Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-02-13
Words:
1,943
Chapters:
1/1
Kudos:
11
Bookmarks:
3
Hits:
181

Luput

Summary:

Di tengah hari yang dipenuhi ulangan dan pikiran yang semrawut, ada satu hal kecil yang hampir terlewat, sesuatu yang bagi sebagian orang berarti. Terlupakan oleh pemiliknya sendiri, namun diam-diam diingat oleh yang lain.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Hari ini diadakan ulangan harian, pikiran mereka dipenuhi oleh paragraf panjang dan rumus-rumus yang harus dihafalkan. Sibuk, tak ada waktu untuk pikirkan hal lain. Hal yang sebelumnya terasa penting bagi sebagian orang, perlahan terpinggirkan, tertutup oleh tumpukan materi dan pertanyaan-pertanyan yang mengusut di kepala. 

Orang-orang kerap berkata bahwa ulangan bisa disikapi dengan menerapkan sistem sederhana; datang, kerjakan, lupakan. Namun jelas tak akan berefek bagi sebagian yang lain. Beberapa dari mereka tetap saja dihantui pertanyaan-pertanyaan kecil yang terasa besar. Apakah jawaban tadi sudah tepat? Apakah ada soal yang terlewat? Apakah kertas yang dikumpulkan benar-benar lembar jawaban, bukan lembar soal? Apakah tanggal yang ditulis sudah sesuai? Keraguan-keraguan itu muncul diam-diam, menyelinap di sela-sela kelegaan setelah bel tanda selesai berbunyi.

Suasana kelas di lantai atas paling pojok kanan salah satu contohnya. Ruangan kelas itu masih ramai dan kacau. Bel pulang sudah lama berbunyi, tetapi tak satupun siswa benar-benar beranjak keluar. Tak ada yang sudah pulang.

Lembar-lembar soal bertebaran di mana-mana, diatas meja dan di lantai. sebagian terinjak, sebagian terlipat, sebagian lagi berpindah tangan tanpa permisi. Beberapa siswa masih sibuk mencocokkan jawaban, berbisik-bisik penuh curiga, menunjuk angka dan huruf dengan nada setengah yakin. Yang lain tampak tak peduli, memilih tenggelam dalam layar ponsel masing-masing, sesekali tertawa kecil atau bersandar malas di kursi.

Ruang kelas itu tetap penuh meski satu jam telah berlalu. Udara terasa pengap, bercampur aroma kertas dan debu yang teraduk oleh gerak gelisah. Suara langkah, gesekan kursi, dan bisik-bisik tak beraturan memantul di dinding. Hingga salah satu figur disana lirik ponselnya yang bergetar, disusul layarnya yang hidup menampilkan sebuah notifikasi. 

Ia tutup buku tebalnya dan mengetuk layar ponselnya. Detik berikutnya, ia langsung menoleh ke belakang, mencari seseorang. Lantas dimasukkannya buku-buku dan lembar kertas yang memenuhi meja ke dalam tas. Tali tasnya ia sampirkan di satu bahu, kemudian tungkainya melangkah ke belakang kelas, mendekati seseorang yang terduduk sendiri dengan mata yang hendak tertutup. 

“Woi! Balik yuk!” 

Laki-laki yang hendak tertidur sebab lelah begadang semalaman, membuka matanya kembali. Walaupun sorot matanya masih agak berat, ia anggukkan kepala pelan dan berdiri dari duduknya.

Gumpalan awan kelabu tiba, gantikan langit biru secara perlahan. Turunkan rintik hujan ke bumi pada pukul dua siang. Langit sudah semakin hilang sinarnya, namun tak membuat puluhan motor yang terparkir di lapangan habis satu persatu.  

Dua remaja turun dari tangga, seragamnya tampak kusut dengan dasi dan sabuk yang sudah tidak melekat di tubuhnya. Netranya menatap puluhan motor yang sedikit basah sebab diguyur hujan beberapa menit yang lalu, memikirkan upaya untuk pulang mengingat mereka tidak membawa mantel sama sekali.

Hembusan nafas keluar dari belah bibir pemuda yang lebih muda, kepalanya ia tolehkan ke samping, "Lo mau nerobos atau nunggu reda dulu?" 

"Terobos ajalah, nanti juga reda." usai mendengar jawaban dari sang pemilik bulan Januari, dua lelaki yang hanya berbalut jaket itu memantapkan diri untuk melintasi hujan.

Keduanya berlari kecil menghampiri lapangan yang jaraknya cukup jauh dari tempat mereka berpijak tadi, satu tangannya diletakkan diatas kepala guna menghalau hujan, sesekali melompati genangan di depan. 

Seonghyeon bergegas nyalakan mesin dan mengencangkan pengait helmnya, beda halnya dengan Keonho yang masih berdiri cemas memandang langit muram dengan tetesan air yang kian bertambah.

"Makin deras, Hyeon."

"Gapapa, Yuk!." tekannya seraya menepuk tempat kosong dibelakangnya. 

Keonho balas dengan anggukan singkat kemudian mendudukkan dirinya di jok belakang. Sejujurnya ia sedikit bingung dengan pemuda itu, mengapa tiba-tiba menjadi begitu tidak sabaran, padahal biasanya paling anti basah-basahan. Tangannya yang tidak bisa diam mulai melingkari perut pemuda di depan, matanya ia pejamkan begitu air hujan menyentuh kulitnya.

Sorakan yang ditujukan untuk mereka dari lantai dua terdengar bersamaan dengan kuda besinya yang melaju menembus hujan, keduanya layangkan tawa dengan sedikit rasa malu yang timbul. Jelas menjadikannya pusat perhatian lantaran menerobos hujan deras alih-alih menetap di ruangan dan menunggu hujan hingga reda seperti siswa yang lainnya.

Setelah menempuh jarak cukup jauh dari sekolah, dipercepatnya laju motor itu hingga celana abunya basah terciprat genangan air kotor, menimbulkan teriakan dari figur di belakang. "Pelan-pelan anjir!"

Begitu suaranya terjamah di telinga Seonghyeon, ia lantas balas meneriaki, "Sorry!"

Bukannya raut kesal ataupun mata yang menajam, Keonho justru pamerkan lengkungan sabit paling bahagia di bibirnya, sesekali terkikik geli. Seonghyeon lihat itu melalui kaca spionnya yang sedikit berembun. Lambiumnya terangkat tanpa sadar melihat perangai pemuda di belakangnya. Debaran tak biasa langsung muncul di dadanya.

Ia tak benar-benar mengerti dirinya sendiri. Entah sejak kapan perasaan ganjil itu mulai tumbuh. Yang jelas, setiap kali ia bersama Keonho, ada sesuatu yang berubah. Dadanya terasa lebih penuh, napasnya sedikit lebih berat, dan dunia seolah mengecil hanya pada ruang sempit di antara mereka. Hanya suara tawa itu, dan bayangan senyum yang terpantul di kaca spion.

Seonghyeon tak pernah berniat merasakan apa pun. Namun kini, tanpa aba-aba, jantungnya berdegup terlalu keras hanya karena satu lengkungan bibir dan sepasang mata yang berbinar. Dan itu membuatnya semakin tak mengerti, mengapa kehadiran Keonho bisa mengacaukan ritme yang selama ini ia jaga begitu rapi.

"Dingin, Hyeon?" timbul semburat merah muda dari kedua pipi Seonghyeon ketika tangan pemuda di belakang merengkuhnya semakin erat, ia yakin Keonho sedang memberinya tatapan intens sekarang. Yang ditanya menggeleng rusuh, tubuhnya yang dingin rasakan lelehan hangat di hati detik itu juga. 

Perasaan itu muncul lagi, perasaan yang tak pernah ia beri nama, namun selalu datang tanpa permisi. Berawal dari hal-hal kecil, sentuhan yang terlalu lama, jarak yang terlalu dekat, suara yang memanggil namanya dengan nada yang berbeda. Seonghyeon menelan ludah, berusaha menenangkan degup yang kembali tak terkendali.

Selang beberapa menit, motor yang mereka tumpangi menepi di depan toko roti berwarna putih tulang dengan kaktus sebagai hiasan di depan serta cahaya lampu paling terang diantara toko lainnya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata, Seonghyeon langsung turun begitu motornya sudah terparkir dengan rapi. Tungkainya menjauhi area parkiran, mendekati tempat tujuan. Disusul oleh Keonho yang iseng mengedarkan pandangannya ke sekitar sebab bingung dengan alasan apa ia dibawa ke tempat ini. Laki-laki itu sempat menimang-nimang untuk masuk ke dalam, mengingat bagian atasnya yang agak lembab serta celana abu-abu mereka sudah cukup basah dan sedikit lusuh. 

Pintu kaca itu didorong pelan oleh Seonghyeon, membunyikan lonceng kecil diatasnya yang menandakan datangnya seorang pelanggan. Begtu Keonho hendak maju, pemuda yang didalam terlebih dahulu mendorong dadanya, bermaksud menghentikannya untuk masuk. 

“Lo tunggu diluar.” 

Keonho kernyitkan dahi dengan bibir yang mencekung sebab tersinggung. Lantas ia dudukkan dirinya di kursi bulat yang letaknya persis di depan toko. Jemarinya saling bertaut, sikunya bertumpu di lutut, punggungnya sedikit merundut. Netranya menyapu jalanan didepannya, menangkap gerimis yang mulai mereda, meninggalkan kesunyian basah dengan aroma petrichor yang bangkit perlahan menyebar di dada. 

Tubuhnya menghantarkan getaran kecil, mengingat beberapa waktu sebelumnya. Perihal mereka yang punya nyali menembus hujan di jalanan yang lumayan padat. 

Cukup lama bergeming di depan, Keonho mengira-ngira apa saja yang diperbuat Seonghyeon didalam, apakah lelaki itu sempat membuyarkan rasa senang sang pemilik toko sebab pelanggannya muncul dengan perawakan kucel dan mengotori lantainya yang baru saja di pel. 

Tawa kecilnya timbul begitu membayangkan Seonghyeon diomeli oleh sang pemilik toko, pasti pemuda itu akan balas dengan senyum canggung dan mata yang dirotasikan ke arah yang tak menentu. 

Di tengah lamunannya, suara lonceng berbunyi pelan. Pintu kaca di samping ditarik dari dalam, muncul sosok Seonghyeon dengan kantong plastik berwarna putih bergambar logo dari brand tersebut, tergenggam di tangan kanannya. Kantong plastik itu sudah diikat, membentuk benda kotak didalamnya yang buat rasa penasaran Keonho terbit, kepalanya sibuk menebak-nebak isi dari benda itu. 

Tanpa aba-aba, Seonghyeon langsung sodorkan benda itu ke arah Keonho yang masih duduk. Kantong plastiknya masih menggantung di tangan, sedikit bergoyang. Posisinya persis sejajar dengan pandangan Keonho.

 “Buat lo.” ucapnya datar, suaranya nyaris tanpa emosi. 

Mencoba meyakinkan tindakan itu, Keonho sedikit mendongak, menatap sosok Seonghyeon yang menjulang di hadapannya. “Hah? Apaan?”

"Ambil. Bukanya nanti aja, pas lo udah nyampe rumah." Balasnya dengan senyum kecil sebelum mereka kembali menuju motor yang terparkir sendiri. Sebelum duduk, Seonghyeon sempatkan diri untuk mengeringkan jok motornya dengan tisu. 

Sembari menunggu dipanggil, Keonho menilik kantong plastik digenggamannya dan menebak-nebak isinya lagi. Mendengar suara motor yang menyala, Keonho langsung pasang helm dan naik ke jok belakang. 

Motor itu melaju menjauh dari toko, membelah jalanan yang masih menyisakan jejak air hujan. Langit telah sepenuhnya cerah, tak ada lagi gerimis ataupun rintik yang turun. Hanya ketika mereka melintas di bawah pepohonan, butiran-butiran air yang tertahan di daun sesekali luruh, jatuh perlahan mengikuti laju angin. 

Sampai tepat didepan rumah Keonho, sang pemilik rumah itu langsung mempersilahkan Seonghyeon untuk masuk. Menawari baju ganti karena tak tega melihat laki-laki itu pulang dalam keadaan basah dan menggigil pelan. Keonho menggunakan kamarnya terlebih dahulu untuk berganti baju, Seonghyeon menyusul setelahnya. Si kelahiran Februari menyerahkan satu kaos hitam, celana jeans bermotif tentara, dan jaket kesayangannya pada temannya itu. 

Kini pintu kamarnya sudah terbuka dan menampilkan Seonghyeon yang sudah berganti pakaian. Kaos hitam nya sedikit kebesaran ditubuhnya, sementara jaket milik Keonho menggantung nyaman di bahunya. 

Keonho yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk putih berhenti sejenak, tatapannya singgah lebih lama dari seharusnya. Tanpa banyak bicara, ia raih satu handuk lagi, berwarna biru tua yang masih kering. Lalu melangkah mendekat, memotong jarak di antara mereka. 

Tangannya terangkat, dan dengan gerakan yang tampak santai, ia menggosokkan handuk itu ke rambut Seonghyeon. Hendak memprotes, Seonghyeon urungkan niatnya dan berakhir dengan cengiran kaku. 

Beberapa detik kemudian, ia ambill alih handuk itu. “Udah, gue bisa sendiri,” gumamnya, berusaha terdengar santai. Seonghyeon usap rambutnya sampai dirasa sudah cukup kering, meski jantungnya belum juga kembali normal.

Setelah usai, ia lirik jam di layar ponselnya. “Kayaknya gue langsung pulang deh. Tadi udah disuruh cepet balik.”

Mengangguk pelan, Keonho membalas, “Yaudah.” 

Ia angkat kantong plastik pemberian Seonghyeon hingga sejajar dengan bahu, sedikit menggoyangkannya. “Makasih, ya.”

Jempol Seonghyeon mencuat dibarengi dengan senyuman khasnya. Kakinya yang sudah merasa hangat melangkah keluar, melewati teras dan menuju motornya yang terparkir di dekat gerbang yang masih terbuka. 

Keonho berdiri disamping gerbang, memperhatikannya tanpa berkata apa-apa. Tatapannya mengikuti sampai motor itu keluar dari gerbang. 

Seonghyeon mengenakan helm yang tadi masih tergantung di tangannya, menatap Keonho sebentar. Entah kenapa, ada rasa yang tertinggal di antara mereka, sesuatu yang lebih hangat dari jaket yang kini melekat di tubuhnya. Ia naikkan sudut bibirnya sebelum melambaikan tangan dan berucap, “Bye!” 

“Hati-hati!” seru Keonho tepat setelah motor Seonghyeon mulai mejauh darinya. Ada getar aneh di hatinya yang sulit dijelaskan.

Ketika Keonho masuk ke kamar, ia duduk di tepi ranjang sambil memandangi plastik yang sejak tadi dibawanya. Ada rasa penasaran yang menggelitik, bercampur degup jantung yang entah kenapa terasa lebih cepat.

Dengan motif apa Seonghyeon memberikan benda tersebut, apakah hanya semata-mata sebagai penyemangat setelah mengerjakan ulangan harian? 

Ia buka ikatan plastik itu dengan hati-hati. Bunyi gesekan tipisnya memecah keheningan kamar. Di dalamnya tersimpan sebuah kotak plastik transparan yang berisi kue cokelat dan beberapa cokelat batangan. Kotak plastik itu ditempeli stickynote berwarna kuning, berisi pesan yang tertulis dengan tinta biru. 



Happy Birthday!! selamat karena udah nyusul umur gue. Kata orang sih “sweet seventeen” walaupun gue juga gatau sweet nya di mana. Semoga lo bisa happy terus, semoga nilai MTK lu ga jelek. Sorry tadi ngajakin lo hujan hujanan wkwk & sorry cuma bisa beli segini aja, gue pesennya pagi sebelum berangkat. Gue gatau mau ngomong apaan, intinya HBD and happy valentine juga, maybe? Oke udah segitu aja, semoga lu suka sama cakenya :)



Ulangan harian benar-benar berhasil menggeser hal lain, membuat banyak orang lupa dengan hal-hal yang menurut sebagian orang berarti. Dan hari ini, Keonho bahkan lupa dengan ulang tahunnya sendiri. 

Ditengah sibuk dan lelah yang sama, Seonghyeon justru mengingatnya. Mengingat hal kecil yang bahkan pemiliknya saja lalai. Meski sama-sama sibuk dan tenggelam dalam tumpukan soal, laki-laki itu masih sempat memikirkan dan memesan kue sejak pagi. 

Keonho tak mengerti kenapa ucapan itu tidak diutarakan secara langsung. Mungkin memang tak perlu, entah karena nyalinya yang menciut atau ada alasan lain. Yang jelas, tindakan itu sudah membuat Keonho tersenyum hangat, menutup hari yang penuh tekanan dengan perasaan yang ringan. 

Notes:

Jujur gatau judul, summary, dan isinya nyambung apa engga wkwk, tulisan ini dibuat ngebut semalam, jadi begitulah. Semoga gaada yang miss atau typo, tapi seperti biasa ending gantung.

Happy Birthday buat Keonho dan Happy Valentine untuk semuanya :D