Work Text:
Kalau ada sembilan nyawa
Mau sama mu saja, semuanya
Ini dada isinya kamu semua
Alamak, ini kah jatuh cinta?
— Alamak (Rezky Febian & Adrian Khalif)
Malam di King's Landing tidak pernah benar-benar sunyi. Ombak menghantam tebing di bawah benteng, suaranya bergemuruh seperti naga yang menggeliat dalam tidur. Angin menderu di celah-celah jendela batu, membawa bau garam yang begitu familiar di hidung siapa pun yang lahir dan besar di pulau ini.
Tapi malam ini, bagi Jacaerys Velaryon, semua suara itu hanya derau yang tak berarti.
Karena pikirannya ada di tempat lain. Di seberang lautan di Pentos. Dan sudah lebih dari empat belas jam ia terduduk di kursi besar Dewan Terbatas, sejak rapat terakhir usai.
Beberapa puluh jam lalu, para dewan sudah pergi satu per satu, meninggalkan tumpukan dokumen, atau peta yang setengah digulung, dan lilin-lilin yang hampir habis meleleh di tempatnya. Beberapa puluh jam lalu, para pelayan sudah datang dua kali, menawarkan makanan, menawarkan selimut, menawarkan apa pun yang bisa membuat Pangeran mereka meninggalkan ruangan ini.
Dan setiap kali, Jacaerys menolak dengan gelengan kepala yang sama.
Ia tahu ia tidak lapar. Ia tidak kedinginan. Ia hanya... kosong. Atau lebih tepatnya, ia hanya bisa memikirkan satu hal. Atau satu orang.
Baela. Baela Targaryen. Kekasihnya, Baela Targaryen. Namanya bergema di kepala Jace seperti mantra, seperti kutukan, seperti doa yang tak kunjung dijawab. Baela yang sekarang berada di Pentos. Baela yang mungkin sedang tertawa dengan Pangeran Pentos itu. Baela yang mungkin sedang berdansa, tersenyum, menatap orang lain dengan mata ungu yang seharusnya hanya digunakan untuk menatapnya.
Untuk kesekian kalinya, Jace menarik napas dalam-dalam. Udara di ruangan ini terasa berat, pengap, seperti paru-parunya dipenuhi batu.
Ia tahu ia bersikap bodoh. Ia tahu Baela hanya menjalankan tugas, tugas diplomatik yang penting untuk aliansi Westeros dan Pentos. Ia tahu Baela adalah perempuan yang kuat, yang bisa menjaga dirinya sendiri, yang tidak butuh Jace mengawanginya seperti elang penguntit, dan yang terpenting, perempuan yang bisa menjaga hatinya.
Namun... tapi... coba jelaskan itu pada hatinya yang sedang terbakar cemburu. Coba saja jelaskan itu pada bayangan Pangeran Pentos yang terus muncul di kepalanya: Pangeran Helirio Narratys, Sang Pangeran Pentos yang penuh aura, dengan rambut ikal hitamnya, dan senyumnya yang memikat setiap jiwa di Pentos, atau caranya menatap orang seolah mereka adalah satu-satunya yang berarti di ruangan itu.
Jacaerys sangat ingat, karena dia pernah bertemu dengannya setahun lalu, saat misi diplomatik pertama ke Pentos. Ia masih ingat jelas bagaimana Helirio bisa membuat siapa pun merasa istimewa dengan cara bicaranya. Ia ingat sepeti baru kemarin bagaimana Helirio menatap para dayangnya dengan mata yang hangat.
Dan sekarang, hal yang sangat menganggu Jacaerys, adalah bahwa Baela ada di sana. Di tanahnya. Di istananya. Dan besok, di pestanya. Di dalam lingkar pesonanya.
Kau benar-benar gila, gumam Jace pada dirinya sendiri. Kau benar-benar sudah gila.
Tapi gumaman itu tidak membuat api cemburu di dadanya padam, bahkan saat pintu besar di hadapanya berderit beberapa menit kemudian.
Jacaerys tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang, karena ia sudah hafal suara langkah itu. Langkah yang sedikit tergesa-gesa, selalu sama ritmenya, seperti pemiliknya tidak pernah bisa diam di satu tempat terlalu lama.
Langkah khas Lucerys Velaryon, adiknya yang sangat dekat dengannya.
"Mas, apakah engkau baik-baik saja?"
Mendengar suara adiknya, Jacae akhirnya mendongak untuk melihat Luke berdiri di ambang pintu dengam jubah tunggangan merah rubinya masih berkibar. Wajahnya adiknya itu masih setengah mengantuk tapi penuh kekhawatiran. Rambutnya berantakan karena habis diterpa angin perjalanan. Dan matanya—mata gelap yang sama dengan Jace, warisan dari nenek mereka, Aemma Arryn—menatapnya dengan campuran cemas dan sedikit kesal.
Melihat pemandangan di hadapannya, Jacaerys tahu Luke baru saja terbang dari Driftmark. Di tengah malam yang gelas, mungkin atas perintah Ibunda mereka yang khawatir akan dirinya. 'Temui dia, hanya kamu yang paham kakangmasmu,' pasti begitu bunyi surat itu, Jacaerys yakin karema Rhaenyra, dibalik sosoknya sebagai ratu yang bijak selalu perhatian kalau menyangkut anak-anaknya.
"Apakah Ibunda memintamu—" Jace berhenti, menggeleng pelan sembaro mengoreksi diri. Kata 'meminta' terlalu lembut untuk surat kilat di tengah malam. "—menyuruhmu ke sini untuk menjemputku? Untuk memaksaku tidur padahal aku tak hendak?"
Sebagai jawaban, Luke duduk di kursi yang persis berhadapan dengannya. Jubahnya berkibar sekali lagi sebelum akhirnya diam.
