Work Text:
Big shoulder… Small waist…
What's stopping them from kissing?
That’s it. That’s it.
Itu pertanyaan yang kini memenuhi kepala Riku juga. Jangan mengira Riku tak membaca reaksi dan ulasan penggemar sesaat trailer untuk comeback Ode to Love rilis. Kenyataannya, Riku bahkan sempatkan diri untuk menonton terlebih dahulu, sebelum tenggelam dan nyaris melupakan kewarasan karena membaca komentar-komentar demi memenuhi hasratnya.
Bukan, bukannya Riku tak ingat bagaimana suasana dan konsep trailer tersebut. Justru Riku sangat ingat dan memang ingin melihat kembali—melihat hasilnya.
Benar saja, setelah video berdurasi 2 menit 17 detik terputar di layar dan tersimpan rapi di kepala, memori otaknya membawa dirinya kembali ke waktu saat syuting.
Riku tak terkejut saat ia diberikan baju tanpa lengan dengan model crop top. Riku terkejut saat mengetahui bahwa semua anggota mendapatkan gaya serupa—baju tanpa lengan. Sesuatu dalam dirinya merasakan getaran tak biasa.
Begitu semua yang ada di set sudah siap, jantung Riku justru tak siap.
Riku tak siap berhadapan dengan dia. Dia, seseorang yang membuat Riku menundukkan kepala selama syuting untuk menghindari kontak mata. Dia, seseorang yang membuat Riku menahan tangis sebab jantungnya terasa akan meledak dalam hitung mundur.
Lebih buruk— atau mungkin baik, Riku juga tak tahu, ia mendapatkan properti kertas-kertas berbentuk bintang. Itu bukan membuat pikirannya teralihkan, justru semakin menjadi-jadi. Ia merasa didominasi oleh bintang-bintang. Ia ingin meraih bintang-bintang itu.
Beruntung, Riku bisa bertahan sampai akhir.
Tak beruntung adalah bagaimana saat ini layar yang dilihatnya mulai mengabur. Alisnya mengerut tanpa bisa dikontrol. Ia memeriksa sejenak apakah ada masalah dengan jaringannya atau mungkin Wi-fi. Pasalnya, Riku terganggu dengan ia semakin menggulir layar, gambar-gambar yang diunggah oleh penggemar pun semakin buram.
Komentar-komentar itu lambat dimuat. Padahal semakin malam, semakin Riku suka dengan pemikiran liar—menggelitik perut sekaligus menghangatkan perasaan—dari penggemar.
Broad, well-built chest. Plump, rounded ass.
What’s stopping them from fucking?
Really. Really.
God. Riku ingin melihat komentar lain. Riku butuh lebih banyak lagi. Riku ingin membaca sesuatu yang membuatnya lebih bergairah. Riku suka. Tepatnya, Riku cinta. Riku cinta dengan mereka yang membangun sesuatu tentang dirinya dan dia.
Tapi rasanya keinginannya tak dikabulkan. Kecintaannya pada komentar seperti itu dihentikan secara paksa. Seperti ada sesuatu yang sengaja membuat Riku mendapat balasan setelah melakukan hal salah.
Layar terus mengabur, bahkan sesekali terjadi bug kecil yang… cukup membuatnya tak tenang.
Apakah mungkin? Apakah ini kerjaan Anteros?
Dengan konsep kali ini, Riku sedikit belajar tentang itu. Anteros sebagai dewa cinta timbal balik akan membalas siapapun yang tak mengindahkan cinta, sebagai penyeimbang untuk Eros. Tapi apa? Apa kesalahan Riku? Apa yang membuat Anteros melakukan ini pada dirinya?
Riku selalu mengindahkan cinta. Riku selalu mendambakan cinta. Riku ingin membalas cinta.
Atau… setidaknya itu yang selalu diyakininya.
Jantung Riku berdebar kencang dan kini bukan lagi layar yang semakin buram, penglihatan Riku turut mengabur hingga hanya gelap yang tersisa.
“Riku.”
Tangan halus menyentuh pipinya. Perlahan, kedua mata yang sempat terpejam itu terbuka. Berkedip-kedip menyesuaikan cahaya yang diterima retina. Namun, dengan segera pupil itu membesar sesaat otaknya mencerna sempurna sosok di hadapannya.
Fuck. It’s him.
“Riku?”
Suara lembut itu kembali terdengar. Menyuarakan tanda tanya, selaras dengan ekspresinya yang menunjukkan bahwa dia menunggu.
Lantas dengan bibir bergetar ia menyahut, “Yushi?”
“Ah… Suara kamu ilang.” itu benar. Telinga Riku pun tak begitu jelas menangkap suaranya sendiri. Ia mencoba mencerna situasi, tapi Yushi—sosok yang akhirnya ia sadari berada di atasnya— kembali bersuara. “Ini baru ronde pertama, tapi kamu udah pingsan. Aku sedih. Kamu capek, ya? Harusnya kamu bilang aja, nggak apa-apa.” katanya sambil terus mengelus pipinya.
Mendengar itu Riku mulai paham. Tak hanya karena pernyataan dan pertanyaan Yushi barusan, Riku mulai merasakan basah di area selatannya dan kedutan di lubangnya. Riku menunduk untuk memastikan.
Shit. I messed up.
“Maaf.” hanya itu yang bisa disuarakan. Akalnya tak mampu menyusun sesuatu yang lebih baik.
“Nggak apa-apa.” lagi. Yushi kembali berkata itu bukan masalah, tapi itu malah membuat Riku merasa bersalah.
“Yushi—”
“Kita udahan dan bersih-bersih aja, ya?”
Dengan cepat Riku menggelengkan kepalanya. Kedua tangan yang sebelumnya tergeletak lemah di sisi tubuhnya terangkat, menahan tubuh Yushi agar tak beranjak dan tetap di posisinya. Seolah tenaga dalam dirinya tak pernah habis.
Ibarat tubuhnya selalu terbuka dalam menerima kenikmatan. Ibarat kepuasan atas basah dan panas tak cukup dalam satu rangkaian singkat.
“Nggak, Yu. Ayo lagi,” pintanya dengan nada menuntut, meski suara serak itu belum pulih. Seketika membuat kedua alis Yushi terangkat selama dua detik, sebelum sudut-sudut bibirnya yang kini terangkat. Menatap wajah Riku yang terlihat cantik di bawahnya dan memohon padanya.
“A-aku nggak tau kenapa tadi pingsan. Maaf k—”
“Riku, nggak apa-apa. Jadi, kamu masih mau?”
Alih-alih menjawab dengan suara lemahnya, Riku menarik Yushi dan menyatukan kedua belah bibir itu dan timbulkan suara-suara lain. Entah siapa yang menggigit dan digigit, entah siapa yang melumat dan dilumat.
Kecupan, hisapan, desahan, bahkan gesekan hidung terasa sangat candu. Di setiap gerak dan setiap jeda, keduanya terus beradu.
Bukan untuk menang, tapi untuk menikmati.
Lagi-lagi merasakan hangat mulut satu sama lain, lagi-lagi membuat untaian saliva ketika tubuh kembali butuh oksigen.
Riku terkesiap begitu merasakan kedua jari Yushi mengetuk dinding lubangnya. Sebelum berhasil masuk, Riku buru-buru menahannya. Yushi segera menjauh dan mengutarakan kebingungannya.
“Mau foreplay dari atas lagi?” tanya Yushi yang membuat Riku menggeleng ribut. “Terus gimana?”
“Langsung aja.” ujar Riku singkat, padat, dan tak perlu banyak waktu bagi Yushi untuk paham.
“Padahal aku juga bintang, tapi kamu mau cepet-cepet rasain bintang itu, ya?”
Riku mengangguk yakin. Ia tak boleh membuang kesempatannya mencapai bintang-bintang atau mungkin hal-hal yang disenanginya berakhir dikaburkan kembali.
Yushi tersenyum lembut untuk salurkan rasa nyaman, kontras dengan penisnya yang keras sekuat tenaga menembus lubang Riku lagi.
Jika Riku menganggap mimpi buruk saat pingsan tadi ulah Anteros karena ia membuat Yushi—cintanya sedih, maka Riku yakin kenikmatan yang Yushi beri padanya sekarang merupakan balasan dari Anteros karena ia membuat Yushi—cintanya tak lagi sedih.
