Actions

Work Header

Time Travel

Summary:

Kim Gimyung dan Seo Seongeun remaja terlempar ke masa depan melalui pusaran misterius saat sedang berduel, hanya untuk mendapati versi dewasa mereka sedang melakukan hubungan intim dalam posisi yang sangat provokatif. Situasi menjadi kacau ketika Gimyung remaja histeris sementara Seongeun remaja justru mengalami krisis identitas karena tidak terima dirinya menjadi pihak bawah yang dipangku oleh rivalnya. Setelah sesi tanya jawab yang penuh adu mulut mengenai nasib dan cara mengubah takdir, mereka akhirnya kembali ke masa lalu untuk melanjutkan hidup mereka. Entah suatu saat mereka akan sampai pada hubungan tersebut atau tidak, mereka tak tau.

Notes:

TOP! Gimyung BOT!Seongeun
Kepikiran ini krn lihat fanart di X wkwk, hope u like it!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Aspal gang sempit di wilayah Gangnam itu masih terasa panas, sisa-sisa perseteruan yang tak kunjung usai antara dua pria ini. Di bawah temaram lampu jalan yang berkedip, Kim Gimyung dan Seo Seongeun kembali berhadapan. Tidak ada lagi ruang untuk negosiasi; hanya ada suara napas yang memburu dan dentuman tinju yang menghantam beton.

Gimyung menyeka darah di sudut bibirnya, matanya menatap tajam pria di depannya. Seongeun, dengan kemeja yang sudah koyak dan senyum miring yang gila, tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Bagi mereka, perkelahian adalah bahasa komunikasi yang paling jujur. Rivalitas ini sudah mendarah daging sejak masa lalu mereka di Big Deal—sebuah obsesi untuk membuktikan siapa yang lebih layak berdiri di puncak.

"Sampai kapan kau mau terus begini, Seongeun?" Gimyung bertanya dengan nada berat, tangannya mengepal kuat.

Seongeun hanya tertawa pendek, "Sampai salah satu dari kita berhenti bernapas, Gimyung. Kau tahu itu."

Saat keduanya baru saja akan melesat untuk kembali beradu fisik, atmosfer di gang tersebut mendadak berubah. Suhu udara turun drastis, dan suara bising kota Seoul seolah teredam secara paksa. Di antara jarak mereka yang hanya terpaut beberapa meter, sebuah titik hitam kecil muncul di udara.

Titik itu membesar dengan cepat, berputar menyerupai pusaran lubang hitam yang pekat. Tarikan gravitasinya begitu kuat hingga sampah-sampah di sekitar mereka tersedot masuk. Gimyung mencoba menahan posisi dengan mencengkeram pipa besi di dinding, sementara Seongeun berusaha menancapkan kakinya ke aspal.

Namun, kekuatan itu terlalu besar. Pusaran tersebut meledak, menyedot cahaya dan ruang di sekitar mereka. Dalam sekejap, kesadaran keduanya hilang tertelan kegelapan total, meninggalkan gang sempit itu dalam keadaan kosong seolah tidak pernah ada perkelahian di sana.

Kegelapan itu mendadak pecah oleh cahaya lampu kristal yang hangat. Gimyung adalah yang pertama membuka mata, disusul oleh Seongeun yang langsung memasang posisi siaga. Mereka mendarat di atas karpet bulu yang tebal di sebuah kamar 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘩𝘰𝘶𝘴𝘦 yang sangat luas. Bau amis darah dan aspal gang berganti dengan aroma lilin terapi dan parfum mahal.

Namun, sebelum mereka sempat mempertanyakan lokasi tersebut, pemandangan di depan mereka menghentikan segala gerakan.

"𝘈𝘩𝘩.. 𝘮𝘮𝘩𝘩 𝘶𝘨𝘩𝘩𝘩— 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩!... 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮𝘩𝘩 𝘨-𝘨𝘩𝘪𝘮𝘺𝘶𝘯𝘨!"

Beberapa meter dari posisi mereka berdiri, tepat di atas ranjang king-size, dua sosok pria dewasa sedang terengah-engah. Gimyung remaja mematung, pupil matanya mengecil melihat sosok pria dewasa yang sangat mirip dengannya, namun dengan bahu yang lebih lebar sedang duduk bersandar di kepala ranjang.

Di atas pangkuan pria itu, Seongeun dewasa duduk dengan posisi yang sangat intim. Tubuhnya yang penuh tato terlihat berkeringat, otot-otot punggungnya menegang saat ia bergerak naik turun mengendara Kim Gimyung. Keduanya tidak mengenakan sehelai benang pun, benar-benar larut dalam aktivitas seksual yang intens di depan mata versi remaja mereka sendiri.

Suasana kamar yang tadinya hanya diisi suara desahan heboh Seongeun dewasa dan tamparan kulit, mendadak sunyi senyap saat kedua pria dewasa itu menyadari kehadiran "tamu" tak diundang.

Gimyung dewasa tidak melepaskan dekapannya pada pinggang Seongeun dewasa. Ia hanya menoleh sedikit, menatap Gimyung remaja dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. Sementara itu, Seongeun dewasa berhenti bergerak, ia menyeka keringat di dahinya lalu menoleh ke arah Seongeun remaja yang masih mematung dengan mulut setengah terbuka.

Keheningan itu pecah saat Seongeun dewasa menyeringai tipis, seolah mengejek keterkejutan diri mereka yang lebih muda.

"Kalian datang di waktu yang salah," suara Gimyung dewasa terdengar berat dan bergema di ruangan itu, tanpa ada nada malu sedikit pun.

Gimyung remaja adalah orang pertama yang bereaksi, dan itu meledak dalam bentuk histeria yang luar biasa. Ia mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak lemari kaca besar, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah ranjang dengan gemetar hebat.

"APA-APAAN INI?! WOI! SIAPA KALIAN?! KENAPA WAJAHMU MIRIP DENGANKU?!" teriak Gimyung, suaranya naik beberapa oktav karena syok yang teramat sangat. "Dan kau—Seo Seongeun! Kenapa kau ada di sana?! Kenapa aku memelukmu seperti itu?! Ini pasti halusinasi... aku pasti sudah mati karena pukulanmu tadi di gang!"

Gimyung terus meracau, menjambak rambutnya sendiri seolah sedang berusaha bangun dari mimpi buruk. Ia menatap dirinya versi dewasa dengan tatapan tidak percaya sekaligus ngeri. "Masa depanku... tidak mungkin berakhir di atas ranjang dengan bajingan gila ini! Hei, kau yang di sana! Lepaskan dia! Ini menjijikkan! Aku tidak mungkin punya selera seburuk ini!"

Namun, berbeda dengan Gimyung yang terkena serangan panik, Seongeun remaja justru menunjukkan reaksi yang jauh lebih mengganggu.

Seongeun tidak berteriak. Matanya menyipit tajam, bukan karena malu melihat adegan syur di depannya, Ia mengabaikan teriakan histeris Gimyung di belakangnya seolah itu hanya suara angin lalu.

Pandangan Seongeun terkunci pada sosok dewasanya yang sedang duduk di pangkuan Gimyung. Ia memperhatikan setiap lekuk otot, keringat yang mengalir di sela tato, dan posisi tubuhnya sendiri.

"Tunggu dulu," gumam Seongeun remaja, suaranya rendah dan penuh penekanan yang berbahaya.

Ia menatap lurus ke mata Seongeun dewasa yang masih tampak tenang. Seongeun remaja menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjuk posisi dewasanya yang berada di atas pangkuan Gimyung.

"Kenapa..." Seongeun menjilat bibirnya yang kering, urat nadi di pelipisnya berdenyut karena emosi yang tertahan. "Kenapa aku yang ada di posisi ini? Kenapa aku yang 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩? Kenapa aku harus dipangku oleh bajingan ini?!"

Seongeun remaja mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih. "Aku menghabiskan seluruh hidupku untuk berada di puncak, untuk menjadi yang terbaik, untuk mengalahkan keturunan Kim Gapryong... tapi di masa depan, aku malah membiarkan diriku diduduki seperti ini? Ini penghinaan! Ini benar-benar tidak masuk akal!"

Dua versi dewasa di atas ranjang itu hanya saling pandang. Seongeun dewasa kemudian terkekeh pelan, sebuah suara parau yang penuh pengalaman, sementara tangannya dengan santai melingkari leher Gimyung dewasa, seolah sengaja memamerkan posisinya kepada versinya yang lebih muda.

"Berisik sekali," ucap Seongeun dewasa dengan nada malas. "Kau akan mengerti nanti, Bocah. Menjadi pihak penerima bukan berarti kau kalah. Kadang, itulah cara terbaik untuk mengendalikan pria ini."

Gimyung dewasa akhirnya menghela napas panjang. Ia melepaskan satu tangannya dari pinggang Seongeun dewasa hanya untuk memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. Tatapannya beralih pada Gimyung remaja yang masih sibuk memegangi kepalanya sambil mondar-mandir tidak keruan.

"Dengarkan, diriku yang lebih muda," suara Gimyung dewasa terdengar berat dan sangat berwibawa. "Dunia ini jauh lebih luas daripada sekadar perebutan wilayah atau dendam masa lalu. Ada saatnya kau harus meletakkan senjatamu dan mencari kenyamanan yang lain."

"KENYAMANAN APA?! KENYAMANAN MACAM APA YANG MEMBUATMU MEMANGKU BAJINGAN GILA INI?!" Gimyung remaja berteriak, suaranya pecah. "Aku ke sini bukan untuk menjadi bantal duduk untuk Seo Seongeun! Lihat dirimu! Kau terlihat sangat menikmati ini! Di mana harga diri Big Deal?!"

Gimyung dewasa hanya menatap datar kembarannya yang sedang tantrum itu. "Harga diri tidak akan memberimu kehangatan di malam hari, Bocah. Dan berhenti berteriak. Kau merusak suasana."

