”
Mark menatapnya, air matanya menggenang. “Kamu malah samperin dia.”
“To end things properly, Donghyuck. Even if she and I aren’t official, the least I can do is give her closure.”
Saat Donghyuck tidak membalas, Mark melangkah maju. Sean dan Kenan berjalan pelan keluar kamar, menuju kamar Mark dan Kenan.
“Aku nggak mau bikin kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, Hyuck. Losing you to our own impulsive actions. I’m really scared of losing you again—I would regret it my whole life.” ia berlutut di depan Donghyuck, meraih tangannya.
“Aku mau sama kamu. Kali ini, selamanya. I’m here to stay with you, Hyuck.” Mark mencium punggung tangan Donghyuck perlahan. “Please, let me have the honor to be yours again.”
Donghyuck akhirnya mengangguk, terisak pelan. “Jangan lepasin aku lagi.”
Mark membawanya dalam rengkuhan. Mengusap punggungnya lembut. “Never.”
Saat Mark dan Donghyuck rasakan tambahan dua badan yang menyelimuti mereka dalam pelukan—senyum mereka merekah. Kali ini, Mark dan Donghyuck kembali kukuh—dengan dua buah hati tercinta, keempatnya akhirnya menemukan utuh.
—
Beberapa bulan kemudian, tanpa sorotan media atau ramai yang berlebihan, Mark dan Donghyuck Lee kembali berdampingan—bukan sebagai dua orang yang pernah gagal, namun berani memulai kembali. Mengucap janji yang lebih kuat dari sebelumnya, disegel dengan cincin berlian indah di kedua jari manis mereka—disaksikan orang-orang terdekat mereka yang menatap penuh syukur, tak terkecuali Sean dan Kenan yang tersenyum penuh haru.
Bahwa bagi semua orang di sekitarnya, Mark adalah tempat Haechan pulang, dan sebaliknya.
Sean dan Kenan melirik satu sama lain—melakukan high five di balik punggung mereka.
Mission success.
