Actions

Work Header

tuan gerbera.

Summary:

Sejak hari Aksara melukis tiga tangkai gerbera di kuku Mares, ia tak pernah lagi membawa lima.

Notes:

Hai, terima kasih udah berkunjung! Akan diperbarui secara berkala sampai akhir, tapi mungkin lumayan lama. Hopefully ceritanya bisa dinikmati dan Aksa-Ares bisa tersemat di ingatan kalian.

Cerita lengkap bisa dibaca di X @layingonmars. Selamat membaca, ya!

Chapter 1: dilatasi waktu.

Chapter Text

Tak bisa dilupakan. Pikiran Aksa penuh dengan perandaian. Andai waktu itu Aksa tidak memilih untuk menjauhi Kak Ares-nya. Andai waktu itu Aksa memilih untuk menahan keserakahannya yang tak pernah merasa cukup akan perasaan menjijikkan ini. Andai waktu itu Aksa memilih untuk tidak menyakiti perasaan kesayangannya.

Kesempatan seperti apa yang sebenarnya bisa ia dapatkan? Akankah Kak Ares-nya tidak pernah pergi? Akankah Kak Ares-nya menyukainya kembali? Tentu, Ares sering berkata seluruh diri Aksa memancarkan keindahan. Ares selalu menyukai keindahan. Katanya Aksa terlalu indah untuk dilupakan, itulah sebabnya Ares mulai belajar melukis. Lukisan dengan wajah cantik Aksa akan menjadi karya Ares yang paling indah.

Namun, bagi Aksa masih belum cukup. Kalau bisa meminta lebih, Aksa ingin Kak Ares-nya jatuh cinta padanya. Bukan perasaan antara kakak dan adik seperti biasanya, Aksa punya perasaan yang jauh lebih menjijikkan. Setidaknya, begitulah yang selalu ditegaskan pengasuh mereka mengenai larangan mutlak panti. Tidak ada cinta romantis antarkeluarga. Sama halnya seperti yang selalu Ares katakan, Aksa adalah keluarganya, adik manis yang paling dia sayangi. Tapi salahkah Aksa membenci kata-kata itu meski keluar dari mulut cintanya?

Putaran waktu kembali menelan ingatan Aksa, membawanya pada memori terakhirnya tentang lelaki yang biasa ia panggil kakak itu.

“Kak, kalau udah 18 tahun nanti kakak mau gimana? Udah gak bisa tinggal di panti lagi, kan?” tanya Aksa pelan. Suaranya sedikit teredam karena wajahnya terbenam di dada Ares. Tak ada yang berbeda, mereka berbaring berdampingan di ranjang sempit itu, saling berpelukan. Mendekap sedikit terlalu erat untuk sekadar dianggap sebagai keluarga.

Ares menghela napas pelan, jemarinya membuat pola melingkar di punggung Aksa.

“Aku belum tau,” kata Ares.

“Tapi aku mau jadi seniman? Seru kali ya bisa lukis orang yang kita suka selamanya. Jadinya gak bakal lupa deh.”

“Lucu kamu, Kak.” Aksa tertawa kecil, sedikit menjauhkan wajahnya agar bisa bertemu pandang dengan Ares. “Sekarang kan ada foto, bisa sepuasnya liat orang yang kita suka lewat situ juga kali.”

Ares menggeleng pelan, matanya berbinar menatap Aksa. Pertanda Ares sedang bersemangat selalu terlihat dari ekspresi wajahnya, apalagi mata. Mata tidak pernah berbohong, kan?

“Aksa, you know there’s a slight difference between creating and simply memorizing?” ujar Ares lembut. “Menurutku, melukis bukan cuma tentang mengingat. Tapi juga tentang gimana kita menulis cerita baru tentang dia di lukisan kita.”

“Kakak romantis banget, ya.” Aksa mendecak kecil, mencoba menutupi nada tidak suka yang tidak sengaja terselip di suaranya. “Beruntung banget deh dia nanti. Aku iri.”

“Hahaha.” Ares tertawa ringan. “Gak boleh gitu, Aksa. Kamu mau gak jadi model pertamaku, Sa?”

“Loh kok aku, Kak?”

Ares mengangkat bahu santai. “Hm, kenapa gak?”

“Gak mau, aku malu.” Aksa memalingkan wajahnya ke mana saja selain Ares, seketika nuansa kamar panti yang seluruhnya putih terasa jauh lebih nyaman dipandang. Kedua tangannya digunakan menutupi wajahnya.

Ares terkekeh. Tangan Aksa diraihnya, diselipkan jemarinya di sela-sela yang lain supaya bertaut. “Coba liat muka kamu.” Tepukan pelan dirasakan Aksa di pipi sebelah kirinya.

“Aksa, sini liat aku. There’s no one here besides us. Kalau sama aku, kamu bisa jadi apa aja dan aku bakal selalu suka,” kata Ares sambil mengelus pipi Aksa, gerakannya searah jarum jam. Waktu, bisakah kamu berhenti sejenak atau setidaknya berdetak lebih pelan untuk kenangan terakhir ini? Seharusnya masih mungkin, nyatanya dilatasi jauh lebih terbukti daripada antigravitasi, kan?

“Liat deh, kamu cantik. Justru sayang banget kalau lukisanku nanti gak ada kamunya.” Rambut Aksa diselipkan ke belakang telinganya, tiada lagi penghalang keindahan paras cantiknya.

“Kak, jangan gitu nanti aku jadi suka dipuji.” Aksa mencoba memasang wajah kesal, tetapi pipinya yang memerah justru mengkhianati segalanya.

“Aksa, you deserve to be praised, to be loved. Mau diliat ribuan kali pun kamu indah. Your eyes sparkle, your cheeks turn red when it’s cold, and that smile of yours… Anyone would fall for it, Aksa.”

Tanpa suara, air mata Aksa jatuh begitu saja. Aksa terlalu jauh, asing dengan perasaan disayangi sebesar ini.

“Aksa kok nangis?” Ares panik. “Maaf, aku ada salah kata, ya?” Refleks, Ares menangkup pipi Aksa, lalu membiarkan bibirnya singgah di sudut matanya yang basah. Jangan salah, Kak Ares-nya memang selalu penuh cinta. Salahkan Aksa yang keterlaluan mengira kasih sayang semacam itu hanya diperuntukkan pasangan kasmaran.

“Bukan salah kakak,” gumam Aksa sambil menggeleng pelan. “Tiba-tiba aja ini, aku juga gak tau kenapa.”

“Jangan sedih, Aksa.” Diusapnya sudut mata itu berulang kali oleh Ares, berharap air mata Aksa berhenti jatuh.

“Aku di sini bakal selalu sayang kamu. Kalau di dunia ini gak ada lagi yang sayang sama kamu berarti aku udah hilang.” Tidak berhasil. Air mata Aksa malahan turun semakin deras. Tidakkah Ares sadar, semakin banyak kasih sayang yang ia berikan, semakin Aksa terkubur sesak dalam beban. Beban berat yang tak disangka datangnya dalam rupa bunga-bunga cantik.

“Hahaha… kakak janji, ya?” Di sela-sela tangisnya, Aksa memaksakan tawa kecilnya.

“Jangan pernah lupain aku kapan pun, walau kakak udah gak di panti lagi.” Aksa mengangkat jari kelingkingnya, Ares mengaitkannya.

“Iya, aku janji.”

Jari mereka lagi-lagi bertaut, tetapi Ares menolak melepaskannya.

“Kalau kamu gimana, Aksa? Kamu sayang juga ke aku sebagai keluarga, kan?” tanya Ares, senyumannya lebar. Matanya penuh pengharapan menunggu jawaban Aksa.

Sungguh, Aksa tidak punya jawaban. Maaf Ares, maafkan Aksa. Tidak seharusnya begini. Tolong katakan sesuatu, Aksa. Atau… kamu benar-benar ingin Ares pergi lagi untuk kesekian kalinya dalam pikiranmu?

 


 

Aneh. Tidak biasanya terlelap di bus dalam perjalanan pulang bisa senyaman ini. Pilihannya antara terkantuk jendela kaca atau terhuyung ke bangku kosong di sebelahnya. Namun, kali ini tidak keduanya. Aksa kembali mengistirahatkan pikirannya, tidak bertanya lebih jauh atau setidaknya membuka kedua matanya. Siapa pun tidak akan menolak jika diberi kenyamanan cuma-cuma, kan? Aksa jelas tidak lebih baik dari kebanyakan orang.

“Hei, kamu turun di mana?” Aksa mengerjapkan matanya perlahan, pandangannya masih buram oleh sisa kantuk dan bulir-bulir air mata yang kini telah mengering di pipinya. Bus berguncang pelan, suara mesin dan percakapan samar penumpang lainnya terdengar jauh. Tidak dalam frekuensi yang cukup untuk menambah kebisingan dalam benaknya. Hening sepersekian detik, menunggu kesadarannya sepenuhnya kembali. Aksa mendapati kepalanya bersandar di pundak orang asing.

Atau mungkin bukan?

Aksa menegakkan tubuh sedikit, tidak sepenuhnya menjauh. Masih dalam posisi bersandar, ia menolehkan wajahnya menemukan lelaki yang terduduk di sebelahnya sangat identik dengan kesayangannya. Kali ini tidak mungkin salah.

“Kakak?”

Jantungnya berdegup keras.

Ketemu. Kak Ares-nya kembali. Masih ada kesempatan. Terima kasih telah mempertemukannya kembali dengan cintanya, Tuhan. Izinkan Aksa mencoba peruntungannya sekali saja.

Do we know each other?

Aksa membeku. Apa katanya? Pasti semua ini bagian dari mimpinya. Sama sekali tidak nyata. Aksa kira tidak ada yang lebih menyakitkan dari kata-kata Ares terakhir kali. Dasar Aksa naif, mengira dirinya cukup kuat menerima perkataan serupa untuk kali kedua dari mulut cintanya.

Tak ada lagi tangisan. Kesedihan itu datang terlalu besar, sampai akhirnya tidak menyisakan apa pun selain ruang kosong di dadanya.

Sekeras apa pun Aksa mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak terlalu menaruhnya ke dalam hati, dunianya hancur. Dunia baru yang susah payah ia bangun sendirian setahun terakhir. Tanpa Kak Ares-nya.

“Kak Ares?” suara Aksa melemah.

Namun, tatapan lelaki itu tetap sama. Bingung, tanpa sedikit pun tanda kebohongan. Tatapan asing. Layaknya ditujukan pada orang yang baru pertama kali ditemui. Aksa segera menarik tubuhnya menjauh dari pundak lelaki itu. Tangan yang tadi sempat mencengkeram ujung bangku perlahan dilepaskannya.

Janji Kak Ares-nya tidak mungkin diingkari secepat ini, kan? Terlalu tiba-tiba, Aksa bahkan belum sempat mempersiapkan skenario terburuk.

“Ah, maaf ya, Kak,” kata Aksa pelan sambil menundukkan kepala. “Aku salah orang.”

“Gapapa. Sini, kalau mau tidur lagi. Nanti aku bangunin.” Lelaki itu mengangkat bahu santai, nyaris tak kentara jika sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Aksa. “Aku gak sengaja liat kamu nangis, kayaknya kamu kecapekan.” Kalah cepat reaksi Aksa, lelaki itu sudah menarik pelan kepalanya kembali bersandar di bahunya. Sejujurnya, Aksa tidak berniat menolak. Jadi, ia biarkan tubuh rapuhnya mengais remah-remah afeksi, asalkan semua itu dari Kak Ares-nya.

“Kalau boleh tau, habis dari mana?” Jalan berlubang sedikit mengguncang bangku yang ditumpangi keduanya. Temaramnya lampu jalan menyelinap masuk melalui celah jendela, memantulkan bayang-bayang tipis di wajah dua orang asing yang sebenarnya jauh dari kata itu.

Rasanya tetap hangat. Nada suaranya, cara bicaranya, semuanya masih sama. Jelas sekali ini masih Kak Ares-nya. Hanya saja yang tak lagi sama, kali ini tiada jejak Aksa dalam ingatannya.

Mungkin di sini, hanya Aksa yang dianggap sebagai orang asing.

“Dari sekolah,” jawab Aksa singkat, enggan membuka pembicaraan lebih jauh tentang harinya. Takut jika terlalu jauh, kekosongan di hatinya tak lagi bisa diobati.

Really? Kok sampai selarut ini?” Lelaki itu sedikit memiringkan kepalanya, alisnya terangkat penasaran.

Aksa melirik sekilas ke arah tanda pengenal lelaki itu. Seragam yang dikenakannya masih rapi, dasinya sedikit longgar. “Kak, kamu juga masih pakai seragam,” balas Aksa heran. “Mending kamu tanya ke diri sendiri kenapa baru pulang jam segini, Kak.”

“Hahaha. Aku habis dari rumah sakit. Jenguk temanku.” Lelaki itu tertawa pelan, tangannya sesaat mengusap belakang lehernya.

“Habis dari kafe,” ujar Aksa akhirnya. Ia menggeser posisi tas di pangkuannya supaya tidak menghalangi jarak keduanya. “Part-time.”

“Oh iya, boleh kenalan?” Lelaki itu menoleh, menaruh seluruh perhatiannya memandangi Aksa tak luput dengan senyuman ramah. “Aku Maresaka. Dipanggil Reka. Kamu?” Ia mengulurkan tangannya antusias, hingga siapa pun akan merasa bersalah jika menolaknya

Reka, ya? Nama yang berbeda. Namun, bagi Aksa lawan bicaranya sekarang masih Kak Ares-nya.

Baiklah, Aksa sudah memutuskan. Tidak ada salahnya mencoba. Siapa yang tahu jika saja hanya ini kesempatan terakhirnya?

Aksa menatap tangan yang terulur itu sejenak lebih lama, sebelum akhirnya menyambutnya. Hangat. Aksa rindu. “Aksara. Panggil aja Aksa.”

Setelah menimbang-nimbang berbagai kemungkinan, sepertinya memulai dari awal tidak terdengar terlalu buruk bagi Aksa. Untuk mendapatkan akhir yang berbeda, mungkin memang perlu memulai awal yang baru juga, kan?

Lagipula, Aksa tidak ingin Ares punya ingatan buruk tentangnya. Biarlah Aksa saja yang menanggung sisa-sisa kenangan mereka.

Selagi masih dalam batas kemampuannya, apa saja akan Aksa lakukan untuk cintanya.

Kak Ares-nya.

Kesayangannya.

Series this work belongs to: