Actions

Work Header

stay, little valentine

Summary:

"ini first time kamu ikut blind date ya, kak yan?"

"dipaksa ikut sih, but it pays off."

atau januar yang terjebak dalam sebuah percobaan kencan buta dengan seorang adik tingkat dan ia tidak menyesal sama sekali.

Notes:

written in lowercase & ficitional names; JH as Januar, KH as Kaelani, JM as Jamal (supporting cast).

Work Text:

 

januar tidak pernah menyukai kencan buta, ia merasa apapun yang terjadi dalam pertemuan tersebut hanya diisi oleh tipuan semata dengan sebuah rasa yang dipaksa ada. logika januar tidak akan bisa memahami konsep menghabiskan waktu secara romantis dengan orang yang baru ia temui pertama kali. bagi januar, nama dan umur bukan info yang memuaskan, ia butuh biodata lengkap beserta tabiat-tabiat dan detail kepribadian dari pasangannya untuk benar-benar bisa menyebut itu sebuah kencan.

namun, kali ini ia merutuki jamal dan ide gilanya untuk mengatur sebuah pertemuan perkenalan romantis antara dirinya, januar, dan seorang adik tingkat yang januar ketahui namanya adalah kaelani. meski sudah mati-matian ia tolak sampai mengorbankan tugas gambar teknik milik jamal yang akan ia kerjakan selama kencan buta ini ditiadakan, tapi nyatanya jamal jauh lebih keras kepala dan teguh pendirian hingga januar tidak memiliki alasan lebih kuat untuk menolak.

yaudah sih yan, biar ngga ngurus himpunan mulu. bosen gue liat lo jomblo. kalimat kurang ajar yang diucapkan jamal seketika lewat sekilas di memorinya.

okay, pertama dan terakhir. batin januar yang telah duduk di depan meja bundar berbahan granit gelap dengan setelan semi-formal untuk sebuah acara makan malam di restoran hotel yang telah direservasi oleh jamal sebelumnya.

sial, januar jadi merasa sebal karena jamal terlalu berdedikasi dalam menyiapkan segalanya.

“umm, halo? kak januar, ya?”

pikiran yang sedang januar tata dalam lamunannya sontak buyar dan lenyap, matanya melirik ke sumber suara dan ia menemukan sosok laki-laki dengan busana lebih kasual dibanding dirinya berdiri dengan senyum paling manis yang ia punya. januar tidak berkedip sama sekali, tangannya dingin dan kaku sehingga saat laki-laki tersebut menjulurkan tangan untuk bersalaman, januar justru membalas dengan membungkukkan tubuhnya dan membiarkan tangan itu bergantungan di udara tanpa sempat dibalas sapaannya.

“oh, okay… haha, boleh duduk?”

januar mengangguk sebagai balasan, “kaelani, ya? informatika? angkatan dua-enam?” dan ketiga pertanyaan singkat januar dibalas senyum serta anggukan berulang kali dari kael yang telah duduk di hadapannya.

“panggil kael aja, el for short.”

kael tampak… menawan, kalau januar boleh jujur. rambutnya hitam lurus dan beberapa helai dibiarkan jatuh menutupi dahi, alisnya tebal serta rahangnya tegas namun binar matanya nampak berpendar cantik dengan pipi dan bibir yang senantiasa merekah dalam warna merah meski dalam kondisi penerangan restoran yang cukup remang.

“kak januar — “ ucapan kael terpotong oleh pelayan yang datang dengan dua mangkok appetizer untuk dihidangkan, januar yang menyadari kalimat kael yang belum sempat diselesaikan itu sontak mengeluarkan senyum. 

“panggil yan aja. januar kepanjangan ya?”

senyuman kecil sebagai bentuk balasan kembali ditunjukkan oleh kael, “kata kak jamal, ini first time kamu ikut blind date ya, kak yan?” suara kael mengudara dan masuk ke telinga januar dengan lembut. keduanya baru berbincang selama lima menit namun januar sudah menyimpan tempat spesial di kepalanya untuk suara kael yang terdengar lucu.

januar lagi-lagi membalas dengan anggukan kaku, “dipaksa sih, but it pays off.

sorry?” kael agak memajukan tubuhnya tiga senti, kurang bisa menangkap suara januar yang mengecil di akhir.

nevermind, kael. oh, kamu suka dengerin lagu?“

sembari mengaduk sup labu yang masih hangat, kael berpikir dengan jari telunjuk menempel di dagunya.

“sukaaaa. usually aku dengerin pop music aja sih, mediocre abis, but i’ve been really into jazz lately karena cici aku. charlie parker, bukan ya? iya, itu deh kayanya. kalo kak yan gimana?”

rentetan kalimat kael terasa seperti sebuah strike bagi januar yang merupakan seorang pecinta jazz sejati, bola matanya spontan berbinar dengan topik pembicaraan yang selaras dengan kesukaannya. “aku suka jazz.” ucapnya sedikit terlalu bersemangat dengan penekanan pada kata ‘suka’.

“oh ya? what’s your favorite, kak? chet baker?” kael kembali bertanya dengan nada riang.

januar mengeluarkan sebuah tawa kecil, “you guessed it right.” kemudian suatu ide lewat dalam kepalanya, “bentar ya.”

kael melihat bagaimana januar mengangkat tangannya dengan begitu yakin untuk menarik perhatian pelayan yang berjaga tak jauh dari mereka, ia menulis sesuatu di atas tisu dengan pulpen yang tersimpan di saku blazer yang ia kenakan lalu memberikan tisu tersebut pada si pelayan dengan sebuah senyum penuh arti.

okay, what are you trying to do, kak?” kael murni bertanya atas rasa penasaran, namun yang ia dapatkan hanya kerlingan mata jahil dari januar.

januar meletakkan sendok sup yang ia gunakan untuk menghabiskan hidangan pembukanya sebelum akhirnya kembali buka suara, “i heard that your birthday is just around the corner, el. jamal didn’t mention the date sih, tapi karena itu kah kamu ikut acara ini?” 

kael berpikir sejenak sebelum berakhir memutar bola matanya sebal, “ugh, engga ... atau iya ya? aku juga dipaksa kak jamal, katanya buat temen ultah sih emang. my birthday is on vals day, by the way.

dan entah takdir apa yang melilit mereka dalam satu benang merah menyala, tepat setelah kael selesai bicara, live singer yang berada tidak jauh dari tempat duduk januar dan kael seketika membuka sebuah percakapan ringan.

so, we got a request tonight — ”

kali ini januar tersenyum begitu lebar kepada peruntungan yang membawanya bertemu kael dengan segala kebetulan yang menari di antara keduanya. “i requested this song since valentine is coming up next week, aku ngga expect kamu juga ultah di hari yang sama, kael.”

“ — we hope you enjoy your dinner.”

lantunan my funny valentine milik frank sinatra yang kael dengarkan tepat sebelum kelas pagi ini tiba-tiba mengisi suasana restoran yang hangat dan intim. ini pasti lagu yang diminta januar lewat tulisan di tisu tadi.

this song immediately comes to my mind the moment i see you,” januar menyesap mocktail yang ia pesan dengan rakus, tenggorokannya cukup kering akibat menahan gugup setiap kael mengeluarkan senyum malu. “valentine fits you well.

ucapan januar membuat kael spontan mengangkat satu alisnya dengan wajah penuh tanya, “and what is that supposed to mean, kak januar?”

you smile so lively, and your gesture are so gentle. kamu … keliatan full of love? i can’t really describe it — oh, sorry for the rant.” januar mencoba menutup mulutnya dengan tangan sembari mengeluarkan tawa canggung, merasa malu sendiri karena menilai seseorang terlalu gamblang di pertemuan pertama mereka. “padahal baru sekali ketemu tapi langsung sok tau, sorry.

senyum kael tidak pernah hilang sedari awal mereka bertemu dan itu membuat januar yakin penilaiannya tidak akan meleset, namun setelah ia selesai bertutur kata, ia dapat melihat bagaimana kael mengeluarkan senyuman yang lebih manis dari sebelumnya dengan kepala yang dimiringkan sedikit ke samping kanan dan lesung pipi dekat bibir ranum itu juga turut muncul malu-malu.

maybe that is a sign for us to meet again after this,” ucap kael tanpa pikir panjang, “ — to prove your point, kak. no?

tanpa kael perlu tanya lebih lanjut, januar sebenarnya sedang berusaha mati-matian untuk menahan diri agar citranya sebagai seseorang dengan pembawaan tenang dan terarah tidak rusak sedikitpun.

januar menata kembali isi kepalanya lalu berucap lugas, “and if everything goes well, we can celebrate your birthday and spend valentine together. what do you think?” 

kali ini wajah kael turut memanas, arah matanya ia alihkan ke objek lain selama itu bukan kedua bola mata januar yang gelap dan dalam.

anyway, have i mentioned how pretty you look tonight?

kael tersenyum jahil lalu mendengus ringan untuk menahan tawanya, “… kayanya belum.”

you’re pretty, even prettier with your blushed cheeks and cheeky smile, el.”

kael was clearly drawn to the way januar described him so attentively, and to how confident januar was — almost as if he had known kael for the longest time. and januar, on the other hand, smiled at the funny twist of fate. it was, indeed, a successful blind date for him.

 

Series this work belongs to: