Work Text:
Di suatu hari, pada pagi hari dimana angin berdansa lebih lambat dan bunga-bunga mekar di bawah langit biru yang luas. Pada dimensi lain, Edenia bersinar terang, melampaui semua bintang lainnya. Lebih tepatnya di Istana Edenia, pada suatu halaman terbuka, Sang Ratu Edenia -- Sindel -- sedang menunggu seekor merpati bentara yang mungkinnya akan memberikan kabar sang kekasihnya di Earthrealm itu tentang keberangkatannya untuk pergi ke Edenia. Namun, untuk berapa lama ia harus menunggu? Mungkin sang kekasihnya belum meletakkan ujung kalamnya di kertas kosongnya itu, dimana ia berharap untuk menemukan kata-kata manis dan kerinduan yang akan terungkap dari halaman-halaman yang terlipat itu.
Sang Ratu Edenia tersebut duduk di tepi sebuah panggung kayu yang terangkat. Bangun dari postur membungkuknya setelah merenung lama menatap melihat sekumpulan ikan koi dari kolam di depannya yang membentuk titik-titik kecil di bawah air yang beriak tenang dibawah kakinya, memantulkan cahaya seolah menjadi cermin bagi renungannya. Kedua kakinya tersilang, semantara tatapannya menjadi tidak tertarik lagi. Angin yang sepoi-sepoi terus menyeret gaun panjangnya dan mengikat rambutnya, tapi tiada yang dapat menandingi perasaan bagaimana kekasihnya menggantikan setiap gigi-gigi sisir itu dengan jari-jarinya -- setiap tarikan sisir terasa seperti belaian tangannya. Untuk sesaat berada di hadapan kekasihnya, sang kekasihnya itu membiarkan dirinya untuk rileks, melunakkan sudut-sudut tajamnya hanya untuk bersikap lembut pada kekasihnya. Sebab, ia sepenuhnya tahu betul bahwa kekasihnya telah lama mengisi ruang-ruang kecil dalam jiwanya yang terasingkan arah. Begitu sulit untuk membahasakan kedalaman tulus kekasihnya -- mengetahui bahwa ia hadir bukan melalui segala yang melekat dan terlepas darinya, namun pertemuan abstrak antara perbincangan batin mereka tumbuh melalui kesendiriannya kala membaca diri dan merawat hati.
Waktu terus berlalu dan tak ada sama sekali yang muncul di langit. Kalau dipikir-pikir, sudah sejak lama kekasihnya meninggalkannya di Edenia? Ia berbalik badan hanya untuk mendapatkan sekilas tentang janji-janji rapuh mereka kala itu.
“Sayangku, mungkinkah kita membaur nadi dengan bunga-bunga yang menangkap senyuman kita? Atau kita ‘kan menghayati spektrum kebiruan di langit? Sebab kau dan aku adalah sempurna yang mampu berbahasa, dengan mata dan jiwa, dengan rindu yang selalu menunggu, abadi oleh murakabi cintamu yang lahir berkali-kali.” Sindel bergumam dibawah nafasnya yang hangat, suaranya selembut kain sutra yang terselip diantara kolum-kolum angin di sekitarannya. Bagi seseorang yang memiliki kemampuan supersonik yang mampu membunuh seseorang, mereka berbicara dengan suara yang sangat lembut saat membicarakan seseorang tertentu. “Mengingat kala waktu ku bersama mu -- aku percaya, bahwa kerinduan ini adalah turbulen di pertengahan hubungan kita. Dan itu tidak dapat membuatku terjerembab pada ketidaktahuan yang menerka-nerka.” Atau… Tidak?
Menatap langit, ia mengangkat tangannya, menggambar jejak awan di langit dengan ujung jarinya. Ia membentangkan jarinya untuk melindungi matanya dari sinar matahari, namun cahaya itu tetap menyelinap melalui celah-celah jarinya seolah-olah celah-celah itulah adalah harapan yang mencari jalurnya ditengah kegelapan. Tanpa disadari, sebuah setangkai daun mendarat di telapak tangannya. Sindel menatap dengan sedikit ketertarikkan dibawah pandangannya, ia meniup daun itu dengan lembut dari hamparan kulit di tangannya, hembusan nafasnya terlipat-lipat dan terliku-liku dengan jalur angin -- membawa daun itu pergi; daun itu lebih baik dibebaskan -- dibiarkan mengapung ke mana pun nasib arus membawanya. Tidak dipaksa maupun disuruh, hanya dilepaskan.
Mungkin inilah tanda yang dibutuhkan Sindel untuk belajar melepaskan -- melepaskan ekspektasi yang ia telah taruh di seseorang. Sang Ratu Edenia itu menyeka setiap keping kesedihan dan kerinduan yang ada di dalam ekspresinya. Tetap saja, tak ada yang bisa menutupi kesungguhan hatinya.
Setelah terlalu lama tenggelam dalam renungan, Sindel perlahan mengangkat gaunnya dan berdiri, meninggalkan keheningan yang mengekang
Jadi, ini rasanya ditinggal oleh kekasihmu -- melesat pergi meninggalkanmu? Apakah kekasihnya memang sudah lupa dengannya? Atau, apakah perasaannya itu divalidasi lembek, mentalnya itu murahan? Ternyata selama ini, Sindel hanya mengkonsumsi kebohongan dirinya? *Ah*, tidak. Pikirannya sudah tidak beres, dampak yang dibuatnya telah tergores dengan keraguan yang dia ciptakan. Pikiran-pikiran tersebut berperan seperti kabut mangu yang menghalangi jalannya menuju koridor kerajaannya. Tak peduli berapa pekat atau tebal kabut tersebut, bukankah Sindel harus menemukan cahaya di tengah kabut tersebut?
"Yang Mulia Ratu, Anda dipanggil oleh istana. Mohon segera tangani masalah ini." Langkah Sang Ratu Edenia itu tertegun sesaat ia mendengar suara dari sang prajurit yang memanggilnya, sungguh menusuk dan membelah dua keheningan dan keraguan yang terdapat di pikirannya. Ternyata, Sindel ingat bahwa ia juga terikat oleh tugasnya sendiri. Ia tidak bisa menyalahkan sang kekasihnya karena alasan yang sama.
Andai… Andaikan saja kerinduannya melekat pada angin yang melayang -- menjulang tinggi untuk menembus penghalang tak kasat mata antara ke dimensi ke dimensi lainnya. Kalau begitu, sudah pasti kekasihnya di Earthrealm mengetahui perasaannya ini.
Di sebrang dimensi, jauh -- tetapi dekat -- dari Edenia, bintang-bintang di Earthrealm masih berkedip diatas langit yang suram. Matahari di Edenia sudah bangun dari lautan, namun pada jam yang sama di Edenia, Earthrealm masih di tumpahkan dengan kegelapan yang hangat.
Tepat di bawah bayangan bulan yang lama menaungi, sang pelindung Earthrealm, Sang Dewa Petir sendiri tidak tidur -- tidak pernah menurunkan kewaspadaan maupun keraguannya. Melihat keluar jendela dari dalam Kuil Langit, sang Dewa memperhatikan angin malam ini lebih kencang, menggetarkan sendi-sendi yang berderit dan berderak, mengalir melalui tulang belakang yang berderak. Sang Dewa Petir itu menangkap setangkai daun yang mendarat di lembah tangannya. Daun itu bergetar lemah di telapak tangannya, permukaannya berkilauan dengan percikan-percikan kecil, sementara tepinya menjadi renyah oleh aliran petirnya. Tetapi daun itu tidak terbakar -- hanya bersinar lembut, urat-uratnya bercahaya seperti benang petir. Dia memandang dengan kagum, menyadari bahwa kekuatan petir bukanlah kekacauan, melainkan penguasaan atas kekuatan yang destruktif: jika dia menghendakinya, bahkan hal terkecil pun dapat abadi di tangannya -- itulah mengapa daun itu belum saja terbakar hingga hangus.
Bagaikan cinta -- sangat rapuh -- dan hancurlah jika digenggam oleh ketidakpastian. Sang Dewa Petir melihat kerapuhan itu didalam setangkai daun tersebut. Sang Dewa ingin tahu, bagaimana jika ia terlalu berpegangan dengan yang tidak pasti? Ia mengalirkan sedikit tenaga dari kekuatan aslinya -- bagaikan sebutir pasir yang dibelah menjadi tujuh kali, tetapi bahkan sepotong kecil dari kekuatannya pun bisa cukup untuk melenyapkan daun itu di telapak tangannya. Dalam sekejap, daun itu langsung terbakar. Tampak malu-malu -- melengkung dengan api yang berkedip-kedip menari di perapian, dan begitu suara gemeretak dan letupan mereda, debu arak abu-abu berputar-putar di telapak tangannya. Raiden kembali lagi diingatkan oleh kekuatan yang ia tidak pernah minta untuk diberikan. Dewa Petir meremas debu di tangannya sebelum melepaskannya. Ia menatap setiap partikel-partikel debu halus yang terangkat dari permukaan tangannya, mengamati partikel-partikel itu terbawa angin.
Adapun segala sesuatu yang datang dari angin akan diambil kembali oleh angin itu sendiri…
Sang Dewa Petir itu telah percaya terlalu lama bahwa keteguhannya itu tak tertandingi dan tak pernah goyah. Pada kenyataannya, Sang Dewa hanya berlindung tentang ketahanan yang ia telah berdiri tegak itu hancur ketika ia berhadapan dengan Sang Ratu Edenia -- kekasihnya. Karena hanya kekasihnya yang bisa meredakan arus listrik yang kusut dalam dirinya dan membuatnya menyadari bahwa dia tidak perlu sepenuhnya mengendalikan dirinya sendiri, mungkin karena dia belajar untuk hidup tanpa menginginkan tamparan keras yang bisa menggugah nya.
Raiden mengeluarkan kertas yang disimpan di kantong jubahnya, amplopnya gagal menyembunyikan isinya sepenuhnya. Kertas itu menjelaskan perjalanannya ke Edenia. Sebelum matanya sempat melihat konten kertas yang terlipat itu, seekor merpati bentara mendarat di dahan di depan jendela. Sang bentara itu tidak mendesak, menunggu perintah Dewa Petir. Tangan Sang Dewa Petir tak pernah goyah saat menyalurkan murka ilahi: menghancurkan tulang, mengguncang tubuh, dan membelah udara dengan gemuruh badai; atau ketika ia melepaskan serangan mematikan yang menyalakan setiap urat saraf musuh; bahkan saat ia mengerahkan kekuatan badai yang terkonsentrasi dalam daging terdalam lawannya. Namun, ketika tangan yang sama itu hendak menyerahkan sepucuk surat kepada merpati bentara untuk kekasihnya di Edenia, tiba-tiba ia gemetar -- seakan badai petir tiba-tiba tunduk pada kelembutan.
Ia hanya menunduk dalam kekalahan, menarik kembali surat itu sejenak. Memberi sang burung sepotong kecil santapan sebelum akhirnya burung itu membentangkan sayapnya dan terbang menjauh ke langit yang belum terjamah.
Meskipun dia belum saja bertemu dengan kekasihnya secara langsung dari muka ke muka, ia mencondongkan badannya dalam kelemahan. Ia bertanya, sudah berapa lama mereka tidak bertemu? Raiden mengakui bahwa ia hampir tidak ingat kejadian kemarin atau apa yang akan terjadi besok -- mungkin karena sang kekasihnya tidak ada di sana.
Dia memandang setiap bintang di langit, begitu banyak di antaranya terasa seperti kenangan kecil yang dia ciptakan bersama kekasihnya, dan dia tak pernah bosan mengingatnya dan menceritakannya setiap kali.
“Sayangku, kiranya kita ‘kan bisa berteduh dibawah angsara, dipeluk angin senja selagi membaca karya puisi dan cerpen-cerpen romansa? Karena kau telah mengenalku lebih dalam daripada diriku sendiri. Lantas, dirimu yang lebih tertata daripadaku, lebih dewasa dan jiwa yang terbuka membawaku pada penuntutan belajar menjadi manusia.” Raiden mengingat sekilas janji-janji yang ia akan berikan ketika mereka bertemu lagi. “Namun, semua itu adalah sebab engkau adalah engkau, kau adalah yang kutemui dan akhirnya kucintai, menjadi landasan aku merasa aman, bahagia, nyaman, dan lega menapaki jalan yang telah kurencanakan sendiri.” Fajar mulai menyingsing -- datang tanpa keributan di bawah sinar matahari yang lembut, seolah-olah matahari sendiri tahu bahwa ia harus melepaskan malam. Begitu pula Sang Dewa Petir yang tahu bahwa waktu tak bisa ditebus dengan diam saja; ia memilih menempuh perjalanan ke Edenia, agar kerinduan terjawab oleh tatapan nyata sang kekasih. “Tatapanmu menembus hingga ke sukma, membangunkan kerinduan yang lama terpendam.”
Di Edenia, waktu terasa berlalu lebih cepat dari yang seharusnya. Mungkin hal itu terjadi karena Sang Ratu, yang tenggelam dalam rindu, ditemukan oleh ombak dalam keadaan tak berdaya, sampai-sampai ia terhanyut oleh waktu yang ia berharap akan membawa sang kekasihnya lebih cepat dengan genggamannya. Tau-tau saja, sore hari datang tanpa permisi.
Kedua bulan kembar Edenia telah muncul dari permukaan bawah tanah, hanya mengambang di atas peradaban, namun langit belum gelap. Langit tidak mampu, tidak dapat menerima bahwa Ratu masih merindukan kedatangan kekasihnya yang terlambat.
Sang Ratu Edenia melangkah sepanjang sisa koridor menuju lantai teratas dari Istananya, berniatan untuk segera kembali ke kediamannya. Cahaya matahari yang masuk ke jendela terasa seperti tamu yang tak diundang Melewati ruangan-ruangan tersebut Alih-alih, dia terus berjalan lebih jauh, melewati koridor terbuka dan lobi-lobi yang setengah dipenuhi oleh pria dan wanita yang bersantai di furnitur. Sang Ratu tidak tahu siapa orang-orang ini, mungkin mereka adalah ilmuwan, filsuf, atau ahli strategi yang masih tetap tinggal sebentar setelah pertemuan diplomatik hari ini -- mengingat betapa besarnya Istana Edenia, tidaklah aneh melihat bagian-bagiannya yang terbuka untuk umum, yang terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan tempat untuk beristirahat sejenak.
Tapi jujur saja, wajah-wajah figur lain tampak kabur di matanya hari ini. Dia hanya berharap wajah kekasihnya akan muncul dari salah satu kerumunan tersebut...
Jalannya tejeda ketika ia mendapati merpati bentara yang ia tunggu melintas dari langit. Sindel mengira kedatangannya tersebut adalah untuk perihal bromocorah. Tapi, sepertinya tidak mungkin. Merpati itu mencabik-cabik jendela istana, seolah-olah ingin masuk untuk menemui Sang Ratu. Sindel, menyadari hal itu, bergegas membuka panel bawah jendela. Saat jendela terbuka, seekor merpati itu hampir terjatuh, tetapi ia bangkit dan bertengger di bingkai jendela, sayapnya masih bergetar diterpa angin luar. Sindel hanya menatap dengan bingung, lalu melihat ke kanan dan kiri untuk memastikan apakah ada yang melihat situasi konyol ini.
Senyuman sang Ratu terampas saat ia melihat burung itu tidak membawa apa-apa baginya. “Tidak ada surat? *Ah*,” bibirnya terasa pedih karena mengulang fakta itu. Meskipun ia tahu sang kekasih tidak akan menghubunginya, masih ada sedikit harapan bahwa burung itu akan membawa sesuatu baginya. “Seberapa sibukkah dia?” ia menghela napas.
Sebelum dia bisa mengusir burung itu untuk menutup jendela, burung itu membentangkan sayapnya dan menghalangi Ratu untuk melakukannya. Sindel hanya menatap dengan frustasi, sebelum mendorong burung itu ke dalam. “Kamu benar-benar ingin menamaniku di sini, bukan? Baiklah. Aku memang tidak bisa marah padamu, kamu hanyalah seorang bentara…” Sindel mengusap pipi burung itu dengan jarinya. Sambil mencari sesuatu di sakunya, ia menyadari bahwa makanan burungnya sudah habis. "Ah, haruskah kita keluar ke halaman untuk mencari tempat makan burung di sana? Untung kita masih di lantai dasar," katanya sambil tersenyum lemah, membiarkan burung itu hinggap di lengannya saat mereka berjalan bersama.
Pintu gerbang Edenian berdiri di tengah-tengah halaman marmer, dihiasi oleh tanaman merambat berbunga yang tak pernah layu. Lengkungannya diukir dengan pola-pola lili dan bulan sabit yang halus, batu marmernya dipoles hingga berkilau lembut. Di dalam bingkai itu, permukaan seperti kaca cair berkilauan, bergelombang dengan warna ungu dan perak yang seolah-olah bernafas mengikuti ritme alam semesta itu sendiri. Udara di sekitarnya membawa aroma lembut bunga-bunga dan desiran pelan, seolah lonceng tak terlihat bergetar di taman. Tombak berujung kristal berdiri tegak di samping lengkungan, penjaganya diam dan waspada, memberikan tempat itu keanggunan yang khidmat. Portal itu sendiri terasa hidup -- tenang dan berwibawa -- sebuah ambang di mana keindahan dan kekuatan saling bertautan.
Tanpa sepengetahuan Sang Ratu, Sang Dewa Petir -- Raiden -- melintas melalui portal yang berkedip-kedip, sisa cahaya senja Earthrealm masih menempel pada jubahnya. Namun, ketika kakinya menyentuh tanah Edenia, langit telah berubah menjadi biru tua, dihiasi bintang-bintang. Perubahan mendadak ini terasa seperti beban yang menghimpitnya -- seolah-olah Edenia sendiri menolak untuk beresonansi dengan Earthrealm, mengingatkan dia bahwa dia hanyalah seorang pengunjung sementara di tanah ini yang diatur oleh hukum dan waktu yang berbeda.
Saat Raiden siap untuk melangkah lebih jauh, dua penjaga mendekatkan tombak mereka ke lehernya, sementara yang lain menendang lutut Raiden dan membuatnya berlutut di tanah sepenuhnya. Para penjaga membuatnya menetap dalam posisi itu sebentar sebelum mengidentifikasi sang penyusup. "Menyerahlah! Kau adalah..." dan di sana, Dewa Petir Sang Pelindung Earthrealm berada tepat di hadapan mereka.
Sang Dewa Petir menahan tawanya di balik giginya yang terkatup erat. Ia melirik ke para penjaga tanpa menoleh kepalanya sama sekali, "Kau bisa mengakhiri hidupku sekarang. Tapi kau memilih untuk tidak melakukannya…?" Raiden berbicara dengan pisau yang didekatkan ke tenggorokannya, seolah-olah mengancam kedua penjaga tersebut. Memasuki dimensi yang lain– terlarang bukanlah hal biasa, melainkan insiden yang sangat langka. Akibatnya sangat berat, mengarah pada kematian yang mengenaskan. Mungkin karena penyusupnya adalah Sang Dewa Petir, mereka mungkin akan membuat pengecualian kali ini.
…Karena ini bukanlah kejadian pertama kalinya.
Kedua penjaga mendekatkan pedang mereka ke leher Dewa Petir. Namun, dia tidak bergeming sedikit pun. Raiden tahu saat dia akan menyerang, tetapi sekarang, situasi tampaknya belum memburuk. Namun, jika kedua penjaga tersebut benar-benar berencana menyerangnya, mari kita katakan saja dia akan menang.
Salah satu dari penjaga itu melirik ke rekannya, sebuah isyarat halus yang segera dipahami. Tanpa suara, langkah ringan membawanya keluar dari lingkaran portal menuju lorong berhiaskan batu pualam. Udara Edenia yang harum bunga tetap terasa tenang, namun ketegangan tipis merayap di antara para penjaga. Di sisi lain halaman, burung-burung masih berkerumun di tempat pakan, sayap mereka bergetar lembut di bawah cahaya bulan. Sang Ratu, yang tengah menaburkan biji-bijian ke wadah kayu, belum menyadari gerakan itu. Sementara satu penjaga tetap tegak di sisi portal, mata tajam meneliti bayangan yang mencurigakan, rekannya melangkah lebih jauh, bersiap menyampaikan kabar tentang penyusup yang telah menembus halaman istana.
Prajurit penjaga melihat Sang Ratu di halaman lain– tidak jauh dari lokasi portal Edenia, meskipun lebih dekat ke arah Istana, sedang memberi makan para burung melalui tempat makan yang telah disediakan. Tanpa ada tanda-tanda bahaya mendadak, kehadiran prajurit penjaga mengganggunya. "Mengapa kau ada di sini?" Sindel berkata dengan nada yang kurang tertarik. Hal itu sedikit membuat prajurit penjaga khawatir, namun mereka tetap menyampaikan pengumuman mereka:
"Kau mungkin ingin tahu siapa yang melanggar batas Edenia kali ini."
"Aku mengerti." Sindel menghentikan memberi makan burung, namun saat ia menyadari bahwa ia telah menuangkan seluruh kantong makanan dan beberapa tumpah ke tanah dari wadahnya. Mengikuti instruksi prajuritnya, Sindel tuntun tanpa benar-benar peduli. Pandangannya menuju langkah-langkah kakinya sampai ke tempat tujuan, namun matanya tetap kokoh tanpa pantangan pada pandangannya. Lagaknya seperti tidak peduli, suara-suara familiar mulai muncul ke permukaan yang lama tenggelam…
Sepertinya…
…Raiden?
…
“Apakah aku adalah pesan yang kau tunggu-tunggu?” Raiden berkata, “Aku memayu pertemuan kecil-kecilan kita bersama semesta, sejak pagi sudah kutemui sore untuk izin menculik senja yang kau puja.”
Kicau jalak, dengung lebah, randa tapak yang mekar. ataukah -- di antara semua suara itu, suara kekasihnya terdengar lebih jelas daripada yang lain. Lamunannya berderak liar, dan perlahan, suara pecahan air mata, dan intuisi yang lelah dibuyarkan dalam dirinya hanya dalam serangkaian kalimat. Lidahnya kelu. “Dewa Petir-ku…” Sindel menangkat kepalanya hanya dalam sekilas untuk melihat Raiden, yang berada di seberang portal darinya. Dia segera berlari ke pelukannya, di mana para penjaga telah menarik kembali tombak mereka darinya. “Mengapa kau tidak mengabari ku sama sekali? …Namun ini sudah jelas kamu melanggar protokol keamanan Edenia– lagi!”
“Setidaknya, dalam keadaan yang berbeda, bukan?” Raiden menoleh untuk melihat Sindel mengangguk. Ia memeluk pinggangnya erat-erat, membenamkan wajahnya di pundaknya yang empuk. Aroma *sandalwood*, lavender, dan parfum mawar yang sering ia pakai langsung menyeruak -- sebuah kombinasi aroma yang bagi Sang Dewa Petir lebih berharga daripada parfum termahal di dunia. Raiden memeluk Sindel erat-erat, seolah-olah ingin menahan waktu dan tugas agar tidak mengambil apapun lagi. “Maafkan aku.”
“Untuk apa?” Sindel tersenyum, menatap mata sayu milik sang kekasih. Tangan hangat mulai melingkari pipinya. Sebelum Raiden mengangkat kepalanya untuk melihatnya, untuk menghadapi dirinya. Ada rasa hangat yang hampir tak tertahankan di antara mereka.
Sang Ratu menemukan dirinya tidak bisa bergerak saat menyadari hal itu. Tanpa kisaran aba-aba, ia berdiri di ujung jari kakinya untuk meraih wajahnya -- bibir mereka saling menempel -- merindukan bibir satu sama lain yang manis. Mata Raiden melebar karena terkejut saat bibir Sindel menempel lembut padanya. Ia mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri, lalu perlahan menutup matanya dan membalas ciumannya. Tangan Sindel mencengkeram lengan Raiden dan membimbingnya melingkari pinggangnya. Bibir mereka terpisah dengan cepat oleh lidah dari satu sama lainnya, untuk sejenak, mereka berhenti di dalam keheningan dan saling memandang.
Tangannya akhirnya merayap ke bahunya dan meluncur ke belakang lehernya untuk melepas ikat rambutnya -- rambut putih licin dan panjangnya yang serasi dengannya. Sebelum mereka merapat di antara mereka untuk menyentuh dadanya. Dan saat dia menarik diri, Sindel merasa nafas lembut lolos dari mulutnya. “Jangan pernah menunda-nunda pertemuan kita lagi.”
"Aku tidak akan." Raiden menjawab dengan senyuman lembut, mereka akhirnya menjauh satu sama lain. Namun tangan mereka saling terjalin dengan berantakan. "Jadi, bolehkah aku meminjam Ratu Edenia untuk sisa malam ini?"
Sindel melirik dengan senyum sinis. "Kamu bahkan tidak perlu bertanya lagi, sayangku. Ingat apa yang ingin kita lakukan saat kita bertemu lagi?"
"Aku bisa menghitung semua bintang di langit dan daftar itu bahkan tidak akan berakhir. Aku tahu kamu tidak akan membuang waktu begitu aku menginjakkan kaki ke Edenia."
§§§
Itulah saat mereka menyadari bahwa mereka benar-benar tidak bisa menghindari tugas-tugas mereka sama sekali, tapi mereka tetap menikmatinya. Itulah yang membuat hidup mereka lebih menarik... karena mereka adalah rumah bagi satu sama lain, bukan? Selalu ada sesuatu dan alasan bagi mereka untuk terus hidup sebagai makhluk abadi.
