Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-02-08
Words:
2,621
Chapters:
1/1
Comments:
9
Kudos:
31
Bookmarks:
1
Hits:
438

Mungkin, lebih baik diam

Summary:

Lelahnya malam itu malah diperparah dengan Riku yang tiba-tiba hadir tanpa gladi.

Or, a writing of Yushi and Riku as exes.

Notes:

I feel the need to apologize beforehand. Huft. Oke. Selamat membaca and ilysm <3

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Helaan napasnya terdengar keras di kamar yang sepi itu. Dirinya baru mendapat waktu untuk duduk total dan mencerna apa saja yang terjadi hari ini.

 

Terlalu banyak.

 

Biasanya ia masih punya tenaga untuk menggulir layar ponsel, tapi kali ini, bahkan jemarinya sudah lelah. Matanya juga muak menatap benda pipih itu.

 

Tok tok tok

 

“Kakak,” suara ibundanya.

 

Yushi menghela napas pelan. “Iya, Bun?”

 

“Bunda sama Adek mau keluar sebentar,” jelas sang ibunda, tidak membuka pintu. “Bunda tahu kamu lagi capek. Nanti kalau mau titip makan, call Adek aja ya, Kak.”

 

“Oke, Bunda. Makasih, ya.”

 


 

Usai sudah rutinitas malamnya—yang ia kerjakan dengan berat jiwa dan raga itu. Kini tersisa dirinya untuk berbaring dan mengusaikan harinya dengan tidur.

 

Ponselnya sama sekali belum dibuka. Enggan.

 

Tapi.. Yushi lapar.

 

Menyerah, dirinya memutuskan untuk menelepon sang adik seperti kata ibundanya tadi.

 

3 detik, 8 detik, 10. Panggilannya tidak kunjung diangkat. ‘Memanggil’ tulisannya. Panggilannya tidak tersambung.

 

Yushi memasang wajah masam—

 

Ting tong

 

Yushi mengernyitkan dahinya. Wajahnya kian masam. Siapa juga yang bertamu malam hari seperti ini. It’s already past 9.

 

Ting tong

 

Sepertinya orang itu tidak berniat pergi sebelum dibukakan pintu. Dan Yushi tidak takut, untungnya. Dirinya sudah kepalang lelah untuk memikirkan hal yang tidak-tidak.

 

Ia keluar dari kamarnya, berjalan santai—sebagai sugesti—menuju pintu rumahnya.

 

Ting tong–

 

Belum selesai alunan belnya berbunyi, pintu terbuka.

 

“Hai?” ucap sang pemuda, memasang wajah yang sama terkejutnya dengan Yushi.

 

“Um..” Yushi berkedip cepat. Dirinya tidak tahu harus berkata apa selain mengeluarkan bunyi-bunyi tidak jelas yang menandakan ke-salah tingkah-annya.

 

Sejujurnya, tidak ada yang bisa menyalahkan Yushi.

 

Karena, ya, siapa juga yang tidak salah tingkah kalau mantan pacarnya tiba-tiba muncul di depan pintu rumahnya. Dengan pakaian rapi dan tangan kanan membawa tas kertas coklat yang entah berisi apa.

 

“Sakuya.. ada?” tanya pemuda itu, seakan mencoba menepis pikiran Yushi yang penuh heran.

 

“Um..” Yushi menengok cepat ke dalam rumah, mencari keberadaan Sakuya yang padahal sudah jelas tidak ada. “Ng.. nggak. Nggak ada. Lagi.. keluar. Sama bunda.”

 

“Oh.”

 

Pas sekali. Ponsel Yushi berdering.

 

“Kak Yushi!” Yushi hanya berdeham (sok keren), menandakan dirinya mendengarkan.

 

“Kak Riku mau main ke rumah. Suruh tungguin Adek sebentar ya, Kak.”

 

Sakuya bahkan tidak menyempatkan Yushi untuk menjawab. Padahal kakaknya ini sudah terkejut sebegitunya dan perlu penjelasan—

 

“Yu—“

 

“Iya iya. Masuk aja,” ujar Yushi buru-buru. “Sakuya baru bilang.”

 


 

Setidak sopannya Yushi, dirinya masih punya santun dan moral untuk menemani tamu yang berkunjung di rumahnya. Meskipun tamu itu bukan tamunya.

 

Namun, Yushi tidak menyangka kalau mantan pacarnya itu akan datang kembali berkunjung ke rumah setelah tiga bulan, sebagai teman futsal adiknya. Bisa-bisanya Yushi lupa kalau Sakuya sudah kenal Riku lebih dulu darinya.

 

Saat ini keduanya sedang duduk. Jarak antara mereka cukup jauh, tetapi rasa canggungnya masih melekat dan seakan enggan berhenti mengganggu.

 

Yushi memasang wajah malas. Dirinya fokus pada lempengan pipih yang memacarkan sinar tidak sehat, berusaha menyibukkan diri dan menunjukkan kepada sang tamu bahwa ia hanya berada di sini karena kewajibannya sebagai tuan rumah. Tidak ada maksud lain, pun bukan karena Yushi ingin.

 

Dari seberangnya, Riku sesekali mencuri pandang. Beberapa kali ia hendak memulai dialog, yang kemudian berakhir dengan dirinya mengurungkan niat. Pasalnya, wajah Yushi terlihat masam. Riku kenal ekspresi itu—Yushi merasa terganggu. Air mukanya jelas-jelas menunjukkan kalimat ‘jangan ganggu aku, kecuali mau mati.’

 

“Apa kabar.. Yu?” bersuaralah Riku setelah berhasil mengumpulkan berani dan menelan ragu.

 

Yang dipanggil mendongakkan kepalanya. Fokusnya teralih.

 

Dengan muka datar, “Baik.” dan suara yang pelan—khas Yushi. Pandangan Yushi kembali menuju ponselnya.

 

Tidak bohong, tentu Riku sedikit kecewa dengan jawaban singkat itu. At least give it some soul. Anggukan pun Riku berikan meski yang lebih muda tidak bisa (atau tidak peduli) lihat.

 

Riku rasa upayanya menjalin ulang hubungan ini cukup sampai di sini saja—

 

“Kamu?” Yushi mematikan ponselnya. “Apa kabar?” lanjutnya.

 

Perlu sekitar tiga detik bagi Riku untuk memastikan apa yang baru ia dengar adalah benar.

 

Kedua alis Yushi yang terangkat penasaran, menjadi jawaban Riku.

 

“Baik,” jawab Riku. “Lumayan sibuk juga.”

 

Yushi mengangguk paham. “Baguslah,” ujarnya singkat. Pandangannya dialihkan, kembali menatap ponsel yang menyala akibat notifikasi.

 

“Kamu–“

 

“Sakuya lima menit lagi sampai. Aku ambilin minum, ya.” potong Yushi setelah usai membaca pesan dari Sakuya.

 

Tidak. Yushi tidak peduli dengan ketidaksopanannya barusan. Yushi bahkan bisa berargumen kalau yang ia lakukan hanyalah pemberian batas. Tamu dan tuan rumah, tidak lebih dan tidak kurang.

 

Oh, jangan kira Yushi tidak tahu Riku akan mengatakan apa. Yushi sudah tahu betul.

 

Yushi beranjak dari duduknya, meninggalkan Riku, dengan rentetan kalimatnya yang gagal diucapkan, sendirian. Yang lebih tua hanya bisa menghela napas panjang dan menatap punggung sang tuan rumah, dalam hati merutuki dirinya sendiri karena telah berharap.

 

Riku bisa mendengar bunyi dentingan dua gelas pada permukaan counter dapur, disusul dengan tuangan air dan sedikit letup gelembung yang ia tebak adalah soda. Riku akan menebak soda itu adalah soda warna cokelat kesukaannya, yang sering Yushi tuangkan untuknya, dulu saat mereka masih saling sayang. Yushi juga akan sambil mengomel, menjelaskan pada Riku untuk tidak keseringan meminum soda itu, tetapi tetap akan menuangkannya setelah dibujuk dengan tiga cium kecil di bibir.

 

Suara botol air yang ditutup juga terdengar jelas di telinganya, tetapi kemudian diredamkan oleh suara langkah kaki dan pintu yang terbuka.

 

“Kak Rik! Sorry, abis keluar sebentar tadi,” seru Sakuya tepat setelah menginjakkan kaki kanan ke dalam ruang tamu tempat Riku menunggu. “Eh, Kak Yushi enggak–“

 

“Hadir,” Yushi menghentikan prasangka buruk adiknya, membawa dua gelas minuman. “Ini, minumnya. Sodanya tinggal sedikit, buat kamu ya, Dek.” ujar Yushi sambil meletakkan kedua gelas itu di atas meja ruang tamu.

 

“Yah, Kak Riku enggak kebagian, dong?” Sakuya menghampiri Yushi. Tangan kanannya meraih segelas soda yang baru diletakkan, menenggak sekali.

 

Mendengar itu, Riku refleks mengalihkan tatap pada Yushi.

 

Yang diberi pertanyaan terdiam sejenak. Matanya seakan ditarik magnet untuk mencuri pandang pada sang tamu, yang sialnya sudah lamat memandangnya.

 

Yushi memberanikan dirinya untuk menatap Riku. “Riku udah kebanyakan soda,” Maksimal tiga detik. “Air aja, ya?” Tanpa menunggu jawaban dari Riku, Yushi melengos begitu saja. Dialognya (atau mungkin lebih ke monolog) diakhiri dengan: “Kakak ke kamar ya, Dek. Ngantuk.”

 

Tentunya sang adik hanya bisa mengiyakan, mempersilakan sang kakak untuk akhirnya menjemput rehat setelah satu hari yang panjang.

 

Namun sang tamu, dalam hati, diam-diam sekali, berharap bahwa sang kakak bisa tinggal sedikit lebih lama di sana. Dirinya ingin sekali mencuri satu, atau dua, atau mungkin lima belas pandangan lagi padanya. Sekadar untuk melepas rindu, yang dirinya rasa memang sudah bertepuk sebelah tangan.

 


 

Pintu kamar tertutup di belakangnya dan Yushi akhirnya bisa bernapas lega. Langkahnya menuju kasur sudah tidak seperti berjalan mengitari ratusan kupasan kulit telur yang rapuh, matanya bisa ia buka dan tutup semaunya tanpa takut bertabrakan dengan tatapan Riku yang penuh—entahlah—pinta. Akhirnya ia bisa benar-benar beristirahat.

 

Namun naas, kini kantuk sudah tidak lagi mencarinya.

 

Matanya sudah terlampau bangun dan Yushi tidak suka untuk memaksakan tidur.

 

Padahal kereta menuju mimpi sudah menunggunya sedari tadi. Yushi cukup naik, menunjukkan tiketnya, dan kereta itu akan berangkat tepat ketika Yushi duduk. Sialnya saja, kereta mimpi sudah tidak minat untuk menunggu Yushi yang tiba-tiba disibukkan oleh tamu. Pun itu, tamu yang sama sekali baru, setidaknya tiga bulan terakhir ini.

 

Dua puluh tiga menit berlalu, dan Yushi memutuskan untuk menyerah saja pada harapnya untuk kembali mengantuk. Ia meraih ponselnya, yang mana dikejutkan dengan notifikasi dari sang adik.

 

Kakak

Aku sama Kak Riku butuh orang satu lagi buat main

Kakak udah tidur?

 

Yushi menatap pesan itu, 7 detik. 7 detik yang penuh pertimbangan.

 

Bukannya apa. Yushi adalah kakak yang baik, mengemong adiknya bukanlah hal yang terlalu sulit dan Yushi senang-senang saja.

 

Masalahnya ada di tamunya. Well, bukan (-nya), tapi– ya, paham, lah.

 

Yushi ingin berada sejauh mungkin darinya. Bukan jijik, atau tidak suka. Yushi hanya, lagi-lagi, menjaga batas. Batas yang seharusnya memang disadari oleh keduanya, yang seharusnya tidak membuat Yushi kepalang repot seperti ini.

