Work Text:
sebagaimana yang emang udah jadi rahasia umum ya, kalau kaisar sama sabil itu dianggap sebagai pasangan si paling produktif tapi tetep bisa harmonis. kayak, padahal semua orang juga tahu kalau mereka punya kesibukan masing-masing dan itu bikin keduanya jadi enggak bisa setiap hari juga buat intens ketemu, tapi gak tahu kenapa kok kayaknya malah selalu bisa aja buat kelihatan berdua terus; nempel, satu paket, gak terpisahkan.
romantis terus, katanya.
ya, iya sih. kaisar and sabil are romantic, sometimes. but they actually are just so unserious most of the time.
orang-orang kalau dikasih kesempatan buat sedikit aja ngintip gimana percakapan mereka terjalin di kesehariannya mungkin bakal cuma bisa geleng-geleng kepala, karena kebanyakan isinya cuma kayak kaisar yang ngegodain sabil sampai borderline mancing emosinya, atau sebaliknya; sabil yang iseng sama kaisar sampai anaknya bisa aja jadi seharian rewel gak karuan.
salah satu gambaran nyata dari itu semua sepertinya adalah apa yang sedang terjadi sekarang ini. januari dan februari jelas jadi salah dua dari bulan paling bermakna bagi keduanya, karena di januari kemarin itu sabil ulang tahun dan di selajutnya di february adalah bulannya kaisar. sayangnya, kesibukan mereka bikin keduanya jadi ngerasa belum maksimal aja ngerayain hari-hari spesialnya. sure, mereka tetep jadi yang pertama buat saling ngucapin selamat, ngasih kado juga enggak kelewat, apalagi sempatkan waktu buat jalan berdua. tapi gak tahu kenapa rasanya kayak masih kurang aja.
(“kayaknya kita masih butuh sedikit lebih banyak quality time lagi deh,” ungkap sabil di suatu malam waktu keduanya lagi ngobrol berdua balkon apartemen sabil.
tapi kaisar malah balas pakai bercandaan, “jadi butuhnya sedikit atau banyak nih?” yang langsung bikin sabil yang emang lagi dia peluk dari belakang itu langsung menyikutnya spontan. “heh, galak banget sih? aku cuma nanya aja loh, teh?”
“intinya kita masih perlu quality time lagi, aseeep.”
lengan kaisar yang awalnya memeluk hangat pinggang ramping sabil pun kini bergerak naik jadi melingkar di bahu dan lehernya, sementara tangan sabil refleks ikut bergerak dengan menggenggam lengan kaisar. kedua tubuh jadi semakin merapat, lebih protektif dan hangat. “kayaknya kita nanti ada free sih, tiga hari dua malam. mau?”
“iya makanya aku ngomong.” sabil sudah tahu faktaitu ternyata. “tapi kemana, ya? aku lagi gak mood ke tempat yang rame.”
“villa-nya papah aja sih yang gak terlalu jauh dari kota, biar enak juga kamu kalau ada berubah pikiran.”
“oke.” sabil mengangguk setuju. “villa papah it is.”)
so here they are, pada hari kedua menghabiskan waktu berdua di villa milik papahnya kaisar. emang romantis sih ya, kelihatannya. tapi kalau diamati lebih dalam, mereka sebenarnya gak banyak ngelakuin hal yang spesial juga? di kebanyakan waktu, mereka kerjaannya cuma leyeh-leyeh sama main game konsol aja. kadang karaoke juga sih; nyanyi dengan lepas—dari playlist yang dibuat khusus sama mereka—selama beberapa jam sambil badan meliuk kesana-kemari dengan bebas, berasa dunia ini pemiliknya cuma mereka. sampai suara serak, dan badan udah kirim sinyal buat stop banyak gerak.
atau juga agenda sabil memasak, like, he’s literally cooking. because one thing about sabil, dia punya selera makanan yang unik. jadi kadang, anaknya emang suka eksplorasi resep sendiri. terus kaisar? dia sih bagian spektator (sabil gak kasih dia hak buat ikut bantu, yang ada malah ganggu—gitu, katanya), dan sesekali jadi komentator juga (kalau sabil ada kasih dia hak untuk bicara). jujur ini agak domestik ya rasanya, dan kaisar juga gak bisa bohong kalau sesekali dalam kepalanya suka jadi bikin ruang khusus buat kumpulan fragmen masa depan dimana ia harap sabil akan selalu ada di dalamnya.
(“kamu pasti bakal sebut aku gila.” kaisar yang dari tadi duduk di kitchen island dan anteng nontonin sabil yang dari tadi sibuk mondar-mandir meracik di dapurnya. “tapi karena kamu sih, teh. jadi ya, wajar.”
“kenapa?” sabil sempatkan buat ngelirik kaisar selama tiga detik sebelum lanjut fokus buat persiapan plating. “kamu kepikirian hal gila apa emang?”
“aku kayak pengen waktu buat berhenti sekarang.” cuma ada kita. teteh dan aa kasepnya. “gila ‘kan, ya?”
“iya,” jawab sabil cepat, dengan nada menggoda. setengah bercanda, setengah realistis. “karena ya mana bisa waktu buat berhenti sih, asep?”
kaisar terkekeh. “ya ada juga sih pemikiran lain yang lebih realistis.”
“apa?”
“a future with you.” dan dari gimana cara kaisar ngomong, itu kayak kedengeran begitu ringan. tapi kalau boleh dia jujur, enggak ada kata lain yang cocok buat gambarin gimana perasaannya sekarang selain keseriusan. “i know maybe it’s too early for me say this. but it doesn’t change the fact that i really want it. aku mau situasi kita sekarang ini jadi salah satu gambaran nyata dari hidupku di masa depan nanti.”
“ewww, giunggg.” ya tipikal sabil, sih. bibirnya yang sibuk mencibir itu jelas kontradiksi sama gimana kondisinya yang udah merah semuka-muka. “sini, deh. biar aku garemin mulutmu itu ya, asep.”
lucu banget sih, pikir kaisar. “ya garemin aja sini,” tantangnya. terus seringai khasnya yang tengil itu sama sekali gak dia tahan, ditambah alisnya juga ikut naik menggoda. Tubuhnya dicondongkan ke depan, semua beban ditumpu pada kedua lengan yang bersedekap di atas meja. “i just gotta make you taste your own medicine, then.”
sabil mati-matian menahan diri, untuk tidak melempar muka tengil kaisar dengan sendok di tangan atau membungkam mulut menyebalkan itu dengan bibirnya sekalian. there’s no in between.)
also, another thing about sabil. anaknya tuh out of the box, yang pada banyak kesempatan ini sangat amat menguntungkan karena dia sering kali jadi the idea bank di berbagai situasi apalagi pas lagi kepepet buat nyari suatu solusi. tapi pada beberapa kondisi lain, kaisar kadang jadi korban dari kemunculan ide randomnya yang enggak terduga itu. not that kaisar is complaining, though. dia sih bulol ya, sabil mau apa juga bakal diladenin sama dia. dan salah satu contohnya ya di waktu short escape ini nih, sabil yang lihat ada beberapa potong kayu beserta sebuah kapak yang tergeletak di pekarangan belakang villa itu langsung aja inisiatif buat motong hampir semua kayu di sana. let’s make a campfire tonight, katanya. ngide banget emang. kaisar? gak usah ditanya. semua juga pasti udah tahu jawabannya; iya-iya aja dia mah.
(“apaan sih, ah. nyebelin banget.” sabil ngedumel, bibirnya sampai termanyun-manyun saking dia kesal. sementara kapak masih kokoh dia pegangin di kedua tanganya, dan sebongkah di hadapannya lagi dia tatap tajam sampai dahinya mengkerut seolah kayu itu adalah the enemy final boss yang harus dihancurkan saat itu juga. “kok gak bisa terus dari tadi, sih?!”
kaisar yang dari tadi nontonin dari samping pun jadi menghembus nafas berat. dia sempet ada geleng-geleng kepala dulu sebelum akhirnya maju beberapa langkah lebih dekat. “sini biar aku coba. awas!”
jujur sabil skeptis. tadi sebelum ini juga kaisar udah coba bantu sejak awal sih, tapi hasilnya kayak delapan puluh persen sabil yakin kalau dia jauh lebih jago dalam memakai kapaknya. makanya kaisar berakhir jadi penonton aja dari tadi.
di sisi lain, sekarang kaisar ada mengamati si bongkahan kayu tadi selama beberapa detik—mencari celah. setelahnya dia pegang ujung atasnya yang emang udah cukup terbelah sama kapak sabil tadi, dan gak lama setelahnya—
srakkk.
—kayu itu terbelah jadi dua. kaisar berhasil melakukan itu hanya dengan tangan kosong, hanya bermodal tenaga yang dia punya.
“wow.” sabil kelihatan terkesan. dan kalau sampai ada terlintas sebuah pikiran semacam, not gonna lie that’s kinda hot, maka tentu saja sabil tidak biarkan sepatah kata pun dari kalimat tersebut berhasil lolos dia suarakan. pada akhirnya dia mengucapkan, “yaudah kamu lanjut bantuin aku kalau gitu. please.”
dasar gengsian.
tapi kaisar sepertinya gak sadar soal itu, sih. dia enggak banyak bicara dan betulan fokus buat bantu sabil memotong sisa bongkahan kayu yang beruntungnya cuma tinggal sisa sedikit.
“eh, sakit gak sih itu?” dan sabil baru menyadari begitu semua kayu selesai dipotong. kapaknya dia lempar asal, untuk kemudian hampiri kaisar dan pegang kedua tangannya. dari sorot matanya tersirat khawatir, dan nada bicara terdengar begitu merasa bersalah. “maaf…”
“sakit…” bohong. itu cuma akal-akalan kaisar. “kiss the pain away,” tuntutnya, modus mampus.
sampai di sini baru lah sabil sadar soal akal bulus kaisar. tapi rasa bersalahnya enggak lantas jadi hilang, makanya ia pilih buat ikutin alur maunya kaisar. “iya tapi cuci tangannya dulu, ih. jorok.”
“kelamaan,” protes kaisar. lantas badannya dicondongkan ke depan biar makin dekat sama sabil, menegaskan sinyal kalau ada bagian tubuh lain—wajahnya—yang bisa dijadikan opsi. “yang ini gak perlu dicuci dulu.”
sabil memutar matanya jengah. kaisar ini, emang ada aja akalnya. tapi bukan sabil sih namanya kalau dia enggak bisa imbangi itu semua.
cup. satu kecup mendarat di pipi kanan. “cuci—” lalu, cup. satu kecup lain mendarat di pipi kiri. “—tangannya—” dan terakhir, cup. satu kecup lagi mendarat tepat di bibir. “—dulu.”
dan kaisar, tentu aja tetap jadi kaisar si manusia gak tahu diri dan penuh rasa serakah kalau sudah hubungannya dengan sabil. makanya dia tetap aja layangkan protes, “masih kurang, teteh,” ungkapnya gak tahu malu. dia bahkan setengah merengek. “kurang banyak. kurang lama.”
“ya cuci tangan dulu!” ulang sabil, menegaskan untuk kesekian kali. “tangan kamu tuh ‘kan suka gak bisa diem. nakal. aku gak mau dipegang-pegang tangan kotor!”
dan kayaknya, kaisar enggak pernah berlari buat cuci tangan secepat itu di seumur hidupnya.)
lalu sekarang, jarum jam di dinding menunjuk pukul setengah enam sore, kaisar dan sabil sebetulnya sudah punya rencana sejak setengah jam lalu untuk main ke pasar malam yang katanya berada tak jauh dari villa. tapi sepertinya rencana hanya tetap akan tinggal sebagai rencana aja, karena bahkan dari satu jam yang lalu pun kaisar sudah ditinggal sendirian sama sabil yang mendadak dapet meeting call perkara ukm radionya.
sebagai mahasiswa yang juga aktif berorganisai, kaisar jelas bisa ngerti. sementara sebagai pacarnya sabil, kaisar enggak bisa bohong dan bilang kalau dia gak bete. maka akhirnya dia putuskan buat menenangkan diri dengan berenang di kolam renang yang emang tersedia di villa. paling enggak kepalanya bisa jadi dingin dan semoga aja pikirannya juga bisa kembali jernih.
sementara sabil baru selesai dengan segala urusan meeting call-nya itu di sepuluh menit kemudian. dia tahu kaisar berenang karena kaisar tadi sempat bilang dulu, makanya sabil langsung berlari ke arah kolam dan berdiri tepat di tepinya. lantas pandangannya jatuh terpusat ke sang pacar yang anteng bergerak di bawah permukaan air.
“asep,” panggil sabil sekali, yang sama sekali gak dapat respon apa pun setelahnya. apa dia marah, ya? pikirnya. lalu ia coba panggil lagi, dengan nama aslinya. “kaisar!”
tak lama setelahnya, kaisar muncul ke permukaan air yang dalamnya cuma sebatas dada. lantas ia usap wajahnya yang dilanjut dengan sesi menyurai rambut basahnya ke belakang. fokus sabil yang masih terpusat ke kaisar akhirnya bikin dia jadi sadar kalau pacarnya itu berenang tanpa atasan yang sebelumnya dipakai. dan ini biasa terjadi sih sebenarnya, cuma ya gak tahu kenapa juga kadang masih aja dia ngerasa tersipu malu dibuatnya.
“jadi gimana?” sabil bertanya. sepenuhnya mengabaikan sensasi menggelitik di balik perutnya yang makin muncul seiringan dengan makin lamanya ia pandangi kaisar. “gak jadi main ke pasar malamnya?”
“kamu maunya gimana?” kaisar mendekat ke tepi. “aku ngikut kamu aja.”
sabil menggigit sudut bibirnya gelisah. sekarang posisinya dia udah jongkok, dan dalam jarak sedekat ini malah jadinya sedikit gugup. “asep marah ya…?” tanyanya hati-hati.
“bete aja sih,” jawabnya jujur. “tapi aku ngerti, bukan salah kamu juga.”
“tapi masih bete gak?”
“udah enggak.”
“yaudah naik kalau gitu,” usul sabil. “jangan lama-lama. nanti masuk angin.”
“aku sama air udah sahabatan dari umur lima tahun, teteh.” kaisar ketawa kecil. “segini doang mana bisa bikin masuk angin sih?”
“jadi kamu lebih milih sahabat kamu si air ini ya dibanding aku?”
“mending kamu kenalan lagi si air sahabatku ini deh sini. ayo, join!”
“enggak mau.”
“yaudah lima belas menit lagi deh. baru aku naik.”
“lima menit.”
“sepuluh menit.”
“sekarang.”
“oke.” kaisar tiba-tiba menurut. ada kekeh kecil sebelum dia mengulurkan tangannya ke sabil. “tapi bantuin naiknya.”
lantas sabil berdiri buat menyambut uluran tangan kaisar itu, tanpa prasangka apa pun. tanpa sadar sedikit pun kalau ada seringai kecil yang mati-matian ditekan kaisar supaya enggak muncul. kaisar betulan main cantik. makanya begitu tangan mereka bertaut, sabil sama sekali lagi gak punya kekuatan buat bertahan sehingga dengan gampangnya dia kehilangan keseimbangan meskipun kaisar cuma keluarkan sedikit dari tenaganya untuk menarik sabil ke arahnya.
byuuur!
sabil sepenuhnya basah—badannya berhasil ikut tercebur ke dalam kolam. “aseeep!!!” protesnya setengah berteriak.
sementara kaisar cuma ketawa; keras dan lepas. he looks really happy, dan sabil jadi enggak tega buat marah. lagian agenda pacaran ke pasar malam mereka berakhir jadi gagal 'kan salah satunya karena sabil juga, jadi anggap aja ini salah satu usaha dia buat menghibur pacarnya yang gampang rewel itu deh. halah, bucin.
maka pada akhirnya sabil cuma sedikit menciprat air ke muka kaisar, karena ya dia masih ada keselnya juga sih. sedikit. “rese banget sih!” dia protes kecil, sambil berusaha bergerak menuju tepi kolam.
tapi kaisar enggak bisa biarin sabil lolos gitu aja.
“e-eh. hah?!” sabil kaget. tepi kolam yang awalnya udah deket jadi berasa tiba-tiba ngejauh gitu aja. “asep. hEH–! LEPAS!”
ya, betul. kaisar baru aja rangkul sabil dari belakang, terus badan ramping yang lagi berusaha buat berontak itu dia tarik ke tengah kolam buat akhirnya dia iseng tenggelamin kecil di sana.
“hahahahaha…” si tengil ketawa. terus nanya dengan sok polosnya, “enak ‘kan? seger.”
“ENGGAK YA. RESE!” sabil teriak kesal, begitu kepalanya berhasil naik lagi ke atas permukaan air. Pun dia gak banyak buang waktu buat balas dendam dengan mencipratkan air ke muka kaisar. keras dan tanpa ampun. “makan tuh seger. rasain!!!”
dan sebenarnya kaisar bisa aja coba balas sih—tapi enggak, deh. gak tega. makanya dia berakhir jadi cukup kewalahan juga, jadi yang bisa dilakukan ya cuma bergerak mundur buat menghindar. “eh, ampun. teteh, udah! iya ini aku nyerah. nyerah! ampun, teh!”
cuma ya namanya laki, emang kadang omongannya gak bisa buat dipegang. ngomongnya sih ampun, tapi isi kepalanya ternyata lagi nyusun strategi lain lagi. karena begitu kaisar rasa kalau perlawanan sabil makin lama makin menurun intensitasnya, maka dia cari celah buat langsung narik sebelah pergelangan pacarnya itu.
sreeet!
gerakannya cepet banget. sabil sampai bingung sendiri karena tiba-tiba aja dia ngerasa badannya udah merapat sama badan lain di depannya, terus tahu-tahu juga pinggangnya udah dirangkul erat sama kaisar.
jadi sabil cuma bisa terkaget, sampai lupa panggil pake sebutan kesayangan, “kaisar—” tapi terus suaranya tiba-tiba tercekat begitu sadar kalau nafasnya jadi pendek dan terputus-putus, karena kayaknya tadi dia udah terlalu banyak keluarin tenaga buat aksi balas dendamnya ke kaisar. setelahnya tiba-tiba panik mulai menyerang, sabil jadi semakin sulit buat suarakan kalimat utuh yang panjang. makanya yang bisa keluar dari mulutnya malah cuma suara gagap yang kedengaran memalukan. “le-lepas!”
ah, sial.
sabil malu banget. sumpah. padahal ini cuma kaisar? tapi sekarang bahkan buat lihat mukanya yang jelas ada di depannya—sedekat itu—aja sabil gak berani. sekarang rasanya permukaan air kolam justru kelihatan jauh lebih menarik dari eksistensi pacar tengilnya.
riak gelombangnya gak beraturan. persis kayak debaran jantung sabil sekarang.
di sisi lain, kaisar udah gak bisa sembunyikan senyumnya. si cantik yang lagi salah tingkah di hadapannya sekarang tuh kelihatan lucu banget, udah enggak ada tandingannya lagi di dunia ini. kaisar jadi pengen lebih godain si cantik kesayangannya itu lagi, deh.
“sabil. hei,” panggilnya lembut, tapi juga agak sedikit seduktif. “sini ngomongnya sambil lihat aku.”
gak bisa, anjir. sabil rasanya pengen teriak kayak gitu. ini kayak, semua sensasi menggelitik di dalam perutnya yang sempat dia tekan di awal tadi itu sekarang jadi tiba-tiba menyeruak di luar kendali. sabil berasa lagi dikeroyok sama perasaannya sendiri. sementara kondisi kaisar yang di matanya sekarang jadi berkali lipat lebih atraktif itu pun jelas enggak membantu sabil sama sekali.
gila.
“gak mau.” susah payah sabil coba mengelak. “lepas—”
tapi kalimat itu gak sempat terselesaikan karena tentu saja kaisar memotongnya, “lihat dulu, teteh.” terus wajah sabil dia tarik, dagunya diapit antara telunjuk dan ibu jari kaisar. “nih, lihat. gini. gak susah ‘kan?”
susah! lagi, dan lagi, sabil gak bisa suarakan isi hatinya, sebab dia kayak udah kepalang malfungsi aja. apalagi waktu akhirnya pandangan mereka bersirobok. god, this is so embarrassing. dia pacaran sama kaisar udah bertahun-tahun, tapi rasanya kayak masih sama dengan dia baru pertama kali kontak fisik di masa mereka masih pdkt-an.
mungkin karena cinta itu enggak bisa hilang, atau bahkan semakin tanpa sadar kalau makin hari malah makin membesar.
lalu kaisar buka suara lagi, “kenapa jadi pendiem gini sih?” tangan kanannya berpindah buat menangkup sisi kiri wajah sabil, seraya ibu jarinya mengusap lembut pipi yang terasa begitu halus di bawah kulitnya. “karena dingin, ya?”
dengan segala sisa kekuatan yang dia punya, sabil akhirnya berusaha untuk tidak jatuh lemah dalam jerat muslihat kaisar begitu saja. matanya menyorot nyalang, sebisa mungkin menutupi gugupnya dengan berusaha terlihat mengintimidasi. “and if you say something like, mau aku angetin or some shit like that, awas aja. aku ikat bibir kamu pake karet nanti!”
yah, ketahuan. kaisar ketawa dalam hati. “enggak, tuh? sok tahu banget sih,” elaknya. dia masih punya seribu akal buat terus godain pacarnya lagi. “orang aku mau nanya, kalau bukan karena dingin terus kamu diem kenapa?”
sabil diem. masih berpikir harus balas kayak gimana.
“atau—” kaisar buru-buru bicara karena dia gak mau kalau kecolongan lagi. “—kamu gugup, ya?”
uno reverse card. sekarang sabil yang ketahuan.
dalam hatinya, kaisar menyeringai puas. dalam kenyataannya, dia lanjut menjalankan aksi bermain dengan pandangannya; kedua mata lantas bergerak, menelusur pelan dari mata sabil terus turun ke bawah sampai berhenti di kedua bilah bibirnya.
and kaisar had literally mastered his own game.
karena di detik itu juga, gak ada yang bisa mengisi ruang di antara mereka kecuali sebuah perubahan ketegangan yang seolah menarik keduanya untuk jadi saling mengikis jarak.
“mau dihilangin gak gugupnya?” pandangan kaisar naik lagi, jatuh tepat di kedua netra sabil. intense. dan sementara enggak ada satu pun dari mereka yang memutus pandangan, tangan kaisar turun dari pipi sabil, menyusuri rahang terus sampai berhenti di bahunya. lalu kepalanya ikut condong buat betulan mengikis jarak di antara mereka. sabil tanpa sadar refleks menutup kedua kelopak matanya, dan satu sudut bibir kaisar refleks terangkat naik sebelum akhirnya arah pergerakan kepalanya tiba-tiba berbelok menyamping dan berhenti tepat di sisi telinga sabil. “kita naik yuk, teh?”
sabil langsung membuka mata, melotot kaget. terus disusul sama hatinya yang tiba-tiba kerasa hampa karena hilangnya intimasi jarak antara mereka berdua karena tubuh kaisar yang menjauh. sabil bahkan sampai gak sadar kalau dia langsung layangkan sebuah protes, “ih, asep?!”
“kenapa, teteh? beneran udah ilang ‘kan sekarang gugupnya?” tanya kaisar seraya ia berjalan mundur menuju tepi kolam. nada bicara yang polos seolah tanpa dosa itu jelas kontras sama gimana ekspresi wajahnya yang sengaja tampilkan senyum tengil menyebalkan; jelas nunjukin kalau dia emang sengaja pengen isengin sabil aja. terus dia lanjut bertanya begitu akhirnya udah beneran naik dan berpijak di atas tepi kolam. “lagian siapa coba yang tadi maksa aku buat naik? ya ini, aku udah naik. as you wish.”
andai aja tatapan sabil bisa membunuh, maka bisa dipastikan kalau kaisar udah jadi korban mati di tempat sekarang. sabil beneran kesel. terus akhirnya dia balik mencipratkan dengan keras lagi air kolam itu arah kaisar, sambil mengumpat penuh emosi. “berengsek.”
“hahahah…, emang teteh abis mikirin apa sih tadi?” goda kaisar di tengah kepasrahannnya nerima semua serangan sabil yang gak terlalu berefek itu. “ciuman yaaa?”
sabil kini bergerak menuju sisi kolam juga. “bacot ya, asep,” balasnya galak.
“yaudah, sini naik dulu deh.” kaisar ini masih bisa-bisanya dia cengengesan. “ayo kita ciuman beneran. sampai baju kita kering sekalian.”
“diem, deh.” sabil udah sampai di tepi kolam. gak lupa dia balik cipratin air ke muka kaisar dengan keras. “orang gila,” hardiknya kemudian.
terus kaisar cuma ketawa. pacar cantiknya itu beneran lucu banget. gemesin mampus. aduh, kaisar beneran cinta banget sama sabil deh pokoknya.
kaisar would never trade sabil for the world.
habis ini dia janji bakal beneran cium sabil deh, semuka-muka kalau perlu. if sabil lets him, of course.
