Work Text:
“Jadi, lu belum jadian?” tanya Copper di sore hari itu.
“Belum. Tapi emang baik gue atau Natta gak ada yang buru-buru juga. We enjoy the time. Belum ngerasa siap juga sih.”
“Belum jadian kok udah ciuman,” Peem menyeletuk.
“HAH?” Copper membelalak.
“Bangsat Peem,” gue menyemburkan asap rokok ke wajah Peem, ia tertawa.
“Lagi trend ya kayaknya hubungan jalan berbulan-bulan, udah ciuman berkali-kali, tapi tanpa status.”
“Lah, yang punya hubungan gue, tapi kenapa lu yang ngurus deh? Mau gabung juga?”
“EH SANTAI. Udah guys, udahh. Peem, kebiasaan ah congornya,” Copper melerai.
Peem yang ditegur cuma terkekeh sambil menghembuskan asap rokoknya. “Lah, gue mah santai. Kan tanya aja. Temen lu tuh yang kepanasan. Lagi ada apasih hubungan sama tanpa statusnya itu?”
Gue mendecak, dan dengan satu gerakkan mengambil kotak rokok di atas meja, memasukkannya ke saku. “Gak semua hal harus lu tau sih Peem. Tapi makasih udah perhatian. Gue duluan.” Gue langkahkan kaki menjauh dari parkiran cafe, meninggalkan Peem yang masih menghisap batang tembakaunya dengan Copper yang menatap kebingungan.
Peem gak salah kok, dia bener. Gue yang salah.
Gue sama Natta udah 5 bulan ini deketnya, dan ya tanpa status. Kalau dibilang alasan kita gak mau buru-buru, itu bener tapi juga salah.
Gue emang gak mau buru-buru, tapi kalau gue bisa punya Natta seutuhnya lebih cepat, apapun gue usahain. Sayangnya, satu hal yang bikin gue gak bisa buat usaha lebih adalah Natta nya sendiri.
Natta bilang dia gak mau buru-buru, Natta mau mulai dari awal—bangun kedekatan, tumbuhin rasa cinta, cari attachment antar masing-masing diri kita. Gue gak ada masalah buat itu dan bisa gue terima. Satu-satunya masalah adalah diri Natta yang tertutup.
Gue cuma tau dia dari Jakarta dan ngekost di Bandung karena kuliah. Dia anak design grafis, dia suka cookies, suka kopi tapi punya maag. Dia gak bisa makan pedes, dan gak bisa makan telat. Dia suka kucing, suka lagu Jepang, suka baca buku, dan dia suka thrifting baju.
Oh, gue juga cuma dikasih tau kalau dia bukan orang yang buru-buru dalam membentuk hubungan romansa. Dia baru putus sama mantan terakhirnya satu tahun lalu dan dia sekarang (semenjak deket sama gue) mulai membiasakan diri buat buka ruang dirinya untuk orang lain.
Udah, itu aja yang gue tau dari Natta. Gue udah usaha mancing apapun, termasuk cerita gimana latar belakang gue, gimana cerita hidup gue baik diri gue sendiri atau cerita romansa, tapi tetep aja. Natta ya Natta, dia gak merasa harus ngasih gue tau berapa banyak hal dalam dirinya.
Dia cuma biarin gue nebak-nebak, tapi jangan terlalu kelihatan. Dia gak suka. Kalau udah waktunya, dia yang cerita.
Sebenernya, pribadi Natta yang tertutup dan cenderung menghindar tuh suatu hal yang susah. Gue gak bisa, dan ada di suatu waktu gue ngerasa seakan sendiri dalam hubungan yang gak ada status ini. Seakan yang bertahan cuma gue, Natta punya dunianya sendiri.
Tapi lagi dan lagi, gue selalu balik ke Natta. Gue akhirnya approach Natta duluan karena gak mau kehilangan Natta.
Gue selalu merasa suatu hari nanti punya hubungan yang ada statusnya sama Natta. Bahkan gue juga merasa suatu hari nanti, bisa mengekspresikan cinta sama Natta yang lebih luas di ruang terbuka. Suatu hari yang gue gak tau itu di hari apa.
Dan soal ada apa hubungan gue sama Natta sekarang, bener kata Peem. Kita memang lagi ada apa-apa nya.
Kita berantem dan Natta hilang.
Gak tau apa bisa dibilang berantem atau enggak, tapi semua bermula karena keresahan hati gue. Gue bilang ke Natta kalau gue ngerasa di sini cuma gue yang jalan dan berusaha bertahan, sedangkan dia makin hari semakin menutup dan menghindar. Gue ngerasa sendirian. Dan balasan dari Natta selanjutnya adalah, dia marah.
Dia bilang gue terburu-buru, gue gak sesuai sama omongan di awal yang bisa ngikutin dia, dan dia bilang kalau gue cuma mau ngejar status tanpa cinta yang tulus.
Dikata gak tulus siapa sih yang terima? Gue bisa lho, bahkan gue udah lakuin apapun buat Natta, tapi kenapa dipandang bahkan dibilang enggak tulus disaat gue minta keterbukaan dirinya buat gue?
Dan pesan terakhir dari Natta, dia bilang kalau dia butuh waktu sendiri. Gue dilarang ketemu dia selama seminggu, termasuk kontak di media sosial juga.
Ingin rasanya gue bantah segala permintaannya itu. Kaya, mana bisa gue tanpa dia? Tapi ini benar-benar keputusan final; kasih jarak atau sampai sini aja. Demi apapun, gue gak tau harus gimana menanggapi permintaan Natta selain akhirnya iya, gakpapa. Yang penting gue masih bisa sama dia, apapun caranya.
Dan sekarang udah seminggu, lebih 5 hari. Udah saatnya buat gue cari Natta dan balikkin hubungan (yang gak ada statusnya) kaya semula.
Sebelum tancap gas dari cafe, gue coba kontak Natta lebih dulu.
Nihil. Dia masih blokir semua media sosial gue.
Karena media sosial gak bisa diandalkan, gue langsung ke kostnya.
Pun ketika sampai di kostnya, gue masih harus dibuat terkejut dengan informasi Natta udah pindah kost sejak seminggu lalu. Gak ada yang tau dia ke mana, semua terjadi cepet banget.
Kata salah satu penghuni kost yang gue temui, sebelum Natta pindah, keluarganya datang berkunjung. Raut wajah ayahnya nampak tegang, sedangkan ibunya kecewa. Setelahnya tidak ada yang tau bagaimana lagi karena mereka langsung masuk ke kamar Natta sampai malam. Dan 3 hari kemudian Natta sudah mengemasi barangnya dan pindah dari kost tersebut, dibawa oleh keluarganya.
Gue gak tau ini mimpi atau gimana tapi gue gak percaya. Gak akan percaya.
Semua terdengar prank, candaan belaka buat gue. Kaya seakan, omongan asbun aja. Maksud gue, gak mungkin kan Natta tiba-tiba keluar dari kostnya?
Tapi seberapa keras gue menentang, tetep aja. Gue tetep mendengar berita Natta keluar dari kostnya, entah kemana.
Hari itu, gue menghabiskan hari dengan keliling Bandung. Gue datangi semua tempat yang Natta bilang adalah tempat favoritnya. Gue kunjungi tempat yang pernah kita datangi. Dan semua sama, nihil.
Tidak ada Natta.
Gue masih berpikir positif, gue rasa Natta mungkin memang pindah kost dan sekarang dia di kampus. Sehingga gue memutuskan untuk mendatangi kampusnya esok.
Namun sayang, ketika hari esok tiba, semua sama. Tetap nihil.
Gue menunggu di kampus Natta, di daerah fakultasnya. Dari pagi sampai malam, gue gak ada liat Natta. Dan begitu juga sampai tiga minggu seterusnya.
Gue masih di tempat yang sama, duduk menunggu di gazebo fakultas Natta. Dan tetap nihil. Gue gak pernah melihat Natta, dan Natta gak pernah datang buat ketemu gue lagi.
Dan di bulan Januari, Natta hilang begitu aja. Jejaknya lenyap, seakan ada campur tangan bumi yang menyembunyikannya. Walau, ketika gue tanya, bumi menjawab tidak tau dan tidak mau mengaku soal hilangnya Natta.
Bagi gue, waktu tuh paling jahat sama manusia dikala mereka berduka.
Waktu gak paham soal kehilangan, gak paham juga soal rasa duka. Dia tetep bergerak, bahkan lebih cepat dari biasanya bagi mereka yang berduka. Jam berganti hari, hari berganti bulan, dan bulan berganti tahun.
7 tahun yang lalu—di usia muda yang masih bergelut dengan kebebasan jati diri dan kerasnya ekonomi hidup—gue masih menggandeng tangan lembut seorang cowok yang paling cantik yang gue temui bernama Nattakit. Dalam tautan tangan itu, ada cinta yang bertaut juga. Semakin erat tautannya, cintanya juga semakin besar, mulai mengisi ruang sempit yang ada karena ketidakmampuan mengekspresikan cinta itu di ruang umum.
Saking sempitnya, cinta itu akhirnya mencekik kita berdua, membuat sakit dan sesak dengan oksigen yang semakin menipis. Hingga akhirnya salah satu—atau mungkin keduanya—tidak bisa bernafas lagi dan lebih memilih keluar dari ruang sempit cinta itu.
Cintanya berakhir, tanpa sempat menaut lebih erat dalam hubungan yang resmi.
Gue selalu bersumpah bahwa cinta itu selalu diusahakan, tetapi mau bagaimana lagi? Cintanya hanya bagian dari minoritas yang ditentang oleh norma dunia dan diatur oleh mayoritas. Tidak ada masa depan yang bisa dipandang dengan mempertahankan cinta ini. Dan mungkin, Natta memilih untuk mundur lebih dulu, ia terlalu lelah.
Dan tidak mungkin kan, usaha pertahanan cintanya hanya berjalan jika diusahakan oleh satu orang? Gue juga punya batas dan akhirnya sama-sama mundur. Biar cintanya terlepas dan lenyap, disembunyikan oleh bumi.
Sama seperti Natta, masih hilang dan lenyap, tanpa gue tau lagi gimana dan di mana dia sekarang.
Tiga bulan pertama, gue gak pernah terima fakta kalau Natta emang hilang. Gue masih cari dia di seluruh penjuru Bandung, termasuk di kampusnya. Bahkan, ada di suatu waktu gue nekat mau masuk ke setiap kelas di gedung fakultasnya, walau harus berurusan dengan keamanan kampus akhirnya.
Memasukki tahun pertama, gue masih ngerasa kaya mimpi buruk, tapi berwujud nyata. Gue masih mempertahankan energi buat cari Natta di tempat-tempat selain kampus atau tempat yang pernah kita kunjungi, bahkan di luar Bandung.
Tahun kedua, gue mulai kurangi intensitas nyari Natta. Gue merasa bahwa Natta emang udah gak di Bandung lagi. Gue udah ditahap hafal seluruh pelosok Bandung tapi tetep aja, gak ada Natta. Walau begitu, gue masih memanggil nama Natta ketika gue bersujud pada Tuhan hingga ketika gue tertidur. Nama Natta bagi gue udah kaya doa—wirid yang harus selalu dibaca dan disebut. Gue masih berharap Natta bakal balik.
Tahun ketiga, Peem sama Copper yang mulai capek. Mereka selalu bilang gue kasihan, tetapi nyatanya gue gak merasa kasihan sama gue sendiri. Gue lebih kasihan sama Natta karena gue sekarang gak tau dia gimana dan di mana. Gue gak tau apa dia hidupnya lebih baik? Apa dia udah jatuh hati sama orang lain? Apa dia selalu lekat dengan kata baik-baik saja?
Tahun keempat, Peem masukkin gue ke rumah sakit jiwa. Katanya gue udah kronis, dan setelah proses dibawa ke psikolog, dan lanjut dirujuk ke psikiater; keputusan terakhirnya bulat kalau memang gue lebih baik di rumah sakit jiwa. Kata Peem, kalo di sana, gue bakal ada yang handle. Gue bakal dipantau seenggaknya buat makan minum, juga dibantu buat ngerawat diri. Kata Peem juga sih, gue udah menyedihkan—badan kurus, kantung mata gelap dan bengkak, wajah selalu sembab layaknya orang habis menangis.
Awalnya gue menolak, tapi setelah proses debat dan ribut, bahkan Copper juga ikut serta dalam keributannya—akhirnya gue mengalah. Energi gue terlalu lemah buat menghadapi ribut sama dua orang. Gue masuk rumah sakit jiwa dan dirawat selama 7 bulan. Tapi Peem sama Copper tetep jenguk, kok! Dan gue sadar, mereka sayang sama gue—dan ini cara mereka nunjukkin rasa sayangnya karena mereka tau kalau mereka gak bisa ngejagain gue 24/7. Dan di tengah kondisi gue, emang baiknya ada ahli yang ikut serta.
Memasukki tahun kelima—setelah gue keluar dari rumah sakit jiwa—gue merasa membaik. Sebenernya gak bisa dibilang sangat baik, but it’s better kalau dibanding sama 4 tahun sebelumnya. Gue juga masih kerja di cafe sama Peem, sedangkan Copper dia resign. Copper dapat prospek kerja yang lebih baik, dan kami seneng dengernya. Dan dengan melihat Copper resign, terbesit pikiran ingin ikut juga. Gue mau meningkatkan level kerja gue—secara tugas kerja dan gaji.
Gue mulai sadar kalau usia gue udah bukan usia awal dewasa, awal kepala 2. Usia gue udah kepala 3 sekarang. Gue gak bisa bertahan dengan hidup secukupnya karena gaji di bawah UMR dan tugas kerja yang gini-gini sebagai pelayan cafe. Catat! Di sini bukan gue merendahkan tugas jadi barista atau kasir cafe, tapi gue udah berkaca sama usia. Gue mau belajar hal baru, menghadapi tantangan baru, dan dapat gaji yang lebih baik. Gue gak mau menghabiskan masa tua gue dengan kehidupan yang gini. Gue mau hal lebih.
Gue bukan dari kalangan borjuis, gue menengah hampir ke bawah. Kalau dibanding sama Peem pun, masih beda. Dia beruntung cafe yang sekarang jadi tempat kerja kita berdua adalah cafe milik orang tuanya. Dia bisa kerja di situ sambil ngelanjutin usaha cafe nya. Sedangkan gue, yang hidup sendiri, gue harus punya karir yang lebih dari karir gue sekarang.
Maka dari itu, di akhir tahun ke lima gue memutuskan untuk mencari kerja. Untungnya, Tuhan berbaik di waktu itu pada gue karena gue dapat. Gue bekerja sebagai admin suatu kantor. Walau gajinya pas UMR tapi ini cukup dibanding yang kemarin. Dan dengan ini gue pun mengikuti jejak Copper untuk resign dari cafe dan pindah ke karir yang lebih baik.
Tahun keenam, hingatan akan Natta pelan-pelan memudar. Bukan memudar yang hilang, tapi memang memudar karena gue gak berusaha untuk memanggil. Gue menyibukkan diri. Gue bekerja, gue coba cari kegiatan kaya ikut volunteer atau datang ke klub masyarakat yang random diadakan di tempat publik kaya klub membaca, klub bahasa. Selain itu, gue juga mendaftar kuliah untuk kelas karyawan.
Kaya yang gue bilang, gue mau meningkatkan diri. Makanya semua gue upgrade, termasuk pendidikkan. Dan akhirnya pendidikkan gue gak ditulis “Tingkat SMA” tapi akan ditulis “Sarjana” setelah ini.
Di akhir tahun keenam, gue mulai buka hati.
Memang gak ada niat buat move on dari diri gue sejak awal. Nama Natta masih duduk diam dalam relung hati, gak minat juga gue usir. Gue selalu membiarkan bayangannya hadir dan menetap bersama dengan memorinya. Namun, kenangan akan Natta saat ini udah bukan suatu hal yang mengikat dan menahan.
Perlahan gue mulai berdamai, kenangan tersebut juga mulai melepas ikatannya. Pelan-pelan bukan menjadi suatu hal yang menahan diri, melainkan menjadi pengingat dan pembelajaran. Sebagai trigger untuk menumbuhkan niat move on itu sendiri dan kembali membuka hati.
Jinwook namanya. Dia masih anak cafe tempat gue kerja dulu, cafenya Peem itu. Sebenernya gue udah kenal dari 3 tahun lalu, di kondisi gue masih mengais keberadaan Natta. Dan waktu itu dia juga masih trainee barista, sama Copper.
Waktu gue masuk rumah sakit jiwa, dia akhirnya yang gantiin pekerjaan gue di bagian kasir.
Gak ada pernah terlintas di pikiran gue soal Jinwook. Dari awal kita sosialisasinya cuma sekedar ngobrol temen kerja. Dia anak baru, gue gak begitu deket, dan abis itu gue dispensasi kerja buat pengobatan.
Tapi siapa sangka, justru di masa dispensasi kerja, ternyata jadi masa yang bikin gue sama Jinwook deket.
Peem dan Copper gak bisa terus 24/7 jenguk gue, ada di beberapa waktu mereka gak bisa. Dan di waktu itu lah mereka nyuruh Jinwook. Awalnya sekedar beliin makanan atau bawain barang. Tapi lama-lama kita jadi deket.
Awal-awal emang gak ada intensi buat deket, tapi seiringnya dia sering jenguk gue, akhirnya mulai ada obrolan. Dari sekedar nanyain kondisi gimana, sampai bisa deeptalk masing-masing. Dan dari situ gue bisa ngeliat kalau Jinwook bukan hanya peduli, dibalik pribadinya yang diem dan seakan gak mau ikut campur urusan orang, Jinwook adalah orang yang terbuka dan luwes.
Selain sikap dan pola pikir, mungkin karena ternyata gue dan Jinwook berada di usia yang sama. Sehingga, pada akhirnya gue merasa cocok sama dia.
Awal tahun ketujuh, gue mulai mengajak Jinwook menjalin hubungan resmi. Kita berpacaran. Dan di sinilah, kisah baru gue dimulai.
Semua berjalan lancar. Kerjaan gue lancar, kuliah lancar, dan hubungan sama Jinwook juga lancar.
Yang gue suka, gue bisa lebih bebas sama Jinwook. Jinwook sama clingynya dan sama cueknya sama orang. Kita bisa bebas gandengan tangan, bahkan nempel-nempel tiap jalan. Ada satu dua kali disorakkin (in a bad way) tapi IDGAF. Mereka gak ngatur hidup kita anyway, kan kita sendiri yang ngatur.
Hari itu hari Minggu, gue libur dan Jinwook dapet jatah cuti. Jadi lah seharian itu kita jalan.
Dimulai dari paginya kita ke daerah Gatot Subroto karena Jinwook mau cari baju thrift, lalu siangnya makan di BIP, dan sorenya gue anter Jinwook ibadah ke gereja.
Gue nunggu di warung kopi seberang gereja, pesen kopi sambil menyalakan batang tembakau. Buat gue, nunggu pasangan ibadah gini bukan hal yang baru. Dulu sama Natta juga pernah. Dan biasanya gue menghabiskan waktu tunggu dengan ngobrol sama satpam atau sama penjual makanan atau minuman di sekitar gereja itu.
Satu jam berlalu, tinggal setengah jam lagi waktu ibadah Jinwook (estimasi). Karena mulai bosan, gue beranjak dari warung tersebut, hendak membeli pangsit ayam di belakang gereja.
Ketika selesai memesan dan hendak duduk, tiba-tiba ada anak kecil menghampiri. Awalnya gue kira dirinya hendak mengemis, tetapi anak kecil itu menggelengkan kepalanya ketika gue memberi uang. Dan malah memberikan amplop.
“Enggak a’, aku cuma mau ngasih ini.”
Gue menerima amplop itu dengan wajah bingung. “Ini apa ya dek? Dari mana ya?”
“Dari gereja kak. Tapi kata pengirimnya, aku gak boleh ngasih tau. Aa’ nya suruh baca sendiri.”
Gue masih bingung, kenapa gue tiba-tiba dikasih surat dari gereja? Apa ketahuan kah sama pihak gereja kalau gue dan Jinwook adalah pasangan gay yang sering ngapel di belakang gereja sambil makan pangsit ayam? Apa ada masalah soal Jinwook kah? Gue gak berpikir soal agama karena ya, gak mungkin kan? Gue gak beribadah di gereja, dan kayaknya dari wajah gue juga keliatan (harusnya).
Ketika hendak membuka, tiba-tiba Jinwook menghampiri. Ia sudah selesai ibadah.
“Hai.”
“Hai, kamu laper gak?”
“Laper sih… Jujur, steak di BIP tadi kaya porsinya kurang.”
“Yaudah makan sekalian aja di sini, abis itu kita pulang yaa.”
“Oke, aku pesen dulu. Eh, kamu nanti jadi nginep ke kost aku gak?”
Gue menghentikan gerakkan menyuap, oh iya, nginep di tempat Jinwook.
Hari itu gue memang berniat nginep di kost Jinwook sehingga besok paginya bisa anterin Jinwook kerja. Tapi, surat dari gereja tadi membuat gue berubah pikiran. Gue pengen tau apa isinya, tapi gak mau bikin Jinwook khawatir juga.
“Sayangg, jadi gak?” Jinwook bertanya lagi, memastikan.
“Eh? Eh iyaa. Sayang, maaf kayaknya enggak jadi deh. Aku baru inget kalau ada data yang belum aku submit ke SPV, dan deadlinenya malam ini. Aku janji, Senin deh aku nginep di tempat kamu yaa. Gimana?”
“Ohh, yaudah gakpapaa ay. Kalo gitu Senin aja yaa, nanti langsung ke kost ku aja kalo misal kamu udah balik duluan. Kayaknya Senin tuh jadwalku closingan deh. Kamu bawa kunci cadangan kamarkuu, jangan lupaa.”
Yang terkasih, Thai Chayanon.
Ada rasa keraguan ketika melihat tulisan tangan yang berada pada bagian atas amplopnya. Tulisan yang gak asing, gue kenal tulisan ini.
Tapi, gak mungkin kan?
Untuk Thai Chayanon, yang selalu mengajarkan keberanian.
Dari Nex Nattakit, si pengecut yang tidak pernah berani untuk melawan takdirnya.
DEG. Jantung gue luruh ke kaki seketika. Tulisan di kertas ini.. Ini beneran tulisan Natta…
Gue reflek bersandar pada dinding kamar, terlalu lemas untuk berdiri lagi. Setelah 7 tahun berlalu, dirinya hadir dalam bentuk surat? Natta, di mana sih kamu sebenernya?
Bandung, 2025.
Aku gak tau mau cerita dari mana… Tapi kalau semisal surat ini akhirnya sampai di tangan kakak, aku cuma mau bilang kalau aku masih nafas. Hidup dengan sehat dan aku baik-baik aja.
Bingung rasanya mau menceritakan bagaimana, nulis apa, tapi aku emang utang ke kakak buat penjelasan soal ini. Utang besar.
Oke, dimulai dari aku dulu kali ya. Kita kenalan ulang? Namaku Nex Nattakit, usia 24 tahun (sekarang). Tapi kalau sampai di kakak bertahun-tahun ke depan, ya boleh hitung aja berapa usiaku berarti di tahun itu? Hehe. Aku anak terakhir dari 3 bersaudara.
Kalau dibanding sama kehidupan kakak, kayaknya aku emang harus lebih banyak bersyukur. Masa kecilku terpenuhi, sangat cukup. Mungkin, ada lebihnya sedikit? Gak cuma harta, tapi kasih sayang juga. Papa, mama, abang, kakak semua sayang aku. Dari aku lahir sampai aku 24 tahun sekarang ini. Semua masih lengkap dan semuanya sayang aku. Terus ditambah ada kakak, semakin lengkap lagi. Hehe, semua jadi sayang aku.
Mungkin lebih tepatnya tuh untuk keluargaku, mereka terlalu sayang sama aku ya. Karena nyatanya semakin aku tumbuh, rasa sayang itu berubah jadi sikap protektif dan harapan. Disclaimer, aku enggak mencibir sikap itu, aku emang harusnya bersyukur punya keluarga yang atentif ke aku—mungkin emang faktor anak bungsu ya. Tapi, keluargaku salah mengaplikasikan sikap protektif dan harapan itu ke aku. Semuanya menjadi berlebih sampai terasa mengikat buat aku.
Mengikat fisik dan batin, sampai lingkungan sekitar—agama, pendidikan, dan sosial.
Aku tumbuh dalam keluarga yang agamis. Papa pendeta, dan mama seorang guru di sekolah Katolik. Jadi dari kecil emang udah terbiasa dicekokin sama hal agama. Apalagi kalau papa tuh, beliau tegas banget. Gak ada kata enggak buat perintah ibadah.
Sekali nakal aja coba (kalo soal ibadah), kadang taruhannya bukan dibentak atau apa, tapi beneran bisa dipukul atau dicubit sama papa. Beneran se-tegas itu. Walau, kadang aku masih cabut ibadah gereja sih, yang kalau ketauan, hehe… Abis itu aku dipukul papa.
Pindah soal pendidikkan dan karir, ini juga termasuk yang diatur dan dibumbui harapan sama keluargaku. Abang dan kakakku udah hidup mapan istilahnya. Mereka punya jalannya sendiri yang selalu dibanggakan sama papa mamaku. Dan sebagai anak bungsu—harapan terakhir keluarga—mereka selalu berharap kalau aku juga bisa nyusul jejak abang dan kakakku; ahli dalam bidang kesehatan atau mengelola keuangan.
Dan sayangnya, aku beda dari mereka semua. Bukan beda dari mimpi dan tujuan hidupnya, tapi beda juga pandangan norma nya.
Dibanding mengikuti, aku cenderung menentang. Kaya, keluarga strict tuh bukan penghalang buat hidup, bagi aku.