"Tentu saja. Kau pikir apa lagi?" jawab Luke, nada suaranya bercampur antara kesal karena dibangunkan dan terbang di malam hari serta sayang akan kakangmas yang dia hormati. "Dengar, Mas, wajahmu itu sudah terlihat lelah. Tidurlah dulu. Bagaimana jika kita bicara nanti pagi?"
Jacaerys menatap adiknya dengan tatapan yang sedikit kosong dan kesal. Namun, detik selanjutnya, wajahnya melunak saat melihat lingkaran hitam di bawah mata Luke jelas terlihat, meskipun ia berusaha tersenyum. Jubahnya pun sama berantalannya, masih basah oleh embun laut. Ia benar-benar terbang semalaman.
"Menurutku, kaulah yang terlihat lelah, Dik."
"Jangan memancing debat denganku, Mas." Luke memutar bola matanya malas dan menyunggingkan senyum. Senyum yang hanya ia simpan untuk masnya, untuk saat-saat ketika ia ingin mengatakan 'aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja, dan aku di sini' tanpa perlu mengucapkannya. "Aku memang lelah tapi kau juga tahu bahwa selelah apa pun aku, aku masih bisa bertarung denganmu. Sungguh."
Jacaerys hampir tertawa mendengar perkataan adiknya. Luke dan keberaniannya yang kadang keterlaluan, jika bukan karena tahu peringainya sejak kecil mungkin Jacaerys juga merasa dia kurang ajar. Tapi tawa itu hanya tersisa di tenggorokan, berubah jadi helaan napas panjang.
Di hadapannya, Luke menunggu. Tidak memaksa. Hanya menunggu.
Namun, itulah yang membuat Jace akhirnya menyerah. Luke tidak seperti orang lain yang selalu ingin tahu, yang selalu mendesak. Luke hanya ada, selalu ada. Dan kadang, kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat Jace merasa tidak sendirian.
"Baiklah," Luke memulai lagi, suaranya lebih lembut sekarang. "Mari lupakan tidur dulu." Ia menjulurkan leher, berpura-pura mengamati Jacaerys seperti maester dari Old Town yang sedang meneliti spesimen langka. "Sekarang, maukah kau cerita kenapa wajahmu muram? Atau mungkin, kenapa kau cemberut? Setahuku, hanya ada satu alasan di balik perilakumu yang satu itu..."
Jacaerys mendengus di detik selanjutnya. Apakah ia seterlihat itu? Ia pikir, apakah semua orang bisa membaca isi hatinya hanya dari wajahnya?
"Sepertinya adikku yang satu ini memang cocok jadi penyelidik," katanya, mencoba tertawa. Tawa yang keluar terdengar kecil, sedikit dipaksakan, tapi masih hangat. Karena bagaimana pun, ini Luke. Adik teedekatnya, satu-satunya orang yang boleh melihatnya lemah tanpa takut dihakimi.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Mas." Luke mendesak, tapi nada suaranya tidak keras. Hanya bersikeras. "Jujur padaku, apa ini tentang Mbak Baela lagi?"
Dan di sanalah.
Nama itu.
Baela. Baelanya.
Seketika, Jacaerys merasakan dadanya sesak, seperti ada tangan raksasa yang meremas jantungnya. Ia ingin berdusta, sungguh. Ingin tertawa dan berkata 'jangan konyol, Dik'. Ingin berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa ia hanya lelah, bahwa rapat dewan memang melelahkan, bahwa tidak ada yang salah.
Tapi detik selanjutnya, ide itu terlihat tidak bagus. Ia mengenal betul pikiran Lucerys yang skeptis. Luke yang akan terus bertanya, terus menggali, dan terus menusuk sampai menemukan apa yang ia cari.
Akhirnya, Jacaerys tahu, bahwa lebih baik menyerah sekarang.
Maka selanjutnya, ia menghela napas panjang. Napas yang dalam, napas yang sepertinya keluar dari dasar dadanya yang paling berat. "Ibunda mengirim Baela ke Pentos, Luke."
Lucerys mengangkat alisnya perlahan, tapi diam. Menunggu agar masnya segera memberi tahu seluruh kejadian yang membuatnya sampai kesana.
"Dia pergi sore tadi. Akan kembali beberapa hari lagi." Jacaerys menelan ludahnya sendiri, dan merasakan kata-kata berikutnya seperti kerikil di tenggorokan. "Tugasnya mudah, tentu saja. Hanya menghadiri pesta Pangeran Pentos sebagai delegasi kerajaan."
"Lalu?" Alis Luke terangkat satu. Senyum kecil mulai terbentuk di bibirnya, senyum yang sudah Jacaerys kenal sebagai senyum 'aku-tahu-aku-tahu' yang menyebalkan. Senyum yang membuat siapapun akan kesal melihatnya.
"Namun Ibunda tidak mengizinkanku ikut."
Seketika, Lucerys tertawa keras. "Mas, kau itu ahli waris. Nyawamu itu sama pentingnya dengan mahkota di kepala Ibunda." Luke berhenti sejenak, menimbang-nimbang kata-katanya dengan seksama. "Jangankan Ibunda, Mas. Jika kau tanya padaku, aku pun tak akan membiarkanmu pergi."
"Kau benar, Dik, tapi..."
"Tapi apa?"
Jacaerus tidak menjawab, tidak langsunh. Ia hanya menatap jendela di samping mereka. Di luar, Blackwater Bay terbentang gelap, tak terlihat ujungnya. Dan di antara kegelapan itu, Jacaerys tahu bahwa di suatu tempat di seberang lautan itu, ada Baela sedang bersiap untuk pesta. Baela mungkin sedang memilih gaun. Baela mungkin sedang tersenyum pada dayang-dayangnya Helirio yang ditugaskan untuk membantunya. Baela mungkin sedang tidak memikirkannya sama sekali.
"Kau menghindari mataku..." Luke menghela napas, tapi nada suaranya tidak marah. Malah, ada kelembutan di sana, walaupun masih terbungkus keusilannya yang tidak pernah hilang. "Katakan saja, Mas. Katakan apa yang kau pikirkan, apa yang ingin kau lakukan. Jangan menggerutu sendiri. Kita sudah cukup besar, jadi mari bicara seperti lelaki—"
"Aku tahu, Luke. Aku ini lelaki," potong Jacaerys cepat, mungkin terlalu cepat sehingga memberi kesan bahwa dia kesal.
"Kalau begitu, bicaralah seperti lelaki." Luke mendesak, tapi suaranya tetap lembut. "Dengar, Mas. Aku ini baru terbang dari Driftmark tengah malam, mengira ada hal genting, atau bahkan berbahaya yang menimpamu dan Ibunda. Kau tak tahu betapa khawatirnya aku sangat menerima surat dari Ibunda tentangmu."
Jacaerus akhirnya menatap adiknya. Benar-benar menatap. Melihat lingkaran hitam di bawah matanya sekali. Melihat rambutnya yang berantakan lagi. Melihat jubahnya yang masih basah di bawah sinar lilin dan bulan.
Ia memang tidak tahu. Ia terlalu sibuk dengan kesedihannya sendiri, terlalu sibuk meratapi kepergian Baela, terlalu sibuk duduk di sini membiarkan waktu berlalu, sampai lupa bahwa ada orang-orang yang mencintainya, yang khawatir padanya, yang akan terbang di tengah malam hanya untuk memastikan ia baik-baik saja.
Akhirnya, ia menghela napas panjang. Napas yang ketiga kalinya, tapi kali ini berbeda. Ini napas pasrah. Napas menyerah.
"Bagaimana kalau aku bilang aku ingin ke Pentos sekarang?"
"Sepagi ini?" Luke terbelalak, kaget terlihat jelas di raut wajahnya. Sungguhan, bahkan matanya hampir keluar dari rongganya. "Padahal kau sendiri belum tidur? Jawab aku, apa kau sudah gila, Mas?"
Jacaerys hanya mengangkat bahu sebagai responnya. Lagian apa yang bisa ia katakan? Mungkin memang ia sudah gila. Mungkin jatuh cinta memang membuat orang gila. Mungkin Baela adalah gilanya, dan jikapun iya, maka Jacaerys tak ingin sembuh.
"Ibunda akan membakarmu hidup-hidup jika tahu kau pergi, Mas."
"Ya, biarkan saja. Antara itu atau aku terbakar api cemburuku sendiri." Jacaerys mencebik seraya berucap—cemberut yang sama yang membuat Luke datang kemari, cemberut yang sama yang membuat seluruh Red Keep bertanya-tanya ada apa dengan Pangeran Jacaerys. "Apapun itu, Dik, rasanya aku akan mati."
Luke perlahan menggeleng. Sungguh, ia tak percaya pada kerepotan masnya yang terdengar begitu lucu. "Kau sangat menyedihkan sekarang, Mas. Menyedihkan dan gila." Senyum lebar terpampang di bibir tipisnya selagi ia berucap—jelas terhibur. Mungkin memang kejam, tapi melihat Kakangmasnya yang biasanya tenang dan terkendali sekarang hancur lebur hanya karena Baela pergi beberapa hari... tentu saja ini tontonan yang terlalu bagus untuk dilewatkan bagi seorang Lucerys Velaryon.
Namun, Jacaerys, yang memang benar sudah gila hanya cemberut lagi. Lebih dalam dari sebelumnya. "Mau bagaimana lagi, Dik. Aku ini rindu."
"Kurasa Mbak Baela sendiri akan tertawa melihatmu, Mas. Atau mungkin dia akan membakarmu sendiri."
"Ah, pergilah jika kau hanya ingin mengusikku, Dik." Jacaerys kemudian melambaikan tangannya, berpura-pura mengusir.
Tapi Lucerys, diluar prediksi kakangmasnya, tidak pergi. Ia malah diam, memandang masnya dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah serius. Dan seketika, Jacaerys tahu sorot mata itu. Itu sorot mata Luke saat ia akan melakukan sesuatu yang nekat.
"Hmm... kita bisa pergi sekarang."
Jacaerys mendongak cepat. Terlalu cepat hingga ia merasa lehernya hampir keseleo.
"Aku bisa memohon pada Ibunda, bilang ini ideku." Luke tersenyum selagi berucap ide gilanya, tapi matanya serius. Sangat serius. "Kau tahu Ibunda tak akan terlalu marah, setidaknya kepadaku. Lagipula, jikapun ia marah, aku yakin kakek Corlys akan membantuku."
"Kau serius, Luke?"
"Yah... mungkin aku juga penasaran dengan Pangeran Pentos ini." Lucerys mengangguk yakin. Tapi di balik keyakinannya, ada senyum kecil yang mengatakan 'aku melakukan ini untukmu, Mas. Jangan pernah lupa'. "Lagipula, aku bisa belajar tentang Pentos. Kuharap, tahun depan aku bisa bantu Kakek berdagang ke Pentos, lalu Essos. Ekspor rempah bagus dari sana, kan?"
Jacaerys menatap adiknya tidak percaya. Adiknya yang masih muda, yang seharusnya tidur nyenyak di Driftmark, yang seharusnya tidak perlu ikut campur dalam urusan percintaan masnya yang menyedihkan ini.
Tapi di sinilah dia. Menawarkan diri. Menjadi penyelamat.
"Tahu kah kau? Bahwa kau adik kesayanganku?"
"Simpan saja terima kasihmu, Mas." Lucerus mendengus sebelum tersenyum hangat. "Tapi kita harus pergi sekarang jika kau benar-benar mau. Temui aku di tebing segera setelah kau berkemas?"
