Work Text:
kaisar sama sabil ini terhitung udah kenal sejak lima tahun, dengan tiga tahun belakangan yang baru resmi berpacaran. orang awam yang cuma bisa lihat permukaan dinamika hubungan mereka bakal selalu bilang kalau mereka ini pasangan langgeng mampus dan harmonis.
a relationship goals.
di mata banyak orang, kaisar sangat kelihatan amat kecintaan sekali sama sabil. sementara sabil tuh dianggap dewasa dan pintar memposisikan dirinya, dia itu selalu bisa match up sama energinya kaisar.
dan semua opini itu bisa ditelusuri jejak digitalnya, dimana banyak orang nunjukin kalau mereka punya satu mindset yang sama.
semua bisa ditelusuri dari satu kejadian di awal tahun ini. it's very unique, karena lucu tapi juga sangat kontradiktif.
jadi salah satu ukm ada bikin konten seru-seruan dalam rangka promosi dan naikin engagement social media mereka. nah waktu itu kebetulan lagi berusah buat promo acara yang dilaksanain pas bulan februari, makanya mereka riding the wave dari momen valentine. jenis kontennya ada banyak, tapi salah satunya betuknya ada yang kayak nanya ke banyak mahasiswa random di tengah kesibukan mereka di kampus dengan berbagai aktivitasnya.
“siapa pasangan paling adem ayem dan goals menurut kalian?”
kontennya viral abis, dengan ratusan ribu likes dan nyentuh jutaan views. paling enggak, konten itu fyp ke hampir semua akun personal mahasiswa seantero kampus. terus tim socmed ini kayaknya jadi ketagihan juga, berakhirlah konten ini jadi sebuah series, dimana setelahnya jadi punya beberapa part lanjutan.
nah, bagian yang lucunya adalah karena di setiap konten itu paling enggak ada tiga orang yang sebut “kaisar dan sabil” sebagai jawabannya.
buat orang yang up to date soal kehidupan sosial di kampus sih itu bukan jawaban yang mengejutkan, tapi ‘kan enggak semua orang punya waktu buat se-up to date itu juga. videonya juga kadang nyampe ke audience yang di liar kampus ‘kan. makanya di satu waktu itu sampai ada yang kasih komentar:
“jadi penasaran. kaisar sama sabil ini kenapa disebut mulu ya? emang seoke apa sih hubungannya?”
itu pertanyaan langsung dapat banyak engagement-nya. karena, (1) banyak orang awam lain juga yang jadi keikut kepo, (2) banyak yang bersedia jawab, (3) ini soal kaisar dan sabil yang emang udah terkenal di kalangan kapus dari awal.
dan, rata-rata jawabannya mengarah ke satu kesimpulan; mereka goals karena langgeng, dan pasti jarang berantem.
“halahhhhhh. manusia sebucin kaisar mana mungkin tega cari masalah sama pacar kesayangannya itu.”
“aduh. yang sepengertian sabil gitu bakal selalu paham maunya dia apa, mau cowoknya gimana, terus ngerti gimana cara komunikasinya.”
hampir semua orang satu pemikiran kayak gitu. kecuali si tokoh utama—kaisar, yang waktu itu cuma bisa ketawa kecut sambil diketawain jeremy, sohib satu kost-nya.
masalahnya, ini kontradiktif sama kenyataan waktu itu. kaisar sama sabil lagi berantem. mampus banget emang posisinya kaisar udah didiemin seharian penuh sama sabil.
sure, kaisar memang bucin mampus sama sabil. and for the love of god, he will do everything for him. dia sama sekali enggak menampik itu. pun soal sabil, perihal dia yang pacar paling pengertian itu memang benar adanya. enggak ada yang bisa tahan sama kaisar lebih dari sabarnya sabil buat selalu ngertiin dia.
tapi mau segimana pun sempurna kelihatannya di mata orang luar, tetep aja mereka enggak akan pernah tahu gimana sebenarnya kaisar dan sabil jalanin hubungan mereka. jadi apa yang orang lain tahu, gak lebihnya dari apa yang kaisar dan sabil sama-sama persilahkan mereka untuk tahu.
yang orang lihat, kaisar dan sabil itu definisi cinta setara yang saling bucin dan gak mungkin banyak bertengkar. tapi yang orang gak lihat, kadang ada saatnya dimana kaisar dan sabil bisa hampir setiap hari berdebat.
yang orang tahu, kaisar dan sabil itu beda dari mereka. like they’re one of a kind, dengan segala kegilaan dari kelebihan mereka yang berhasil diatur sedemikian rupa sampai bisa hasilkan output yang oke; masuk deretan orang yang layak untuk dibanggakan. mereka kayak pasangan yang cuma tau gimana caranya buat selalu produktif, saling suportif dan tetap romantis. tapi yang orang gak tahu, kaisar dan sabil gak berbeda dari yang selayaknya remaja baru beranjak dewasa. jiwa mereka masih muda membara, dan emosinya kadang kala masih bergejolak sampai susah dikelola.
orang gak pernah lihat sewaktu kaisar ada di ambang batasnya karena ada saat dimana dia kesusahan buat seimbangkan banyaknya tuntutan dan kebutuhan, sampai itu semua bisa bikin emosinya gampang memuncak di ujung kepala, dan sabil jadi salah satu orang yang buat dia jadi meninggikan nada bicaranya. pun orang gak pernah tahu sewaktu sabil marah dan gak merasa mampu hadapi kesulitannya, dia cenderung punya tendensi buat lari, dan kaisar biasanya jadi orang pertama yang paling dihindari.
lima tahun kenal dan tiga tahun pacaran, enggak berarti mereka selalu ada dalam hubungan stabil yang aman dari pertengkaran.
sama kayak kejadian di awal tahun ini dimana mereka heboh dibicarakan sebagai pasangan idaman, padahal aslinya lagi gak akur bahkan tanpa ada komunikasi berjalan. sama pula kayak sekarang, dimana akhir tahun idealnya tinggal diisi sama banyak haha-hihi ketawa bahagia sebagai penutup kisah setelah dua belas bulan lika-liku perjalanan terlewati, tapi kaisar dan sabil malah udah gak ada komunikasi selama hampir mau dua hari.
sepele saja sebenarnya (atau tidak?), masalahnya diawali dari keduanya yang sama-sama punya jadwal yang cukup padat karena sudah menuju minggu libur panjang akhir tahun. mereka punya kesibukan dan tugas masing-masing, dan ambisi mendorong keduanya buat segera mengatur apa yang sekiranya bisa dibereskan saat itu supaya awal semester di tahun depan mereka enggak begitu keteteran.
selama di minggu sibuk ini, intensitas buat ketemu emang jadi lebih sedikit. tapi keduanya saling ngerti dan gak banyak nuntut itu-ini, tapi hal yang udah jadi basic rules dan gak boleh banget dilanggar adalah untuk saling berkabar. itu bare minimum, dan keduanya sepakat gak ada alasan buat enggak lakuin itu.
tapi manusia cuma bisa berencana, dan tetap sang penulis garis cerita lah yang menentukan jalannya. dua hari lalu kaisar punya tiga tanggung jawab dari tiga hal berbeda sekaligus; konsultasi sama dosen pembimbing akademik lah, bem lah, ukm lah, yang semuanya harus dia urus di hari itu juga sampai beres. dan sementara kepalanya udah hampir mau meledak, sabil di sisi lain lagi ada agenda survey di entah sudut kota sebelah mana sama temen satu ukm radionya buat salah satu proker yang bakal mulai jalan di akhir bulan depan dan sama sekali enggak bisa kaisar hubungi.
kaisar hampir gila. dia sama sekali enggak tau kabar sabil gimana. udah kayak kesetanan dia beresin semua tugasnya di kampus, terus hubungi satu-satu temen sabil yang dia tau dan punya kontaknya. di satu titik yang udah gak bisa dia mikir jernih karena capek dan khawatir, kaisar akhirnya nekat nyusulin sabil berdasarkan informasi terakhir yang dia dapet.
endingnya mereka ketemu, dengan kaisar yang udah kepayahan buat kontrol emosinya yang bergejolak dan sabil yang udah capek mampus karena survey seharian ini mentok belum bisa diambil keputusan pastinya.
(“udah dibilang batre sisa dua puluh persen lagi, ya logika aja dipake berarti? kalau gak bisa dihubungi berarti hp-nya mati, bukan akunya yang kenapa-kenapa.”
“kamu bilang batre sisa dua puluh persen tuh hampir delapan jam lalu, yang mana itu tadi pagi masih sejak di awal kamu berangkat. itu bisa dihindari gak? bisa. aku udah bilang dari semalem buat charge dulu, itu kamu dengerin gak?”
“yaudah ‘kan akunya juga ini baik-baik aja.”
“kamu dengerin aku enggak?”
“ya aku udah di depan kamu juga sekarang. masih mau apa lagi?”
“maunya kamu jawab, bukan ngelak. kamu dengerin aku atau enggak?”
perkara gak ngabarin dan baterai hp yang cuma sisa 20% sampai mati, bisa bikin keduanya gak terkoneksi dari hati ke hati. kaisar kalang kabut karena tekanan dari sana-sini, sabil udah kehabisan tenaga buat sedikit aja tahan bersikap dewasa.
“ini juga pake baju tipis banget?” heran kaisar yang fokusnya makin terpecah kemana-mana. “mana kebuka banget gitu kancingnya? yang bener aja dong, sabil.”
“apa sih? gak usah jadi kemana-mana pembasannya.”
“tuh ‘kan. gak mau denger aku lagi?”
“kalau aku gak dengerin kamu, terus ini namanya apa?”
“namanya lo ngejawab,” nada bicara kaisar udah makin naik. “lo tuh ngeyel baget kalau dibilangin, tau gak? telinga punya dua, semua cuma dipake pajangan aja.”
“bener. telinga, sampe mata, mulut juga, pajangan semua! terus mau kamu apa?” sabil ikut naik pitam. “soalnya kalau maunya aku ya semua pajagan ini gak akan dipake buat denger kamu—” telunjuknya naik, nunjuk nyalang ke dada kaisar. “—lihat kamu, ngomong sama kamu. aku gak mau semuanya. minggir!”
kaisar mengusap wajah kasar, mengerang keras di tengah frustasi. sementara sabil pergi, kepalang capek buat berusaha runtuhkan egonya yang tinggi.)
lalu sekarang terhitung kaisar udah mau hari kedua kena silent treatment dari sabil. apa kaisar kesal? jelas. frustasi? jangan ditanya, ini silent treatment loh masalahnya. tapi ada kah kaisar nyerah? tentu enggak. marah besarnya sabil itu diem, dan kaisar mau ngerti. kaisar bisa kasih waktu sebanyak yang sabil mau, dia hargain itu. cuma di sisi lain, kaisar juga tau kalau dia enggak bisa sama diamnya. naik-turunnya hubungan yang udah lumayan berlangsung lama ini paling enggak berhasil buat dia menemukan satu trik di setiap kali menghadapi sabil yang lagi marah besar begini, yaitu kaisar gak akan biarin sabil ngerasa kehilangan presensi kaisar ada dalam jangkauannya.
(“don’t push me away,” pinta kaisar penuh harap, di satu waktu mereka lagi coba deep talk ala-ala. “it’s me reaching you out. i'm trying to fix us.”