Sementara itu, di sisi lain ranjang. Seongeun remaja masih terpaku pada fakta bahwa ia berada di posisi "𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩". Ia menatap Seongeun dewasa dengan tatapan benci.

"Jangan bercanda," desis Seongeun remaja. "Kau bilang ini cara mengendalikan dia? Dengan cara membiarkan dia memelukmu seperti itu? Kau terlihat lemah. Kau terlihat seperti miliknya! Aku tidak sudi menjadi milik siapa pun, apalagi bajingan itu!"

Seongeun dewasa hanya tertawa meremehkan, sebuah tawa serak yang terdengar sangat provokatif. Ia sengaja mengeratkan pelukannya pada leher Gimyung dewasa, membiarkan kulit mereka yang berkeringat saling menempel lebih rapat di depan mata versinya yang masih remaja.

"Kau masih terlalu dini untuk mengerti konsep kekuasaan di atas ranjang, Seongeun-ah," ucap Seongeun dewasa dengan nada mengejek. "Kau pikir siapa yang sebenarnya memegang kendali di sini? Dia tidak bisa bergerak tanpa izin dariku."

"BOHONG! KAU HANYA BERUSAHA MEMBELA DIRI!" Seongeun remaja berteriak, urat di lehernya menegang. "Aku tidak akan pernah sudi berakhir seperti itu! Aku akan mengubah masa depanku!"

Gimyung dewasa akhirnya kehilangan kesabaran. Aktivitasnya yang tertunda membuat sisa hormon di tubuhnya terasa panas dan mengganggu. Ia menunjuk ke arah pintu kamar yang besar dan megah dengan dagunya.

"Keluar," perintah Gimyung dewasa dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Turunlah ke lantai bawah. Di sana ada dapur dan ruang tengah. Ambil minum, tenangkan otak kalian yang masih sempit itu, dan tunggu kami di sana."

"Tapi—" Gimyung remaja mencoba memprotes.

"SEKARANG," potong Gimyung dewasa dengan kilatan mata yang membuat Gimyung remaja otomatis bungkam. "Kami harus menyelesaikan ini dulu. Kami akan bicara dengan kalian setelah urusan kami selesai. Jangan menyentuh barang apa pun di bawah."

Seongeun dewasa memberikan kedipan mata yang sangat menyebalkan kepada Seongeun remaja sebelum kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher Gimyung dewasa.

Dengan wajah yang masih merah padam dan penuh emosi yang campur aduk antara jijik, marah, dan krisis identitas, kedua remaja itu akhirnya berjalan keluar dengan langkah kasar.

Pintu mahoni setinggi tiga meter itu tertutup dengan debuman keras, meninggalkan Gimyung dan Seongeun remaja di lorong 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘩𝘰𝘶𝘴𝘦 yang sangat sunyi. Keduanya berdiri kaku, masih mencoba memproses visualisasi paling traumatis dalam hidup mereka.

Gimyung remaja menyandarkan punggungnya ke dinding marmer, lalu merosot duduk di lantai dengan tangan menutupi wajah. "Aku ingin mati saja. Seongeun, bunuh aku sekarang. Pukul aku sampai amnesia."

Seongeun tidak meladeni. Ia justru berjalan mondar-mandir di depan Gimyung, tangannya berkacak pinggang sementara matanya menatap langit-langit dengan tatapan kosong. "Kenapa... Dari sekian banyak orang di dunia ini, kenapa aku?!"

"Arghh, apa mereka benar-benar sudah gila? Apa mereka lupa kita hampir saling bunuh di gang tadi?" Gimyung mendongak, wajahnya masih merah padam.

Seongeun berhenti melangkah, lalu menoleh tajam. "Justru itu yang aneh, Gimyung. Kau lihat tatapan matanya tadi? Dia menatapku—maksudku, versiku yang dewasa—seperti... seperti dia adalah miliknya. Itu menjijikkan."

"Kau yang lebih menjijikkan!" balas Gimyung ketus. "Kau lihat caramu melingkarkan tangan di lehernya? Kau seperti kucing yang minta dimanja, Seongeun-ah. Di mana harga dirimu yang kau banggakan itu? Kau bilang kau benci semua keturunan Kim Gapryong, tapi di sana kau malah terlihat sangat senang seperti kucing birahi."

"Tutup mulutmu!" Seongeun menendang kaki meja pajangan di sampingnya. "Itu pasti karena pengaruh alkohol atau obat-obatan. Tidak mungkin aku yang sadar akan melakukan hal serendah itu. Dan kau! Kau tampak sangat protektif tadi. Kau bahkan tidak melepaskan tanganmu di pinggangku saat kita datang. Kau benar-benar sudah jadi budak cinta di masa depan."

Gimyung mengusap wajahnya kasar. "Aku tidak habis pikir. Apa yang terjadi selama sepuluh tahun ke depan sampai kita berakhir di satu ranjang? Apa Big Deal bangkrut? Apa kita kekurangan musuh sampai harus bermain satu sama lain?"

