Actions

Work Header

Several Questions That Make Us Happy

Summary:

Dua remaja dengan kepribadian bertolak belakang bertemu secara tak terduga di bangku sekolah menengah, lalu perlahan membangun kedekatan emosional yang hangat, manis, dan membingungkan tentang perasaan, identitas, serta proses tumbuh dewasa.

Notes:

hey lol its Karmen & Alya again in this chaotic little story. sorry if there are typos, i probably wrote this at an unholy hour. and to the one person who's been waiting forever for this… pls dont fight me okay 🥲

semoga kalian suka ya, happy reading.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Musim panas datang lebih awal tahun ini di kota S. Membawa angin kering yang menyeret debu dari lapangan basket, menerbangkan daun-daun angsana yang telah berubah warna, dan menyusup melalui celah-celah ventilasi kelas yang tidak ditutup rapat. Langit di luar sana berwarna putih pucat, udara tampak berpasir, menciptakan lapisan tipis di tiap sudut-sudut sekolah dan membuat kulit terasa kering.

Karmen membenci musim ini. Udara kering membuat bibirnya pecah-pecah dan emosinya yang sudah pendek menjadi semakin mudah tersulut. Ia duduk di bangku paling belakang, di sudut yang menurutnya paling nyaman untuk mengamati tanpa perlu terlihat. Punggungnya bersandar pada dinding kelas, di depannya keriuhan kelas sedang berlangsung seperti pasar tumpah yang kehilangan kendali.

Rangga sedang berdebat sengit dengan Borne mengenai pertandingan voli semalam, suara mereka saling menimpali tanpa ada yang mau mengalah membela klub yang menjadi jagoan masing-masing. Sementara itu, di barisan depan, tawa Cinta, Maura, dan Milly melengking tinggi saling bertabrakan, membicarakan pencapaian musik dari band yang sedang naik daun, seolah itu adakah isu penting yang mendesak. Bagi Karmen, semua suara itu tak ada bedanya dengan dengung yang menyebalkan. Seperti suara mesin air di rumahnya yang sudah tua; berkarat, bising, menganggu, tapi familiar untuk benar-benar diabaikan.

Ia memutar bolpoin di antara jari-jarinya. Ada noda tinta hitam di ujung ibu jarinya, bercampur dengan sisa lem yang belum benar-benar holang setelah menempelkan lembar pengumuman di mading sekolah pagi tadi.

“Geser dikit, Met. Badan lo bau tape.” Hardik Karmen tajam ketika Mamet, ketua kelas yang sok akrab itu, berdiri terlalu dekat dengan mejanya sembari membagikan buku tugas.

“Ngadi-ngadi kamu, Men! Idung kamu kali yang terlalu dekat sama mulut.” Goda Mamet sembari melempar buku ke meja Karmen.

Perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Mamet dengan lirikan datar yang dingin. Tatapan itu seolah tengah berbicara; Gua gak ada waktu buat ngeladenin laki culun kaya lu! Mamet yang untungnya cukup peka untuk membaca tanda bahaya, segera mengangkat bahu dan berlalu.

Hidup Karmen adalah serangkaian kewajiban yang tidak pernah benar-benar selesai. Bangun sebelum subuh ketika langit masih gelap, menanak nasi sambil menggoreng telur, menyiapkan perlengkapan sekolah adik-adiknya, lalu duduk di samping Bapak untuk menyuapinya pelan-pelan ketika tangannya mulai gemetar dan sendoknya sering jatuh. Setelah itu ia berangkat sekolah dengan mata perih dan tubuh yang belum benar-benar istirahat. Di sekolah, orang-orang hanya melihat Karmen yang galak, cewek yang omongannya pedas dan jarang tersenyum.

Mereka pikir ia memang begitu. Mereka tidak pernah melihat betapa lelahnya ia, atau bahwa sikap keras itu hanya kedok yang ia gunakan agar tidak mudah diremehkan. Saat pikirannya masih tenggelam di sana, suara derit pintu menghentikan keriyhan di dalam kelas. Diikuti oleh guru wali mereka yang berjalan masuk, bersama seorang gadis yang turut mengekor di belakang.

“Borne, Rangga. Berhenti dulu debatnya! Oh, ya. Perkenalkan, ini Alya. Dia baru pindah dari Kabupaten,” kata Bu Rini singkat, bola matanya menyapu barisan para murid, sebelum berhenti tepat di deret belakang. “Alya, kamu boleh duduk di bangku kosong belakang. Di sebelah sana.”

Alya mengangguk sopan. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Bukan senyum lebar yang memamerkan gigi untuk mencari simpati, melainkan jenis senyum yang hanya melibatkan sudut bibir dan mata. Karmen memperhatikannya berjalan. Langkahnya ringan, nyaris tanpa suara. Rok seragamnya jatuh dengan rapi, kemejanya putih bersih tanpa kusut, berbeda dengan seragam Karmen yang lengannya digulung tak beraturan.

Saat melewati mejanya, Karmen menangkap bau samar yang berbeda, seperti buku lama dan teh kering yang baru diseduh. Tenang, tidak menyengat, tetapi tertinggal cukup lama untuk disadari. Alya berhenti pada meja tepat di sampingnya. Menarik kurisnya secara perlahan, sebelum mendaratkan bokong di atasnya. Kemudian, mengeluarkan alat tulis dan satu buku dengan sampul ungu lalu meletakkannya di atas meja tanpa suara berlebihan. Karmen mendengus pelan, kembali menatap ke luar jendela, merasa hari yang tadinya biasa saja seolah akan berubah sedikit arahnya.

Namun gangguan itu datang lebih cepat dari yang ia kira. Bu Rini menepuk meja sekali lalu berkata bahwa tugas sosiologi harus dikerjakan berpasangan, tanpa protes, dan pasangan akan ditentukan olehnya agar mereka belajar berhadapan dengan karakter yang berbeda. Keluhan yang tadi hampir pecah langsung tertahan. Nama demi nama dipanggil. Cinta dengan Maura, Milly dengan Rangga. Karmen menunggu dengan bosan, ujung sepatunya mengetuk lantai, berharap dipasangkan dengan siapa saja yang tidak banyak bicara, bahkan tembok sekalipun tampak lebih menarik baginya.

“Karmen, kamu dengan Alya.” Kakinya berhenti bergerak. Ia menoleh cepat, alisnya mengerut. Alya sudah lebih dulu melihat ke arahnya, tanpa raut kecewa ataupun takut. Tatapannya tenang, tidak menghakimi, hanya seperti seseorang yang benar-benar melihat. Biasanya orang memandang Karmen dengan waspada atau rasa iba yang tidak diminta, tetapi kali ini tidak ada jarak aneh di mata itu, dan justru itulah yang membuatnya sedikit terusik.

Saat istirahat tiba dan suasana kelas mulai lebih lengang, Alya menggeser kursinya mendekat ke samping Karmen. Sedangkan perempuan ketus itu tetap di tempatnya, pura-pura sibuk mencoret bagian belakang buku tulis dengan gambar karikatur yang tak selesai, berusaha menjaga jarak yang selama ini tak pernah ada yang berani melewati.

“Hai, Kamu Karmen?” sapa Alya. Suaranya lembut, namun memiliki  resonansi yang jelas.

“Hm,” jawab Karmen tanpa mengalihkan pandangan dari coretannya.

“Oh ya, kita satu kelompok btw. Kamu ada waktu pulang sekolah nanti?”

“Nggak.” jawab Karmen cepat, nadanya memotong tajam.

“Oke. Kalau jam istirahat besok?”

Karmen akhirnya meletakkan pulpennya dengan kasar. Ia menoleh, menatap lurus ke mata Alya. Mata itu berwarna cokelat gelap, dalam seperti permukaan danau yang tidak terusik angin. Karmen mencoba mengintimidasi, memasang wajah paling tidak bersahabat yang ia miliki, wajah yang biasanya membuat adik kelas lari ketakutan.

“Kalo lo mentingin nilai lo, kerjain aja sendiri. Terus tinggal bilang ke Bu Rini kalo gua gak bantuin lo, simple.”

Alya tidak mundur. Ia justru meletakkan bukunya di meja, tepat di samping tangan Karmen yang langsung berhenti  bergerak.

“Kalo gitu, aku sama aja egois, dong,” jawab Alya tenang.

“Lagian, ini kan tugas kelompok, mana bisa dikerjain sendiri. Ayo dong, masa aku baru pindah, sudah dapet nilai jelek…” sambungnya, sembari memohon dengan nada yang entah mengapa mengirimkan getaran lucu ke telinga Karmen. Ia terdiam. Menatap lekat-lekat wajah Alya, jatuh di bibirnya yang mengerucut ke depan, sebelum berakhir pada dua bola mata yang membulat sempurna.

“Besok jam istirahat kedua,” kata Karmen akhirnya, suaranya serak dan pelan, entah apa yang Alya perbuat hingga mampu meluluhkan dirinya.

“Taman belakang sekolah. Jabgan telat. Gua benci orang yang buang-buang waktu.

Alya tersenyum lagi. Cukup lebar, hingga membuat matanya tenggelam oleh kantung di bawahnya yang cukup bengkak, namun entah mengapa terlihat lebih cerah di bawah terpaan sinar matahari yang menerobos melalui jendela. “Oke. Siap!”

 


 

Waktu berjalan tanpa disadari, dan hari-hari di seolah tidak lagi seberat sebelumnya. Ada perubahan kecil yang tidak bisa Karmen maupun Alya jabarkan. Hanya tertangkap dalam cara keduanya menunggu jam istirahat dengan lebih tidak sabar dari biasanya. Taman yang terletak di belakang bangunan utama menjadi tempat mereka singgah, tepatnya gazebo tua yang berdiri agak tersembunyi di balik deretan semak liar. Bukan karena paling nyaman—bangkunya keras dan kayunya kadang meninggalkan serpih halus di telapak tangan—melainkan karena jarang ada yang mau berlama-lama di sana.

Aroma tanah yang dipanaskan matahari bercampur wangi dedaunan kering menyambut mereka setiap siang. Di sudut yang terlindung dari pandangan murid-murid lain, Karmen dan Alya duduk berhadapan. Awalnya mereka bertemu untuk menyelesaikan tugas, membuka buku di atas meja kayu yang dipenuhi coretan generasi sebelumnya, lalu kebiasaan itu berulang begitu saja sampai segalanya menjadi rutinitas selepas pulang sekolah.

Karmen mulai terbiasa dengan kehadiran Alya yang tidak banyak menuntut. Alya mendengarkan tanpa memotong, tidak tergesa-gesa memberi pendapat, dan tidak pernah bertanya dengan nada yang terdengar seperti menguliti. Dari situ, hal-hal kecil mulai mengisi jarak di antara mereka. Jaket denim Karmen yang berpindah tangan saat angin sore bertiup sedikit kencang dan menerpa kulit Alya hingga membuatnya menggigil. Dua kotak susu stroberi yang selalu dibawa Alya, satu didorong pelan ke arah Karmen tanpa perlu diminta.

Terkadang mereka hanya membaca dalam diam, cukup dengan suara halaman dibalik dan kursi yang bergeser pelan. Tanpa disadari, Karmen mulai bercerita sedikit demi sedikit tentang rumahnya, tentang lelah yang biasanya ia simpan sendiri. Sore itu ia menutup buku catatannya dan menarik napas panjang; bayangan gelap di bawah matanya tampak lebih jelas dari biasanya.

“Kamu kelihatan capek banget hari ini, Men,” komentar Alya pelan. Ia tidak sedang membaca, melainkan sedang mengamati Karmen sejak sepuluh menit yang lalu.

“Semalam Bokap kambuh,” jawab Karmen, suaranya terdengar jauh. Ia menyandarkan kepalanya ke pagar kayu pembatas di belakangnya, membiarkan matanya terpejam. “Dia teriak-teriak manggil nama Ibu sampe jam tiga pagi. Tetangga sampai gedor pagar. Jadi gua harus meluk dia erat-erat supaya Bokap nggak lari keluar rumah.”

Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Karmen ucapkan pada siapa pun di sekolah ini. Biasanya, ia akan berbohong dengan mengatakan ia begadang menonton film atau bermain game. Tapi di hadapan Alya, tanpa ia sadari, kebohongan bisa begitu melelahkan. Gadis yang duduk di seberangnya tidak langsung merespons dengan nasihat klise seperti yang sabar ya atau pasti ada hikmahnya. Ia tahu kata-kata seperti itu tidak ada gunanya bagi seseorang yang sedang tenggelam. Alya hanya menggeser duduknya sedikit lebih dekat.

“Adik-adikmu gimana?” tanya Alya lembut.

“Mereka takut. Si bungsu nangis terus dan baru bisa tidur abis subuh,” Karmen tertawa kecil, tawa yang kering dan hambar. Ia mengangkat wajahnya, menatap langit-langit gazebo yang kusam dimakan cuaca. “Kadang gua mikir. Gua salah apa di kehidupan sebelumnya, sampe di kehidupan sekarang rasanya berat banget beban gua.”

Alya mendengarkan, menyerap setiap kata dan emosi yang tumpah dari bibir Karmen. Ia mengulurkan tangannya, ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya meletakkannya di atas punggung tangan Karmen yang terkepal di atas pahanya. Kulit Alya terasa hangat, berbeda dengan kulit Karmen yang dingin.

“Capek itu wajar kok, Men. Tidak apa-apa kalau kamu merasa tidak kuat. Namun, bukan berarti kamu harus menyalahkan dirimu sendiri. Toh, bagaiamanapun kamu manusia, kan? Dan itu bukan kesalahan kamu.”

Sentuhan itu sederhana, namun efeknya bagi Karmen seperti deburan ombak yang menghantam karang. Ia menoleh, menatap wajah Alya. Di sana, di mata gadis itu, Karmen melihat pantulan dirinya sendiri yang rapuh. Alya tidak memandangnya dengan rasa kasihan yang merendahkan, melainkan dengan empati yang sejajar.

Sorry ya, Al. Lu harus dengerin cerita sampah gua gini.” ucap Karmen, suaranya sedikit bergetar.

Alya tersenyum, kali ini senyumnya tampak menyedihkan namun tulus. “Tidak apa-apa, Karmen. Semua orang pasti lagi bawa bebannya masing-masing, dan ya… hidup memang nggak pernah benar-benar lepas dari masalah. Jadi, bagiku. Kisah kehidupan itu berharga, dan terimakasih kamu sudah mau berbagi denganku.”

Di sela percakapan berat itu, ada perasaan yang bergerak perlahan di antara mereka. Seperti langkah kaki hati-hati di atas lantai yang licin, takut tergelincir namun ingin terus melaju. Karmen tidak menarik tangannya dari genggaman Alya. 

Hangatnya perlahan-lahan meredakan gelisah yang sejak tadi mengendap di dadanya. Mereka tidak mengatakan apa-apa, tapi ada perasaan samar bahwa setelah hari ini, segalanya tidak akan lagi benar-benar sama. Ada sesuatu yang tersa baru seolah menarik mereka untuk terus-menerus bersinggungan.

 


 

Hari-hari terus berjalan tanpa kejutan berarti, tetapi ada sesuatu yang perlahan berubah di antara mereka. Sekolah masih sama dengan jadwal yang padat dan suara bel yang terdengar terlalu sering, namun bagi Karmen dan Alya, ruang-ruang itu tampak berbeda. Lorong yang biasanya hanya tempat lewat kini menyimpan senyum tipis yang saling dilempar tanpa perlu alasan. Ada jarak yang dulu terkesan asing, kini menyempit tanpa mereka sadari. Segalanya tidak lagi sekadar rutinitas; ada detik-detik kecil yang terhitung lebih lama dari seharusnya.