 

Huft. Baiklah, Yushi jujur saja.

 

Yushi.. masih terkadang, sangat terkadang saja, sedikit kepikiran. Sekelebat Riku suka terkadang tiba-tiba muncul di benaknya, dan itu jelas sekali bukan kemauan Yushi sendiri. Untuk apa juga, kan, Yushi dengan sengaja memikirkan Riku?

 

Maka tadi, ketika Riku muncul di depan pintu rumah, Yushi pikir ia telah lagi-lagi masuk ke dalam labirin pikirannya. Jantungnya sedikit terkejut, melompati beberapa degup yang membuat napas Yushi berhenti sejenak.

 

Dan di situ, Yushi takut, lalu tersadar.

 

Riku bukan siapa-siapanya lagi.

 

Masih bangun

Bentar, ya. 5 menit

 


 

Terhitung sudah lima belas menit sejak Yushi duduk di atas karpet ruang keluarga, mengiyakan ajakan adiknya untuk bergabung dengan mereka.

 

Terhitung pula, sudah lima belas tatapan mata yang Riku curi untuk sekadar mengambil sekilas dari yang lebih muda. Dan yang Riku dapat, tidak lain dan tidak bukan, adalah angguran. Tidak sekalipun Yushi menoleh padanya, apalagi mengajaknya bicara. Riku sendiri terheran: bagaimana bisa seseorang blas tidak bertukar kata dengannya, padahal sedang main game bersama.

 

Riku melihat Yushi meraih ponselnya, memeriksa jam di layar kunci. Dirinya ikut memandang jam tangan yang ada di pergelangan tangan ketika Yushi berkata, “Udah mau jam setengah dua belas.”

 

“Kakak udah ngantuk?” tanya Sakuya, meletakkan controllernya.

 

Yushi menggeleng. Lucu, pikir Riku. “Besok kamu bukannya sekolah?”

 

“Iya, sih…” nadanya terdengar sedikit sedih. Sakuya menunduk untuk memandangi controller yang ia letakkan, seakan berada dalam peperangan dengan dirinya sendiri.

 

“Tidur, Dek. Bunda besok ngomel kalau kamu susah bangun.”

 

Sakuya menghela napas. Riku bersyukur yang paling muda memang sudah terlihat lelah. Keributan yang biasanya (dulu) ia saksikan tidak jadi tayang di hadapannya.

 

“Kak Riku gak apa-apa?”

 

Riku, yang sedari tadi sibuk dengan pikirannya sendiri, meluruskan pandangannya ketika tiba-tiba namanya disebut. “Eh, gak apa-apa kok, Sak. Kakak juga udah capek,” jawab Riku. Dirinya bisa melihat anggukan kecil yang diberikan Sakuya. “Udah malem juga. Kamu tidur aja.”

 


 

Yushi kembali ke ruang tamu setelah memastikan adiknya benar-benar berniat untuk tidur.

 

Sudah, Yushi sudah berpamitan pada Riku sebelum dirinya ikut pergi ke kamar Sakuya, sudah mempersilakannya untuk pulang karena, “Udah malem. Jangan bikin berisik jalanan kompleks.”

 

Tetapi Riku malah mengajaknya untuk bicara sebentar.

 

Sudah, Yushi juga sudah menolak karena, “Gak ada yang perlu dibicarain.”

 

Tetapi Riku mengancam untuk tidak akan pulang, setidaknya sampai Yushi mengiyakan ajakannya untuk bertukar kata sebentar.

 

Perasaan Yushi sudah tidak enak. Seharusnya tadi dirinya tidur saja.

 

“Bicara apa, sih?” tanya Yushi tepat saat duduk di sofa ruang tamu, kesannya buru-buru. “Mau bicara apa lagi, Rik? Udah selesai, kan?”

 

“Kamu yakin, udah selesai?”

 

Genggaman tangan Yushi pada angin di atas sofa, menguat. Sekuat tenaga untuk tidak menunjukkan ketegangan pada air muka.

 

“Udah tiga bulan, Rik. We are nothing but done with each other,” Yushi membalas, “Udah gak ada lagi yang mau aku sampaiin ke kamu.”

 

Riku menatap Yushi lamat, khidmat, seakan mencari keberadaan dusta yang ia yakini ada.

 

Tapi Yushi jauh berbakat, apalagi dalam menyembunyikan.

 

“Oke,” kata Riku, menyerah, mungkin.

 

Yushi mengangguk, sedikit ragu, “Oke.”

 

“Jadi kamu gak masalah, kalau aku sering ke sini?”

 

“Hah?” alis Yushi seakan terjahit, dahinya mengerut. “Ngapain?”

 

Kedua bahu Riku terangkat sebentar, “Main sama Sakuya, lah, ngapain lagi?”

 

Yushi membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu, tetapi lekas mengurungkan niatnya. Matanya menembak ke sembarang arah, selain pada lelaki di hadapannya.

 

“Kamu tau, tadi Sakuya bilang apa ke aku?”

 

Pandangan Yushi direndahkan, kini menatap jemarinya yang digenggam. Diam sejenak, “Apa?”

 

“‘Kak Riku lama gak ke sini,’ katanya.” ujar Riku. Yushi tahu ceritanya tidak sampai di situ saja.

 

“Kamu jawab gimana?”

 

“Aku bilang maaf, emang lagi sibuk,” jawab Riku. Lalu yang lebih tua melanjutkan, “Terus Sakuya tanya lagi.”

 

Yushi menunggu Riku untuk menyambung ceritanya, masih belum mengalihkan pandangan dari tangannya sendiri. 5 detik, Riku tidak kunjung mengeluarkan suara.

 

Riku tahu, Yushi orangnya tidak sabaran.

 

Yang lebih muda mengangkat tatapnya, guna menemukan tatapan Riku padanya. Lagi-lagi jantungnya agak aneh.

 

Riku tersenyum samar, puas. “Dia tanya, ‘Kak Riku sama Kakak lagi berantem?’” Riku berhenti sebentar, “‘Kalian kayak udah enggak temenan lagi. Karena Kak Riku sibuk, ya?’”

 

Sedih nyaris saja terselip di ekspresi datar Yushi. Ingin sekali dirinya segera mengusir Riku dari ruang tamunya ini.

 

“Ya, terus? Sakuya bener, kan? Emang sibuk, kamu?” kata Yushi, menanggapi cerita Riku. Ia menghela napasnya ketika merasa bosan dengan percakapan mereka. “What’s the point of this conversation, again?” Matanya menatap Riku seakan memohon agar waktu ini segera diusaikan.

 

Lelah, mungkin bisa jadi satu kata yang menggambarkan Yushi saat ini. Ia ingin buru-buru tidur. Buru-buru mengistirahatkan otaknya dan berpura-pura bahwa hari ini tidak pernah terjadi.

 

“Kamu gak keliatan nyaman, Yu,” Riku memiringkan kepalanya, “You wouldn’t if you’re telling the truth. Kita nothing, kan? So act like it.

 

Dahi Yushi mengerut, wajahnya tidak lagi datar—tersinggung. “Excuse me?” tukasnya. “You’re telling me to act like nothing, when you’re the one here, begging me to talk to you? Yang gak bisa jaga jarak itu loh, kamu, Rik. I’ve tried.”

 

“Aku ngajakin bicara biar kamu lega, Yu. Aku gak mau kamu ngerasa gak nyaman,” jelas Riku. Kelihatan bagi Yushi kalau yang lebih tua tidak ingin terlihat salah.

 

“Why do you even care?” Yushi menyibakkan rambutnya, frustrasi. “Aku ngerasa gak nyaman ya wajar, Rik. You’re– you’re an ex. We part ways, dan sewajarnya aja, aku gak expect kamu bakal ke sini lagi.”

 

Riku menghela napasnya, seakan bersiap untuk percakapan yang akan datang. “Sebelum kita kenal juga aku udah sering ke sini, Yushi. Just act like—“

 

“Ya beda, lah, Rik.” Yushi protes, tidak membiarkan Riku menyelesaikan kalimatnya. “Dulu ya dulu. Aku gak kenal kamu, gak tau kamu, gak peduli.

 

Yushi menatap Riku tajam. Yang lebih muda diam sebentar, seperti memberi Riku kesempatan untuk menimpali.

 

Riku hanya diam, mengoreksi posisi kepalanya dan menarik napas pendek. Yushi ikut—oksigen ia ambil, lalu melanjutkan, “Sekarang aku kenal kamu. I know you. All of you. Dari luar sampai dalam, dari baik sampai jelek, dari kita bangun sampai tidur lagi.”

 

Kini tenggorokannya seperti akan tertutup.

 

“Having you near me, setelah tiga bulan putus, is a torture, kamu tau?” Ludahnya ia telan, bersamaan dengan air mata yang nyaris keluar. “I can’t even cry to my friends karena gak ada yang tau kita pacaran, Rik. I held it in. I cry to myself– and you have the audacity to tell me to act like nothing?”

 

Sorot matanya biru, penuh sedih dan kecewa—tersinggung, mayoritasnya—menyayat tajam pada dua mata yang lebih tua.

 

“Fuck you, honestly.”

 

Dadanya kembang kempis sebagai kompensasi tangis yang tertahan. Jelas saja Yushi enggan menangis di sini, di hadapan Riku. Apa kata harga dirinya nanti, kalau Yushi lagi-lagi mengalah?

 

“Apa?” tanya Yushi, tidak terima Riku hanya diam setelah mendengar tumpahan amarahnya. “Udah, kan? Selesai, kita?”

 

“Kamu enggak bilang,” ujar Riku.

 

“Buat apa aku bilang ke kamu? Ujung-ujungnya juga sama aja, kan?”

 

Yushi mengambil beberapa napas, menenangkan emosinya untuk kembali fokus. Ia lalu berdiri.

 

“Kamu ngajak bicara tapi akhirnya juga aku, kan, yang do all the talking?” Matanya masih melekat pada Riku yang membuang muka, masih duduk. “Kayak ngomong sama tembok.”

 

Sang tuan rumah membuang pandangannya, menghela napas panjang—keras, agar Riku dengar seberapa muaknya dia. Kedua tangannya menggenggam di masing-masing sisi—kencang, kuku-kuku terasa menusuk pada telapaknya.

 

“If you have nothing to say, pulang aja, Rik. Udah malem. Aku capek and you’re draining me.”

 

Keduanya diam di posisi masing-masing, enggan bergerak barang satu sentimeter pun. Sunyi juga terdengar lantang dan menyakitkan. Udara seakan tahu keduanya sedang sama-sama menyortir pikiran, sama-sama tidak mau kata yang terlontar terdengar salah.

 

Terlebih Riku.

 

Yang sedari tadi duduk, akhirnya berdiri. Kepalanya sedikit menunduk karena tidak ingin tiba-tiba menemukan Yushi di hadapannya.

 

“Yushi.” Suara Riku terdengar—akhirnya—setelah sekian banyak koma dan spasi yang Yushi diktekan kepadanya. “I’m sor–“

 

“It’s late, Rik.”

 

Riku membuang napas, “I know i shouldn’t have pushed you to talk.”

 

Yushi mengendus, nyaris tertawa remeh. “Kenapa?” Yushi melanjutkan, “You feel sorry now? Baru sadar separah apa this breakup affects me, gitu?”

 

“Maaf.”

 

Yushi hanya diam, dan begitu pula malam itu, dan malam-malam selanjutnya.

 

Tidak ada tangis, tidak ada amarah. Hanya sayatan perasaan yang perihnya tak kunjung hilang. Semua hanya karena keduanya tidak tahu cara berdamai, selalu mau menang.

 

Tidak ada pelukan yang menyembuhkan, tidak ada cium yang menenangkan. Keduanya diam, mungkin masih dalam kesakitan.

Notes:

Please tell Kulyut to stop their divorce biar aku bisa menulis yang imut-imut lagi.. karen to be honest, this fic was draining me so much i started feeling sad irl (lebay). … Anyway! As always, ilysm! ^3^