Actions

Work Header

Before I Was Nothing, Now I Am Yours

Summary:

Geonwoo is not a ghost. He has no unfinished business, no tragic death that binds him to the world. He simply exists, formed from nothing, sustained by nothing except the gaze of one person. Xinlong’s eyes are the only thing that give him form, his name the only proof that he is real. To be an entity without a witness is to drift into the void.

Work Text:

Keringat mulai terbentuk di pelipis Xinlong. Suhu di dalam gedung administrasi kampus sebenarnya dingin, AC menyala di langit-langit, tapi keringat itu tetap muncul. Jari-jarinya menggenggam ponsel, layar menampilkan peta digital dengan titik biru yang tak kunjung mendekati gedung internasional, kepalanya berdenyut.

 

“Kau tersesat.”

 

Xinlong tak menoleh. Suara itu sudah terlalu sering Xinlong dengar dalam dua minggu terakhir, datar, serak, dengan logat Korea yang kadang membuatnya sulit membedakan kata tertentu.

 

“Tidak.” Jempolnya sibuk dengan layar ponselnya, memperbesar, memperkecil. Gedung internasional seharusnya di sebelah timur, tapi sekarang Xinlong justru berdiri di depan fakultas teknik, sungguh jauh dari tujuan sebenarnya.

“Kau sudah berputar di tempat yang sama tiga kali.”

“Kau menghitungnya?”

“Tidak, aku mengikutimu.” Ada nada bangga di suara itu.

 

Jemari kecil itu memasukan ponselnya ke dalam saku. Xinlong menoleh, dan lehernya harus mendongak hampir empat puluh lima derajat. Geonwoo berdiri dengan kedua tangan di saku celananya, bahu selebar lemari, dan senyum tipis di bibir yang membuat jari-jari Xinlong bergerak ingin mencubit wajah tampan itu, tapi sayangnya jarak di antara mereka terlalu jauh dan lengannya terlalu pendek.

 

“Aku bisa urus sendiri.” Ucap Xinlong, pemuda itu sudah membalikkan badan, bersiap untuk memulai kembali petualangannya, ‘pencarian gedung internasional’.

“Tapi kau salah jalan.”

“Itu karena peta di sini menyebalkan.”

 

Geonwoo mengangkat satu alis, unjung bibirnya terangkat sedikit. Xinlong sudah hafal ekspresi itu, seolah mengatakan “Aku tau kau hanya ingin mencari alasan”. Xinlong ingin menendang tulang kering entitas itu, tapi Geonwoo tak punya tulang yang bisa ditendang, Xinlong sudah belajar bahwa menendang entitas itu sama saja dengan menendang kabut.

Xinlong melangkah dan Geonwoo mengikuti di sampingnya dengan langkah panjang yang memaksa Xinlong hampir berlari kecil, mencoba meninggalkan sang entitas walaupun percuma. Tapi Xinlong tak akan memperlambat langkahnya, tak akan memberi celah Geonwoo untuk kembali menjahilinya.

 

“Di sebelah kiri.” Ucap Geonwoo.

“Aku tau.”

“Itu sebelah kanan.”

 

Xinlong berhenti, sepatunya bergesekan dengan lantai, menimbulkan suara berdecit yang nyaring di lorong sepi itu. Kakinya baru saja akan melangkah ke arah kanan, ke arah gedung yang Xinlong tak tahu apa. Saat kepalanya menoleh, Geonwoo menatapnya dengan kepala sedikit miring, seperti anjing besar yang mengamati majikannya melakukan kesalahan yang sama berulang kali.

 

“Aku tau itu.” Gerutu Xinlong, berputar ke arah sebaliknya. Berjalan ke kiri dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan.

 

Geonwoo tertawa, getarannya menggetarkan udara pagi yang dingin dan berhasil membuat bulu kuduk Xinlong berdiri.

 

Selesai dengan tawanya, Geonwoo kembali mengikuti Xinlong. “Kau bilang kau tau, tapi tetap ke kanan.”

“Diam.” Rahang Xinlong mengeras.

“Kepalamu seperti akan keluar asap.” Geonwoo menjulurkan jari telunjuknya ke arah puncak kepala Xinlong.

“Itu karena kau brengsek.”

Mata Geonwoo menyipit, wajah yang sialnya tampan itu tiba-tiba terlihat seperti anak kecil yang menemukan mainan baru. “Kau menggemaskan.”

 

Xinlong berjalan lebih cepat ke arah tujuannya, tak memperdulikan Geonwoo yang terus mengikutinya di udara.

Di dalam gedung internasional, suara-suara asing dari berbagai bahasa bertabrakan di koridor. Xinlong berdiri di antrean, kertas-kertas di tangannya terasa semakin lembap. Xinlong menggenggamnya erat, berusaha mengingat di mana letak meja pendaftaran internasional.

 

“Xinlongie!”

 

Bahasa Mandarin menyapanya dari belakang. Xinlong menoleh. Seorang mahasiswa dengan kacamata kotak tebal dan senyum lebar melambai ke arahnya.

 

“Anxin!” Xinlong membalas, dadanya sedikit lega, setidaknya ada yang bisa diajak bicara tanpa memeras otak untuk mentata bahasa Korea.

“Kau ambil jurusan apa?” Anxin menyodorkan kopi panas, uapnya menyapu wajah Xinlong.

“Manajemen bisnis.”

“Wah, kita sekelas dong!”

 

Xinlong menerima kopi itu, cup kertas itu hangat di telapak tangannya. Tapi sebelum minuman gelap itu sempat membasahi bibirnya, kopi itu berubah dingin. Bukan dingin biasa, tapi dingin seperti kopi itu baru saja dikeluarkan dari freezer. Uap hangat yang sebelumnya menari di sekitar wajah Xinlong lenyap dalam sekejap. Warna kopi yang semulanya hitam pekat dengan kehangatan tiba-tiba menjadi suram, seperti kehilangan sesuatu.

Xinlong menoleh ke sumber dingin.

Geonwoo berdiri tepat di belakang bahunya, jarak mereka terlalu dekat, tubuh yang tak memancarkan kehidupan itu hampir menempel pada tubuhnya. Wajah menyebalkan itu muncul kembali, menatap Anxin dengan tatapan kosong, bibir membentuk garis lurus, dan alis hampir yang sedikit naik.

 

“Geonwoo…” Bisik Xinlong.

“Apa?” Suara Geonwoo terdengar datar, polos,  seolah tak bersalah.

“Jangan.”

“Aku tidak melakukan apa-apa.” Napas dingin Geonwoo menerpa kulit leher Xinlong.

Anxin mengernyit. “Kau bicara sama siapa?”

Xinlong tertawa canggung, “Tidak, tidak. Aku cuma… ya kau tau? Berbicara sendiri. Kebiasaan buruk.” Jari-jarinya menyelinap ke belakang, mencoba mencubit sesuatu yang tak bisa pemuda jangkau, ujung-ujungnya Xinlong hanya meraih udara kosong.

 

Xinlong menoleh ke Geonwoo sekali lagi, memberi tatapan yang pemuda berparas kucing itu harap cukup tajam untuk menembus  wajah tebal entitas itu. Geonwoo memasang wajah cemberut, bibir bawahnya sedikit maju. Tapi Geonwoo sudah tak melakukan apapun lagi, setidaknya untuk sekarang.

Antrean bergerak lambat. Xinlong menggeser posisi duduknya tiga kali, dari kursi di sebelah Anxin ke kursi di seberangnya, lalu ke kursi yang agak jauh. Bukan karena Xinlong tak menyukai Anxin. Pemuda yang berjarak hanya setahun darinya itu baik, ramah, dan satu-satunya orang yang diajak bicara tanpa pusing memikirkan bahasa, tapi setiap kali Anxin terlalu dekat, udara di sekeliling mereka tiba-tiba dingin, seperti ada yang menyedot semua kehangatan musim gugur.

Anxin mulai menggigil. Sepasang mata dibalik bingkai tebal itu berair karena dingin.

 

AC-nya terlalu besar ya?” Gumam Anxin, mengusap lengannya.

“Iya sepertinya.” Xinlong bangkit, membawa berkasnya ikut serta. “Maaf Anxin, tapi sepertinya aku harus pergi, ada beberapa berkas yang belum selesai.”

 

Tanpa menunggu jawaban Anxin, Xinlong berjalan ke kursi di sudut ruangan, Geonwoo bersandar pada dengan tangan di saku, yang entah bagaimana tubuh itu tak menembus dinding. Sepasang mata gelap itu mengikuti Xinlong, lalu beralih ke Anxin, lalu kembali ke Xinlong, bibirnya masih mengerucut.

