Work Text:
jarum jam masih menunjuk angka sebelas dan kevin berharap waktu berhenti berputar di detik selanjutnya — benar-benar berhenti seperti penggalan doa dalam hatinya yang juga telah kehilangan arti.
duk!
kevin mengangkat kepala dari kegiatan doa malamnya, ia menoleh sedikit ke arah jendela kamar yang tertutup rapat.
duk! duk!
kali ini ia temukan siluet ranting pohon yang mengetuk kacanya, posisi kamar kevin berhadapan langsung dengan taman belakang sehingga ini bukan kali pertama jendelanya tertabrak tanaman ibu yang tumbuh terlalu subur.
duk! duk! duk!
ketukan ranting yang kevin anggap biasa kini membentuk sebuah ritme. ini bukan ulah alam, ini pasti tanda keusilan samuel — penghuni rumah sebelah yang berbagi tahun lahir yang sama dengan kevin sehingga keduanya menjadi jauh lebih akrab dibanding teman komplek lain yang lahir lebih dulu.
kevin berdiri tanpa semangat, membuka jendela dengan terpaksa lalu menghela nafas lelah.
“kenapa, sam? ini jam sebelas — “
“surprise!” samuel muncul dengan sebuah kotak musik yang memutar lagu klasik dengan meriah, ada empat anjing kecil yang diukir sedemikian rupa di atas bundaran yang bergerak memutar searah jarum jam mengikuti instrumental riang.
“selamat ulang tahun, kristyantoooo.”
samuel tersenyum begitu hangat, posisi kevin yang berada di dalam rumah membuat tubuhnya lebih tinggi dibanding samuel yang masih terjepit antara kusen dan daun jendela yang dibuka tanggung; tidak terlalu lebar tapi juga tidak terlalu sempit untuk tubuh samuel yang bugar.
“belum jam dua belas?” kevin menoleh ke jam dinding yang berada tepat di atas pintu kamar. iya, masih jam sebelas lebih lima belas menit.
samuel mendorong tubuh kevin pelan untuk menjauh dari jendela agar ia bisa merangkak masuk dan menghangatkan diri dari sepoi angin malam.
“iyalah, jamnya udah aku atur.” lalu samuel mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya dan menunjukkan angka 00.03 yang berkedip di layar.
kevin mendengus kecil lalu tertawa, ada rasa haru membuncah dalam dirinya yang tidak dapat ia sampaikan dengan kata-kata. “makasih ya, sam.”
samuel meletakkan kotak musik yang telah masuk daftar keinginan kevin sejak tahun lalu itu di atas kasur dan mendudukkan diri di samping boneka anjing kesayangan milik pemuda yang telah ia kenal selama satu dekade itu.
“kamu happy ngga?”
ada jeda panjang sebelum kevin akhirnya angkat suara, “happy, selama ada kamu.”
samuel menatap kevin lama, banyak kalimat panjang dan doa baik yang sudah ia tata di kepalanya dengan rapi sejak pagi hari untuk merayakan kevin namun kini semuanya luruh bersama sunyi yang mencekik keduanya. mungkin jika samuel mengurangi rasa sayangnya terhadap kevin, ia dapat menyampaikan lebih banyak kata saat ini.
“kev.” samuel menjadi yang pertama memutus kontak mata, ia bergerak mendekati kevin lalu berjongkok di depan pemuda dengan setelan baju tidur berwarna abu-abu yang masih duduk di atas kursi belajarnya.
aroma parfum samuel tercium oleh hidung kevin yang sensitif terhadap bau; semerbak kayu manis dan citrus menguar kuat dari jaket biru yang dikenakan samuel dan kevin selalu menyukai wangi itu.
“ayo kabur sama aku.”
keduanya paham, kelewat paham dengan kalimat yang diungkapkan samuel. kevin menghela nafas, kini ia melihat sekeliling kamarnya sekali lagi, memandangi hal-hal familiar yang tetap terasa asing di kamarnya — sesuatu yang dipaksa hadir dalam hatinya sebagai bentuk keyakinan yang tertanam sejak lahir.
mata kevin mengerjap pelan, kini ia bisa menemukan banyak perlengkapan rohani yang terpasang begitu nyata di tiap sudut kamarnya seolah itu adalah sebuah bentuk identitas yang tidak akan bisa ia lepas kemanapun kakinya berpijak. tangannya bergerak menyentuh kalung yang ia gunakan tiap hari, sebuah barang yang ia sebut 'saksi bisu' dari devosi seorang hamba terhadap Tuhan—cara paling ampuh agar sang ayah percaya anaknya tumbuh dan besar dalam keimanan yang kuat, meski jauh di lubuk hati kevin sendiri, ia selalu temukan nada ragu di tiap doa yang ia panjatkan.
kevin beralih menatap kilau lampu kamarnya yang temaram, matanya menjelajah area meja belajar yang belum sempat ia bereskan lalu perhatiannya berhenti di sebuah alkitab yang terbuka dengan rosario tergulung rapi di atasnya. tak jauh dari sana, ia temukan patung kecil Bunda Maria yang berdiri berdampingan dengan buku pelajaran dan komik miliknya di sudut rak yang mulai berdebu.
pandangan kevin berakhir di samuel yang masih duduk bertumpu pada satu lutut di hadapannya, terlihat begitu teguh dengan isi kepalanya.
kabur sama aku.
umur kevin telah menginjak angka tujuh belas, seharusnya segala putusan yang ia pilih sekarang sudah memiliki bobotnya sendiri. hal tersebut membuat pikiran kevin kembali berkelana singkat ke tiga tahun lalu, memiliki ayah religius bukanlah sebuah konsep yang mudah dipahami oleh kevin sampai ia menginjak usia belasan dan mulai mempertanyakan segalanya. pertama kalinya ia melihat sang ayah marah besar adalah saat ia masuk bangku smp dan berkata jika ia suka melihat kakak kelas laki-laki bernama jeremiah yang begitu karismatik saat memimpin doa sebelum kegiatan sekolah dimulai. kevin menunjukkan binar kagum penuh kemurnian, namun sang ayah menganggap tatapan mata kevin menjijikkan dan penuh penghinaan terhadap Tuhan.
masih segar di ingatan kevin bagaimana wajahnya dibenamkan di bak mandi beberapa kali untuk dibuat ‘sadar’ oleh sang ayah dengan ibunya yang hanya bisa menonton di ambang pintu, masih bisa kevin rasakan juga kebas tangannya saat ia ditarik paksa ke gereja untuk melakukan pengakuan dosa atas sesuatu yang kevin belum pahami pasti artinya apa, masih jelas rasa panas di pipinya saat sang ayah menamparnya di depan pastor yang hadir hari itu karena kevin menolak untuk berlutut dan meminta pengampunan atas sesuatu yang tidak pernah ia anggap salah.
“sayang.”
kevin kembali ke realitasnya; kamar bernuansa biru muda dan samuel di depan mata.
“kevin… sayang…” mata samuel mulai berkaca-kaca, “aku sayang kamu dan aku mau sayang sama kamu selamanya, walau Tuhan atau orang tua kita ngga kasih restu sekalipun, aku cuma mau sayang sama kamu, kev.”
dan dalam setiap memori yang kevin miliki, akan selalu ada samuel di sana. samuel yang mengobati luka bekas cengkraman di lengan kevin, samuel yang mengompres pipi kevin yang memar dengan es lilin favoritnya, samuel yang memeluknya di taman dan mengatakan semua perasaan kevin bukanlah suatu kesalahan — terlebih sebuah dosa.
samuel, sahabat kecil yang tinggal tepat di sebelah rumah, turut beranjak dewasa bersama dirinya sembari menumbuhkan benih cinta yang siap dipanen kapan saja.
kevin jelas paham maksud kabur yang samuel sebut sejak awal.
“umur kita udah tujuh belas, ayo pergi ke bandung. aku punya temen di sana, kita bisa tinggal di rumah dia sementara,” ucap samuel kelimpungan, isi kepalanya hanya berputar pada satu tujuan; meyakinkan kevin. “aku… aku mau nyelamatin kamu, kev. aku mau kamu hidup bebas tanpa paksaan apapun.”
tangan kevin bergerak merapikan surai samuel yang basah oleh keringat meski pendingin di kamar kevin telah bekerja dengan maksimal, ia tersenyum kecil lalu menangkup wajah samuel yang sudah ia hafal tiap detailnya di luar kepala. alis tegas, hidung panjang, bibir tebal. oh, bagaimana bisa kevin menahan diri untuk tidak jatuh cinta pada samuel?
“kamu ngga perlu nyelamatin aku,”
kevin sontak mengikis jarak antara keduanya, raganya bergerak maju lalu melabuhkan kecupan lembut pada dahi pemuda di hadapannya dengan penuh sayang, hangat kulit samuel terasa melekat pada bibir ranum kevin yang tidak beranjak untuk beberapa waktu.
“tapi aku mau kabur sama kamu, sam.”
karena pada kenyataannya, kevin selalu yakin cinta tidak seharusnya terbelenggu oleh batas, hatinya bebas untuk merasa dan berhak menentukan pada siapa rasa itu menepi.
maka, saat kedua kaki kevin lebih sudi berpulang pada samuel yang senantiasa bersedia memayungi dirinya dengan rasa aman, tidak ada lagi ragu yang menyelinap pada pilihan akhir kevin — ia akan selalu memilih cintanya.
