Actions

Work Header

After the Birthday Live.

Summary:

"We need to be careful, and it sucks."

Yang terjadi setelah birthday live Anxin dan momen heart sign Geonseo yang sempat bikin gempar media sosial. {Based on 25/12/25 ALD1's Birthday Live.}

Notes:

Tiba-tiba banget almost 3k words isinya Geonseo ciuman dan confess lucu (sorry not sorry 'tho). Enjoy! 🫶

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Satu, dua, tiga!”

Xinlong menepukkan tangannya, sebagai tanda slate berakhirnya live event hari itu. Semua bertepuk tangan, beberapa menepuk punggung Anxin dan mengucapkan selamat ulang tahun lagi.

Thank you guys,” kata Anxin, senyumnya belum mau hilang. Leo refleks mengacak rambut adiknya itu penuh sayang. Geonwoo nyengir, tapi ekspresinya perlahan berubah saat melihat wajah serius Junseo di sampingnya.

“Kak?” panggil Geonwoo. Junseo menoleh, tanpa ekspresi. Cuma beberapa detik sebelum Junseo mengalihkan perhatian lagi dan membantu staff membereskan meja alih-alih menjawab panggilan Geonwoo.

Geonwoo terdiam melihatnya, entah mengapa bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Otaknya berdesing panik. Kenapa ya, ada salah apa nih?

Sementara itu Sanghyeon dan Arno sama-sama beranjak pergi sambil mengobrol dan menertawakan entah apa. Sangwon masih berdiri di tempatnya, berusaha melepaskan pita di leher tapi sepertinya tersangkut.

“Mau dibantu?” Leo yang berada di belakangnya langsung beranjak mendekat. Sangwon berjengit sedikit, kaget karena suara Leo terdengar tepat di telinganya.

“Eh, boleh…”

Sangwon berdiri diam, sembari Leo dengan lembut melepaskan pita di belakang leher Sangwon. Jemari Leo sesekali bersentuhan dengan kulit Sangwon, mengalirkan listrik ke seluruh tubuh pemuda itu.

“Susah nih, kesangkut,” komentar Leo, menghentikan usahanya. Tetapi tangan pemuda itu belum beranjak dari leher Sangwon, kali ini turun sedikit dan meremas bahunya. Sangwon menahan napas, hanya matanya yang mengedip cepat sambil melirik kanan-kiri.

“Nanti aja di dorm aku bantu lepasin,” gumam Leo, suaranya berat di telinga Sangwon. “Di kamar kamu.”

Kepala Sangwon terasa pening… mungkin karena menahan napas terlalu lama. Nampaknya tidak ada yang memperhatikan interaksi mereka berdua; Junseo masih membereskan barang-barang, Xinlong sibuk dengan ponselnya di sudut, dan trio Arno-Anxin-Sanghyeon yang sedang mengobrol santai dekat pintu — sampai mata Sangwon bersirobok dengan Geonwoo.

Geonwoo menyipitkan matanya, tidak bicara tapi wajahnya bersuara… suara yang bisa didengar Sangwon.

Jangan disini. Itu arti ekspresi Geonwoo, sebuah peringatan jelas untuk temannya. Bukan melarang keras, tapi lebih kepada pengingat.

Sangwon cepat-cepat maju satu langkah, menjauh dari Leo dan berbalik setengah badan, mengangguk singkat kepada pemuda itu.

“Oke, di dorm aja,” balas Sangwon pelan. Leo nyengir sekilas, matanya berkilat. Ia mengangguk, memasukkan satu tangan ke saku dan berjalan untuk bergabung dengan trio yang menunggu di pintu.

Geonwoo kembali mencoba mendekati Junseo, yang sudah selesai beberes. Kali ini mata Sangwon mengikuti teman satu line-nya itu, ganti mengamatinya. Geonwoo melirik Sangwon sedikit, yang ditanggapi dengan gelengan. Peringatan yang sama. Tapi Geonwoo tidak berhenti, membuat Sangwon menghela napas dan pergi.

“Kak Junseo…” panggil Geonwoo, menarik ujung sweater berwarna hijau milik Junseo yang senada dengan sweater-nya hari ini. Junseo berbalik, mendapati Geonwoo sedang menatapnya. Sorot yang sama seperti sebelumnya, tapi ada cemas tak kentara yang muncul.

Junseo sudah membuka mulutnya tapi lalu diam, menimbang. Ia menghela napas, meraih pergelangan tangan Geonwoo yang masih memegang ujung sweater-nya, melepaskan tangan itu perlahan.

“Nanti, ya,” ujarnya lembut. Mata Geonwoo masih menampakkan sorot tidak tenang. Junseo menambahkan berupa bisikan, “Ngobrol di rooftop?”

Geonwoo akhirnya mengangguk, membuahkan senyum tipis Junseo—yang setidaknya membuat overthinking Geonwoo menguap walau hanya sedikit. Keduanya berjalan menghampiri enam lainnya yang sudah bersiap meluncur menuju dorm, beristirahat setelah hari yang panjang.

 


 

Geonwoo membuka pintu menuju rooftop apartemen mereka, langsung disambut angin malam yang tidak terlalu dingin. Lampu kota di satu sisi dan sungai Han di sisi lainnya, kontras saling berebut tempat di pandangan Geonwoo.

Ia berjalan menuju pagar pembatas, berhenti beberapa langkah di belakang sosok yang lebih dulu ada di sana. Junseo.

Baru saja Junseo akan menoleh karena mendengar suara langkah kaki, Geonwoo sudah berjalan dan memeluk Junseo dari belakang, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pemuda itu. Junseo tertawa kecil.

“Halo,” sapa Junseo lembut, mencoba melihat wajah Geonwoo yang tersembunyi. Tangannya menepuk-nepuk tangan Geonwoo yang melingkar erat di pinggangnya, pandangan Junseo beralih lagi ke kerlip lampu kota di bawah mereka.

Keduanya terdiam untuk beberapa saat, merasakan kenyamanan yang diberikan oleh satu sama lain—hingga Geonwoo mulai bicara.

“…marah?”

Suara Geonwoo teredam dan tanpa konteks, tapi Junseo paham arah pertanyaannya. Ia menggeleng.

“Enggak.”

Geonwoo menghela napas. Ia melepaskan pelukannya, berjalan ke samping Junseo dan sama-sama menatap ke bawah. Junseo memperhatikan Geonwoo dalam diam.

Junseo tahu Geonwoo sedang memikirkan banyak hal. Junseo juga tahu, Geonwoo pasti akan membahasnya, cepat atau lambat. Terutama mengenai momen kecil yang mereka bagi berdua saat live tadi.

Bukan apa-apa sebetulnya, cuma heart sign sederhana yang diinisiasi Geonwoo tanpa kata-kata—dan tanpa sadar disambut Junseo yang berakhir membuatnya salah tingkah.

Momen kecil itu memenuhi pikiran Junseo dan membuatnya mundur lagi, menjaga jarak dari Geonwoo. Seperti yang selama ini ia lakukan ketika Junseo merasa dirinya dan Geonwoo sudah 'terlalu jauh'. Ia membangun benteng pertahanan diri... bukan karena tidak suka, tapi karena takut.

Junseo perlahan mengulurkan tangan dan meraih tangan Geonwoo.

“Sini,” ucapnya, menarik Geonwoo berdiri mendekat sambil menggenggam tangannya. Melihat Junseo make a move lebih dulu membuat Geonwoo mendadak punya keberanian untuk bicara lebih banyak.

Sorry, kalau bikin kamu nggak nyaman pas tadi live…”

Mendengarnya membuat Junseo mengalihkan pandangan, menyembunyikan rona di pipinya . Tidak menyangka Geonwoo akan membahasnya secepat itu.

Mata Junseo menatap nanar lampu-lampu mobil yang berlalu lalang jauh di bawah mereka. Kepalanya dipenuhi banyak what ifs.

Bagaimana kalau fans yang menonton bisa menebak ada sesuatu yang benar-benar terjadi di antara Junseo dan Geonwoo?

Bagaimana kalau mereka tidak suka dan jadi berbalik mengirimkan kebencian untuk Geonwoo?

Junseo sudah terbiasa walau kadang tetap saja sulit, tapi Geonwoo? Mimpinya untuk debut sebagai idol bisa lepas begitu saja hanya karena mengikuti kata hatinya.

“Aku refleks karena liat ada yang komentar. I thought it was just… well, fan service? That’s why I put my hand like that.

Geonwoo mulai frustrasi. Ia melepaskan tangannya dari genggaman Junseo dan mengacak-acak rambutnya gemas.

To be honest, kak? I don’t regret my actions tonight.

Barulah Junseo menoleh, bertatapan langsung dengan Geonwoo yang ternyata sudah berdiri sangat dekat dengannya . Geonwoo mengoceh semakin banyak.

“Aku cuma mau nunjukkin… yang aku rasain. Aku minta maaf kalo bikin kamu malu, atau nggak suka — ”

“Geonwoo.”

“ — or else, whatever it is. Aku minta maaf. Aku tau kamu sangat hati-hati soal kita di depan fans, dan aku tau harusnya aku juga begitu. Tapi— ”

“Kim Geonwoo.”

“ — aku nggak bisa. Jujur aja yang aku rasain di dalem sini buat kamu udah mau meledak, kayak— ”

Suara Geonwoo menghilang, dibungkam oleh lembutnya bibir Junseo yang mengecup bibirnya. Belum sempat Geonwoo bereaksi, Junseo sudah menjauhkan wajahnya — cuma tiga senti, mungkin.

“Nah, diem akhirnya,” bisik Junseo, napasnya menampar bibir Geonwoo yang masih bengong, berusaha memproses yang terjadi barusan. Junseo sendiri sudah memerah wajahnya, dalam hati memaki keras-keras karena bertindak tanpa berpikir lebih dulu.

Di antara mereka berdua, Geonwoo sudah sering menciumnya duluan. Junseo juga sering membalas ciuman itu. Berkali-kali.

Tapi tidak pernah, tidak pernah dalam sejarah hubungan tanpa status mereka sampai saat ini, Junseo yang memulai lebih dulu.

Fuck. Why’d you do that, Kim Junseo?

Junseo membuka mulut untuk bicara, berusaha menyelamatkan situasi aneh ini— meski ia yakin kata-katanya akan sangat berantakan dan mungkin hanya memperkeruh suasana.

Tapi belum sempat suaranya keluar, Junseo bisa menangkap kilatan di mata Geonwoo.

Hanya sepersekian detik berlalu sebelum iris mata Geonwoo menggelap, dan dirinya maju meraih wajah Junseo untuk melumat bibir pemuda itu. Junseo sempat kaget, tetapi akhirnya menyerah dan merespon Geonwoo dengan intensitas yang sama.

Untuk sementara waktu hanya suara ciuman yang terdengar, teredam oleh deru angin dan keramaian jalan kota di bawah mereka. Junseo yang pertama menarik diri, napasnya tersengal. Bibirnya mulai bengkak. Sambil menahan wajah Geonwoo, Junseo berujar lirih.

“Kita… ngobrol. Pake kata-kata.”

Geonwoo menggeleng, tidak setuju dan tidak peduli. “Ciuman dulu.”

Ia kembali menarik Junseo mendekat, melahap rakus bibir lembut Junseo. Junseo tidak bisa berpikir jernih, apalagi ketika lidah Geonwoo mencari jalan untuk masuk, membuat Junseo membuka mulutnya tidak berdaya.

Hawa dingin di atas rooftop sama sekali tidak terasa karena pertukaran saliva yang semakin intens, semakin panas. Tubuh keduanya sudah saling menempel. Seakan belum cukup dekat, tangan Geonwoo meremas rambut Junseo dan menjambaknya, membuat Junseo mendesah pelan.

“Nghhh… Geonwoo…”

Mendengarnya, Geonwoo semakin menggila. Ia jelajahi mulut Junseo seperti belum pernah hadir di dalamnya. Bibirnya menelusuri lekuk bibir Junseo dengan cermat, menandai areanya dengan menggigit bibir itu pelan.

“ Ah— ”

Mendengar seruan kecil Junseo membuat Geonwoo tersadar. Geonwoo refleks menjauhkan wajahnya, sementara Junseo menyentuh ujung bibirnya yang kena gigit dan meringis.

“Sakit…?” tanya Geonwoo, mendadak khawatir. Junseo mengulum bibirnya yang bengkak, perlahan menggeleng. Mata Geonwoo berkilat lagi saat menyadari wajah Junseo yang memerah, napasnya yang tersengal, dan rambutnya yang berantakan.

Cantik… cantik sekali… milik Geonwoo.

Pemikiran itu menyentak Geonwoo kembali ke realita. Not really mine, actually, batinnya pahit.

Tapi dia tadi nyium duluan. Kak Junseo nggak pernah nyium duluan. That must mean something, right?

Can we talk now? With actual words?” gumam Junseo membuat Geonwoo tersadar dari isi kepalanya sendiri. Pemuda itu mengangguk, mendadak rasa malu menjalar membuat wajahnya lebih merah dari Junseo.

“Oke… maaf.”

Junseo menggeleng, seberkas senyum tercetak di wajahnya.