 

Selesai pendaftaran, Xinlong berjalan ke kantin. Di yang koridor sepi, Xinlong menghentikan langkahnya. Geonwoo yang mengikuti di belakang hampir menabraknya, hampir, karena entitas bisa menembus benda padat, tapi anehnya Geonwoo selalu memilih untuk menabrak Xinlong secara fisik.

 

Xinlong berbalik, menatap Geonwoo dengan mata kucing yang menajam. “Kau sudah berjanji tidak akan mengganggu temanku.” Ujung jari Xinlong menekan dada Geonwoo.

“Aku tidak mengganggu.” Geonwoo menunduk, menatap jari Xinlong dengan ekspresi polos.

Xinlong menurunkan jarinya, kini tangan kecil itu mengepal di samping tubuhnya, “Udaranya tiba-tiba dingin.”

“Mungkin memang sudah dingin.” Geonwoo menatap langit-langit yang kosong, entah apa yang di carinya di antara plafon itu.

“Sekarang musim gugur.”

“Cuaca suka berubah seenaknya.”

“Kau yang seenaknya.”

Entitas itu menghela napas dramatis, dada bidang itu naik turun. “Baiklah. Mungkin auraku bocor.” Sepasang mata gelap itu kembali menatap Xinlong, dan di sana ada kilatan singkat. “Tapi dia terlalu dekat denganmu.”

“Kau tau itu alasan yang buruk.”

“Dia menatapmu.”

“Karena kita sedang berbicara.” Xinlong melipat tangannya di dada.

“Dia menatapmu dengan cara yang aneh.” Geonwoo menunjuk ke wajahnya sendiri, meniru ekspresi Anxin dengan berlebihan, alis terangkat, bibir sedikit terbuka, kepala dimiringkan.

“Itu namanya sopan santun!” Suara Xinlong meninggi, bergema di koridor kosong.

“Aku tidak suka.” Protes Geonwoo.

Xinlong mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Saat telapak tangan itu turun, lingkaran hitam di bawah mata kucingnya terlihat lebih jelas. “Aku lelah, Geonwoo. Aku baru sampai di sini beberapa minggu yang lalu, aku harus mengurus administrasi, mencari teman, dan belajar bahasa Korea. Aku tidak butuh masalah tambahan.”

 

Geonwoo terdiam, ekspresinya berubah, seperti seekor golden retriever yang tak diperbolehkan sang tuan bermain. Di tubuhnya yang besar, ekspresi itu terlihat ganjil, kekanak-kanakan, tak sebanding dengan bahu selebar lemari dan tubuh tinggi penuh otot itu.

 

“Kau marah padaku?” Tanya Geonwoo, suaranya mengecil.

“Iya.”

“Karena aku?” Sekarang suaranya semakin mengecil.

“Iya.”

 

Geonwoo mengerjapkan mata, beberapa kali. Dan tanpa peringatan, Geonwoo menunduk. Wajah tampan itu terbenam di puncak kepala Xinlong, membuat rambut pemuda yang lebih pendek tersapu oleh entitas yang lebih tinggi. Lengan Geonwoo melingkar di punggungnya, menjebaknya dalam pelukan yang terlalu erat untuk tubuh kecil miliknya.

Xinlong tersentak. Tangannya berusaha mendorong dada Geonwoo, tapi otot di bawah kemeja biru itu tak bergeming.

 

“Aku minta maaf.” Gumam Geonwoo, teredam di rambut Xinlong, menggetarkan tulang kepalanya.

“Cara minta maafmu aneh!” Xinlong mendorong lebih keras, tapi telapak tangannya hanya tenggelam pada dada bidang yang keras.

“Aku minta maaf dengan caraku.”

“Caramu menyebalkan.” Dorongan Xinlong mulai melemah.

“Tapi kau menerimanya.”

“Lepas.”  Seharusnya itu sebuah perintah, tapi suara yang dihasilkan justru seperti bisikan.

“Belum.”

“Geonwoo.”

“Sebentar lagi.”

 

Xinlong menghitung dalam hati. “Satu, dua, tiga…” Xinlong bisa merasakan bagaimana dada Geonwoo naik turun perlahan. Dingin, tapi tak sedingin kopi yang dibekukan rasa cemburu. “Empat, lima, enam…” Anehnya, pelukan ini tak membuatnya menggigil. “Tujuh, delapan, sembilan… Sepuluh.” Justru terasa hangat.

 

“Lima belas.”

Geonwoo akhirnya melepaskan tubuh kecil itu, wajahnya cerah kembali. Senyum kecil di bibir, seperti anak yang baru diberi permen.

“Selesai.”

Xinlong memukul lengannya. Tangan kecilnya sakit karena mengenai tubuh astral yang anehnya keras. “Jangan pernah lakukan itu di tempat umum!”

“Tidak ada yang bisa melihatku.” Geonwoo mengusap lengannya, pura-pura kesakitan. Nyatanya Xinlong adalah satu-satunya yang merasakan sakit.

“Aku!” Xinlong mengusap tangannya yang memerah, sepertinya ini cukup untuk mengakhiri kesialannya hari ini.

“Itu pengecualian.”

Xinlong membuang muka, wajahnya terasa panas. Di belakangnya, Geonwoo tertawa kecil, dan Xinlong berjalan cepat ke kantin tanpa menoleh.

Tapi tentu saja Geonwoo mengikuti. Xinlong bisa merasakan kehadiran di belakang tubuhnya, berjalan dengan langkah yang santai, seolah punya waktu sebanyak yang makhluk itu inginkan.

 


 

Seminggu kemudian, Xinlong sudah punya lingkaran pertemanan. Ada Sanghyeon, mahasiswa lokal yang sangat ramah dan selalu membawa makanan ringan di tas. Ada Leo, senior dari Australia dengan rambut coklat yang tak pernah pudar meskipun sudah setahun tak dicat lagi. Ada Junseo, senior yang selalu muncul di setiap acara dengan celemek dan wajan, hobinya adalah memasak untuk orang banyak. Ada Jiahao, ketua club tari asal China yang gerakannya selalu membuat orang berhenti untuk menontonnya. Ada Sangwon, senior yang ternyata satu asrama dengannya, suka bercerita tentang keluarganya sampai larut malam. Dan tentu saja Anxin, yang masih setia di sampingnya sejak hari pertama.

Xinlong bersyukur. Tapi rasa syukur itu selalu datang dengan kecemasan yang menggerogoti tengkuknya.

Malam itu mereka berkumpul di ruang makan asrama. Junseo memasak sup iga, baunya menguar sampai ke lorong dan membuat perut keroncongan. Xinlong duduk di ujung meja, di samping Sangwon yang sedang bercerita tentang ayahnya yang mengancam akan menyeretnya pulang jika tak lulus tahun ini.

 

“-Jadi ayahku bilang, kalau aku tidak lulus, dia akan menyeretku pulang untuk membantunya di toko roti.” Cerita Sangwon dengan sedikit tawa. Tangannya bergerak, hampir menyentuh bahu Xinlong.

Dan secara tiba-tiba, lampu di atas meja mati.

Bukan lampu ruangan, melainkan hanya satu lampu, lampu tambahan yang berada tepat di atas kepala Xinlong dan Sangwon. Lampu-lampu lain di ruangan itu masih menyala terang, menerangi ekspresi bingung di wajah Jiahao, Leo yang sedang sibuk dengan mulut penuhnya.

 

“Apa-apaan ini?” Sangwon mendongak, alisnya bertemu.

Xinlong tak mendongak. Pandangannya langsung menuju sudut ruangan, di antara rak piring dan lemari es.

Di sana, Geonwoo berdiri dengan tangan terlipat di dada, lengkap dengan wajah menyebalkannya. Sinar lampu dari ruang makan tak cukup mencapai sudut itu, tapi Xinlong bisa melihat ujung jari Geonwoo mengetuk lengannya sendiri dengan tak sabar.

 

“Geonwoo…” Panggil Xinlong tanpa suara.

 

Geonwoo justru mengalihkan wajahnya, menatap langit-langit dengan ekspresi “Aku tidak melakukan apa-apa” yang sangat tak meyakinkan.

 

Sanghyeon bangkit dari duduknya di seberang meja, jari-jarinya memeriksa saklar. “Mungkin korsleting?”