Semasa sekolah, bukannya masuk sekolah Katolik di bawah naungan yayasan gereja, sewaktu SMP dan SMA aku memilih sekolah negeri.
Setelah lulus SMA, gak ada di pikiranku buat masuk kedokteran kaya kakak, atau manajemen kaya abang. Aku nekat daftar jalur undangan di jurusan design grafis. Dan ya, keterima. Aku puas.
Waktu denger kabar aku keterima undangan kuliah di luar kota (yang padahal udah diwanti-wanti buat di Jakarta aja) dengan jurusan yang semuanya aku mau—gak ada yang keinginan keluargaku—papa marah banget.
Katanya buat apa? Lucu sih emang hehe. Terus papa juga ngancem kalau gak mau bayarin kehidupanku buat ngekost dan kuliah, papa larang semua keluargaku buat bantu.
Untungnya lagi-lagi kasih Tuhan masih di sisi ku. Aku dapat beasiswa penuh sampai lulus, dan akhirnya papa melunak. Beliau mau bayarin kebutuhanku selama kuliah, walau dengan syarat aku harus lulus maksimal 4,5 tahun.
Aku dulu se-berani kamu, kak. Aku se-nekat itu. Gak cuma soal agama atau pendidikkan, tapi soal sosial juga.
Aku bilang kan kalau aku berbeda dengan keluarga ku? Terutama dalam pandangan norma?
Kata norma yang ada, cinta antar sesama jenis itu dilarang—termasuk perilaku gak bermoral. Tapi bagiku, love is love. And love wins all. Dalam normaku, aku memandang kalau semua berhak mencinta. Dan termasuk diriku sendiri, yang cintanya terhadap sesama jenisku.
Aku sadar akan hal ini waktu SMP, dan aku baru berani menjalin cintanya di waktu SMA.
2x di awalnya masih aman, gak ada yang tau. Itu juga cinta monyet. Sampai waktu aku kelas 3, aku menjalin cinta dengan temen les ku. Yang kali ini mulai serius. Dan sayangnya, malah ketahuan.
Entah siapa yang cepu, tapi intinya tiba-tiba papaku masuk kamar pas aku lagi tidur, terus beliau buka lemari ku, obrak-abrik semua sampai akhirnya beliau nemuin di mana aku sembunyiin semua foto sama pacarku.
Aku bangun tuh udah kaget tapi gak bisa apa-apa. Papa udah marah, mukanya, matanya merah. Di tangannya ada novel yang aku jadiin tempat simpen foto, dan foto photobox sama pacarku. Semuanya disobek di depan mataku. Abis itu ya, aku dihajar, hehe. Dimaki-maki juga.
Katanya aku memalukan, najis, gak punya moral. Aduh, beragam deh. Dan sejak ini pandangan keluargaku ke aku tuh rendah banget. Dan hal ini juga yang bikin aturan keluarga buat aku semakin meningkat. Ya termasuk soal harus kuliah jurusan kesehatan atau manajemen di Jakarta.
Atau kalau enggak bisa memenuhi hal itu, ya aku dimasukkin ke Seminari sama papa. Katanya aku mending jadi Romo, biar lebih takut dikit sama Tuhan, biar taat agama nya.
Makanya, waktu tau aku keterima undangan di jurusan yang gak sesuai keinginan keluarga dan kampusnya di luar Jakarta, papa marah besar. Ributnya sampai berhari-hari. Mama, abang, kakak? Yah, mereka mah ngikut papa, hehe. Beneran aku sendiri. Ya, untung sih setelah diyakinin gimana-gimana, sampai akhirnya aku dapet beasiswa, jadi pada melunak sih.
Waktu awal kuliah, semua aman. Aku aktif organisasi, lomba juga bahkan sampai menang. Aku sering ikut workshop, main sama temen-temen. Intinya aku tuh aktif di akademik dan sosial. Dan semua berjalan lancar, aman.
Mulai masuk ke hubungan asmara (lagi), sebenernya waktu kuliah aku ada beberapa kali deket sama orang. Tapi gak ada yang sampai jadian. Sampai akhirnya di semester 5, aku deket sama adek tingkat.
Awalnya temen satu kost, di kost lama ku. Lama-lama sering ngobrol karena ya satu jurusan dan ada beberapa hal yang minat kita sama, dan akhirnya deket. Dari situ kita putusin buat pdkt terus ya, jadian. Resmi.
Semester 5 tuh, semester sibuk-sibuknya. Aku magang, organisasi juga jalan, pacaran juga, main sama temen juga. Tapi semua masih aman.
Sampai di akhir semester 5, tiba-tiba papa sama mama ke Bandung, ke kost ku. Dan itu tanpa ngomong sama aku. Taunya aja pagi-pagi aku ditelfon, suruh bukain pintu kost.
Pas masuk, gak ada yang salah. Papa nanyain gimana kuliah, mama juga ya ngecek kebutuhan. Sampai waktu agak siang tuh, tiba-tiba pacarku dateng. Ngajak makan siang. Dan di sini lah, kejadian lagi.
Sebenernya karena se-kost ya, aku gak ada ngasih tau pacarku dia kalau dateng harus gimana, kapan gak boleh dateng, kapan boleh dateng. Karena ya, kan se-kost? Orang kamarnya seberangan sama kamarku, buka pintu aja udah keliatan. Masa harus ada aturan akhirnya?
Tapi di hari itu, aku lupa ngasih tau dia kalau ada papa mama ku di kost. Dan dia dateng disaat gak tepat.
Awalnya cuma ditanya dia siapa, dan kami masih bisa kompromi buat jawab temen, bisa nutupin. Terus papa juga mulai tanya-tanya kaya temen apa, dari mana, terus kuliah apa dia. Ya basic lah. Sampai setelah pertanyaan selesai, papa tiba-tiba berdiri dan buka laci meja belajarku.
Di situ aku nyimpen semua photobox sama dia, dan ketahuan.
Lagi-lagi photobox itu disobek di depan mata kita, dan tanpa aba-aba papa langsung nonjok pacarku. Dihajar dan dimaki-maki kaya beliau yang lakuin ke aku waktu pertama kali ketahuan anak bungsunya suka sesama cowok.
Katanya pacarku gak bener, dia yang bikin aku sakit, yang bikin aku makin gay. Papa juga bilang kalo kuliah di Bandung tuh, malah bikin makin liar.
Detik itu juga papa langsung maksa aku buat kemasin barang-barang dan keluar dari kost. Papa juga mulai bawa seminari seminari lagi.
Dan keributan konyol ini mengundang penghuni kost datang, dan ngeliat pacarku terkapar, ya yang ditolong pacarku duluan pasti.
