Actions

Work Header

The Anatomy of a Workspace Invasion

Summary:

Oscar Piastri’s life is formatted as neatly as an Excel spreadsheet. Everything is precise, quiet, efficient, and guaranteed to have zero errors. For him, a secluded corner of a co-working space paired with a perfectly heated flat white is the absolute definition of heaven.

Until one morning, that heaven comes crashing down.

Carlos Sainz, an overly loud Spanish interior designer who smells entirely too much like mint choco and has absolutely no concept of territorial boundaries, rents the desk right next to him. Carlos is a walking disaster.

Oscar absolutely hates him. At least, that's what he keeps telling himself. Until the desk next to him is suddenly empty.

Notes:

This fic was born purely because I want to feed the Carcar Agenda! The dynamic of a deadpan/grumpy Oscar dealing with a Carlos who is full of golden retriever energy (and completely oblivious) is just too cute to pass up. ><

This story is pure slice of life, fluff, and comfort. No heavy angst or complicated drama, just two desk neighbors slowly invading each other's personal space until they inevitably fall for each other. The tone is meant to be very casual to really capture that everyday vibe.

Happy reading, I hope you enjoy it!

Chapter 1: Invasi Teritorial

Chapter Text

Oscar Piastri adalah cowok yang hidupnya jalan di atas rutinitas. Kalau hidupnya itu sebuah spreadsheet Excel, semuanya udah diformat rapi, difilter sesuai prioritas, dan dijamin nggak ada sel yang error.

Itulah alasannya dia suka banget sama co-working space ini. Pojokan deket jendela, jauh dari mesin kopi yang berisik, ngadep langsung ke jalanan kota yang sibuk tapi suaranya teredam kaca tebal. Suasananya begitu tenang sampai-sampai Oscar bahkan nggak perlu nyalain mode noise canceling di headphone-nya. Kopi flat white di sebelahnya bersuhu pas. Kerjaan nyaris beres. Bloody brilliant morning, batinnya puas.

Terus, jam 10 pagi, bencana itu datang.

Pintu kaca kebuka lebar, dan seorang cowok melangkah masuk seolah dia baru aja menang lotre, atau minimal seolah dia yang punya gedung ini. Cowok itu nempelin ponsel di kuping, ketawa menggelegar, dan nyeret tas kulit gede yang kelihatan berat banget.

"No, no, mate! I told you, that terracotta palette is absolutely rubbish buat ruang tamunya. Terlalu gelap. We need something warmer, oke? Spot on. Right, cheers, mate!"

Oscar berhenti ngetik. Matanya menyipit. Dari belasan meja kosong di ruangan itu, cowok berisik ini dengan pedenya jalan lurus ke meja tepat di sebelah Oscar.

Bruk! Tumpukan buku tebal bertuliskan Modern Interior Architecture, gulungan blueprint, dan beberapa sampel karpet jatuh berantakan ke atas meja. Salah satu karpet berbulu tebal meluncur mulus ngelewatin pembatas meja transparan, dan berhenti tepat dua milimeter dari pinggiran MacBook Oscar.

Oscar natap karpet itu. Terus natap si cowok. Tatapannya sedingin es kutub.

Si cowok yang baru aja matiin teleponnya itu nengok. Bukannya ngerasa bersalah atau minta maaf, wajahnya malah berseri-seri. Senyumnya lebar banget sampai Oscar curiga rahang orang ini terbuat dari karet.

"Oh, hola! Carlos. Carlos Sainz," cowok itu nyodorin tangan, wajahnya secerah matahari musim panas yang nyebelin abis. "Looks like we’re desk mates now, yeah? Lo pilih brilliant spot, by the way. Dapet banget natural light-nya."

Oscar nunduk, natap tangan yang disodorin itu selama tiga detik penuh seolah itu benda najis, lalu balik natap Carlos tanpa ngebales jabat tangannya sama sekali.

"Right," jawab Oscar datar, suaranya lebih mematikan dari deadline hari Senin. "Oscar."

Lalu dia balik ngetik. Titik. Kelar. Take the bloody hint and leave me alone, harap Oscar dalam hati.

Sayangnya, Carlos Sainz ternyata kebal sama social cues. "Oscar! Lovely to meet you, mate!" balas Carlos riang, narik tangannya balik tanpa ngerasa canggung sedikit pun, dan mulai bongkar isi tasnya.

Dan dimulailah hari terpanjang dalam hidup seorang Oscar Piastri.

Dalam dua jam pertama, Oscar nyatet ada lima kebiasaan Carlos yang bikin dia pengen ngelempar orang itu keluar dari jendela lantai tiga:

  1. Carlos nggak bisa diem. Kakinya terus ngetuk-ngetuk lantai.
  2. Dia suka muter-muterin pulpen di sela jarinya. Masalahnya, dia sama sekali nggak jago. Pulpen logam itu jatuh ngebentur meja (Trak!) tiap lima menit sekali.
  3. Pas mulai ngegambar sketsa di iPad-nya, Carlos bergumam. Bukan gumaman estetik, melainkan nyanyi lagu Spanyol yang nadanya lari ke mana-mana.
  4. Parfumnya, yang entah gimana baunya persis kayak campuran daun mint seger dan lelehan cokelat manis, terlalu mendominasi dan terus menginvasi hidung Oscar. It’s basically an assault on his senses. Siapa juga cowok dewasa yang pakai parfum wangi dessert? Tapi masalah terbesarnya adalah: Oscar diam-diam suka banget wangi itu, dan itu bikin dia makin kesel karena mendadak laper.
  5. Dia selalu angkat telepon dengan volume suara seakan kliennya lagi di benua lain tanpa sinyal satelit.

Tepat jam tiga sore, pulpen Carlos jatuh buat yang ke-delapan belas kalinya. Trak!

Udah. Batas kesabaran Oscar resmi habis. Fucking hell, that’s it.

Oscar ngehela napas panjang, sangat panjang dan dramatis. Dia muter kursinya, natap Carlos pakai death glare andalannya, tatapan kosong nan tajam yang biasanya sukses bikin barista salah tingkah atau bikin salesperson langsung nutup mulut. Dengan gerakan lambat penuh penekanan, Oscar ngambil headphone Sony WH-1000XM5 miliknya, dan masang benda itu ke telinga.

Kode keras. Kalau Carlos nggak paham juga kalau Oscar lagi deklarasi perang dingin, orang itu pasti nggak punya otak.

Carlos nengok. Dia ngelihat wajah Oscar yang ditekuk sepet, natap lurus ke arahnya dengan aura membunuh.

Apakah Carlos terintimidasi? Tentu nggak. Wajah Carlos malah melembut. Senyum maklum muncul di bibirnya. Dia nyondongin badannya ke meja Oscar, dan dengan santainya (Tuhan tolong Oscar) nepuk pundak Oscar.

Oscar terpaksa ngegeser satu sisi headphone-nya dengan kesel. "What?" semburnya ketus.

Carlos ngegeser sebuah paper box anget ke depan keyboard Oscar. Wangi kayu manis dan gula karamel langsung kecium di udara, nabrak wangi mint choco dari tubuh Carlos.

"You look stressed out natapin angka-angka itu, mate," kata Carlos, suaranya penuh simpati yang tulus dan nyebelin. "Gula bakal bikin otak lo kerja lebih bener. It’s basically science. Makan, gue beli kebanyakan tadi di bawah. It's on me, yeah?"

Oscar kicep. Dia natap kotak berisi empat potong churros gendut yang masih ngepul panas itu. Terus natap Carlos, yang sekarang ngasih acungan jempol sekilas sebelum balik masang headphone-nya sendiri dan lanjut ngegambar, seolah dia baru aja nyelamatin dunia.

Oscar ngumpat dalam hati. This is absolutely mental. Dia pengen ngegeser kotak itu balik. Dia pengen bilang, I don’t want your bloody churros. Tapi perutnya emang belum diisi sejak pagi, dan wangi kayu manis itu bener-bener bajingan.

Dengan wajah masih sedatar triplek, Oscar ngambil satu churros. Dia gigit. Sialan. Renyah di luar, lembut di dalam, manisnya pas. Ini churros paling enak yang pernah dia makan.

Oscar nelen kunyahannya, ngerutuki nasibnya, ngerutuki co-working space ini, dan yang paling utama, ngerutuki si desainer interior berisik wangi mint choco di sebelahnya.

I hate him, batin Oscar sambil gigit churros itu buat kedua kalinya. I absolutely, entirely hate him.