Momen-momen itu sederhana dan hampir tak terlihat oleh orang lain. Tangan yang bersentuhan saat mengambil buku yang sama, lalu tidak segera menjauh. Tatapan yang tertahan sedikit lebih lama sebelum akhirnya berpaling. Tidak ada pengakuan, tidak ada pembicaraan besar, hanya kesadaran diam-diam bahwa sesuatu sedang tumbuh. Karmen, yang biasanya yakin pada logikanya sendiri, mulai mempertanyakan debar di dadanya setiap kali Alya berdiri terlalu dekat atau membenarkan rambutnya dengan gerakan kecil yang baginya berwujud godaan.

Kebingungan itu tidak hanya milik Karmen. Alya juga merasakannya, antara nyaman yang sulit dilepaskan dan takut pada kata-kata yang mungkin muncul jika perasaan itu diutarakan. Dunia mereka penuh aturan yang tidak pernah ditulis, dan keduanya tahu itu. Namun tetap saja, ada kebahagiaan yang datang tanpa diminta—cukup dari melihat punggung Karmen di barisan depan saat upacara, atau mendengar tawa singkat yang jarang keluar dari bibirnya.

Suatu sore sepulang sekolah, mereka tertahan di kelas karena Karmen harus menunggu jemputan adiknya, dan Alya memilih tinggal menemani. Ruang kelas mereka kosong, kursi-kursi sudah dinaikkan ke meja, suara langkah di luar makin jarang terdengar. Mereka duduk di lantai, bersandar di bawah jendela, tanpa buku dan tanpa tugas. Hanya diam yang menjadi cukup, seolah waktu berhenti sebentar untuk mereka berdua.

“Men,” panggil Alya pelan, memecah keheningan yang nyaman.

“Hm?” Karmen menoleh. Jarak wajah mereka dekat, cukup untuk melihat bintik kecil di hidung Alya dan gerak halus bulu matanya setiap kali berkedip.

“Menurutmu, apa yang bikin orang bahagia?” tanya Alya. Pertanyaan itu terdengar acak, tapi nadanya serius.

Karmen tidak langsung menjawab. Ia memandangi lantai di depan mereka seolah jawaban bisa muncul dari sana. “Nggak tahu. Mungkin kalo punya banyak uang? Atau kalo nggak punya masalah? Bagi gua, bahagia itu kalo gua bisa tidur nyenyak tanpa takut besok makan apa.”

Alya menggeleng pelan. "Itu rasa aman, bukan bahagia. Bahagia itu... rasanya seperti pertanyaan yang tidak butuh jawaban."

“Maksudnya?”

“Seperti... Apakah aku nyaman di sini?, Apakah aku ingin waktu berhenti sekarang?. Kalau jawabannya iya, tapi kamu nggak tahu alasannya, mungkin itu bahagia,” jelas Alya, matanya menatap lurus ke mata Karmen.

Kata-kata itu menggantung di antara mereka. Karmen terdiam, mencoba jujur pada dirinya sendiri. Apakah ia nyaman di sini? Ya. Apakah ia ingin waktu berhenti sekarang? Iya. Ia tidak punya alasan yang tepat untuk itu, hanya perasaan yang tidak bisa disederhanakan. Di dekat Alya, ia tidak merasa perlu bersikap keras atau menciptakan jarak. Ia hanya ada, dan itu sudah dirasa cukup.

Tanpa banyak pikir, tangan Karmen bergeser pelan di lantai. Ujung kelingkingnya menyentuh kelingking Alya. Sentuhan kecil itu membuat napasnya tersendat. Alya tidak menarik diri. Ia justru memutar telapak tangannya dan menggenggam jari-jari Karmen yang kasar. Genggamannya hangat, tidak terburu-buru, seolah memberi waktu bagi Karmen untuk mundur jika mau.