"That was..." Junseo memulai ragu-ragu, dan berhenti. Suasana kembali terasa canggung bagi Junseo, dan dia tidak tahu harus bicara atau berbuat apa.

You kissed me.

Suara Geonwoo memecahkan hening di antara mereka. Junseo masih menunduk, tidak melihat ke arah Geonwoo.

“Iya…”

That’s a first,” lanjut Geonwoo lagi. Pemuda itu mengulurkan tangan, merapikan rambut Junseo yang berantakan dengan lembut. Junseo akhirnya memberanikan diri mendongak setelah merasakan sentuhan itu dan mendengar nada suara Geonwoo yang murni penasaran. “Why?

Junseo menghela napas panjang. This is it. Junseo sudah tidak bisa lari lagi. Mau seberapa seringnya ia mengelak dan membangun benteng ‘we’re just friends’ di depan Geonwoo, hatinya tidak bisa lagi menghindar. Mau sebanyak apapun skenario what ifs di kepalanya, Geonwoo terlalu berharga untuknya jika harus ditukar dengan kekhawatiran yang belum tentu terjadi itu.

Ia meraih tangan Geonwoo, menggenggam dan mengusap punggung tangannya berkali-kali. Satu sapuan ibu jari Junseo adalah cemas yang tak bisa terucapkan lewat kata-kata. Geonwoo menunggu dengan sabar, meski jantungnya terasa mau copot.

“Kamu tadi bilang… alasan kamu ngelakuin itu, karena mau nunjukkin yang kamu rasain?” Pertanyaan retoris Junseo mendapat anggukan dari Geonwoo. Junseo tersenyum kecil.

“Kalo bisa, setiap kali live aku mau duduk di samping kamu. Kalo bisa, setiap on camera aku maunya bisa bebas ngeliatin kamu, bales flirting ke kamu.”

Kata-kata Junseo membuat Geonwoo menegakkan tubuhnya. Junseo menatap pemuda itu lembut.

“Yang ada disini…” kata Junseo menunjuk dadanya sendiri. “...rasanya juga mau meledak.”

Geonwoo terdiam, merasakan kecamuk kupu-kupu yang mulai beterbangan di perutnya. Gabungan ketegangan dan penuh harap.

“Aku mau nunjukkin dan mau bikin semua orang tau kalo… aku sayang kamu,” kata Junseo akhirnya. Ia mengalihkan wajahnya yang memerah malu. “I like you, Kim Geonwoo.”

Jantung Geonwoo berdebar keras sekali sampai ia bisa merasakan detaknya di telinga.

Junseo. Kim Junseo. Sosok yang ia kejar-kejar sejak awal, yang membuat Geonwoo jungkir balik untuk mendapatkan perhatiannya, yang tidak marah kalau dicium tapi juga tidak pernah bertanya apapun—bagian ini kadang bikin Geonwoo stress, jujur saja.

That Kim Junseo is finally confessing to him.

Geonwoo tidak bisa menahan cengiran lebar muncul di wajahnya. Ia menarik tangan Junseo pelan.

“Coba ngomongnya sambil lihat aku sini,” kata Geonwoo membuat Junseo berdecak, bisa merasakan keisengan Geonwoo muncul lagi.

“Udah, sekali aja. Nggak ada siaran ulang,” balas Junseo. Geonwoo tergelak tanpa bisa ia tahan. Tangannya memegang dagu Junseo lembut, mengarahkan wajahnya ke depan Geonwoo.

I like you, too. I like you a lot. Like, a LOT. Tapi kamu udah tau itu kan, kak?” kata Geonwoo, nyengir. Junseo tidak bisa tidak tersenyum.

“Iya, tau. Kurang jelas apa tiba-tiba ngajak heart sign pas live, nggak pake briefing dulu, bikin deg-degan aja,” omel Junseo. Geonwoo manggut-manggut.

“Sebenernya aku pengennya langsung cium kamu aja sih pas live tadi.”

Junseo melotot mendengar kalimat Geonwoo yang asal bunyi, membuatnya kembali bicara dengan nada suara yang concerning. “Jangan aneh-aneh, Geonwoo. Aku tau kamu cuma bercanda, but knowing you and your guts… Please, we need— ”

We need to be careful,” potong Geonwoo. Ia cuma bercanda, tentu saja. Tapi berada di situasi ini kadang membuat dia frustrasi. “It sucks.

Junseo mengangguk, menepuk pelan pipi Geonwoo. “I know. There are reasons why we need to lay low... Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa, Geonwoo.”