Jacaerys mengangguk semangat. Untuk pertama kalinya dalam empat belas jam, ada api di matanya. Bukan api cemburu lagi, tapi api harapan. "Siap. Aku bawakan makanan juga."
"Baik. Sampai jumpa, Mas."
Dan beberapa saat kemudian, dua naga mengudara meninggalkan King's Landing. Vermax dan Arrax terbang berdampingan di bawah cahaya bintang, sayap mereka membelah angin malam yang dingin. Dari atas punggung naga, ibu kota Westeros itu terlihat semakin kecil. Pertama hanya sebesar kepalan, lalu sebesar kacang, lalu hilang ditelan gelapnya laut.
Selama perjalanan, Lucerys melambai dari atas Arrax, mencoba menarik perhatian Jace. Mungkin ia ingin bercanda, mengomentari sesuatu tentang perjalanan, atau sekadar memastikan masnya tidak jatuh karena melamun. Tapi Jacaerys hanya melambai balik tanpa benar-benar melihat.
Pikirannya sudah lebih dulu sampai di Pentos. Selama dua belas jam perjalanan, Jacaerya hampir tidak berbicara. Matanya menatap lurus ke depan—ke arah timur, ke arah Pentos, ke arah Baela. Saat angin malam menerpa wajahnya, membuat matanya perih, ia tetap tidak peduli. Biar saja, pikirnya. Biar rasa perih ini mengingatkannya bahwa ia masih hidup, bahwa ia sedang dalam perjalanan, bahwa sebentar lagi ia akan melihatnya.
Kadang-kadang, ia memejamkan mata. Dan di balik kelopak matanya, yang muncul hanya satu: Baela. Baela yang tersenyum. Baela yang tertawa. Baela yang memandangnya dengan mata ungu cantik nan sempurna yang selalu bisa membuatnya lupa diri.
Apa yang sedang kau lakukan sekarang, Sayang? tanyanya dalam hati. Apakah kau memikirkan aku? Atau apakah Pangeran itu sudah berhasil membuatmu lupa? Ia benci pikirannya sendiri. Benci rasa cemburu ini. Tapi apa boleh buat, ia tidak bisa mengendalikannya.
Di belakangnya, Lucerys terbang dengan tenang. Mungkin ia juga punya pikirannya sendiri—mungkin tentang tunangannya Rhaena, tentang Driftmark, tentang masa depan yang menantinya—tapi ia tidak mengganggu Jace. Ia hanya mengikuti, setia di belakang, seperti yang ia janjikan tahun lalu saat perang tercetus: aku selalu di belakangmu, Mas, selalu bersamamu.
Dan untuk itu, Jacaerys bersyukur.
Saat matahari mulai naik di ufuk timur, akhirnya mereka mencapai daratan Pentos. Dari atas, kota itu terlihat seperti permadani raksasa yang terbentang di tepi laut—bangunan-bangunan batu kapur putih, atap-atap tanah liat merah, pelabuhan yang dipenuhi kapal dagang dengan layar berwarna-warni. Udara yang mereka hirup pun kini terasa berbeda. Terasa lebih hangat, lebih berat, bercampur aroma rempah, laut, dan sesuatu yang manis. Mungkin bunga. Mungkin buah. Mungkin hanya imajinasi Jacaerys yang mulai tidak karuan.
Mereka mendarat di bukit kecil di luar kota, tempat yang cukup terpencil agar tidak menarik perhatian. Vermax dan Arrax segera mengudara lagi setelah mereka turun—naga-naga itu akan berpatroli di sekitar, menunggu dipanggil. Dan secepatnya, Jacaerys dan Lucerys berganti pakaian terbang dengan jubah pesta yang mereka bawa: Jacaerys dengan merah tua khas wangsa Targaryen bersulam tiga kepala naga dalam perak, dan Luke dengan hijau khas Velaryon yang dihiasi banyak mutiara-mutiara mahal.
"Wah, di sini seperti Dorne," Luke bergumam takjub saat mereka berjalan menuju kota. Matanya berkeliling, menyerap setiap detail—warna-warna cerah di pakaian penduduk, arsitektur asing, pasar yang sudah mulai ramai meskipun masih pagi. "Hanya terasa sedikit lebih panas. Tapi kurang lebih sama."
"Tetap berjalan di dekatku, Luke." Jacaerys berkata, suaranya rendah tapi tegas, langkah kakinya menyesuaikan adiknya walaupun berjalan di depannya. "Jangan sampai tersesat."
"Baik, Mas. Aku selalu di belakangmu."
Mereka berjalan beriringan di jalan-jalan Pentos yang mulai ramai, dan diluar dugaan mereka, mata-mata para orang lokal mulai tertambat pada mereka. Mungkin karena mereka terlihat asing. Mungkin karena jubah merah Wangsa Targaryen-Velaryon yang terang. Namun, mungkin juga karena paras rupawan kedua putra Rhaenyra Targaryen yang dapat mencuri hati siapa pun yang melihatnya. Beberapa penduduk menatap mereka dengan rasa ingin tahu, seorang pedagang buah hampir menjatuhkan dagangannya karena terlalu lama menatap Lucerys yang tersenyum lebar penuh kharisma, dan sekelompok wanita menatap penuh kasih pada Jacaerys yang mempercepat langkah karena tidak nyaman.
Saat istana Pentos muncul di ujung jalan, itu terlihat lebih megah dari yang Jacaerys ingat. Gerbangnya besar, tinggi, dilapisi emas yang berkilauan di bawah sinar matahari, dan dijaga oleh pengawal berseragam putih-emas, dengan tombak berujung perak yang tampak lebih dekoratif daripada fungsional. Tapi Jacaerys pun tahu, jangan meremehkan pengawal Pentos. Mereka mungkin terlihat seperti pajangan, tapi tangan mereka lebih terlatih untuk membunuh.
"Perlihatkan identitas kalian," ujar salah satu pengawal. Suaranya datar, tanpa emosi.
Seketika, Jacaerys dan Lucerys bertukar pandang bingung. Lucerys terlihat lebih bingung, dan itu karena ia memang tidak pernah membawa identitas ke mana pun. Di Westeros, maga dan wajahnya sudah cukup menjadi identitasnya. Tapi ini Pentos, dan ia tahu, sekarang beda aturan.
Namun Jacaerys, dengan segala kebijaksanaan yang ia warisi dari ibunya, hanya tersenyum percaya diri. Ia kemudian melangkah maju, berdiri tegak, dan berkata dengan suara yang tegas—suara yang biasa ia pergunakan dalam urusan formal kerajaan, suara sang ahli waris.
"Beri tahu kepada Pangeran kalian, Pangeran Helirio Narratys, bahwa aku Jacaerys Velaryon dan adikku Lucerys Velaryon datang untuk bertemu dengannya dan menghadiri pestanya." Ia berhenti sejenak, membiarkan namanya meresap. "Aku yakin Pangeran Helirio akan tahu siapa aku," Jacaerys mengangguk yakin.
Para pengawal terlihat kikuk di detik selanjutnya. Lalu, Mereka saling berpandangan, tidak yakin harus bagaimana. Seorang dari mereka tampak ingin berkata sesuatu, tapi urung. Yang lain menggenggam tombaknya lebih erat, seolah siap menghadapi kemungkinan terburuk.
Di situasi itu, Jacaerys tetap tersenyum. Tetap tenang, tetap percaya diri. Namun di dalam, jantungnya berdebar kencang—tapi itu urusan internal. Di luar, ia adalah Pangeran Jacaerys Velaryon, Putra Mahkota Westeros, Ahli waris Ratu Rhaenyra Targaryen, sang Ratu Naga.
Untunglah, sebelum situasi memanas, seorang magister turun dari dalam. Pria itu berpakaian jubah biru—warna yang hanya boleh dipakai oleh anggota dewan kota—dan berjalan dengan tergesa-gesa. Sepersekian detik kemudian, Jacaerys merasa bahwa ia mengenalinya. Derylio Mopatis, ia berfikir, salah satu kenalan dekat Helirio. Mereka pernah bertemu setahun lalu, saat Jacaerys pertama kali datang ke Pentos.
"Pangeran Jacaerys!" Derylio membungkuk hormat, napasnya sedikit tersengal. "Maafkan kami atas ketidaknyamanan ini, Yang Mulia. Para pengawal ini baru bertugas, jadi mereka tidak tahu," Ia menatap para pengawal dengan tatapan tajam dan para pengawal langsung menunduk, wajah mereka pucat. "Jika kami tahu kalian akan datang, Pangeran Helirio sendiri akan menjemput. Nah, sekarang, mari ikut saya. Pesta sudah dimulai, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?"
Jacaerys mengangguk anggun, perannya sebagai ahli waris seketika digunakan. "Tidak apa-apa, Magister Derylio. Kedatangan kami memang tiba-tiba." Ia melirik Luke sekilas, meyakinkan adiknya bahwa semua baik-baiknya. "Aku justru senang masih diperbolehkan bergabung."
"Tentu saja boleh, Yang Mulia! Tentu saja!" Derylio berjalan cepat di depan mereka, mempersilakan mereka masuk. "Engkau adalah teman Pangeran kami. Kehadiranmu selalu ditunggu, selalu!"
Mereka melewati koridor panjang yang dihiasi lukisan-lukisan besar—pemandangan Pentos dari masa ke masa, potret para pangeran dan magister, kapal-kapal dagang yang berlayar di laut biru. Selama itu, Lucerys berjalan dengan mata berbinar, menikmati setiap detail arsitektur asing ini. Dan Jacaerys berjalan dengan wibawa, tapi pikirannya sudah melayang.
Di mana Baela? Jacaerys berfikir lagi. Apakah ia sudah tahu mereka datang? Apakah ia akan marah? Atau senang? Atau..?
"Pangeran Jacaerys, Pangeran Lucerys, selamat datang di Istana Pentos." Derylio membuka pintu besar menuju ruang pesta. Suara musik dan keramaian segera menyambut mereka. "Mari, silahkan nikmati pestanya. Pangeran Helirio akan segera menemui kalian."
Dan saat itulah, dunia Jace berhenti, matanya mencari kehadiran kekasihnya di ruangan yang ramai.
Sementara, Luke yang lebih cepat menemukan Baela, mendekat, berbisik di telinganya. "Mas, coba tengok ke arah sana." Ia menunjuk dengan dagunya santai. "Mbak Baela terlihat menawan, Mas."
Saat Jacaery mengikuti alur arah yang ditunjuk Lucerys, akhirnya dia menemukannya.
Disana, kekasihnya, Baelanya, berdiri di dekat jendela besar, dengan gaun merah darahnya yang memantulkan cahaya lilin dari ratusan kandil kristal. Rambut peraknya tergerai indah, dengan satu perhiasan di leher—kalung rubi kecil yang dulu pernah Jacaerys berikan, setahun lalu saat perang berhembus, sebagai tanda cintanya yang lebih dari nyawanya sendiri. Disana, Baela sedang tersenyum, tertawa ringan, berbincang dengan beberapa magister Pentos.
Disana, tubuhnya sedikit berputar, dan gaunnya mengikuti gerakannya dengan menciptakan siluet yang—bagi Jacaerys Velaeyon—terlihat seperti lukisan yang hidup. Atau bahkan, seperti seorang Dewi Valyria sendiri.
Dan, disana, Jacaerys lupa bernapas.
