Actions

Work Header

kuceritakan kedaifanku pada sang malam

Summary:

Cahaya bulan menyelinap dari gordennya dan memilih untuk menyinari Gojo yang tertidur pulas. Sinarnya tumpah ke wajahnya, mempertajam parasnya. Seperti menekankan bahwa dia memanglah malaikat yang dihukum untuk hidup di bumi.

Malam itu, Tuhan hampir berhasil melemahkan hati Kento.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Gojo Satoru itu cantik.

Kalimat itu merupakan suatu kewajaran di muka bumi ini. Kecantikannya bukanlah subjektif, melainkan fakta yang bisa disandingkan dengan matahari terbit dari arah timur, garam itu asin, atau Gunung Fuji berada di Tokyo. Tidak akan ada yang mengelak hal-hal itu.

Semua orang di muka bumi pasti mengakui kecantikannya sebenci apapun mereka. Termasuk seorang Nanami Kento. Di dalam hatinya, ia mengakui dibalik sifatnya yang menyebalkan, Gojo Satoru merupakan seseorang yang indah, enak dipandang. Lagipula, memang wajar jika Gojo bersikap arogan. Mungkin, jika Nanami terlahir seperti dirinya, dia akan lebih menyebalkan dari Gojo, memanfaatkan wajahnya untuk mendapatkan apa yang ia mau. Siapa tau, bukan?

Gojo Satoru itu cantik.

Tetapi, Nanami tidak pernah tahu bahwa kecantikannya ternyata sangat dahsyat sebelum malam ini terjadi.

Gojo Satoru tertidur di depannya dengan mata sembab, hidung dan pipinya mengeluarkan warna kemerahan, dan rambutnya berantakan. Gojo Satoru, kakak tingkatnya, tertidur setelah mabuk dengan tiga gelas sake dan menangisi sahabatnya, cinta pertamanya. Gojo Satoru, yang ternyata mendengkur keras di dalam tidurnya layaknya manusia biasa. Ternyata ia bukanlah dewa yang sering dibincangkan oleh para penyihir dunia jujutsu.

Nanami menelan ludah, mata coklatnya tidak bisa melepaskan pandangannya dari keindahan di depannya. Terbesit di pikirannya, kakak tingkatnya mungkin merupakan bentuk anugerah Tuhan untuk bumi busuk ini. Bentuk konkrit bahwa hey, dunia itu tidak saya buat seburuk yang kau pikirkan, buktinya saya merelakan salah satu malaikat saya hidup berdampingan denganmu!

Sepertinya Tuhan setuju dengan pemikiran Nanami. Cahaya bulan menyelinap dari gordennya dan memilih untuk menyinari Gojo yang tertidur pulas. Sinarnya tumpah ke wajahnya, mempertajam parasnya. Seperti menekankan bahwa dia memanglah malaikat yang dihukum untuk hidup di bumi.

Atau mungkin, Tuhan membenci Nanami dengan memberikan tamparan lewat cahaya bulan. Kecantikannya hanya membuat Nanami sakit, menyadari bahwa ia tidak akan pernah pantas untuk mengaguminya. Ia hanyalah manusia biasa dengan kemampuan yang biasa-biasa saja. Ia manusia biasa, yang dikutuk untuk menjadi selalu lemah, tidak bisa mencegah Haibara dari kematian. Manusia lemah yang tidak bisa menghapus memori itu dari pikirannya.

Seorang Nanami Kento tidak akan pantas untuk hidup berdampingan dengan Gojo Satoru.

Itu fakta. Sebuah kewajaran di dunia ini selain kecantikan seorang Gojo Satoru. Setidaknya, itu yang Nanami simpulkan malam ini.


Pikirannya terbang ke seseorang yang membuat sang penyihir terkuat abad ini meminum alkohol tanpa henti, membuat seorang Gojo melepaskan pesona dewanya. Ke seseorang yang menjadi buronan karena dianggap telah berkhianat.

Pikirannya terbang ke Geto Suguru, sahabat sekaligus cintanya Gojo Satoru.

(atau itu yang Nanami lagi-lagi bisa simpulkan, karena Gojo Satoru selalu lari ke arah Geto Suguru layaknya ia gravitasinya. Terkadang ada perasaan menggelitik saat Nanami menangkap pemandangan manis tersebut. Waktu itu, Nanami tidak tahu bahwa ia cemburu)

Ada rasa ketidakpercayaan ketika seorang Geto Suguru bisa meninggalkan semua ini dengan sekejap tanpa ada rasa sesal. Atau, itu yang Kento percaya saat berita Kak Suguru tersebar bahwa ia telah membunuh kedua orang tuanya. Bagaimana bisa kakak tingkatnya yang sangat Nanami hormati, membalikkan badannya dari mereka? Bagaimana bisa ia yang selalu terpandang bijak, membiarkan darah kutukan menghinggapi dan meracuni dirinya? Tetapi, lama kemudian ia mengerti pilihan kakak tingkatnya itu.

Dunia ini terlalu bangsat untuk mereka.

Ia menjadi saksi langsung jujutsu menghancurkan hidupnya. Ia mengingat jelas bagaimana Haibara tersenyum lapang kepadanya. Ia menyadari stok rokok Kak Ieri yang semakin menumpuk setiap waktunya. Dan sekarang, hatinya terenyuh melihat mata birunya Gojo tidak seterang dahulu. Melihat ia meminum apa yang ia selalu benci. Apakah bentala ini akan juga menyusutkan semua gairah orang-orang yang ia sayangi?

Bagaimana bisa petinggi-petinggi itu dengan kejam merebut masa muda mereka?

Sekali lagi, Nanami tidak berdaya. Nanami tidak kuat melihat dan hidup terus-menerus disini. Ia ingin hidup dengan tenang, tanpa ada kenistaan menempel pada tubuhnya. Jauh dari bayangan seorang batara yang sudah menguasai seluruh isi jiwanya sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di sekolah terkutuk ini.

Walaupun itu hidup tanpa senyum seorang yang dianggap dewa tersebut.

Seperti Geto Suguru, ia akan meninggalkan Gojo Satoru.

Notes:

halo lagi...in 2026. hehe. tulisan ini aku tulis years ago dengan rencana plot yang lebih berisi. sayangnya, aku ngerasa lebih baik untuk dijadikan ficlet seperti ini saja. dan karena sayang dibiarkan berdebu, jadinya aku unggah tanpa banyak editing (so it's kind of raw writing) mungkin, kalau ada waktu aku lanjutin ahaaahah dari pov gojo since i planned that it's not really unrequited love, but who knows. semoga tetap ada yang enjoy!