Geonwoo menempelkan dahinya di dahi Junseo, memejamkan matanya selagi napas mereka beradu.

"You don't have to worry about me. As long as I'm with you, I can handle everything, kak."

Junseo berjinjit sedikit untuk mencium pipi Geonwoo, berharap sentuhan itu dapat menyalurkan isi hatinya lebih efektif daripada kata-kata. 

“Ah, sialan,” gumam Geonwoo pelan, otomatis nyengir lalu memeluk Junseo erat-erat meski kembali menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pemuda itu. Junseo balas memeluknya dan mengacak rambut Geonwoo penuh sayang.

You have no idea how happy I am right now," kata Geonwoo, suaranya teredam. "Thank you for liking me back, I guess?"

Junseo membalas dengan suara pelan. "Thank you for keep liking me, I guess? Meskipun aku selalu menjaga jarak, meskipun baru sekarang aku bisa bilang ini semua... Thank you for not giving up on me, Geonwoo."

"I will never." Junseo bisa merasakan kepala Geonwoo menggeleng kuat. "I like you, i like you, i like you."

Junseo terkekeh, wajahnya memerah. "Udah ih, diulang terus."

Geonwoo tiba-tiba menjauhkan tubuhnya meski kedua tangannya masih merengkuh Junseo— ekspresinya berubah merajuk.

Well, I hate the fact that, actually, everyone likes you. Harusnya cuma boleh aku aja yang suka kamu.”

Junseo tertawa mendengar confession yang tulus sekaligus nyeleneh itu.

“Kamu mau gatekeep aku, ya?” ujarnya sambil menepuk pipi Geonwoo lagi. Meski bercanda, mata Junseo memancarkan afeksi hangat yang dapat Geonwoo rasakan, membuat telinga Geonwoo memerah.

“Geonwoo..." Junseo memulai lagi. "Maaf kalau reaksiku berlebihan dan bikin kamu kepikiran soal heart sign tadi, ya?"

Geonwoo menggeleng.

“Kamu bener kok, kak. We need to be careful. Aku yang harusnya minta maaf karena too careless. Won’t do that again, at least not in front of our fans.

Well…” kata Junseo, mengangkat bahunya. “A little flirting won’t hurt.

Mata Geonwoo berbinar, seperti anak kecil mendapatkan es krim kesukaannya. “Ya kan??”

PG-13 only, ya, Geonwoo. Jangan mikir yang aneh-aneh,” kata Junseo sembari menyentil dahi Geonwoo lembut. Ekspresi Geonwoo berubah playful.

Sooo… PG-13 includes holding hands, kissing, and a little bit of nudity if I’m not mistaken,” jawab Geonwoo, membuat Junseo melotot.

“Masa sih?” tanya Junseo tidak percaya. Geonwoo mengangguk, nyengir lebar. Junseo menggelengkan kepalanya, “Oke, G-rated kalo gitu.”

Seketika Geonwoo manyun. “Nggak asik.”

Junseo tertawa melihat ekspresi pemuda di hadapannya ini, dan secepat kilat mengecup lembut bibir Geonwoo. Geonwoo kaget, tapi tersenyum senang.

You sure kisses me a lot today,” ujar Geonwoo membuat wajah Junseo memerah. “Apa emang gitu ya kamu kalo udah pacaran langsung berani, hm? Kiss me here and there… Not that I'm complaining, tho’.

Junseo menggigit bibirnya, mengulurkan tangan untuk menutup mulut Geonwoo. “Stop with the English, Geonwoo.

Why?” balas Geonwoo dengan suara teredam. Geonwoo menarik tangan Junseo dari mulutnya dan memajukan wajahnya, sengaja. “Because I’m hotter when I’m talking in English and it makes you want to kiss me?

Junseo memalingkan wajahnya, malu karena ketahuan. Geonwoo tergelak.

You’re too cute, I cannot.” Geonwoo menarik wajah Junseo kembali menghadapnya dan menghujani pemuda itu dengan ciuman. Di pipi, hidung, dahi, bibir, mata — semua. Junseo tertawa geli.

“Stoppp!” serunya. Geonwoo berhenti, tersenyum lebar. He really is the happiest man on earth tonight.

Tiba-tiba saja Geonwoo teringat momen Sangwon dan Leo tadi, tepat saat live berakhir. Ekspresinya berubah, rautnya tampak berpikir sekaligus khawatir.

It must be sucks for them, too.

“Siapa?” tanya Junseo, tapi sejurus kemudian paham. “Oh, Leo dan Sangwon?”

Geonwoo mengangguk. “Nggak kebayang selama ini gimana cara mereka survive, ya… Eight years together… Not trying to kiss each other every time they’re on the same room— ”

“Hei,” protes Junseo, menyentil dahi Geonwoo lagi dan membuat pemuda itu nyengir. “Nakal otaknya.”

“Emang kamu nggak, kak?” tanya Geonwoo, mendadak iseng, kembali menarik Junseo ke dalam pelukannya.

“Apa? Kepikiran mau nyium kamu terus?” tanya Junseo berusaha terdengar santai meski rona wajahnya menunjukkan sebaliknya. “Itu sih kamu.”

“Ah, tapi mukanya merah gitu~” goda Geonwoo lagi, membuat wajah Junseo makin terlihat seperti kepiting rebus.

“Apa sih,” elak Junseo, berusaha melepaskan diri dari pelukan Geonwoo tapi tidak bisa. Akhirnya ia hanya memalingkan wajahnya saja, pura-pura ngambek.

“Aduh, cantik banget pacarku kalau ngambek gini,” komentar Geonwoo, jarinya menyentuh hidung Junseo yang mengernyit.

“Bentar deh, aku jadi inget ada yang mau aku tanyain.” Air muka Junseo berubah serius, membuat Geonwoo waspada.

“Apa? Apa?”

Junseo tampak berpikir sembari mengetuk-ngetuk jarinya di bibir — anehnya gerakan sepele itu membuat Geonwoo terdistraksi, rasanya ingin mencium bibir lembut Junseo lagi.

Benar juga, sepertinya yang kepikiran ciuman terus memang Geonwoo.

“Aku bingung,” kata Junseo akhirnya. “Emang kita pacaran?”

Pertanyaan Junseo membuat Geonwoo mematung lama.

“Hah?” adalah satu-satunya respon yang terpikirkan oleh Geonwoo, wajahnya bengong dan terlihat pucat. Junseo mengulum bibirnya, berusaha tidak tertawa.

“Iya kan? Emang kapan kamu ngajak pacaran? Aku kok nggak inget.”

Geonwoo masih bengong, kali ini sambil menggaruk tengkuknya.

“Ya… iya, tapi — kan… Tapi, itu… Kan barusan kita…” Mendadak Geonwoo kehilangan kemampuannya bicara, mengusap wajahnya mulai panik. “Kak… Yang bener aja… Kita abis ciuman... Dan udah ciuman berapa kali sebelum ini… That's not something friends would do, kan...?”

“Loh, aku salah emang? Yang aku denger cuma ‘I like you’ aja, nothing else.

“Ya bener sih, but it’s a mutual feeling, ya kan? I thought we'd automatically become a couple… Am I supposed to… Uhhh… Kamu mau… aku, euh, aku tem…. bak…? Aduh, gimana ngomongnya…” Geonwoo betulan panik sampai meracau, membuat Junseo akhirnya tertawa lepas. Mendengarnya membuat Geonwoo melotot, tapi kemudian senyum lega terbersit di wajahnya.

“Sumpah, kak, nggak lucu. Sumpah, aku panik beneran, tau nggak?” Geonwoo mengguncang bahu Junseo yang masih terkekeh-kekeh.

“Udah ah, capek ketawa. Ayo kita turun, pacarku. Lama-lama dingin banget disini, nanti pacarku bisa sakit,” kata Junseo ganti menggoda Geonwoo, menikmati melihat yang lebih muda kelimpungan sendiri, cengar-cengir childish mendengar kata 'pacar'.

Ya Tuhan, punya pacar brondong ternyata seseru ini. Kenapa nggak dari kemarin-kemarin, sih?

“Ya kan, kita pacaran, kan?” Geonwoo berisik meminta validasi sambil mengikuti Junseo menuju pintu rooftop.

“Sebenernya aku nggak suka sama yang lebih muda.”

“KOK GITU???” seruan Geonwoo menggema. Junseo tertawa lagi, berhenti berjalan dan berbalik, tanpa berpikir mencium bibir Geonwoo dan bertahan dua detik disana.

“Tapi kalo Geonwoo, aku suka.”

Notes:

Siapa yang heboh juga waktu momen iniii :') the real 'makasih Geonwoo udah Geonseo' 😭👍gara-gara momen ini authornya agak gragas ya maunya langsung ciuman terus jadian aja, lah. Plus nyelipin sedikit Leowon (bcs why not 👀) haha thanks again for reading ya, Geonseomania! 💗

Series this work belongs to: