Chapter Text
Bagi sebagian besar penghuni kampus tingkat akhir, cinta itu seringkali berubah jadi beban tambahan di samping tumpukan bab dua yang tak kunjung disetujui dosen pembimbing. Hubungan yang tadinya manis, biasanya mulai basi karena isinya cuma keluhan, adu nasib siapa yang tidurnya paling sedikit, sampai tengkar hebat karena lupa kasih kabar gara-gara ketiduran di depan laptop.
Tapi bagi Kwon Ohyul, filosofi itu nggak berlaku.
Prinsip Kim Ryul—kekasihnya sejak hari pertama ospek jurusan—selalu sama dan mutlak: "Love should be fun, Ntik. Kalau isinya cuma galau sama berantem, mending kita daftar jadi peserta benteng takeshi aja, dapet hadiah kalau menang."
Dulu, saat mereka masih maba, orang-orang mengira hubungan Ohyul dengan Ryul cuma bakal bertahan seumur jagung. Nyatanya, tiga tahun lebih berlalu, dan mereka masih ada di frekuensi yang sama. Bedanya, sekarang mereka punya musuh bersama bernama skripsi.
Di saat pasangan lain di perpustakaan saling diam karena tegang, Ryul justru seringkali jadi satu-satunya alasan kenapa Ohyul belum kehilangan akal sehatnya. Ryul adalah tipe yang bisa mendebat teori skripsi Ohyul sambil mempraktekkan cara makan kerupuk tanpa bunyi, atau tiba-tiba mengirimkan meme absurd saat Ohyul sedang di sidang progres oleh dosen.
Lantai tiga gedung prodi sore itu baunya seragam: campuran antara kopi instan yang sudah dingin, aroma kertas revisi yang lembap, dan bau keputusasaan mahasiswa semester tua. Kwon Ohyul, yang biasanya terlihat rapi dan punya aura cool yang tak tergoyahkan, kini hanya bisa duduk lesu di bangku panjang koridor. Matanya menatap pintu kayu jati di depannya dengan tatapan kosong, seolah berharap pintu itu bisa luluh dan mengeluarkan sesosok dosen pembimbing yang hobinya menghilang bak ditelan bumi.
Sudah tiga jam. Tiga jam Ohyul dan beberapa temannya jadi penjaga setia lorong ini, menunggu tanda tangan keramat yang lebih susah didapat daripada tiket konser barisan paling depan.
Ponsel di saku celananya bergetar.
Ryul: Ntik, jadi kan temenin aku service laptop? Ini laptopnya udah batuk-batuk kayak mau meninggal.
Ohyul menghela napas, jemarinya mengetik cepat.
Ohyul: Sori banget, Yang. Kayaknya batal. Ini Bu Ratna belum keluar juga dari ruang rapat. Masih antre tanda tangan. Kamu berangkat sendiri aja ya? Hati-hati.
Ohyul mengira Ryul bakal ngambek atau minimal balas pakai stiker sedih. Tapi, lima belas menit kemudian, yang muncul di ujung koridor justru sesosok manusia yang memakai topi bucket terbalik.
Kim Ryul.
Awalnya, pas mereka baru jadian di tahun pertama, orang-orang satu fakultas gempar. Ohyul yang pinter, ganteng, dan cool-nya minta ampun itu kok bisa-bisanya pacaran sama Ryul yang "kelihatannya" kalem? Tapi seiring berjalannya waktu, Ryul menunjukkan "warna" aslinya yang ternyata nyerempet gila.
Dulu, Ryul sempat frustrasi karena Ohyul terlalu kaku. Dia sengaja "ganti skin" jadi absurd dengan harapan Ohyul bakal ilfeel terus mutusin dia. Tapi plot twist-nya, Ohyul malah makin cinta mati. Ternyata di balik wajah temboknya, Ohyul itu punya selera humor yang sama ajaibnya, hanya saja dia butuh Ryul untuk memancingnya keluar.
Ryul berjalan santai melewati kerumunan mahasiswa yang tampak sekarat, lalu duduk tepat di samping Ohyul. Tanpa sepatah kata pun, dia membuka kaleng minuman dingin yang baru dibelinya dan menyodorkannya ke bibir Ohyul.
"Minum dulu, Yang. Biar otaknya nggak berasap," bisik Ryul.
Ohyul menerima minuman itu, tenggorokannya yang kering terasa sedikit segar. "Kenapa ke sini? Kan aku bilang tadi berangkat sendiri aja."
"Mana tega aku biarin pacar cantikku ini lumutan di sini," Ryul menoleh, menatap tumpukan kertas di pangkuan Ohyul. "Kok belum dapet juga? Padahal kemarin katanya udah janjian jam satu, kan?"
"Nggak tau. Udah males jawabnya, kesel banget aku," sahut Ohyul pendek. Dia sedang menjaga mood-nya agar tidak meledak, apalagi katanya si Ibu Dosen bakal lewat sini sebentar lagi setelah rapat selesai.
"Sabar ya, Ntik. Orang sabar pantatnya lebar," celetuk Ryul asal, yang langsung dihadiahi cubitan kecil di pinggangnya oleh Ohyul. “Iya kan kamu duduk terus nunggu dosen Ntik, pasti pantatnya jadi melebar dan tepis”.
Tak lama kemudian, pintu ruang rapat terbuka. Sosok Bu Ratna keluar dengan tas jinjing mahalnya, berjalan terburu-buru seolah tidak melihat ada sepuluh mahasiswa yang sudah menunggunya sampai berjanggut.
Melihat target operasi muncul, Ryul tiba-tiba berdiri paling depan mendahului yang punya urusan. Ohyul sampai kaget melihat pergerakan pacarnya yang secepat kilat.
"Sore, Ibu Ratna yang paling cantik!" seru Ryul riang, sambil sedikit membungkuk memberikan jalan layaknya pelayan kerajaan.
Bu Ratna yang sedang buru-buru otomatis mengerem langkahnya. Beliau menaikkan alis, menatap Ryul dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Jangan ganggu saya, ya. Saya sedang ada urusan penting!”
Ryul tidak mundur selangkah pun. Sebaliknya, dia malah memberikan senyum paling lebar dan paling tulus yang dia punya—senyum yang biasanya bikin Ohyul pasrah kalau Ryul sudah minta yang aneh-aneh.
"Kamu siapa? Mau bimbingan juga sama saya?" tanya Bu Ratna lagi, suaranya sedikit melunak karena disenyumi begitu ramah.
"Bukan, Bu. Saya bukan mahasiswa Ibu," jawab Ryul mantap.
Bu Ratna mengernyit heran. "Terus kamu siapa? Ada perlu apa sama saya?"
"Saya Kim Ryul, Bu. Saya ke sini mau lapor kalau saya lagi kena masalah besar," Ryul memasang muka serius yang dibuat-buat, lalu menunjuk ke arah Ohyul yang masih duduk mematung di bangku panjang. "Saya pacarnya Kwon Ohyul, Bu."
Bu Ratna menoleh ke arah Ohyul, lalu kembali ke Ryul. "Masalah besar apa?"
"Tolong saya, Bu. Pacar cantik saya ini, tingkat kecantikannya hampir luntur gara-gara sudah terlalu lama nunggu Ibu yang juga nggak kalah cantik ini dari jam satu siang," ucap Ryul dengan nada memelas yang sangat dramatis. "Ibu kan tahu kalau aset berharga kayak kalian ini harus dijaga bareng-bareng. Kasihan Ohyul, Bu, kalau kelamaan di sini nanti aura gantengnya habis, saya yang pusing. Boleh ya, Bu, minta tanda tangannya sebentar aja biar dia bisa pulang sama saya?"
Ohyul yang mendengar itu langsung menunduk dalam, menutup wajahnya dengan map revisi. Malunya sudah sampai ke ubun-ubun, tapi dalam hati dia ingin tertawa kencang.
Bu Ratna sempat tertegun, menatap Ryul dengan tatapan 'ini anak kurang obat apa gimana', sebelum akhirnya beliau malah terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala.
"Kamu ini ada-ada saja bicaranya," sahut Bu Ratna sambil membuka tas jinjingnya. "Mana kertasnya? Sini, suruh pacar kamu yang 'cantik' itu cepat ke sini sebelum saya berubah pikiran."
Ryul langsung menoleh ke Ohyul dan mengedipkan mata dengan penuh kemenangan. "Ayo, Ntik! Buruan, sebelum tingkat kecantikan Ibu Ratna turun karena kelamaan nungguin kamu!"
____
Jam menunjukkan pukul delapan malam lewat sedikit ketika Ohyul baru saja hendak merebahkan punggungnya yang pegal. Tiba-tiba, klakson mobil yang bunyinya sengaja dibuat berirama "not not" (entah sejak kapan Ryul memasangnya) terdengar dari depan pagar rumahnya.
Ohyul mengintip dari jendela. Mobil SUV putih milik Ryul sudah terparkir manis dengan lampu hazard menyala, seolah-olah sedang dalam keadaan darurat medis.
Detik berikutnya, pesan masuk:
Ryul: Ntik, turun. Misi rahasia negara. Bawa jaket paling tebel. Kita ke Bandung sekarang.
Ohyul hanya bisa melongo. ‘Bandung? Jam delapan malem? Mau nyampe jam berapa?’ batinnya. Namun, tangannya justru bergerak otomatis menyambar hoodie kesayangannya.
Begitu Ohyul masuk ke dalam mobil, aroma parfum jeruk favorit Ryul menyambutnya, bercampur dengan tumpukan bungkus camilan di kursi belakang. Ryul duduk di balik kemudi dengan kacamata hitam—padahal matahari sudah tenggelam tiga jam yang lalu.
"Yang, kacamata kamu," tegur Ohyul sambil memasang sabuk pengaman.
"Biar gaya, Yang. Biar kayak agen rahasia yang lagi jemput sandera paling cantik," Ryul menyeringai, lalu mulai melajukan mobilnya menuju gerbang tol. "Target kita malam ini: Wedang Ronde sama Bola Ubi Gardu Jati. Kalau nggak dapet, kita nggak pulang sampai subuh."
"Besok aku ada bimbingan pagi lagi, Ryul..."
"Justru itu!" Ryul memotong, suaranya melembut tapi penuh keyakinan. "Otak kamu itu udah penuh sama data. Kalau nggak dibilas pake kuah jahe sekarang, nanti pas bimbingan kamu malah jawab 'jahe' tiap ditanya dosen. Aku nggak mau pacarku jadi zombi skripsi."
Di sepanjang jalan tol Cipularang, mobil itu jadi saksi bisu bagaimana Ryul menjalankan semua love language-nya sekaligus.
Act of Service: Ryul sudah menyiapkan bantal kecil di kursi penumpang supaya Ohyul bisa nyandar kalau capek. Dia juga yang nyetir sepanjang jalan tanpa komplain sedikit pun.
Word Affirmation: Sambil tangan kirinya sesekali menepuk pundak Ohyul, Ryul berceloteh, "Kamu hebat tahu, Yang. Tadi di prodi, kamu sabar banget. Aku bangga punya pacar yang tingkat kesabarannya setebal buku telepon, tebal dan tulisan angkanya kecil-kecil. Skripsi ini mah kecil buat kamu, yang susah itu cuma nahan kangen sama aku, kan?"
Ohyul hanya bisa mendengus pelan, berusaha menyembunyikan senyumnya yang terbit. "Pede banget."
"Tapi bener, kan?" Ryul menoleh sekejap, menatap Ohyul dengan binar tulus. "Jangan dipikirin terus hasilnya. Yang penting kamu udah jalanin. Sekarang fokus ke aku sama bola ubi aja. Oke, Cantik?"
Sampai di Gardu Jati, suasana ramai dan aroma jahe yang tajam langsung menyapa. Beruntung mereka masih kebagian. Mereka duduk di kursi plastik kecil, berhimpitan di tengah keramaian. Ryul dengan telaten meniupkan kuah ronde yang masih panas sebelum menyodorkannya ke arah Ohyul.
"Nih, minum. Biar dadanya anget, biar nggak isinya deg-degan gara-gara revisi terus," ucap Ryul sambil tersenyum.
Di sela-sela kunyahan bola ubi yang manis dan hangat, Ohyul sadar. Cara Ryul mencintainya memang agak sedikit gila dan impulsif. Tapi di tengah hidup yang serba teratur dan penuh tuntutan, kegilaan Ryul adalah satu-satunya hal yang membuat Ohyul merasa benar-benar hidup dan menjadi waras.
"Makasih ya, Yang. Udah diculik," gumam Ohyul tulus.
"Sama-sama, Ntik. Besok kalau revisinya ditolak lagi, kabari ya? Kita jajan lumpia ke Semarang kalau perlu," jawab Ryul asal yang langsung disambut tawa renyah Ohyul.
Sore yang melelahkan di kampus tadi rasanya menguap begitu saja, digantikan oleh manisnya ronde dan tawa laki-laki di