“okay.” sabil juga sepenuhnya tau sama kapasitas dirinya, karena kadang kala ia masih susah buat tahan egonya supaya enggak marah sama kaisar. jadi dia paham sama poin yang coba disampaikan kaisar, dan sabil mau sama-sama usaha untuk itu. “i'll try. for us. i'll try my best.”)
jadi sabil bisa marah sebanyak yang dia mau, dia boleh diemin kaisar selama yang dia butuhkan. but kaisar will make sure to always being present.
makanya walau ini lelaki udah absen dipanggil asep selama beberapa hari karena sang pacarnya itu diemin dia terus, tapi kaisar tetep bisa bebas berkeliaran di apartemen sabil dari tadi pagi.
because sabil let him.
sabil biarin kaisar waktu dia berusaha bantu siapin sarapan—sabil bikin dua porsi tanpa banyak bicara. sabil juga biarin kaisar waktu dia ambil inisiatif buat beresin dapur dan cuci piring bekas sarapan mereka. siangnya kaisar juga sengaja delivery makanan buat tiga orang, karena hari itu sabil kedatangan adik perempuannya yang katanya iseng mampir.
begitu si adek datang tuh kaisar udah berniat buat pamit pulang sebenernya, dia mau kasih dua bersaudara itu buat saling lepas kangen sampai kenyang. tapi si adek terlalu peka dan sadar kalau lagi ada perang dingin yang terjadi, makanya dia tahan kaisar buat tetep stay karena sebenarnya juga dia ada janji sama temennya nanti sore makanya mampir dulu ke apartemen sabil. si adek paham kalau kaisar lagi usaha, dan ngelihat gimana sabil enggak menendang kaisar keluar berarti emang seharusnya si adek enggak jadi penghambat dari proses ini. kaisar gak boleh pergi dan berhenti.
maka berakhir lah kaisar tetep stay karena si adek bujuk dia pake muka paling melas yang gak bisa buat dia tolak, walau akhirnya kaisar juga malah dianggurin di ruang tengah dengan konsol game di tangan sampai dia ketiduran sendiri.
beberapa jam kemudian, kaisar baru bangun dengan posisi berbaring di sofa dengan nyaman, tiba-tiba aja ada bantal empuk yang menopang kepalanya, dan selimut yang menutupi hangat badannya. sangat berbanding terbalik sama gimana posisi badannya yang terakhir kali kaisar ingat.
kerjaan sabil nih pasti.
padahal ada peluang kalau si adek juga bisa inisiatif ya, tapi kaisar udah isi pikirannya sabil, sabil, sabil, dan sabil aja terus sampai anaknya kepedean mampus.
bodo amat deh sabil masih mau diemin dia atau enggak, yang penting sekarang kaisar cuma mau nyusul dan berterima kasih yang banyak. kaisar betulan sayang banget sama pacarnya itu.
lalu pintu kamar diketuk—terakhir kaisar ingat, sabil sama si adek lagi asik berdua di kamar sabil. “boleh masuk?” tanyanya hati-hati.
“masuk aja.”
green light. kaisar makin kepedean, ini kayaknya sabil udah banyak berkurang sih marahnya. makanya dia excited masuk dengan senyum tengil yang gak bisa dia tahan.
hal pertama yang menyambut kaisar adalah pemandangan punggung sabil yang duduk di meja belajarnya. kayaknya dia lagi online meeting? karena kaisar bisa dengar kayak ada ramai audio dari banyak orang ngobrol, saling bersahutan sama sabil yang diselingi sama bunyi krenyes kriuk-kriuk gitu. berarti lagi santai, pikir kaisar. karena kalau lagi serius pasti sabil gak bakal mau sambil ngemil begitu.