Bersamaan dengan pacarku yang dibawa anak kost, aku dibawa papa sama mama masuk mobil. Aku pulang ke Jakarta hari itu juga.
Sampai rumah aku juga dihajar lagi sama papa. Mama? Mama cuma bilang kalo beliau kecewa sama aku. Abang sama kakak? Sama kaya mama. Apalagi abang kan udah nikah, pas dia tau tuh kaya langsung bilang kalo amit-amit banget anaknya nanti kaya aku.
Waktu itu aku udah hampir disuruh drop out kuliah, dan langsung masuk seminari. Tapi ya, Puji Tuhan, Tuhan masih ada di sisi aku. Papa sama mama mau ngasih kesempatan ke aku buat kuliah, lanjutin sampai selesai. Tapi ya, kesempatan terakhir.
Kata papa, sekali lagi aku ketahuan masih gay, udah. Gak ada alasan lain, mau gak mau drop out kuliah dan masuk seminari, jadi Romo.
Setelahnya aku balik ke Bandung, aku pindah kost. Ya di kost yang deket sama rumah kakak itu.
Aku kira masalahnya sampai sini, nyatanya enggak. Berita soal aku ketahuan sama pacarku tuh nyebar. Emang sih gak ada yang menanggapi homophobic, tapi mereka ngeliat aku tuh kaya aneh. Ya mungkin efek keluargaku ya. Terus jadi pada simpatinya sama pacarku—yang akhirnya kita memutuskan buat putus aja, kasian dia soalnya. Aku gak tega.
Karena hal itu, aku akhirnya jadi lebih diem. Aku batasin sosialisasi, aku gak ada mikir tujuan hidup kedepan gimana, mimpi terbesarku apa, kaya yaudah. Ngalir aja kaya air. Yang penting sekarang kuliahku harus selesai, dan aku lulus. Bisa cari kerja yang proper dan kabur dari sini.
Semester 7 kemarin aku dapet kesempatan student exchange ke Jepang selama setahun kayaknya. Sebenernya tuh, ini hal baik, sangat baik. Maksudku, hey, student exchange dan GRATIS, ke Jepang pula. Bayangin, berarti aku se-qualified apa sampai bisa lolos seleksi. Dan harusnya keluarga ku bangga kan?
Mereka bangga kok, di awal doang. Karena selanjutnya banyak mengeluh aku kuliahnya gak selesai-selesai, cuma main-main doang. Balik lagi bawa pergaulan gak bener, aku yang gay. Udah muter di situ aja.
Dan karena exchange itu sebenernya juga jadi menghambat aku dalam skripsi. Karena aku lebih ngurusin laporan exchange dan lainnya, baru setelah presentasi hasil dan beres, aku mulai skripsi.
Bisa dibilang akhirnya skripsiku sekarang telat, dan ya, aku lulusnya telat. Ini udah tahun ke-4 ku, dan aku gak yakin bisa lulus sekarang. Aku ngerasa kayaknya aku 5 tahun bakal lulusnya. Dan hal ini yang mulai dijadiin bahan ribut sama papa. Ya, soal janjiku buat lulus maksimal 4.5 tahun walau kuliah gak sesuai keinginan keluarga dan kuliahnya gak di Jakarta.
Kalau boleh jujur, aku udah gak ada semangat hidup kak. Aku maunya mati. Tapi untung, di hari aku mau mati, aku dapet info ada event semesta buku. Aku tunda keinginan mati nya dan aku berangkat. Terus ya, akhirnya ketemu kakak, walau dalam kejadian karena kesalahan teknis QRIS itu, hehe.
Tapi kak, waktu aku disuruh cari kakak sama temennya kakak, aku gak ada pikiran mau mati. Di otakku cuma ada pikiran ini skripsi beres dan aku harus ketemu sama kakak. Buat ngucapin makasih dan ya, ganti rugi.
Tapi siapa sangka kalau ternyata pas udah ketemu, malah saling jatuh hati dan jadi lebih deket. Ini tuh, hal yang paling bahagia yang pernah aku rasain—jatuh cinta, lagi.
Aku seneng diajak kakak makan warteg. Aku seneng diajak kakak keliling Bandung sambil aku peluk pinggang kakak. Aku seneng selalu dibawaiin cookies lotus sama smores kesukaanku setiap kakak pulang kerja, padahal aku biasanya juga beli. Aku seneng ke Braga, aku seneng photobox, aku seneng beli barang couple sama kakak. Aku seneng, seneng banget setiap kita ngelakuin hal-hal bareng. Aku seneng sama kakak.
Aku seneng kalo kakak panggil aku cantik. Kakak atentif ke aku, ke cerita ku. Aku seneng dengerin kakak cerita walau aku bingung harus cerita ke kakak juga dari mana.
Aku juga seneng kalo bisa pegangan sama kakak. Bisa pegang tangan kakak, bisa peluk kakak. Terlebih lagi dicium sama kakak. Aku seneng, banget.
Apalagi berandai kalau kita bisa ngelakuinnya di ruang publik, mengekspresikan cinta kita (kaya kata kakak) dengan luas tanpa peduli pandangan. Aku seneng kak, dan aku mau.
Tapi kak, waktu aku udah jatuh hati ke kakak, ada perasaan yang beda dari yang aku rasain sama mantan-mantanku. Aku mau kakak jadi punyaku dan gak pernah pergi. Aku mau kita bareng terus, mau kasmaran sama kakak terus.
Dan aku sadar, realistis sama kondisi saat ini; keluargaku dan norma pada masyarakat mayoritas di negara ini—bakal susah buat aku pertahanin kakak. Aku bisa kehilangan kakak lagi, dan aku gak mau. Aku ngerasa sayang.
Tapi aku gak tau harus apa, harus ngelawan gimana? Aku udah pernah ada di posisi seberani kakak, hasilnya apa? Sama aja, nihil. Kakak kan yang bilang sendiri kalau cinta kita tuh bagian dari minoritas. Dan harusnya kakak tau, kalau cinta kita gak bakal bisa ngelawan mayoritas. Kecuali kita pergi dari sini.
Aku masih pelajar kak buat sekarang, uang tabunganku gak cukup buat pergi. Kakak juga masih kerja dengan gaji yang di bawah UMR dan itu juga buat kehidupan kakak sendiri. Kita masih jauh dari kata cukup buat pergi, kak.
Makanya, ini alasan kenapa aku terkesan sembunyi—jadi pengecut, aku bahkan banyak menghindar dari kakak yang selalu terbuka buat aku. Ini juga alasanku berusaha nyaman di hubungan kita yang tanpa status.
Semuanya aku lakuin biar cinta kita enggak jadi lebih dalam. Biar kita bisa selalu siap buat keputusan terburuknya.
Dan sayangnya aku terlalu yakin sampai akhirnya aku bisa ceroboh. Kecerobohan yang membuat keputusan terburuknya—ketahuan dan akhirnya dipaksa pergi—datang secepat ini.
Seminggu sebelum kita ribut, aku pergi ke rumah sepupu di Dago. Semua berjalan aman sampai ternyata orang se-rumah (papa, mama, kakak) tiba-tiba dateng, sama abang dan keluarganya juga. Tapi kaya yaudah, aku jadi lebih diem aja akhirnya.
Sampai pas waktu pulang, aku bareng sama papa mama, dianterin sampai kost. Di sini keadaan mulai parah. Papah mulai bawa-bawa topik aku kuliahnya cuma main-main makanya lulusnya lama. Terus bandingin aku sama anak temennya beliau yang satu kampus sama aku tapi udah lulus, padahal teknik. Terus mama nambahin, katanya aku juga jarang ibadah makanya dipersulit Tuhan. Intinya aku jadi samsak lah, dihajar walau secara verbal.
Aku cuma jawab iya-iya aja sampai tiba-tiba papa mulai buka topik ya itu.
Tiba-tiba nuduh apa aku punya pacar lagi kah makanya sampai kaya telat lulusnya. Lagi-lagi dan lagi. Ya Tuhan. Kalo bisa aku mau loncat dari mobil sumpah saat itu juga.
Di sini aku mulai ngelawan, aku berusaha berani kaya kakak. Aku bilang kalo mereka (keluargaku) banyak ngatur aku dari kecil. Aku kaya dikekang, ditarik sana sini kaya hewan peliharaan diatur majikannya. Aku juga bilang kalo ngerasa kaya jadi kambing hitam keluarga, selalu salah. Pas lagi diem, dipancing. Pas berulah, gak dikasih kesempatan buat ngejelasin.
Terus yaudah, pecah deh. Papa maki-maki, mama udah lemes. Udah terlalu kecewa kayanya. Dan di sini aku nyadar kalau tindakanku—buat jadi sok berani dan ngebela ini—ternyata malah jadi suatu kecerobohan yang menyebabkan malapetaka di hari itu.
Sampai di kost papa langsung narik aku, maksa buat masuk ke kamarku. Mama ngikut juga. Intinya kita diliatin beberapa anak kost, walau kita emang tanpa suara tapi ya… The tension…
Sampai di kamar mulai adegan rusaknya. Semua dibongkar, tapi kali ini photobox kita aman, aku ada nyimpen di suatu tempat intinya. Kamu tau kok, soalnya barangnya selalu kamu bawa setiap pergi.
Tapi tetep, aku akhirnya ketahuan (lagi).
Papa nemuin novel yang kamu beliin, soalnya di situ ada inisial nama kamu kan, kak. Terus kamu juga nulisnya “Natta sayang”. Sama papa juga akhirnya nemuin skecthbook yang biasanya aku bawa pas kita jalan. Aku lupa kalau ternyata aku se-sering itu gambar kamu setiap kita jalan. Dan ya, keduanya gak selamat. Sama papa disobek.
Singkatnya udah, kesempatanku habis. Papa sama mama masih curiga kalau aku emang nyembunyiin photoboxnya (ya emang sih), dan mereka masih nyari. Tapi walau gitu, dengan bukti novel sama sketch, mereka percaya kalo iya, aku pacaran lagi sama cowok.
Papa gak mau ngasih kesempatan lagi, udah keputusan final.Aku disuruh DO dan beberes semua barang di kost dalam waktu seminggu ini. Seminggu kemudian baru aku dijemput balik ke Jakarta, dan persiapan masuk seminari.
Kejadiannya cepet banget kak. Dan kalau kamu ngerasa ini gak masuk akal, oh aku harap juga begitu. Aku harap apa yang aku tulis ini adalah fiksi dengan genre angst. Dan bukan suatu hal nyata. Tapi nyatanya? Tetep nyata kak.
Makanya seminggu kemudian aku sengaja mancing biar kita ribut, dan beneran ribut ternyata. Momen itu aku pakai buat bilang ke kakak untuk gak boleh ketemu aku dulu selama seminggu, dan block semua media sosial kakak.
Kalau kakak di minggu itu tetep nekat datang, kakak habis sama papa ku.
Dan aku gak mau itu.
Kak Thai, waktu aku nulis ini, aku baru ngerasain kalau keputusanku buat jadi pengecut dan sembunyi semuanya dari kakak itu salah. Maaf aku banyak menghindar, maaf aku penakut, maaf aku cuma bisa sembunyi. Aku harusnnya bisa lebih terbuka sama kakak, bisa kasih tau semua hal ini ke kakak. Aku harusnya bisa komunikasi lagi. Aku nyesel, nyesel banget.
Aku gak mau ngebela diriku sendiri kak, ini semua salahku, aku minta maaf.
Maaf juga abis ini (mungkin) bikin kehidupan kakak lebih susah dengan nyoba cari aku, nyoba tanya orang-orang soal aku. Aku minta maaf. Aku malah berharap kakak gak ada ngerasa susah kehidupannya abis aku pergi ini (semoga).
Kakak, aku gak pernah ragu sama cinta kita. Aku cinta, aku sayang sama kakak. Tapi maaf, aku terlalu pengecut buat ngelawan apa yang harusnya bisa aku lawan, atau aku perjuangkan. Aku terlalu berpatok pada takdir. Dan menganggap semua ini adalah takdir.
Kakak, aku nulis surat ini sebelum berangkat ke seminari. Aku gak tau sekarang kakak di mana, apa masih di Bandung atau ada di tempat lain. Jadi, surat ini aku bawa dulu ya, kak. Dan akan aku sampaikan ketika suatu hari nanti aku ketemu kakak lagi. Entah secara langsung, atau pakai perantara.
Aku gak tau kedepannya (buat kita berdua) bakal gimana. Yang jelas, aku akan jadi Romo, dan kakak akan jalanin hidup kakak. Aku mau menyampaikan maaf, maaf bikin gak adil buat kakak. Kakak boleh marah, boleh benci aku juga kok. Tapi tolong, jangan sakitin diri kakak ya? Jangan salahin kakak. Yang salah aku.
Kakak harus sehat, harus bahagia, harus bisa buka hati juga buat orang baru yang lebih berani dari aku, atau sama beraninya kaya kakak. You deserve someone better than me.
Kalau suatu hari nanti kita akhirnya ketemu, aku izin buat muncul di hadapan kakak lagi ya? Tenang, tanpa perasaan kok. Aku cuma mau menyampaikan surat ini, atau mungkin nanti akan ada yang menyampaikannya. Tolong dibaca semua ya kak? Ini yang bisa aku sampaikan buat kakak.
Suratnya gak perlu dibalas, tau kakak udah baca aja aku senang. Mungkin kalau memang kesempatannya, siapa tau kita bisa ketemu lagi.
Kak Thai, makasih ya udah ngajarin aku banyak hal soal hidup, terutama keberanian. Maaf aku masih pengecut, semoga di masa depan aku bisa lebih berani, akhirnya.
Kakak selalu bilang kalau Bandung ternyata memang kota yang istimewa karena Tuhan menciptakannya pas tersenyum. Dan aku mau, walau tanpa aku, kakak masih bisa tersenyum juga ya di Kota Bandung yang istimewa ini.
Kata orang, semua hal baik selalu disarankan di Bandung. Masuk akal jadinya kalau kakak yang ternyata disarankan semesta buat aku selama aku di Bandung karena kakak lah hal baik itu. Terima kasih ya, kak? Buat waktunya, kesempatannya, dan semuanya.
Aku sayang kak, selalu sayang. Jaga kesehatan ya?
Natta.
P.s. Photoboxnya ada di barang yang selalu kakak bawa. Yang aku beliin, kembar sama aku. Semoga masih ada yaa.
P.s.s. Sketch gambar yang disobek papa ternyata bisa aku benerin, hehe. Maaf ya walau jadinya tempel selotip sana sini? Buat sketchnya jangan lupa dicek lagi ya di dalam amplopnya.
Gue langsung melemparkan surat itu dan membongkar lemari. Mencari kardus di mana berisi barang-barang dari Natta.
Dibeliin Natta, kembaran sama Natta dan selalu gue bawa? Di pikiran gue cuma satu barang.
“NAH! Untung masih ada anjiirrr.” Sebuah waist bag warna hitam.
Gue masih inget kalo Natta beliin waist bag itu karena waist bag gue yang lama bagian resletingnya rusak. Jadilah dia beli dari shopee, lengkap dengan pin-pin lucu nya. Katanya biar kembaran sama punya dia.
Gue ambil waist bag itu dari kardus, asli udah berdebu. Dan kalo boleh jujur, gue bahkan gak berharap kalau hasil photobox selama ini gue sama Natta ada di tas itu karena gue aja gak tau apa bener ada kah atau apa Natta cuma bercanda? Kalau beneran ada, kapan Natta nyimpen di waist bag gu—.
Gue meraih beberapa tumpuk kertas tipis dalam waist bag itu, dan bener aja.
Beberapa pasang hasil photobox gue sama Natta, 7 tahun lalu.
Mulai dari pose paling kaku kita karena baru pertama kali photobox, lalu beberapa pose yang lebih baik karena udah terbiasa, sampai photobox terakhir yang posenya lebih berani—berciuman, tepat di bibir.
Lalu gue juga mengecek amplop, dan benar aja. Ada lipatan kecil kertas dengan warna yang hampir menguning, sama kaya warna amplop dan kertas yang dipakai Natta buat nulis suratnya.
Waktu gue buka, Demi Allah, jantung gue rasanya berhenti. Gue gak sanggup nafas lagi, sesek.
Kertas yang dilipat itu menampilkan beberapa sketch kasar dari pensil. Dan semua sketchnya sama; gambar seorang pria dengan waist bag dengan pakaian top 3 nya. Hoodie, kemeja, dan kaos.
Tidak digambar secara detail, bahkan hasil gambarnya mulai memudar dengan beberapa bagian selotip yang menempel. Kertasnya benar-benar seperti bekas disobek. Walau begitu, gambaran Natta masih terlihat apik dan jelas. Jelas bahwa pria yang ada di sketch tersebut adalah… gue…
Seperti apa yang Natta tulis di suratnya. Dia beneran gambar gue.
Gue lemes, banget. Gue merasa selama ini gagal jadi orang yang selalu bilang ke Natta buat “selalu ada” dan “selalu bisa”. Karena nyatanya gue gak ada dan gue gak bisa.
Gue selalu coba posisiin Natta buat paham sama gue, tapi gue gak pernah paham sama Natta. Gue terlalu pasrah, saking pasrahnya sampai ngikut kemana pun Natta. Bukannya malah cari tau sendiri, dan cari jalan sendiri gimana cara ngerti soal Natta.
Gue selalu ngira kalau selama ini cuma gue yang bisa pertahanin, gue cuma liat diri gue sendiri tanpa liat Natta nya.
Sesek banget, sakit. Sakit karena sekarang gue tau kalau apa yang dihadapi Natta, yang membentuk dia sekarang tuh karena masa lalu nya. Dan gue gak paham, bahkan gak tau sama apa yang terjadi sama Natta di masa lalu nya. Gue terlalu pasif, pasif dan tolol karena cinta.
Andai aja waktu itu gue lebih berani gak cuma buat gue sendiri, tapi buat Natta. Gak liat gue sendiri, tapi juga liat ke Natta. Gak posisikan diri gue buat yang di tengah, tapi Natta juga. Mungkin… Mungkin bisa dibenerin, bisa diperjuangin juga kan?
Sekarang udah tinggal gue dan rasa penyesalannya aja karena baru tau apa yang Natta alami selama ini.
Dan mungkin mereka benar, Bandung adalah kota yang menarik karena diciptakan Tuhan ketika sedang tersenyum. Sehingga banyak orang menyarankan Kota Bandung dalam segala hal.
Bagi gue, pertemuan dengan Natta di Kota Bandung adalah saran paling baik dari semesta.
Gue bisa merasakan senyum yang lebih luwes, dan lebih bahagia dari sebelum bertemu Natta.
Sayangnya, kebahagiaan itu berujung kesombongan dari diri gue. Sombong karena gue selalu mengira mengerti soal Natta, nyatanya enggak sama sekali. Untuk itu, sekali lagi semesta menyarankan Kota Bandung; sebagai tempat berakhirnya paduan asmara yang terjadi antar gue dan Natta.
Untuk Natta, terima kasih buat bantuannya dalam memandang Bandung dengan pandangan lain—pandangan kebahagiaan dan penuh cinta. Mungkin Bandung memang saran yang baik, sekaligus saran buruk bagi kita yang waktu itu masih muda dan masih ceroboh.
Semoga di saran semesta lainnya, jika masih tetap di Bandung; dapat menjadi peringatan juga untuk bisa mencinta lebih baik dan lebih rendah hati lagi.