"Jangan terlalu terlihat jatuh cinta, Mas." Lucerys berkata seraya menyenggol bahunya untuk menyadarkannya. "Engkau sungguh terlihat seperti orang bodoh kalau begitu." Ia menunjuk ke arah lain, di mana Pangeran Helirio datang bersama Derylio. "Bagaimana jika kita sapa tuan rumah dulu? Mbak Baela tidak akan ke mana-mana."
"Tentu saja." Jacaerys bergumam, suaranya hampir tak terdengar.
Helirio Narratys berjalan mendekat dengan senyum lebarnya. Pangeran Pentos itu tinggi, gagah, dibalut sutra emas dengan mode Pentoshi yang elegan. Rambut ikalnya hitam, matanya cokelat hangat, bahkan terlalu hangat bagi Jace. Caranya menatap orang seolah mereka adalah satu-satunya yang penting di ruangan ini.
"Pangeran Jacaerys! Aku tidak mengira kau akan datang!" Helirio mengulurkan tangan, suaranya penuh antusiasme.
Jacaerys menjabat tangannya dengan wibawa seorang ahli waris. "Pangeran Helirio, maafkan kedatangan kami yang tiba-tiba dan sedikit telat. Dan terima kasih telah menerima kami di pestamu yang megah ini."
"Tentu saja! Aku sangat senang raja Westeros selanjutnya datang ke pestaku." Helirio menepuk bahu Jacaerys dengan akrab, seperti teman lama. "Ini penghormatan tinggi untuk aliansi kita." Matanya beralih ke Lucerys yang tersenyum di sampinya. "Dan ini... apakah ini Pangeran Lucerys? Pangeran yang ceritanya sangat sering kudengar? Pangeran yang sepanas api dan seberbahaya air yang mengalir di darahnya?"
Lucerys tersenyum diplomatis namun membiarkan beberapa tawa lepas. "Senang bertemu denganmu, Pangeran Helirio. Aku Lucerys Velaryon, Pangeran Westeros dan Tuan Muda Driftmark." Ia mengulurkan tangan. "Terima kasih telah menerima kami. Pentos sangat hidup dan menyenangkan. Jujur, aku harus bilang bahwa aku sudah jatuh cinta pada kotamu."
Helirio tertawa lepas setelah mendengar Lucerys, jelas terlihat senang akan sanjugan yang diucapkan atas kotanya. "Kau punya lidah yang mahir, Pangeran Lucerys. Seperti ayahmu, dan sangat mirip dengan kakekmu. Darah Velaryon, ya? Aku yakin Lord Corlys sendiri yang melatihmu."
"Tentu saja." Lucerys tidak kehilangan senyumnya. "Kakek Corlys adalah panutanku. Dan seperti dirinya, aku sangat menyukai aliansi rempah-rempah dengan Pentos." Ia melirik Jacaerys sekilas, mengirim sinyal hening, lalu kembali ke Helirio. "Karena itulah aku memohon pada Kakangmasku yang baik hati ini untuk menemaniku ke sini. Karena untuk urusan rempah, Pangeran Helirio, aku ingin belajar dari yang terbaik. Dan tentunya, ingin bekerja dengan yang terbaik pula."
Lucerys berbohong dengan sangat santai, seolah itu adalah kebenaran yang paling nyata. Dan Jacaerys hampir tersenyum, karena adiknya memang berbakat dalam persuasi. Dan kebohongan ini akan menjadi alibi yang sempurna saat mereka kembali ke Ibunda mereka nanti.
"Kau penerus kakekmu yang sesungguhnya, Pangeran Lucerys." Helirio menepuk bahu Luke dengan bangga. "Kita harus bicara lebih lanjut nanti, ya? Aku punya banyak cerita tentang rute perdagangan Essos yang mungkin kau butuhkan."
"Dengan senang hati, Pangeran Helirio."
Helirio mengangguk puas, lalu kembali ke Jacaerys. "Ah! Tunanganmu ada di suatu tempat di sini, Pangeran Jacaerys." Ia menunjuk ke seluruh ruangan dengan jari telunjuknya, meminta mereka untuk mencari sendiri. "Harus kuakui, dia sangat cantik saat tadi aku melihatnya. Dan kau, Pangeram Jacaerys, kau adalah lelaki yang sangat beruntung." Ia menepuk pundak Jacaerys sekali lagi, hangat, sebelum pergi melenggang ke tamu undangan lain.
Selepas kepergian Pangeran Pentos, Jacaerys mendengus pelan, akhirnya meninggalkan topeng ahli warisnya dan membiarkan perasaan aslinya terungkap. "Apa maksudnya menyebut Baela cantik?" Wajahnya cemberut, matanya memutar malas.
Di sampingnya, Lucerys tidak kuasa menahan tawa. "Kau sungguh gila, Mas." Ia tertawa terbahak-bahak, tidak peduli beberapa tamu menoleh ke arah mereka. "Pangeran Helirio itu baru memuji tunanganmu, hanya memuji. Bukan mengajaknya kabur, bukan mengajakmu bertarung. Tenanglah sedikit."
"Kau tidak mengerti, Luke."
"Oh, oh, aku mengerti." Lucerys masih tertawa, menikmati setiap saat mengusili kakangmasnya. "Aku mengerti betul. Kau cemburu buta pada pangeran yang bahkan tidak punya niat buruk. Ini lucu sekali sampai-sampai aku rasa seluruh keluarga kita akan tertawa jika mereka tahu."
Sebagai respon, Jacaerys hanya bisa mendengus lebih keras, karena dia tahu saat ini Lucerys sudah tidak bisa dihentikan. Setidaknya sampai dia puas menjahili dirinya.
"Sepertinya aku butuh air sebelum aku gila melihatmu gila." Lucerys menepuk bahu Jacaerys, tawanya mulai berhenti, namun kepalanya masih menggeleng. "Apakah kau kuambilkan juga?"
"Ya, boleh. Aku rasa sepertinya suaraku akan hilang ditelan api cemburu."
"Dasar, gila" Lucerys tersenyum lebar sebelum menepuk pundak Jacaerys ringan. "Tunggu di sini, Mas. Jangan lari ke Mbak Baela dulu sebelum aku kembali."
"Ya, ya, pergilah."
Detik selanjutnya, Lucerys pergi meninggalkannya, melenggang di antara para tamu dengan senyum diplomatis yang sempurna. Dan Jacaerys berdiri sendiri di tengah keramaian, matanya kembali tertambat pada Baela.
Baela yang masih berbincang dengan para magister, tangannya memegang gelas anggur, jari-jarinya yang lentik bergerak anggun saat ia berbicara. Baela yang tertawa lagi—tawa yang Jace kenal, tawa yang biasa ia dengar saat mereka berdua di Dragonstone, saat tidak ada orang lain yang melihat.
Tawa yang Jace rindukan.
Tanpa ia tahu berapa lama ia berdiri di sana dan hanya menatap, waktu terasa berputar dan berhenti secara bersamaan. Lalu, hilang ditelan keheningan. Mungkin beberapa menit. Mungkin hanya beberapa detik. Namun yang ia tahu, tiba-tiba ada tepukan di bahunya. Tepukan yang lalu berubah menjadi sentuhan yang sangat familiar—sangat, sangat familiar. Sentuhan yang membuatnya berbalik dengan cepat.
Dan di sanalah dia.
Baela Targaryen.
Kekasihnya.
Seluruh hatinya.
Jiwa raganya.
Kini, dia berdiri tepat di depannya, hanya satu langkah jaraknya. Gaun merah darahnya kini terlihat lebih dekat, dan Jacaerys bisa melihat detail sulaman emas di ujung lengan. Bisa melihat kilauan kecil di matanya yang ungu, bisa melihat senyum yang perlahan terbentuk di bibirnya.
Senyum yang hanya untuknya.
"Aku kira aku mulai berhalusinasi," Baela berkata, suaranya lembut, bercampur antara tidak percaya dan bahagia. Alisnya berkerut, matanya membelalak, dan bibirnya membentuk senyuman lebar. "Tapi ternyata, kau benar-benar di sini."
Lalu, tanpa ragu, tanpa peduli siapa yang melihat, Baela memeluknya erat. Tangannya melingkar di leher Jace, menariknya ke bawah, memeluknya seolah ia takut Jace akan menghilang jika dilepaskan. Selanjutnya, seluruh tubuhnya seolah menyatu dengan lekukan-lekukan Jace, seolah mereka memang diciptakan untuk saling melengkapi.
Tentu saja, Jacaerys membalas pelukan itu. Tangannya yang semula kaku perlahan melingkar di pinggang Baela, menariknya lebih erat. Dan kemudian, ia membenamkan wajah di leher Baela, dan menarik napas panjang menghirup wanginya. Wanginya—wangi bunga malam yang selalu melekat di rambut Baela, wangi yang sama yang ia rindukan di bantalnya setiap malam—memenuhi indranya.
Seketika, dunia terasa meredup. Musik di kejauhan terdengar seperti sayup-sayup. Keramaian para tamu seperti latar belakang yang buram. Dan saat itu, hanya ada Baela, hanya ada cahayanya.
Di pelukan Baela, Jace merasakan kehangatan yang ia rindukan belasan jam lalu. Di pelukan Baela, ia merasa seluruh dunianya lengkap. Di pelukan Baela, ia akhirnya merasa tenang.
"Aku sungguh bisa menciummu di sini," bisik Baela selagi melepas pelukan mereka dalam High Valyrian, bahasa kebanggaan mereka, bahasa leluhur mereka, bahasa yang hanya mereka berdua yang mengerti di ruangan ini. "Jika aku tidak ingat bahwa banyak yang memperhatikan kita, sungguh aku akan melakukannya."
Dengan cepat, pipi Jace merona, sangat merah. Aneh rasanya, pikirnya. Setelah bertahun-tahun bersamanya—setelah tumbuh bersama, setelah bertunangan, setelah melewati begitu banyak hal—ia tetap tidak pernah bisa kabur dari rayuan Baela. Perempuan ini, dengan segala keberanian dan kepercayaan dirinya, masih bisa membuatnya salah tingkah seperti remaja.
"Kau tidak marah aku tiba-tiba datang?" tanyanya, suaranya sedikit serak.
Baela melepaskan pelukan sepenuhnya, tapi tangannya masih menggenggam tangan Jace. Ia menatap Jace dengan mata yang berkilau, lalu berpura-pura berpikir—alisnya berkerut, bibirnya manyun, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang sangat serius.
Namun, Jacaerys tahu itu sandiwara. Ia sudah hafal setiap raut wajah Baela. Tapi, apapun itu, ia tetap menunggu sembari tersenyum kecil.
Saat senyum Baela kembali, itu terasa hangat, lembut, dan penuh arti. "Sejujurnya, aku sudah mengira kau akan datang saat Ibunda hanya mengirimku."
Jacaerys tertawa lepas seketia
Ka. Tawa yang ringan, tawa yang lega, tawa yang sudah lama tidak ia keluarkan. "Benarkah? Sepertinya kau lebih mengenalku daripada aku sendiri."
"Bukankah itu sudah jelas?" Baela berkata percaya diri, senyumnya tidak pernah luntur. "Aku kenal kau hampir seluruh hidupku, Jacaerys. Aku tahu cara kau berjalan, cara kau berbicara, cara kau mengerutkan dahi saat memikirkan sesuatu, cara kau cemberut atas hal-hal yang kesali, cara kau merajuk membujukku untuk sesuatu yang aku tidak mau." Ia menjeda, matanya melembut. "Dan aku mencintaimu lebih dari setengah usiaku. Tentu saja aku kenal peringaimu."
