Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-02-20
Words:
781
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
82
Bookmarks:
3
Hits:
920

after live

Summary:

deeptalk dikit, selebihnya marhoon genre teman level 5.

Work Text:

kamera sudah mati sejak 5 menit yang lalu.

"ju.."

"hm?"

"aku barusan cerewet banget ya?"

juhoon meletakkan ponselnya di atas meja. kursinya ia putar menghadap martin yang sedang duduk di sofa.

"enggak. kenapa bilang gitu?"

martin mengangkat kepala untuk bersitatap dengan manik boba yang lebih tua.

"maaf ya kalo aku selama live jadi talkactive banget."

"kenapa sih? kamu overthinking-in apa? kayak gak biasanya."

"ju.."

"kenapa, martin?"

"kamu capek gak dengerin aku yang selalu ngoceh?"

"enggak."

"kamu bosen gak dengerin aku yang ngomong itu-itu mulu?"

"enggak."

"kamu—"

"enggak. justru itu ciri khas kamu. aku gak suka ya kalo kamu tiba-tiba jadi pendiem habis deeptalk gini. aku benci banget kalo kamu udah jadi orang lain tiap habis overthinking-in sesuatu."

"ju.."

"kamu gak berisik, martin. kamu bukan aneh, kamu unik. kamu selalu punya cara tersendiri untuk menunjukkan jati diri kamu ke dunia. kamu keren dengan cara kamu sendiri. jangan ngerasa kalo gak ada yang sayang ke kamu. kamu berhak dicintai dari segala sisi yang ada di dalam diri kamu."

"ju.. aku mau nangis.."

"nangis aja. cuma ada aku di sini. gak ada mata lain yang akan memandang kamu dengan tatapan mengejek cuma gara-gara selama ini mereka gak pernah liat kamu nangis di depan kamera."

"ju.. makasih ya.."

"untuk?"

"semuanya. makasih karena gak pernah anggep aku aneh. makasih karena jadi support system disaat aku lagi di titik terendah selama ini. makasih karena kamu selalu dengerin apapun yang aku lontarin walau itu gak berguna sekalipun. makasih atas respon lucu kamu yang selalu bikin aku ketawa lepas, dan terakhir, makasih karena udah jadiin aku sebagai role model kamu."

juhoon tersenyum tipis.

"jangan murung lagi ya, bukan cuma aku yang gak suka, member lain dan fans kita juga gak akan suka kalo kamu jadi pendiem."

martin tersenyum lebar.

"OKEEE!"

"lagian kenapa sih tiba-tiba banget nanya gitu?"

"ya gak tau, kepikiran aja. mumpung cuma kita berdua doang yang live."

juhoon angguk-angguk.

"tapi beneran deh ju, aku makasih banget untuk semuanya. walau kamu sebenernya gak jauh beda dari member lain."

"kenapa nangisnya gak jadi? tadi katanya mau nangis?"

"gak ah. nanti kamu cepuin ke yang lain kalo aku habis nangis."

"emang ketebak ya?"

"tuhkan!"

juhoon tertawa.

"nanti aku videoin kalo kamu beneran nangis di sini. terus aku upload pas ulang tahun kamu besok."

"dih?! aku rampas hp kamu, terus aku hapus videonya."

juhoon mengendikkan bahu santai.

"coba aja," katanya sambil memutar kursi menghadap depan.

"ju."

"apa?"

"hadep sini dong."

juhoon yang tadi menghadap layar komputer pun kembali memutar kursinya untuk merespons martin.

keduanya bertatapan cukup lama. martin yang sedang bergelut dengan isi pikirannya, dan juhoon yang sedang menunggu tindakan martin selanjutnya.

"lama ah—"

"can i feel your lips?"

juhoon mematung seperkian detik setelah kalimat itu mengudara.

"hah?"

"maaf, aku lancang. tapi aku daritadi salfok terus ke bibir plumpy kamu.. kalo gak mau, gapapa, ju. maaf ya, impulsive thoughts ku yang mengambil alih barusan."

telinga keduanya memerah malu. bahkan wajah martin sudah seperti tomat sekarang.

"gak ada yang bilang gak mau kok."

martin yang tadinya menunduk pun langsung mendongak.

"hah?"

juhoon berdiri, kakinya melangkah dan berhenti tepat di depan yang lebih tinggi.

tangannya mengangkat dagu martin agar menengadah menatap matanya.

"ju—aku gak maksa."

"dan aku gak terpaksa."

juhoon menunduk untuk menempelkan bibir mereka—hanya hitungan detik.

bibir martin masih terbuka sedikit bahkan setelah juhoon menjauhkan wajahnya.

"suka?" pertanyaan bodoh yang juhoon lontarkan membuat kepala martin pusing seketika.

sadar dengan ucapan yang asal keluar, juhoon rasanya ingin mengubur diri hidup-hidup sekarang.

belum sempat kakinya melangkah mundur untuk kembali duduk di kursi, tangan martin sudah menarik pinggangnya.

"aduh—"

juhoon terduduk di atas pangkuan yang lebih muda dengan posisi saling berhadapan.

jantung keduanya berpacu cepat.

"tin—kita di studio.." cicit juhoon membuang muka. entah hilang kemana keberaniannya tadi.

"emang kenapa?"

"nanti kalo tiba-tiba ada yang masuk gimana?"

"ini studio pribadiku btw."

ah sial, juhoon lupa fakta ini.

tangan besar martin bertengger nyaman di pinggang rampingnya.

"hadep sini dong."

"gak mau." juhoon memandang apapun di sekitarnya asal bukan mata martin.

"kenapa?"

ia akhirnya memilih bersembunyi di leher yang lebih muda.

"malu," gumamnya dengan pipi merah sempurna.

martin tertawa.

"mana ya yang tadi berani maju dan cium duluan?"

juhoon memukul pelan bahu lebar sang leader agar berhenti menggodanya.

martin mengelus punggung sempit juhoon lembut.

"makasih lagi ya."

"hmm.."

"bilang sama-sama dong. masa cuma dehem doang?"

"sama-sama.."

"makasih."

juhoon kesal, ia mengangkat wajah dan berkata, "iya! sama-sama! kenapa makasih terus sih?"

"ya biar sama-sama terus."

juhoon membungkam mulut martin dengan tangan kecilnya.

"udah ya, kita bukan lagi fansign, simpan gombalanmu itu buat fans aja."

martin menyingkirkan perlahan tangan kecil juhoon dan menggenggamnya.

"emang kamu gak mau denger gombalanku yang oke ini?"

"enggak, makasih."

"iya, sama-sama, ju."

"IHH!"

martin tertawa puas setelah berhasil membuat rekannya itu kesal.