Tidak ada pengakuan yang diucapkan. Tidak ada janji besar yang diikat di antara mereka. Hanya dua tangan yang saling bertaut dan keheningan yang terasa penuh. Karmen menahan napas, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Saat ia menoleh, Alya menatapnya dengan senyum yang sederhana dan tulus. Pada saat itu, Karmen memilih diam dan bertahan. Ia membiarkan kehangatan di antara mereka mengisi ruang-ruang kosong yang selama ini tak pernah ia sadari ada.

“Al,” bisik Karmen.

“Ya?”

“Gua punya banyak pertanyaan yang susah dapet jawabannya. Tapi, setiap gua mau nanya ini, gua selalu takut kalo semua jawabannya gak sesuai dengan apa yang gua mau.” ucap Karmen, mengakui perasaannya dengan caranya sendiri.

Alya tertawa kecil, suara yang terdengar seperti lonceng di telinga Karmen. “Tidak semua pertanyaan butuh jawaban yang jelas kan, Men? kalau memang kamu nyaman tidak mendengarkan jawabannya, anggap saja semua hal itu sama seperti apa yang kamu pikirkan.”

Sore itu berakhir dengan matahari yang tenggelam di balik gedung sekolah, meninggalkan dua bibir yang saling bertemu dalam keremangan. Namun bagi mereka, itu adalah sore paling terang yang pernah keduanya miliki.

 


 

Hari kelulusan tiba dengan suasana riuh rendah dan penuh warna. Aula sekolah telah disulap menjadi tempat pesta perpisahan. Pita-pita emas dan perak menjuntai dari langit-langit, berusaha menutupi cat dinding yang mengelupas. Suara musik pop menghentak dari pengeras suara, bersaing dengan gelak tawa ratusan siswa yang merayakan kebebasan mereka.

Di sudut ruangan, Cinta, Maura, dan Milly berdiri berdekatan, mengatur posisi untuk foto terakhir bersama. Mereka memegang buket bunga plastik, wajah mereka penuh dengan riasan tebal yang cantik. Borne dan Rangga sibuk saling memukul punggung, berteriak tentang rencana konvoi motor nanti sore. Mamet sibuk dengan kameranya, mengabadikan setiap momen.

Namun, di antara deretan bangku siswa yang disusun rapi menghadap panggung, ada satu kursi yang dibiarkan kosong. Di sandarannya tergantung jaket denim pudar yang sudah terlalu sering dicuci. Tidak ada yang duduk di sana, tetapi keberadaannya tampak lebih nyata daripada sorak sorai yang menggema di dalam sana.

Alya berdiri sedikit lebih jauh dari keramaian, di dekat pintu keluar gedung. Ia mengenakan kebaya sederhana berwarna persik, rambutnya disanggul rapi, memperlihatkan lehernya yang jenjang. Ia cantik, sangat cantik, namun ada aura kelabu yang melingkupinya. Ia tidak bergabung dengan pesta teman-temannya. Ia hanya berdiri diam, memegang sebuah amplop kelulusan yang belum dibuka, matanya terpaku pada kursi kosong itu.

Ruangan terasa sesak oleh haru biru ratusan orang, namun Alya justru merasa sepi. Suara musik terdengar jauh, seperti datang dari tempat lain. Ia berdiri di tengah kegaduhan yang tidak lagi terasa akrab. Pikirannya berkecamuk. Menjamah malam sunyi seminggu lalu. Dering telepon yang terlalu lama. Suara yang bergetar di seberang. Kalimat-kalimat pendek yang tidak langsung ia pahami.

Tidak ada yang menjelaskan banyak hal malam itu. Hanya kebenaran bahwa seseorang tidak akan kembali ke bangku kelas. Tidak ada perpisahan, tidak ada kesempatan untuk menyelesaikan kalimat yang tertunda. Nama Karmen disebut dalam doa pembuka acara dengan suara yang ditahan agar tetap formal. Bagi sebagian orang, ia adalah teman sekelas yang bernasib malang. Bagi Alya, Karmen adalah tempat pulang yang tak pernah ia beri nama dengan jelas.

Alya menarik napas pelan. Ia memandangi aula yang sama, panggung yang sama, teman-teman yang sama, tetapi ada hal-hal yang mungkin hanya dirinya bisa rasakan. Di setiap sudut, ia seperti melihat potongan kenangan yang hanya ia pahami sendiri.

Baru sekarang ia menyadari bahwa yang tersisa hanyalah ingatan. Senyum tipis di koridor, genggaman tangan yang tidak pernah diumumkan, pertanyaan tentang bahagia yang tidak butuh jawaban. Di tengah kebisingan kelulusan itu, Alya berdiri menatap kursi kosong itu dari belakang dan tahu bahwa kebahagiaan singkat yang pernah mereka ciptakan sudah cukup untuk mengubah hidupnya selamanya.

Alya tersentak ketika seseorang menepuk pundaknya pelan, menatap ke arah orang di sampingnya.

“Al! Ayo, kita foto kelas dulu.” ucapnya lembut, Alya tersenyum tipis, memaksakan sudut bibirnya untuk naik. Ia melangkah perlahan menuju kursi kosong itu. Langkahnya terasa berat, seolah lantai aula ini terbuat dari lumpur. Ia sampai di depan kursi itu, tangannya terulur menyentuh kain jaket denim yang kasar. Teksturnya masih sama, tapi kehangatan pemiliknya sudah tidak ada.

Cinta, Maura, dan Milly berebut mengambil posisi ketika Mamet tengah sibuk mengatur kamera. Alya menoleh pada kursi kosong di sebelahnya. Di matanya, ia bisa melihat bayangan Karmen duduk di sana. Karmen yang sedang melipat tangan di dada dengan wajah bosan, Karmen yang memutar bola matanya melihat tingkah teman-temannya, Karmen yang menoleh padanya dan tersenyum tipis. Ada banyak pertanyaan yang menggantung di benak Alya.

Apakah kamu telah berdamai dengan segalanya?

Apakah kita akan tetap bersama kalau kamu masih ada?

Apakah kamu tahu betapa aku mencintaimu?

Apakah sore itu aku telah menjadi kekasihmu?

Alya menatap lensa kamera. Ia membiarkan air mata menggenang di pelupuk matanya, tapi ia tidak membiarkannya jatuh. Karmen tidak akan suka melihatnya menangis lemah. Karmen akan bilang, Jangan cengeng, Al. Hadapi mereka.

Alya menyadari satu hal penting saat lampu kamera berkedip menangkap momen itu. Tidak semua pertanyaan dalam hidup membutuhkan jawaban. Beberapa hal memang ditakdirkan untuk tetap menjadi misteri yang indah.

Karmen mungkin sudah tidak ada secara fisik, tapi perasaan itu—rasa aman, rasa dilihat, rasa dicintai—itu nyata. Dan akan selalu ada di dalam hatinya. Beberapa pertemuan di musim panas yang kering itu, sesuatu yang terjadi pada sore indah kala itu, sudah cukup untuk mengubah hidup Alya selamanya.

“Satu... dua... tiga!” teriak semuanya bersama-sama.

Di dalam foto itu, di tengah teman-teman yang tertawa melepaskan beban, Alya berdiri dengan senyum tipis yang ia paksa tetap utuh. Di sampingnya ada kursi kosong yang bagi orang lain tak berarti apa-apa, tapi baginya menyimpan terlalu banyak kenangan yang tak sempat selesai—sebuah kisah yang tumbuh diam-diam dan akan selalu dirinya ingat sebagai bagian paling jujur dari masa remajanya.

Tamat

Notes:

find me over at kisseudeul if you'd like to keep in touch <3