Jacaerys tertawa lagi, hatinya penuh akan kekasihnya. "Sejujurnya aku sedikit takut kau akan marah. Tapi jujur, aku senang mendengar kau senang aku di sini."
"Untuk apa aku memarahimu?" Baela menggenggam tangannya lebih erat. "Terlebih saat aku tahu bahwa Ibunda akan memarahimu."
Dan konyolnya, Jace hanya menyunggingkan senyum lebar. Bahkan saat wajah marah Rhaenyra terlintas di pikirannya—dengan mata ungu menyala, dengan nada suara yang bisa membuat batu pun gemetar—ia tetap tersenyum. Karena Baela di sini. Karena Baela menggenggam tangannya. Karena Baela tidak marah. Karena Baela bersamanya.
Semua rasa lelah, semua rasa cemas, semua api cemburu yang membakarnya selama empat belas jam terakhir—semua lenyap. Hilang ditelan senyum Baela.
"Jadi, Sayangku," Baela mencondongkan tubuh, suaranya menurun menjadi bisikan, "Bagaimana jika kita menikmati hari ini dulu? Bisakah kau menemaniku berkenalan dengan para magister, berdansa sedikit, berpura-pura menjadi pangeran tampan yang datang jauh-jauh hanya untuk menemani adiknya berdagang rempah." Ia tersenyum penuh arti, penuh perhatian dan juga jahil. "Lalu nanti, saat kita kembali ke Dragonstone, baru kita pikirkan nasibmu di tangan Ibunda. Setuju?"
Jacaerys menatapnya dalam-dalam, Baela dengan mata ungu yang berkilau, dengan senyum yang hanya untuknya, dengan tangan yang menggenggam erat tangannya. Dan kemudian, terasa ada api menjalar di perutnya—api yang hangat, api yang baik, api yang membuatnya ingin menarik Baela ke pelukan lagi, menculiknya, membawanya kembali ke Dragonstone, menghabiskan waktu selamanya hanya berdua.
Akhirnya, ia hanya mengangguk. "Setuju."
Baela tersenyum puas, menangguk penuh kemenangan. "Bagus." Ia menarik tangan Jacaerys, siap berkeliling. "Ayo, aku perkenalkan kau pada para Magister. Mereka penting untuk aliansi Ibunda."
Dan Jacaerys mengikuti.
Ia mengikuti Baela melewati keramaian, melewati para bangsawan Pentos yang menatap mereka dengan rasa ingin tahu, melewati meja-meja panjang yang dipenuhi makanan. Ia mendengarkan Baela berbicara dengan para magister, memperkenalkannya sebagai tunangannya, Putra Mahkota Rhaenyra Targaryen. Ia menjabat tangan, tersenyum sopan, mengucapkan kata-kata diplomatis yang tepat.
Tapi matanya tidak pernah lepas dari Baela.
Ia melihat bagaimana Baela berbicara, dengan percaya diri, dengan wibawa, dengan pesona yang membuat siapa pun yang mendengarkannya merasa istimewa. Ia melihat bagaimana Baela tertawa, tawa yang sama yang membuatnya jatuh cinta pertama kali. Ia melihat bagaimana Baela sesekali menoleh padanya, memastikan ia baik-baik saja, dan tersenyum kecil saat mata mereka bertemu.
Dan di dalam hatinya, satu kata terus bergema. Naga-naganya... nona ini... nona ini akan selalu menjadi rumahku, selamanya.
Dari kejauhan, Lucerys bergidik kesal atas segala yang dia saksikan.
Awalnya, saat baru saja meneguk minumannya, ia hampir tersedak saat melihat Baela memeluk masnya begitu erat di tengah pesta. Lalu, momen terbaik datang kemudian: saat ia melihat masnya—Jacaerys, sang ahli waris, kakak tertuanya yang selalu tenang dan berwibawa—diseret Baela berkeliling menyapa tamu-tamu lain dengan wajah merah merona yang terlihat jelas bahkan dari kejauhan. Jacaerys yang biasanya bisa membuat para bangsawan gemetar hanya dengan tatapan, sekarang tersenyum-senyum kecil seperti anak kemarin sore.
Lucerys menggeleng, selalu menggeleng, setengah tidak percaya pada pemikirannya sendiri.
"Ini lelaki yang sama yang bisa membuat dewan kerajaan diam seribu bahasa hanya dengan beberapa kalimat?" gumamnya pada dirinya sendiri. "Ini lelaki yang sama yang bisa berdiplomasi dengan tuan-tuan untuk mendukung Ibunda tanpa kehilangan wibawa?"
Dan jawabannya, ya. Namun, tetap saja, itu terlihat sangat lucu di mata Lucerys Velaryon.
Melihat bagaimana Jacaerys menuruti setiap tarikan tangan Baela, Lucerys hanya bisa terdiam. Bagaimana Jace mengangguk-angguk sopan pada para magister, tapi matanya terus melirik ke arah Baela. Bagaimana Jace tersenyum—senyum bodoh yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Lucerys benar-benar bisa diam seribu bahasa.
"Sialan," Luke mendengus. Ia meneguk minumannya sekali lagi, lalu meletakkan gelas dengan agak keras. "Seharusnya aku ajak Rhaena kesini juga."
Di dalam pikirannya, ia membayangkan Rhaena di sampingnya: tersenyum sopan, berbicara dengan para bangsawan dengan caranya yang elegan, sesekali menatapnya dengan mata yang hangat. Ia membayangkan berkeliling pesta bersama, bergandengan tangan, menunjukkan pada semua orang bahwa mereka juga—
Pada akhirnya, Lucerys menggeleng keras. "Sudah, sudah. Jangan mulai. Jangan gila seperti Mas."