Seongeun terdiam sejenak, lalu ia duduk di sofa beludru di ruang tengah yang luas itu, masih dengan ekspresi masam. "Tapi Gimyung. sepertinya kita berlatih sangat keras untuk bisa melakukan aktivitas seberat itu tanpa kehabisan napas."

"Ya Tuhan, hentikan analisamu yang mesum itu!" Gimyung melempar bantal sofa ke arah Seongeun. "Kita harus fokus bagaimana cara pulang. Aku tidak mau terjebak di sini dan melihat kelanjutan ronde kedua mereka."

"Pulang? Kau gila?" Seongeun menangkap bantal itu, seringai tipis muncul di wajahnya yang penuh luka. "Aku tidak akan pulang sebelum aku bertanya pada diriku yang dewasa itu Bagaimana caranya dia bisa membuatmu yang sok suci ini berlutut dan melayaninya seperti itu. Itu informasi yang sangat berharga untuk menghancurkanmu di masa lalu."

"Dalam mimpimu, Seongeun! Di sana tadi terlihat jelas siapa yang memegang kendali!"

Mereka terus beradu mulut, saling melempar ejekan tentang siapa yang paling memalukan di antara dua versi dewasa di atas tadi. Namun, di balik keributan itu, ada ketakutan yang sama di mata mereka "𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘩𝘪𝘯𝘥𝘢𝘳𝘪?"

Suasana hening seketika saat suara langkah kaki yang mantap menuruni tangga spiral. Gimyung dan Seongeun remaja secara serempak menoleh. Yang muncul adalah Gimyung dewasa.

Ia sudah mengenakan pakaian lengkap, kemeja hitam yang kancing atasnya dibiarkan terbuka dan celana kain formal. Wajahnya tampak segar, rambutnya tersisir rapi ke belakang. Ia berjalan menuju minibar di sudut ruangan, mengabaikan tatapan syok dari dua versi remaja di depannya.

"Duduklah. Jangan berdiri terus seperti orang yang sedang ditilang," ucap Gimyung dewasa sambil menuangkan air mineral ke dalam gelas kristal. Suaranya berat dan stabil, benar-benar berbeda dengan Gimyung remaja yang meledak-ledak.

Gimyung remaja mengerutkan kening, ia melangkah maju dengan berani. "Heh, kau! Jelaskan sekarang! Apa yang terjadi? Kenapa kita bisa ada di sini, dan kenapa... kenapa kau melakukan hal menjijikkan itu dengan dia?!" ia menunjuk Seongeun remaja yang masih duduk di sofa dengan wajah masam.

Gimyung dewasa meminum airnya perlahan, lalu menatap versinya yang lebih muda. "Dunia bawah itu melelahkan, Gimyung-ah. Setelah semua pengkhianatan, pertumpahan darah, dan perebutan kekuasaan yang kau lalui nanti, kau akan sadar bahwa hanya ada satu orang yang benar-benar memahamimu. Seseorang yang memiliki luka yang sama."

"Maksudmu si gila itu?!" sela Gimyung remaja tak percaya.

"Dia adalah satu-satunya orang yang bisa menandingiku, baik di jalanan maupun di tempat lain. Rivalitas itu tidak hilang, Gimyung. Kami hanya menemukan cara yang lebih menyenangkan untuk menyelesaikannya." balas Gimyung dewasa dengan senyum tipis yang penuh arti.

Seongeun remaja yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara dengan nada sinis. "Menyenangkan kau bilang? Kau memperlakukanku seperti pemuas nafsumu di atas sana! Kau pikir aku akan terima masa depanku berakhir menjadi pelacur untukmu?"

Gimyung dewasa beralih menatap Seongeun remaja. Ia meletakkan gelasnya dan berjalan mendekat, berhenti tepat di depan Seongeun kecil. Aura intimidasi yang dipancarkannya begitu kuat hingga Seongeun remaja tanpa sadar menahan napas.

"Seongeun-ah," ucap Gimyung dewasa pelan. "Kau selalu terobsesi untuk menjadi raja, bukan? Di masa depan ini, kau memang raja. Kau punya segalanya. Tapi ingat satu hal..." Ia membungkuk sedikit, berbisik di dekat telinga Seongeun remaja. "Bahkan seorang raja pun butuh tempat untuk menyerah. Dan bagimu, tempat itu adalah aku."

Wajah Seongeun remaja memerah padam, antara marah dan bingung. Sebelum ia sempat membalas, langkah kaki lain terdengar dari tangga. Seongeun dewasa muncul, mengenakan kemeja sutra putih yang longgar, memperlihatkan tato di dadanya yang belum tertutup sempurna.

"Berhenti mengeluh. Kau harus bangga, karena setidaknya di masa depan, kau adalah satu-satunya orang yang bisa membuat seorang Kim Gimyung bertekuk lutut setiap malam." Seongeun dewasa sambil menyeringai ke arah dirinya yang lebih muda.

Gimyung dewasa duduk dengan santai di sofa dan diikuti Seongeun dewasa disampingnya. Sedangkan Gimyung remaja duduk di sebelah Seongeun remajanya yang masih tampak ingin menghilang dari bumi.

Gimyung remaja berdehem, mencoba mengumpulkan sisa-sisa martabatnya. Ia menatap lurus ke arah Gimyung dewasa dengan raut wajah sangat serius.

"Aku ingin bertanya," Gimyung remaja memulai, suaranya sedikit bergetar. "Apakah... apakah Big Deal bangkrut? Apakah kita jatuh miskin sampai-sampai kau tidak mampu mencari pasangan yang normal dan terpaksa berakhir dengan pria gila ini demi menghemat biaya sewa apartemen?"

Mendengar itu, Seongeun dewasa tertawa terpingkal-pingkal sampai bahunya berguncang, sementara Gimyung dewasa hanya memutar bola matanya malas.

"Big Deal tidak bangkrut, Gimyung-ah. Justru kita sudah berada di level yang tidak bisa kau bayangkan sekarang," jawab Gimyung dewasa tenang. "Dan ini bukan soal biaya sewa. Ini soal selera. Kau akan sadar bahwa wanita-wanita di luar sana terlalu membosankan jika dibandingkan dengan amukan pria ini di ranjang."

"YAK! JANGAN DETAIL BEGITU!" teriak Gimyung remaja, menutup telinganya.

Seongeun remaja, yang sejak tadi terobsesi dengan fakta kekalahannya secara hierarki ranjang, akhirnya angkat bicara dengan nada dingin. "Lupakan soal Big Deal. Pertanyaanku lebih penting. Bagaimana cara mengubah masa depan ini? Aku tidak sudi menjadi yang di 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩. Aku harus melakukan apa di masa lalu supaya sepuluh tahun lagi aku yang berada di posisimu, Kim Gimyung?"

Seongeun dewasa menatap dirinya yang lebih muda dengan tatapan meremehkan. "Mengubah masa depan? Kau pikir kau bisa menang melawan takdir? Aku dulu juga berpikiran sama sepertimu. Aku mencoba segala cara untuk membencinya, untuk menghancurkannya. Tapi lihat sekarang," ia melirik Gimyung dewasa yang membalas tatapannya dengan seringai kecil. "Semakin kau melawannya, semakin kau akan berakhir di bawahnya."

"Tidak mungkin! Pasti ada caranya!" Seongeun remaja berdiri, tangannya mengepal. "Mungkin aku harus membunuhmu sekarang, Gimyung! Kalau kau mati di masa sekarang, masa depan ini tidak akan ada!"

Gimyung dewasa hanya tersenyum tipis, sama sekali tidak merasa terancam. "Silakan coba. Tapi kau harus tahu, setiap luka yang kau berikan padaku sekarang, hanya akan menambah bumbu saat kita melakukan sex nanti. Kami di sini mengingat setiap memar yang kau buat, dan percayalah, aku membalasnya dengan cara yang jauh lebih intens di atas sana."

Gimyung remaja memijat pelipisnya, merasa dunianya benar-benar runtuh. "Jadi maksud kalian... tidak ada jalan keluar? Kami ditakdirkan untuk berkelahi hanya untuk berakhir saling memeluk di 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘩𝘰𝘶𝘴𝘦 mewah ini?"

"Anggap saja itu sebagai evolusi hubungan," jawab Gimyung dewasa santai sambil menyesap airnya kembali. "Dulu kita bertukar pukulan, sekarang kita bertukar cairan. Tidak jauh berbeda, kan?"

"SANGAT BERBEDA, BAJINGAN!" teriak kedua remaja itu secara serempak.

"Oke, aku ingin bertanya lagi!" Gimyung remaja menunjuk Gimyung dewasa. "Bagaimana dengan Ibu? Jika mereka tahu anak mereka malah sibuk dengan pria bertato yang tidak punya sopan santun ini, Ayah pasti akan menangis di kuburan!"

Ekspresi Gimyung dewasa berubah sedikit lebih serius. "Ibu baik-baik saja. Dia bahkan pernah bertanya kapan Seongeun datang untuk makan malam lagi."

"APA?!" Gimyung remaja nyaris terjungkal. "Kau membawa si gila ini ke rumah?!"

"Dia pandai mengambil hati orang tua jika sedang tidak kumat gilanya," jawabnya sambil melirik Seongeun dewasa yang sedang asyik memainkan jari-jarinya yang terpaut dengan jari Gimyung dewasa

Seongeun remaja tidak tahan lagi. Ia merasa harga dirinya sedang diinjak-injak oleh dirinya sendiri. "Hei, Versi Dewasa yang Menyedihkan. Apa kau tidak punya rasa malu? Kau bilang kau benci dia karena dia punya segalanya yang tidak kau miliki. Kau benci dia karena dia anak kandung Kim Gapryong. Tapi sekarang kau malah... kau malah membiarkan dia memilikimu?"

Seongeun dewasa menatap dirinya yang lebih muda. Tatapannya tidak lagi mengejek, tapi terasa lebih dalam. "Memang benar, aku membenci darah yang mengalir di tubuhnya. Aku membenci warisannya." Ia kemudian menoleh ke arah Gimyung dewasa dan seringai tipis muncul di wajahnya. "Tapi aku sadar satu hal, cara terbaik untuk menghina warisan Kim gapryong adalah dengan membuat anak emasnya menjadi pelayan pribadiku di atas ranjang. Kau pikir aku kalah? Tidak, Bocah. Aku menaklukkannya, hanya saja dengan cara yang berbeda."

Gimyung dewasa terkekeh, tidak merasa tersinggung sama sekali. "Kau dengar itu? Dia masih saja keras kepala soal kekuasaan, padahal tadi dia yang paling banyak mendesah."

"TUTUP MULUTMU, KIM GIMYUNG!" teriak Seongeun remaja dan Seongeun dewasa bersamaan, membuat Gimyung remaja semakin pusing.

"Lalu," Gimyung remaja bertanya lagi, suaranya kini lebih kecil dan penuh kecemasan. "Apakah... apakah orang-orang Big Deal tahu? Sinu-hyung? Jitae? Apa mereka tidak merasa aneh melihat pemimpin mereka berkencan dengan musuh bebuyutan?"

Gimyung dewasa tersenyum penuh rahasia. "Jitae tetap setia seperti biasa. Dia hanya akan berdiri di depan pintu kamar jika aku memintanya, memastikan tidak ada yang mengganggu. Dan Sinu-hyung... yah, dia hanya tertawa dan bilang kalau kami berdua memang sudah ditakdirkan untuk saling menghancurkan atau saling mencintai. Tidak ada jalan tengah."

Seongeun remaja membuang muka, wajahnya masih panas. "Ini benar-benar masa depan yang cacat. Aku tidak percaya aku akan menghabiskan sisa hidupku dengan pria yang hobi berteriak-teriak soal romansa."

"Tapi kau menyukainya, kan?" goda Seongeun dewasa pada dirinya sendiri. "Aku tahu kau memperhatikannya. Jangan bohong pada dirimu sendiri, Seongeun-ah. Kau sudah mulai tertarik padanya"

Gimyung remaja duduk di lantai, menyandarkan kepalanya yang terasa mau pecah ke sofa. "Bagaimana kau mendapat uang ini? Apakah jalanan Big Deal menjadi sangat ramai? Jangan bilang kita masih hidup dari uang setoran wilayah atau menipu orang di jalanan."

Seongeun dewasa tertawa sinis, ia memamerkan jam tangan di pergelangan tangannya yang harganya mungkin setara dengan satu blok bangunan di Gangnam. "Kau sedang menghina siapa, Bocah? Aku memimpin jaringan bisnis yang sah sekarang. 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘩𝘰𝘶𝘴𝘦 ini? Milikku. Mobil di bawah? Milikku. Dan Kim Gimyung..." ia melirik pria di sampingnya dengan nada mengejek

"Dia adalah aset paling berharga yang aku pelihara di sini." Gimyung dewasa mendengus, tidak terima. "Jangan dengarkan dia. Aku punya saham di setengah dari perusahaannya. Kami tidak sekaya ini kalau aku tidak membantunya membersihkan kekacauan yang dia buat dengan emosinya yang tidak stabil itu."

Seongeun remaja menyipitkan mata, masih merasa ada yang mengganjal. "Lalu, bagaimana dengan tato itu? Kenapa kau memenuhi tubuhmu dengan tinta sampai ke leher begitu?"

Seongeun dewasa mengusap tato di dadanya perlahan. "Setiap goresan ini aku buat untuk menutupi bekas luka yang diberikan bajingan ini," ia menunjuk Gimyung dewasa, "dan sebagian lagi aku buat karena dia bilang dia suka melihat tatonya menegang saat aku sedang..." ia menggantung kalimatnya dengan seringai mesum.

"CUKUP! AKU TIDAK BUTUH DETAILNYA DASAR TUA MESUM!" Gimyung remaja berteriak lagi, wajahnya sudah hampir meledak karena malu. "Demi Tuhan, kau benar-benar tidak punya filter!"

"Lalu" Gimyung remaja bertanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih pelan dan serius. "Apa kalian pernah... benar-benar ingin saling membunuh lagi? Maksudku, setelah semua yang terjadi di masa kami sekarang. Apa rasa benci itu benar-benar hilang total?"

Keheningan sejenak menyelimuti ruangan itu. Gimyung dewasa dan Seongeun dewasa saling pandang. Ada kilatan emosi yang rumit di mata mereka—sisa-sisa persaingan bertahun-tahun yang lalu yang kini telah bermutasi menjadi sesuatu yang lebih kuat.

"Rasa benci itu tidak pernah benar-benar hilang," ucap Gimyung dewasa dengan suara rendah yang jujur. "Kami masih sering berdebat sampai ingin menghancurkan seisi ruangan ini. Tapi perbedaannya adalah, sekarang kami tahu bahwa tidak ada orang lain di dunia ini yang sanggup menghadapi kemarahan kami selain satu sama lain."

Seongeun dewasa mengangguk tipis, setuju. "Membunuhnya akan membuat hidupku membosankan. Siapa lagi yang bisa kubuat bertekuk lutut kalau bukan Kim Gimyung yang angkuh ini?"

"Di antara kalian berdua... siapa yang paling sering mengalah? Aku tidak bisa membayangkan salah satu dari kalian menurunkan ego. Apalagi kau, Seongeun." Tanya Gimyung remaja lagi.

Seongeun remaja mengangguk setuju. "Benar. Tidak mungkin aku mengalah pada si bodoh itu."

Gimyung dewasa dan Seongeun dewasa saling melirik. Seongeun dewasa mendengus dan memutar bola matanya. "Siapa lagi kalau bukan aku? Bajingan ini punya harga diri setinggi langit. Kalau kami berdebat soal bisnis atau strategi, dia tidak akan berhenti bicara sampai aku tutup mulut."

"Jangan berbohong, Seongeun-ah," potong Gimyung dewasa dengan tenang. "Kau memang tidak pernah mengalah dalam kata-kata. Kau selalu berteriak dan memecahkan barang. Tapi pada akhirnya, siapa yang selalu mendatangiku duluan ke kamar saat malam hari?"

Seongeun dewasa terdiam, wajahnya sedikit memerah—sebuah pemandangan langka bagi versi dewasanya.

"Oh, jadi begitu?" Gimyung remaja menyeringai tipis, mulai merasa di atas angin. "Jadi di masa depan, seorang Seo Seongeun yang hebat itu yang selalu menyerah duluan? Kau menyerah demi apa? Demi pelukan?"

"Demi ketenangan, Bocah!" balas Seongeun dewasa ketus. "Kau tidak tahu betapa keras kepalanya dia. Kalau aku tidak mengalah, dia bisa mendiamkanku selama satu minggu. Dan percayalah, didiamkan oleh Kim Gimyung itu lebih menyiksa daripada dipukuli oleh sepuluh orang."

Gimyung dewasa terkekeh pelan, tangannya dengan santai menepuk bahu Seongeun dewasa. "Sebenarnya, kami punya sistem. Di luar rumah, di depan anak buah, aku yang memegang kendali. Aku yang memutuskan semuanya, dan dia akan mendukungku meski sambil mengomel. Tapi kalau sudah di dalam rumah, apalagi di dalam kamar..." Gimyung dewasa menggantung kalimatnya sambil melirik ranjang di lantai atas.

"Kau membiarkannya menang di sana?" tanya Seongeun remaja dengan nada menyelidik.

"Aku membiarkannya merasa menang," koreksi Gimyung dewasa dengan senyum penuh arti. "Itu cara terbaik untuk menjaga kewarasannya. Dia merasa berkuasa karena aku memberinya ruang untuk itu. Padahal, kita semua tahu siapa yang sebenarnya memegang kendali di sini."

Seongeun remaja mencibir. "Taktik yang licik. Kau memanipulasinya dengan memberikan ilusi kekuasaan."

"Itu namanya diplomasi, Seongeun kecil," sahut Seongeun dewasa. "Dan jangan sok suci. Kau sendiri nanti akan sadar bahwa mengalah pada pria ini sebenarnya tidak seburuk itu. Terutama kalau imbalannya adalah... yah, kau lihat sendiri tadi di atas."

Gimyung remaja mengelah nafas dan mengusap wajahnya. "Bisakah kita melewati satu sesi tanya jawab tanpa membahas hubungan sex? Aku mohon" rautnya berubah serius. Ia menatap berkeliling ruangan mewah itu, lalu menatap dua versi dewasa di depannya.

"Bagaimana cara kami pulang? Aku tidak mau terjebak di sini dan melihat kalian berdua bermesraan lebih lama lagi. Rasanya otakku mau meledak."

Seongeun remaja mengangguk cepat, menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari. "Benar. Bagaimana cara kita kembali?"

Gimyung dewasa menatap kedua remaja itu dengan pandangan yang sulit diartikan—ada sedikit rasa iba, tapi juga geli. "Pusaran itu akan datang sendiri, sama seperti saat ia menjemput kalian," ucap Gimyung dewasa tenang.

"energi apa pun yang membawa kalian ke sini bersifat sementara. Alam semesta tidak akan membiarkan dua versi dari orang yang sama berada di satu dimensi terlalu lama tanpa menyebabkan kerusakan permanen."

Seongeun dewasa menyandarkan kepalanya ke bahu Gimyung dewasa—tindakan yang membuat Seongeun remaja refleks bergidik—lalu melirik jam dinding digital di sudut ruangan. "Kalian punya waktu sekitar lima menit lagi sebelum 'pintu' itu terbuka kembali. Biasanya muncul di titik yang sama saat kalian mendarat."

"Lima menit?" Gimyung remaja berdiri dengan terburu-buru. "Bagus. Aku akan berdiri di sana sekarang juga."

Namun, Seongeun remaja tetap duduk sebentar, menatap versinya yang dewasa. "Hei. Apa ada pesan terakhir? Sesuatu yang... mungkin berguna supaya aku tidak berakhir semenyedihkan kau?"

Seongeun dewasa tertawa rendah, suara yang terdengar sangat puas dengan hidupnya sendiri. "Nasihatku? Jangan terlalu keras melawan perasaanmu sendiri, Bocah. Semakin kau membencinya, semakin dalam kau akan jatuh. Dan satu lagi..." Ia menyeringai lebar, menampakkan sisi liarnya. "Mulailah melatih otot pinggangmu dari sekarang. Kau akan membutuhkannya di masa depan."

"KAU BENAR-BENAR SAKIT JIWA!" teriak Seongeun remaja sambil melompat berdiri, wajahnya kembali merah padam.

Gimyung dewasa ikut berdiri, menghampiri Gimyung remaja. Ia menepuk pundak dirinya yang lebih muda dengan sangat keras, hampir membuat Gimyung remaja tersungkur. "Jaga Big Deal dengan baik. Dan Gimyung-ah... jangan terlalu keras pada Seongeun di masa lalumu. Ingatlah pemandangan di atas ranjang tadi. Itu adalah orang yang sama yang akan menemanimu saat semua orang meninggalkanmu."

Gimyung remaja hanya bisa mendengus, mencoba terlihat tangguh meski telinganya masih panas. "Aku tidak janji. Tapi... terima kasih, kurasa."

Tepat saat itu, udara di tengah ruangan mulai bergetar. Titik hitam yang sama muncul kembali, berputar dengan kecepatan tinggi dan menciptakan angin kencang yang mengacak-acak isi ruang tamu mewah tersebut.

"Waktunya pulang," ucap Gimyung dewasa, suaranya nyaris tenggelam oleh deru pusaran.

Pusaran hitam itu melahap mereka tanpa ampun, menarik kesadaran mereka kembali ke dalam kekosongan sebelum akhirnya menghempaskan mereka ke permukaan yang keras dan kasar.

𝘽𝙍𝙐𝙆𝙆

Gimyung dan Seongeun remaja mendarat secara bersamaan di atas aspal gang yang dingin. Bau sampah, debu, dan sisa hujan menyambut indra penciuman mereka—aroma yang jauh berbeda dari wangi 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘩𝘰𝘶𝘴𝘦 mewah tadi. Suasana Gangnam kembali bising dengan suara kendaraan di kejauhan, seolah tidak terjadi apa-apa.

Keduanya terdiam dalam posisi masing-masing selama beberapa detik. Gimyung masih berlutut dengan napas terengah-engah, sementara Seongeun tergeletak telentang menatap langit malam yang kelam.

Keheningan itu terasa sangat canggung. Jauh lebih canggung daripada sebelum mereka terlempar ke masa depan.

Gimyung adalah yang pertama bangkit. Ia menyeka debu dari celananya, lalu melirik ke arah Seongeun. Begitu matanya melihat wajah rivalnya itu, memori tentang Seongeun dewasa yang sedang mendesah di atas ranjang tadi langsung terputar otomatis di kepalanya.

"Sial," umpat Gimyung sambil membuang muka dengan cepat. "Kenapa aku harus mengingat itu?"

Seongeun bangkit berdiri dengan gerakan kaku. Ia tidak langsung menyerang Gimyung seperti biasanya. Alih-alih memasang kuda-kuda bertarung, ia justru menatap tangannya sendiri, lalu meraba punggungnya yang masih bersih dari tato penuh yang ia lihat tadi.

"Kim Gimyung," panggil Seongeun, suaranya terdengar parau dan aneh.

"Apa?" sahut Gimyung ketus, masih enggan menoleh.

"Kalau kau berani menceritakan apa yang kita lihat tadi kepada siapa pun... terutama soal posisi itu... aku bersumpah akan mencabik mulutmu sampai ke telinga."

Gimyung mendengus, akhirnya berani menatap Seongeun dengan tatapan yang sama-sama jijik. "Kau pikir aku mau? Aku lebih memilih menelan pecahan kaca daripada harus mengakui kalau di masa depan aku menjadi pasanganmu"

Seongeun remaja membenahi kerah kemejanya yang berantakan, mencoba mengembalikan sisa-sisa martabatnya.

"Duel ini..." Seongeun berdehem, mencoba menetralisir suasana. "Kita tunda lain waktu. Aku sedang tidak selera memukul wajahmu sekarang."

"Sama," balas Gimyung singkat. Ia berbalik dan mulai berjalan menjauh ke ujung gang. "Aku butuh mandi air dingin dan tidur selama tiga hari untuk menghapus bayangan tadi dari otakku."

Seongeun berjalan ke arah berlawanan, namun langkahnya sempat terhenti. Ia melirik punggung Gimyung sejenak, lalu bergumam pelan pada dirinya sendiri, "Melatih otot pinggang, ya? Dasar bajingan gila."

Malam itu menjadi saksi bisu dua orang yang kini pulang dengan kepala tertunduk dan wajah yang sama-sama merah padam—terikat oleh rahasia memalukan tentang masa depan yang tidak pernah mereka minta.

Notes:

Find me on X @claiirthelune
Plss like and comment. Cz your support will be my motivation♡