“adek mana?” tanya kaisar pelan, sambil dia jalan dan berhenti tepat di samping kursi sabil. “aku gak ganggu ‘kan?”
sabil yang awalnya fokus ke layar di hadapannya, lalu beralih menghadapkan wajahnya ke arah kaisar. sedikit pendongak karena perbedaan tinggi antara mereka. “adek udah pergi lagi.”
terus kaisar sadar, begitu pandangannya jatuh sepenuhnya pada paras cantik pacarnya. ada yang beda. ia refleks mengumpat. “wah, anjing.”
masalahnya, ini sabil cantik banget. berkali lipat lebih cantik dari biasanya karena kayaknya dia pake make up? enggak tebel, tapi kelihatan. pas. cantik. apalagi riasan di kedua pipinya, merah merona. lalu turun ke bawah di bibirnya, merah muda; lembut dan manis kelihatannya.
otak kaisar kayak langsung konslet, efek pusing tujuh keliling. bangsat, pikirnya. cantik banget, anjing.
“naon (apa) sih?” tanya sabil sewot. mood-nya udah agak membaik langsung berubah cenderung jelek lagi. “keluar sana kalau cuma mau bikin emosi!”
“kamu pake makeup?”
sabil gengsi—tersipu malu. kaisar cepet banget sadarnya. terus kepalanya refleks nunduk, gak mau ngeliat pacarnya itu. jadi dia cuma jawab pakai gumam pelan. “hmmm…”
“dijawab dulu yang bener.” dagunya sabil tangkup pake satu tangan kaisar. enggak keras, apalagi kasar. tapi pakai tenaga yang cukup bisa gerakin wajahnya supaya mau balik mendongak buat ngarah ke kaisar. “pakai make up?”
“whoaaaaa dude???”
“anjing kaisar. kalem dikit bisa kali?”
“HEH. sadar tempat anjirrrrr sabil masih di tengah meeting call ini.”
terus sabil kayak ditampar realita, dia macem kesambet energi percaya dirinya lagi supaya tetep bisa napak tanah. “nanti dulu ih, asep!" tegurnya keras. “aku harus ngobrol dulu sama anak-anak.”
wah, panggilan asep telah kembali. kaisar makin merasa secure, makanya dia berani buat pantang mundur. “jawab dulu,” pintanya absolut.
“iya, adek minta coba makeup look baru di aku tadi.”
“terus kamu nurut-nurut aja dijadiin boneka percobaan?” sabil cuma jawab pakai anggukan kecil. “aduh. manis banget sih, teteh. baik banget.”
“apa, sih? ganggu banget.” mulutnya sabil emang ketus bilang begitu, tapi semburat merah yang makin merona di kedua pipi jelas jawab sebaliknya; dia tersipu. “pergi sana!”
“enggak.” kaisar melipat kedua tangan di depan dada, seluruh beban tubuhnya disadarkan di tepian meja. fokus tertuju hanya pada sabil seorang. “kamu lanjutin aja ngobrol. aku mau di sini.”
sabil berdecak pasrah, sambil mendelik jengah. “gak jelas.”
cuma kayaknya kaisar ini gak ketolong gila, udah mabuk kepayang banget dia. soalnya semakin sabil galak, malah di mata kaisar semakin kelihatan cantiknya. sinting.
lalu di beberapa menit setelahnya, ruang kamar itu kembali cuma diisi sama chit-chat sabil sama temen-temennya sambil tetep diselingi bunyi crispy dari cemilan keripik yang dimakan sabil. sementara kaisar, dia betulan menepati ucapannya yang bilang mau diem dan nontonin sabil aja.
cantik, cantik, cantik, cantik, cantik. tuhan… cantik banget. gila. mau ci—
“pssst.” ujungnya kaisar enggak tahan juga. “teteh,” panggilnya berbisik.
sabil gak respon, dia pura-pura enggak denger. tapi rona merah di pipi yang masih bertahan jelas buat kaisar jadi tidak bisa dikelabui.
“pssst. teteeeh,” ulang kaisar. volume suaranya makin naik, gak lupa juga dengan nada menggoda yang emang disengaja. “teteh cantiiiiik,” panggilnya lagi.
sabil akhirnya merespon, dengan kembali mendelik tajam dan telunjuknya yang disimpan di depan bibir. terlepas dari paras cantik berbalut makeup-nya yang makin merah sampai seperti terbakar, ia tetap berusaha kirimkan sebuah peringatan galak supaya kaisar diam.
tapi kalau udah begini, kaisar mana mau peduli sih? yang ada dia malah makin semangat buat melancarkan aksi. badannya maju sedikit, sementara satu tangan bergerak mengusap remahan keripik yang tersisa di ujung bibir sabil.
“as always,” komentarnya sambil terkekeh gemas. “kayak bocah banget makannya.”
dan kalau setelahnya terdengar riuh sorakan menggoda dari teman-teman sabil di seberang panggilan video sana, itu sama sekali enggak jadi penghalang bagi kaisar buat berhenti.
begitu juga dengan sabil, mana sempat dia fokus sama hal lain bahkan sampai kasih respon kalau kepalanya yang sejak awal emang udah dipenuhi sama kaisar sekarang malah semakin kacau teracak-acak sama si tokoh utamanya sendiri.
jadi cuma sebuah teguran yang dibuat segalak mungkin yang bisa sabil kasih sebagai responnya, sambil ia hempas tangan kaisar dari wajahnya. “sumpah ya—asep!!!”
kaisar cuma ketawa nyeleneh. “asep mau dong, teh.”
“naon deui (apa lagi) sih? mau apa?!”
“keripiknya.”
“ya tinggal ambil—??!”
itu kalimat belum selesai tapi si kaisar udah narik tangan sabil yang emang udah pegang keripik terus disuaplah keripik itu ke mulutnya.
“hmm… enak.”
“dih? apa—“
kalimatnya gak selesai lagi, tapi kali ini karena kaisar dan akalnya bikin dia bergerak cepat ambil satu keripik terus malah diarahin ke mulut sabil supaya diapit sama kedua bibirnya. sabil yang setengah bingung dan setengah linglung cuma bisa merespon seadanya, dia nurut-nurut aja.
“pinter.”
singkat aja kaisar komentar, karena abis itu dia secepat kilat merunduk buat meraup itu keripik di mulut sabil pakai mulut dia sendiri. bibir mereka bersentuhan, tentu aja. kaisar memang sengaja menggoda.
sementara si cantik seketika jadi malfungsi, dunianya kayak berhenti. kedua matanya berkedip cepat dan lucu seolah berusaha dengan begitu keras untuk membantu kerja otaknya dalam memproses apa yang baru saja terjadi.
“woy??????? goblok.”
“tolol banget kaisar.”
“kaisar anjinggggggg.”
“tidaaaaaaaak. sabilkuuuuuuu.”
“kebiasaan banget taiiiiii dunia berasa milik lu berdua doang kali!”
sorakan penuh umpatan makin heboh terdengar, dan di detik itu lah semua informasi berhasil tercerna sempurna di kepala cantiknya sabil.
“ANJIR YA ASEEEEEEP!!!!!!”
tapi sekali lagi, apa kaisar peduli? iya, peduli. peduli setan. jadi hal yang selanjutnya dia lakukan buat damage control adalah dengan bungkuk kecil tanda mohon maaf gitu. itu dilakuin singkat banget ke hadapan layar dimana di sana terpampang jelas sederet wajah temen-temen sabil.
“sorry, guys. gue minta waktunya sabil lima menit aja. janji.”
habis itu satu tangannya nutupin kamera pakai telapaknya, sambil badannya balik fokus menghadap sabil. lantas satu tangannya lagi tarik dagu sabil biar dongak ke arah wajah kaisar.
“now asep is sorry,” ucapnya sebelum kemudian mencium si pacar yang biasa dia sebut teteh cantik itu.
sabil kaget banget. but, damn. kaisar is really a good kisser, and he kissed him like he mean it. jadi sabil tuh juga suka—ya kaisar ‘kan pacarnya, jelas dia cinta. mana udah habis berantem juga, bohong banget kalau sabil gak kangen. munafik kalau dia enggak langsung luluh gitu aja.
kaisar sadar sama apa yang dia lakukan, dia tahu gimana caranya tumpahkan emosi yang selama ini kayak ketahan lewat sentuhan. ada gelisah, juga bersalah, lalu kangen, dan tentunya sayang.
cinta. mendamba.
sabil bisa rasa itu semua, dan dia balas dengan perasaan yang enggak kalah besarnya.
dan entah itu betulan berlangsung selama lima menit seperti yang kaisar bilang sebelumnya atau enggak, tapi paling enggak dia masih berusaha buat tepati omongannya dengan jadi orang pertama yang lepas ciumannya.
ini dunia betulan berasa punya berdua aja. sabil enggak bisa mikir apa pun kecuali kaisar doang yang ada di kepalanya. sementara kaisar mati-matian tahan dirinya buat enggak… apa ya? nangis? rasanya kayak lega dan bahagia bercampur satu karena sabil beneran kerasa nyata sekarang. dua hari belakangan ini rasanya ternyata kayak dia udah jadi mayat hidup, karena sumber hidupnya sama sekali enggak bisa diraih meski pun masih ada dalam jangkauan matanya. udah macem di neraka.
“nanti kita ngobrol lagi ya,” ucap kaisar. ibu jarinya mengusap lembut jejak rona di pipi sabil yang merahnnya itu bahkan sampai ke telinga. makeup cantiknya buat wajah sabil makin bersinar paripurna. “aku tunggu di sofa ruang tengah ya.”
abis itu kaisar langsung pergi keluar, ninggalin sabil yang belum sempat kasih respon apa pun. beruntungnya, teman-teman sabil di seberang sana sepertinya enggak begitu peduli sama mereka sih? karena waktu sabil berusaha baik fokus ke forum, mereka kayak biasa aja sibuk sama obrolan yang sama dengan terakhir kali sabil ingat sebelum kaisar datang dan gangguin dia.
atau, tidak juga?
karena setelah beberapa menit berlalu. tiba-tiba aja sabil nerima private message yang isinya:
jjuna: fuck it. i can’t handle it
jjuna: td emg kamera ditutup sih tp goblok dah kaisar
jjuna: DIA GAK MUTE
jjuna: untung kita yg di sini cm orang2 #yttame: hah?
jjuna: god. icb lo bisa lgsg jd tolol gt
jjuna: pokoknya
jjuna: apapun lip product yg lo pake
jjuna: itu gak transfer proof
jjuna: hapus dulu gih
jjuna: belepotan.
satu detik…
tiga detik…
lima detik…
loading completed.
“ORANG GILA YA ASEEEEEEEEP!!!!!”
muka sabil merah total. sementara orang diteriaki di sebelah ruangan cuma bisa nyahut seadanya karena fokus dia terbagi antara layar video game di hadapan dan konsol di tangan.
“IYA, TETEH CANTIK. GILA KARENA KAMU!” balas kaisar ikut teriak. “I LOVE YOU TOO!!!”
sementara itu, tak lama setelahnya di salah satu sisi ruang obrolan…
adek
oyyy aa kasep
apa ini 500k
aa yg top-up ya?
me
iya wkwk
baru dp itu
jajan sampe kenyang sm temen2mu ya
adek
MAKASIH LOHHH
udh baikan sm tetehnya ya?
me
eh wkwk
d ngikut panggil teteh nih?
iya dong baikan. makasih ya
sering2 dong dandanin tetehnya
adek
YA AKU KADANG JD KEIKUT LATAH
hmmm… gak gratis ah
makeup bagus tuh mahal tau
me
aman aja
nanti dibayarin
adek
ASIK
senang berbisnis dgn anda, aa kasep
me
senang jg dgn jasa anda, dek
bintang lima pokoknya
ditunggu next project sm tetehnya yah