“Tiba-tiba?” Leo berkomentar setelah berhasil menelan seluruh makanan di mulutnya.

Xinlong mengeluarkan ponsel miliknya dari saku. Layar ponsel menyala, tak ada notifikasi apa pun, namun bukan itu tujuan Xinlong. “Aku ke kamar dulu, ya. Ada telepon penting.”

“Serius? Padahal makanannya baru jadi.” Protes Anxin, menunjuk sup iga yang baru saja matang dengan asap yang masih mengepul.

“Nanti aku kembali.” Xinlong sudah bangkit dari tempat duduknya, kursinya bergeser dengan suara yang berdecit.

 

Xinlong berjalan cepat ke luar, menuju koridor sepi yang jarang dilewati oleh penghuni asrama, dan di bawah lampu lorong yang redup, Xinlong berhenti. Tiga detik kemudian, Geonwoo muncul di sampingnya, tanpa suara, tanpa bayangan.

 

“Apa-apaan itu?” Xinlong menunjuk ke arah ruang makan dengan dagunya.

“Lampu mati.” Geonwoo mengangkat bahunya dengan ringan.

“Itu ulahmu.”

“Tidak.” Geonwoo menggeleng, tapi sepasang mata gelap itu terus menghindari tatapan dari Xinlong.

“Geonwoo, aku melihatmu berdiri di sudut.”

Entitas itu mengerucutkan bibir, terlihat lebih menyebalkan dari sebelumnya. “Dia terlalu dekat.”

“Sangwon? Dia cuma ngobrol!”

“Dia ingin menyentuhmu.” Geonwoo menunjuk ke arah ruang makan, lalu menirukan gerakan tangan Sangwon yang terangkat. Sama seperti yang dilakukannya pada Anxin.

“Dia tidak-”

“Aku lihat tangannya akan bergerak.”

Xinlong menghela napas panjang. Hingga rongga dadanya terasa kosong. “Kau tau? Kau lebih kekanak-kanakan dari Sanghyeon yang baru saja lulus SMA.”

“Jangan samakan aku dengan bocah itu!”

“Tingkahmu seperti bocah yang tidak suka berbagi mainan.”


Geonwoo diam, wajahnya kembali berubah. Semakin terlihat menyedihkan, dengan bibir bawah maju, alis bertemu, dan Geonwoo memalingkan wajahnya ke sisi lain dengan gerakan sangat lambat dan dramatis. Tangan besarnya dilipat di dada, tubuh besar itu perlahan berputar, berbalik membelakanyi Xinlong.

 

Xinlong menatapnya tak percaya. “Ada apa dengan wajahmu?”

Tak ada jawaban.

“Geonwoo.”

Masih sama, tak ada jawaban, hanya hening.

“Kau merajuk karena aku bilang kau kekanak-kanakan?”

Geonwoo menoleh sedikit, cukup untuk Xinlong melihat dari sudut matanya yang masih menyipit. “Aku tidak merajuk.”

“Tindakanmu mengatakan sebaliknya.” Xinlong menunjuk ke bibir Geonwoo yang mengerucut.

“Aku hanya… merenung.” Sekarang seluruh tubuhnya kembali menghadap Xinlong, tapi matanya masih menghindari tatapan menusuk dari pemuda cantik itu.

“Merenung dengan cemberut begitu?”

“Iya.”

 

Xinlong menahan sudut bibirnya agar tak tertarik ke atas. Xinlong tak boleh tertawa, sekarang adalah saatnya untuk serius. Geonwoo adalah entitas yang mengganggu hidupnya, Xinlong tak boleh merasa lucu melihat entitas itu merajuk seperti anak kecil yang tak dibelikan es krim.

Tapi sialnya sudut bibirnya tetap naik.

 

“Oke.” Ucap Xinlong, dan pemuda cantik itu harus menelan tawa yang menggelitik tenggorokannya.  “Sebaiknya kau lanjutkan merenung. Aku akan kembali ke ruang makan.”

 

Xinlong berbalik, dan belum sempat melangkah, tangan Geonwoo sudah melingkari pergelangannya. Menggenggamnya dengan lembut, tapi tetap tak mudah untuk dilepaskan.

 

“Jangan kembali.” 

“Kenapa?” Xinlong ingin menarik tangannya, tapi Geonwoo tak melepaskan.

“Dia masih di sana.” Geonwoo menatap tak suka ke arah ruang makan.

“Sangwon?”

“Dan yang lain, mereka semua.” Sekarang mata gelap Geonwoo menatap Xinlong, dan di sana ada sesuatu yang lebih dari sekadar cemburu. Ada semacam kilatan di matanya, sesuatu yang menyala dalam kegelapan.

“Mereka temanku!” Xinlong menarik tangannya lebih keras.

“Aku tidak suka mereka.” Jari-jari Geonwoo tetap tak bergeming, justru terasa semakin mengetat di pergelangan Xinlong.

“Kau belum kenal mereka.”

“Aku tidak perlu mengenal mereka. Aku tahu mereka akan melihatmu, bicara denganmu, tersenyum dengan wajah menye-”

“Ya, karena itu yang dilakukan teman!” Xinlong akhirnya berhasil melepaskan tangannya, pemuda berparas kucing itu melangkah mundur perlahan.

 

Geonwoo mengerucutkan bibir lagi. Kali ini bibir bawahnya maju sangat jauh, membuat wajahnya yang penuh intimidasi dan penuh kedewasaan itu tiba-tiba terlihat seperti balita yang merajuk.

 

“Aku tidak suka.” Geonwoo kembali mengulang perkataannya, nadanya terdengar seperti merengek.

 

Xinlong terdiam, menatap Geonwoo. Tubuh tinggi besar, bahu selebar lemari, tapi dengan ekspresi yang membuatnya ingin menjambak rambut gelap itu karena kesal sekaligus… entahlah, Xinlong tak tahu.

 

“Baiklah.” Xinlong menyerah untuk melepaskan tangannya dari genggaman Geonwoo. “Kau boleh ikut. Tapi tidak ada hawa dingin, tidak ada lampu mati, tidak ada kopi tumpah. Kau harus duduk di sudut dan diam.”

“Aku tidak suka duduk di sudut.”

“Terima atau tetap di sini?”

 

Geonwoo mengerjapkan mata, lalu mengangguk.

Mereka kembali ke ruang makan, Xinlong duduk kembali di tempatnya, dan Geonwoo kembali ke sudut ruangan. Dari ujung mata kucingnya, Xinlong bisa melihat Geonwoo berjalan ke arah kursi kosong di pojok ruangan. Duduk dengan tangan terlipat di dada, wajahnya masih cemberut. Tapi setidaknya tak melakukan hal aneh, sesuai perjanjian mereka.

 

“Hyung, kau tadi pergi ke mana?” Tanya Sanghyeon.

“Ada telepon.”

“Lampunya sudah kembali menyala.” Ucap Jiahao, tangannya sibuk menyodorkan semangkuk sup pada yang lebih muda. “Mungkin memang korsleting.”

 

Xinlong mengangguk, tersenyum. Makan malam bersama itu berlanjut dengan tenang. Sepanjang malam, Xinlong bisa merasakan tatapan menusuk dari Geonwoo di tengkuknya. Setiap kali Xinlong tertawa dengan sesuatu yang dikatakan Sangwon, tatapan itu semakin tajam. Setiap kali Jiahao mengusap bahunya dengan bercanda, Xinlong akan mendengar suara geraman pelan dari sudut ruangan. Tapi Geonwoo tetap diam, tak melakukan apa-apa. Hanya cemberut.

 


 

Seminggu kemudian, di perpustakaan, Xinlong sedang mengerjakan tugas kelompok dengan Junseo dan Anxin. Junseo duduk di sampingnya, membantu menjelaskan materi yang belum Xinlong pahami. Ujung pensil Junseo menunjuk layar laptop Xinlong, menggambar garis imajiner di antara angka-angka.

 

“Ini, lihat. Kalau kamu mengaturnya seperti ini, lebih mudah dipahami.”

Xinlong mengamati. “Oh! Benar, hyung. Ini lebih jelas, kau memang yang terbaik!”

Junseo tersenyum. “Kau cepat belajar. Hanya butuh-”

 

Pensil Junseo bergerak, ujungnya menyentuh jari Xinlong yang masih berada di keyboard. Hanya sekejap, tak lebih lama dari kedipan mata.

Tapi cukup untuk membuat layar laptop Xinlong mati secara tiba-tiba, bukan mati total. Layarnya berkedip, seperti ada yang salah dengan arus listrik atau komponen di dalamnya. Xinlong menekan tombol power, mencoba menghidupkan atau mematikan. Tak ada respons. Xinlong mencoba menekannya sekali lagi, tetap tak ada respon.

 

“Sialan, apa yang salah dengan benda ini?” Jantungnya berdebar. Tugas yang sudah dikerjakan tiga jam lamanya belum disimpan. Xinlong membalik laptop, mencari keanehan pada setiap sisi, memeriksa kabel, lampu indikator masih menyala hijau.

 

“Coba restart.” Saran Anxin dari seberang.

 

Xinlong menekan tombol power berkali-kali, benda kotak itu tetap mati, membuat Xinlong gemas hingga menekan tombol yang sama secara terus menerus, napasnya memburu.

Mata Xinlong menyisir setiap sudut ruangan, lalu berhenti pada satu titik. Di balik rak buku, Geonwoo berdiri dengan tangan di saku. Tatapannya tertuju pada Junseo, pandangan kosong, bibir membentuk garis lurus, ekspresi menyebalkan itu lagi.

 

Geonwoo bajingan.” Geram Xinlong.

Junseo menoleh. “Xinlong, ada apa?”

“Tidak, tidak. Aku hanya… menggerutu.” Xinlong berdiri, mengemas laptopnya yang sudah terkapar itu. “Aku ke tempat servis dulu, hyung. Sepertinya ada error.”

“Mau aku antar?” Junseo hampir berdiri, tangannya sudah meraih jaket yang tergantung di sandaran kursi.

“Tidak perlu, hyung. Terima kasih.” Xinlong melangkah cepat keluar perpustakaan. 

 

Xinlong berjalan dengan cepat melewati pintu kaca, menyusuri trotoar, hingga akhirnya sampai di area parkiran yang sepi. Di sana, di antara mobil-mobil yang terparkir rapi, Xinlong berhenti ketika sebuah bayangan mulai membentu di hadapannya. Geonwoo berdiri di depannya, ekspresinya tak menunjukan rasa bersalah sama sekali.

 

“Laptopku mati.” Ucap Xinlong, laptop di tangannya terasa berat.

“Aku lihat.”

“Ini ulahmu.” Xinlong mengangkat laptop itu setinggi dada, memperlihatkannya pada Geonwoo.

“Bukan.”

“Geonwoo.” Suara Xinlong terdengar frustasi.

“Aku hanya berdiri di sana.”

“Tugasku belum disimpan.” Suara Xinlong naik, tangan kecil itu menggenggam laptopnya lebih erat. 

Geonwoo mengerjapkan mata. “Kau bisa memulainya kembali.”

“Memulainya lagi dari awal?” Xinlong tertawa, tapi tawanya terdengar pahit. “Aku sudah membuat tugas ini selama tiga jam, Geonwoo. Tiga jam.” Xinlong mengangkat laptopnya lebih tinggi, memamerkan benda mati itu seolah barang bukti. “Kau tau berapa lama aku cari referensi? Berapa kali aku revisi sebelum dapat hasil yang oke? Dan sekarang semua hilang karena kecemburuanmu yang kekanakan itu!”

“Aku sudah mengatakannya, itu bukan aku!”

“Berhenti mengelak!”

“Itu sungguh bukan ulahku…” Sekarang suara Geonwoo tak lagi datar. Ada nada aneh di sana, nada yang membuat udara di antara mereka bergetar.

“Berhenti berbohong!”

Xinlong merasa kepalanya mulai pusing, keringat dingin muncul di dahi. “Kamu tau, Geonwoo? Aku mulai berpikir mungkin kau memang sengaja melakukan semua ini. Bukan karena kau menyukaiku, tapi karena kau ingin melihatku menderita.” Xinlong meletakkan laptopnya pada kap mobil terdekat.

“Tunggu, aku tidak-”

“Jangan alasan.”

 

Geonwoo membeku, mata gelap itu menatap Xinlong dengan pandangan yang tak bisa di artikan. Ada sesuatu di dalam gelapnya mata cantik itu, seperti kecewa? Sedih? Atau bahkan marah? Xinlong tak bisa mengartikannya. Lalu, tanpa suara, Geonwoo menghilang.

Kini Xinlong tinggal sendiri, dengan laptop mati yang berada di atas kap mobil. Angin musim gugur menerbangkan rambutnya, daun-daun kering mulai berjatuhan.

Xinlong menunggu. Lima detik, sepuluh detik, satu menit, hingga tak terasa sudah puluhan menit terlewati.

Geonwoo tetap tak muncul.

Untuk pertama kalinya sejak entitas itu datang, Xinlong benar-benar sendirian. Pemuda cantik itu seharusnya lega, tapi rasa menyesakkan mulai menggerogoti dalam dirinya, seperti jantungnya ditarik paksa agar keluar dari dalam tulang rusuknya.

 


 

Geonwoo menghilang sehari penuh.

Xinlong pergi ke toko servis. Dan saat teknisi mencoba memperbaiki laptop yang mati itu, sang teknisi menemukan kabel longgar, lalu dengan cekatan memperbaikinya dalam sepuluh menit. Datanya tetap aman, tugas Xinlong telah tersimpan. Semua baik-baik saja.

Xinlong kembali pulang ke kamar asrama miliknya, sendiri. Xinlong akhirnya bisa mengerjakan tugasnya dengan damai, tak ada yang mengganggu, tak ada angin dingin yang tiba-tiba melingkupi tubuhnya, tak ada suara serak yang selalu berkomentar di belakang telinga, tak ada bayangan besar yang menghalangi cahaya lampu. Namun anehnya jari Xinlong berhenti, seakan membeku di atas keyboard, menunggu sesuatu yang tak datang.

Untuk pertama kalinya setelah pindah ke asrama, Xinlong pergi ke kantin sendirian, tanpa sosok besar yang terus mengikutinya. Anxin dan Sanghyeon mengajaknya duduk bersama, tapi Xinlong memilih duduk sendirian di pojok. Mata kucing itu terus menatap ke arah pintu masuk, sudut ruangan, dan kursi kosong di sekitarnya. Tapi tetap saja, tak ada siapa-siapa. Bahkan ikan makarel favoritnya terasa hambar.

 

Malam harinya, Sangwon mengetuk pintu kamarnya. “Xinlongie, ikut makan malam? Junseo hyung masak lagi, katanya mau rayain kita yang baru selesai ujian.”

 

Sangwon berdiri di ambang pintu, tangannya berada di saku hoodie, senyum ramah menghiasi wajah itu. Di belakangnya, koridor tampak kosong.

Xinlong menatap wajah Sangwon. Tatapannya bertahan beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, seolah mencari sesuatu, atau seseorang, di balik bahu Sangwon.

Namun, kosong. Hanya terlihat lampu lorong yang berkedip sekali.

 

Xinlong menggeleng, dadanya terasa aneh, terasa berat dan menyesakkan. “Maaf hyung, aku lelah. Tolong sampaikan pada yang lain.”

Mata Sangwon menyipit, mengamati wajah Xinlong yang pucat, lalu terpaku pada lingkaran hitam di bawah mata yang belum ada kemarin. “Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat.”

“Cuma kurang tidur.” Xinlong tersenyum, senyumnya terlihat dipaksakan, Xinlong jelas bukan aktor yang baik.

“Oke. Kalau butuh apa-apa, kabari aku, ya.” Sangwon hanya menghela napas, lalu melambai kecil, berbalik. Langkahnya menjauh, hingga sosoknya hilang di ujung koridor.

 

Pintu tertutup. Xinlong kembali duduk di tepi kasur. Menatap dinding kosong, menatap sudut kamar yang biasanya diisi oleh sosok besar dengan tangan di saku dengan senyum menyebalkan yang sialnya sekarang membuat Xinlong rindu. Di sudut itu kini kosong, Xinlong menggenggam selimut di kasurnya, melampiaskan rasa aneh yang menggerogoti dirinya.

Xinlong menunggu, hingga tanpa sadar jam telah menunjukkan pukul sebelas malam. Suara-suara di lorong mulai menghilang, diikuti lampu asrama mati satu per satu.

 

“Geonwoo.” Panggil Xinlong pelan, suaranya melayang di udara, entah sampai pada yang dituju atau tidak.

Tak ada jawaban. Hanya suara pemanas ruangan yang berdengung rendah.

“Geonwoo, aku tau kau di sini.”

Hening, udara dingin yang biasanya menyertai kehadiran Geonwoo tak ada. Xinlong bahkan tak bisa merasakan apa-apa.

“Aku… minta maaf.”

“Aku tau kau di sini.” Suara Xinlong bergetar di kata terakhir. “Maaf aku keterlaluan. Tapi aku tidak bermaksud mengatakan kau ingin membuatku menderita. Aku tau kau… kau hanya…”

Xinlong berhenti, mengambil napas. Jari kecil itu mencekram selimut lebih erat.

“Aku kesal karena laptopku mati.” Ucap Xinlong pada akhirnya. “Maaf aku melampiaskannya padamu.”

 

Di sudut kamar yang gelap, bayangan gelap mulai terbentuk. Seperti tinta yang larut dalam air, seperti asap yang membentuk wujud. Sosok tinggi besar muncul dari kegelapan, tapi tak seperti biasanya. Geonwoo berdiri dengan tangan di samping tubuh, rambut gelapnya sedikit berantakan. Sepasang mata gelap itu, terlihat merah melingkari kelopaknya, seperti habis menangis. Tapi sepengetahuan Xinlong, entitas tak bisa menangis.

 

“Kau… wajahmu kenapa?” Tanya Xinlong, suaranya keluar lebih kecil dari dugaannya.

 

Geonwoo tak menjawab, hanya diam, berjalan mendekat dengan langkah berat. Lalu Geonwoo mendudukan tubuh besarnya di lantai, tepat di depan Xinlong. Dari posisi serendah itu pun, kepalanya masih setinggi dada Xinlong.

 

“Aku tidak suka kau marah...” Ucap Geonwoo. Suaranya serak, seperti habis digunakan untuk berteriak di tempat yang sunyi.

“Maaf, itu memang salahku.” 

“Tapi aku lebih tidak suka melihatmu sedih.” Geonwoo mengangkat wajahnya. Di kelopak matanya benar-benar merah, dan ada kilatan air di sudut matanya yang tak pernah Xinlong lihat sebelumnya.

“Lalu bagaimana?”

Geonwoo menghela napas. Dadanya yang bidang naik turun. “Aku tidak bisa tidak cemburu. Setiap kali ada orang yang menatapmu, bicara denganmu, tersenyum bersamamu, rasanya ada yang membakar dadaku.” Tangan kirinya mengepal di pangkuannya. “Panas sekali. Jadi aku harus melakukan sesuatu atau rasanya aku akan meledak.”

“Aku tau aku kekanak-kanakan, aku tau aku menyebalkan. Tapi aku tidak tau harus bagaimana, aku hanya… ingin perhatianmu tertuju padaku, bukan mereka.” Lanjut Geonwoo, jari-jarinya yang mengepal mulai terbuka satu per satu. 

Xinlong merasakan sesuatu di dadanya, terasa sesak, tapi tak sakit. Seperti ada yang menekan jantungnya dari dalam.

“Kau sama saja dengan mereka.” Jelas Xinlong perlahan.

Geonwoo mengerjapkan mata. “Tapi kau hanya marah padaku…”

“Karena kau mengganggu.”

“Aku mengganggu?” Sekarang mata Geonwoo menatap Xinlong dengan intensitas yang berbeda, bukan cemburu, bukan marah, tapi semacam harapan kecil yang Geonwoo coba sembunyikan di balik bulu mata yang lebat.

“Iya, sepanjang waktu. Tapi kau memang benar, aku berlebihan. Maaf, seharusnya aku lebih sering bermain denganmu.”

 

Geonwoo terdiam, namun perlahan, sudut bibirnya terangkat. Cemberut di bibir tebal itu berubah menjadi senyum kecil, berganti menjadi senyum lebar, membuat matanya menyipit dan hidungnya mengerut. Senyum yang sangat kekanak-kanakan.

 

“Aku menyukaimu, Longie.”

“Terserah.” Xinlong mengalihkan pandangan ke arah jendela, menatap langit gelap yang penuh bintang.

“Kau juga suka aku, kan?” Geonwoo mencondongkan tubuhnya, mencoba melakukan kontak mata dengan Xinlong.

“Tidak.” Xinlong menoleh ke sisi lain, ke arah lemari, menghindari tatapan Geonwoo yang membuat wajahnya mulai memanas.

“Tapi kau mencariku.” Tubuh Geonwoo ikut bergeser, mencoba sebisa mungkin tetap berada di hadapan wajah Xinlong.

“Itu karena aku punya hati, aku tidak tega melihatmu terus menghilang sepanjang waktu untuk menghindariku.”

“Aku merenung.” 

“Merenung dengan wajah cemberut dan mata memerah begitu?” Xinlong akhirnya menoleh, dan pemuda cantik itu bisa melihat Geonwoo mengangkat bahu dengan ekspresi malu-malu, wajahnya bahkan mulai memerah walaupun Xinlong yakin tak ada darah yang memompa dalam tubuh astral itu.

“Iya.”

 

Xinlong tertawa, suara tawa itu keluar tanpa izin. Saat sadar, Xinlong segera menutup mulutnya dengan kedua tangan, terlambat,  Geonwoo sudah mendengarnya dari awal hingga akhir.

 

“Kau tertawa.” Ucap Geonwoo, senyum terbit di wajahnya, memperlihatkan celah kecil manis di sudut bibirnya.

“Tidak.” Xinlong menurunkan tangannya, tapi senyum masih tertinggal di wajah cantiknya.

“Aku suka suara tawamu.” Geonwoo menyentuh telinganya sendiri.

“Kau menyebalkan, aku tidak suka tertawa untukmu.”

“Tapi kau minta aku kembali.”

 

Xinlong tak menjawab, pemuda itu justru menarik tangan Geonwoo, tangan besar yang dingin, dan kemudian menggenggamnya. Mencoba membagi kehangatan tubuhnya, pada tubuh dingin di depannya.

 

“Lain kali kalau kau cemburu.” Ucap Xinlong, “Coba katakan padaku, jangan langsung bertindak.”

“Aku sudah mengatakannya padamu dan kau justru marah.” Geonwoo mengerutkan kening. 

“Itu karena kau membuat orang di sekitarku tidak nyaman.”

“Oh.” Geonwoo mengerjapkan mata. Lalu setelah beberapa detik, “Jadi kalau aku mengatakan aku cemburu tanpa melakukan apapun, kau tidak akan marah?”

“Aku tidak- itu bukan- ah, sudahlah.” Xinlong mengusap wajah.

 

Hening melanda keduanya, Geonwoo sibuk merasakan kehidupan yang berada di tubuh kecil pemuda cantik di depannya, sementara Xinlong sibuk mengagumi wajah tampan yang baru di sadarinya sekarang.

 

“Besok.” Geonwoo berucap tiba-tiba, memecah lamunan Xinlong, “Aku mau ikut kau ke kampus.”

“Kau selalu ikut.” Xinlong sudah tak heran. “Lagi pula tidak ada yang bisa melihatmu kecuali aku.”

“Tapi besok aku mau duduk di sampingmu.”

“Orang lain bisa mendudukimu.” Xinlong mengerjapkan mata.

“Aku bisa buat mereka merasa ada sesuatu.” Geonwoo menggerakkan jarinya, dan tiba-tiba suhu ruangan turun, Xinlong bisa merasakannya hawa dingin yang membuat lengannya merinding.

“Jangan ganggu mereka.” Xinlong menepis tangan Geonwoo.

“Aku tidak mengganggu. Aku hanya duduk.” Geonwoo memasang ekspresi seolah tak bersalah, ekspresi yang sudah terlalu sering Xinlong lihat.

Xinlong menghela napas. “Baiklah.”

“Aku akan diam.” Geonwoo mengangguk dengan sangat serius.

“Kau harus menurut pada ucapanku.”

“Aku janji.”

“Geonwoo janji?”

Geonwoo mengangguk dengan serius. “Geonwoo berjanji.”

Xinlong tersenyum, kali ini, senyum itu terpahat dengan cantik di wajah kucing itu. “Awas kalau kau ingkar.”

 

Geonwoo mengangguk dengan semangat, dan dengan gerakan sangat cepat, Geonwoo meraih pinggang Xinlong dan menarik tubuh kecil itu jatuh ke dalam pelukannya. Xinlong yang kehilangan keseimbangan, terjatuh di atas tubuh Geonwoo, terperangkap dalam pelukan yang anehnya terasa hangat.

 

“Apa-?!”

“Peluk.” Wajah Geonwoo terkubur di rambut Xinlong.

“Aku tidak minta peluk!”

“Tapi aku mau.” Suara Geonwoo teredam di rambut Xinlong.

“Geonwoo-!”

“Kau kecil.” Gumam Geonwoo. “Enak buat dipeluk.”

 

Xinlong membalas pelukan Geonwoo, untuk pertama kalinya. Rasa hangat melingkupi dadanya, menyebar hingga ke seluruh tubuhnya, memberi rasa nyaman. Sepertinya mulai sekarang Xinlong akan membalas setiap pelukan Geonwoo. 

 

“Kau besar, sangat besar. Dan berat sialan.”

“Tapi kau nyaman.”

“Tidak nyaman!”

“Kau bilang tidak, tapi membalas pelukanku.”

 

Xinlong tak bisa mengelak, pemuda itu memang tak ingin melepas pelukan ini. Tangan kecilnya justru mengusap rambut tebal milik Geonwoo, pipinya menempel pada dada bidang itu, walaupun tak ada suara debaran yang terdengar, tapi Xinlong tetap memejamkan mata, menikmati setiap detiknya dalam pelukan Geonwoo.

 

“Kau menyebalkan.” Bisik Xinlong.

“Aku hanya haus perhatianmu.” Jawab Geonwoo.

 

Suara tawa Geonwoo terdengar, tawa yang dirindukan oleh Xinlong. Dan meskipun Xinlong membantah, pemuda cantik itu tak bisa menahan senyum untuk muncul di wajahnya.

Di dalam kamar yang hangat, entitas kekanak-kanakan itu memeluk manusia kecilnya, tanpa niat melepaskan.

 


 

Keesokan harinya, Xinlong memasuki kelas dengan langkah waspada, berusaha terlihat senormal mungkin. Geonwoo berjalan di sampingnya, tak terlihat oleh orang lain. Kali ini Geonwoo memakai hoodie berwarna pink, sepertinya suasana hati makhluk itu sedang berbunga.

 

“Kau duduk di mana?” Tanya Geonwoo.

“Di depan.”

“Kalau begitu aku di sampingmu.”

“Kau sudah berjanji untuk diam.”

“Diam di sampingmu.”

 

Xinlong memilih kursi di baris kedua, diikuti oleh Geonwoo yang duduk di kursi kosong di sebelah kanannya, menyandarkan tubuh besarnya di sandaran kursi yang terlalu kecil. Geonwoo melipat tangan di atas meja, wajahnya berubah menjadi serius. Lalu perlahan kelas kosong itu mulai terisi, ditutup dengan kedatangan sang dosen.

 

“Kau terlihat tidak nyaman.” Bisik Xinlong, ini pertama kalinya Xinlong melihat Geonwoo begitu serius, makhluk itu menatap materi yang terpantul pada prompter, memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulu sang dosen.

Geonwoo terlihat lebih serius dibandingkan beberapa mahasiswa yang ada, padahal Geonwoo terlihat saja tidak.

 

“Aku sedang serius.” Mata Geonwoo tetap tertuju ke depan.

“Kau terlihat seperti akan meledak.”

“Karena aku konsentrasi.” 

Dosen mulai menjelaskan tentang teori bisnis, tapi Xinlong sulit untuk fokus. Setiap kali Xinlong mencatat, Geonwoo selalu mencondongkan tubuh untuk melihat apa yang Xinlong tulis. Setiap kali Xinlong mengangkat tangan bertanya, Geonwoo menyandarkan dagu di telapak tangan, dan menatap dengan mata penuh rasa ingin tahu. Sepertinya makhluk itu mulai bosan.

 

“Kau kenapa sih?” Protes Xinlong saat dosen menulis di papan.

“Aku memperhatikanmu.” Geonwoo mengatakan itu dengan santai, mata gelap itu bahkan tak berkedip.

“Aku tau. Tapi kenapa?”

“Karena aku suka memperhatikanmu.”

Xinlong merasakan panas di pipinya. Xinlong menunduk, berpura-pura sibuk dengan catatannya. “Berhenti memperhatikanku, lebih baik kau serius seperti tadi.”

Geonwoo menggeleng kecil. “Aku bosan.” 

“Lihat saja dosennya.”

Geonwoo menoleh ke depan, menatap dosen itu selama tiga detik, dan pandangannya kembali pada pemuda cantik di sampingnya. “Dosennya botak.”

“Geonwoo!”

“Apa? Aku hanya bilang fakta.”

Xinlong memukul lengan Geonwoo dengan buku catatan. Dan benar saja, buku di tangannya menembus tubuh Geonwoo, membuatnya terlihat sedang memukul udara yang tak bersalah.

 

Setelah sang dosen pergi, terdengar suara dari barisan belakang, Sanghyeon memanggilnya dengan suara ceria. “Xinlongie hyung! Malam ini ada acara nonton bareng, ikut?”

 

Xinlong menoleh untuk menjawab. Tapi belum sempat membuka mulut, dari samping terdengar suara.

 

“Kau ikut?” Geonwoo menatap Xinlong dengan alis terangkat.

“Kau berbicara denganku?” Xinlong balas bertanya dengan tatapan heran.

“Siapa lagi? Memang dia bisa melihatku?” Geonwoo menunjuk ke arah Sanghyeon tanpa menatapnya.

“Bukankah dia cukup menggemaskan?”

“Aku tidak menyukanya sejak awal.” Geonwoo mulai mengetuk meja dengan jari telunjuknya.

“Geonwoo, kau sudah berjanji.” Xinlong menyentuh lengan Geonwoo sebentar, hanya untuk mengingatkan.

 

Geonwoo mengerucutkan bibir, tak menjawab. Makhluk itu justru melipat tangan lebih erat, menatap ke depan dengan wajah tatapan kosong, jarinya berhenti mengetuk meja.

 

Xinlong menghela napas, lalu kembali menoleh ke Sanghyeon. “Aku ikut. Jam berapa?”

“Jam tujuh di ruang TV asrama!” Sanghyeon mengacungkan jempol.

 

Geonwoo di sampingnya menghela napas panjang, cukup keras hingga membuat beberapa helaian rambut Xinlong sedikit bergerak.

 

“Diam.” Bisik Xinlong.

“Aku mengatakan apa-apa?!” Protes Geonwoo. 

“Napasmu mengganggu.”

“Aku hanya bernapas.” Geonwoo menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan sengaja ke arah telinga Xinlong.

“Entitas sepertimu tidak perlu udara.” Xinlong menggeser tubuhnya menjauh dari jangkauan Geonwoo.

 

Geonwoo tak membalasnya, namun terlihat jelas bahwa makhluk itu merajuk lagi.

 

 

Saat jam istirahat, Xinlong berjalan ke kantin. Geonwoo seperti biasanya terus mengikuti, dan kali ini makhluk benar-benar diam seperti janjinya. Diam di sini berarti tak melakukan hal aneh, tapi tatapannya tetap mengintimidasi, dan Xinlong bisa melihat Sanghyeon mengusap lengannya saat mendekat.

“Perasaanku atau memang di sini sangat dingin?” Sanghyeon tampak seperti menggigil di seberang Xinlong.

“Iya, pemanas ruangannya mungkin mati.” Jawab Xinlong, melirik Geonwoo.

Lagi-lagi Geonwoo memasang ekspresi tak bersalah, sibuk menatap langit-langit kosong, Xinlong sudah mulai hafal dengan semua kebiasaan Geonwoo.

“Oh! Xinlongie, kau dekat dengan Junseo hyung? Junseo hyung terus bertanya tentangmu.” Anxin menyuap nasi, mata bulatnya menatap Xinlong

Xinlong mengangkat alis. “Tanya apa?”

“Kau dekat tidak dengan seseorang, bla bla bla, ya semacam itu.” Anxin mengunyah dengan ekspresi penuh arti. “Dia terlihat tertarik.”


Sebelum Xinlong sempat menjawab, gelas minuman Sanghyeon bergerak sendiri di atas meja. Hanya sedikit bergeser, tapi cukup untuk membuat Sanghyeon berhenti memasukan snack ke mulutnya.

 

“Angin?” Sanghyeon menatap gelasnya, matanya membola, menatap tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

“Mungkin.” Jawab Xinlong terlalu yakin. Bisa merasakan kehadiran Geonwoo yang berdiri di belakangnya dengan tangan terkepal.

“Geonwoo.” Bisik Xinlong, memperingatkan.

“Apa? Aku tidak melakukan apa-apa.” Dan dengan bodohnya Geonwoo ikut berbisik.

“Gelasnya bergerak.”

“Itu angin.”

“Tidak ada angin di dalam ruangan.”

“Mungkin ada hantu.”

Xinlong hampir tertawa mendengar jawaban Geonwoo. “Dan jawabannya adalah kau.”

 

Geonwoo sibuk menjelaskan bahwa mahluk itu berbeda dengan hantu. Tapi Geonwoo tak melakukan apa-apa lagi. Setidaknya untuk sisa waktu istirahat.

 


 

Malamnya, Xinlong bergabung dengan teman-temannya di ruang TV asrama. Film horor telah diputar, dan Xinlong duduk di antara Sangwon dan Sanghyeon di sofa panjang. Geonwoo duduk di lantai, menghadap Xinlong, membelakangi TV, punggungnya yang lebar menghalangi pandangan Xinlong dari layar.

 

“Kau nonton TV atau nonton aku?” Xinlong berucap tanpa suara.

“Kau.” Geonwoo menatap ke atas, dagunua bertumpu di lengan yang dilipat di pangkuan Xinlong.

“Filmnya menyenangkan.” 

“Kau lebih cantik.” Geonwoo tersenyum.

 

Xinlong menendang pinggang Geonwoo pelan dengan ujung sandalnya. Geonwoo tak bergeming, justru tersenyum lebih lebar.

Di tengah film, saat adegan paling menegangkan dengan hantu perempuan yang merangkak keluar dari sumur, Sanghyeon menjerit kecil dan meraih lengan Xinlong. Jari-jari Sanghyeon menggenggam erat lengan kiri Xinlong, kuku pemuda itu sedikit menusuk lebih dalam dari yang Xinlong duga.

Dari lantai, terdengar geraman. Bukan suara manusia, lebih seperti getaran rendah yang membuat gelas di atas meja bergetar.

Xinlong menunduk. Geonwoo sedang menatap tangan Sanghyeon yang menggenggam lengan Xinlong. Mata gelap itu tak berpindah, dan di sekeliling Xinlong, udara mulai berubah dingin. Xinlong bisa melihat napasnya sendiri membentuk uap tipis.

 

“Geonwoo.” Ucap Xinlong, mencoba mengingatkan Geonwoo.

“Dia menyebalkan.” Sekarang Geonwoo terlihat seperti badai yang akan mengobrak-abrik sekelilingnya kapan saja.

“Dia hanya sedang takut.” Xinlong mencoba melepaskan genggaman Sanghyeon dengan lembut, tapi jari-jari Sanghyeon menggenggam erat.

“Aku juga takut kalau begitu.” Sekarang udara di sekitar mereka sangat dingin, Xinlong bisa merasakan dingin itu mulai merambat dan menusuk ke dalam tulangnya.

“Kau sudah berjanji.”

“Itu tadi.” Geonwoo menggigit bibir bawahnya.

“Geonwoo!”

Tapi sebelum Geonwoo melakukan apa pun, Sanghyeon tiba-tiba melepaskan genggamannya sendiri. Sanghyeon mengusap lengannya, menggigil hebat, gigi-giginya bergemeletuk. “Hyung, tubuhmu seperti mayat…”

“Mungkin kedinginan.” Jawab Xinlong, bangkit dari tempatnya. “Aku ke kamar dulu, ya. Ambil jaket.”

 

Xinlong berjalan cepat ke luar ruang TV, melewati pintu, menyusuri koridor. Di sana, di bawah lampu lorong yang redup, Xinlong berbalik.

Geonwoo sudah berdiri di belakangnya, dengan wajahnya yang menunjukan kekesalan makhluk itu. Lampu koridor yang redup membuat bayangannya jatuh tepat menutupi seluruh tubuh Xinlong.

 

“Kau mau bilang apa?” Xinlong melipat tangan di dada, menunggu balasan dari makhluk yang lebih tinggi darinya itu.

“Aku tidak suka dia menyentuhmu.” Geonwoo berbicara dengan pelan, ragu untuk sesaat.

“Dia cuma ketakutan, Geonwoo.”

“Aku juga takut, peluk aku sekarang.” Geonwoo mengangkat tangannya ke udara, bersiap menerima pelukan.

“Geonwoo, kau tau kan kau tidak bisa melarang aku bersentuhan dengan orang lain?”

 

Geonwoo diam. Bibirnya sibuk bergumam hal yang tak Xinlong mengerti, membuat makhluk dengan tubuh tinggi itu terlihat seperti anak kecil yang dimarahi ibunya.

 

“Aku tau.” Geonwoo mengakui pada akhirnya. Suaranya kecil, nyaris tak terdengar.

“Tapi kau tetap cemburu.” Xinlong tak bertanya lagi, pemuda cantik itu menusuk Geonwoo dengan fakta.

“Iya.” Geonwoo mengangguk pelan.

“Dan kau akan tetap buat hal-hal aneh setiap kali aku dekat dengan orang lain?”

Geonwoo mengangguk lagi.

Xinlong menghela napas. Napasnya keluar dengan kasar, membawa semua udara dari paru-parunya. “Kau benar-benar seperti anak kecil.

“Aku bukan anak kecil.” Geonwoo mengerutkan alisnya.

“Tingkahmu seperti anak kecil.” Xinlong memutar bola matanya malas, berdebat dengan Geonwoo memang tak ada habisnya.

“Tapi aku lebih tinggi darimu.” Geonwoo berdiri tegak, dan tiba-tiba perbedaan tinggi badan mereka terasa sangat jauh.

“Itu tidak ada hubungannya!” Xinlong benci ketika harus mendongak untuk bisa bertatap mata dengan Geonwoo.

“Aku juga lebih besar.” Geonwoo mendekat, membuat Xinlong mundur hingga punggungnya menyentuh dinding koridor. Geonwoo membungku, hingga wajah mereka sejajar dan mata hitam itu menatap Xinlong dari jarak satu kepalan tangan. “Aku bisa melindungimu.”

“Aku tidak butuh perlindungan.” Entah kemana perginya semua keberanian Xinlong, kini suaranya ikut mengecil.

“Tapi aku tetap akan melindungimu.” Geonwoo menyentuh dinding di samping kepala Xinlong dengan telapak tangannya, menjebak Xinlong di antara tubuh besar Geonwoo dan tembok.

“Dari apa? Dari temanku?”

“Dari siapa pun yang ingin menyakitimu.” Mata Geonwoo tak berkedip, Xinlong tak ingin mengakuinya, tapi pemuda cantik itu bisa melihat keseriusan dalam setiap kata Geonwoo.

“Mereka tidak akan menyakitiku!”

“Tidak ada yang tau.” Sekarang suara Geonwoo berubah. Tak lagi terdengar kekanak-kanakan. Ada nada lain di sana, nada yang membuat Xinlong terdiam. “Lagi pula aku tidak percaya siapa pun, kecuali kau, Xinlong.”

 

Xinlong menatap Geonwoo. Di antara bayangan koridor yang redup, mata entitas itu bersinar dengan cahaya yang tak wajar, semacam kilau yang menyerap semua cahaya di sekitarnya. Ada sesuatu di sana, bukan hanya kecemburuan.

 

“Kau… takut?” Tanya Xinlong pelan.

Geonwoo terdiam sejenak, namun cahaya di matanya meredup. “Apa?”

“Kau takut.” Xinlong mengulang, kali ini dengan suara yang lebih yakin. “Bukan karena mereka akan menyakitiku, tapi karena… kau takut aku akan lebih sering bersama mereka dibandingkan dirimu?”

 

Geonwoo terdiam, sepasang mata gelap itu beralih ke samping, menghindari tatapan Xinlong. Untuk pertama kalinya Xinlong bisa melihat ekspresi yang sebenarnya dari makhluk itu, Geonwoo terlihat seperti anak kecil yang ketahuan.

 

“Aku tidak takut.” Bantah makhluk itu, namun suaranya tak terdengar yakin oleh dirinya sendiri.

“Geonwoo.” Xinlong menyentuh wajah tampan itu dengan perlahan, memaksa wajah itu kembali menatapnya.

“Aku cuma… tidak suka.” Geonwoo tetap mengalihkan wajahnya, sentuhan Xinlong padanya tetap tak terlepas.  “Aku tidak suka kau terlalu lama bersama mereka, aku seperti kau tinggalkan.”

“Kenapa?” Tangan Xinlong turun dari wajah Geonwoo, menyentuh garis rahang yang tegas, mengusapnya pelan, memberi ketenangan.

Geonwoo menelan ludah, jakunnya bergerak naik turun dengan gugup. “Karena hanya kau yang bisa melihatku...”

Xinlong merasa dadanya sesak. Membawa tangannya kembali untuk menangkup wajah Geonwoo. Kulit entitas itu dingin, tapi di bawah telapak tangan Xinlong, suhunya mulai menghangat.

Xinlong menyadari bahwa dirinya memang punya banyak teman, bisa berkenalan dengan orang baru. Tapi Geonwoo? Hanya Xinlong yang bisa melihatnya, jika Xinlong tak menganggapnya ada, dunia pun tak akan mengingat keberadaannya.

“Kau bodoh.” Ucap Xinlong.

“Tunggu- aku apa?” Geonwoo mengerjapkan mata, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja di tangkap oleh pendengarannya.

“Kau bodoh.” Xinlong mengulangi ucapannya, dan sekarang sudut bibirnya terangkat. “Cemburu dengan temanku, berbuat onar saat aku dekat dengan orang lain, bersikap kekanakan dengan tubuh sebesar ini.”

“Aku tidak keka-”

“Diam.”  Xinlong menekan jarinya ke bibir Geonwoo. “Belum selesai.”

Geonwoo terpaksa menutup mulutnya, bibir tebal itu terasa dingin di bawah ujung jari Xinlong.

Xinlong menarik napas. “Aku tetap di sini, kan? Aku tidak pergi. Aku mungkin memang mengomel padamu setiap hari, tapi aku tidak pernah benar-benar ingin kau pergi.”

“Jadi.” Xinlong menekan dada Geonwoo dengan telapak tangannya yang kecil, “Kau tidak perlu cemburu, tidak ada yang bisa menggantikan entitas gila yang menggangguku setiap saat”

Geonwoo tersenyum. Senyum yang lebar, tulus, dan sangat kekanak-kanakan. Matanya menyipit hingga hampir tertutup, hidungnya mengerut, dan di pipinya yang dingin muncul semacam rona yang tak mungkin dimiliki entitas. “Aku tidak gila.” Geonwoo menarik tangannya dari tembok, memberi jalan Xinlong untuk pergi.

“Kau gila.” Xinlong pergi ke arah kamarnya, tak menoleh ke belakang sedikit pun, meninggalkan Geonwoo dengan senyum yang tak pudar dari wajah tampannya.

“Dan aku menyukaimu.” Geonwoo mengikuti di belakangnya.

“Itu gila.”

“Tapi kau suka aku juga. Artinya kau lebih gila.”

 

Xinlong tak menjawab. Pemuda itu justru mempercepat langkahnya, tapi Geonwoo tentu dengan mudah mengikutinya, langkah panjangnya menyesuaikan dengan langkah pendek Xinlong.

 

“Diam itu berarti iya.” Ucap Geonwoo yang kini berjalan di sampingnya.

“Tidak.”

“Iya.”

“Tidak!”

“Iya!”

“Besok kau harus mentraktirku minuman.” Sekarang Geonwoo berjalan di depan Xinlong, lalu membalikkan tubuhnya, berjalan mundur dengan langkah santai.

“Kau bisa minum?” Xinlong menatap Geonwoo dengan kebingungan, masih belum paham bagaimana cara berpikir makhluk itu. Padahal Geonwoo bisa dengan mudah melayang atau berpindah tempat, tapi makhluk itu tetap saja lebih suka berjalan dengannya.

“Bisa kalau kau yang traktir.”

Xinlong berhenti di depan pintu kamarnya. Xinlong menoleh, mendongak, menatap Geonwoo yang tersenyum.

“Kadang aku bertanya-tanya kenapa aku tidak coba cari shaman lagi.”

“Karena kau suka aku.” Geonwoo membalas dengan cepat.

“Karena semua shaman menyerah.” Xinlong membuka pintu kamarnya.

“Karena aku terlalu tampan untuk diusir.” Dan Geonwoo masuk begitu saja tanpa di undang, seakan tempat itu adalah miliknya.

“Karena mereka takut denganmu.” Setelah Geonwoo masuk, Xinlong menyusul dan menutup pintu.

“Itu juga.”  Geonwoo duduk di tepi kasur, anehnya kasur itu tak terlihat bergerak sedikit pun ketika tubuh besar itu menekannya.

Xinlong menggeleng, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan. Pemuda cantik itu membuka lemari, mengambil baju ganti. “Milktea. Super manis.”

“Dengan bola-bola bulat itu juga.” Geonwoo menambahkan.

“Jangan lupa bayar.”

“Aku entitas. Aku tidak punya uang.”

“Maka tidak ada milktea untukmu.”

“Tapi kau bisa membelinya untukku.” Geonwoo menunjuk ke dompet di atas meja belajar.

“Aku tidak punya uang juga.”

“Kau punya.”

“Untuk kebutuhan hidup. Bukan untuk mentraktir entitas tak jelas.” Xinlong mengambil dompetnya dan menyembunyikannya di belakang punggung.

“Dan kau adalah kebutuhan hidupku.” Geonwoo berdiri, melangkah mendekat, dan dengan mudah mengambil dompet dari balik punggung Xinlong.

Heh-!” Xinlong melompat, tapi tangannya hanya bisa meraih hingha siku Geonwoo.

 

Geonwoo tertawa. Tawa yang keras, menggelegar, dan sangat mengganggu. Geonwoo melempar dompet itu ke atas, menangkapnya lagi, lalu meletakkannya ke atas lemari, area yang sulit di jangkau Xinlong tapi Geonwoo dengan mudah menjangkaunya.

 

“Akan aku kembalikan, tapi janji traktir aku.”

Xinlong menghela napas. “Kau benar-benar seperti anak kecil.” Kepalanya terpaksa mengangguk, merelakan beberapa uang tabungannya untuk mentraktir Geonwoo.

 

Geonwoo mengambil dompet itu, lalu meletakkannya dengan lembut kembali pada meja. Tubuh besar itu tiba-tiba sudah berada di kasur, membaringkan tubuh besarnya, kepalanya menggantung di ujung kasur, rambut hitamnya terlihat acak-acakan

 

“Kau sungguh menyebalkan.” Xinlong mengambil dompetnya, memeriksa isinya, masih utuh. Xinlong menutup dompet dengan lega.

“Tapi tampan bukan?” Geonwoo berguling, menatap Xinlong dari posisi terbalik.

“Enyah dari sini sialan!” Xinlong melempar bantal ke wajah Geonwoo.

Geonwoo menangkap bantal itu dengan satu tangan, lalu menekannya ke wajahnya sendiri. Dari balik bantal, suaranya terdengar teredam. “Aku mau tidur di sini.”

“Tidak boleh, sempit.” Xinlong menarik bantal itu.

“Benar juga, kenapa aku perlu izin? Kan aku bisa menyelinap saat kau tertidur.”

“Ini kamarku!” Xinlong menarik lebih keras.

 

Geonwoo melepaskan bantal itu. Membuat Xinlong tersentak mundur karena kehilangan keseimbangan, hampir jatuh, untungnya Geonwoo menangkap pinggangnya tepat waktu. Sekali lagi, tubuh kecil Xinlong terperangkap di antara lengan kekar milik Geonwoo.

 

“Aku senang kau bisa melihatku.” Ucap Geonwoo, suaranya tiba-tiba rendah.

Xinlong berhenti bergerak. Jantungnya berdetak terlalu cepat, terlalu keras, dan untuk sesaat Xinlong yakin Geonwoo bisa mendengarnya.

“Memang menyebalkan sejujurnya.” Lanjut Geonwoo. “Tapi itu untuk menarik perhatianmu.” Jari-jarinya menyentuh punggung Xinlong, mengusap lembut. “Jadi mulai sekarang, berikan aku perhatian yang lebih banyak.”

 

 

Xinlong tak menjawab, pemuda cantik itu hanya bisa bertumpu pada tubuh Geonwoo lebih erat. Xinlong tahu, besok pagi entitas itu akan berdiri di samping tempat tidurnya, membangunkannya dengan suara serak yang mengganggu. Hari-hari Xinlonh akan dipenuhi dengan kecemburuan, keusilan, dan segala tingkah ajaib Geonwoo yang membuatnya ingin menjambak rambut makhluk itu.

Tapi sepertinya, Xinlong mulai menyukai entitas itu.

Menyukai Geonwoo.