Work Text:
Tidak pernah dalam hidupnya, Seungmin berpikir untuk membiarkan orang lain melihatnya dengan kaus gambar bulldog yang pudar, celana pendek dari kelas PE-nya semasa SMA, rambut kusut yang mulai tumbuh menutupi mata, dan dagu kasar belum bercukur.
Singkatnya, dia seperti gelandangan.
Tapi sepertinya itu pengecualian untuk Jeongin.
Hari itu bulan Juli, di luar sedang turun hujan, dan Jeongin tiba-tiba muncul di studio apartement Seungmin yang sumpek dengan topi bisbol kesayangannya—yang omong-omong hilang saat kelas 5.
Jeongin seperti biasa kelihatan sumringah, tapi lantai di bawah kakinya becek karena dia basah kuyup diguyur hujan seperti anjing hilang. Jemarinya bertautan, terbesit rasa bersalah dalam suaranya saat ia berkata, "Boleh nggak aku masuk?"
Meski tahu kalau karpet bulu mahalnya akan jadi kotor karena air yang terus menetes dari ujung hoodie abu-abu Jeongin yang belel, Seungmin tetap membiarkannya masuk.
Setelah memberikan Jeongin dua potong handuk, Seungmin dengan kalang kabut berlari ke kamarnya, mencari sesuatu untuk dipinjamkan. Tapi jelas kelihatan kalau Seungmin tak berpikir panjang karena ia lupa kalau semua pakaiannya baru dikirimnya ke binatu kemarin sore.
Sekarang yang tertinggal di lemarinya hanyalah kaus gambar beruang yang dibelinya untuk mendukung program perlindungan beruang kutub dari pemanasan global (bahannya dari denim, dan gambar beruangnya akan jadi putih setelah dicuci berkali-kali), setelan kerja warna putihnya yang lama, beberapa kaus pudar yang lain, dan satu pasang celana tidur motif tartan yang kebesaran.
Seungmin tidak mungkin meminjamkan kaus beruangnya, karena ia tidak yakin kapan terakhir kali baju itu dicuci, kebetulan saja ia menemulannya terselip di bagian paling belakang lemari. Dan kaus-kaus pudar itu jelas tidak layak karena.. ya, tidak layak saja.
Kemeja putih dengan celana tidur mungkin bukan pilihan terbaik di saat seperti ini, tapi Seungmin tidak punya pilihan lain.
Akhirnya mereka duduk di dapur Seungmin yang cuma punya dua kursi, Jeongin sudah mandi dan duduk manis sambil menumpukan kepalanya di atas kedua lutut yang ditekuk di atas kursi. Handuknya ia biarkan bertengger di atas kepala dengan asal-asalan.
Seungmin tahu Jeongin punya selera yang eksentrik. Seungmin juga ingat kalau harga setelan itu cukup untuk menutup biaya makannya di luar selama dua minggu, tapi entah bagaimana kombinasi nyeleneh yang ditawarkannya terasa bisa jadi seperti tren terbaru yang akan muncul di majalah fashion bulan depan kalau Jeongin yang memakainya. Padahal sebelum ini, di mata Seungmin semua kemeja itu terlihat sama saja.
Atau mungkin sejak awal ini memang bukan soal kemeja, melainkan siapa yang memakainya.
Perpaduan pakaian Seungmin yang serba kebesaran, wangi sabun dan samponya yang menguar dari tubuh Jeongin, dua set peralatan makan di meja, dan betapa santainya cara Jeongin duduk di dapurnya, membuatnya kelihatan seperti semua yang ada di rumah ini memang dibuat untuknya.
Seakan Jeongin memang selalu tinggal di sana.
Seungmin menghidangkan segelas kopi dan beberapa potong roti panggang sisa sarapan, lalu mengoleskan selai stroberi dan coklat di atasnya dan memastikan Jeongin makan dengan lahap.
Selagi Seungmin memandangi orang di hadapannya makan, butiran air menetes sedikit demi sedikit dari ujung rambut Jeongin dan hampir masuk ke dalam cangkir kopinya.
"Kau bisa kena flu kalau nggak mengeringkan rambutmu dengan benar, Jeongin-ah."
"Benarkah? Kalau begitu lakukan untukku."
"Memangnya berapa umurmu?" kata Seungmin pura-pura malas, tapi tetap beranjak dari kursinya dan berjalan ke kamar mengambil pengering rambut dan mulai bekerja.
Tangannya meraih handuk dan mulai mengeringkan rambut laki-laki itu dengan benar. Gerakannya lembut dan telaten. Aroma samponya menyeruak ke udara setiap kali tangannya mengusak rambut laki-laki itu.
"Ganti warna rambut lagi?" tanya Seungmin, pura-pura menyusuri tiap helai rambut Jeongin sudah kembali jadi hitam legam. Pertanyaan: Kenapa kamu ke sini? hanya sampai di ujung lidahnya.
Jeongin yang tidak tahu-menahu hanya mengangguk sekilas, masih sibuk dengan rotinya.
"Ada audisi buat peran kecil yang mau kuikuti, nggak mungkin aku tampil kayak bocal berandal begitu, 'kan? Ibuku bilang begitu."
Seungmin tiba-tiba tertawa, sedikit meledek, karena tidak biasanya Jeongin peduli.
"Padahal kamu lebih mirip jeruk."
Jeongin yang mendengar kata jeruk bertingkah seperti habis disambar petir lantas menoleh ke belakang, kelihatan tersinggung, "Maksudmu aku bulat?"
Dalam pembelaannya, Seungmin tahu Jeongin suka jeruk—untuk dimakan tentunya. Tidak sebanyak ia menyukai stroberi, karena menurutnya mengupas kulit jeruk itu merepotkan, tapi masih cukup layak untuk disebut satu atau dua kali. Seungmin tidak tahu kenapa ia merasa tertanggu sekarang.
Seungmin mengedikkan bahunya acuh-tak acuh, "Aku nggak bilang apapun soal bulat."
"Tapi katamu aku mirip jeruk, jeruk itu bulat."
"Aku nggak bilang kamu bulat."
"Kamu bilang aku mirip jeruk, berarti maksudmu aku bulat kayak jeruk!"
"Aku nggak bilang apapun soal bulat, mungkin itu cuma khayalanmu."
"Makanya jangan panggil aku kayak gitu. Aku nggak suka jeruk, mereka bulat dan punya pori-pori besar."
"Ya, ya. Mungkin jeruk juga nggak suka kamu."
"Sebut jeruk sekali lagi dan akan kuracuni kopimu!"
Begitu melihat Jeongin seakan siap melompat dari kursi untuk menerjangnya, Seungmin mengangkat tangannya di udara, tanda menyerah dan waspada.
"Salahku," katanya.
Jeongin yang merasa menang kembali duduk dengan manis dan menghabiskan potongan terakhir rotinya, sebelum berkata, "Yah pokoknya ibu bilang aku harus kelihatan normal kalau mau ikut audisi, apapun maksudnya itu."
Seungmin mengangguk-angguk seakan mengerti, meski Jeongin tidak dapat melihatnya. Tidak tahu harus merespon apa. Ia kembali ke kursinya dengan santai.
Kadang Jeongin bersikap seakan dirinya belum cukup jadi tempat berbagi, jadi tidak banyak yang bisa laki-laki itu ceritakan padanya walaupun mereka sudah kenal cukup lama. Sebagian waktu yang mereka habiskan bersama lebih banyak digunakan untuk membicarakan hal tidak penting atau saling menemani dalam diam.
Meski begitu, Seungmin tahu kalau pembicaraan yang melibatkan ibu Jeongin tidak selalu berarti baik. Rasanya seperti berjalan di atas cangkang telur setiap kali topik itu naik kepermukaan.
Mungkin itu juga alasan laki-laki itu datang ke rumahnya sejak awal.
"Kapan audisinya?"
"Besok, setelah jam makan siang. Sekitar pukul dua."
Tapi mungkin tidak akan jadi masalah kalau Seungmin sekadar berharap hujan di luar tidak akan berhenti dalam waktu dekat.
"Kabari aku kalau butuh tumpangan, kita bisa makan siang dulu sebelum itu."
Jeongin kelihatan heran, "Kau kan harus bekerja," katanya penuh kecurigaan.
"Aku bisa ambil cuti tahunanku. Lagi pula aku lagi nggak mau ketemu Pak Shin," jawab Seungmin asal, tiba-tiba teringat atasannya yang tukang atur. Seakan bisa membaca pikirannya Jeongin mendengus kesal, ikut jengkel, "Lagi-lagi Pak Shin sialan itu, pasti si tua bangka itu mengambil kredit darimu lagi, ya? Sudah kubilang harusnya kau hajar saja dia, Hyung."
Melihat Jeongin yang menggebu-gebu, Seungmin terkekeh kecil. Seperti anjing kecil yang berusaha melindungi tuannya, pikirnya. Meski sebenernya laki-laki itu lebih terlihat seperti bayi predator yang tersesat jauh dari rumah sebelum sempat diajari cara berburu.
Tapi hari ini, Seungmin tidak akan banyak bertanya.
Tidak soal topi bisbolnya.
Tidak juga soal kedatangannya yang tiba-tiba.
Tidak pula soal beban yang tengah memberatkan hatinya.
Selama Jeongin tahu kalau Seungmin akan selalu sedekat jangkauan tangan—atau satu panggilan panggilan telepon jauhnya, jikalau mereka sedang tidak bersama. Untuk sekarang Seungmin sudah merasa cukup karena Jeongin masih memutuskan untuk datang padanya.
Mungkin lain kali, kalau ia beruntung, laki-laki itu akan membiarkannya mencicipi badai yang selama ini menenggelamkan kota kecil di kepalanya.
"Ya ampun, lihat dirimu," Seungmin mengulurkan tangannya, menyeka sisa selai yang tertinggal di sudut bibir Jeongin dengan wajah usil. "Anak kecil harusnya belajar makan dengan benar sebelum bicara sembarangan, Jeongin-ah."
"Sialan," Jeongin menepis tangan Seungmin dari wajahnya, dan menyeka wajahnya sendiri, sedangkan lawan bicaranya sibuk tertawa. Wajahnya merah padam karna malu.
"Jangan terlambat—dan traktir aku makan siang."
"Ok."
"Ok."
"Mau makan kimchijiggae di tempat biasanya?"
"Dan ramyeon dengan keju."
"Dan ramyeon dengan keju. Deal. Mau kopi lagi?"
"Ya, tambahkan dua saset gula—dan bajumu jadi milikku."
"Dua saset gula, dan semuanya milikmu."
