Actions

Work Header

last night in prague

Summary:

"jadi, backpacker? solo trip? atau ikut walking tour?"

"umm," morgan menatap tiket transportasi umum dalam genggamannya, "impulsive trip?"

morgan rasa memiliki rekan berkelana di negara orang bukanlah sebuah ide yang buruk. 

Notes:

written in lowercase & ficitional names; MT as Morgan, KH as Kelana, JM as Jovan (supporting cast).

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

 

praha bukan hanya sekadar kota bernuansa romantis, sedikit melankolis, dan kelewat magis. sederet eksterior bangunan lama penuh histori, detail fasad yang hanya bisa disaksikan oleh mata, serta tata kotanya — oh, only God knows how much morgan yearns for a walkable city with fresh air like prague. bukti nyata potongan eropa klasik yang hidup hingga kini itu jelas dapat menjadi sebuah kepingan teka-teki yang mampu melengkapi hidup seorang morgan elio winata. 

paling tidak, itu yang morgan pikirkan hingga suatu hari impiannya untuk pergi ke praha bersama jovan, kakak tingkat semasa morgan kuliah yang berperan penting di hidupnya (dan juga tempat ia menyimpan perasaan intim bernama cinta), seketika kandas oleh sebuah undangan pernikahan yang ia temukan di inbox email kantornya.

 

dear morgan,

i’m getting married to kerin next week.

 

dan morgan tidak ingin membaca pesan itu lebih lanjut, yang ia lakukan selanjutnya adalah membuka online travel agency terpercaya lalu memesan penerbangan ke praha paling pagi untuk keberangkatan minggu depan tanpa memikirkan tanggal kepulangan.

tidak ada rencana tetap. semua berjalan kelewat impulsif.

keimpulsifan morgan pun membawa ia duduk di kursi berbahan resin untuk menghabiskan semangkuk vanilla soft serve dengan campuran buckwheat, garam maldon dan tetesan minyak zaitun di sebuah kafe yang memajang panorama kota praha lewat jendela besar yang mengarah langsung ke sungai vltava.

“gimana? enak, kan?”

iya, menerima ajakan orang asing (yang juga sedang melakukan perjalanan singkat di praha) untuk berkeliling kota adalah salah satu bentuk hal impulsif lain yang dilakukan morgan.

namanya kelana — menggambarkan personalitas penuh energi yang suka menjelajah banyak negara, itu kesan pertama morgan saat bertemu kelana di hradčanská tepat di bawah kastil praha.

"jadi, backpacker? solo trip? atau ikut walking tour?"

"umm," morgan menatap tiket transportasi umum dalam genggamannya, "impulsive trip?"

kelana tertawa kecil mendengar balasan morgan yang penuh ragu. "gue kelana, lagi solo trip sekalian ngerayain ulang tahun gue minggu depan. ini hari terakhir gue di praha, besok gue ke vienna— eh sorry, tmi, ya?"

morgan menggeleng dengan cepat, tidak masalah sama sekali dengan rentetan informasi yang disampaikan kelana. "happy birthday in advance, i guess?" kata morgan yang kemudian dibalas kekehan singkat dan ucapan terima kasih pelan.

“gue mau ke charles bridge nih, mau bareng? paling gue juga mau mampir nyari dessert dulu, lagi kurang gula.” ucap kelana begitu menyadari jika morgan terlihat bingung dengan metro yang harus ia tumpangi.

tanpa banyak pertimbangan, morgan mengangguk. having a travel buddy for a day won't hurt anyone, right? dan kelana tidak tampak seperti seorang psikopat berdarah dingin atau pembunuh bayaran maka morgan akan menyerahkan kepercayaannya begitu saja pada pemuda berambut legam itu.

hello? earth to morgan? enak ngga?”

morgan menghentikan lamunannya dan kembali ke masa kini, ia kemudian mencoba fokus pada rasa es krim yang memenuhi rongga mulutnya; ada aroma kacang panggang dan susu segar yang dominan serta manis yang tak habis-habis bahkan sampai decak terakhir. ya, kelana benar, ini enak.

“enak, enak.” morgan tersenyum tulus, ia menatap kelana yang kini menunjukkan senyum gigi lalu tangan morgan bergerak spontan untuk menghapus sisa es krim di ujung bibir kelana.

“oh, thanks.” wajah kelana terlihat memerah di bawah pancaran lampu putih kafe yang benderang. “yuk, lanjut jalan. tadi kita udah lewat kaprova… berarti… oke, ini karlova. lurus lagi terus ketemu deh.”

“ketemu apa?” morgan bertanya pada kelana yang sibuk membaca aplikasi navigasi di ponselnya.

“ketemu beruk.” kata kelana sinis lalu berdiri buru-buru, “ketemu gerbang masuk ke charles bridge dong, morgan. what else?

morgan tertawa lepas, terlalu lepas sampai ia lupa masalah utama yang membawanya pergi jauh melewati perjalanan 8 jam dari jakarta dan dilanjut 7 jam dari doha. sisa-sisa pening dari turbulensi ringan di perjalanan udara yang sempat mengganggu paginya pun sudah hilang tanpa bekas. mungkin karena perjalanannya kali ini menyenangkan. ya, morgan yakin praha memang menyenangkan, dengan atau tanpa jovan sekalipun.

keduanya berjalan berdampingan, morgan dapat mendengar kelana menggerutu ringan saat bahunya tertabrak orang yang berlalu-lalang, maka atas dasar insting dan rasa manusiawi, morgan berpindah posisi ke arah kanan kelana, membiarkan pemuda itu berada di sisi dalam jalanan.

“oh, you do have some sense ya, morgan.” kelana menunjukkan ekspresi usil yang kemudian dibalas dengan dengusan oleh morgan.

“kasian, lo kecil, gampang keseret orang.”

kelana hanya menggubris ucapan morgan dengan tawa sejenak sebelum sebuah topik lewat di kepalanya. “anyway, soal jovan, gue kepo deh. have you tried confessing to him, gan?”

morgan memperlambat tempo jalannya, ia telah menceritakan garis besar kisahnya dengan jovan saat mereka memutuskan beristirahat sejenak untuk membeli es krim tadi, sama seperti kelana yang juga bercerita terang-terangan tentang bagaimana mantan pacarnya pergi selingkuh dan memutuskan hubungan mereka dengan cara paling menyebalkan. morgan rasa cerita tersebut hanya menjadi hembusan angin lewat yang akan dilupakan keduanya esok hari.

“lan, would you ask something you already know the answer to — knowing it would hurt you?

kelana mengangguk paham, “still, i’d give it a try anyway.”

why?” kini morgan yang bertanya.

for the sake of my sanity aja,” jawab kelana ringan, “biar rasa lega sama sakitnya jalan bareng.”

morgan tidak menyanggah ucapan kelana sama sekali, justru ia malah memikirkan itu diam-diam sembari menatap lurus ke arah jalan batu sempit yang lebih mirip seperti lorong waktu dibanding sebuah tempat wisata.

mata morgan melirik ke arah kelana yang terlihat memikat dibawah sinar matahari yang perlahan kehilangan rona jingganya, ia yakin mereka akan tiba di jembatan charles saat bulan sudah naik ke permukaan.

“morgan.”

kelana berhenti tiba-tiba di bawah pendar lampu jalan yang berkedip selang beberapa menit sekali, kepalanya sedikit mendongak karena tubuh morgan jauh lebih menjulang dan mata bulat itu menatap penuh ke arah morgan.

“tadi lo bilang kalo lo ngerasa payah karena kabur kaya gini setelah denger berita soal jovan,” ucap kelana serius, “but i’ve been wanting to tell you this.”

“kalo lo ngira kabur dari masalah itu hal yang cuma dilakuin pengecut, then be a coward.”

morgan tertegun untuk beberapa detik, matanya sempat salah fokus ke helaian bulu mata kelana yang begitu panjang dan lentik jika dilihat dari dekat.

be selfish for once,” lanjut kelana tanpa menghilangkan nada seriusnya. “you have the right not to get hurt, too. ngga ada salahnya jadi pengecut buat kewarasan lo sendiri.”

ucapan yang keluar dari mulut kelana terasa seperti sebuah tepukan lembut di pundak morgan, kalimat yang ia harapkan dapat keluar dari orang terdekatnya justru ia dengarkan dari orang asing yang ia temui di negara orang.

lampu jalan di atas kepala kelana berkedip sekali lagi, jalanan karlova di musim gugur pada akhir oktober terasa luang tanpa terlalu banyak turis yang lewat dan warga lokal yang berjualan memenuhi sekelilingnya. morgan menyukai suasana tenang yang tidak akan bisa ia temui di jalanan utama kota tua atau stasiun metro yang akan menjadi destinasi terakhir mereka nanti.

kelana sendiri menikmati keheningan antar mereka berdua, kesunyian itu terus terisi oleh rasa tenang yang mengular di sela hatinya tanpa sempat ia sadari. tak berapa lama setelahnya, kelana mengangkat kepalanya kembali saat merasa hembusan angin sore membawa hawa dingin pada lehernya yang tidak tertutup apapun.

“pake ini aja.” morgan melepas syal pendek yang ia gunakan untuk dibawa melingkari leher kelana. tubuh morgan membungkuk sedikit dan membiarkan nafasnya berhembus terlalu dekat dengan wajah kelana yang mulai memerah kembali — entah dingin atau malu, morgan tidak benar-benar tahu.

morgan mengangkat pandangannya dari leher kelana yang tertutupi syal ke mata kelana yang berkedip terlalu cepat, tangannya ia biarkan berada di pundak kelana yang cukup lebar. suasana kota seketika meredup, seolah mendukung hadirnya perasaan nyaman yang datang dan membawa teman—sebuah pikiran impulsif yang membuat morgan merasa jika apapun yang ada dalam kepalanya adalah sesuatu yang benar. jika ia terlalu sibuk dengan imajinasinya sendiri, ia akan hidup dalam penyesalan tak berujung.

jarak antar keduanya kini terlalu dekat untuk benar-benar bisa melihat satu sama lain namun kelana dapat mendengar morgan bertanya dalam nada rendah yang hampir menyatu dengan suara angin, “boleh?”

isi kepala morgan sudah tidak berada pada tempatnya sejak awal, kelana tampak terlalu cantik di bawah pijar lampu yang redup dengan bibir merah muda dan lembab bekas lip balm rasa stroberi yang diaplikasikan tiap sepuluh menit sekali. morgan memerhatikan itu, ia terlalu memerhatikan kelana sejak awal. maka saat hadir wajah kelana berada terlalu dekat dalam gapaiannya, ia tidak lagi bisa menahan diri.

satu anggukan dari kelana membuat morgan sontak lupa dunia, rekah bibir kelana disambut hangat oleh belah bibir morgan yang bergerak hati-hati. ciuman mereka tidak menggebu, justru terlalu lembut, pelan, dan mesra di saat yang bersamaan, keduanya menikmati momen dan rasa yang kian membuncah tanpa tergesa.

tangan morgan bergerak ragu sebelum akhirnya berhenti di sisi wajah kelana yang halus, mengusapkan ibu jarinya pelan di pipi kelana yang dingin sebelum ia menarik kepalanya perlahan untuk melepas ikatan bibir yang bertahan lebih lama dari yang direncanakan. dunia di sekitar mereka terasa menyala kembali, suara kota dan desir udara seolah menghidupkan suasana yang masih penuh akan pertimbangan yang tak disampaikan.

s — “

“jangan bilang sorry.” kelana sontak menunduk setelah memotong kalimat morgan, “saying sorry will make it seem like it was a mistake.

morgan tersenyum kecil, tangannya mengusak surai ikal kelana dengan gemas. “i did it willingly, kelana, seratus persen sadar. i have no regrets and i don't go around kissing strangers like that, i genuinely like your presence—well, i like you.

"you sound dumb, gan, but i like you too. you're fun." kelana membalas senyum dan pengakuan mendadak itu dengan kekehan kecil, wajahnya merah sempurna namun morgan pun sama meronanya.

so… charles bridge?”

yup. ayo ke charles bridge.”

morgan yakin besok ia akan bangun dengan perasaan yang jauh lebih baik dan berpikir jika apa yang terjadi semalam di praha adalah hal tergila yang pernah ia lakukan dalam hidupnya yang penuh keputusan nekat.

di sisi lain, kelana pun percaya perjalanannya ke vienna besok akan terasa ringan setiap ia mengingat malam terakhirnya di praha yang penuh dengan kejutan menyenangkan serta banyak hal-hal tak terduga.

 

Notes:

last night in prague carries a double meaning; semalam di praha buat morgan & malam terakhir di praha buat kelana *wink wonk* find me on twt! @loveinloops

Series this work belongs to: